cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Grow-out of spiny lobster Panulirus sp. with high stocking density in controlled tanks Subhan, Rio Yusufi; Supriyono, Eddy; Widanarni, Widanarni,; Djokosetiyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3437.352 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.53-60

Abstract

ABSTRACTThe aim of this research was to determine optimum stocking density for growing-out of spiny lobster Panulirus sp. in controlled tanks that conducted for 30 days. The experimental spiny lobsters have the initial average weight of 130.39 ± 0.32 g and initial average total length of 140.70 ± 0.06 mm. This study used completely randomized design with three different stocking densities (KT10: 10 ind/m3; KT18: 18 ind/m3; and KT26: 26 ind/m3) and two replications. The parameters observed in this study included water quality (temperature, pH, salinity, dissolved oxygen, and total ammonia nitrogen), physiological responses (total haemocyte count, haemolymph glucose, and frequency of molt), and production performances, such as growth, specific growth rate, feed conversion ratio, and survival rate. The results showed that the spiny lobster could be reared in high stocking density in controlled tanks. Water quality during the study in each treatment was; temperature 26.56–28.65oC, salinity 29.7–33.6 g/L, pH 7.5–8.5, dissolved oxygen 6.15–6.58 mg/L, and total ammonia nitrogen 0.11–0.34 mg/L. The best stocking densities for spiny lobster was 18 ind/m3 (KT18) with 2.5‒3.5×106cells/mL total haemocyte counts, 24.6‒28.3 mg/dL haemolymph glucose, and 38.37 ± 3.20% frequency of molt. The final average body weight and length were 145.06 ± 0.42 g and 142.77 ± 0.19 mm, respectively. The survival rate reached 86.11 ± 3.92% with a specific growth rate 0.35 ± 0.01%/day, and feed conversion ratio 7.87 ± 0.31.Keywords: high stocking density, Panulirus sp., physiological responses, productivity.  ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kepadatan terbaik dalam pembesaran lobster laut Panulirus sp. yang dipelihara dalam bak terkontrol selama 30 hari. Lobster laut yang digunakan pada awal penelitian memiliki bobot 130,39 ± 0,32 g dan panjang total 140,70 ± 0,06 mm. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan kepadatan berbeda, yaitu: 10 ekor/m3(KT10), 18 ekor/m3(KT18), dan 26 ekor/m3(KT26) dan dua ulangan. Parameter uji yang diamati dalam penelitian ini meliputi kualitas air (suhu, salinitas, pH, DO, dan TAN), respons fisiologis (total hemosit/THC, glukosa hemolim, dan frekuensi pergantian kulit), dan kinerja produksi meliputi pertumbuhan, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lobster laut dapat dibesarkan dengan kepadatan tinggi dalam bak terkontrol. Pengukuran nilai kualitas air pada setiap perlakuan selama pemeliharaan adalah suhu berkisar 26,56–28,65oC, salinitas 29,7–33,6 g/L, pH 7,5–8,5, DO antara 6,15–6,58 mg/L dan TAN antara 0,11–034 mg/L. Perlakuan terbaik selama penelitian adalah dengan kepadatan 18 ekor/m3 (KT18) dengan nilai THC berkisar antara 2,5–3,5×106  sel/mL, glukosa hemolim 24,6–28,3 mg/dL,dan frekuensi pergantian kulit 38,37±3,20%. Bobot dan panjang lobster akhir rata-rata pada perlakuan tersebut masing-masing mencapai 145,06 ± 0,42 g, dan 142,77 ± 0,19 mm. Tingkat kelangsungan hidup mencapai 86,11 ± 3,92% dengan laju pertumbuhan spesifik 0,35 ± 0,01%/hari dan rasio konversi pakan selama penelitian adalah 7,87 ± 0,31.Kata kunci: padat pemeliharaan, Panulirus sp., produktivitas, respons fisiologis.  
Reproduction performance of climbing perch Anabas testudineus F1 and F2 broodstock with different dietary supplementation Helmizuryani, Helmizuryani,; Muslimin, Boby; Khotimah, Khusnul
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3357.232 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.%p

Abstract

ABSTRACTReproduction enhancement of climbing perch from reared inland water in the controlled environment has done successfully to generate its broodstocks and offsprings. This species is potential to create the sustainability production in the future because they offer a promising price, so it needs a further study for optimizing the quality of broodstock and its offsprings. This study aimed to analyze the reproduction of female broodstocks from various family F1 and F2 by adding multiple dietary supplements in the different dose. The research was conducted on Fish Hatchery Unit Mulia Plaju, Palembang for three months and biology laboratory in Agriculture Faculty, University of Muhammadiyah Palembang. The research method used completely randomized design with three replications, began by rearing the female broodstock (F1 and F2) with adding dietary supplement for three treatments, they were P1: vitamin E (250 mg/kg dietary weight), P2: vitamin C (125 mg/kg dietary weight), and P3: Spirulina sp. (10% / dietary weight). Then, for each female broodstock from F1 and F2 of every treatment was selected for breeding with ratio two females (♀) (F1 & F2) : male F1 (♂). The research showed that reproduction performance of F2 was better than F1 in broodstock growth, fecundity, egg diameter, and larvae growth parameter, but it had low fertility than F1. Adding supplement of vitamin E to female broodstock resulted in a better productivity performance than the vitamin C and Spirulina sp..  Keywords: climbing perch, family, dietary supplement, reproduction  ABSTRAKRekayasa reproduksi ikan betok dari perairan umum telah berhasil dilakukan di lingkungan budidaya secara terkontrol untuk menghasilkan calon induk dan keturunannya. Ikan ini berpotensi untuk diproduksi lebih lanjut di masa yang akan datang karena memiliki harga yang cukup menjanjikan sehingga butuh kajian optimasi kualitas induk dan keturunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa reproduksi induk betina ikan betok dari keturunan famili yang berbeda (F1 dan F2) yang diberikan suplemen berupa vitamin E, vitamin C dan Spirulina dengan dosis yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di Unit Pembenihan Ikan Mulia Plaju Palembang selama 3 bulan dan di Laboratorium Biologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap tiga perlakuan dan tiga kali ulangan, yang diawali dengan pemeliharaan induk betina F1 dan F2 dengan menggunakan suplemen pakan berbeda pada setiap perlakuan, yaitu P1: vitamin E (250 mg/kg pakan), P2: vitamin C (125 mg/kg pakan), dan P3: Spirulina sp. (10% per berat pakan). Penelitian dilanjutkan dengan perkawinan induk betina (♀) F1 dan F2 dengan induk jantan (♂) F1 rasio perkawinan 2:1 pada masing-masing perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa performa reproduksi Induk keturunan F2 lebih baik dari pada F1 dengan parameter reproduksi berupa pertumbuhan induk, fekunditas, diameter telur, dan pertumbuhan larva, namun fertilisasi lebih rendah dibandingkan F1. Penambahan suplemen vitamin E pada pakan induk betina ikan betok memiliki produktivitas reproduksi yang lebih baik dibandingkan dengan vitamin C dan Spirulina.Kata kunci: ikan betok, famili, suplemen pakan, reproduksi 
Selection of lactic acid bacteria as a probiotic and evaluated its performance on gnotobiotic catfish Clarias sp. Turnip, Enita Romasni; Widanarni, Widanarni,; Meryandini, Anja
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3490.41 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.68-80

Abstract

ABSTRACT This study aimed to select lactic acid bacteria (LAB) as a potential probiotic that producing anti‒microbial compounds in order to treat motile aeromonads septicemia diseases caused by Aeromonas hydrophila on catfish Clarias sp. and evaluated its performance on gnotobiotic catfish. The in vitro assay was done to select several LAB isolates based on antagonistic activity against pathogenic bacteria. The selected isolate was tested in vivo to observe their ability to improve growth performances of catfish. The study was conducted with five treatments consists of K‒ (normal catfish without addition probiotic, without challenge test), K+ (normal catfish without addition of probiotic, with challenge test), Np (normal catfish with addition of probiotic and challenge test), G (gnoto catfish without addition of probiotic, with challenge test), and Gp (gnoto catfish with addition of probiotic and challenge test). The results showed that the addition of Pediococcus pentosaceus E2211 as selected probiotic could increase survival rate, specific growth rate, and immune response towards infection of A. hydrophila. The best survival rate after challenge test was obtained in Np and Gp treatments (88.46%), followed by G treatment (65.38%), while the K+ was only 53.84%. The conclusion of this study was P. pentosaceus E2211 potentially used as a probiotic candidate for normal and gnotobiotic catfish. The presence of normal microflora with P. pentosaceus E2211 in Np treatment showed the best probiotic performance with daily growth rate 3.28%, feed conversion ratio 1.79, and total intestinal bacteria reached 108 CFU/mL significantly different from other treatments (P<0.05).Keywords: Aeromonas hydrophila, catfish, LAB, probiotic, screening  ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah menyeleksi bakteri asam laktat (BAL) sebagai probiotik potensial penghasil senyawa antimikrob guna menanggulangi penyakit motile aeromonad septicemia akibat Aeromonas hydrophila pada ikan lele Clarias sp. dan evaluasi kinerjanya pada ikan lele gnotobiotik. Pengujian in vitro dilakukan untuk menyeleksi beberapa isolat BAL sebagai kandidat probiotik berdasarkan aktivitas antagonis terhadap bakteri patogen. Isolat terpilih kemudian diuji in vivo untuk mengetahui kemampuannya dalam meningkatkan performa tumbuh ikan lele. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan, yaitu: K‒ (lele normal tanpa probiotik dan tanpa tanpa diuji tantang), K+ (lele normal tanpa probiotik dan diuji tantang), Np (lele normal diberi probiotik dan diuji tantang), G (lele gnoto tanpa probiotik dan diuji tantang), dan Gp (lele gnoto diberi probiotik dan diuji tantang). Hasil penelitian menunjukkan pemberian probiotik terpilih BAL Pediococcus pentosaceus E2211 mampu meningkatkan sintasan, laju pertumbuhan, dan respons imun ikan lele terhadap infeksi A. hydrophila. Sintasan terbaik pascauji tantang diperoleh pada perlakuan Np dan Gp yaitu sebesar 88,46%, diikuti perlakuan G sebesar 65,38%, sementara pada K+ hanya mencapai 53,84%. Kesimpulan dari penelitian ini ialah isolat BAL terpilih P. pentosaceus E2211 berpotensi sebagai kandidat probiotik untuk ikan lele normal dan lele gnotobiotik Clarias sp. Keberadaan mikroflora normal yang berasosiasi dengan P. pentosaceus E2211 pada perlakuan Np menunjukkan kinerja probiotik terbaik dengan nilai laju pertubuhan harian 3,28%, rasio konversi pakan 1,79 dan total bakteri usus mencapai 108 CFU/mL yang berbeda signifikan dibanding perlakuan lainnya (P<0,05).Kata kunci: A. hydrophila, BAL, ikan lele, probiotik, seleksi 
Effectivity of prebiotic mannan oligosaccharides as the immunity enhancer and growth response on whiteleg shrimp Litopenaeus vannamei against white spot disease Prastiti, Linuwih Aluh; Yuhana, Munti; Widanarni, Widanarni,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2140.11 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.81-86

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the immune response and growth performance of white shrimp administered with prebiotic mannan oligosaccharides (MOS) with dosages of (0%, 0.2%, 0.4%, and 0.8% in diet) and used in the feeding trial. Shrimps (Litopenaeus vannamei) (the initial average weight was 3.416±0.064 g) were fed at satiation, three times a day. A completely randomized design was used  in the study. Shrimps were cultured at the stock density of 15 shrimps 40/L for each treatment in triplicates. After 30 days of the feeding trial, shrimp were challenged with white spot syndrome virus filtrate by intramuscular injection. The total gut bacteria, total haemocyte count (THC), phenoloxydase (PO), and respiratory burst (RB) activity were observed 4 times, before the experiment, day 30th before challenge test, day 32nd after challenge test, and day 36th the end of the experiment. The shrimp survival was observed at day 36th to evaluate the immune responses. The results showed that THC, PO activity, RB activity, growth performance, and shrimp survival administered with prebiotic 0.8% were significantly higher (P<0.05) than control. The administration of prebiotic with dose 0.8% was the best result and could effectively improve the immune responses and growth performance of whiteleg shrimp. Keywords: prebiotic, whiteleg shrimp, white spot disease  ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi respons imun dan performa pertumbuhan pada udang vaname yang diberi prebiotik mannan-oligosaccharides (MOS) dengan dosis berbeda (0%, 0,2%, 0,4%, dan 0,8%) pada pakan. Udang vaname (Litopenaeus vannamei) (dengan rata-rata bobot 3,41 ± 0,06 g) diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Udang dipelihara dengan kepadatan 15 ekor per 40/L pada setiap perlakuan dengan tiga kali pengulangan. Setelah 30 hari pemberian pakan, udang diuji tantang menggunakan white spot syndrome virus dengan diinjeksi secara intramuskular. Total bakteri usus, total haemocyte count (THC), aktivitas phenoloxydase (PO), dan aktivitas respiratory burst (RB) diamati 4 kali, yaitu sebelum perlakuan hari ke-30 sebelum uji tantang, hari ke-32 setelah uji tantang, dan hari ke-36 pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa THC, aktivitas RB, aktivitas PO, performa pertumbuhan, dan kelangsungan hidup yang diberi prebiotik dengan dosis 0,8% lebih tinggi (P<0,05) jika dibandingkan dengan kontrol (dosis 0%). Pemberian prebiotik dengan dosis 0,8% merupakan hasil terbaik dan secara efektif mampu meningkatkan respons imun dan performa pertumbuhan pada udang vaname. Kata kunci: prebiotik, udang vaname, white spot disease  
Utilization of cinnamon Cinnamomum burmannii leaves and shrimp head in the feed on growth performance of catfish Pangasianodon hypopthalmus Dairun, Suclyadi; Setiawati, Mia; Suprayudi, Muhammad Agus; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3324.195 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.87-93

Abstract

ABSTRACTCatfish farming has confronted with the problem of slow growth to reach the fillet size and less tender of fish fillets. This study aimed to investigate the effect of cinnamon leaf flour and shrimp head flour in formulated diets on growth of catfish Pangasianodon hypopthalamus. Catfish with an initial weight of 207.04 ± 2.70 g/fish reared in 12 cages with a dimension of  2×1×1.5 m3 (L×W×H)  and its fish density was 15 fishes for 60 days. Fish were fed with following experimental diets: (1) Control; (2) cinnamon leaf (1%) (CL); (3) 45% of protein source from shrimp head (SH); (4) CL+SH mix.  The fishes fed twice a day with feeding rate 3.5% of fish biomass. The study found that the use of cinnamon leaf and shrimp head increased the specific growth rate 1.67-1.70%, the feed efficiency 57.55-57.67%, and protein retention 55.61% compared to its control (P<0.05). Triglyceride level, cholesterol, and blood HDL were 416.00-524.05 mg/dL, 139.65-156.68 mg/dL, 73.18-103.70 mg/dL (P>0.05), respectively. HSI value ranged between 0.3-1.9% compared to its control (P<0.05).Keywords: Cinnamomum burmannii, feed, growth, Pangasianodon hypopthalmus, shrimp head.  ABSTRAKBudidaya ikan patin dihadapkan pada permasalahan pertumbuhan dan kualitas daging yaitu pertumbuhan yang lambat untuk mencapai ukuran fillet serta tekstur daging kurang kompak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh penggunaan tepung daun kayu manis dan tepung kepala udang dalam pakan terhadap pertumbuhan ikan patin Pangasianodon hypopthalmus. Ikan patin dengan bobot 207,04 ± 2,70 g/ekordipelihara selama 60 hari di hapa sebanyak 12 buah (berukuran 2×1×1,5 m3)dengan padat tebar 15 ekor/jaring. Ikan diberi pakan perlakuan yang terdiri dari: (1) Kontrol; (2) daun kayu manis 1% (DKM); (3) 45% sumber protein dari kepala udang (TKU); dan (4) campuran DKM+TKU. Pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari dengan feeding rate 3,5% dari biomassa ikan. Hasil dari penelitian penggunaan daun kayu manis dan kepala udang meningkatkan nilai laju pertumbuhan harian 1,67-1,70%, efisiensi pakan 57,55-57,67% dan retensi protein 55,61% dibanding kontrol (P<0,05). Kadar trigliserida, kolesterol, dan HDL darah berturut-turut adalah 416,00-524,05 mg/dL, 139,65-156,68 mg/dL, 73,18-103,70 mg/dL (P>0,05). Nilai HSI ikan patin berkisar antara 0,3-1,9% dibanding kontrol (P<0,05).Kata kunci: Cinnamomum burmannii, kepala udang, pakan, Pangasianodon hypopthalmus, pertumbuhan. 
Characterization of pathogenic bacteria in eel Anguilla bicolor bicolor Wahjuningrum, Dinamella; Hidayat, Acep Muhamad; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3587.243 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.94-103

Abstract

ABSTRACTThis research aimed to characterize bacteria caused disease in eel Anguilla bicolor bicolor. The research was conducted in two steps. The first step included the isolation and identification of bacteria from the disease infected glass eel (average body length: 5.0±0.5 cm, average weight: 0.5±0.1 g). The observation were colony and cell morphology, physiology, and biochemical characterization of bacteria, hemolysis test, and bacteria identification performed by KIT API 20 E, KIT API 20 Strep, and KIT API 20 Listeria. The second step was Koch’s postulate, tested on healthy elver with an average length of 15.00±0.65 cm and weight of 3.00±0.75 g. The results showed three dominant species of bacteria suspected as a causative agent in eel, namely: Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, and Listeria grayi. Koch’s postulates test proved that the Aeromonas hydrophila and Streptococcus agalactiae were virulent to Anguilla bicolor bicolor.  Thus, A.hydrophila and S. agalactiae were disease-causing agent bacteria in eel. Keywords: Anguilla bicolor bicolor, bacteria, A. hydrophila, S. agalactiae  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi bakteri penyebab penyakit pada ikan sidat Anguilla bicolor bicolor. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi isolasi dan identifikasi bakteri dari ikan sidat kondisi sakit pada stadia glass eel. Ukuran panjang ikan sidat rata-rata 5±0,5 cm dan bobot rata-rata 0,5±0,08 g, pengamatan bentuk morfologi koloni dan morfologi sel, karakterisasi fisiologi, dan biokimia bakteri, serta uji hemolisis, dan identifikasi jenis bakteri dengan KIT API 20 E, KIT API 20 Strep, dan KIT API 20 Listeria. Tahap kedua yaitu uji postulat Koch pada ikan sidat kondisi sehat stadia elver yang berukuran panjang rata-rata 15±0,65 cm dan bobot rata-rata 3±0,75 g. Hasil penelitian diperoleh tiga jenis bakteri dominan yaitu Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, dan Listeria grayi. Uji postulat Koch membuktikan bahwa bakteri A. hydrophila dan S. agalactiae bersifat virulen pada ikan sidat Anguilla bicolor bicolor.  Dengan demikian maka bakteri A. hydrophila dan S. agalactiae sebagai bakteri penyebab penyakit pada ikan sidat. Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, bakteri, A. hydrophila, S. agalactiae 
Growth performance and survival of snakehead Channa striata juvenile with different stocking density reared in recirculation system Saputra, Adang; Budiardi, Tatag; Samsudin, Reza; Rahmadya, Naufal Dwi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3482.256 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.104-112

Abstract

ABSTRACTSnakehead Channa striata is a local specific fish species and has high economic value. Until now the production of snakehead still reelies on the catch of nature because cultivation of snakehead is still underdeveloped. The main constraint in snakehead fish farming is high mortality on snakehead juvenile rearing phase. This study was conducted to determine the best stocking density on snakehead juvenile rearing to achieve optimal production. The treatments used in this study were stocking density of 1 juvenile/L, 2 juveniles/L, and 3 juveniles/L. Snakehead juveniles with a length of 3.41 ± 0.39 cm and weight 0.28 ± 0.07 g, were reared for 42 days in the aquarium sized 40×40×40 cm with a volume of 40 L. Fishes were fed by bloodworms in ad libitum method. The result showed that the treatments did not affect the survival, growth and the ratio of RNA/DNA of snakehead juvenile. Survival of juvenile snakehead ranged 92.5‒94.58% (P>0.05). The result of water quality measurement showed that it was on optimum condition to supporting snakehead growth at 3 juveniles/L stocking density. Furthermore, recirculation can be use to maintenance water quality for optimum condition. Thus, the rearing of snakehead fish juvenile in the recirculation system can use a stocking density of 3 juveniles/L, and the recirculation system could maintain the water quality in good condition. Keywords: growth, recirculation system, snakehead fish, stocking density, survival rate  ABSTRAK Ikan gabus Channa striata merupakan ikan spesifik lokal dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sampai saat ini produksi ikan gabus masih mengandalkan tangkapan dari alam karena kegiatan budidaya ikan gabus masih belum banyak berkembang. Kendala utama dalam budidaya ikan gabus adalah tingginya mortalitas pada fase pemeliharaan benih. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan padat tebar terbaik dalam upaya memperoleh pertumbuhan dan sintasan terbaik. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah padat tebar 1 ekor/L, 2 ekor/L, dan 3 ekor/L. Benih ikan gabus dengan panjang rata-rata 3,41± 0,39 cm dan bobot rata-rata 0,28 ± 0,07 g dipelihara selama 42 hari di dalam akuarium berukuran 40×40×40 cm dengan volume air 40 L. Benih ikan gabus diberikan pakan berupa cacing sutera secara ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan padat penebaran yang berbeda tidak memengaruhi sintasan dan pertumbuhan dan rasio RNA/DNA benih ikan gabus (P>0,05). Sintasan benih ikan gabus pada akhir pemeliharaan berkisar antara 92,5‒94,58%. Hasil pengukuran terhadap kualitas air pada kepadatan 3 ekor/L masih dalam kondisi optimum untuk mendukung pertumbuhan benih ikan gabus sehingga sistem resirkulasi yang digunakan dapat mempertahankan kualitas air dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan pemeliharaan benih ikan gabus pada sistem resirkulasi sebaiknya menggunakan padat tebar 3 ekor/L dan sistem resirkulasi dapat mempertahankan kualitas air dalam kondisi baik. Kata kunci: ikan gabus, pertumbuhan, padat tebar, sintasan, sistem resirkulasi. 
The growth performance and resistance to salinity stress of striped catfish Pangasius sp. juvenile in biofloc system with different feeding rates Meritha, Wellya Wichi; Suprayudi, Muhammad Agus; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3346.398 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.113-119

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate the growth performance and resistance to salinity stress of striped catfish juvenile reared in biofloc with different feeding rate (FR). The treatments applied in this study were rearing the fish in biofloc with FR 5% and 8% of biomass per day, and rearing the fish with a FR of 8% per day without biofloc system as the control. The fish with an initial average length of 1.81 ± 0.20 cm were stocked in 9 units of  50 L aquaria with density of 40 ind/aquaria (800 ind/m3) for 15 days rearing period. In biofloc systems, the addition of tapioca as a source of organic carbon was done every day with an estimated C/N ratio of 10. No water exchange was done in biofloc systems, whereas regular water exchange was applied in the control. Results of the experiment showed that survival was not significantly different amongst treatments (P>0.05).  However, the specific growth rate of the fish in biofloc system with a FR of 8% per day showed the highest value and was significantly different from other treatments (P<0.05). Fish reared in biofloc system tend to have lower feed conversion ratios (FCRs) than the control. The lowest FCR was found in fish reared in biofloc system with 5% FR and significantly lower than control (P<0.05).  Salinity stress test was conducted by soaking 15 juveniles in water with a salinity of 20 g/L for an hour. The survival of fish after salinity stress test were significantly higher for fish reared in bifloc system than control (P<0.05). These data showed that rearing striped catfish juvenile in biofloc system could reduce FCR, increase the growth, and robustness of fish. Keywords: biofloc, feeding rate, growth, salinity stress test, striped catfish  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan ketahanan benih ikan patin terhadap stres salinitas yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan tingkat pemberian pakan (FR) berbeda. Perlakuan yang terdapat dalam penelitian ini adalah benih patin yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan FR 5% dan 8% per hari, dan pemeliharaan benih dengan FR 8% per hari tanpa penambahan sumber karbon sebagai kontrol. Benih patin dengan panjang rata-rata awal 1,81 ± 0,20 cm dipelihara dalam 9 unit akuarium dengan volume air 50 L dan kepadatan 40 ekor/akuarium (800 ekor/m3) selama 15 hari. Pada sistem bioflok, penambahan tapioka sebagai sumber karbon dilakukan setiap hari dengan C/N 10. Pada sistem bioflok tidak dilakukan pergantian air, sedangkan pada kontrol dilakukan pergantian air. Kelangsungan hidup ikan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Namun, tingkat pertumbuhan spesifik ikan dalam sistem bioflok dengan FR 8% per hari menunjukkan nilai tertinggi dan berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Benih yang dipelihara pada sistem bioflok memiliki rasio konversi pakan (FCR) yang lebih rendah dibandingkan kontrol, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan bioflok (P>0,05). Uji stres salinitas dilakukan dengan merendam 15 ekor benih patin pada air dengan salinitas 20 g/L selama satu jam. Kelangsungan hidup setelah uji stres salinitas dari benih yang dipelihara di bioflok secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kontrol (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan benih patin pada sistem bioflok dapat menurunkan FCR, dan meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ikan terhadap stres salinitas. Kata kunci: bioflok, feeding rate, pertumbuhan, uji stres salinitas, ikan patin 
The effectivity of pandanus leaf extract for the treatment of sangkuriang catfish juvenile Clarias gariepinus infected by Aeromonas hydrophila Sopiah, Siti; Rosidah, Rosidah; Lili, Walim; Iskandar, Iskandar; Suryadi, Ibnu Bangkit
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3486.475 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.120-129

Abstract

ABSTRACTThe aim of this study was to determine the effective concentration of pandanus Pandanus amaryllifolius leaf extract for the treatment of sangkuriang catfish juvenile infected by Aeromonas hydrophila. The method used in this study was an experimental method with completely randomized design consisted of five treatments and three replications. The treatments were A (control), B (400 mg/L), C (600 mg/L), D (800 mg/L), and E (1000 mg/L) trough immersion for 24 hours through immersion for 24 hours.  The fish has infected with A. hydrophila bacteria as much as 20 mL of NaCl/L in 10 L of water medium with a density of 108 CFU/mL through immersion. The observed parameters were clinical symptoms, recovery process, survival rate, and water quality. The results showed that pandanus leaf extract at a concentration of 800 mg/L for 24 hours was effective for treating sangkuriang catfish juvenile that infected by A. hydrophila with a survival rate of 86.67%. Based on the regression analysis, it discovered that the optimum concentration of pandanus leaf extract through immersion for 24 hours was 774.39 mg/L and the predicted survival was 92.16%.  Keywords: Aeromonas hydrophila, catfish fingerlings, effective concentration, infection, pandanus leaf extract   ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi yang efektif dari ekstrak daun pandan  wangi Pandanus amaryllifolius untuk pengobatan benih lele sangkuriang Clarias gariepinus yang terinfeksi bakteri A. hydrophila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan penelitian adalah A (kontrol), B (400 mg/L), C (600 mg/L), D (800 mg/L), dan E (1000 mg/L). Ikan uji diinfeksi bakteri A. hydrophila sebanyak 20 mL NaCl/L dalam 10 L media air dengan kepadatan 108 CFU/mL melalui perendaman selama 24 jam. Parameter yang diamati meliputi gejala klinis, waktu pulih, kelangsungan hidup, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun pandan wangi pada konsentrasi 800 mg/L selama 24 jam efektif untuk pengobatan benih lele sangkuriang yang terinfeksi bakteri A. hydrophila dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 86,67%. Berdasarkan analisis regresi diketahui bahwa konsentrasi optimum penggunaan ekstrak daun pandan wangi melalui perendaman selama 24 jam yaitu 774,39 mg/L dan prediksi kelangsungan hidup ikan adalah 92,16%. Kata kunci : Aeromonas hydrophila, benih lele sangkuriang, ekstrak daun pandan, infeksi, efektifitas konsentrasi  
Inorganic nitrogen absorption in the aquaponics farming of sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) at uneven retention periods Zahidah, Zahidah; Andriani, Yuli; Dhahiyat, Yayat; Nurruhwati, Isni; Sahidin, Asep; Hamdani, Herman; Victoria, Stephanie Marcelia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3430.442 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.130-136

Abstract

AbstractAquaponics is new aquaculture integrating the technology of fishes and plants due to less availability of land. This study aimed to determine the optimum retention period in the aquaponics farming of sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) integrated with water spinach (Ipomoea reptan) to generate the water to support the catfish production. This study conducted in 40 days between May to June 2016 at Ciparanje Fish Hatchery Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran. The design of this study was completely randomized, with five treatments and three replications. The treatments retention periods were 5, 10, 15, 20 minutes, and control (no water flow). The study showed that the retention period affected water spinach’s inorganic nutrient absorption in sangkuriang catfish farm. The 15 minutes retention period gave the most desirable result, with a flow of 0.072 L/s that reduced 58.83% of nitrate, and 33.32% of ammonia has been produced by fish farming activities. The highest specific growth rate of the sangkuriang catfish obtained in 15 minute retention period of 4.01 % Keywords: aquaponics, sangkuriang catfish, water spinach, retention periods  AbstrakAkuaponik adalah teknologi akuakultur baru yang mengintegrasikan ikan dan tanaman karena ketersediaan lahan yang semakin rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan periode retensi optimum pada budidaya akuaponik ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yang terintegrasi dengan kangkung air (Ipomoea reptan) untuk menghasilkan air yang mendukung produksi lele. Penelitian ini dilakukan selama 40 hari di Laboratorium Budidaya  Ikan Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap, dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan berupa periode retensi 5, 10, 15, 20 menit, dan kontrol (tidak ada aliran air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode retensi memengaruhi penyerapan nutrisi anorganik oleh bayam air dalam budidaya ikan lele sangkuriang. Periode retensi 15 menit memberikan hasil yang paling baik,  dengan aliran 0,072 L/s mengurangi 58,83% nitrat, dan 33,32% amonia dalam media budidaya ikan. Laju pertumbuhan spesifik ikan lele sangkuriangtertinggi diperoleh pada perlakuan waktu retensi 15 menit, yaitu sebesar 4,01%.  Kata kunci: akuaponik, ikan lele sangkuriang, kangkung darat, waktu retensi  

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue