cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Kriteria Kemasakan Buah Pepaya (Carica papaya L.) IPB Callina dari Beberapa Umur Panen M. Luthfan Taris; Winarso D. Widodo; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.916 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.3.172-176

Abstract

ABSTRACTPapaya is one of the climacteric fruit that has a short shelf life. It has high potential as a source of vitamins and minerals. This research was aimed at studying the maturity criteria of postharvest ripeness of Callina papaya fruit of several picking ages and to determine the best picking ages for postharvest handling in order to extend the shelf life. Experiment was conducted in the Research Center for Tropical Horticulture, Bogor Agricultural University (PKHT, IPB) Papaya Farm Tajur, Bogor and postharvest ripening test was conducted at Postharvest Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University in February to July 2014. Experiment consisted of 4 treatments: 115, 120, 125 and 130 days after anthesis (DAA) with 3 replications. The longest shelf life for papaya Callina was obtained by fruit picked at 115 DAA (heat unit 2010.06 0C day) with the shelf life of 8 days. Picking ages 120 DAA (heat unit 2102.13 0C day) was the best picking ages for treatment to extend the shelf life because of the good chemical quality contained and its shelf life of 7 days. The older papaya fruits ripened faster than the younger papaya fruit. Younger papaya has a lower respiration rate than the older papaya. Picking ages did not affect the physical quality but affect the chemical quality of papaya fruit at the same postharvest maturity level.Kata kunci: Callina, chemical quality, physical quality, shelf life ABSTRAK Pepaya merupakan salah satu buah klimakterik yang memiliki daya simpan pendek, tetapi memiliki potensi yang tinggi sebagai sumber vitamin dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kriteria kematangan pascapanen buah pepaya Callina dari beberapa umur panen dan menentukan saat panen terbaik untuk penanganan pascapanen dalam rangka memperpanjang masa simpan. Buah untuk percobaan diperoleh dari kebun pepaya Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor (PKHT, IPB) Tajur, Bogor dan pengujian kematangan pascapanen dilakukan di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari - Juli 2014. Percobaan terdiri atas 4 perlakuan: 115, 120, 125 dan 130 hari setelah antesis (HSA) dengan 3 ulangan. Umur simpan terlama pepaya Callina diperoleh pada umur panen 115 HSA (satuan panas sebesar 2010.06 0C hari) dengan umur simpan 8 hari. Umur panen 120 HSA (satuan panas sebesar 2102.13 0C hari) merupakan umur panen terbaik untuk perlakuan memperpanjang umur simpan karena mutu kimia baik dengan umur simpan 7 hari. Buah pepaya yang dipanen tua lebih cepat masak dibandingkan dengan buah pepaya yang dipanen muda. Pepaya yang dipanen muda memiliki laju respirasi yang lebih rendah dibandingkan dengan pepaya yang dipanen tua. Umur panen tidak mempengaruhi mutu fisik tetapi mempengaruhi mutu kimia buah pepaya pada tingkat kematangan pascapanen yang sama.Kata kunci: Callina, mutu fisik, mutu kimia, umur simpan
Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma terhadap Pertumbuhan Protocorm Like Bodies Anggrek Dendrobium lasianthera (JJ. Smith) secara In Vitro Fitro Adi Cahyo; Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.083 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.3.177-186

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research was to determine the effects of gamma irradiation on protocorm like bodies (PLBs) Dendrobium lasianthera and Lethal dose (LD) 30 and 50 of gamma irradiation. The irradiation was conducted at the Center of Technology Application of Isotops and Radiation, Nuclear Energy Agency (PATIR-BATAN) and culture at Tissue Culture Laboratory of IPB from February 2014 to July 2014. The treatments were arranged in a completely randomized design (CRD) with a single factor of gamma irradiation doses, include i,g. 0 Gy, 20 Gy, 40 Gy, 60 Gy, 80 Gy, and 100 Gy. Each dose of gamma irradiation treatment was repeated 5 times. There were 30 experimental units. Each experimental unit consisted of five culture bottles containing 4 individually planted PLBs Dendrobium lasianthera. The results of this research showed that the increasing doses of gamma irradiation significantly decreased the percentage of alive PLBs, PLBs germination percentage, number of leaves, number of roots, the percentage of rooted PLBs. Morphological changes among other wider and spiral leaves were observed in the treated plantlets. Lethal dose 30% (LD30) was at 19.7697 Gy and LD50 was at 67.3504 Gy.Keywords: Dendrobium lasianthera, gamma irradiation, in vitro, Lethal dose (LD), mutation ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iradiasi gamma terhadap pertumbuhan protocorm like bodies (PLBs) anggrek Dendrobium lasianthera serta menentukan Lethal dose (LD) 30 dan 50 dari iradiasi sinar gamma. Proses iradiasi dilakukan di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR-BATAN) Proses kultur dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan IPB. Penelitian dilakukan dari bulan Februari 2014 hingga Juli 2014. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu dosis iradiasi gamma meliputi 0 Gy, 20 Gy, 40 Gy, 60 Gy, 80 Gy, dan 100 Gy. Setiap dosis perlakuan iradiasi gamma diulang 5 kali, seluruhnya terdapat 30 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri atas lima botol kultur yang masing-masing ditanam 4 PLBs anggrek Dendrobium lasianthera. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan dosis iradiasi gamma nyata menurunkan persentase hidup PLBs, persentase PLBs berkecambah, jumlah daun, jumlah akar, dan persentase PLBs berakar. Perubahan planlet in vitro yang teramati antara lain daun melebar dan daun spiral. LD30 berada pada 19.7697 Gy dan LD50 pada 67.3504 Gy.Kata kunci: Dendrobium lasianthera, in vitro, iradiasi gamma, Lethal dose (LD), mutasi
Budidaya Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Lahan Kering Menggunakan Irigasi Sprinkler pada berbagai Volume dan Frekuensi Rahmi Fauziah; Anas D. Susila; Eko Sulistyono
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.138 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.1-8

Abstract

ABSTRACTShallot is one of important commodity besides chili and potatoes. Shallot is cultivated on dry land. The dry land used in Indonesia is still relatively small, while the potential of this area is considered large for the development of agriculture. Pressurized irrigation system has the advantage of efficient use of water making it suitable to be applied on dry land. The study consisted of two experiments, the effect of irrigation volume and frequency of irrigation influence on the growth of shallot. The research was conducted at the Experimental Station Teaching Farm and Postharvest Laboratory Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University from October 2014 to April 2015. The research consisted of two experiments by using a Randomized Block Design with four replications. The treatment in the first experiment was percentage of the volume of irrigation water consisting of five levels (S100% ETc, S75% ETc, S50% ETc, S25% ETc (with sprinkler) and 100% ETc conventional (without sprinkler). The treatment in the second experiment was frequency of irrigation consisting of four levels (two times a day, once a day, once in two days one and once in three days). Results of the first experiment showed the plants could growand produced up to S25% ETc or 81.17% water available for evapotranspiration, but the best treatment was S100% ETc volume irrigation, based on yields. Watering with sprinkler irrigation provided better effect than manual watering which was usually done by farmers. The second eperiment showed that the best watering frequency for vegetative growth was once a day while for total yield was twice a day.Key words: dryland, irrigation, shallot, sprinkler, total yield, vegetative growth,ABSTRAKBawang merah salah satu komoditas unggulan nasional selain cabai dan kentang. Budidaya bawang merah umumnya dilakukan pada lahan kering dan membutuhkan irigasi. Sistem irigasi bertekanan memiliki keunggulan dalam efisiensi penggunaan air sehingga cocok untuk diterapkanpada lahan kering. Penelitian terdiri atas dua percobaan, yaitu pengaruh volume irigasi dan pengaruh frekuensi irigasi terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Teaching Farm dan Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi danHortikultura, Institut Pertanian Bogor dari Oktober 2014 sampai April 2015. Penelitian terdiri atas dua percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan pada percobaan 1 adalah persentase volume air irigasi terdiri atas 5 taraf (S100% ETc, S75% ETc, S50% ETc, S25% ETc (dengan sprinkler) dan konvensional 100% ETc (tanpa sprinkler), sedangkan perlakuan pada percobaan 2 adalah frekuensi irigasi terdiri atas 4 taraf yaitu dua kali sehari, satu kali sehari, dua hari sekali, tiga hari sekali. Hasil percobaan menunjukkan tanaman masih dapat tumbuh dan berproduksi sampai volume irigasi S25% ETc atau 81.17% air tesedia sudah dievapotranspirasikan oleh tanaman, tetapi perlakuan terbaik ialah volume irigasi S100% ETc berdasarkan bobot panen total. Penyiraman dengan irigasi sprinkler memberikan efek yang sama bahkan lebih baik dibanding penyiraman secara manual yang biasa dilakukan oleh petani. Frekuensi penyiraman terbaik untuk pertumbuhan vegetatif adalah satu kali sehari sementara untuk bobot panen total adalah dua kali sehari.Kata kunci: bawang merah, hasil total, irigasi, lahan kering, pertumbuhan vegetatif, sprinkler
Identifikasi Begomovirus yang Berasosiasi dengan Penyakit Kuning pada Mentimun di Jawa Barat dan Bali Rizki Haerunisa; Gede Suastika; Tri Asmira Damayanti
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.815 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.9-20

Abstract

ABSTRACTA survey conducted from several cucumber cultivation area of West Java and Bali found some plants showing yellow mosaic, vein banding, and stunting symptoms, caused by Begomovirus infection. This study aimed to detect and determine incidence of Begomovirus on cucumber plants, and analyze variation of Begomovirus coat protein gene in West Java dan Bali. Leaf samples from 50 plants were taken randomly from each location in Sumedang, Karawang, Sukabumi (West Java) and Tabanan, Gianyar, Klungkung (Bali). Disease incidence was determined based on serological assay using specific antiserum of Tomato leaf curl New Delhi virus (ToLCNDV) dan Squash leaf curl virus (SLCV). Incidence of ToLCNDV and SLCV were 28-100% and 30-80%, respectively. PCR using Begomovirus degenerate primers successfully amplified coat protein gene about ± 550bp. There were three Begomovirus species associated with yellowing disease on cucumber plant i.e Squash leaf curl China virus (SLCCNV), ToLCNDV, and Ageratum yellow vein virus (AYVV). Based on nucleotide sequences analysis, it was found that isolate SLCCNV had highest nucleotide homology with SLCCNV isolate Malaysia (EF197940) about 94.5%, and was considered as a strain “China”, whereas ToLCNDV has highest nucleotide similarity with ToLCNDV isolate Indonesia (AB613825) about 99.4% and was considered as a strain “Indonesia”. The AYVV sequences showed highest nucleotide AYVV isolate Nicotiana benthamiana from Indonesia (AB100305) about 92.1%.Keywords: Cucumis sativus, Dot immunobinding assay, Squash leaf curl China virus, Tomato leaf curl New Delhi virusABSTRAKSurvei yang dilakukan di beberapa pertanaman mentimun di Jawa Barat dan Bali menemukan gejala mosaik kuning, daun keriting, penebalan tulang daun, dan kerdil akibat infeksi Begomovirus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan menghitung insidensi penyakit yang disebabkan oleh Begomovirus pada tanaman mentimun, serta menganalisis keragaman gen protein selubung Begomovirus di Jawa Barat dan Bali. Sampel daun diambil secara acak sebanyak 50 tanaman dari tiap lokasi pertanaman mentimun di Sumedang, Karawang, dan Sukabumi (Jawa Barat), Tabanan, Gianyar, dan Klungkung (Bali). Deteksi Begomovirus dan insidensi penyakit ditentukan dengan uji serologi DIBA menggunakan antiserum Tomato leaf curl New Delhi virus (ToLCNDV) dan Squash leaf curl virus (SLCV). Insidensi ToLCNDV dan SLCV berturut-turut berkisar 28-80% dan 30-80%. Deteksi dengan teknik PCR menggunakan primer universal Begomovirus berhasil mengamplifikasi gen protein selubung berukuran ± 550 pb. Hasil perunutan nukleotida menunjukkan terdapat tiga spesies Begomovirus yang menginfeksi tanaman mentimun di Jawa Barat dan Bali, yaitu Squash leaf curl China virus (SLCCNV), ToLCNDV, dan Ageratum yellow vein virus (AYVV). Isolat SLCCNV Bali memiliki kesamaan nukleotida dan asam amino terhadap isolat SLCCNV dari negara lainnya berkisar antara 89.8-94.5% dan 94.2-96.3%, dan dikelompokkan ke dalam strain “Cina”. ToLCNDV isolat Jawa Barat dan Bali memiliki kesamaan nukleotida dan asam amino berkisar antara 92.8-99.4% dan 97.3-99.4% dengan isolat ToLCNDV dari negara lainnya, tergolong ke dalam strain “Indonesia”. Gen protein selubung AYVV Bali memiliki kesamaan nukleotida dan asam amino berkisar antara 89.5-92.1% dan 94.7-95.2%, dengan kesamaan tertinggi dengan isolat AYVV asal Indonesia yang menginfeksi Nicotiana benthamiana.Kata kunci: Cucumis sativus, Dot immunobinding assay, Squash leaf curl China virus, Tomato leaf curl New Delhi virus.
Waktu dan Dosis Aplikasi Kalsium dan Boron untuk Pengendalian Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) di Tiga Sentra Produksi Vandra Kurniawan; Roedhy Poerwanto; Darda Efendi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.506 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.21-30

Abstract

ABSTRACTContamination of yellow sap (GK) in the mangosteen fruit leads to low quality of the mangosteen fruit. GK contamination occurs because the cell walls of the fruit is weak due to lack of calcium (Ca) and boron (B). Ca and B plays a role in maintaining the integrity of the cell wall. The study aimed to get the best treatment of dose and the time of application of Ca and B in controlling the contamination of GK on the aryl and mangosteen pericarp. This study used a nested design with 3 factors. First factor was study site, consisting of Cigudeg, Citeureup and Cikembar. The second factor was combination dose of fertilizer, consisting of control (without Ca + B), 1.6 kg Ca tree-1 + 1.553 g B tree-1, and 3.2 kg of Ca tree-1 + 1.553 g B tree-1. The third factor was time of fertilizer application, consisting of anthesis, stadia 1, and anthesis + stadia 1of fruit development. Result of the study showed that location which produced the best fruit was Cikembar where GK on aryl was 22.49% and on pericarp was 29.51%. A dose of 1.6 kg Ca tree-1 + 1.55 g B tree-1 and 3.2 kg Ca tree- 1 + 1.55 g B tree-1 were equally well in reducing GK contamination In aryl (19.91%) and pericarp (28.86%) compared to treatment without Ca and B which showed percentage of GK contaminated fruit on aryl was 50.00% and on pericarp was 56.46%. Ca and B application time was the best at stage 1, which lowered the percentage of GK contamination in aryl (40.44%) and pericarp (27.10%). Ca and B did not affect the physicochemical qualities including diameter, weight, hardness, total soluble solid, total titratable acidity of mangosteen fruit in three study sites.Keywords: fertilization, immobile nutrient, cell wall, pericarp, yellow sap.ABSTRAKCemaran getah kuning (GK) pada buah manggis menyebabkan rendahnya mutu buah manggis. Cemaran GK terjadi karena dinding sel buah lemah akibat kekurangan unsur kalsium (Ca) dan boron (B). Ca dan B berperan dalam menjaga integritas dinding sel. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis dan waktu aplikasi Ca dan B yang terbaik dalam mengendalikan cemaran GK pada aril dan kulit buah manggis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Tersarang (Nested Design) 3 faktor. Faktor ke-1 adalah lokasi penelitian, terdiri dari Cigudeg, Citeureup dan Cikembar. Faktor ke-2 adalah kombinasi dosis pupuk yaitu kontrol (tanpa Ca + B), 1.6 kg Ca pohon-1 + 1.553 g B pohon-1, dan 3.2 kg Ca pohon-1 + 1.553 g B pohon-1. Faktor ke-3 adalah waktu aplikasi pupuk yaitu pada saar antesis, Stadia 1, dan Antesis + Stadia 1 dari perkembangan buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi penelitian dengan kualitas fisik buah terbaik adalah di Cikembar dengan persentase cemaran GK pada aril (22.49%) dan kulit (29.51%). Dosis 1.6 kg Ca pohon-1 + 1.55 g B pohon-1 dan 3.2 kg Ca pohon-1 + 1.55 g B pohon-1 sama baiknya dalam menurunkan cemaran GK di aril (19.91%) dan di kulit (28.86%) dibandingkan dengan perlakuan tanpa Ca dan B menunjukkan persentase buah tercemar GK pada aril (50.00%) dan kulit (56.46%). Waktu aplikasi Ca dan B yang terbaik adalah pada stadia 1 yang menurunkan persentase cemaran GK di aril (40.44%) dan kulit (27.10%). Ca dan B tidak mempengaruhi kualitas fisikokimia yang mencakup diameter, bobot, kekerasan, padatan terlarut total, asam tertitrasi total buah manggis di tiga lokasi penelitian.Kata kunci: pemupukan, hara tidak mobil, dinding sel, pericap, getah kuning.
Identifikasi dan Telaah Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Buah-buahan Lokal untuk Meningkatkan Integrasi Pertanian dan Pariwisata di Bali I Nyoman Rai; Gede Wijana; I Putu Sudana; I Wayan Wiraatmaja; C. G. A. Semarajaya; Ni Komang Alit Astiari
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.483 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.31-39

Abstract

ABSTRACTThe rapid growth of tourism in Bali raises new issues i.e. the decline of the agricultural sector. A model of development of integration of agriculture and tourism is required to avoid further imbalance in the development of tourism and agriculture. The objective of this study was to identify and study utilization of genetic resources of local fruits in order to improve agricultural and tourism integration. The research was conducted from March to December 2015 throughout regencies in Bali, using survey method to identify the species and sub-species of local fruits, its utilization, harvest time, and superior fruits of each regency. Definition of local fruit in this study is all species and sub-species of fruit plant found in Bali, either cultivated or wild. The results showed that there were 41 species with 149 sub-species of local fruits identified. Availability of local fruits was generally still seasonal. The harvest season was dominant from December to March. Fruits were used for local consumption, exports, inter island trade, and material for rituals and culture and for tourism market. Utilization of local fruit for tourism was still limited, i.e for fresh fruit consumption (snake fruit, wani, banana, mango, orange, papaya, water melon, melon and mangosteen), for juice (passion fruit, manggo, melon, water melon, guava, strawberry, wani); raw material for wine (snake fruit, grape), raw material for massage/Spa (lemon, pineapple, avocado, papaya, strawberry, star fruit), and for agrotourism object (strawberry, snake fruit, orange and mangosteen). We suggested that effort was required to increase the utilization of local fruits for tourism activities so that it increased the welfare of the farming community in Bali.Keyword: genetic resources, local fruit, integration, agriculture, tourismABSTRAKPesatnya perkembangan pariwisata di Bali memunculkan masalah baru yaitu semakin terdesaknya sektor pertanian. Untuk menghindari semakin tidak seimbangnya antara sektorpariwisata dan pertanian dikembangkanlah model pembangunan pertanian terintegrasi dengan pariwisata. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi dan telaah pemanfaatan sumber daya genetik buah-buahan lokal untuk meningkatkan integrasi pertanian dan pariwisata. Penelitian dilakukan dari Maret sampai Desember 2015 di seluruh kabupaten di Bali, menggunakan metode survei untuk mengidentifikasi spesies dan sub-spesies sumber daya genetik buah-buahan lokal, pemanfaatannya, musim panen, dan buah unggulan kabupaten. Batasan buah lokal dalam penelitian ini adalah semua spesies dan sub-spesies buah-buahan yang ada di Bali, baik dibudidayakan atau liar. Hasil penelitian menunjukkan teridentifikasi sebanyak 41 spesies dan 149 sub-spesies buahbuahan lokal. Lokasi tumbuhnya sebagian besar tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota di Bali seperti jeruk Bali, salak, pisang, wani, mangga, manggis, durian, jambu biji, dan nangka, tetapi adayang hanya dibudidayakan atau tumbuh pada lokasi spesifik tertentu seperti stroberi, kawista, anggur, leci, dan mundu. Ketersediaan buah umumnya masih bersifat musiman, dengan musim panen dominan dari Desember sampai Maret. Produksi buah-buahan lokal Bali dimanfaatkan untuk konsumsi lokal, komoditas ekspor, perdagangan antar pulau, keperluan ritual adat dan budaya, dan pasar pariwisata. Pemanfaatan untuk pariwisata masih relatif terbatas, meliputi: (1) hasil buah untukkonsumsi segar (fresh fruit) seperti salak, wani, pisang, mangga, jeruk, pepaya, semangka, melon dan manggis; (2) hasil buah untuk bahan juice (markisa, mangga, melon, semangka, stroberi, wani); (3) hasil buah untuk bahan wine (salak, anggur), (4) bagian buah, daun, atau bagian lainnya untuk massage/spa (jeruk lemon, nenas, avokad, pepaya, stroberi, belimbing wuluh); dan (5) kebun buah untuk agrowisata (stroberi, salak, jeruk, dan manggis). Berdasarkan hasil penelitian ini perlu ada upaya nyata meningkatkan pemanfaatan buah-buahan lokal untuk pariwisata agar kesejahteraan petani buah-buahan semakin meningkat.Kata kunci: buah lokal, integrasi, pariwisata, pertanian, sumber daya genetik
Pertumbuhan Tanaman Pamelo (Citrus maxima (Burm.) Merr.) pada Berbagai Komposisi dan Volume Media Tanam Arifah Rahayu; , Setyono; Slamet Susanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.179 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.40-48

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed at determining the planting media composition and media volume for pummelo growth. A complete randomized design with two factors was arranged in this experiment. The first factor was planting media composition, consisting of (1) rice hull charcoal : soil = 1 : 1, (2) cocopeat : soil = 1 : 1, (3) cocopeat : rice hull charcoal = 1 : 1, (4) rice hull charcoal : cocopeat : soil = 1 : 1 : 1, and (5) soil as control. The second factor was media volume, namely 10, 20, and 30 L. The results showed that plant height, leaf number, root volume and P leaf concentration of pummelo grown in 30 L media were significantly higher than those of pummelo grown in 10 L media, but were not different from those of grown in 20 L media, except for leaf number. Plant height, root volume and N leaf content of pummelo grown in rice hull charcoal : soil relatively were higher than those grown in rice hull charcoal : cocopeat. Planting media composition of rice hull charcoal : cocopeat had N and C content, C/N ratio, organic matter, K2O and cation exchange capacity higher, but had water content, bulk density, particle density lower than other growing medium. The most suitable planting medium for potted pummelo was rice hull charcoal : soil, and 20 L medium volume was still suitable until 24 WAP (weeks after planting).Key words: cocopeat, N and P leaves content, rice hull charcoal, root volume,ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan volume media tanam yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman pamelo. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu komposisi media tanam dan volume media tanam. Komposisi media tanam terdiri atas lima taraf, yaitu (1) arang sekam : tanah (1:1), (2) cocopeat : tanah (1:1), (3) cocopeat : arang sekam (1:1), (4) arang sekam : cocopeat : tanah (1:1:1), dan (5) tanah (kontrol), sedangkan volume media tanam terdiri atas tiga taraf (10, 20, dan 30 L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi, jumlah daun, volume akar dan kandungan P daun tanaman pamelo pada volume media tanam 30 L lebih besar dibandingkan dengan pada media 10 L, tetapi tidak berbeda nyata dengan pada media tanam 20 L, kecuali jumlah daun. Tinggi tanaman, volume akar dan kandungan N daun tanaman pamelo pada media arang sekam : tanah relatif lebih besar dibandingkan dengan pada media arang sekam : cocopeat. Media tanam arang sekam : cocopeat memiliki kandungan N, C, nisbah C/N, bahan organik, K2O dan nilai tukar kation lebih tinggi, tetapi kadar air, bobot isi dan bobot jenis lebih rendah dibandingkan dengan media tanam lain. Dengan demikian, komposisi media tanam yang paling sesuai untuk tanaman pamelo adalah arang sekam : tanah dan volume media tanam 20 L masih sesuai untuk tanaman pamelo hingga 24 MST (minggu setelah tanam).Kata kunci: arang sekam, cocopeat, kandungan N dan P daun, volume akar
Perkecambahan Biji Dictyoneura acuminata Blume. pada Cahaya Merah dan Merah Jauh Fitri Fatma Wardani; Dian Latifah
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.81 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.49-55

Abstract

ABSTRACTDictyoneura acuminata Blume is one of species from Sapindaceae which is native to Borneo (Sabah, South Kalimantan, East Kalimantan), the Philippines, Sulawesi, Maluku and Papua New Guinea. Economically, D. acuminata is usually used as an ornamental plant because it has attractive leaves and flowers. D. acuminata propagation can be done by using seed but information on seeds and their germination is still limited. The aim of this study was to determine the pattern ofgermination and the effect of red and far red light on D. acuminata germination. The experimental design was completely randomized design with one factor and 5 levels. The factors was light with red light, far red light, dark, greenhouse control, and laboratory controls as levels. Each level was repeated 4 times with 10 seeds in each experimental unit. Data showed that far red light causes the seeds germinate 10 days faster than seeds germinated in the greenhouse. D. acuminata seedlingheight was affected by light. The seedling could grow higher when the light intensity decreased, a process called etiolation.Keywords: Dictyoneura acuminata Blume, germination, lightABSTRAKDictyoneura acuminata Blume adalah salah satu spesies dalam famili Sapindaceae yang merupakan tanaman asli Borneo (Sabah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur), Filipina, Sulawesi, Maluku dan Papua Nugini. Secara ekonomi, D. acuminata biasanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena memiliki daun dan bunga yang menarik. Perbanyakan D. acuminata dapat dilakukan dengan menggunakan biji tetapi informasi mengenai biji dan perkecambahannya masih terbatas. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui pola perkecambahan dan pengaruh cahaya merah dan merah jauh terhadap perkecambahan biji D. acuminata. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor dan 5 taraf. Faktor yang digunakan yaitu cahaya dengan cahaya merah, cahaya merah jauh, gelap, kontrol rumah kaca, dan kontrol laboratorium sebagai tarafnya. Setiap taraf diulang sebanyak 4 kali dengan 10 biji pada setiap satuan percobaan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa cahaya merah jauh menyebabkan biji berkecambah lebih cepat 10 hari dibandingkan dengan biji yang dikecambahkan di rumah kaca. Tinggi kecambah D. acuminata dipengaruhi oleh perlakuan cahaya yaitu semakin sedikit intensitas cahaya semakin panjang tinggi kecambah, suatu proses yang disebut etiolasi.Kata kunci: cahaya, Dicyoneura acuminata Blume, perkecambahan
Produksi Biomassa dan Minyak Atsiri Kemangi (Ocimum basilicum L.) pada Berbagai Dosis Pupuk Nitrogen dan Pupuk Cair Hayati Juang G. Kartika; Ketty Suketi; Nilam Mayasari
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.207 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.56-63

Abstract

ABSTRACTBasil (Ocimum basilicum L.) is one of essential oil producers. Essential oil price fluctuates, one of the reasons is because of inappropriate cultivation which vary the supply. The research was conducted to determine the best rate of nitrogen fertilizer and the effect of biological liquid fertilizer on the essential oil production of basil. The experiment was arranged in Randomized Complete Block Design with two factors. The first factor was three levels of nitrogen rate: 0, 22.5, and 45 kg ha-1 and the second factor was two levels of biological liquid fertilizer rate; 0 and 2 L ha-1 for three replications of each treatment. Nitrogen increased the number of branches, flowers, and leaf length variables. Nitrogen rate of 22.5 kg ha-1 gave a higher economic value on the basil of essential oil production. Biological liquid fertilizer increased the height and number of basil leaves variables, but it was not impacted the yield and essential oil of basil.Keywords: branches, distillation, fertilization, yieldABSTRAKKemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan salah satu sumber penghasil minyak atsiri. Harga minyak atsiri yang fluktuatif, salah satunya disebabkan budidaya yang belum tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk nitrogen terbaik dan mempelajari pengaruh pupuk cair hayati terhadap produksi minyak atsiri pada tanaman kemangi. Percobaan penelitian disusun dalam Rancangan Kelompok Lengkap Teracak terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama perlakuan dosis nitrogen 3 taraf; 0, 22.5, dan 45 kg ha-1 dan faktor kedua perlakuan dosis pupuk cair hayati 2 taraf; 0 dan 2 L ha-1 dalam 3 ulangan masing-masing perlakuan. Secara tunggal nitrogen meningkatkan peubah jumlah cabang sekunder, jumlah bunga dan panjang daun. Nitrogen dengan dosis 22.5 kg ha-1 memiliki nilai ekonomi lebih tinggi pada produksi minyak atsiri kemangi. Pengaruh pupuk cair hayati meningkatkan peubah tinggi dan jumlah daun kemangi. Pupuk cair hayati tidak mempengaruhi rendemen dan produksi minyak atsiri kemangi.Kata kunci: bobot, destilasi, pemupukan, rendemen
Flower Development and Its Implication for Seed Production on Amorphophallus muelleri Blume (Araceae) Edi Santosa; Adolf Pieter Lontoh; Ani Kurniawati; Maryarti Sari; Nobuo Sugiyama
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.06 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.65-74

Abstract

ABSTRACTThere are many studies on agronomic and economic advantages of iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume), leading to high demand on seed to support the rapid production expansion in many Asian countries. By contrast, there are few studies on flowering phenology and flower morphology although they affect the seed production. Therefore, we evaluated flowering phenology and flower morphology of 80 plants of A. muelleri grown in a field under 65% artificial shading net at Leuwikopo Experimental Farm IPB Darmaga, Bogor, Indonesia from May 2015 to July 2016 in order to improve seed production. A. muelleri produced solitary spadix, with female flowers at the lower part and male flowers at the upper part. Spadix grew slowly for 56-71 days after bud break, and then grew rapidly thereafter for 30-35 days until anthesis. Seed was harvested 9.6 to 10.2 months after anthesis. We devided the development of spadix into seven phases, bud break as stage I and berry maturity as stage VII. Stage VI to VII determined seed production. Seed production was also affected by roots formation and spadix size. There were strong positive correlations between lengths of the female zones with berry production. Some morphological characteristics of spadix were dependent on corm size, thus, it was likely that agronomic improvement to enhance female flower and corm sizes wasimportant in seed production.Keywords: developmental stage, female flower, iles-iles, male flower, seed production ABSTRAKTelah banyak kajian keunggulan agronomi dan ekonomi iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume), sehingga mendorong peningkatan permintaan benih untuk mendukung perluasan areal produksi di banyak negara Asia. Namun demikian, kajian fenologi dan morfologi bunga khususnya terkait produksi benih masih terbatas. Oleh karena itu, kami mengkaji perkembangan dan morfologi 80 bunga iles-iles yang ditanam di bawah paranet 65% di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Bogor, Indonesia dari Mei 2015 sampai Juli 2016 dalam rangka perbaikan produksi benih. Iles-iles menghasilkan sebuah tongkol bunga dengan bunga betina pada bagian bawah dan bunga jantan pada bagian atas. Tongkol bunga tumbuh lambat 58-71 hari setelah pecah tunas, diikuti tumbuh cepat 30-35 hari hingga antesis, dan biji dipanen 9.6 sampai 10.2 bulan setelahnya. Perkembangan bunga dari pecah tunas hingga buah matang dapat dibagi menjadi tujuh tahap. Tahap VI ke tahap VII menentukan keberhasilan produksi biji iles-iles. Selain itu, keberhasilan produksi biji juga dipengaruhi oleh keberadaan akar dan ukuran tongkol khususnya panjang bagian bunga betina. Beberapa karakter morfologi bunga iles-iles dipengaruhi oleh ukuran umbi saat tanam. Oleh karena itu, perlu perbaikan agronomis untuk meningkatkan ukuran umbi dan ukuran bunga betina guna mendukung produksi benih.Kata kunci: bunga betina, bunga jantan, iles-iles, produksi benih, tahap pertumbuhan

Page 10 of 33 | Total Record : 322


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue