cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Metode Pengusangan Cepat dengan Larutan Etanol untuk Pengujian Vigor Daya Simpan Benih Caisin (Brassica rapa L. cv. grup Caisin) Aisa Amanah; Maryati Sari; Abdul Qadir
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.537 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.165-175

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to obtain effective duration in accelerated aging method with soaking the seed in 20% liquid ethanol which could estimate vigor related to storability of caisin seed during 3 and 6 months storage. There were five commercial caisin seed lots used in this study. The lots have different initial vigor. This research was conducted in two separate experiments. The first experiment was conducted to study deterioration of caisin seeds stored in aluminum foil pouches for 3 and 6 months at ambient room. The second experiment was conducted to study the effect of chemical aging duration, i.e 30, 60, 90, 120, 150, and 180 minutes moistened (12 hours imbibed) seed soaking in liquid ethanol 20%. Both of experiments were arranged in completely nested design. Germination of seeds after soaking in 20% liquid ethanol for 90 minutes was positively correlated with germination of seeds after storage for 3 and 6 months with coefficient of corellation = 0.87 and 0.88. Both coefficient of corellations were close to 1 which showed that the germination of seeds after accelerated ageing with soaking in 20% liquid ethanol could estimate seed vigor related to storability. Vigor related to storability of caisin seed after 3 months could be predicted by the equation y = 56.04+0.36x with the coefficient of determination 77.00%. While after 6 months it can be predicted by the equation y = 62.72+0.38x with the coefficient of determination 74.90%. Y variable indicates germination of caisin seed after storage while the x variable indicates germination of caisin seed after soaking in 20% liquid ethanol for 90 minutes.Key words: deterioration, devigoration, longevity, seed storage, viabilityABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mendapatkan waktu perendaman ke dalam etanol 20% yang tepat pada metode pengusangan cepat kimia yang dapat menduga vigor daya simpan benih caisin setelah penyimpanan 3 dan 6 bulan. Benih yang digunakan berasal dari lima lot benih komersial dengan vigor awal yang berbeda. Penelitian terdiri atas 2 percobaan terpisah. Percobaan 1 adalah penyimpanan benih caisin dalam kemasan aluminium foil selama 3 dan 6 bulan pada ruang suhu kamar. Percobaan 2 yaitu pengusangan cepat kimia dengan merendam benih caisin yang telah dilembabkan selama 12 jam ke dalam larutan etanol 20% selama 30, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit. Kedua percobaan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang. Daya berkecambah benih setelah pengusangan melalui perendaman etanol 20% selama 90 menit berkorelasi positif dengan daya berkecambah benih setelah penyimpanan selama 3 dan 6 bulan. Nilai koefisien korelasi pada 3 dan 6 bulan setelah simpan adalah 0.87 dan 0.88. Kedua koefisien korelasi tersebut mendekati 1 yang menunjukkan bahwa daya berkecambah benih setelah pengusangan cepat dengan etanol 20% dapat menduga vigor daya simpan. Vigor daya simpan benih caisin setelah 3 bulan simpan dapat diduga dengan persamaan y = 62.72+0.38x dengan nilai koefisien determinasi sebesar 77.00%, sementara setelah 6 bulan dapat diduga dengan persamaan y = 56.04+0.36x dengan nilai koefisien determinasi sebesar 74.90%. Peubah y menunjukkan daya berkecambah setelah penyimpanan sedangkan x menunjukkan daya berkecambah setelah pengusangan melalui perendaman etanol 20% selama 90 menit.Kata kunci: daya simpan, deteriorasi, devigorasi, penyimpanan benih, viabilitas
Pengaruh Bahan Organik Nabati dan Hewani terhadap Pertumbuhan Protocorm Like Bodies Phalaenopsis amabilis (L.) Blume Yustia Yulianti; Syarifah Iis Aisyah; Dewi Sukma
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.656 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.176-186

Abstract

ABSTRACTPhalaenopsis orchid is among the popular ornamental plants in Orchidaceae family. Clonal propagation of this orchid is usually performed through protocorm like bodies (plbs) multiplication in tissue culture medium. The objective of this experiment was to determine the effect of the combination of phyto-organic substances (bananas, potatoes, sweet potatoes extract) and fish emulsion on in vitro growth, multiplication of plbs and plantlet regeneration of Phalaenopsis amabilis. This experiment was arranged in completely randomized design with two factors. The first factor was phyto-organic substances which consisted of bananas, potatoes, and sweet potatoes extract (50 g L-1) and the second one was fish emulsion with four concentration levels (0 ml L-1, 2 ml L-1, 4 ml L-1, and 6 ml L-1). Basic (control) medium used NPK fertilizer (2 g L-1) with addition of MS vitamins, myo-inositol, 1.5% of coconut water, and 2 g L-1 of active charcoal. The results showed that the highest survival rate (>90%) and multiplication (>70%) of plbs was found on control medium with addition of 2 ml L-1 of fish emulsion or banana or potato extract without fish emulsion. The best plantlet morphogenesis as indicated by leaf and root number, was resulted on medium with addition of potato extract without fish emulsion which produced 3.2 leaves and 2.2 roots per plantlets. The best plantlet morphogenesis as indicated by leaf and root number, was resulted on medium with addition of potato extract without fish emulsion which produced 3.2 leaves and 2.2 roots per plantlets. The result of this experiment suggested that basic medium with addition of 2 ml L-1 of fish emulsion, banana or potato extract was appropriate for plbs growth and multiplication while basic medium with addition of potato extract without fish emulsion for plantlet regeneration.Keywords: bananas, fish emulsion, potatos, protocorm like bodies (plbs), sweet potatoesABSTRAKAnggrek Phalaenopsis merupakan salah satu tanaman hias paling populer dalam famili Orchidaceae. Perbanyak klonal anggrek ini biasanya dilakukan melalui multiplikasi protocorm like bodies (plbs) dalam kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi bahan organik nabati (ekstrak pisang, kentang, ubi jalar) dan emulsi ikan terhadap pertumbuhan, multiplikasi plbs dan regenerasi planlet Phalaenopsis amabilis. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah bahan organik nabati terdiri atas ekstrak pisang, kentang, dan ubi jalar sebanyak 50 g L-1 dan faktor kedua adalah emulsi ikan dengan empat konsentrasi yaitu 0, 2, 4 atau 6 ml L-1. Media dasar (kontrol) menggunakan pupuk NPK (2 g L-1) ditambah dengan vitamin dan myoinositol dari media Murashige dan Skoog (MS), 15% air kelapa dan 2 g L-1 arang aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan hidup tertinggi (>90%) dan multiplikasi plbs tertinggi (sekitar 70%) ditemukan pada media kontrol yang ditambahkan emulsi ikan 2 ml L-1 atau ditambahkan ekstrak pisang atau kentang tanpa penambahan emulsi ikan. Morfogenesis plbs menjadi planlet yang terbaik sebagaimana ditunjukkan oleh jumlah daun dan akar terbanyak dihasilkan pada perlakuan ekstrak kentang tanpa emulsi ikan dengan jumlah daun dan akar yang dihasilkan adalah sebanyak 3.2 helai daun dan 2.2 akar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media dasar yang ditambah dengan 2 ml L-1 emulsi ikan, ekstrak pisang atau kentang adalah sangat sesuai untuk pertumbuhan dan multiplikasi plbs sementara media dasar yang ditambah ekstrak kentang tanpa emulsi ikan terbaik untuk regenerasi planlet.Kata kunci: emulsi ikan, kentang, pisang, protocorm like bodies (plbs), ubi jalar
Pengaruh Mutasi Fisik Iradiasi Sinar Gamma terhadap Keragaman Genetik dan Penampilan Coleus blumei Eny Rolenti Togatorop; Syarifah Iis Aisyah; M. Rizal M. Damanik
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.593 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.187-194

Abstract

ABSTRACTMutation breeding such as gamma ray irradiation is one of strategy to increase genetic variability. The aim of this research was to indentify genetic variability, performance changes and to obtain putative mutant of Coleus blumei purple/green through gamma ray irradiation. The experiment design used was Randomized Complete Block with single factor and three replications. The gamma ray irradiation was given to shoot cuttings of C. blumei by fractionated irradiation dose: 0 Gy (control), 20+20 Gy, 22.5+22.5 Gy, 25+25 Gy and 27.5+27.5 Gy. The irradiated shoot cuttings were planted in field until MV3 generation. The result of this research showed that gamma ray irradiation on C.blumei purple/green produced the high genetic variability on number of leaves and number of branches i.e. 58.48% and 74.02% by 25+25 Gy dose and number of branches by 20+20 Gy and 22.5+22.5 Gy dose i.e. 53.47% and 68.97% respectively. Physically induced mutation by gamma ray irradiation produced 5 putative mutants respectively on colour and pattern of leaf changes in the following plants: 20+20.5, 20+20.7, 22.5+22.5.8, 25+25.5 and 25+25.8.Keywords: fractionated irradiation, mutagen, ornamental plant, putative mutan, shoot cuttingABSTRAKPemuliaan mutasi dengan iradiasi sinar gamma merupakan salah satu cara dalam meningkatkan keragaman genetik tanaman. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi keragaman genetik, perubahan penampilan dan mendapatkan mutan putatif pada tanaman Coleus blumei ungu/hijau melalui iradiasi sinar gamma. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal dengan 3 ulangan. Iradiasi sinar gamma diberikan terhadap stek pucuk C. blumei ungu/hijau dengan dosis terbagi yaitu: 0 Gy (kontrol), 20+20 Gy, 22.5+22.5 Gy, 25+25 Gy dan 27.5+27.5 Gy. Semua tanaman hasil iradiasi ditanam di lapangan sampai generasi MV3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian iradiasi sinar gamma pada C. blumei ungu/hijau menghasilkan keragaman genetik yang cukup tinggi pada karakter jumlah daun dan jumlah cabang dengan nilai KKG masing-masing 58.48% dan 74.02% pada dosis 25+25 Gy serta karakter jumlah cabang dengan nilai KKG 53.47% dan 68.97% masing-masing pada dosis 20+20 gy dan 22.5+22.5 Gy. Mutasi induksi fisik dengan iradiasi sinar gamma pada C. blumei ungu/hijaumenghasilkan 5 mutan putatif berdasarkan perubahan warna dan corak daun yaitu pada tanaman: 20+20.5, 20+20.7, 22.5+22.5.8, 25+25.5 dan 25+25.8.Kata kunci: iradiasi terbagi, mutagen, mutan putatif, stek pucuk, tanaman hias
Produksi Bibit Tempuyung (Sonchus arvensis L.) dengan Komposisi dan Volume Media Tumbuh yang Berbeda Ahmad Nur Hidayat Gena Ari; Maya Melati; Sandra A. Aziz
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.46 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.195-203

Abstract

ABSTRACTPerennial sow thistle (Sonchus arvensis L.) is one of medicinal plants which has potential in healing kidney disease. However, quality and sufficient supply of perennial sow thistle seedling with good quality is inadequate. This research was aimed at producing perennial sow thistle seedling generatively and to determine the suitable type of growth media and media volume for its production. The experiment was conducted in experimental field at Cikarawang, IPB from October 2015 to January 2016. The experiment was laid out in completely factorial randomized design (3x3) with three replications. The two of treatment factors were volume of growth media (9, 12, and 29 mL) and composition of growth media (100% goat manure, 50% goat manure + 50% rice hull charcoal, and 33% goat manure + 33% rice hull charcoal + 33% coco peat) (v:v). The results showed that larger media volume produced better perennial sow thistle seedling. There was significant effect of interaction between media volume and composition of growth media to some variables: leaf number, leaf length, leaf width, plant weight, shoot weight, root length, and total flavonoid concentration. The result showed that 50% goat manure + 50% rice hull charcoal and combination of media volume 12 mL was strongly recommended for production of perennial sow thistle seedling.Keywords: coco peat, flavanoid, manure, rice hull, seedlingABSTRAKTempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan salah satu tanaman obat yang berpotensi untuk mengatasi masalah penyakit batu ginjal. Besarnya potensi yang dimiliki oleh tempuyung belum diimbangi dengan penyediaan bibit yang baik dan jumlah yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi bibit tempuyung melalui pembibitan secara generatif, serta menentukan jenis media tanam dan volume media yang tepat. Percobaan dilakukan di kebun percobaan Cikarawang IPB, pada bulan Oktober 2015 sampai Januari 2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor, faktor pertama adalah jenis komposisi media tanam yaitu menggunakan 100% pupuk kandang kambing, 50% pupuk kandang kambing+ 50% arang sekam, dan 33% pupuk kandang kambing + 33% arang sekam + 33% cocopeat (v:v), faktor ke dua adalah volume media dengan ukuran 7.9, 12, dan 29 mL tiap lubang pada tray, setiap perlakuan memiliki 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan volume media yang lebih besar (29 mL) menghasilkan pertumbuhan dan hasil bibit tempuyung yang lebih baik. Terdapat pengaruh interaksi antara perlakuan jenis komposisi media dan volume media terhadap peubah jumlah daun, panjang daun, lebar daun, bobot total dan bobot tajuk tanaman, panjang akar serta kadar total flavonoid. Perlakuan media terbaik untuk produksi bibit tempuyung komposisi media 50% pupuk kandang kambing + 50% arang sekam (v:v) dengan volume media 12 mL.Kata kunci : arang sekam, cocopeat, flavonoid, pembibitan, pupuk kandang kambing
Pertumbuhan Ludwigia octovalvis (Jacq) Revans pada Berbagai Konsentrasi dan Waktu Aplikasi Alelokimia Kulit Buah Jengkol Uswatun Nurjannah; Edhi Turmudi; Helfi Eka Saputra
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.058 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.204-210

Abstract

ABSTRACTSynthetic herbicides is the most profitable option for farmers in weed control however it has detrimental effect to the environment. Using allelochemical compound as bioherbicide is one of the new options for sustainable weed management. Research was conducted to evaluate the potential of the water extract of jengkol fresh fruit pod as bioherbicide on Mexican primrose-willow (Ludwigia octovalvis) growth. The objective of the study was to determine the concentration and time of applications that effectively inhibit of the growth of Mexican primrose-willow. The study was conducted from July to September 2015 in the Greenhouse of University of Bengkulu Agronomy Laboratory with a completely randomized design, three replications and a control for comparison. The treatments tested consisted of four levels: 125 g L-1, 250 g L-1, 375 g L-1 and 500 g L-1. The results showed that at a concentration of 500 g L-1 jengkol fresh fruit pod extract applied at planting time killed Mexican primrose-willow in the first week after treatment. Inhibition of root growth was greater than that of the shoot. The mean reduction in root dry weight, shoot dry weight, root volume, and leaf area were 88.79%, 63.25%, 84.4%, and 85.75%, respectively when compared to control.Keywords: bioherbicide, concentration, growth of Mexican primrose-willow, jengkol fresh fruit pod, time applicationsABSTRAKHerbisida sintetis menjadi pilihan utama bagi petani dalam mengendalikan gulma karena sangat menguntungkan, namun merusak lingkungan. Penggunaan alelokimia sebagai bioherbisida merupakan cara baru dalam pengendalian gulma dan aman bagi lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji potensi ekstrak air kulit buah jengkol segar sebagai bioherbisida pada pertumbuhan lakum air (Ludwigia octovalvis). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan waktu aplikasi yang efektif menghambat pertumbuhan lakum air. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2015 di Rumah Kaca Laboratorium Agronomi Universitas Bengkulu dengan rancangan acak lengkap, 3 ulangan dan satu kontrol sebagai pembanding. Perlakuan yang diujikan terdiri dari empat aras yaitu 125 g L-1, 250 g L-1, 375 g L-1, dan 500 g L-1. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit buah jengkol segar pada konsentrasi 500 g L-1 yang diaplikasikan pada saat tanam dapat mematikan lakum air pada minggu pertama setelah perlakuan. Hambatan pertumbuhan akar lebih besar bila dibandingkan dengan tajuk. Rerata penurunan bobot kering akar, bobot kering tajuk, volume akar, dan luas daun berturut-turut 88.79%, 63.25%, 84.4%, dan 85.75% bila dibandingkan dengan kontrol.Kata kunci: bioherbisida, konsentrasi, kulit buah jengkol segar, pertumbuhan lakum air, waktu aplikasi.
Keragaman Genetik Karakteristik Buah antar 17 Genotipe Melon (Cucucmis melo L.) Amalia Nurul Huda; Willy Bayuardi Suwarno; Awang Maharijaya
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.916 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.1-12

Abstract

ABSTRACTBreeding of melon requires the availability of genetic diversity and extensive evaluations of the genetic materials. Evaluations on fruit quality and yield potential are among the important steps in melon breeding. This research was aimed at studying the genetic diversity of 17 melon genotypes based on fruit traits and identifying the potential genotypes to be used as genetic materials in melon breeding programs. The research was conducted from August to October 2015 at the IPB Experimental Station Tajur II, South Bogor, 250 m above sea level. The experiment was arranged in a single factor of randomized complete block design with four replicates. Results of the research showed that genotype effects were significant for all observed traits except for days to hermaphrodite flowering. Traits having broad sense heritability estimates greater than 50% were days to male flowering, days to harvest, fruit length, fruit diameter, flesh thickness, fruit rind thickness, fruit weight, and sugar contant. P21 and P19 genotypes were potential for fruit weight and sugar content, while P2 was potential for fruit weight and P12 for sugar content only. Fruit weight showed significant positive correlations with fruit length, fruit diameter, flesh thickness, and fruit rind thickness. Clustering based on morphological traits generally separated reticulatus and inodorus genotypes into different groups.Key words: correlation, heritability, simultaneous selectionABSTRAKPemuliaan tanaman melon memerlukan ketersediaan keragaman genetik dan evaluasi yang ekstesif pada materi genetik yang digunakan. Evaluasi karakteristik, kualitas buah, dan potensi hasil merupakan tahapan penting dalam pemuliaan tanaman melon. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik dari 17 genotipe melon berdasarkan karakteristik kualitas buah dan mengidentifikasi genotipe potensial untuk dijadikan materi genetik dalam program pemuliaan. Percobaan dilakukan pada bulan Agustus hingga Oktober 2015 di Kebun Percobaan IPB Tajur II, Bogor Selatan (250 mdpl) menggunakan 17 genotipe melon. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh nyata terhadap semua karakter yang diamati kecuali umur berbunga hermaprodit. Karakter yang memiliki nilai heritabilitas arti luas lebih besar dari 50% adalah umur berbunga jantan, umur panen, panjang buah, diameter buah, tebal daging, tebal kulit, bobot, dan kadar gula. Genotipe yang memiliki potensi untuk sifat bobot buah dan kadar gula tinggi adalah P21 dan P19, sedangkan P2 dan P12 masing-masing memiliki potensi yang baik untuk bobot buah dan kadar gula saja. Karakter bobot buah memiliki korelasi positif dan nyata dengan panjang buah, diameter buah, tebal daging buah, dan tebal kulit buah. Pengelompokan berdasarkan karakter morfologi secara umum dapat memisahkan genotipe-genotipe melon reticulatus dan inodorus ke dalam grup yang berbeda.Kata kunci: korelasi, heritabilitas, seleksi simultan
Perbaikan Keragaan Bibit Jeruk Pamelo ‘Nambangan’ dengan Strangulasi Wahyu Fikrinda; Slamet Susanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.654 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.13-21

Abstract

ABSTRACTPummelo seedling has branches that grow irregularly, stright up, and has less branch. Attempt should be done to stimulate the formation of new branches. The objective of the research was to study the influence of single and double strangulation for stimulation of vegetative growth in order to improve canopy architecture of pummelo seedling. The experiment was conducted from March to September 2011 in green house of Cikabayan Experimental Station IPB, Bogor. Biochemical analysis was done in Laboratory of BALITRO, Bogor and Post-Harvest Laboratory, IPB. The experiment was conducted in Completely Randomized Block Design one factor consisting of 5 treatment: control, single strangulation, double strangulation with distance between wire 5 cm, 10 cm and 15 cm. The experiment consisted of 5 replicates. There were 25 experimental units. Each experimental unit contained 2 plants and total plants were 50 plants. Strangulation treatment was done in May 19th and wires were removed in August 10th 2011. The results of this research showed that single and double strangulation improved numbers of branch, the lenghth of shoots per plant, numbers of leaf, numbers of scion diameter, volume of canopies andstarch content in leaf. Double strangulation with distance between 2 wires 15 cm had open canopy and the highest volume of canopies with good canopy appearance at 19 week after application. Strangulation did not cause permanent damage of the sytem tissue and only took two months to recover.Key words: branch, canopy appearance, starch, volume of canopiesABSTRAKJeruk pamelo memiliki cabang yang tumbuh tidak beraturan, cenderung lurus ke atas dan bercabang sedikit. Upaya untuk merangsang pembentukan cabang baru adalah dengan strangulasi. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh strangulasi tunggal dan ganda dalam merangsang pertumbuhan vegetatif untuk perbaikan keragaan bibit jeruk pamelo. Percobaan dilaksanakan bulan Maret sampai September 2011 di greenhouse Kebun Percobaan Cikabayan IPB, Bogor. Analisis biokimia dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO), Bogor dan Laboratorium Pasca Panen, IPB. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor sebanyak 5 perlakuan yaitu tanpa strangulasi, strangulasi tunggal dengan ketinggian 5 cm dari mata tempel, strangulasi ganda dengan jarak antar kawat 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Percobaan terdiri atas 5 ulangan dan setiap satu satuan percobaan terdiri atas 2 tanaman sehingga total terdapat 50 tanaman. Aplikasi strangulasi dilaksanakan pada 19 Mei dan kawat dilepas pada 10 Agustus 2011. Hasil penelitian menunjukkan strangulasi tunggal dangan meningkatkan jumlah cabang, panjang cabang per tanaman, jumlah daun, diameter batang, volume tajuk, dan kandungan karbohidrat daun. Aplikasi strangulasi ganda memiliki tajuk terbuka dan volume tajuk terbesar dengan keragaan kanopi yang baik pada 19 minggu setelah perlakuan. Strangulasi tidak memberikan efek merusak secara permanen dan waktu pulihnya hanya dua bulanpada jaringan batang tanaman.Kata kunci: cabang, karbohidrat, keragaan tajuk, volume kanopi
Eliminasi Onion yellow dwarf virus melalui Kultur Meristem Tip pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Aqlima ,; Bambang S. Purwoko; Sri Hendrastuti Hidayat; Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.098 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.22-30

Abstract

ABSTRACTMeristem tip culture is culture of isolated meristem with 1-2 leaf primordia on suitable medium. This method is generally used to obtain free virus plant. Optimation of plant growth regulators (PGRs) was done to accelerate explant growth without callus formation and to avoid somaclonal variation in meristem tip culture. The aims of this study were to achieve the best combination of PGR for meristem tip growth and to evaluate meristem tip culture potential for Onion yellow dwarf virus (OYDV) elimination in shallot. This study used combination of PGRs 0.25 mg L-1 (2-ip, BAP, GA3, kinetin) with or without 0.1 mg L-1 IAA and medium without PGR. This research consisted of two experiments conducted separately. In experiment I, cv. Bima Brebes was used and experiment II cv. Tiron was used. Each experiment was arranged in completely randomized block design with single factor (PGR combination) that has 8 combination levels and 3 replications. The result showed that medium without PGR was the most efficient for meristem tip growth. Primary shoot was growing without callus formation. RT-PCR analysis showed that all of the tested samples were still infected by OYDV. Meristem tip culture method did not eliminate OYDV in both cultivars.Keywords: Auxin, cytokinin, GA3, OYDV, RT-PCRABSTRAKKultur meristem tip merupakan kultur meristem yang diisolasi 1-2 primordia daun dan pada media yang sesuai. Metode ini umum digunakan untuk mendapatkan tanaman bebas virus. Optimasi terhadap zat pengatur tumbuh (ZPT) dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan eksplan tanpa disertai pembentukan kalus untuk menghindari terjadinya variasi somaklonal pada kultur meristem tip. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi ZPT terbaik bagi pertumbuhan meristem tip dan untuk mengevaluasi potensi kultur meristem tip dalam mengeliminasi virus Onion yellow dwarf virus (OYDV) pada tanaman bawang merah. Penelitian ini menggunakan 0.25 mg L-1 (2-ip, BAP, GA3, kinetin) dengan penambahan atau tanpa 0.1 mg L-1 IAA serta media tanpa ZPT. Penelitian ini terdiri atas 2 percobaan terpisah. Percobaan 1 menggunakan cv. Bima Brebes dan Percobaan 2 menggunakan cv. Tiron. Masing-masing percobaan disusun berdasarkan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan 1 faktor, yaitu kombinasi ZPT yang terdiri atas 8 taraf kombinasi dan 3 ulangan. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa media tanpa penambahan ZPTmerupakan media yang paling efisien untuk pertumbuhan tunas meristem tip. Tunas utama tumbuh tanpa disertai pembentukan kalus. Hasil analisis RT-PCR menunjukkan bahwa seluruh sampel yang dideteksi masih terinfeksi OYDV. Metode kultur meristem tip belum dapat mengeliminasi virus OYDV pada kedua kultivar bawang merah.Kata kunci: Auksin, GA3, OYDV, RT-PCR, sitokinin
Pendugaan Ragam Genetik dan Heritabilitas Karakter Hasil dan Komponen Hasil Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) di Dua Lokasi Rudy Hermanto; Muhamad Syukur; Widodo .
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.657 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.31-38

Abstract

ABSTRACTThe objective of the study was to determine the genetic variability and heritability for some characters of twenty tomato genotypes across at two locations. The experimental design used was Randomized Complete Block Design (RCBD), three replications as a block was nested in location (at two locations i.e Ciawi and Lembang). Plant materials were twenty genotypes: 42D, 50D, 96D, 61I, 40D, 21D, 59I, 57D, 40I, 102D, 58I, 59D, 94D, 43D, 60I, 99D, 100D, 98D, 04I dan Tora. Results indicated that time of harvest, fruit weight, number of fruit per plant, fruit length and fruit width had broad genetic variability. The characters of yield per plant and fruit firmness had narrow genetic variability. Broad-sense heritability was high for all observed characters. Genotype 42D can be used to develop high yielding tomato for small fruit size group, 59D and Tora for medium fruit size group, 97D and 94D for big fruit size group.Keywords: broad, fruit, genetic, narrow, size, twentyABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaman genetik dan heritabilitas karakter hasil dan komponen hasil tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) di dua lokasi. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor dengan tiga ulangan. Ulangan tersarang dalam lokasi (dua lokasi yaitu Ciawi dan Lembang). Materi genetik yang digunakan adalah 20 galur murni generasi F-7 yaitu 42D, 50D, 96D, 61I, 40D, 21D, 59I, 57D, 40I, 102D, 58I, 59D, 94D, 43D, 60I, 99D, 100D, 98D, 04I dan Tora. Keragaman genetik yang luas terdapat pada karakter umur panen, bobot buah, jumlah buah per tanaman, panjang buah dan diameter buah, sedangkan keragaman genetik sempit terdapat pada karakter bobot buah per tanaman dan kekerasan buah. Semua karakter yang diamati mempunyai nilai heritabilitas arti luas yang tinggi. Genotipe 42D dapat digunakan untuk mengembangkan varietas tomat berdaya hasil tinggi untuk kelompok ukuran buah kecil. Genotipe 59D dan Tora untuk kelompok ukuran buah sedang dan genotipe 97D dan 94D untuk kelompok ukuran buah besar.Kata kunci: buah, dua puluh, genetik, luas, sempit, ukuran
Pewarisan Sifat Ketahanan Cabai terhadap Infestasi Aphis gossypii Glover (Hemiptera: Aphididae) Ady Daryanto; Muhamad Syukur; Awang Maharijaya; Purnama Hidayat
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.536 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.39-47

Abstract

ABSTRACTAphis gossypii Glover is one of the major pests of chili pepper and can cause damage up to 65% when the population is not controlled. The objective of this research was to elucidate the genetic control of resistance inheritance character of chilli (Capsicum annuum L.) to A. gossypii. Set a population of six generations (P1, P2, F1, F2, BCP1, BCP2 was established from a cross between IPB C20 (resistant parent) with IPB C313 (susceptible parent). Choice test based experiments was applied with two aphids per leaf on a five-week-old seedlings. The results showed that based on number of individual aphids per plant, segregation of resistance and susceptibility characters in the F2 fitted to the normal distribution, indicated that resistance controlled by polygenic genes. Subsequently based of scaling test analysis, resistance characteristics based on the number of aphids per plant categorized overdominan against resistant parent and controlled by many genes. Genes effect for controlling resistance to A. gossypii infestation was recessive. Broad-sense heritability was relatively large for the infestation of aphids per plant, aphids per leaf, and winged aphids while the narrow sense heritability relatively very low on the infestation aphids per plant and per leaf, indicated by the dominant variance was greater than additive variance.Keywords: action genes, Capsicum annuum, dominant varience, heritabilityABSTRAKKutudaun Aphis gossypii Glover adalah salah satu hama pengganggu penting dalam produksi tanaman cabai. Saat populasi kutudaun tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan tanaman cabai hingga 65%. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kendali genetik pewarisan sifat ketahanan cabai (Capsicum annuum L.) terhadap infestasi A. gossypii. Set populasi enam generasi (P1, P2, F1, F2, BCP1, BCP2) dibentuk dari persilangan tetua P1 (IPB C20) dengan nilai infestasi rendah dan tetua P2 (IPB C313) yang bernilai infestasi tinggi. Metode skrining yang digunakan adalah choice test. Jumlah kutudaun yang diinfestasikan adalah dua ekor per daun pada bibit berumur lima minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter ketahanan cabai terhadap infestasi kutudaun berdasarkan jumlah A. gossypii per tanaman ialah tetua rentan overdominan terhadap tetua tahan dan dikendalikan oleh banyak gen. Gen-gen pengendali ketahanan terhadap infestasi A. gossypii adalah resesif. Nilai heritabilitas arti luas tergolong besar untuk infestasi kutudaun per tanaman, kutudaun per daun, dan kutudaun bersayap, sedangkan heritabilitas arti sempit tergolong sangat rendah pada infestasi kutudaun per tanaman dan per daun yang ditunjukkan oleh proposi ragam dominan lebih besar dibandingkan ragam aditif.Kata kunci: aksi gen, Capsicum annuum, heritabilitas, ragam dominan

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue