cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Effect of zinc (Zn) supplementation on quality and quantity of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus sperm Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun; Setiawati, Mia; Carman, Odang; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3415.809 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.46-53

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the effects of Zinc (Zn) supplementation on the quality and quantity of striped catfish sperm. Experimental design for this study was a complete randomized design with five treatments and five replications. Male broods fed with Zn supplementation for eight weeks. The Zn supplemented into the fish diet at different concentrations (0, 50, 100, 150 and 200 mg/kg of feed). The results showed that Zn supplementation could improve the quality and quantity of striped catfish sperm. The treatments also showed significant effects on semen volume, sperm motility, sperm viability, and sperm concentration (P<0.05). Zn supplementation at a dose of 200 mg/kg feed demonstrated the best result has indicated by enhancement of quality and quantity of striped catfish sperm, increasing 51% of the volume, 11.6% of motility, 5.81% of viability, 54.1% of concentrations. The results suggested that Zn played an important role in improving reproductive performances of male striped catfish reproduction. Keywords: quality of sperm, a quantity of sperm, striped catfish, supplementation zinc                                                                                            ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi Zinc (Zn) terhadap kualitas dan kuantitas sperma ikan patinPangasianodon hypophthalmus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan  lima perlakuan danlima ulangan. Induk jantan diberi pakan dengan suplementasi Zn selama 8 minggu. Zn disuplementasikan dengan dosis berbeda (0, 50, 100, 150 dan 200 mg/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi Zn dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin sehingga berpengaruh signifikan terhadap volume semen, motilitas, viabilitas dan konsentrasi sperma (P<0,05). Suplementasi Zn pada dosis pakan 200 mg/kg menunjukkan hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin 51% volume; 11,6% motilitas; 5,81% viabilitas; 54,1% konsentrasi sperma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Zn memainkan peran penting dalam meningkatkan reproduksi ikan patin. Kata kunci: kualitas dan kuantitas sperma, Ikan patin, suplementasi Zn 
Enhancement of colour quality, growth, and health status of rainbow Kurumoi fish Melanotaenia parva through dietary synthetic carotenoids supplementation Meilisza, Nina; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Artika, I Made; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3529.969 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.54-69

Abstract

ABSTRACT Carotenoids were known as pigment sources, the precursor of vitamin A, potential antioxidant and can improve the health status of fish. Furthermore, there are also studies that reveal the role of carotenoids in bone formation and metabolism. This study was conducted to determine the effect of different carotenoids at two different doses in the feed on growth, pigmentation, vitamin A conversion, blood profile, antioxidant activity, and calcium bone of the rainbow fish. Twenty-one aquariums with a volume of 20 L each stocked with 20 fish (1.08 ± 0.03 g of body weight and 4.56 ± 0.07 cm of body length). The experiment applied seven experimental diets (in triplicates) consisted of three types of carotenoids were astaxanthin (AS), canthaxanthin (CS), and lutein (LS) and two doses (130 and 260 mg/kg), i.e. AS-130, AS-260, CS-130, CS-260, LS-130, LS-260 and basal (without carotenoids) as the control. The fish were fed for 56 days of experimental period. The results showed that carotenoid diets were able to increase growth, total carotenoids, percentages of chromatophores, vitamin A conversion, erythrocyte, leukocytes, packed cell volume (PCV), neutrophils, and hemoglobin (Hb) compared to the control. Fish fed dietary astaxanthin at a level of 260 mg/kg was superior compared to other diets. Dietary carotenoids were also capable of decreasing the endogenous antioxidant activity of superoxide dismutase (SOD) and malonyl dialdehyde (MDA) and increased the calcium level in fish bone than basal diet. Keywords: carotenoids, growth, health status, Melanotaenia parva, pigmentation  ABSTRAK Karotenoid diketahui sebagai sumber pigmen, prekursor vitamin A, antioksidan potensial dan dapat meningkatkan status kesehatan ikan. Selain itu, karotenoid juga memiliki peran dalam formasi dan metabolism tulang. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh jenis dan dosis karotenoid yang berbeda terhadap pertumbuhan, pigmentasi, konversi vitamin A, gambaran darah, aktifitas antioksidan dan kalsium tulang ikan rainbow Kurumoi. Sebanyak 20 ekor ikan (bobot tubuh rata-rata 1,08 ± 0,03 g dan panjang total rata-rata 4,56 ± 0,07 cm) dan diberi makan pakan yang mengandung karotenoid. Pakan uji terdiri atas tiga jenis karotenoid dengan tiga ulangan yaitu astaksantin (AS), cantaksantin (CS), dan lutein (LS) dan dua dosis (130 dan 260 mg/kg) dikodekan dengan AS-130, AS-260, CS-130, CS-260, LS-130, LS-260 dan basal (tanpa karotenoid) sebagai kontrol. Ikan diberi makan selama 56 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karotenoid dapat meningkatkan pertumbuhan, total karotenoid, persentase kromatofora, konversi vitamin A, eritrosit, leukosit, hematokrit, neutrofil, dan hemoglobin dibandingkan dengan kontrol. Ikan yang diberi pakan mengandung astaksantin 200 mg/kg lebih baik dibandingkan denga pakan uji lainnya. Pakan yang mengandung karotenoid juga mampu menurunkan antioksidan endogenus superoxide dismutase (SOD) dan malonyl dialdehyde (MDA), serta meningkatkan kalsium tulang ikan dibandingkan pakan kontrol. Keywords: Melanotaenia parva, karotenoid, pertumbuhan, pigmentasi, status kesehatan. 
Interaction of dietary protein and energy-protein ratio on growth performance of snakehead Channa striata Wijianti, Hani; Suprayudi, Muhammad Agus; Utomo, Nur Bambang Priyo; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3451.682 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.70-79

Abstract

ABSTRACTThe study proposed to discover the optimum protein content and energy-protein ratio in practical diet for snakehead, Channa striata. The experiment applied complete randomized design, consisted of six treatments with four replications on each treatment. The treatments were: A (32.5%; 11.82 kcal GE/g), B (32.5%; 13.32 kcal GE/g), C (37.17%; 10.64 kcal GE/g), D (37.33%; 12.07 kcal GE/g), E (43.08%; 10.02 kcal GE/g), and F (42.88%; 10.66 kcal GE/g). Snakehead with average weight of 6.21 ± 0.03 g were reared for 8 weeks. The treatments showed significant results. Increased protein dietary level had increased the growth rate and treatment with high energy-protein ratio at the same protein dietary level provided better growth performance. However, increased energy-protein ratio at E and F treatments caused a decline in growth performance. The improvement of energy-protein dietary ratio had positive correlation with the level of lipid and protein content in fish body. Similar finding was found in liver and muscle glycogen. The results also showed that the increament of energy-protein dietary ratio was significantly and positively correlated with cholesterol, triglyceride, HDL, glucose, and albumin, yet it had no significant effect on LDL. It can be concluded that excellent growth performance was achieved by protein dietary level of 37.33% and energy-protein ratio of 12.07 kcal GE/g.Keywords: energy-protein ratio, growth, snakehead ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh kadar protein dan rasio energi-protein pakan buatan yang optimum bagi performa pertumbuhan ikan gabus. Penelitian ini mengaplikasikan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan, yaitu: A (32,78%;11,82  kkal GE/g), B (32,56%;13,32 kkal GE/g), C (37,17%:10,64 kkal GE/g), D (37,33%:12,07 kkal GE/g), E (43,08%:10,02 kkal GE/g), dan F (42,88%:10,66 kkal GE/g) dan masing-masing terdiri 4 ulangan. Bobot rata-rata ikan gabus yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 6,21 ± 0,03 g dan dipelihara selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar protein pakan meningkatkan laju pertumbuhan, dan perlakuan dengan rasio energi-protein tinggi pada level protein pakan yang sama memberikan kinerja pertumbuhan yang lebih baik. Namun demikian, pada perlakuan E dan F, peningkatan rasio energi-protein menyebabkan penurunan kinerja pertumbuhan. Peningkatan rasio energi-protein pakan berkorelasi positif terhadap kadar lemak dan protein tubuh ikan. Hal yang sama juga terjadi pada glikogen hati dan otot. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan rasio energi-protein pakan berpengaruh nyata (P<0,05) dan  berkorelasi positif terhadap kolesterol, trigliserida, HDL, dan albumin, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap LDL  (P>0.05). Kesimpulan yang didapat adalah kinerja pertumbuhan optimal dihasilkan oleh kadar protein pakan 37,33% dan rasio energi protein pakan 12,07 kkal GE/g.Kata kunci: albumin, energi, ikan gabus, pertumbuhan, protein 
Effects of dietary Bacillus NP5 and sweet potato extract on growth and digestive enzyme activity of dumbo catfish Clarias sp. Putra, Achmad Noerkhaerin; Romdhonah, Yayu
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3508.494 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.80-88

Abstract

ABSTRACT This study aimed to investigate the effects of probiotic (Bacillus NP5), prebiotic (extracted from Ipomoea batatas var. sukuh,), and synbiotic on growth and digestive enzyme activity of dumbo catfish (Clarias sp.). Four treatments with 3 replications were used in the experiment, i.e; control, probiotic (1% Bacillus NP5 in feed), prebiotic (2% sweet potato extract in feed), and synbiotic (1% probiotic and 2% prebiotic in feed). After 45 days of rearing, catfish that were given probiotic, prebiotic, and synbiotic showed significantly (P<0.05) higher growth than that of the control. The average results on digestive enzyme activities in probiotic, prebiotic, and synbiotic treatments were significantly different (P<0.05) from that of the control. The addition of synbiotic to diets showed the best result on final weight, specific growth rate, feed conversion ratio, protein retention, protein efficiency ratio, and protease activities among other treatments. Keywords: catfish, growth, probiotic, prebiotic, symbiotic  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh dari probiotik (Bacillus NP5), prebiotik (ekstrak ubi jalar varietas sukuh), dan sinbiotik terhadap pertumbuhan dan aktivitas enzim perncernaan ikan lele dumbo (Clarias sp.). Penelitian terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yakni: probiotik (Bacillus NP5 sebanyak 1% dalam pakan), prebiotik (ekstrak ubi jalar sebanyak 2% dalam pakan), dan sinbiotik (Bacillus NP5 1% + ekstrak ubi jalar sebanyak 2% dalam pakan). Setelah pemeliharaan selama 45 hari, ikan lele pada perlakuan dengan suplementasi probiotik, prebiotik, dan sinbiotik dalam pakan secara signifikan (P<0,05) menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Nilai aktivitas enzim pencernaan pada perlakuan probiotik, prebiotik, dan sinbiotik secara signifikan berbeda (P<0,05) dari kontrol. Penambahan sinbiotik pada pakan memberikan hasil terbaik pada parameter bobot akhir, laju pertumbuhan harian, FCR, retensi protein, rasio efisiensi protein, dan aktivitas enzim protease dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kata kunci: ikan lele, pertumbuhan, probiotik, prebiotik, sinbiotik.  
The effectiveness of honey supplementation in feed for improving goldfish fingerling Carassius auratus immune system against Aeromonas hydrophila bacteria attack Rosidah, Rosidah; Subhan, Ujang; Mulyani, Yuniar; Dermawan, Rifai
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3658.789 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.89-100

Abstract

ABSTRACT The attack of Aeromonas hydrophila bacteria can cause mortality in goldfish approximately 100%. The controlling of this bacterial attack can be done through increased fish immunity. Honey is one of the natural ingredients that increases body immune system. This study aimed to determine the effective dose of honey supplemented in feed to increase goldfish fingerling resistance for disease prevention. Fish used in this study were goldfish fingerlings with 3.5 g average weight. This study was done using experimental complete randomized design method with five treatments and three replications. Treatments given were honey supplementation in feed with 0 ml/kg (A) as control treatment, 150 ml/kg (B), 200 ml/kg (C), 250 ml/kg (D), and 300 ml/kg (E). The result showed that honey supplementation in feed was effective to improve goldfish fingerlings resistance against Aeromonas hydrophila bacterial attack. The supplementation of honey in feed with 200 ml/kg was the best treatment for inducing goldfish fingerlings against A. hydrophila. This was proven by the increased white blood cells (leucocytes) (27.84 ± 5.07%) followed with no apparent clinical symptoms after attacked by A.hydrophila, such as hemorrhage, necrosis, exophthalmia or dropsy, besides showing the highest survival rate with 73.33 ± 11.5%. Keywords : Aeromonas hydophila, goldfish, honey, leucocyte, resistance ABSTRAK Serangan bakteri Aeromonas hydrophila dapat menyebabkan kematian ikan mas koki hingga mencapai 100%. Penanggulangan serangan bakteri tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan ketahanan tubuh (imun) ikan.  Madu merupakan salah satu bahan alami yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis efektif penambahan madu pada pakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh benih ikan mas koki dalam upaya pencegahan penyakit aeromonasis. Benih yang digunakan adalah benih ikan mas koki berukuran 3.5 gram. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan madu pada pakan dengan dosis 0 mL/kg (A) sebagai kontrol, 150 mL/kg (B), 200 mL/kg (C), 250 mL/kg (D), 300 mL/kg (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan madu ke dalam pakan efektif dalam meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas koki terhadap serangan Aeromonas hydrophila. Dosis 200 ml/kg pakan memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas koki terhadap serangan A. hydrophila terlihat dari peningkatan jumlah sel darah putih terbesar (27.84 ± 5.07%), tidak nampak adanya gejala klinis ikan terserang A. hydrophila seperti hemoragi, necrosis, exophthalmia maupun dropsy dan menghasilkan kelangsungan hidup benih ikan mas koki tertinggi yaitu sebesar 73.33 ± 11.5%. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, ketahanan tubuh, ikan mas koki, madu, sel darah putih. 
The use of immunostimulant from phycocyanin of Spirulina platensis to control motile aeromonad septicaemia (MAS) disease in common carp Cyprinus carpio Muchtar, Muthahharah; Sukenda, Sukenda; Nuryati, Sri; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3473.183 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.101-109

Abstract

                                                                  ABSTRAK         Motile aeromonad septicaemia (MAS) adalah penyakit yang sering menyerang ikan mas Cyprinus carpio yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja imunostimulan fikosianin dari Spirulina platensis dalam mengatasi penyakit MAS pada ikan mas. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, pertama, pakan ikan dengan penambahan fikosianin 150 mg/kg, 250 mg/kg, dan 350 mg/kg pakan serta kontrol tanpa penambahan fikosianin. Setelah 14 hari, ikan diuji tantang dengan A.hydrophila. Tahap kedua, dosis terbaik dari penelitian pertama digunakan untuk pakan ikan masing-masing selama satu minggu/bulan, dua minggu/bulan, tiga minggu/bulan, dan dua minggu/bulan dengan interval satu minggu. Setelah 28 hari, ikan diuji tantang dengan A. hydrophila. Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa kelangsungan hidup relatif (RPS) ikan yang diberi pakan fikosianin 150 mg/kg, 250 mg/kg, dan 350 mg/kg pakan adalah 87,50%; 81,25%; dan 75,00%. Total eritrosit, hemoglobin, total leukosit, aktivitas fagositik, dan respiratory burst menunjukkan hasil yang lebih tinggi daripada kontrol untuk semua perlakuan pemberian fikosianin. Penelitian kedua menunjukkan bahwa nilai RPS ikan diberi pakan selama satu minggu/bulan, dua minggu/bulan, tiga minggu/bulan, dan dua minggu/bulan dengan interval satu minggu yaitu 65,38%; 69,23%; 76,92%; dan 69,23%. Respons imun ikan yang diberi fikosianin lebih tinggi daripada kontrol serta mampu menekan jumlah bakteri A. hydrophila di hati, ginjal, dan usus. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pemberian fikosianin sebanyak 150 mg/kg pakan selama tiga minggu/bulan memiliki nilai RPS tertinggi. Kata kunci: fikosianin, Spirulina platensis, Aeromonas hydrophila, Cyprinus carpio  ABSTRACT Motile aeromonad septicaemia (MAS) is a major disease in common carp Cyprinus carpio caused by Aeromonas hydrophila. This study aimed to evaluate the performance of phycocyanin imunostimulant extracted from Spirulina platensis to control MAS disease in common carp. This study was conducted into two phases. First phase was conducted by adding 150 mg/kg, 250 mg/kg, 350 mg/kg feed phycocyanin dose, and 0 mg/kg feed phycocyanin dose as control treatment. Fish was challenged with pathogenic A.hydrophila after 14 days rearing. Second phase was conducted by applying the best dose obtained from the first phase added in the feed for feeding the fish in one week/month, two weeks/month, three weeks /month, and two weeks/month with one week interval. Fish was challenged with pathogenic A.hydrophila after 28 days rearing. First phase study result showed that the relative percent survival (RPS) for fish fed 150 mg/kg, 250 mg/kg, and 350 mg/kg phycocyanin dose were 87.50%, 81.25%, and 75.00% respectively. Total erythrocytes, hemoglobin, total leucocytes, phagocytic activity, and respiratory burst showed higher results than control treatment on all treated fish. The second phase study showed that fish fed one week/month, two weeks/month, three weeks/month, and two weeks/month with one week interval had RPS value 65.38%, 69.23%, 76.92%, and 69.23% respectively. The immune responses of treated fish were higher than control treatment, as well as the number of pathogenic A. hydrophila in the liver, kidney, and intestine. Fish fed with phycoyanin dose 150 mg/kg feed and three weeks/month administration had the highest RPS value. Keywords: Phycocyanin, Spirulina platensis, Aeromonas hydrophila, Cyprinus carpio 
Identification and expression analysis of c-type and g-type lysozymes genes after Aeromonas hydrophila infection in African catfish Nasrullah, Hasan; Nababan, Yanti Inneke; Yanti, Dwi Hany; Hardiantho, Dian; Nuryati, Sri; Junior, Muhammad Zairin; Ekasari, Julie; Alimuddin, Alimuddin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4310.992 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.1-10

Abstract

ABSTRACTLysozymes play an important role in the first line of defense in fish and potentially used as an immunity status biomarker and immune responses evaluation in fish, which often found in two types, i.e. chicken-type and goose-type (c- and g-type, respectively). To recent, the information related to the sequences and the expression analysis of the c- and g-type lysozyme genes in African catfish is still limited. In the present study, we report a partial cloning and mRNA expression analysis of c-type and g-type lysozymes in African catfish Clarias gariepinus. We have successfully cloned and partially identify the c-type, and g-type lysozyme genes of C. gariepinus, which consist of 594 and 560 of coding sequences, respectively. Catalytic and other conserved residues were identified by multiple sequences alignment and they showed high similarity with other teleost fish species. mRNA levels of the genes were analyzed by using qPCR method and their expressions in the spleen, liver, and head kidney were rapidly modulated after Aeromonas hydrophila injection, with different patterns were observed in each organ. These results confirmed that c- and g-type lysozymes played an important role in non-specific immunity against A. hydrophila infection. This study provided valuable information that can be used to understand the African catfish immune systems for better disease and stress management in C. gariepinus culture.Keywords: lysozymes, gene identification, gene expression, bacterial infection, African catfish ABSTRAKLisozim berperan dalam sistem pertahanan dini pada ikan dan sangat potensial digunakan sebagai marka status imunitas dalam evaluasi respons imun. Lisozim umum ditemukan dalam dua tipe pada ikan: tipe-ayam (tipe-c) dan tipe-angsa (tipe-g). Informasi terkait sekuens gen dan ekspresi gen kedua tipe lisozim pada ikan lele dumbo sangat terbatas. Pada penelitian ini, kami melaporkan kloning gen secara parsial, dan analisis ekspresi gen dari kedua tipe lisozim pada ikan lele dumbo C. gariepinus. Sekuens parsial gen lisozim tipe-c dan tipe-g yang berhasil diidentifikasi adalah sepanjang 594 dan 560 pasang basa. Situs katalitik dan residu khas memiliki tingkat kesamaan yang tinggi dengan spesies ikan yang lain. Analisis mRNA dilakukan dengan metode quantitative PCR (qPCR). Ekspresi kedua gen di jaringan ginjal depan, limpa, dan hati dengan cepat terinduksi pasca infeksi bakteri A. hydrophila dengan pola yang berbeda. Hasil ini menunjukkan bahwa lisozim tipe-c dan tipe-g memiliki peran yang sangat penting dalam sistem imun ikan lele dumbo terhadap infeksi A. hydrophila. Penelitian ini menghasilkan informasi penting yang dapat digunakan untuk mempelajari sistem imun ikan lele dumbo dan sebagai acuan dalam penanganan dan manajemen penyakit pada budidaya ikan lele dumbo.Kata kunci: lisozim, identifikasi gen, ekspresi gen, infeksi bakteri, ikan lele dumbo 
Seaweed extract of Gracilaria verrucosa as an antibacterial and treatment against Vibrio harveyi infection of Litopenaeus vannamei Rudi, Mad; Sukenda, Sukenda; Wahjuningrum, Dinamella; Pasaribu, Wesly; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3576.505 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.11-20

Abstract

ABSTRACTThe objectives of this study were to investigate the antibacterial activity of G. verrucosa extract in test inhibitory zone with different concentrations (500, 1000, 1500, and 2000 mg/L) and  to examine G. verrucosa extract with different dosage (0.5, 1.0, 1.5, 2.0 g/kg) in feed on immune responses (total hemocytes count, phagocytic activity, phenoloxidase activity, respiratory burst) and survival rate in the Litopenaeus vannamei against the pathogenic Vibrio harveyi. Pacific white shrimp with an initial body weight of 5.25±0.55 g was reared in the aquarium (60×30×30 cm3) with a density of 10 shrimp/aquarium. Pacific white shrimp had been fed three times a day as much as 3% in at satiation for 14 days after challenged with V. harveyi. The first results of the inhibitory test showed that all the concentration of G. verrucosa extract was able to inhibit the growth of V. harveyi and the second result showed that the extract of G. verrucosa can increase the immune responses of shrimp. In the result of survival showed that shrimp fed with 0.5, 1.0, 1.5, and 2.0 g/kg has 80, 73, 70, and 70%, respectively. In conclusion, the seaweed extract of G. verrucosa has antibacterial activity and can induce the immune responses and resistance of Pacific white shrimp against V. harveyi infection.Keywords: Gracilaria verrucosa, seaweed, Vibrio harveyi, vibriosis,  Litopenaeus vannamei ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak G. verrucosa dalam uji zona hambat dengan konsentrasi yang berbeda (yaitu 500, 1000, 1500, dan 2000 mg/L) dan studi perlakuan pengobatan untuk menguji ekstrak G. verrucosa pada pakan dengan dosis yang berbeda (yaitu 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 g/kg) pada respons imun (yaitu jumlah total hemosit, aktivitas fagositik, aktivitas fenoloksidase, respiratory burst) dan tingkat kelangsungan hidup pada udang vaname terhadap bakteri patogen Vibrio harveyi. Udang vaname dengan berat badan awal 5,25 ± 0,55 g dipelihara di akuarium (60 × 30 × 30 cm3) dengan kepadatan 10 udang/akuarium. Udang vaname  pasifik diberi makan tiga kali sehari 3% at satiation selama 14 hari setelah di uji tantang V. harveyi. Hasil pertama dari uji zona hambat menunjukkan bahwa semua konsentrasi ekstrak G. verrucosa mampu menghambat pertumbuhan V. harveyi dan hasil kedua menunjukkan bahwa pemberian ektrak G. verrucosa dapat meningkatkan respon imun udang. Hasil tingkat kelangsungan hidup menunjukkan bahwa perlakuan pakan udang dengan dosis 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 g/kg memiliki tingkat kelangsungan hidup masing-masing 80, 73, 70, dan 70%. Kesimpulannya, ekstrak rumput laut G. verrucosa memiliki aktivitas antibakteri dan dapat menginduksi respons imun & ketahanan udang terhadap infeksi V. harveyi.Kata kunci: Gracilaria verrucosa, rumput laut, Vibrio harveyi, vibriosis, udang vaname 
Microencapsulation of probiotics and its applications with prebiotic in Pacific white shrimp larvae through Artemia sp. Ramadhani, Dian Eka; Widanarni, Widanarni; Sukenda, Sukenda
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3603.271 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.130-140

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to produce microencapsulated probiotic Pseudoalteromonas piscicida (1Ub) and evaluate it with preb­iotic mannan-oligosaccharide (MOS) through the enrichment of Artemia sp., on bacterial population, growth performances, immune responses, and disease resistance of Pacific white shrimp larvae. Microencapsulation of probiotic was done by the freeze-drying method. The shrimp larvae were reared for 13 days and fed by the Artemia sp. enriched with microcapsule of probiotic 1Ub (10 g/L), prebiotic MOS (12 mg/L), synbiotic, and control without administration of microencapsulated probiotic and prebiotic, including negative (C-) and positive (C+) control. On the day 14, all of the experimental shrimp larvae except C- were challenged through immersion method with Vibrio harveyi MR5339 (107 CFU/mL). This study showed that the administration of microcapsule of probiotic 1Ub, prebiotic MOS, and synbiotic through the enrichment of Artemia sp. could increase the bacteria population, growth performances, immune responses, and disease resistance of Pacific white shrimp larvae. Moreover, synbiotic treatment demonstrated the best result compared to other treatments.Keywords: probiotic, prebiotic, synbiotic, Pacific white shrimp, microencapsulation ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membuat mikrokapsul probiotik Pseudoalteromonas piscicida (1Ub) dan mengevaluasinya dengan prebiotik mannan-oligosaccharides (MOS) melalui pengayaan Artemia sp. terhadap populasi bakteri, performa pertumbuhan, respons imun dan resistensi penyakit pada larva udang vaname. Mikroenkapsulasi probiotik dilakukan dengan metode freeze-drying. Larva udang dipelihara selama 13 hari dan diberi pakan Artemia sp. yang telah diperkaya dengan mikrokapsul probiotik 1Ub (10 g/L), prebiotik MOS (12 mg/L), sinbiotik, dan kontrol tanpa penambahan mikrokapsul probiotik dan prebiotik, termasuk kontrol negatif (C-) dan positif (C+). Pada hari ke-14, seluruh larva udang percobaan kecuali C- diuji tantang melalui metode perendaman dengan Vibrio harveyi MR5339 (107 CFU/mL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikrokapsul probiotik 1Ub, prebiotik MOS, dan sinbiotik melalui pengayaan Artemia sp. dapat meningkatkan populasi bakteri, performa pertumbuhan, respons imun, dan resistensi penyakit pada larva udang vaname. Selain itu, perlakuan sinbiotik menunjukkan hasil terbaik dibandingkan perlakukan lainnya.Kata kunci : probiotik, prebiotik, sinbiotik, udang vaname, mikroenkapsulasi
Efficacy of Aeromonas hydrophila formalin-killed cells and lipopolysaccharides vaccines in maternal immunity of tilapia broodstock and the offspring resistance Mulyani, Rahma; Sukenda, Sukenda; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3594.086 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.141-151

Abstract

ABSTRACT The study aimed to analyze the efficacy of Aeromonas hydrophila formalin-killed cells (FKC) and lipopolysaccharides (LPS) vaccines in maternal immunity of tilapia broodstock and the resistance of the offsprings. This study consisted of two consecutive studies. Firstly, the broodstocks were vaccinated with PBS (non-vaccinated), FKC, LPS, and combinations of  FKC and LPS. Secondly, the offsprings from both the vaccinated and non‒vaccinated broodstock were vaccinated with the same vaccine for broodstock by immersion method. After vaccination, the offsprings were challenged with pathogenic A. hydrophila. Antibody level and lysozyme were measured in the broodstock, egg, and offsprings. In the first experiment, the result showed that vaccinated broodstock and their offsprings had delivered a significant antibody level and lysozyme activity compared with the control.  The highest relative percent survival (RPS) of offspring resulted from the combination of  FKC and LPS vaccinated broodstock at 5, 10, and 15 days post-hatching at 85.00%, 75.23%, and 67.56%, respectively.  The second experiment showed vaccinated offsprings produced from vaccinated broodstock had a higher RPS than the RPS of vaccinated offsprings which produced from non-vaccinated broodstock. In conclusion, vaccination that using a combination of FKC and LPS vaccine in broodstock potentially improved the maternal immunity and protect their offspring from A. hydrophila infection. Keywords: Aeromonas hydrophila, antibody, maternal immunity, tilapia, vaccination ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis efikasi vaksin formalin-killed cells (FKC) dan lipopolisakarida (LPS) Aeromonas hydrophila pada imunitas maternal induk ikan nila dan ketahanan benih yang dihasilkan. Dalam penelitian ini, terdapat dua penelitian. Pertama, induk ikan nila divaksin dengan PBS (non-vaksinasi), vaksin FKC, LPS, dan kombinasi vaksin FKC dan LPS. Benih selanjutnya diuji ditantang dengan menggunakan  patogen A. hydrophila pada 5, 10, dan 15 hari pasca menetas. Kedua, benih yang dihasilkan oleh induk yang telah divaksinasi dan induk yang tidak divaksinasi tersebut divaksin dengan vaksin yang sama seperti pada induk dengan metode imersi. Setelah vaksinasi, keturunan diuji tantang dengan patogen A. hydrophila. Tingkat antibodi dan lisozim diukur pada induk, telur, dan benih. Pada percobaan pertama, hasilnya menunjukkan bahwa induk yang divaksinasi dan benih menunjukkan tingkat antibodi dan aktivitas lisozim yang signifikan dibandingkan dengan kontrol. Persentase kelangsungan hidup relatif (RPS) tertinggi benih yang dihasilkan dari induk yang divaksinasi FKC dan LPS masing-masing pada 5,10, dan 15 hari pascatetas pada 85,00%; 75,23%; dan 67,56%. Percobaan kedua menunjukkan bahwa benih yang divaksinasi dari induk yang divaksin menunjukkan RPS yang lebih baik daripada benih yang divaksinasi dari induk yang tidak divaksin. Vaksinasi menggunakan kombinasi FKC dan LPS pada induk berpotensi meningkatkan kekebalan induk dan melindungi benih dari infeksi A. hydrophila. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, antibodi, imunitas induk, nila, vaksinasi 

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue