cover
Contact Name
Obing Katubi
Contact Email
jurnalmasyarakati@gmail.com
Phone
+6281319021904
Journal Mail Official
jurnalmasyarakati@gmail.com
Editorial Address
Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-LIPI Gedung Widya Graha Lantai 9, Jalan Gatot Subroto Nomor 10 Jakarta Selatan.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Masyarakat Indonesia
ISSN : 01259989     EISSN : 25025694     DOI : https://doi.org/10.14203/jmi.v44i2
Artikel yang dimuat dalam Jurnal Masyarakat Indonesia dapat berbasis hasil penelitian maupun pemikiran, dengan fokus bahasan yang berkaitan dengan perihal masyarakat Indonesia. Tiap terbitan memiliki tema yang berbeda-beda dan dapat ditelaah dari berbagai disiplin ilmu berdasar sudut pandang keahlian penulis. Jurnal Masyarakat Indonesia mengutamakan tulisan tentang isu dan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia yang dikaji dari berbagai sudut pandang ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Artikel yang dikirim ke Jurnal Masyarakat Indonesia, dapat ditulis, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Isi Jurnal Masyarakat Indonesia meliputi artikel ilmiah, ringkasan disertasi, dan review buku-buku terbaru dalam bentuk artikel.
Articles 268 Documents
POLEMIK HUBUNGAN KERJA SISTEM OUTSOURCING Nawawi Nawawi
Masyarakat Indonesia Vol 39, No 1 (2013): Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v39i1.306

Abstract

Outsourcing practice is a contentious issue in Indonesia. Pro and contra against outsourcing practice among employers and workers has been increasing and becoming one of a major stumbling block for the establishment of healthy industrial relations in Indonesia. The legalization of outsourcing in the 2003 Labor Law provides legal basis for employers to minimize the risk of companys production cost by rearranging recruitment system through outsourcing. On the other hand, the implementation of outsourcing has adversely affected workers status and welfare. The implementation of outsourcing has weakened the bargaining position of low skilled workers in the labor market. Therefore, there is a growing need to conduct a comprehensive evaluation of the 2003 Labor Law regarding outsourcing and other contentious issues pertinent to the Law, to reach consensus between workers and employers. This paper aims to explain the dispute over implementation of outsourcing related to the 2003 Labor Law. It argues of the urgency of revision of 2003 Labor Law to deal with outsourcing practice in the future.Keywords: Outsourcing, Labor Law, Worker, Employer, Industrial Relation
Berdampingan dengan Leluhur di Masa Depan: Historisitas, Lanskap, dan Artikulasi Identitas Masyarakat Tengger Senduro Nabila Nailur Rohman
Masyarakat Indonesia Vol 44, No 2 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v44i2.857

Abstract

AbstractThis article studies the historical significances of the ancestral tenet and the landscape of Puncak Songolikur for Tengger people in Senduro and how  they are being performed, represented, and reconstructed in the present historical context. In this paper, the Folklore of Tengger about “Joko Seger and Roro Anteng” is studied neither as legend nor myth, but as public history which has relevances to the present social realities. For them, the story of the origin of their ancestor encompasses the overall theological framework that underlies the social order and cultural practices in their everyday life. The five religions policy during authoritarian  New Order regime has led to a massive Hinduization and Islamization which has great influence on social and cultural order of Tengger people. Moreover,  the enforcement of national park and tourism policy in their living space has raised greater challenge which manifests an increasingly capitalistic and profane life order. Under this condition, Puncak Songolikur presents and preserves the historical narrative about their ancestor as well as spiritual values, social order, cultural practice, and all the way of life. However, the development of tourist destination “Puncak B29” in the landscape of Puncak Songolikur since 2013 has become both challenge and opportunity for their historical narratives. This paper explores how tourism developent maintains and simultaneously contests the historicity of Puncak Songolikur. It includes how people assert, negotiate, and rearticulate their identity in nowadays cosmopolite historical horizon.Keyworsd: Tengger Senduro, Puncak B29, Puncak Songolikur, Historicity, Articulation AbstrakArtikel ini mengkaji signifikasi historis ajaran leluhur dan lanskap Puncak Songolikur bagi masyarakat Tengger di Senduro dan bagaimana historisitas tersebut dimaknai, direpresentasikan, dan direkonstruksi dalam  konteks sejarah masa kini. Dalam tulisan ini, cerita rakyat Tengger tentang “Joko Seger dan Roro Anteng” tidak dikaji sebagai legenda ataupun mitos, melainkan sebagai sejarah publik yang memiliki relevansi dengan realita sosial masa kini. Bagi orang Tengger, cerita mengenai asal-usul leluhurnya menyangkut keseluruhan kerangka teologis yang mendasari tatanan sosial dan praktik kultural dalam kehidupan kesehariaanya. Kebijakan Lima Agama Mayoritas rezim Orde Baru telah menyebabkan Hinduisasi dan Islamisasi besar-besaran, yang juga berpengaruh besar terhadap tatanan sosial dan kultural masyarakat Tengger. Terlebih lagi, penerapan kebijakan Taman Nasional dan Pariwisata di ruang hidup mereka telah melahirkan tantangan yang lebih besar, yang memanifestasikan tatanan kehidupan yang semakin kapitalistik dan profan. Dalam kondisi ini, Puncak Songolikur mengahadirkan dan merawat narasi historis mengenai leluhur masyarakat Tengger di Senduro, sebagaimana pula merawat nilai-nilai spiritual, tatanan sosial, praktik budaya, dan keseluruhan cara hidup yang menyertainya. Namun, pengembangan destinasi wisata “Puncak B29” di lanskap Puncak Songolikur sejak 2013 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi narasi sejarah masyarakat Tengger Senduro. Dalam tulisan ini akan ditunjukkan bagaimana pengembangan pariwisata dapat berpeluang menjaga sekaligus mengkontestasikan historisitas Puncak Songolikur. Pembahasan tersebut menyangkut bagaimana masyarakat Tengger di Senduro menegaskan, menegosiasikan, dan mengartikulasikan kembali identitasnya dalam konteks sejarah hari ini.Kata kunci: Tengger Senduro, Puncak B29, Puncak Songolikur, Historisitas, Artikulasi
TINJAUAN BUKU SHADES OF GREY: INGATAN PRIBADI DAN SEJARAH Taufik Abdullah
Masyarakat Indonesia Vol 40, No 1 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v40i1.110

Abstract

Dalam Symposium on Southeast Asian Studies, yang diadakan untuk menghormati seorang profesor yang akan pensiun, di Vrije Universiteit, Amsterdam (2001) saya menyajikan sebuah makalah, yang berjudul Neither out there nor the other. Dalam makalah singkat, yang kemudian diterbitkan SEASREP di Manila, saya sampai pada kesimpulan bahwa ketika menulis karya sejarah akademis tentang Asia Tenggara, apalagi tentang negeri sendiri, saya sadar benar bahwa saya tidak berbicara tentang hal-hal yang terjadi di sana (di negeri orang) dan bukan pula tentang orang lain (bangsa lain) . Perasaan ini semakin terasa kalau saya berhadapan dengan sejarah kontemporeryaitu rentetan peristiwa yang terasa seperti langsung dialami. Akan tetapi, memang sejarah kontemporer bukanlah sebagaimana dikatakan seorang teoretikus a foreign country, tempat orang berbuat yang aneh-aneh. Keyakinan ini bertambah kuat juga setelah saya membaca buku Shades of Grey, memoir Jusuf Wanandi. Meskipun buku ini mengisahkan pengalaman pribadi sang penulis dalam dunia perpolitikan Indonesia, suasana yang diuraikannya menggugah apa yang rasanya pernah saya alami. Senang, marah, dongkol, dan sebagainya adalah berbagai corak perasaan yang pernah saya alami ketika berbagai peristiwa politik di tanah air terjadi. Tetapi lebih daripada itu, buku ini dengan begitu saja mengingatkan kitaatau setidaknya sayabahwa berkisah tentang peristiwa sosial-politik kontemporer tanah air sebenarnya kita berhadapan dengan tiga lapis pengetahuan.
KETAHANAN SOSIAL MASYARAKAT DI PERBATASAN : STUDI KASUS DI PULAU SEBATIK Muhammad Fakhry Ghafur
Masyarakat Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v42i2.669

Abstract

The border is a strategic area that has an important role to build and to defend a country’s sovereignty. Through this concept, the role of a border is very important, especially if it was associated with the improvement of a quality of society’s life in terms economic, social, political, cultural, environment, defense, and security. A border is an interaction area between globalization and locality which happens in daily life. The progress of a community life in border areas is expected to improve the social resilience in responding the most significant global pressure. Therefore, in order to build a border area, social resilience is needed as it is a very important aspect, especially in Sebatik Island. This paper reviews the potential of social resilience in border area, especially in Sebatik Islandthat is directly adjacent with Malaysia in both land and sea, by using the qualitative analysis approach and how to manage any potential in the border area to support economic, social, and political development for other areas.Keywords: social resilience, border areas, SebatikABSTRAKDaerah perbatasan merupakan suatu kawasan yang sangat strategis dan berperan penting dalam membangun serta mempertahankan kedaulatan wilayah negara karena merupakan garda terdepan suatu negara bangsa modern. Melalui arsitektur batas wilayah ini, peran perbatasan sangat strategis, terutama jika dikaitkan dengan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, budaya, lingkungan maupun pertahanan dan keamanan. Wilayah perbatasan merupakan arena interaksi antara globalisasi dan lokalitas yang terjadi setiaphari. Kemajuan kehidupan masyarakat perbatasan diharapkan akan meningkatkan ketahanan masyarakat dalam merespons tekanan global yang paling nyata. Oleh karena itu, membangun daerah perbatasan secara optimal sangat penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, tulisan ini mengkaji potensi ketahanan masyarakat di perbatasan, khususnya di Pulau Sebatik yang berbatasan langsung,baik darat maupun laut, dengan Malaysia dan metode pengelolaan setiap persoalan yang ada di perbatasan sehingga dapat menjadi pendorong perkembangan ekonomi, sosial, politik, dan budaya bagi daerah lainnya.Kata kunci: ketahanan sosial, perbatasan, Sebatik
PEREMPUAN PAPUA DAN PELUANG POLITIK DI ERA OTSUS PAPUA Muridan Satrio Widjojo
Masyarakat Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v38i2.649

Abstract

This paper discusses the condition and the dynamics of Papuan womenspoliticalparticipationin the reformation and democratization era. Traditionally, women arepositioned as subordinate of men.This paperargues that there are increasing opportunities for womens participation in the decision making process. Based on Papuan historical experiences, the traditionalsocial construction has been enriched by educationand modern bureaucracy introduced by the churches, the Dutch colonial governmentand the Indonesian government. In some cases, the rise of Papuan womens politicalparticipation is facilitated by family. Since the late 1980s civil society movement,the establishment of a number of NGOs has grown significantly and provided moreopportunities for women activists. Women empowerment by this group is not onlydriven by individual motivation but also supportedby family condition and the newpolitical context. Significant progress of position and roles as well as the new politicalspace for women has been translatedinto the new creation of women seat within thestructure of Papuan People Assembly (MRP). This is seen as a milestone in the historyof women movement in Papua. Considering the strategic role and position of womenspecifically in MRP and in Papuan political dynamic, women leaders in Papuaareexpected to contribute more toward conflict resolution.Keywords: papuan women, women empowerment, women movement, MRP
Nasionalisme: Kajian Novel A. Hasjmy Wildan Wildan
Masyarakat Indonesia Vol 36, No 1 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v36i1.614

Abstract

This study is about nationalism that has been portrayed in seven novels written by A. Hasjmy, an Acehnese writer. The novels are Melalui Jalan Raya Dunia (1938), Bermandi Cahaya Bulan (1939), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1940), Nona Pressroom (1951), Elly Gadis Nica (1951), Meurah Djohan: Sultan Aceh Pertama (1976), and Tanah Merah: Digul Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia (1976). The aim of the study is to analyze nationalism compatibility in the context of Indonesian politics. There are two types of nationalism in Indonesia. Firstly, nationalism for the nation-state of Indonesia, and secondly parochial nationalism held by the separatist movements at the provincial level and in this case the Acehnese nationalism. This is studied by examining the elements of nationalism, such as doctrines and missions put forward in the novels and the techniques of writing used by the writer. This is a qualitative research in which the data has been obtained through library research and interviews. The main finding of this study shows that Indonesian nationalism is obviously well represented in the novels. This finding is contrary to the public opinion that most of the Acehnese are supporters of the separatist movement, i.e. Acehnese nationalism. Thus, in portraying the nationalism, A. Hasjmy has exploited certain writing techniques in his novels, such as epistolary, speeches, diary, poems and footnotes to camouflage its doctrines and missions. With these findings, the significance of this study is that it could elucidate academically that not every Acehnese agrees with the idea of freedom of Aceh from Indonesia Raya.Keywords: nationalism, novel, A. Hasjmy, Acehnese
Tinjauan Buku : Desentralisasi Radikal:: Ikhtiar Pengembangan Wilayah Imekko Sorong Selatan Dini Rahmiati
Masyarakat Indonesia Vol 46, No 1 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v46i1.881

Abstract

Buku ini hadir untuk memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif mengenai tuntutan pemekaran daerah yang muncul dari kelompok-kelompok etnis masyarakat Sorong Selatan yang berada di distrik-distrik Inanwatan, Matemani, Kais, Kokoda, dan Kokoda Utara (Imekko) yang masih terisolir dan mempunyai potensi konflik terkait politik identitas, pengelolaan sumber daya, dan tata kelola pemerintahan di daerah. Kajian eksploratif tentang kesiapan wilayah tersebut untuk dikembangkan atau dimekarkan menjadi daerah otonom baru (Kabupaten Imekko) pemekaran dari kabupaten Sorong Selatan sangat menarik untuk dielaborasi lebih lanjut.
IMAJINASI TEKNOLOGI DAN FASISME JEPANG TAHUN 1931–194 Upik Sarjiati
Masyarakat Indonesia Vol 42, No 1 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v42i1.553

Abstract

STREET CHILDREN AND BROKEN PERCEPTION: A Childs Right Perspectives Lilis Mulyani
Masyarakat Indonesia Vol 37, No 2 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v37i2.639

Abstract

Anak jalanan merupakan salah satu potret kemiskinan di daerah perkotaandi Indonesia. Mereka menjalani kehidupan yang keras, tidak hanya untukmenghidupi diri mereka, namun kadang-kadang mereka juga harusmenghadapi orang-orang dewasa yang seringkali melakukan kekerasan dalamberbagai bentuk terhadap mereka. Kehidupan jalanan yang keras dan tanpapengawasan orang dewasa merubah pola dan sikap mereka sehingga membuatmereka melakukan hal-hal yang dianggap tidak wajar untuk seorang anak.Mereka memecahkan persepsi masyarakat yang sudah terbentuk tentangkehidupan seorang anak. Kehidupan mereka oleh banyak ahli sosiologidisebut sebagai sebuah bentuk dari sub kebudayaan (sub-culture) dari budayamasyarakat yang ada. Namun dibalik kerasnya hidup dan sikap mereka,bagaimanapun mereka tetaplah anak-anak yang membutuhkan perlindungan.Pendekatan yang dilakukan harus bisa memahami suara-suara mereka, jikatidak, segala upaya membantu dan melindungi mereka akan sia-sia.Kata kunci: anak jalanan, hak anak, sub-kebudayaan
TRADISI LISAN DALAM PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA KUI DI ALOR, NUSA TENGGARA TIMUR Katubi Katubi
Masyarakat Indonesia Vol 37, No 1 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v37i1.605

Abstract

Previous research on language shift and maintenance is commonly conductedby investigating language use from various domains. However, among theexisting domain classifcations, language use in the domain of tradition hasnever been taken into account. Meanwhile, most of existing languages in theworld have no writing system so that their continuity depends on the formof spoken language and oral tradition. This paper examines the relationshipbetween language shift/maintenance and oral tradition based on the resultof feld research about Kui language in Alor, East Nusa Tenggara. The feldresearch indicates that there is a parallelism between language shift andstagnation of transmission of oral tradition. This means that the safeguardingof endangered languages as an intangible cultural heritage should involve thesafeguarding of oral tradition. Likewise, the safeguarding of oral traditionshould involve the safeguarding of language since language is the mostsignifcant vehicle to communicate and maintain the intangible culturalheritage and knowledge indigenous.Keywords: language shift, language maintenance, oral tradition, intangibleheritage,lego-lego

Page 7 of 27 | Total Record : 268


Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 49, No 1 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 2 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 2 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 1 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 2 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 1 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 2 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 1 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 2 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 1 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 2 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 1 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 1 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 2 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 1 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 2 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 1 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 2 (2013): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 1 (2013): Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 1 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 2 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 1 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 2 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 1 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia More Issue