cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Induksi Kalus dan Regenerasi Tiga Genotipe Tomat (Solanum lycopersicon L.) melalui Kultur Antera Ratna Ningsih; Bambang S. Purwoko; Muhamad Syukur; Iswari S. Dewi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.486 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.75-82

Abstract

ABSTRACTThe aims of this research were to evaluate culture ability of 3 tomato genotypes through their androgenic response in callus induction and regeneration media. Completely randomized design with factorial arrangement and 5 replications were used. Treatments consisted of three genotypes (Tora, Ratna and hybrid variety Permata), six callus induction media in the first phase and three genotypes and two regeneration media. The result showed that hybrid variety Permata had the highest anther culture ability then others genotypes. Permata had the highest percentage of callus induction (27%) followed by Tora (14%) and Ratna (12%). The highest percentage of callus induction was shown in DBMI + 5 mg L-1 Kinetin + 2 mg L-1 NAA media (39.7%) followed by DBMII + 1 mg L-1 Kinetin + 2 mg L-1 NAA media (33.0%). Both genotypes and media gave low percentage of shoot induction. The percentage of shoot induction in hybrid variety Permata was 4.2% while in Tora was 2.1% and Ratna was 0%. The percentage of shoot induction in MS + 25 mg L-1 Zeatin was 2.8% while in MS + 1 mg L-1 Zeatin + 0.125 mg L-1 IAA was 1.4%.Keywords: androgenesis, auxin, cytokinine, in vitro, medium, tomato ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya kultur antera tiga genotipe tomat melalui percobaan induksi pembentukan kalus dan regenerasi tunas. Percobaan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan lima ulangan. Bahan tanam yang digunakan ialah tomat varietas Tora, Ratna dan varietas hibrida Permata. Media yang digunakan adalah 6 media induksi kalus dan 2 media regenerasi tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tomat varietas hibrida Permata memiliki daya kultur antera yang lebih baik dibandingkan genotipe lainnya. Permata memiliki persentase jumlah kalus 27% lebih tinggi dibandingkan Tora (14%) dan Ratna (12%). Media yang paling baik menginduksi kalus adalah media DBMI + 5 mg L-1 Kinetin + 2 mg L-1 NAA (39%) dan DBMII + 1 mg L-1 Kinetin + 2 mg L-1 NAA (33%). Baik genotipe maupun media yang digunakan menghasilkan jumlah tunas yang rendah. Persentase induksi tunas varietas hibrida Permata 4.2% lebih tinggi dibandingkan Tora (2.1%) dan Ratna (0%). Persentase induksi tunas media MS + 0.25 mg L-1 Zeatin (2.8%) lebih tinggi dibandingkan media MS + 1 mg L-1 Zeatin + 0.125 mg L-1 IAA (1.4%).Kata kunci: androgenesis, auksin, in vitro, media, sitokinin, tomat
Laju Tumbuh Umbi Tanaman Kentang Varietas Granola dan Supejohn di Dataran Medium dengan Pemulsaan Johannes E. X. Rogi; Hanny S. G. Kembuan; Johan A. Rombang
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.07 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.83-90

Abstract

ABSTRACTResearch on growth rate of two cultivars of potato c.v. Granola and Supejohn at medium altitude using mulching methods was conducted at Paslaten village, Subdistrict of West Langowan, District of Minahasa, North Sulawesi. Research location was at medium altitude of 750 m above sea level. The objectives of this research were to determine growth rate of potato tuber grown at medium altitude and the most suitable mulch. The research was arranged in a randomized complete block design with two treatments and three replications. The first factor was potato cultivars (Granola and Supejohn) and second factor was mulching methods (no mulch, straw mulch and black silver plastic). Research result showed that straw mulch treatment increased growth rate of Granola and Supejohn cultivars 0.87 g plant-1 day-1 and 0.73 g plant-1 day-1, respectively while black silver plastic treatment only increased the growth rate of Granola and Supejohn cultivars 0.70 g plant-1 day-1and 0.59 g plant-1 day-1, respectively. The highest tuber dry weight was achieved by straw mulch. The best treatment was Granola grown in straw mulch. The lowest growth rate occurred at the mulch treatment which were 0.49 g plant-1 day-1 for Granola cultivar and 0.47 g plant-1 day-1 for Supejohn cultivar.Keywords: black silver plastic mulch, dry weight, growth rate, potato, straw mulch    ABSTRAKPenelitian tentang laju tumbuh tanaman kentang dengan 2 (dua) varietas yaitu Granola dan Supejohn di dataran medium dengan menggunakan mulsa dilakukan di Desa Paslaten, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Lokasi penelitian berada di dataran medium dengan elevasi 750 m di atas permukaan laut. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan besarnya laju tumbuh umbi tanaman kentang yang dikembangkan di dataran medium dan jenis mulsa yang paling sesuai. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 (dua) faktor dan 3 (tiga) ulangan yaitu faktor I tanaman kentang (varietas Granola dan Supejohn) dan faktor II yaitu perlakuan mulsa (tanpa mulsa, mulsa jerami dan mulsa plastik hitam perak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mulsa jerami meningkatkan laju tumbuh umbi pada varietas Granola sebesar 0.87 g tanaman-1 hari-1 dan varietas Supejohn sebesar 0.73 g tanaman-1 hari-1. Perlakuan mulsa plastik hitam perak meningkatkan laju tumbuh umbi pada varietas Granola sebesar 0.70 g tanaman-1 hari-1 dan varietas Supejohn 0.59 g tanaman-1 hari-1. Bobot kering umbi tertinggi dicapai oleh mulsa jerami. Perlakuan terbaik ialah varietas Granola yang diberi mulsa jerami. Laju pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan tanpa mulsa sebesar 0.49 g-1 hari-1 untuk kultivar Granola dan 0.47 g-1 hari-1 untuk Supejohn.Kata kunci: bobot kering, kentang, laju tumbuh, mulsa jerami, mulsa plastik hitam perak
Potensi Khamir sebagai Agens Pengendalian Hayati Colletotrichum capsici, Cendawan Penyebab Antraknosa pada Buah Cabai Okky Setyawati Dharmaputra; Lisdar I. Sudirman; Maria M. Misnawati
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.642 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.91-101

Abstract

ABSTRACTAntrachnose on chilli fruit caused by Colletotrichum capsici can reduce yield and quality of chilli fruit. Biological control agent can be used as an alternative to control C. capsici. Yeast is one of biological control agent which is potential to control the pathogen. This study was aimed at testing antagonistic potential of yeast on fruits and vegetables against C. capsici. Twenty two yeast isolates were isolated from banana, rambutan, red chilli, tomato, and eggplant fruits. Screening for antagonistic yeast using well test showed that 5 isolates of yeast (CMM-1, CMM-3, CMM-4, TMM-1, and EMM-11) completely inhibited the growth of C. capsici. Based on the result of biocontrol assay of the pathogen in vivo, four yeast isolates (CMM-3, CMM-4, TMM-1, and EMM-11) completely inhibited C. capsici in vivo. Identification using morphological and molecular characteristics showed that these four yeast isolates were Issatchenkia orientalis.Keywords: antagonistic yeast, antrachnose, biocontrol, Issatchenkia orientalis ABSTRAK Antraknosa pada buah cabai yang disebabkan oleh Colletotrichum capsici dapat menyebabkan penurunan produksi dan kualitas buah cabai. Penggunaan agens pengendalian hayati dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengendalikan C. capsici. Khamir merupakan salah satu agens pengendalian hayati yang berpotensi mengendalikan C. capsici. Penelitian ini bertujuan menguji potensi antagonistik khamir pada buah-buahan dan sayuran terhadap C. capsici. Sebanyak 22 isolat khamir diisolasi dari buah rambutan, pisang, cabai merah besar, tomat, dan terung ungu. Seleksi khamir antagonis menggunakan uji sumur diperoleh sebanyak 5 isolat khamir, yaitu isolat CMM-1, CMM-3, CMM-4, TMM-1, dan EMM-11 menghambat total pertumbuhan C. capsici. Isolat CMM-3, CMM-4, TMM-1, dan EMM-11 menghambat total pertumbuhan C. capsici in vivo. Berdasarkan hasil identifikasi secara morfologi dan molekuler, isolat CMM-3, CMM-4, TMM-1, dan EMM-11 adalah Issatchenkia orientalis.Kata kunci: antraknosa, Issatchenkia orientalis, khamir antagonis, pengendalian hayati
Evaluasi Keragaman Genetik Mutan Harapan Generasi MV1 Jeruk Keprok SoE (Citrus reticulata Blanco) Berdasarkan Penanda Morfologi dan ISSR Indriati Husain; Agus Purwito; Ali Husni; Kikin H. Mutaqin; Slamet Susanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.675 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.102-110

Abstract

ABSTRACTMandarin’s SoE is national variety originated from Mount of Mutis, Sub District of SoE, of Timur Tengah Selatan (TTS) District, East Nusa Tenggara (NTT). The genetic diversity of citrus can be induced by gamma ray irradiation on embryogenic callus cells thus producing new mutants. Genetic diversity detection can be based on morphological and ISSR markers. The aim of this research was to obtain information on the genetic diversity on putative mutants mandarin SoE induced by gamma ray irradiation based on morphology and markers ISSR. ISSR markers used are ISSR 1, 4, 6 and 8. Analysis of morphological diversity produced a dendrogram with the level of similarity between individuals each irradiation dose 83-95% with 5-17% genetic distance. Dendrogram analysis based on the genetic diversity ISSR markers showed high levels of 51-100% similarity and genetic distance 0-49%. Individuals samples obtained from gamma irradiation, based both morphological and ISSR markers, was different from individual's genetic make up before irradiation.Keywords: cluster, gamma ray, genetic distance, genetic diversitys, similarity ABSTRAKJeruk keprok SoE adalah jeruk varietas unggul nasional yang berasal dari Pegunungan Mutis, Kecamatan SoE, Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keragaman genetik jeruk ini dapat diinduksi dengan iradiasi sinar gamma pada sel-sel kalus embriogenik untuk menghasilkan mutan yang solid. Deteksi keragaman genetik yang terbentuk dapat dilakukan secara morfologi maupun molekuler dengan marka ISSR. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai keragaman genetik yang terjadi pada mutan harapan jeruk keprok SoE hasil iradiasi sinar gamma berdasarkan morfologi dan marka ISSR. Marka ISSR yang digunakan adalah ISSR 1, 4, 6 dan 8 pada beberapa mutan harapan jeruk keprok SoE. Analisis keragaman secara morfologi menghasilkan dendrogram dengan tingkat kemiripan antar individu masing-masing dosis iradiasi 83-95% dengan jarak genetik 5-17%. Dendrogram analisis keragaman genetik berdasar marka ISSR memperlihatkan tingkat kemiripan 51-100% dan jarak genetik 0-49%. Individu-individu sampel yang diuji hasil iradiasi gamma, baik secara morfologi dan marka ISSR, telah memiliki susunan genetik yang berbeda dari susunan genetik individu sebelum diiradiasi.Kata kunci: grup, jarak genetik, kemiripan, keragaman, sinar gamma
Degreening Buah Jeruk Siam (Citrus nobilis) pada Beberapa Konsentrasi dan Durasi Pemaparan Etilen Nian Rimayanti H.; Roedhy Poerwanto; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.836 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.111-120

Abstract

ABSTRACTSiam tangerine peel is green when harvested. Degreening technology by ethylene can improve the citrus peel color becomes uniformly orange. Degreening is a process to break down green pigment (chlorophyll) on citrus peel chemically and form the orange color (carotene) without affecting internal quality of fruit. The purpose of this research was to determine the effect of ethylene concentration and ethylene exposure duration to bring out the color on Siam tangerine from Banyuwangi. Ethylene 0, 100, 200 ppm was injected into the box containing 2.8 kg citrus and was exposed to the cooling chamber with a temperature 18 0C for 24 hours ethylene + 48 hours without ethylene, 48 hours ethylene + 24 hour without ethylene and 72 hours ethylene. Ethylene exposure was conducted using multiple shots method. After exposure, tangerines were put at room temperature condition. Observations were conducted every two days: (a) non-destructive observation conducted using color reader to determine the color changes; (b) destructive observations for measuring chlorophyll and carotenoids content and physico-chemical changes i.e. the hardness, soluble solid content, titratable acidity and vitamin C. The results showed that the best combination was 200 ppm ethylene concentration for 48 hours ethylene exposure. This degreening technique altered the Citrus Colour Index (CCI) value from -1.60 to be 6.50, changed the tangerines into a bright orange. Degreening did not give negative impact on internal quality.Key words: carotenoid, chlorophyll, citrus color index, cooling chamber, tropical citrus         ABSTRAKWarna kulit buah jeruk siam saat dipanen umumnya hijau. Teknologi degreening menggunakan gas etilen dapat memperbaiki warna kulit jeruk tropika menjadi jingga. Degreening merupakan proses perombakan pigmen hijau (klorofil) pada kulit jeruk secara kimiawi dan membentuk warna jingga (karotenoid) tanpa mempengaruhi kualitas internal buah. Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh konsentrasi dan durasi pemaparan etilen untuk menstimulasi pigmen jingga dan pengaruhnya terhadap sifat fisikokimia jeruk siam Banyuwangi. Degreening jeruk menggunakan etilen 0, 100, dan 200 ppm diinjeksikan ke dalam box degreening yang berisi jeruk 2.8 kg dan dipaparkan pada cooling chamber dengan suhu 18 0C selama 24, 48, dan 72 jam. Pengamatan dilakukan setiap dua hari: (a) pengamatan non-destruktif dengan menggunakan color reader untuk mengetahui perubahan warna; (b) pengamatan destruktif dengan mengukur kekerasan, kandungan klorofil dan karotenoid, Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Tertitrasi Total (ATT) dan vitamin C untuk mengetahui perubahan fisikokimia jeruk. Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna kulit buah mulai terjadi pada hari ke 4 setelah perlakuan degreening. Konsentrasi etilen terbaik adalah 200 ppm dengan durasi pemaparan 48 jam yaitu dapat meningkatkan kualitas warna buah jeruk siam dari hijau menjadi jingga kekuningan dan mampu mengubah nilai Citrus Colour Index (CCI) dari -1.60 (hijau) menjadi 6.50 (jingga kekuningan), tanpa pengaruh negatif terhadap kualitas fisikokimia buah.Kata kunci: cooling chamber, citrus color index, jeruk tropika, karotenoid, klorofil
Karakterisasi Tingkat Produksi Duku Berbasis Pewilayahan Hujan di Provinsi Jambi Fendy Arifianto; Yonny Koesmaryono; Impron .
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.503 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.121-128

Abstract

ABSTRACTDuku (Lansium domesticum Corr) is one of tropical fruits and of high economic value. The Jambi provincial government works to maintain and develop duku production through improvement of cultivation and expansion. The supporting factor for success of duku production was the weather especially precipitation. This study was conducted to obtain precipitation characteristics on land suitability of duku productivity in Jambi Province. The results showed that the rainfall pattern in Jambi province had five characters in which the annual precipitation 2583 kg tree-1yr-1. The average of duku productivity in rainfall pattern I dan II was 269 kg tree-1yr-1, and the other result outside rinfall pattern I and II had the average productivity 370 kg tree-1 yr-1. Key words: duku, Jambi Province,land suitability, precipitation, productivity ABSTRAK Duku (Lansium domesticum Corr) merupakan salah satu buah tropis yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Pemerintah Daerah Provinsi Jambi berupaya untuk mempertahankan dan mengembangkan produksi duku melalui perbaikan budidaya tanaman dan perluasan lahan. Faktor yang menjadi pendukung terhadap keberhasilan produksi suatu tanaman adalah faktor iklim terutama curah hujan dan suhu. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik curah hujan wilayah untuk kesesuaian lahan tanaman duku di Provinsi Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola curah hujan wilayah di Provinsi Jambi memiliki lima pola dengan curah hujan rata-rata tahunan sebesar 2583 mm tahun-1. Rata-rata produksi duku di wilayah yang berpola hujan I dan II 269 kg pohon-1 tahun-1, sedangkan daerah yang diluar pola tersebut memiliki rata-rata produktivitas sebesar 370 kg pohon-1tahun-1.Kata kunci: duku, kesesuaian lahan, presipitasi, produktivitas, Provinsi Jambi
Peningkatan Produksi Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) Pada Berbagai Macam Pola Tanam dengan Jagung (Zea mays) Wisnu Eko Murdiono; Ellis Nihayati; Sitawati .; Nur Azizah
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.801 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.129-137

Abstract

ABSTRACT Temulawak is one of Indonesia’s indigenous plant which is rarely cultivated by farmers because it has a long harvest time and wide plant spacing. Intercropping temulawak with maize is expected to attract farmers to cultivate temulawak intensively. This research was aimed at obtaining the most advantageous growth and yield of temulawak (Curcuma xanthorrhiza) in different planting patterns with maize (Zea mays). This research was conducted at the Faculty of Agriculture Brawijaya University experimental farm in Jatikerto, Malang, from December 2014 to June 2015. Experimental design was completely randomized block design with four replication and 6 treatments : T1 (strip cropping, cropping simultaneously), T2 (row cropping, cropping simultaneously), T3 (strip relay cropping, planting 1 month before the maize), T4 (row relay cropping, planting 1 month before the maize), T5 (strip relay cropping, planting 1 month after the maize), T6 (row relay cropping, planting 1 month after the maize). The growth and yield of temulawak were significantly affected by planting pattern and planting time of maize. Generally, earlier and simultaneously planted temulawak had higher growth and yield. Row cropping is the best planting pattern of turmeric combined with maize which produce 4.05 ton ha-1 fresh rhizome weight.Keywords : intercropping, maize, planting pattern, planting time, turmeric  ABSTRAK Waktu panen yang lama serta jarak tanam yang lebar menyebabkan kurangnya minat petani untuk menanam temulawak sebagai tanaman utama. Salah satu solusi yang diharapkan untuk menarik minat petani dalam membudidayakan temulawak adalah dengan pola tanam tumpang sari dengan tanaman pangan. Jagung umumnya memiliki waktu panen relatif lebih singkat dan jarak tanam relatif sempit sehingga potensial untuk ditumpangsarikan dengan temulawak. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan pola tanam yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik bagi temulawak pada beberapa pola tanam tumpangsari dengan jagung. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya yang berlokasi di Desa Jatikerto, Malang pada bulan Desember 2014 sampai Juni 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang diulang sebanyak 4 kali, dengan 6 perlakuan pola tanam sebagai berikut: T1 (strip cropping, ditanam bersamaan), T2 (pola row cropping, ditanam bersamaan), T3 (strip relay temulawak - jagung), T4 (row relay temulawak - jagung), T5 (strip relay jagung - temulawak), T6 (row relay jagung - temulawak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pola tanam pada sistem tumpangsari temulawak dan jagung memberikan pengaruh yang berbeda bagi pertumbuhan dan hasil temulawak. Temulawak yang ditanam lebih awal memiliki nilai rata-rata pertumbuhan dan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan temulawak yang ditanam setelah jagung. Pola tanam row cropping memberikan hasil rimpang temulawak tertinggi pada berbagai macam pola tanam dengan jagung yang mencapai 4.05 ton ha-1.Kata kunci: jagung, pola tanam, produksi, temulawak, tumpangsari
Perbaikan Pembungaan Pamelo melalui Aplikasi Strangulasi dan Zat Pemecah Dormansi Slamet Susanto; Maya Melati; Herik Sugeru
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.567 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.139-145

Abstract

ABSTRACTPummelo productivity is still low, therefore efforts should be made to increase its flowering and production. The objective of study was to determine the effectiveness of strangulation combined with the application of breaking dormancy substances to improve flowering of pummelo. The experiment was conducted in January to November 2015, at the Cikabayan Experimental Research Station, IPB. The carbohydrate and nitrogen analysis was done in laboratory of Postharvest Agriculture Research Institute, Bogor. Three-year-old pummelo grown in field was subjected for this research. Experiment used a completely randomized design (CRD) with two factors. The first factor was treatment to stimulate flowering, consisted of 3 levels i.e. single strangulation, double strangulation and control, and the second factor was the use of dormancy breaking substances, consisted of 3 types i.e. KNO3, Ethepon and BAP. Strangulation was performed by pressing the wire with a diameter of 2.0 mm into stem as deep as the diameter of the wire. Strangulation was done simultaneously and then released after 3 months. Dormancy breaking substance was applied immediately after releasing the wire for strangulation with the concentration of 200 ppm KNO3, 100 ppm Ethepon or 100 ppm BA. Treatments were replicated 4 times. The results showed that single and double strangulation treatments for 3 months were an effective way to induce flowering of young pummelo trees. Double strangulation produced more flowers as compared to single strangulation.Increased carbohydrate content and C/N ratio in leaves were observed on flower induced trees. Strangulation treatment for 3 months can increase flowering of young pummelo trees. Application of dormancy breaking substances did not have any effect on flowering induction in pummelo.Keywords: carbohydrate content, dormancy breaking substance, flower induction, pummelo, strangulationABSTRAKProduktivitas pamelo masih rendah sehingga perlu upaya peningkatan pembungaan dan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strangulasi yang dikombinasikan dengan aplikasi zat pemecah dormansi dalam meningkatkan pembungaan jeruk pamelo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Nopember 2015, bertempat di Kebun Percobaan IPB Cikabayan. Analisis karbohidrat dan nitrogen dilakukan di laboratorium BB Pasca Panen, Bogor. Percobaan menggunakan tanaman jeruk pamelo “Nambangan’ berumur 3 tahun dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Sebagai faktor pertama yaitu perlakuan untuk menstimulasi pembungaan, terdiri atas 3 taraf perlakuan yaitu perlakuan strangulasi tunggal, strangulasi ganda dan kontrol, dan sebagai faktor kedua adalah penggunaan zat pemecah dormansi terdiri atas 3 jenis yaitu KNO3, Ethepon dan BAP. Masing-masing perlakuan diulang 4 kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Strangulasi dilaksanakan dengan melilitkan kawat dengan diameter 2.0 mm pada batang dengan menekan kawat ke batang sedalam diameter kawat tersebut. Strangulasi dilakukan serentak pada batang, strangulasi dilepas setelah 3 bulan kemudian. Zat pemecah dormansi diaplikasikan segera setelah pelepasan kawat strangulasi dengan konsentrasi masing-masing 200 ppm untuk KNO3, 100 ppm untuk Ethepon atau 100 ppm untuk BAP. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan strangulasi selama 3 bulan merupakan cara efektif menginduksi pembungaan tanaman jeruk pamelo. Perlakuan strangulasi ganda menghasilkan bunga lebih banyak dibandingkan dengan strangulasi tunggal. Tanaman yang telah terinduksi menunjukkan tingginya kandungan karbohidrat pada tajuk tanaman sehingga meningkatkan rasio C/N. Perlakuan zat pemecah dormansi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembungaan jeruk pamelo.Kata kunci: kandungan karbohidrat, pamelo, pembungaan, strangulasi, zat pemecah dormansi
Pola Penurunan Viabilitas dan Pengembangan Metode Pendugaan Vigor Daya Simpan Benih Pepaya (Carica Papaya L.) Astryani Rosyad; M. Rahmad Suhartanto; Abdul Qadir
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.633 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.146-154

Abstract

ABSTRACTInformation of seed quality during storage can be determined through the actual storage and storability vigor estimation. This study aimed at comparing effective accelerated aging methodbetween physical and chemical, and studying the seed deterioration during storage in ambient (T =28-30 0C, RH=75-78%) and AC (T =18-20 0C, RH =51-60%) condition with three levels of initial moisture content (8-10%, 10-12%, and 12-14%) for 20 weeks. The final objective of this researchwas to develop model for storability vigor of papaya seed. Two experiments, accelerated aging and seed storage were conducted at Seed Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University from October 2015 to May 2016. A completely randomized design with nested factors and four replications was applied to both experiments. The results showed that physical accelerated aging using IPB 77-1 MMM machine was more effective than chemical accelerated aging using IPB 77-1 MM machine for papaya seed. The viability of seed stored in AC condition remained high until the end of the storage period, whereas it declined at 16 week storage period in the ambient condition. The viability of seed with initial moisture content of 12-14% declined faster than that of initial moisture content of 8-10% after 18 week storage periode. The model used to estimate the storability vigor of papaya seed accurately was the equation y = a + b expcx where y : storability vigor estimation, x : aging time and a,b,c : constant value. Simulation of storability vigor estimation with constant value of a, b, c and input of aging time can estimate storability seed vigor in actual storage.Keywords: accelerated aging, IPB 77-1 MM machine, IPB 77-1 MMM machine, seed storage, simulationABSTRAKInformasi mutu benih selama penyimpanan dapat diketahui melalui penyimpanan secara aktual dan pendugaan vigor daya simpan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metodepengusangan cepat yang efektif antara fisik dengan kimia serta mempelajari pola penurunan viabilitas benih selama penyimpanan aktual pada kondisi simpan kamar (suhu =28-30 0C, RH =75-78%) dan AC (suhu =18-20 0C, RH =51-60%) dengan tiga tingkat kadar air awal (8-10%, 10-12%, dan 12-14%) selama 20 minggu. Tujuan akhirnya adalah membangun model vigor daya simpan benih pepaya. Penelitian pengusangan cepat dan penyimpanan dilakukan pada bulan Oktober 2015 sampai Mei 2016 di Laboratorium Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut PertanianBogor. Kedua penelitian menggunakan rancangan acak lengkap tersarang dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusangan cepat secara fisik dengan alat IPB 77-1 MMM lebih efektif daripada pengusangan kimia dengan alat IPB 77-1 MM untuk benih pepaya. Viabilitas benih yang disimpan pada kondisi AC tetap tinggi hingga akhir periode simpan, sedangkan pada kondisi kamar penurunan viabilitas dimulai pada periode simpan 16 minggu. Benih yang disimpan dengan tingkat KA awal sebesar 12-14% lebih cepat mengalami penurunan viabilitas mulai periode simpan 18 minggu dibandingkan dengan benih dengan KA awal 8-10%. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat korelasi yang erat antara pola kemunduran benih pada pengusangan cepat dan penyimpanan aktual, sehingga model pendugaan vigor daya simpan (y) berdasarkan waktu pengusangan (x) dapat disusun dengan persamaan y = a + b expcx. Simulasi pendugaan vigor daya simpan dengan nilai konstanta a, b, dan c serta input waktu pengusangan dapat menduga vigor daya simpan benih selama penyimpanan aktual.Kata kunci: alat IPB 77-1 MM, alat IPB 77-1 MMM, pengusangan cepat, penyimpanan benih,simulasi
Pewarisan Karakter Kualitatif dan Kuantitatif pada Hipokotil dan Kotiledon Tomat (Solanum lycopersicum L.) Silangan IPB T64 x IPB T3 Marlina Mustafa; Muhamad Syukur; Surjono Hadi Sutjahjo; Sobir .
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.37 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.155-164

Abstract

ABSTRACTHypocotyl and cotyledon are potentially used as effective morphological markers since they can be detected earlier. Information on inheritance of tomato hypocotyl and cotyledon was not available. The aims of this research was to study the inheritance of qualitative and quantitative characters of tomato hypocotyl and cotyledon. This research used six population, P1 green hypocotyl (IPB T64), P2 purple hypocotyl (IPB T3), F1, F1R, BCP1, BCP2, and F2. Analysis of qualitative characters used Mendelian and gene action of quantitative characters used joint scaling test. The results of Mendelian indicated that the character of hypocotyl color was controlled by two genes of dominant-recessive epistasis. The gene controlling purple color was dominant to the green color gene. Based on the F2 distribution test, hypocotyl length, cotyledon length and width were controlled by polygenes. There was no influence of maternal effect. The results of the joint scaling test showed gene action of hypocotyl length was controlled by additive gene with influence of additive-dominant epistasis. Length and width of the cotyledon were controlled by additive gene and influence of duplicate epistasis effect. All characters had high level of broad sense heritability and medium level of narrow sense heritability.Keywords: cotyledone, gene action, heritability, hypocotyle, morphology marker.ABSTRAKHipokotil dan kotiledon berpotensi untuk dijadikan sebagai marka morfologi yang efektif karena dapat dideteksi lebih dini. Informasi pola pewarisan karakter hipokotil dan kotiledon tomat belum banyak tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola pewarisan karakter kualitatif dan kuantitatif dari hipokotil dan kotiledon tomat sebagai marka morfologi pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Penelitian ini menggunakan enam set populasi yaitu P1 hipokotil hijau (IPB T64), P2 hipokoti ungu (IPB T3), F1, F1R, BCP1, BCP2, dan F2. Karakter kualitatif menggunakan analisis Mendel dan pendugaan aksi gen karakter kuantitatif menggunakan analisis skala gabungan. Hasil analisis Mendel menunjukkan bahwa karakter warna hipokotil dikendalikan oleh dua pasang gen epistasis dominan-resesif. Gen pengendali warna ungu bersifat dominan terhadap warna hijau pada hipokotil tomat. Panjang hipokotil, panjang dan lebar kotiledon dikendalikan oleh banyak gen dan tidak ada pengaruh tetua betina berdasarkan uji sebaran populai F2. Hasil analisis skala gabungan menunjukkan bahwa aksi gen karakter panjang hipokotil dikendalikan oleh gen aditif dengan pengaruh epistasis aditif dominan, panjang dan lebar kotiledon dikendalikan oleh gen dominan dengan pengaruh epistasis duplikat. Semua karakter yang diamati memiliki nilai heritabilitas arti luas dalam tingkatan yang tinggi, sedangkan heritabilitas arti sempit dalam tingkatan yang sedang.Kata kunci: aksi gen, heritabilitas, hipikotil, kotiledon, marka morfologi.

Page 11 of 33 | Total Record : 322


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue