cover
Contact Name
Wahyu Andy Nugraha
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
+6282234502425
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Jurusan Kelautan dan Perikanan, Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang PO. BOX 2 Kamal, Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan
ISSN : -     EISSN : 27237583     DOI : -
Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal aim to become a medium of dissemination of high quality research and scientific note in the fiend of marine and fisheries. This journal can be accessed and downloaded freely for everyone. The article published in this journal have been pass the rigorious peer review by the expert reviewer. This journal accept every article that contain the following, but not limited to, scope: Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal is expected to function as a medium for the dissemination of quality scientific research results as well as scientific rebuttal (notes) in the marine and fisheries sector which can be accessed online and free of charge by the Indonesian community and the international community. The articles (articles) published in this journal are articles that have passed peer-review (partner bebestari). This journal accepts every article which contains, but is not limited to, the scope: 1. Ecology and biology of marine and fisheries 2. Marine and Aquaculture 3. Marine and Aquatic Conservation 4. Marine Water Pollution 5. Management of marine and aquatic resources 6. Marine and fishery processing technology
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3: Agustus (2024)" : 15 Documents clear
Analisis Mutu Ikan Pindang Pada Pengolahan Rumah Tangga Di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan Dyah Putri Wulansari; Hafiludin Hafiludin
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.26980

Abstract

ABSTRAKTeknik pengolahan ikan di Indonesia yang sering dijumpai yaitu pemindangan. Pemindangan merupakan proses pengolahan dan pengawetan ikan dengan cara merebus dalam suatu wadah dan dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. Tujuan dari penelitian ini   untuk menganalisis karakteristik mutu secara organoleptik, kimia, dan secara mikrobiologi pada ikan pindang yang ada di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis organoleptik, proksimat, dan angka lempeng total (ALT). Hasil penelitian analisis mutu pindang salem dan layang pada pengujian organoleptik dengan parameter kenampakan, bau, rasa, tekstur, dan lendir mendapatkan nilai rata-rata 8,4±0,45 dan 8,5±0,57 sesuai standart SNI 2346.2:2015. Pindang salem dan layang mempunyai nilai kadar protein yang tinggi yaitu sebesar 21,28±0,24% dan 23,20±0,54%. Parameter biologi ALT pada pindang salem dan layang masih memenuhi standart aman untuk dikonsumsi karena kandungan ALT sesuai pada SNI 2332:3:2015. Pindang salem dan layang  telah memenuhi SNI 2717:2017 sehingga layak untuk dipasarkan dan dikonsumsi manusia.Kata Kunci: ALT, organoleptik, pemindangan ikan, proksimat.ABSTRACTFish processing techniques in Indonesia that are often encountered are pemindangan. Pemindangan is the process of processing and preserving fish by boiling it in a container and for an indefinite period of time. The purpose of this study was to analyze the organoleptic, chemical, and microbiological quality characteristics of boiled fish in Brondong District, Lamongan Regency. The analysis used in this study included organoleptic, proximate, and total plate count (TPC) analysis. The results of the analysis of the quality of boiled salem and Decapterus sp. organoleptic testing with the parameters of appearance, smell, taste, texture, and mucus obtained an average value of 8.4±0.45 and 8.5±0.57 according to the standard of SNI 2346.2:2015. Boiled salem and Decapterus sp. have high protein content values, namely 21.28±0.24% and 23.20±0.54%, respectively. The biological parameters of TPC in boiled salem and Decapterus sp. still meet the safe standards for consumption because the TPC content is in accordance with SNI 2332:3:2015. Pindang salem and Decapterus sp. have complied with SNI 2717:2017 so they are suitable for marketing and human consumption.Keywords: ALT, boiled fish, organoleptic, proximate.
Analisis Kelayakan Usaha Produk Olahan Lele Fillet dan Lele Furai Berbahan Baku Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) (Studi Kasus di UKM Enza Lele) Soraya Malika Putri; Atikah Nurhayati; Ruzky Intan Pratama; Ine Maulina
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.25347

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan usaha melalui analisis finansial jangka pendek dan penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) pada teknis produksi. Waktu dan Tempat penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2023 – Februari 2024 bertempat di UKM Enza Lele. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Metode pengambilan sampel berupa metode purposive sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan menganalisa finansial jangka pendek yang meliputi penerimaan dan keuntungan, revenue cost ratio (RC), break event point (BEP), dan rentabilitas. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh keuntungan produk lele fillet sebesar Rp. 65.148.000/tahun dan produk lele furai sebesar Rp. 83.472.000/tahun. Produk lele fillet memiliki nilai RC 1,36 dan produk lele furai memiliki nilai RC 1,5, kedua produk tersebut memiliki nilai RC 1 yaitu usaha menguntungkan dan layak diusahakan. Usaha produk lele fillet perlu menjual minimal 5.988 kemasan, sedangkan produk lele furai perlu menjual minimal 5.295 kemasan. Rasio rentabilitas usaha sebesar 60,81% yang berarti usaha mampu menghasilkan keuntungan yang dari modal yang diinvestasikan. Berdasarkan hasil observasi penerapan GMP, UKM Enza Lele sesuai dalam menerapkan standar GMP yang telah ditetapkan oleh peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/PERMEN-KP/2019 Tahun 2019, mencakup pada seleksi bahan baku, penanganan dan pengolahan ikan, penanganan dan penggunaan bahan tambahan, pengemasan, dan penyimpanan hasil produksi.Kata kunci: Analisis Finansial, Good Manufacturing Practice, Lele Fillet, dan Lele furaiABSTRAKThe purpose of this study is to analyze business feasibility through short-term financial analysis and the application of Good Manufacturing Practice (GMP) to technical production. Time and Place The research will be carried out in December 2023 – February 2024 at Enza Lele UKM. This research uses the case study method. The sampling method is in the form of purposive sampling method. The analysis used is quantitative descriptive analysis by analyzing short-term finances which include revenue and profits, revenue cost ratio (RC), break event point (BEP), and profitability. Based on the results of the study, the profit of fillet catfish products amounted to Rp.65.148.000 /year and furai catfish products amounted to Rp 83.472.000/ year. Fillet catfish products have an RC value of 1.36 and furai catfish products have an RC value of 1.5, both products have an RC value of 1, which is a profitable business and worth trying. The fillet catfish product business needs to sell a minimum of 5.988 packaging, While furai catfish products need to sell a minimum of 5.295 packaging. The business profitability ratio is 60,81% which means that the business is able to generate profits from the capital invested. Based on the results of observations on the implementation of GMP, Enza Lele SMEs are in accordance with implementing GMP standards set by the regulation of the Minister of Marine Affairs and Fisheries Number 17 / PERMEN-KP / 2019 of 2019, including the selection of raw materials, handling and processing fish, handling and using additional materials, packaging, and storage of production results. Kata kunci: Catfish Fillet, Catfish furai, Financial Analysis, and Good Manufacturing Practice.
Pengaruh Pemberian Cangkang Sotong (Sepia sp) Terhadap Pertumbuhan dan Frekuensi Molting Pada Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) Di Bak Pemeliharaan Moch. Rifaldi Cakra Bagaskara; Achmad Kusyairi; Maria Agustini; Sri Oetami Madyowati
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.23937

Abstract

ABSTRAK Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan spesies endemik Indonesia dan menjadi salah satu yang memiiki potensi komersial menjadi komoditi unggulan perikanan budidaya air tawar di Indonesia. Namun pada budidayanya sering dijumpai kendala, baik dari tingkat kelulusan hidup yang rendah akibat kanibalisme dan kegagalan pada saat molting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapakah dosis cangkang sotong yang terbaik terhadap pertumbuhan dan frekuensi molting udang galah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental. Desain yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan. Perlakuan terdiri dari; Perlakuan A (0% serbuk cangkang sotong), Perlakuan B (5% serbuk cangkang sotong), Perlakuan C (10% serbuk cangkang sotong), Perlakuan D (15% serbuk cangkang sotong). Udang galah yang digunakan memiliki berat rata-rata awal 3,5 gr. Parameter uji adalah pertumbuhan berat mutlak dan frekuensi molting pada udang galah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis terbaik pemberian serbuk cangkang sotong ke dalam pakan untuk mempercepat proses molting udang galah pada penelitian ini adalah pada perlakuan B (5% serbuk cangkang sotong) 1,57 kali/ekor, yaitu menghasilkan tingkat pertumbuhan berat mutlak sebesar 12,3 g.Kata kunci: cangkang sotong, pertumbuhan, frekuensi molting, udang galah (Macrobrachium rosenbergii), kualitas airABSTRACTFreshwater prawns (Macrobrachium rosenbergii) are an endemic species to Indonesia and are one that has commercial potential to become a leading commodity in freshwater aquaculture in Indonesia. However, in its cultivation problems are often encountered, both from low survival rates due to cannibalism and failure during molting. The aim of this research was to find out what is the best dose of cuttlefish shells for the growth and molting frequency of prawns. The research method used was experimental research. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 (four) treatments. Treatment consists of; Treatment A (0% cuttlefish shell powder), Treatment B (5% cuttlefish shell powder), Treatment C (10% cuttlefish shell powder), Treatment D (15% cuttlefish shell powder). The prawns used had an initial average weight of 3.5 grams. The test parameters are absolute weight growth and molting frequency in prawns. The results of the research showed that the best dose of giving cuttlefish shell powder in the feed to speed up the molting process of freshwater prawns in this study  was treatment B (5% cuttlefish shell powder) 1.57 times/head, which resulted in an absolute weight growth rate of 12.3 g.Keywords: cuttlefish shell, growth, molting frequency, giant prawn (Macrobrachium rosenbergii), water quality
Perbandingan Kepadatan Bakteri Vibrio spp. pada Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Lokasi Berbeda Muhammad Aris; Gamal M Samadan; Masrida Ode Ane
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.22327

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan estimasi kepadatan koloni bakteri Vibrio spp. pada bulan September - Januari 2023 di tambak Balai Budidaya Laut dan Payau (BBLP) Desa Porniti (Lokasi 1) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kelautan dan Perikanan Desa Tuada (Lokasi 2) Kabupaten Halmahera Barat. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode survei dan sampling langsung pada kedua tambak. Pengukuran kualitas air dilakukan secara insitu terhadap suhu, salinitas, DO,suhu, dan pH. Isolasi dan kepadatan bakteri dihitung pada organ hepatopancreas udang dan media air. Kepadatan bakteri Vibrio dianalisis menggunakan uji t sedangkan data lainnya dianalisa secara deskriptif dan ditampilkan dalam tabel dan grafik. Hasi analisis menunjukan bahwa kepadatan bakteri Vibrio spp pada lokasi 1 mencapai rata-rata 3,0x102 CFU/g dan media air mencapai rata-rata 1,2x103 CFU/mL sedangkan pada lokasi 2 mencapai rata-rata 4,2x102 CFU/g dan media air mencapai hingga 1,6x103 CFU/mL. Kedua lokasi ditemukan bakteri Vibrio spp. Pada organ hepatopancreas dan media air. Kepadatan bakteri tertinggi diperoleh di lokasi kedua.Kata kunci:  Tambak, vaname, Vibrio, Densitas, HepatopankreasABSTRACTThis study aims to isolate and estimate the colony density of Vibrio spp. bacteria in September - January 2023 in the ponds of the Marine and Brackish Aquaculture Center (BBLP) Porniti Village (Location 1) and the Regional Technical Implementation Unit (UPTD) of the Marine and Fisheries Service Tuada Village (Location 2) West Halmahera Regency. Sampling was conducted using survey and direct sampling methods in both ponds. Water quality measurements were carried out in situ on temperature, salinity, DO, temperature, and pH. Isolation and density of bacteria were calculated in the shrimp hepatopancreas organ and water media. Vibrio bacteria density was analyzed using t test while other data were analyzed descriptively and displayed in tables and graphs. The analysis showed that the density of Vibrio spp bacteria at location 1 reached an average of 3.0x102 CFU/g and water media reached an average of 1.2x103 CFU/mL while at location 2 reached an average of 4.2x102 CFU/g and water media reached up to 1.6x103 CFU/mL. Both locations found Vibrio spp. bacteria in the hepatopancreas organ and water media. The highest bacterial density was obtained in the second location.Keywords: Pond, vaname, Vibrio, Density, Hepatopancreas
Frekuensi Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Rasio Konversi Pakan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Hendrahmat Ocktovian; Nasmia Nasmia; Novalina Serdiati
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.27168

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan frekuensi pemberian pakan dan mengetahui frekuensi pemberian pakan yang optimal untuk pertumbuhan dan Rasio Konversi Pakan (FCR) udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian dilaksanakan pada Bulan Januari 2024. Penelitian dilakukan di Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Kampal Instalasi Mamboro, Kelurahan Mamboro, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan, sehingga diperoleh 20 unit percobaan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (Anova) dan uji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ), sedangkan data kualitas air dan kelangsungan hidup dianalisis secara deskriptif. Frekuensi pemberian pakan yang berbeda berpengaruh nyata (P0,05) terhadap pertumbuhan mutlak udang vanname (Litopenaeus vannamei) dan berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap pertumbuhan harian rata-rata udang vanname (Litopenaeus vannamei). Pertumbuhan mutlak dan pertumbuhan harian rata-rata pada frekuensi pemberian pakan 8 kali/hari lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali/hari, 4 kali/hari dan 6 kali/hari. Frekuensi pemberian pakan yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap rasio konversi pakan (FCR). FCR pada frekuensi pemberian pakan 8 kali/hari lebih rendah dibandingkan pada frekuensi pemberian pakan 2 kali/hari, 4 kali/hari dan 6 kali/hari. Tingkat kelangsungan hidup udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada frekuensi pemberian pakan 4 kali/hari lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi pemberian pakan 8 kali/hari, 2 kali/hari dan 6 kali/hari. Frekuensi pemberian pakan yang baik yaitu pada frekuensi pemberian pakan 8 kali/hari yang menghasilkan pertumbuhan mutlak tinggi, pertumbuhan harian rata-rata tinggi dan FCR yang rendah.Kata Kunci: Vaname, Frekuensi, Pertumbuhan, FCRABSTRACTThis study aims to determine the effect of different feeding frequencies and determine the optimal feeding frequency for growth and Feed Conversion Ratio (FCR) of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei). The research was conducted in December 2024. Located at the Beach Fish Seed Center (BBIP) Kampal Mamboro Installation, Mamboro Village, Palu City, Central Sulawesi Province. This study was designed using a completely randomized design (RAL) consisting of 4 treatments and 5 replicates, so that 20 experimental units were obtained. Data were analyzed using analysis of variance (Anova) and further test using honest real difference test (BNJ), while water quality and survival data were analyzed descriptively. Different feeding frequencies had a significant effect (P0.05) on absolute growth of vanname shrimp (Litopenaeus vannamei) and very significant effect (P0.01) on average daily growth of vanname shrimp (Litopenaeus vannamei). Absolute growth and average daily growth at a feeding frequency of 8 times/day higher than the frequency of feeding 4 times / day, 6 times/day and 2 times/day. Different feeding frequency had a very significant effect (P0.01) on feed conversion ratio (FCR). FCR at a feeding frequency of 8 times/day was lower than at a feeding frequency of 4 times/day, 6 times/day and 2 times/day. The survival rate of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) at a feeding frequency of 4 times/day is higher than the feedingfrequency of 8 times/day, 2 times/day and 6 times/day. The best feeding frequency is at a feeding frequency of 8 times/day which results in absolute growth, high average daily growth and low FCR. Keywords: Frequency, Growth, FCR
Pengaruh Kombinasi Pakan Alternatif Dengan Presentase Yang berbeda Terhadap Pertumbuhan Berat Mutlak Benih Lobster Air tawar (Cherax quadricarinatus) Shelly Aprilia Faradela; Didik Budiyanto; Sri Oetami Madyowati; Achmad Kusyairi
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.24303

Abstract

ABSTRAK Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) merupakan komoditas air tawar yang potensial untuk dibudidayakan. Harga jual yang relatif tinggi, sampai saat ini permintaan pasar lobster air tawar baik dalam keadaan hidup maupun beku cukuplah besar. Pertumbuhan lobster air tawar ditunjang oleh ketersediaan pakan dalam jumlah yang cukup. Saat ini, melonjaknya harga pakan menimbulkan dilema bagi pembudidaya. Salah satu alternatif untuk menekan biaya produksi adalah dengan memanfaatkan pakan alternatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kombinasi pakan alternatif nabati dan hewani manakah yang cocok untuk menghasilkan pertumbuhan benih lobster air tawar yang optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental. Desain yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 (lima) perlakuan. Perlakuan terdiri dari; Perlakuan (A) Pakan Alternatif Nabati (100%) + Pakan Alternatif Hewani (0%), Perlakuan (B) Pakan Alternatif Nabati (75%) + Pakan Alternatif Hewani (25%), Perlakuan (C) Pakan Alternatif Nabati (50%) + Pakan Alternatif Hewani (50%), Perlakuan (D) Pakan Alternatif Nabati (25%) + Pakan Alternatif Hewani (75%), Perlakuan (E) Pakan Alternatif Nabati (0%) + Pakan Alternatif Hewani (100%). Benih LAT yang digunakan memiliki berat awal 10 gr degan panjang 12 cm. Parameter uji adalah pertumbuhan berat mutlak pada benih LAT yang dihitung pada awal dan akhir penelitian, serta disampling setiap minggu. Data yang diperoleh selama penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan D (Pakan Nabati 25% + Pakan Hewani 75%) menghasilkan pertumbuhan berat mutlak tertinggi sebesar 10 gram.Kata kunci: lobster air tawar, pakan alternatif, kombinasi pakan, berat mutlak.ABSTRACTFreshwater lobster (Cherax quadricarinatus) is a freshwater commodity that has potential for cultivation. The selling price is relatively high, so currently the market demand for freshwater lobsters, both live and frozen, is quite large. The growth of freshwater lobsters is supported by the availability of sufficient amounts of food. Currently, soaring feed prices are creating a dilemma for farmers. One alternative to reduce production costs is to use alternative feed. The aim of this research is to find out which combination of alternative plant and animal feeds is suitable for producing optimal growth of freshwater lobster seeds. The research method used is experimental research. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 5 (five) treatments. Treatment consists of; Treatment (A) Vegetable Alternative Feed (100%) + Animal Alternative Feed (0%), Treatment (B) Vegetable Alternative Feed (75%) + Animal Alternative Feed (25%), Treatment (C) Vegetable Alternative Feed (50% ) + Animal Alternative Feed (50%), Treatment (D) Vegetable Alternative Feed (25%) + Animal Alternative Feed (75%), Treatment (E) Vegetable Alternative Feed (0%) + Animal Alternative Feed (100%). The LAT seeds used had an initial weight of 10 grams with a length of 12 cm. The test parameter is the absolute weight growth of LAT seeds.Key words: freshwater lobster, alternative feed, combination of feed, absolute weigh.
Tingkat Kerentanan Ekosistem Mangrove di Bangkalan Terhadap Variabel Oseanografi Fitria Hersiana Afifa; Farah Gustiana Jana; M. Latif
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.27267

Abstract

ABSTRAKWilayah pesisir memiliki tingkat pemanfaatan yang tinggi, namun di sisi lain wilayah ini sangat mudah mengalami perubahan sehingga dapat dikatakan wilayah pesisir merupakan wilayah yang sangat dinamis. Dinamis yang dimaksud yaitu sangat rentan terpengaruh oleh berbagai aktivitas yang terjadi. Apabila mendapat masukan material dari sungai, maka daerah tersebut akan mengalami penambahan luas wilayah atau disebut dengan akresi. Fenomena tersebut dapat terjadi karena ketidak seimbangan pergerakan sedimen dan menyebabkan kerentanan pada ekosistem. Kondisi pesisir di Kabupaten Bangkalan merupakan wilayah yang menjadi aktivitas manusia. Wilayah pesisir yang terdapat hutan mangrove juga terdapat kapal-kapal nelayan yang beraktivitas salah satunya ada di Kecamatan Socah. Penelitian dilakukan di pesisir Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Lokasi titik pengambilan data dilakukan di wilayah pesisir sehingga menjadi 4 (empat) stasiun pengamatan. Dasar penentuan dua stasiun di bagian timur yaitu dengan melihat daerah pesisir yang masih ditemukan vegetasi mangrove. Jenis Mangrove yaitu Stasiun pertama dan kedua ditemukan mangrove dengan jenis Rhizophora mucronata dan Avicennia alba, sedangkan pada stasiun ketiga dan stasiun keempat ditemukan mangrove dengan jenis Rhizophora mucronata, Avicennia alba dan Avicennia marina. Selain jenis mangrove, terdapat pengukuran lainnya seperti tekstur sedimen, laju sedimentasi, salinitas sedimen, nitrat dan fosfat sedimen. Metode yang digunakan dalam pengukuran indeks kerentanan mangrove yaitu menggunakan metode MVI (Mangrove Vulnerability Index) . Hasil yang diperoleh dari analisis indeks kerentanan yaitu berkisar antara peringkat 3.1 sampai dengan 3.4, hal ini menunjukan bahwa tingkat kerentanan pada ekosistem mangrove di Kecamatan Socah masuk dalam ketegori tinggi.Kata Kunci: Mangrove, Kerentanan, Pesisir, SocahABSTRACTCoastal areas have a high level of utilization, but on the other hand, this area is very easily subject to change, so it can be said that coastal areas are very dynamic areas. The dynamic is that it is very susceptible to being influenced by various activities that occur. If you receive material input from rivers, the area will experience an increase in area or what is called accretion. This phenomenon can occur due to imbalance in sediment movement and cause vulnerability to the ecosystem. Coastal conditions in Bangkalan Regency are areas subject to human activity. Coastal areas containing mangrove forests also have fishing boats active, one of which is in Socah District. The research was conducted on the coast of Socah District, Bangkalan Regency. The location of data collection points was carried out in coastal areas, resulting in 4 (four) observation stations. The basis for determining the two stations in the east is to look at coastal areas where mangrove vegetation is still found. Mangrove types, namely at the first and second stations, mangroves were found with the types Rhizophora mucronata and Avicennia alba, while at the third and fourth stations mangroves were found with the types Rhizophora mucronata, Avicennia alba and Avicennia marina. Apart from the type of mangrove, there are other measurements such as sediment texture, sedimentation rate, sediment salinity, sediment nitrate and phosphate. The  method  used  to  measure  the  mangrove  vulnerability  index  is the MVI (Mangrove Vulnerability Index) method. The results obtained from the vulnerability index analysis ranged from 3.1 to 3.4, this shows that the level of vulnerability in the mangrove ecosystem in Socah District is in the high category.Key words: Mangrove, Vulnerability, Coastal, Socah
Pola Distribusi Populasi Cypraea tigris Linnaeus 1758 Di Ekosistem Intertidal Pantai Bilik Taman Nasional Baluran Rendy Setiawan; Retno Wimbaningrum; Arif Pratiwi; Mufidatul Khoironiyah
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.23562

Abstract

ABSTRAKPerairan Indonesia memiliki keanekaragaman jenis organisme laut yang beragam dan salah satu contohnya adalah Gastropoda. Gastropoda merupakan hewan invertebrata dari Filum Moluska yang bercangkang tunggal (univalvia) atau tidak bercangkang. Salah satu Gastropoda bercangkang tunggal adalah Cypraea tigris. Cypraea tigris merupakan anggota famili Cypraeidae yang ditemukan hidup pada perairan dangkal hingga laut dalam di wilayah tropis dan subtropis. Biota ini memiliki peran ekologis antara lain sebagai detritivor, omnivor, dan hiperakumulator, serta memiliki peran ekonomis dapat dikonsumsi dagingnya dan dapat diperjualbelikan cangkangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan pola distribusi populasi C. tigris di ekosistem intertidal Pantai Bilik Taman Nasional Baluran. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode plot-transek dengan cara meletakkan plot pada garis transek. Analisis data menggunakan rumus kepadatan jenis dan Indeks Morisita. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan populasi C. tigris pada ekosistem ini adalah 0,04 individu/m2 yang tergolong kategori rendah dan tipe pola distribusinya adalah mengelompok.Kata Kunci: C. tigris, Pantai Bilik, Taman Nasional BaluranABSTRACTIndonesian waters have a wide diversity of marine organisms and one example is Gastropoda. Gastropods are invertebrate animals from the Mollusc Phylum that are single-shelled (univalvia) or non-shelled. One of the single-shelled Gastropods is Cypraea tigris. Cypraea tigris is a member of the Cypraeidae family found living in shallow to deep waters in tropical and subtropical regions. This biota has an ecological role, among others, as a detritivor, omnivore, and hyperaccumulator, and has an economic role that can be consumed for meat and can be traded for its shell. This study aims to determine the density and distribution pattern of the C. tigris population in the intertidal ecosystem of Bilik coastal, Baluran National Park. This research was conducted using the plot-transect method by placing plots on transect lines. Data analysis used the species density formula and Morisita Index. The results showed that the population density of C. tigris in this ecosystem was 0.04 individuals/m2 which was classified as low and the type of distribution pattern was clustered.Keywords: C. tigris, Bilik Coast, Baluran National Park
Kelimpahan Vibrio spp. di Perairan Pesisir Kabupaten Halmahera Barat Tamrin Tamrin; Joshian Nicolas William Schaduw; Haryani Sambali; Adnan Sjaltout Wantasen; Desy Maria Helena Mantiri; Rene Charles Kepel; Winda Mercedes Mingkid; Ockstan Jurike Kalesaran; Nurhalis Wahidin; Muhammad Aris; Taufiq Abdullah
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.23996

Abstract

ABSTRAKVibrio spp. adalah bakteri gram negatif yang biasa ditemukan di lingkungan estuari, pesisir, dan laut. Vibrio spp. merupakan patogen utama bagi kesehatan manusia dan organisme akuatik. Memahami kelimpahan Vibrio spp. sangat penting untuk dilakukan mengingat resiko terhadap kesehatan manusia, potensi kerusakan lingkungan serta ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kelimpahan Vibrio spp. di perairan pesisir Kabupaten Halmahera Barat. Terdapat sembilan kawasan pengamatan, yaitu Toniku, Tewe, Dodinga, Tuada, Porniti, Payo, Bobo, Sahu, dan Ibu. Sampel air dari bagian permukaan perairan sebanyak 100 ml dimasukan ke dalam botol steril. Pengamatan kelimpahan Vibrio spp. dilakukan dengan metode total plate count (TPC) pada media agar thiosulfate citrate bile salt sucrose (TCBS) yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 28°C. Hasil penelitian ini mengungkapkan Vibrio spp. pada perairan pesisir Kabupaten Halmahera Barat terdapat dalam 2 kelompok koloni, yaitu koloni hijau dengan kelimpahan 1,80 x 102 - 5,00 x 104 CFU/mL dan koloni kuning 2,20 x 103 - 3,08 x 105 CFU/mL. Kesimpulan penelitian ini adalah kelimpahan Vibrio spp. pada sembilan kawasan berkisar antara 102 - 105 CFU/mL.Kata kunci: Bakteri Vibrio spp., Koloni hijau, Koloni kuning, Total plate count.ABSTRACTVibrio spp. are gram-negative bacteria commonly found in estuary, coastal, and marine environments. Vibrio spp. are major pathogens to human health and aquatic organisms. Understanding the abundance of Vibrio spp. is very important given the risk to human health andpotential environmental and economic damage. This study explores the abundance of Vibrio spp. in the coastal waters of West Halmahera Regency. There were nine observation areas: namely Toniku, Tewe, Dodinga, Tuada, Porniti, Payo, Bobo, Sahu, and Ibu. Water samples from the surface waters, as much as 100 ml were put into sterile bottles. The abundance of Vibrio spp. was determined using the total plate count (TPC) method on thiosulfate citrate bile salt sucrose (TCBS) agar media, which were then incubated for 24 hours at 28°C. The results of this study revealed Vibrio spp. in coastal waters of West Halmahera Regency were found in 2 colony groups, namely green colonies with an abundance of 1.80 x 102 - 5.00 x 104 CFU/mL and yellow colonies 2.20 x 103 - 3.08 x 105 CFU/mL. The conclusion of this study is the abundance of Vibrio spp. in nine areas ranging from 102 - 105 CFU/mL.Keywords: Green colonies, Total plate count, Vibrio spp bacteria, Yellow colonies.
Pola Distribusi Teripang di Perairan Kabupaten Bangkalan Febi Ayu Pramithasari; Arinda Widya Wardhana; Haryo Triajie
Juvenil Vol 5, No 3: Agustus (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i3.27301

Abstract

ABSTRAKTeripang merupakan salah satu invertebrata bentik penting dalam ekosistem laut serta memiliki nilai ekonomis. Biota ini juga tersebar di hampir seluruh habitat laut dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi substrat hidup teripang yang ditemukan di perairan Kabupaten Bangkalan serta menganalisis pola distribusi yang merupakan salah satu strategi teripang dalam beradaptasi. Penelitian ini dilakukan pada Agustus-September 2023 di perairan Kabupaten Bangkalan khususnya yang meliputi kecamatan Kamal hingga Socah. Pengambilan sampel meliputi sampel biota dan sedimen. Sedimen yang diperoleh dianalisis dengan metode pengayakan dan diplot mengikuti metode Folks. Sedangkan untuk mengetahui pola distribusi teripang dilakukan analisis dengan menggunakan Indeks Morisita. Terdapat 4 jenis teripang yang ditemukan yaitu Phyllophorus sp. (teripang lokal/bola), Acaudina leucoprocta (teripang blonyo), Phyllophorella spiculata (teripang gimbul), dan Colochirus quadrangularis (teripang merah) dengan komposisi terbesar adalah pada jenis Phyllophorus sp.. Sedimen di lokasi kajian termasuk tipe sedimen pasir halus kecuali pada 2 stasiun yang termasuk sedimen dengan tipe muddy sand (pasir berlumpur). Nilai indeks morisita keempat spesies berkisar 0.5517-0.8087. Nilai indeks morisita 0 menunjukkan pola distribusi yang Mengelompok (clumped). Kondisi ini diduga merupakan adaptasi atau strategi yang dilakukan oleh teripang untuk proses pencarian makanan, perlindungan terhadap predator, serta keberhasilan proses pemijahan.Kata kunci: bangkalan, indeks morisita, pola distribusi, teripangABSTRACTSea cucumbers are important benthic invertebrates in marine ecosystems and hold significant economic value. These organisms are widespread across nearly all marine habitats and exhibit the ability to adapt to various environmental conditions. This study aims to assess the substrate conditions where sea cucumbers are found in the waters of Bangkalan Regency and to analyze the distribution patterns as a strategy for adaptation. The research was conducted from August to September 2023 in the waters of Bangkalan Regency, specifically from the Kamal subdistrict to Socah. Sampling included both biota and sediment. Sediment samples were analyzed using sieving methods and plotted following the Folk's classification. The distribution patterns of sea cucumbers were analyzed using the Morisita Index. Four species of sea cucumbers were identified: Phyllophorus sp. (local sea cucumber/bola), Acaudina leucoprocta (blonyo sea cucumber), Phyllophorella spiculata (gimbul sea cucumber), and Colochirus quadrangularis (red sea cucumber), with Phyllophorus sp. being the most prevalent. The sediment at the study sites was predominantly fine sand, except at two stations where the sediment type was classified as muddy sand. The Morisita Index values for the four species ranged from 0.5517 to 0.8087. Morisita Index values greater than 0 indicate a clumped distribution pattern. This condition is hypothesized to be an adaptation or strategy employed by sea cucumbers for foraging, predator protection, and successful spawning.keyword: bangkalan, distribution pattern, morisita index, sea cucumber

Page 1 of 2 | Total Record : 15