cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 2,081 Documents
PERANAN PEMERINTAH DESA DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR Dewi Sarah Simbolon; Julita Sari; Yowisa Yolanda Purba; Nurtia Indah Siregar; Risa Salsabilla; Yohana Manulang
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1465

Abstract

AbstrakPenelitian ini secara umum bertujuan mengetahui gambaran nyata mengenai bagaimana peran pemerintah desa dalam pembangunan. Peran menjadi indicator awal berhasil tidaknya seorang kepala desa dan perangkat desa dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian mengenai peran pemerintah desa dalam pembangunan dapat disimpulkan bahwa masyarakat mempunyai peran yang kurang baik karena apparat desa kurang mengoptimalkan peran tersebut. macetnya suatu pembangunan desa disebabkan pemerintah desa belum dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh adanya kurangnya koordinasi antara pemerintah dengan perangkat desa lainnya, kurangnya ketegasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pemerintah desa atau kepala desa.Kata Kunci: Pembangunan, Pemerintah Desa AbstractThis research generally aims at knowing the real picture of how the role of village government in development. The role is an indicator early success or failure of a village head and village officials carry out its duties. In this study, researchers used techniques observation, interview, and documentation. Based on the results of research on the role of village government in development can be concluded that the community has a bad role because the village apparatus is not optimizing it that role. The stalling of a village development is caused by the village government has not been able to improve the standard of living of the community. This is influenced by the existence lack of coordination between the government and other village officials, lack of assertiveness in carrying out its functions as village government or village head.Keywords: Development, Village Government
IMBAS NEGATIF GLOBALISASI TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA Yuliana Setyawati; Qori Septiani; Risky Aulia Ningrum; Ratna Hidayah
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1530

Abstract

Pendidikan dalam perkembangannya tidak dapat lepas dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Perkembangan globalisasi telah tampak dan mulai ada sekitar 1000 dan 1500 M. Saat itu ditandai dengan adanya interaksi dalam hubungan antar bangsa di dunia, mulai dari para pedagang melalui jalur darat maupun jalur laut. Para pedagang selain melakukan perdagangan mereka juga menyebarkan nilai-nilai agama, nilai-nilai sosial, seni, dan pendidikan. Sistem pendidikan di era dahulu dengan era globalisasi sangat berbeda, misalnya saja pada pembelajaran. Jika dahulu dilakukan secara tatap muka maka sekarang pembelajaran bisa dilakukan dengan tatap maya dimanapun berada. Hal ini mengakibatkan kurangnya komunikasi antara guru dan siswa. Imbas negatif dari globalisasi di bidang pendidikan lainnya yaitu pengelompokan status sosial, melemahnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara, menurunnya kualitas moral siswa, tergerusnya kebudayaan local, dan munculnya tradisi serba cepat.Sebagai warga negara Indonesia yang kental akan budaya, sudah seharusnya kita menyaring hal-hal yang masuk. Karena jika tidak dapat menggerus budaya local yang sudah ada. Karena tidak semua budaya luar itu cocok dengan budaya kita. Saran bagi penulisan selanjutnya semoga dapat lebih divariasikan sumber dan topic pembahasan agar semakin menarik.
URGENSI ETIKA DEMOKRASI DI ERA GLOBAL: MEMBANGUN ETIKA DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT BAGI MASYARAKAT AKADEMIS MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Nufikha Ulfah; Yayuk Hidayah; Meiwatizal Trihastuti
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1576

Abstract

AbstrakIstilah demokrasi secara singkat didefinisikan sebagai pemerintahan atau kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jika ditinjau dari sudut organisasi, negara demokrasi adalah negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat, negara demokrasi yaitu negara kedaulatan rakyat. Sedangkan etika memiliki arti: ilmu yang membahas tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan; etika dapat juga dijelaskan sebagai “ilmu pengetahuan yang membahas tentang asas-asas akhlak (moral). Adapun visi dari Pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri yaitu agar menjadi warga negara yang baik yang memiliki civic knowledge, civic dispositions, serta mempu mengartikulasi civic skills (berkaitan dengan kecakapan intelektual: mengidentifikasi, menggambarkan, menjelaskan, menganalisis, menilai, dan mengambil serta mempertahankan posisi atas suatu isu; dan kecakapan partisipatif: berinteraksi, memantau, dan memengaruhi) dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang demokratis. Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat melahirkan warga negara demokratis yang memiliki kecerdasan, kritis, bertanggung jawab serta partisipatif dalam menghadapi perubahan sabagai akibat dan tantangan globalisasi.Kata kunci: Etika Demokrasi,  Demokrasi Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan abstractThe term democracy is briefly defined as the government or power of the people, by the people, and for the people. When viewed from the point of view of the organization, a democratic state is a country organized based on the will and will of the people, a democratic state that is a country of people's sovereignty. While ethics has a meaning: science that discusses what is commonly done or the science of customs; ethics can also be described as "the science of moral principles." The vision of Citizenship Education itself is to be a good citizen who has civic knowledge, civic dispositions, and articulate civic skills (relating to intellectual proficiency: identifying, describing, describing, analyzing, assessing, and taking and maintaining positions on an issue; and participatory skills: interacting, monitoring, and influencing) in the lives of democratic societies, nations, and countries. Citizenship Education is expected to give birth to democratic citizens who have intelligence, critical, responsible and participatory in the face of changes such as the consequences and challenges of globalization.Keywords: Democratic Ethics, Pancasila Democracy, Citizenship Education
SKPP BAWASLU SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN POLITIK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI POLITIK WARGA NEGARA Nia Sofiyatul Millah; Dinie Anggraenie Dewi
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1583

Abstract

AbstrakPartisipasi masyarakat dalam pemilu di Indonesia selalu menurun dari pemilu pertama hingga sekarang. Dengan adanya peranan aktif dari Bawaslu, sebagai lembaga pemantau pemilu serta masyarakat dalam mengawasi pemilu, diharapkan dapat memberikan kesadaran bagi para pelaku politik dan seluruh yang terlibat dalam Pemilu yang pada akhirnya akan melahirkan suatu pemilu yang demokratis. Dengan adanya partisipasi masyarakat dalam pengawasan tahapan penyelenggaraan pemilu maka diharapkan akan dapat menghasilkan pemilu yang demokratis baik dari prosesnya maupun hasilnya. SKPP adalah sebuah sarana Pendidikan yang disediakan oleh Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) untuk memfasilitasi masyarakat umum agar dapat terlibat dalam mengawasi penyelenggaraan pemilu atau pilkada. SKPP dibuat untuk mewadahi partisipasi masyarakat dalam pemilu. Kader-kader lulusan SKPP diharapkan menjadi kepanjangan tangan Bawaslu untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat terhadap penyelenggaraan pemilu/pilkada.Kata Kunci: SKPP Bawaslu, Pengawas Partisipatif, Pemilu AbstrackPublic participation in elections in Indonesia has always decreased from the first election to the present. With the active role of Bawaslu, as an election monitoring institution and also the community in supervising the election, it is hoped that it can provide awareness for political actors and all those involved in the election which will eventually give birth to a democratic election. With the participation of the community in supervising the stages of organizing the election, it is hoped that it will be able to produce democratic elections both from the process and the results. SKPP is an educational facility provided by the Election Supervisory Body (BAWASLU) to facilitate the general public to be involved in supervising the implementation of elections or local elections. SKPP was created to accommodate public participation in elections. Cadres graduated from SKPP are expected to be an extension of Bawaslu to increase public political participation in the implementation of elections/pilkada.Key Words: SKPP Bawaslu, Participatory Superviso, elections
PENGARUH MODEL DISCOVERY DAN CONVENTIONAL LEARNING TERHADAP MOTIVASI SISWA DAN HASIL BELAJAR Anisa Yuliana; Sulis Janu Hartati; Sri Yuni Hanifa
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1592

Abstract

AbstrakPendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan mata pelajaran inti dan sudah diajarkan kepada siswa sejak Sekolah Dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu perlu adanya Model Pembelajaran dan motivasi agar peserta didik tidak merasa jenuh dan mengalami kesulitan karena proses penyampaian materi yang monoton dalam belajar PPKn. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Quasi Experimental Design. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengetahui pengaruh model pembelajaran Discovery dan Conventional Learning terhadap hasil belajar PPKn  siswa UPTD SMPN 1 Labang Bangkalan, 2) Mengetahui pengaruh model pembelajaran Discovery dan Conventional Learning terhadap motivasi siswa UPTD SMPN 1 Labang Bangkalan, 3) Mengetahui interaksi antara model pembelajaran Discovery dan Conventional Learning terhadap motivasi siswa dan hasil belajar PPKn UPTD SMPN 1 Labang Bangkalan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII sebanyak 240 siswa, yang menjadi sampel adalah kelas VIIa dan kelas VIIb, penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan 1) terdapat pengaruh Model Pembelajaran Discovery dan Conventional Learning terhadap hasil belajar diperoleh nilai sig. sebesar 0,000 < 0,05, kedua Ada pengaruh model pembelajaran Discovery dan Conventional Learning terhadap motivasi siswa diperoleh nilai sig. sebesar 0,001 < 0,05, dan yang ketiga Ada interaksi antara Model Pembelajaran dan motivasi terhadap hasil belajar yang dibuktikan dengan nilai sig. 0,038 < 0,05 sesuai dengan kriteria uji Two Way Anova.Kata kunci: Discovery Learning, Conventional, Motivasi dan Hasil Belajar AbstractPancasila and Citizenship Education (PPKn) is a core subject and has been taught to students from elementary school to higher levels. Therefore, it is necessary to have a learning model and motivation so that students do not feel bored and experience difficulties due to the monotonous process of delivering material in learning Civics. This study uses a Quasi Experimental Design research method. The aims of this study were 1) to determine the effect of the Discovery and Conventional Learning learning models on the Civics learning outcomes of UPTD SMPN 1 Labang Bangkalan students, 2) To determine the effect of the Discovery and Conventional Learning learning models on the motivation of UPTD SMPN 1 Labang Bangkalan students, 3) To determine the interaction between models Discovery learning and Conventional Learning on student motivation and learning outcomes of PPKn UPTD SMPN 1 Labang Bangkalan. The population in this study was all class VII as many as 240 students, the samples were class VIIa and class VIIb, the determination of the sample was carried out using purposive sampling. The results showed 1) there was an influence of the Discovery Learning Model and Conventional Learning on the learning outcomes obtained by the value of sig. of 0.000 <0.05, secondly there is an influence of the Discovery and Conventional Learning learning models on student motivation, the value of sig is obtained. of 0.001 < 0.05, and the third There is an interaction between the learning model and motivation on learning outcomes as evidenced by the value of sig. 0.038 <0.05 according to the criteria for the Two Way Anova test.Keywords: Discovery Learning, Conventional, Motivation and Learning Outcomes
UPACARA ADAT MAMAPAS LEWU (STUDI KASUS DI KOTA KASONGAN KALIMANTAN TENGAH) Erik Chilwanto; Safna Safna; Mutiara Mutiara; Gusmadi Rahmad; Offeny Offeny; Ahmad Saefulloh
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1673

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tata cara upacara mamapas lewu, fungsi serta maknanya bagi kehidupan masyarakat di Kota Kasongan Kalimantan Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sedangkan teknik analisis data menggunakan pengumpulan data (data collection), reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Mamapas lewu adalah salah satu implementasi ajaran Hindu kaharingan dalam mewujudkan rasa hormat, dan terima kasih kepada Tuhan (Ranying Hatalla Langit) karena telah menjaga alam dan kampung dari marabahaya. Mamapas Lewu dilakukan karena adanya suatu peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan pembunuhan, ancaman keselamatan, atau kejadian di timpa musibah penyakit yang menimpa seluruh penduduk atau kota. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan alam dan lingkungan hidup (petak danum) beserta segala isinya dari berbagai bahaya dan celaka agar diberikan keberuntungan, keselamatan, umur yang panjang, rejeki yang melimpah serta ketentraman lahir batin kepada seluruh penduduk kampung atau kota.Kata Kunci: Upacara Adat Dayak; Mamapas Lewu; Kota Kasongan Abstract:This study aims to find out how the mamapas lewu ceremony is performed, its function and meaning for human life in Kasongan City, Central Kalimantan.The research method used is descriptive qualitative. Data sources are primary data and secondary data. Data collection techniques use interviews, observation, and documentation, while data analysis techniques use data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Mamapas lewu is one of the implementations of Hindu kaharingan teachings in realizing respect, and thanks to God (Ranying Hatalla Langit) for protecting nature and the village from harm. Mamapas Lewu is carried out because of an incident or incidents related to murder, a threat to safety, or an incident that occurs when a disaster strikes the entire population or the city. This activity aims to clean nature and the environment (Petak Danum) and all its contents from various dangers and misfortunes in order to be given luck, safety, long life, abundant fortune and inner and outer peace to all residents of the village or city.Keywords: Dayak Tradisional Ceremony; Mamapas Lewu; Kasongan city
SISTEM MASYARAKAT DAN ORGANISASI SUKU DAYAK NGAJU (STUDI KASUS DI DESA MANDOMAI KALIMANTAN TENGAH) Rizka Bella; Stevany Stevaby; Ahmad Ilham Gujali; Ratna Sari Dewi; Eddy Lion; Maryam Mustika
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1676

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem masyarakat dan organisasi suku Dayak Ngaju didesa mandomai Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Prosedur pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi sedangkan analisis data meliputi data collection, data reduction, data display, conclusion drawing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem masyarakat dan organisasi suku Dayak Ngaju di desa mandomai kalimantan tengah. Pada awalnya adalah salah satu daerah sebagai tempat menetap bagi masyarakat desa sebelum adanya pemekaran wilayah.sehingga sistem masyarakatnya termasuk sistem bilateral yaitu menarik garis keturunan melalui pihak ayah dan ibu. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan  dulu hingga sekarang sebagai petani namun seiringnya perkembangan zaman Sebagian masyarakat mandomai banyak keluar daerah untuk mencari pekerjaan.sehingga organisasi sosialnya saat ini masih banyak selaras dengan perubahan zaman.  dengan adanya organisasi sosial sangat bermanfaat bagi masyarakat Dayak di mandomai yaitu salah satunya adalah membantu dalam bidang pertanahan, Kesehatan dan lain sebagainya.Kata Kunci : suku dayak, sistem masyarakat, organisasi sosial                AbstractThe study aims to identify the social and tribal systems of the dayak ngaju in the village of mandomai central kalimantan. The method used is a descriptive qualitative. The data source is the primary and secondary data source. Data collection procedures include observation, interviews and documentation while data analysis includes data collection, data reduction, display data, demographic results. The results of the study show that the indigenous dayak ngaju community and tribal organization in the village of mandomai central kalimantan. Initially it was one of the areas to settle for village people before the region was exposed. So their social system is bilateral, which is to draw the line through the father and mother. Then, to meet the needs of farmers, and to this day as farmers, most of the population has been mandated to go out of the country in search of work. So his social organization today is still much in keeping with the changing times. With social organizations helping the dayak people in mandomai, one of which is to help with land, health, and so on.Keywords : Dayak people, social systems, social organizations.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN HAK ASASI MANUSIA DALAM DUNIA PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR Sinta Galih Pertiwi; Yayuk Hidayah
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1717

Abstract

AbstrakImplementasi pendidikan HAM  dalam dunia pendidikan Sekolah Dasar adalah salah satu bagian yang penting dalam pendidikan di Sekolah Dasar.  Tujuan penelitian ini adalah dari keinginan penulis dalam mengetahui bagaimana Implementasi pendidikan HAM  dalam dunia pendidikan Sekolah Dasar. Metode yang digunakan adalah kualitatif deksriptif dengan pendekatan studi literatur. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mendapatkan jika  Implementasi pendidikan HAM  dalam dunia pendidikan Sekolah Dasar adalah cara dalam memperkanalkan anak pada paktek  non-diskriminasi sejak dini dan juga menjadi cara dalam mengenalkan konsep HAM sejak dini pada anak. Kesimpulan penelitian ini adalah implementasi pendidikan HAM  dalam dunia pendidikan Sekolah Dasar menjadi usaha dalam memberikan pendidikan HAM sejak dini.Kata kunci: Pendidikan, HAM, Sekolah Dasar AbstractThe implementation of human rights education in primary school education is an important part of primary school education. The purpose of this study is from the author's desire to find out how the implementation of human rights education in the world of elementary school education. The method used is descriptive qualitative with a literature study approach. Based on the results of the study, the researchers found that the implementation of human rights education in elementary school education is a way to introduce children to non-discrimination practices from an early age and also a way to introduce the concept of human rights to children from an early age. The conclusion of this study is that the implementation of human rights education in elementary school education is an effort to provide human rights education from an early age.Keywords: Education,  Human Rights, Elementary School
PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MEMBANGUN KONSEP PENEGAKAN HUKUM PADA GENERASI MUDA Tweede Rhamadaniar Subagio; Meiwatizal Trihastuti
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1718

Abstract

AbstrakPeran Pendidikan Kewarganegaraan dalam membangun konsep penegakan hukum pada generasi muda menjadi awal dalam cita cita warga negara yang baik. Tujuan penelitian ini ialah  mengetahui Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam membangun konsep penegakan hukum pada generasi muda. Metode yang digunakan adalah kualitatif deksriptif studi literatur. Hasil penelitian menunjukan jika peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam membangun konsep penegakan hukum pada generasi muda adalah dapat menjadi wahana dalam peningkatan kesadaran mengenai peran dan tanggung ajwab warga negara pada generasi muda. Selain itu, Pendidikan Kewarganegaraan dalam membangun konsep penegakan hukum memberikan pengetahuan tentang pentingnya penegakan hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Kesimpulan artikel ini adalah Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran dalam upaya membangun konsep penegakan hukum pada generasi mudaKata kunci: Pendidikan Kewarganegaraan, penegakan hukum, generasi muda AbstractThe role of Citizenship Education in building the concept of law enforcement in the younger generation is the beginning of the ideals of good citizens. The purpose of this study was to determine the role of civic education in building the concept of law enforcement in the younger generation. The method used is a descriptive qualitative study of the literature. The results of the study show that the role of Citizenship Education in building the concept of law enforcement in the younger generation is that it can be a vehicle for increasing awareness about the roles and responsibilities of citizens in the younger generation. In addition, Citizenship Education in building the concept of law enforcement provides knowledge about the importance of law enforcement in the life of the nation and state. The conclusion of this article is that Citizenship Education has a role in efforts to build the concept of law enforcement in the younger generationKeywords: Citizenship Education, Law Enforcement, Young Generation
EKSPLORASI KEKAYAAN KULINER MASYARAKAT SUKU DAYAK NGAJU DI DESA MANDOMAI KALIMANTAN TENGAH Septo Septo; Lala Aprilia Wulandari; Caroline Yunita Tiwo; Eri Yanti; Eli Karliani; Tryani Tryani
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1729

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural, agama maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Kebudayaan yang biasa menjadi perhatian masyarakat adalah kebuadayaan makanan suatu daerah. Makanan seperti yang kita tahu merupakan suatu kebutuhan utama bagi manusia. Selain sebagai sumber energi dan tenaga, makanan juga memiliki makna dan nilai budaya tersendiri. Sistem Kuliner atau makanan khas dari setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari tiap daerah begitu pula di daerah Kalimantan Tengah. Hal inilah yang membuat makanan kami mangangkat Eksplorasi Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah. Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui apa saja ragam  kekayaan kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju di Desa Mandomai Kalimantan Tengah. Sebagai syarat menyelesaikan mata kuliah Seminar PPKn. Untuk mengetahui bagaimana upaya masyarakat dalam mempertahankan Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, untuk di presentasikan dan diseminarkan. Kegiatan observasi kami laksanakan di daerah yang kami tentukan, untuk mewawancarai narasumber serta mengali informasi tentang rasa Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju di Desa Mandomai Kalimantan Tengah di daerah tersebut. Kalimantan Tengah merupakan Provinsi terbesar kedua setelah Papua, yang didominasi oleh penduduk Dayak, Jawa dan juga Banjar. Selain memiliki potensi alam yang indah, yang bisa dijadikan destinasi wisata, Kalimantan Tengah juga memiliki potensi wisata kuliner yang bisa dikenalkan hingga pelosok dunia. Berikut adalah beberapa daftar makanan khas Kalimantan Tengah: juhu umbut sawit, Kalumpe/kaluang, wadi, juhu taya, juhu umbut rotan, keripik kelakai, lemang, kue gagatas, dan masih banyak masakan atau ragam kuliner di daerah Kalimantan Tengah, yang masih dipertahankan dan masak dari dulu sampai sekarang ini.Kata Kunci: Kuliner Dayak Ngaju, Masakan Tradisional Kalimantan Tengah, Kuliner Masyarakat Dayak Ngaju, Desa Mandomai AbstractIndonesia is one of the largest multicultural countries in the world. This can be seen from the socio-cultural, religious and geographical conditions that are so diverse and broad. Currently, the number of islands in the territory of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) is around 13,000 large and small islands. Its population is more than 200 million people, consisting of 300 tribes who speak almost 200 different languages. The culture that usually gets people's attention is the food culture of an area. Food as we know it is a basic need for humans. Apart from being a source of energy and energy, food also has its own cultural meaning and value. Culinary system or typical food from each region has its own uniqueness that is different from each region as well as in the Central Kalimantan area. This is what makes our food promote the Exploration of Culinary Wealth of the Central Kalimantan Dayak Tribe. The purpose of this study is to find out what are the various culinary riches of the Ngaju Dayak Tribe in Mandomai Village, Central Kalimantan. As a condition for completing the Civics Seminar course. To find out how the community's efforts in maintaining the Culinary Wealth of the Ngaju Dayak Tribe, Central Kalimantan. This research activity was carried out for 1 month, for presentation and seminars. Our observation activities were carried out in the areas that we determined, to interview sources and gather information about the taste of the Culinary Wealth of the Ngaju Dayak Tribe in Mandomai Village, Central Kalimantan in the area. Central Kalimantan is the second largest province after Papua, which is dominated by the Dayak, Javanese and Banjar people. Besides having beautiful natural potential, which can be used as a tourist destination, Central Kalimantan also has the potential for culinary tourism that can be introduced to all corners of the world. The following is a list of typical Central Kalimantan foods: palm umbut juhu, Kalumpe/kaluang, wadi, juhu taya, rattan umbut juhu, kalakai chips, lemang, gagatas cake, and many other dishes or culinary varieties in the Central Kalimantan area, which are still preserved and preserved. cook from the past until now.Keywords: Ngaju Dayak Culinary, Central Kalimantan Traditional Cuisine, Culinary of the Ngaju Dayak Community, Mandomai Village