cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Performance of zero water discharge (ZWD) system with nitrifying bacteria Bacillus megaterium and microalgae Chaetoceros calcitrans components in super intensive pacific white shrimp Litopenaeus vannamei culture at low salinity Rahim, Rahim; Suantika, Gede; Muhammad, Harish
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3542.02 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.137-146

Abstract

ABSTRACTThis research aimed to obtain the performance of super intensive white shrimp rearing using zero water discharge (ZWD) system. This study consisted of four steps, (1) activation and cultivation of nitrifying bacteria, microalgae C. calcitrans and B. megaterium; (2) acclimatization of Pacific white shrimp PL10 with 30 g/L of salinity and decreasing salinity at 2–3 g/L/day; (3) conditioning of ZWD system; (4) white shrimp rearing in 400 L of tank for ten weeks. The experiment used three treatments, (a) shrimp reared without any addition of microbial agent with water exchange conducted every week as much as10–20% of total rearing volume as control (K); (b) ZWD systems with the applications of nitrifying bacteria, (C. calcitrans and B. megaterium) without water discharge  (P1); and (c) ZWD system with the application of microalgae C. calcitrans and B. megaterum without water discharge (P2). According to the results, application of nitrifying bacteria, microalgae C. calcitrans and B. megaterium were able to improve the performance of ZWD system performance of white shrimp rearing at low salinity. In addition, the ZWD system was also able to increase the growth rate and survival rate of shrimp when it compared to control. The best rearing performance was found in ZWD system with application of microalgae C. calcitrans and B. megaterium. Keywords: Litopenaeus vannamei, ZWD, low salinity, microalgae, nitrification bacteria.   ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja budidaya udang putih super intensif bersalinitas rendah menggunakan sistem zero water discharge (ZWD).  Penelitian ini terbagi dalam tiga, yaitu (1) aktivasi dan kultur bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterium; (2) aklimatisasi udang putih PL10 salinitas 30 g/L dan penurunan salinitas 2–3 g/L/hari; (3) pengondisian dari sistem ZWD; (4) pemeliharaan udang putih selama 10 minggu di bak bervolume 400 L. Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan ; (a) perlakuan kontrol tanpa penambahan  mikroba dan pergantian air setiap minggu sebanyak 10–20% (K) ; (b) sistem ZWD dengan bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterium tanpa pergantian air (P1); (c) sistem ZWD dengan  mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum tanpa pergantian air (P2). Berdasarkan hasil yang didapat, aplikasi bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum mampu meningkatkan kineja sistem ZWD pada budidaya udang putih L. vannamei bersalinitas rendah. Selain itu, aplikasi bakteri nitrifikasi, mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum pada sistem ZWD juga mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan sintasan udang putih dibanding dengan kontrol. Kinerja pemeliharaan terbaik dijumpai pada sistem ZWD dengan aplikasi mikroalga C. calcitrans dan B. megaterum. Kata kunci: bakteri nitrifikasi, Litopenaeus vannamei, mikroalga, salinitas rendah, ZWD 
The used of chopped banana Musa paradisiaca stem for stimulating immune responses and streptococcosis resistance of Nile tilapia Oreochromis niloticus Nurjanah, Lilis; Nuryati, Sri; Alimuddin, Alimuddin; Nirmala, Kukuh
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3812.1 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.147-157

Abstract

ABSTRACT Streptococcosis caused by Streptococcus agalactiae bacteria, is a type of disease that often found in Nile tilapia farming. This study was performed to determine the effectiveness of the concentration and frequency of giving chopped banana stem as the immunostimulant to stimulate the non‒specific immune system of tilapia against S. agalactiae infection. This study used factorial completely randomized design, consisted of two factors: concentration and changing frequency (replacement time interval) of banana stem on Nile tilapia rearing media with 11 treatment and each treatment was given three replications. The concentration of 5 g/L, 10 g/L and 15 g/L and the three days, seven days and no replacement time interval were used in this study. The immersion treatment with the chopped banana stem was done for 14 days, then the challenge test with S. agalactiae was on the 15th day for 14 days observation. The result showed that chopped banana stem contained active compounds of alkaloids, namely: 17.63% flavonoids, 0.02% tannin and 0.24% saponins. This active compounds could increase the non-specific immune system including respiratory burst, lysozyme activity, phagocyte activity, erythrocyte, leucocyte and haemoglobin. Treatment with a concentration of 5 g/L and no replacement of the chopped banana stem was the best treatment with 75% relative percent survival, highest than other treatments. In addition, it also has highest phagocytes (36.3%), respiratory burst (0.58 at O.D. 630), and lysozyme activity (72.7 unit/mL) after four days challenged with S. agalactiae. Keywords: Banana stem, immunostimulant, Nile tilapia, non-specific immune system, Streptococcus agalatiae   ABSTRAK Penyakit Streptococcosis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus agalactiae merupakan jenis penyakit  yang sering ditemukan pada budidaya ikan nilaPenelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan frekuensi pergantian cacahan batang pisang sebagai imunostimulan yang optimum sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan nila terhadap serangan penyakit streptococcosis yang disebabkan oleh bakteri S. agalactiae. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu konsentrasi dan frekuensi pergantian cacahan batang pisang pada media pemeliharaan ikan dengan 11 perlakuan dan 3 ulangan. Konsentras batang pisang yang digunakan yaitu 5 g/L, 10 g/L dan 15 g/L, sedangkan frekuensi pergantian batang pisang dalam penelitian ini yaitu tiga hari, tujuh hari dan tanpa pergantian batang pisang. Perlakuan perendaman dengan cacahan batang pisang dilakukan selama 14 hari, kemudian dilakukan uji tantang dengan bakteri S. agalactiae pada hari ke-15 selama 14 hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacahan batang pisang ambon mengandung senyawa aktif berupa alkaloid, flavonoid (17,63%), tanin (0,02%) dan saponin (0,24%). Senyawa aktif tersebut mampu meningkatkan respons imun non-spesifik pada ikan nila yaitu respiratory burst, aktivitas lisozim, aktivitas fagositik, total leukosit, total eritrosit dan hemoglobin. Perlakuan dengan konsentrasi 5 g/L dan tanpa pergantian cacahan batang pisang merupakan perlakuan terbaik dengan nilai relative percent survival (RPS) mencapai 70%, lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Selain itu, perlakuan ini memiliki nilai tertinggi pada aktivitas fagositik (36,6%), respiratory burst (0,58 pada O.D. 630 nm) dan aktivitas lisozim (72,7 Unit/mL) setelah hari ke‒4 uji tantang dengan bakteri S. agalactiae. Kata kunci: batang pisang, ikan nila, imunostimulan, respons imun, Streptococcus agalactiae 
Efficacy of Streptococcus agalactiae vaccine strains N3M and N4M in fry tilapia infected by different strains of S. agalactiae Sukenda, Sukenda,; Firmansyah, Arif Lukman; Rahman, Rahman,; Nuryati, Sri; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3658.23 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.168-180

Abstract

ABSTRACT    Streptococcus agalactiae is a major bacterial streptococcosis disease that infects tilapia. This study aimed to analyze a specific and nonspecific immune system in fry tilapia that has been given with S. agalactiae vaccine from N3M and N4M strain and examine the protective immunity against S. agalactiae N3M, N4M, N17O, NK1,  and N14G strains infection. Fry tilapia used in this study has the weight of 7.086±0.948 g and length of 7.443±0.353 cm. The S. agalactiae strains that used were N3M, N4M, N17O, NK1,and N14G. Fry tilapia was vaccinated through intraperitoneal injection method with 0.1 mL per fish of N3M and N4M vaccines. Fish reared in aquarium sizing of 60×30×50 cm3 with a density of 10 fishes aquarium-1. Two weeks after vaccination, fry tilapia was tested with 0.1 mL fish-1 of each N3M, N4M, N17O, NK1, and N14G strains through intraperitoneal injection method. Antibody level measured with indirect enzym-linked immunosorbent assay (ELISA) method. The result of antibody level in vaccinated fish after vaccination of N3M, N4M vaccine, N3M and N4M control were 0.767; 0.743; 0.587; and 0.544, respectively. Relative percent survival in N3M vaccinated fish after challenged with N3M and N4M was 87.50% dan 64.70%, respectively, otherwise in N4M vaccinated fish was 62.50% dan 76.47%, respectively. N3M and N4M vaccine strain have better protection as only if it tested with similar bacteria strain. Keywords: formalin-killed cell, tilapia, protection, Streptococcus agalactiae, strains  ABSTRAK Streptococcus agalactiae merupakan bakteri utama penyakit streptococcosis yang menginfeksi ikan nila. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sistem imun spesifik dan nonspesifik pada benih ikan nila yang diberi vaksin S. agalactiae strain N3M dan N4M serta mengkaji imunitas protektif terhadap infeksi S. agalactiae strain N3M, N4M, N17O, NK1, dan N14G. Benih ikan nila yang digunakan memiliki bobot 7,086±0,948 g dan panjang 7,443±0,353 cm. Bakteri yang digunakan adalah S. agalactiae strain N3M, N4M, N17O, NK1,danN14G. Benih ikan nila divaksinasi menggunakan metode injeksi pada bagian intraperitoneal sebanyak 0,1 mL ekor-1 vaksin N3M dan N4M. Pemeliharaan dilakukan pada akuarium berukuran 60×30×50 cm3 dengan kepadatan 10 ekor akuarium-1. Dua minggu setelah vaksinasi benih ikan diuji tantang dengan strain bakteri N3M, N4M, N17O, NK1,  danN14G menggunakan metode injeksi pada bagian intraperitoneal dengan dosis 0,1 mL ekor-1. Level antibodi diukur dengan metode indirect enzym-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil menunjukkan level antibodi ikan setelah vaksinasi pada perlakuan vaksin N3M, N4M, kontrol N3M, dan kontrol N4M berturut-turut 0,767; 0,743; 0,587; dan 0,544. Kelangsungan hidup relatif ikan yang divaksin N3M setelah diuji tantang dengan strain N3M dan N4M berturut-turut 87,50% dan 64,70%, sedangkan pada ikan yang divaksin N4M berturut-turut 62,50% dan 76,47%. Vaksin strain N3M dan N4M memiliki proteksi lebih baik jika diuji tantang dengan strain bakteri yang sama. Kata kunci: formalin-killed cell, Streptococcus agalactiae, strain, proteksi, nila  
The comparative studies of Borneo plant extracts to increases vaccine efficacy in tilapia, Oreochromis niloticus Hardi, Esti Handayani; Sukarti, Komsanah; Agriandini, Maulina; Kusuma, Irawan Wijaya; Nugroho, Rudi Agung
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3526.157 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.158-167

Abstract

ABSTRACT  This study was investigated the adjuvant effect of Boesenbergia pandurata (BP), Zingiber zerumbet (ZZ), Solanum ferox (SF) on protection of tilapia with injection Pseudomonas sp. (Pseumulvacc) vaccination. The extract concentrations of BP (600 mg/L), ZZ (200 mg/L), and SF (900 mg/L) were combined with the vaccine, ratio between vaccine and extract was 1:1. Tilapia fish (weight 15 g) were intraperitoneally injected with vaccine mix the extract and challenged at days 7 (d7), 14 (d14), and 21 (d21) post vaccination through intramuscular injection with Aeromonas hydrophila and Pseudomonas fluorescens (105 CFU/mL each pathogen bacteria). The results shown that the fish with BP+V were found in fin rot at d14 days challenge.  The same symptoms was found in ZZ+V at d14 challenge as much 11.11% and 42.86%. while, in the vaccine groups (V), after the challenge, tilapia were found fin rot and darkness color until the last experiment. The BP+V and SF+ZZ+V groups shown reducing the number of bacteria in the fish body after challenge test on d7, d14, and d 21. The efficacy of Pseumulvacc vaccine has increased after its administration with BP (BP+V) on day 7 and day 14 after challenge (90%) and 100% at the time of challenge test d21. The conclusion is B. pandurata extract might be a promising adjuvant candidate for fish vaccination, and B. pandurata extract is the best plants as an adjuvant that mixed with the vaccine to against A. hydrophila and P. fluorescens infection. Keywords: Adjuvant, plant extract, vaccine, fish pathogen bacteria  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek adjuvan dari ekstrak tanaman temu kunci (Boesenbergia pandurata/BP), lempuyang (Zingiber zerumbet/ZZ), dan terung asam (Solanum ferox/SF) pada ikan nila yang diberikan bersama dengan vaksin bakteri Pseudomonas sp. (Pseumulvacc) melalui injeksi. Dosis yang digunakan yaitu ekstrak BP 600 mg/L, ZZ 200 mg/L, dan SF 900 mg/L, dengan rasio antara vaksin dan ekstrak adalah 1:1. Pengujian diawali dengan menginjeksi ikan nila (bobot tubuh 15 g) melalui intraperitoneal dengan campuran vaksin dan ekstrak tanaman, dilanjutkan dengan uji tantang pada hari 7 (d7), 14 (d14) dan 21 (d21) pascavaksinasi dengan bakteri gabungan Aeromonas hydrophila dan Pseudomonas fluorescens (kepadatan bakteri masing-masing 105 CFU/mL) melalui intramuskular. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ikan yang diberi vaksin dengan penambahan ekstrak BP (BP+V) masih ditemukan mengalami sirip gripis pada waktu uji tantang hari ke 14, gejala serupa juga ditemukan pada pemberian vaksin yang dicampur dengan ZZ (ZZ+V) pada waktu uji tantang d14, sebesar 11.11 % dan 42.86%. Sedangkan ikan yang diberi vaksin tanpa campuran ekstrak (V) masih ditemukan ikan mengalami sirip gripis dan warna menghitam pada waktu uji tantang d14. Pada perlakuan BP+V dan SF+ZZ+V mampu mengurangi jumlah bakteri di dalam tubuh ikan nila pasca uji tantang d7, d14 dan d21, dan jumlahnya lebih rendah dibandingkan  dengan perlakuan lainnya. Efikasi vaksin Pseumulvacc mengalami peningkatan pada BP+V pada hari 7 dan hari 14 pasca ujitantang mencapai 90%, dan 100% pada waktu uji tantang d21. Semakin lama waktu uji tantang (d21), berdampak pada tingkat perlindungan vaksin plus ekstrak yang makin tinggi dibandingkan dengan waktu uji tantang pada hari d7 dan d14. Ekstrak B. pandurata adalah tanaman terbaik sebagai adjuvan yang penggunaannya dicampur dengan vaksin untuk penanggulangan infeksi bakteri A.hydrophila dan P. fluorescens. Kata kunci: Adjuvan, ekstrak tanaman, vaksin, patogen pada ikan 
The effect of temperature on the physiological condition and growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844 Fekri, Latifa; Affandi, Ridwan; Rahardjo, Muhammad Fajar; Budiardi, Tatag; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Fauzan, Tezza; Indrayani, Indrayani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3406.807 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.181-190

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the effect of water temperature on the physiological condition and growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor (McClelland, 1844). This study was conducted in March 2017 at the Physiology Laboratory of Aquatic Animal, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University. The study used a completely randomized design with five different levels of temperature (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, and 30°C) as treatments with two replications. The size of elver was 2‒3 g. Fish were fed with 1 mm pellet containing 45% of protein. The feeding level was 7 % of fish biomass and the feeding frequency was two times a day. The results showed that temperatures range from 24‒30°C could be used for freshwater eel elver rearing and 28‒30°Cwere the best temperatures to support survival and growth performance of eel elver. A temperature of 24°C was the best temperature that could reduce the metabolism rate and did not cause stress on the elver. Keywords: elver, physiological conditions, growth performance, metabolism, temperature  ABSTRAK Penelitian dengan tujuan menganalisis pengaruh suhu terhadap kondisi fisiologis dan kinerja pertumbuhan elver ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844) telah dilakukan pada bulan Maret 2017 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK IPB. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan suhu berbeda (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, dan 30°C) dengan masing-masing dua ulangan. Ukuran benih yang digunakan 2‒3 g. Pakan yang diberikan berupa pellet berukuran 1 mm dengan kadar protein 45%. Jumlah pakan yang diberikan (FR) adalah 7% dari biomassa ikan dan diberikan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu 24‒30°C dapat digunakan dalam pemeliharaan elver ikan sidat, dan suhu 28‒30°C merupakan suhu yang sangat baik untuk mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan elver ikan sidat. Suhu media 24°C adalah suhu terbaik yang dapat menekan laju metabolisme dengan tidak menyebabkan stres pada elver ikan sidat. Kata kunci: elver, kondisi fisiologis, kinerja pertumbuhan, metabolisme, suhu  
Biochemical study of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced by PMSG hormone + anti‒dopamine and turmeric addition Arfah, Harton; Sudrajat, Agus Oman; Suprayudi, Muhammad Agus; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3416.018 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.191-198

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate biochemical changes (cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, glucose, and plasma protein) on striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced with PMSG hormone and turmeric addition. An observation was also done to blood glycogen content. The striped catfish broodstock was fed on commercial feed without any addition (control) and with turmeric addition (HKu). In control treatment, there was a decreasing on cholesterol, meanwhile, the triglyceride (TG) value was increased. The HDL concentration was decreased in 2nd sampling and increased in 4th sampling. In 1st until 4th sampling, glucose was quite stable, while LDL was on extremely low concentration. In HKu treatment, the cholesterol value was higher than the control treatment. The TG concentration also higher than control in 3rd sampling and decreased in 4th sampling. The HDL concentration was increased and higher than the control treatment, while LDL concentration was lower. The liver glycogen content on the control and HKu treatment were 0.015 (mg/100 mL) and 0.181 (mg/100 mL) respectively; while in the flesh of the control and HKu treatment were 0.76 (mg/100 mL) and 1.19 (mg/100 mL) respectively; and in the gonad of control and HKu treatment were 0.10 (mg/100 mL) and 0.70 (mg/100 mL) respectively. It was shown that the glycogen content in the liver, flesh, and gonad on experimental fish was higher than control treatment. Keywords : biochemistry, hormone, turmeric, channel catfish, reproduction  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan biokimia (kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, glukosa dan protein plasma) induk ikan patin Pangasianodon hypophthalmus yang diberi perlakuan hormon PMSG dan kunyit (HKu). Pengamatan juga dilakukan terhadap glikogen dalam darah induk patin. Induk ikan patin diberi pakan tanpa penambahan kunyit (kontrol) dan pakan yang diberi HKu. Hasil penelitian pada kontrol menunjukkan adanya penurunan kolesterol, sedangkan pada TG mengalami peningkatan. HDL menurun pada sampling ke‒2 dan meningkat pada sampling ke‒4. Sementara itu, pada LDL rendah sekali dan pada glukosa terlihat stabil dari sampling ke‒1 sampai ke‒4. Pada perlakuan HKu terlihat bahwa pada kolesterol menghasilkan nilai lebih tinggi dibanding kontrol. Pada TG terlihat juga nilai lebih tinggi dibanding kontrol pada sampling ke‒3 dan menurun pada sampling ke‒4. Konsentrasi HDL meningkat dan lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan nilai LDL lebih rendah. Data yang diperoleh pada kadar glikogen hati perlakuan kontrol adalah 0,015 (mg/100 mL) dan HKu 0,181 (mg/100 mL); sedangkan pada daging kontrol sebesar 0,76 (mg/100 mL) dan HKu 1,19 (mg/100 mL); serta gonad kontrol 0,10 (mg/100 mL) dan HKu 0,70 (mg/100 mL). Hal ini menunjukkan kadar glikogen pada hati, daging, dan gonad ikan yang diberi perlakuan bernilai lebih tinggi dibanding kontrol.           Kata kunci : biokimia, hormon, kunyit, ikan patin, reproduksi  
The digestibility of biofloc meal from African catfish culture medium as a feed raw material for Pacific white shrimp Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus; Elas, Putri; Senja, Reza Karunia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3465.216 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.1-8

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate the digestibility of biofloc meal collected from catfish culture as a feed raw material for Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei diet. A basal feed with 43% crude protein content was used as a control diet and mixed with 2% of binders and 0.5 % of Cr2O3 as a marker for digestibility. The experimental diets were made by mixing 67.5% of the basal diet with 30% of biofloc meal, 2% of binders and 0.5 % of Cr2O3. Nine units of glass tanks (90 cm ×40 cm× 35 cm) filled with 100 L seawater were used as the experimental culture units. White shrimp with an average body weight of 5.61 ± 0.09 g was randomly distributed to each experimental tank at a density of 20 shrimp/tank. The feed was offered at a level of 5% shrimp biomass per day at a frequency of four times a day. The results showed that the dry matter digestibility of feed with 30% biofloc meal in shrimp were similar to that of the reference diet. However, protein and fat digestibility of feed containing biofloc meal were considerably higher than those of the reference diet. Feeding shrimp with 30% biofloc meal diet resulted in higher survival and specific growth rate and lower feed conversion ratio than those of the control. The digestibility of bioflocs dry matter, protein and lipid in Pacific white shrimp obtained in this study were 54.9%, 76.3% and 79.3%, respectively.Keywords: biofloc, digestibility, catfish, shrimp  ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kecernaan tepung bioflok yang diambil dari media pemeliharaan ikan lele sebagai bahan pakan udang vaname Litopenaeus vannamei. Pakan yang mengandung kadar protein 43% digunakan sebagai pakan control dan dicampur dengan 2% binder dan 0.5% Cr2O3 sebagai marker untuk kecernaan. Pakan perlakuan dibuat dengan mencampurkan 67.5% pakan control dengan 30% tepung bioflok, 2% binder dan 0.5% Cr2O3. Penelitian menggunakan sembilan unit akuarium (90 cm ×40 cm ×35 cm) yang diisi 100 L air laut. Udang vaname dengan bobot rata-rata 5.61 ± 0.09 g ditebar secara acak pada setiap akuarium perlakuan pada kepadatan 20 ekor/akuarium. Pakan diberikan dengan tingkat pemberian pakan 5% biomassa per hari sebanyak empat kali sehari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecernaan pakan dengan 30% tepung bioflok tidak berbeda nyata dengan pakan acuan. Namun kecernaan protein dan lemak pakan yang mengandung tepung bioflok terlihat lebih tinggi daripada pakan kontrol. Pemberian pakan dengan tepung bioflok sebanyak 30% juga menghasilkan tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik udang dan rasio konversi pakan yang lebih baik daripada udang yang diberi pakan kontrol. Kecernaan bahan, protein dan lemak tepung bioflok pada udang yang didapat dalam penelitian masing-masing adalah 54.9%, 76.3% dan 79.3%.Kata-kata kunci: bioflok, ikan lele, kecernaan, udang 
Stimulation of gonad maturation in mullet fish Mugil dussumieri using MT, E2, hCG, and Ovaprim hormone Cahyono, Tatak Dwi; Junior, Muhammad Zairin; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4208.618 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.9-22

Abstract

ABSTRACT The present study is a preliminary research for producing mullet fry to aquaculture. The research aimed to evaluate stimulation of gonad maturation in mullet (Mugil dussumieri) using hormones. The method used for research was completely randomized design consisting of three treatments and each individual replication was repeated three times. Two experiments were conducted separately with different treatments. First experiment used 9-14.7 cm body length of fish treated with different hormone injections i.e. 4 mg/kg 17α-methyltestosterone (MT), 0.07 mg/kg estradiol-17β (E2), and 0.5 ml/kg 0.9% physiological solution as control. Second experiment used 10-31 cm body length fish treated with 750 IU/kg chorionic gonadotropin (hCG), 0.5 ml/kg Ovaprim, and 0.9% physiological solution as control. Gonadosomatic index (GSI) value of the first experiment on day 60 showed that GSI of E2 treatment (1.31±0.94%) was higher than both MT treatment (1.00±0.51%) and control (0.54±0.20%). On the other hand, the second experiment on day 60 showed that GSI of hCG treatment (7.18±0.59%) was higher than both Ovaprim treatment (3.29±2.66%) and control (6.72±0.32%). Egg diameter frequency distribution for control in the first experiment on day 30 showed that egg size ranged from 9−144 µm. Egg diameter for E2 and MT treatments on day 60 showed that egg size ranged from 9−243 µm and were higher than control. In the second experiment, egg diameter on day 30 for control showed that egg size ranged from 9-144 µm, hCG treatment showed egg size ranged from 9−441 µm, while Ovaprim egg size ranged from 9-111 µm. Blood glucose, blood cholesterol, testosterone and estradiol hormone level in the first and second experiment showed no significant difference. The results showed that estradiol-17β and 17α-methyltestosterone induction in 9-14.7 cm body length mullet increase gonad maturity to stage II while hCG induction in 10-31 cm body length mullet increase gonad maturity to stage III. Keywords : estradiol-17β, hCG, 17α-methyltestosterone, Mugil dussumieri, Ovaprim ABSTRAK Penelitian merupakan rintisan untuk menghasilkan benih ikan belanak dalam wadah budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pematangan gonad ikan belanak Mugil dussumieri menggunakan hormon. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan dan tiga kali ulangan individu. Terdapat dua percobaan dengan perlakuan berbeda dan dilakukan secara terpisah. Percobaan pertama menggunakan ikan berukuran 9−14.7 cm dengan hormon 17α-metiltestosteron (MT) 4 mg/kg, estradiol-17β (E2) 0.07 mg/kg dan kontrol larutan fisiologis 0.9% 0.5 ml/kg. Percobaan kedua menggunakan ikan berukuran 10−31 cm dengan human chorionic gonadotropin (hCG) 750 IU/kg, Ovaprim 0.5 ml/kg dan kontrol larutan fisiologis 0.9 % 0.5 ml/kg. Nilai gonadosomatic index (GSI) percobaan pertama pada hari ke-60 menunjukkan bahwa pemberian estradiol-17β (1.31±0.94%) lebih tinggi dibandingkan 17α-metiltestosteron (1.00±0.51%) dan kontrol (0.54±0.20%). Hasil percobaan kedua pada hari ke-60 nilai GSI menunjukkan bahwa pemberian hCG (7.18±0.59%) lebih tinggi dibandingkan Ovaprim (3.29±2.66%) dan kontrol (6.72±0.32%). Sebaran frekuensi diameter telur pada percobaan pertama untuk kontrol hari ke-30 menunjukkan kisaran 9−144 µm. Sebaran frekuensi diameter telur untuk estradiol-17β dan 17α-metiltestosteron hari ke-60 menunjukkan kisaran 9−243 µm lebih banyak dibandingkan kontrol. Sebaran frekuensi diameter telur pada percobaan kedua untuk kontrol hari ke-30 menunjukkan kisaran 9−144 µm, hCG 9−441 µm sedangkan Ovaprim hanya 9−111 µm. Kadar glukosa darah, kolesterol darah, hormon testosteron dan estradiol pada percobaan pertama dan percobaan kedua menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi hormon estradiol-17β dan 17α-metiltestosteron pada ikan berukuran 9−14.7 cm dapat meningkatkan kematangan gonad mencapai TKG II sedangkan induksi hormon hCG pada ikan berukuran 10−31 cm dapat meningkatkan kematangan gonad mencapai TKG III. Kata kunci : estradiol-17β, hCG, 17α-metiltestosteron, Mugil dussumieri, Ovaprim
Female maturation and rematuration acceleration of Mutiara strain catfish (Clarias gariepinus) using combination of oocyte developer hormone and astaxanthin addition diet Jufri, Fatahillah Maulana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3483.51 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.23-32

Abstract

ABSTRACT Reproductive design for gonadal maturation process mostly related with some factors such as environmental signals, reproductive organs, hormonal and nutrition. This research was conducted on female Mutiara strain of North African Catfish, Clarias gariepinus by combining two kinds of materials administered to broodstock diet, namely oocyte developer (Oodev) which contains of PMSG hormone and antidopamin, and astaxanthin carotenoid. Research designs were divided into C (Control), A50 (astaxanthin 50 mg/kg feed), A100 (astaxanthin 100 mg/kg feed), Od0.5 (Oodev 0.5 mL/kg fish for two weeks), Od1 (1 mL/kg fish for 2 weeks), Od0.5A50 (combined Od0.5 with A50), Od1A50 (combined Od1 with A50), Od0.5A100 (combined Od0.5 with A100), and Od1A100 (combined Od1 with A100). This research was performed during twelve weeks of feeding. The Od1A100 treatment showed the best reproduction performance result compared to other treatment with highest hepatosomatic (HSI) and gonadosomatic (HSI) indexes (P<0.05), also fastest increase in egg diameters (P<0.05), shorter rematuration periods and highest proportion of mature broodstock. These results indicated that Oodev and astaxanthin could accelerate gonadal maturity in female broodstock of Mutiara catfish.Keywords: Broodstock, hormonal, reproduction, oocyte developer, astaxanthin  ABSTRAK Rekayasa reproduksi untuk proses pematangan gonad sebagian besar terkait dengan beberapa faktor seperti sinyal lingkungan, organ reproduksi, hormonal dan nutrisi. Penelitian ini dilakukan terhadap strain ikan lele Mutiara (Clarias gariepinus) betina menggunakan dua bahan yang dicampur pada pakan induk, yaitu oocyte developer (Oodev) yang mengandung hormon PMSG dan antidopamin, dan karotenoid astaxanthin. Eksperimen yang dirancang adalah K (Kontrol), A50 (Astaxanthin 50 mg/kg pakan), A100 (Astaxanthin 100 mg/kg pakan), Od0.5 (Oodev 0,5 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od1 (Oodev 1 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od0.5A50 (kombinasi Od0.5 dan A50), Od1A50 (kombinasi Od1 dan A50), Od0.5A100 (kombinasi Od0.5 dan A100), dan Od1A100 (kombinasi Od1 dan A100). Penelitian ini dilakukan dengan memberi makan dua belas minggu. Performa reproduksi terbaik didapat pada perlakuan Od1A100. Od1A100 memiliki indeks hepatosomatik (HSI) dan gonadosomatik (HSI) tertinggi (P <0,05), juga diameter telur paling cepat besar (p <0,05), periode rematurasi terpendek, dan proporsi induk matang gonad tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa Oodev dan astaxanthin dapat mempercepat kematangan gonad pada induk betina ikah lele Mutiara. Keyword: Induk, hormon, reproduksi, oocyte developer, astaxanthin 
Immune response and growth performance of crayfish Cherax quadricarinatus fed with supplementary diet of synbiotic Amrullah, Amrullah; Wahidah, Wahidah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3468.013 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.33-45

Abstract

ABSTRACT This study aimed to investigate the effectiveness of synbiotic (prebiotic alginate and probiotic bacteria Micrococcus spp) on the immune responses, growth performance, and bacterial resistance of freshwater crayfish. The experimental diets were formulated in three levels of synbiotic: the probiotic bacteria Micrococcus spp+100 mg/L alginate (Syn100), Micrococcus spp+200 mg/L alginate (Syn200), Micrococcus spp+300 mg/L alginate (Syn300), each level was mixed with tested feed. The basal diet (without synbiotics) served as the control diet. During 40 days of rearing, immune responses observations were conducted every 10 days, while the crayfish weight were recorded on day 40. Furthermore, the challenge test was performed against the pathogenic bacteria of A. hydrophila and reared for a week. The result showed that synbiotics treatment of Syn300 and Syn200 could improve the immune response and increased the growth rate (P<0.05). Both were also heavier than the Syn100 treatment. The highest resistance to A. hydrophila pathogenic bacteria by demonstrating a higher survival rate was Syn300 and followed by Syn200 (70.00 ± 0% and 73.33 ± 5.77%, respectively), compared to Syn100 (56.67 ± 3.33%) and the control (33.33 ± 3.33%). The synbiotic Micrococcus spp. combined with alginate potentially induced immune responses, increased growth performance, and improved bacterial pathogens resistance, making it an ideal synbiotic to be developed. Keywords: synbiotic, prebiotic, probiotic, Sargassum sp., alginate, brown algae  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan sinbiotik (prebiotik alginat dan probiotik Micrococcus spp) terhadap respons imun,  performa pertumbuhan dan resistensi lobster air tawar. Tiga perlakuan sinbiotik yaitu Micrococcus spp+100 mg/L alginat (Syn100), Micrococcus spp+200 mg/L alginat (Syn200), Micrococcus spp+300 mg/L alginat (Syn300), masing-masing dicampurkan ke dalam pakan dan diberikan ke lobster. Pakan tanpa campuran prebiotik digunakan sebagai pakan kontrol. Selama 40 hari pemeliharaan, pengamatan respon imun dilakukan setiap 10 hari dan pada hari ke-40 pemeliharaan dilakukan pengukuran bobot lobster. Selanjutnya, lobster di uji tantang dengan bakteri A. hydrophila dan dipelihara kembali selama satu minggu.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang mengandung sinbiotik Syn300 dan Syn200 dapat meningkatkan respon imun dan pertumbuhan (P<0.05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan Syn100, sementara bobot tubuh terendah didapat pada perlakuan kontrol. Resistensi lobster tertinggi terhadap bakteri A. hydrophila yang ditunjukkan dengan sintasan tertinggi didapatkan pada perlakuan Syn300 (70.00±0.00%) dan Syn200 (73.33±5.77%) dibandingkan dengan perlakuan Syn100 (56.67±3.33%) dan kontrol (33.33±3.33%). Penelitian ini membuktikan bahwa sinbiotik Micrococcus spp. yang dikombinasikan dengan alginat dapat menginduksi respons imun, meningkatkan performa pertumbuhan ,dan resistensi terhadap patogen sehingga merupakan sinbiotik yang ideal untuk dikembangkan. Kata kunci : sinbiotik, prebiotik, probiotik, Sargassum sp., alginat, alga coklat 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue