cover
Contact Name
Nasaruddin
Contact Email
nasarhb@gmail.com
Phone
+6285242574293
Journal Mail Official
jtajdid@gmail.com
Editorial Address
LP2M Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima, Gedung Lantai III, Jln. Anggrek No. 16 Ranggo NaE Kota Bima NTB, Telp. 0374-44646, Fax. 0373-45267
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan
Published by IAI Muhammadiyah Bima
ISSN : 25498983     EISSN : 26146630     DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid
TAJDID merupakan jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Frekuensi penerbitan dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun setiap bulan April dan Oktober oleh LP2M IAI Muhammadiyah Bima. TAJDID akan menyajikan ide-ide yang up to date disertai dengan solusi-solusi yang relevan seputar pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Terlepas dari itu, secara tehknisnya bahwa TADJID hadir untuk mempermudah penulis, peneliti, mahasiswa, guru bahkan stakeholder lainnya yang berkepentingan akan teori-teori yang relevan yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan/referensi secara luas. TAJDID berkomitmen kuat akan selalu hadir sebagai solusi dalam konteks pengembangan keilmuan dibidang keagamaan dan kemanusiaan (sosial).
Articles 262 Documents
ANALISIS PERBANDINGAN TEORI PRASANGKA DALAM PSIKOLOGI ISLAM : PERSPEKTIF AL GHAZALI DAN HUSSEIN RASOOL Insan Syahida
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6306

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep prasangka menurut dua tokoh utama dalam psikologi Islam, yaitu Imam Al-Ghazali dan G. Hussein Rassool. Melalui metode penelitian deskriptif kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menggali pandangan kedua tokoh mengenai prasangka baik (husnuzhan) dan prasangka buruk (su’uzhan) serta implikasinya terhadap kesehatan mental dan hubungan sosial. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menekankan pentingnya menjauhkan diri dari su’uzhan sebagai bagian dari pengendalian penyakit hati, serta mendorong penerapan husnuzhan untuk menjaga hubungan harmonis dengan Allah dan manusia. Sementara itu, G. Hussein Rassool dalam buku Islamic Psychology: Human Behaviour and Experience from an Islamic Perspective melihat prasangka sebagai bagian dari perilaku manusia yang dipengaruhi oleh keyakinan, stereotip, dan pengaruh sosial, yang harus diatasi melalui pendekatan spiritual, seperti tabayyun, introspeksi, dan empati. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pendekatan kedua tokoh, keduanya sepakat bahwa prasangka buruk dapat merusak kesejahteraan mental dan sosial, sementara husnuzhan memiliki dampak positif dalam meningkatkan keharmonisan individu dan masyarakat. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang konsep prasangka dalam psikologi Islam, serta memberikan landasan teoretis bagi pengembangan strategi psikologis yang berbasis nilai-nilai Islami.
DINAMIKA AKAL PRAKTIS AL-FARABI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN: ANALISIS PENGARUH BIAS KOGNITIF SEBAGAI DISTORSI ETIS Silsilia Jianusa; Raden Rachmy Diana
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6319

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi alasan di balik kegagalan integritas moral manusia melalui analisis lintas disiplin antara filsafat akal Al-Fārābī dan teori psikologi kognitif kontemporer. Masalah utama yang diangkat adalah adanya diskoneksi antara pengetahuan etis universal (akal teoritis) dan tindakan nyata dalam pengambilan keputusan, yang dalam konteks modern sering mewujud dalam perilaku koruptif. Menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan sintesis teoretis, penelitian ini membedah bagaimana bias kognitif khususnya Einstellung effect dan mekanisme moral disengagement dari Albert Bandura beroperasi sebagai distorsi etis terhadap akal praktis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa akal praktis memiliki kerentanan struktural karena ketergantungannya pada fakultas sub-rasional seperti imajinasi dan estimasi. Bias kognitif dan pelepasan moral mengintervensi fakultas tersebut dengan cara memanipulasi persepsi partikular, sehingga menyebabkan "paralisis deliberatif" di mana individu menormalisasi tindakan tidak etis secara bawah sadar. Kegagalan fungsi akal praktis yang berlangsung secara repetitif ini pada akhirnya membentuk malakah (disposisi karakter) yang buruk dan menghambat pencapaian sa‘ādah (kebahagiaan sejati). Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan moralitas tidak cukup hanya melalui pendidikan nilai, tetapi juga memerlukan kesadaran kritis terhadap distorsi kognitif yang melekat pada proses pengambilan keputusan manusia.
KONSEP EPISTEMOLOGI ISLAM PRESPEKTIF AL-GHAZALI DALAM KITAB AL-MUNQIDZ MIN AL-DLALAL DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA SOCIETY 5.0 Mutiara Erisqi Rama Gesta; Imron Rossidy
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6340

Abstract

Era Society 5.0 menuntut pendidikan Islam untuk mampu beradaptasi dengan transformasi digital, big data, dan kecerdasan buatan. Tantangan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga epistemologis, mengingat adanya problem dikotomi ilmu, lemahnya integrasi antara ilmu agama dan modern, serta krisis relevansi pemikiran klasik terhadap kebutuhan kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep epistemologi Islam perspektif Al-Ghazali dalam kitab Al-Munqidz min al-Dlalal dan menganalisis relevansinya terhadap pengembangan pendidikan Islam di era Society 5.0. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif jenis studi pustaka (library research) dengan teknik analisis konten terhadap teks utama Al-Ghazali dan literatur akademik terbitan lima tahun terakhir. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa epistemologi Al-Ghazali menempatkan sinergi antara akal, pengalaman empiris, dan wahyu sebagai fondasi utama dalam proses perolehan kebenaran. Konsep ini sangat relevan untuk merespons disrupsi teknologi karena menawarkan kerangka integrasi ilmu yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan karakter spiritual. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa implementasi epistemologi Al-Ghazali dalam kurikulum pendidikan Islam modern dapat mengatasi problem dikotomi ilmu melalui model pembelajaran yang adaptif terhadap teknologi namun tetap berlandaskan nilai-nilai spiritualitas Islam.
PENGENDALIAN DIRI MENURUT MARCUS AURELIUS DAN ABDULLAH AL-HADDAD: RELEVANSINYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL GENERASI Z Siti Wikoyatul Widiah; Mohamad Hudaeri; Agus Ali Dzawafi
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6387

Abstract

Generasi Z hidup dalam era digital yang penuh distraksi, tekanan sosial, dan ketidakpastian, yang berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres kronis, dan krisis identitas. Dalam konteks ini, pengendalian diri menjadi kebutuhan penting untuk menjaga stabilitas psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pengendalian diri dalam Stoisisme, khususnya melalui pemikiran Marcus Aurelius dan Abdullah Al-Haddad serta relevansinya terhadap kesehatan mental generasi Z saat ini. Penelitian ini Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil kajian mengungkapkan bahwa Marcus Aurelius menyoroti pentingnya pengendalian diri melalui prinsip-prinsip logis seperti dichotomy of control, premeditatio malorum, dan pengelolaan persepsi untuk mencapai ketenangan batin. Di sisi lain, Abdullah Al-Haddad lebih menekankan pengendalian diri dari sudut pandang spiritual, seperti mujahadah al-nafs, penyucian hati atau tazkiyah al-nafs, pengendalian hawa nafsu dan emosi, serta penguatan jiwa melalui dzikir dan ibadah. Meskipun keduanya bertujuan untuk membentuk jiwa yang stabil, mereka memiliki pendekatan yang berbeda: Stoisisme bersifat rasional dan filosofis, sementara tasawuf yang diajarkan Al-Haddad lebih bersifat spiritual dan merujuk kepada Al-Qur’an. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendekatan rasional Stoisisme dan pendekatan spiritual tasawuf dapat menjadi kerangka alternatif yang relevan dalam memperkuat pengendalian diri dan menjaga kesehatan mental Generasi Z di tengah tantangan kehidupan modern.
STRATEGI AISYIYAH DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN DALAM PEMILU 2024 Muttaqin, Ahmad Ashim; Darajad, Syarifuddin; Firdiansyah, Muhammad Ardi
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6484

Abstract

Penelitian ini menyoroti dinamika partisipasi politik perempuan di Indonesia, dengan fokus pada peran organisasi ‘Aisyiyah dalam Pemilu 2024. Di tengah tantangan budaya patriarki dan sistem pemilu yang kompetitif, ‘Aisyiyah hadir sebagai kekuatan moral (moral force) yang menerapkan konsep high politics atau politik nilai. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana ‘Aisyiyah menjaga independensi organisasi namun tetap aktif mendorong keterwakilan perempuan secara substantif. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif-kualitatif untuk menelaah landasan teologis dan strategi gerakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan ‘Aisyiyah dilegitimasi oleh dokumen Adabul Mar’ah fil Islam dan Risalah Perempuan Berkemajuan. Strategi konkret yang dilakukan meliputi pendidikan pemilih cerdas, penyelenggaraan Madrasah Politik Perempuan, advokasi regulasi, serta pemantauan inklusivitas TPS bagi kelompok rentan. Kesimpulannya, ‘Aisyiyah berhasil berperan sebagai elemen strategis demokrasi yang menjembatani kesenjangan partisipasi perempuan melalui edukasi dan pengawasan etis tanpa berafiliasi dengan politik praktis.
DESAIN INSTRUKSIONAL DIGITAL BERBASIS ADDIE DAN PENERAPANNYA DALAM MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS DIGITAL (TIKTOK) Alaika M. Bagus Kurnia PS; Laelatun Naajichiyyah; Ana Aliyatul Farodisah; Nia Novita Sari; Syofiatul Hasanah; Muhammad Iqbal Nashrullah
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6522

Abstract

Proses pembelajaran yang baik harus mempertimbangkan perencanaan sepanjang pelaksanaannya, karena perencanaan akan menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Perencanaan ini mencakup persiapan materi, media, model, dan strategi yang sesuai dengan materi pengajaran. Seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang desain pembelajaran, salah satunya adalah model ADDIE. Model ADDIE merupakan akronim dari Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate dan dapat diterapkan secara prosedural, siklik, dan integratif. Desain ini menawarkan kerangka kerja komprehensif untuk merencanakan, mengembangkan, dan mengevaluasi pembelajaran, memastikan efektivitas dan efisiensinya. Model pengembangan media pembelajaran digunakan untuk menciptakan dan memaksimalkan proses pembelajaran. Desain ADDIE mengharuskan guru untuk menerapkan langkah-langkah pembelajaran atau mengembangkan media pembelajaran secara berurutan, memastikan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat divalidasi dengan benar karena langkah-langkah yang sistematis. Pembahasan ini menjelaskan langkah-langkah untuk mengembangkan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan memanfaatkan media sosial TikTok.
IMPLEMENTASI BUDAYA RELIGIUS MADRASAH DALAM MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK DI MTS AL-QODIRI KREBET GUMUKMAS Yuszri Thoha Asy'ari; Mukhsin Mukhsin
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6562

Abstract

Pendidikan karakter religius merupakan aspek penting dalam membentuk kepribadian peserta didik di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral yang semakin kompleks. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai religius melalui pembiasaan budaya religius yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi budaya religius madrasah dalam membentuk karakter religius peserta didik di MTs Al-Qodiri Gumukmas, meliputi bentuk budaya religius, faktor pendukung dan penghambat, serta dampaknya terhadap karakter religius peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan informasi kepala madrasah, guru Pendidikan Agama Islam, wali kelas, dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya religius di MTs Al-Qodiri Gumukmas diwujudkan melalui doa bersama, shalat berjamaah, Khotmil Al-Qur’an, serta pembiasaan akhlak Islami. Implementasi budaya religius didukung oleh kepemimpinan kepala madrasah yang religius, keteladanan guru, dan lingkungan madrasah yang kondusif, namun juga menghadapi hambatan berupa kejenuhan siswa dan potensi pelaksanaan yang bersifat formalitas. Secara keseluruhan, budaya religius memberikan dampak positif terhadap peningkatan kedisiplinan ibadah, penguatan sikap religius, dan pembentukan akhlakul karimah peserta didik
REKONSTRUKSI KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM HADITS TARBAWI: ANALISIS TEMATIK TERHADAP NILAI-NILAI AKHLAK NABAWI Erli Yana; Elly Kurniawati; A. Gani; Muhammad Akmansyah; Amirudin Amirudin
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6626

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permasalahan moral dalam dunia pendidikan Indonesia, seperti perundungan, intoleransi, dan krisis integritas, yang menunjukkan bahwa penguatan aspek kognitif semata belum cukup membentuk karakter siswa. Kondisi ini mendorong perlunya rekonstruksi konsep pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai keislaman, khususnya hadits tarbawi sebagai sumber ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi konsep pendidikan karakter melalui analisis tematik (maudhu’i) terhadap nilai-nilai akhlak nabawi. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research), dengan menghimpun hadits-hadits terkait nilai kejujuran (ṣidq), amanah (mas’uliyyah), kesabaran (ṣabr), dan persaudaraan (ukhuwwah), kemudian dianalisis secara konseptual dan pedagogis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis hadits tarbawi dapat dirumuskan dalam tiga dimensi utama: ontologis (tauhid sebagai sumber nilai moral), epistemologis (hadits sebagai sumber teori dan metodologi pendidikan), dan aksiologis (transformasi sosial sebagai tujuan akhir). Rekonstruksi ini menegaskan bahwa pendidikan karakter dalam perspektif hadits bersifat integratif, transendental, dan kontekstual. Dengan demikian, hadits tarbawi menawarkan kerangka konseptual yang relevan untuk memperkuat sistem pendidikan karakter nasional secara lebih aplikatif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Hadits Tarbawi, Akhlak Nabawi
FIQH MINORITAS: JEMBATAN ETIKA DAN IBADAH UNTUK CALON TENAGA KERJA MUSLIM DI ERA GLOBALISASI ST. Muhlisina; Nur Khamsianah
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6634

Abstract

Fiqih minoritas atau fiqh al-aqalliyat, dibahas sebagai kerangka etika dan ibadah bagi calon tenaga kerja Muslim yang akan bekerja di negara-negara non-Muslim di era globalisasi. Mobilitas karyawan Muslim ke berbagai negara dengan sistem hukum dan budaya yang berbeda menimbulkan tantangan khusus dalam menerapkan syariat Islam. Fiqih Minoritas menawarkan solusi metodologis untuk menjembatani ajaran Islam universal dengan cara hidup minoritas di masyarakat sekuler atau non-Islam. Metode kualitatif-deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk mengevaluasi prinsip-prinsip Fiqih minoritas. Prinsip-prinsip ini berpusat pada kemudahan (taysir), penghindaran kesulitan (raf’ al-haraj) dan keseimbangan antara mempertahankan identitas keagamaan dan tuntutan profesionalisme. Inti dari fiqih ini adalah untuk membantu orang Islam menjalankan kewajiban ibadah utama mereka, seperti shalat, puasa dan makan makanan halal, sambil tetap berintegrasi secara sosial dan profesional dan tetap menghormati etika dan hukum negara tempat mereka bekerja. Fiqih minoritas mendorong kandidat karyawan untuk mengutamakan nilai-nilai profesionalisme, kedisiplinan dan integritas yang sejalan dengan nilai-nilai Islam saat bekerja. Fiqih ini memberikan fleksibilitas hukum (rukhsah) dalam konteks ibadah untuk situasi yang mendesak atau sulit. Misalnya, mengubah waktu shalat di pabrik atau mencari makanan halal yang lebih baik. Dengan memahami dan menerapkan Fiqih minoritas, calon tenaga kerja Muslim diharapkan dapat mempertahankan kualitas spiritual dan moral mereka, menjadi duta Islam yang baik dan mencapai kesuksesan profesional tanpa mengorbankan prinsip agama mereka.
REKONSTRUKSI GAGASAN PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM AZYUMARDI AZRA DALAM TANTANGAN SOCIETY 5.0 Sela Hidayatul Isna; Mohammad Dasuki
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6645

Abstract

Perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat di era Society 5.0. menuntut pendidikan Islam melakukan penyesuaian agar tetap relevan dan menjawab tantangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gagasan pembaruan pendidikan Islam perspektif Azyumardi Azra dan menilai kerelevanannya dalam konteks era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research dengan mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulan data dari berbagai sumber tertulis artikel penelitian ilmiah, laporan penelitian, buku, makalah,catatan kesimpulan seminar atau diskusi ilmiah yang berkaitan dengan pemikiran Azra, pendidikan Islam, dan era Society 5.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembaruan pendidikan menurut Azra mencakup pembaruan pemikiran melalui integrasi pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan umum guna menghilangkan dikotomi pendidikan, serta pembaruan kelembagaan melalui modernisasi manajemen, transformasi institusi, dan pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dalam konteks era Society 5.0 yang berpusat pada manusia dengan berfokus pada manusia (human-centered) dengan mengintegrasikan dunia digital dan dunia nyata melalui pemanfaatan teknologi, gagasan Azra dinilai relevan. pendidikan Islam perlu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga mampu membentuk generasi yang berkarakter dan teguh dalam menjaga nilai-nilai keislaman.