cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin PSP
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin PSP merupakan jurnal ilmiah dengan jadwal penerbitan 3 kali dalam satu tahun. Jurnal ini menyebarkan informasi ilmiah kepada para peneliti, akademisi, praktisi dan pemerhati mengenai pemanfaatan sumberdaya perikanan di Indonesia yang meliputi berbagai aspek seperti teknologi eksploitasi dan eksplorasi, perkapalan dan navigasi, pelabuhan perikanan, tingkah laku ikan, peraturan dan perundangan serta kebijakan dan pengelolaan sumberdaya perikanan secara umum. Naskah yang dimuat dalam buletin ini berasal dari penelitian atau ulasan staf pengajar/akademisi dari berbagai universitas di Indonesia, lembaga pemerintahan dan pemerhati permasalahan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap di Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN UNGGULAN DI PERAIRAN SELAT ALAS NUSA TENGGARA BARAT Karnan Karnan; Mulyono S. Baskoro; Budhi H. Iskandar; Ernani Lubis; Mustaruddin Mustaruddin
Buletin PSP Vol. 20 No. 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perikanan tangkap di Selat Alas, Nusa Tegggara Barat menyumbang peranan penting tidak hanya untuk nelayan, tetapi juga untuk masyarakat setempat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sumber daya ikan di daerah ini membutuhkan pengelolaan yang tepatdengan segera. Namun, informasi ilmiah sebagai pilihan pengelolaan komoditas di daerah ini sangat miskin. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prioritas yang dipilih dari sumber daya ikan, menilai saham dan mendefinisikan status eksploitasi prioritas yang dipilihdari sumber daya ikan yang ditangkap di Selat Alas. Metode scoring diterapkan untuk memilih sumber daya ikan, sementara surplus model produksi yang digunakan untuk menilai ukuran saham. Ada lima spesies ikan yang diidentifikasi sebagai prioritas pilihan yaitu cumi, sarden,ikan kakap merah, ikan teri, dan ikan haring. Dari lima ikan yang dipilih, hasil tertinggi maksimum lestari (MSY) masing-masing adalah ikan teri (7,915.76 ton/tahun) diikuti oleh kakap merah (2,00.01 ton/tahun), sarden (1,282.21 ton/tahun), herring (867,49 ton/tahun), dancumi-cumi (638,40 ton/tahun). Status eksploitasi komoditas terpilih tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu lebih MSY (cumi), lebih dari total tangkapan yang diperbolehkan (TAC), tetapi lebih rendah dari MSY (sarden dan herring) dan lebih rendah dari TAC (ikan teridan ikan kakap merah).  Berdasarkan status eksploitasi mereka, cumi, sarden, dan ikan haring adalah tiga dari lima prioritas ikan yang dipilih di Selat Alas yang benar-benar segera membutuhkan manajemen yang serius dan tepat. Kata kunci: kelautan, MSY, perikanan tangkap, Selat Alas, TAC
PERANGKAP “JUVELOB” SEBAGAI ALTERNATIF ALAT PENANGKAP JUVENIL LOBSTER Sulaeman Martasuganda; Iwan Dirwana; Zulkarnain Zulkarnain
Buletin PSP Vol. 20 No. 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini telah dilakukan di perairan Desa Sanggra Wayang Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat dengan target tangkapan juvenil lobster. Alat tangkap yang diujicobakan dalam penelitian ini berbentuk perangkap yang terbuat dari jaring waring (Polyamide) yang disebut dengan perangkap “juvelob” (juvenil lobster) dengan 7 rangkaian perangkap yang dipasang secara vertikal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan alat tangkap dalam memperoleh juvenil lobster dan untuk menganalisis hasil tangkapan juvenil lobster berdasarkan perbedaan kedalaman alat tangkap dari permukaan air. Kegiatan operasi penangkapan telah dilakukan 22 trip sebagai ulangan dan diperoleh hasil tangkapan sebanyak 52 ekor juvenil lobster yang terdiri dari jenis lobster bambu hijau (Panulirus versicolor, Latreille 1804) berjumlah 6 ekor, lobster hijau pasir (Panulirus homarus, Linnaeus 1758) berjumlah 21 ekor, lobster mutiara (Panulirus ornatus, Fabricius 1798) (Holthuis, 1991) berjumlah 2 ekor dan juvenil lobster (transparan) 23 ekor.  Hasil tangkapan sampingan terdiri dari 263 ekor udang rebon , 27 ekor anak kepiting, 4 ekor ikan kepe-kepe, 9 ekor ikan beloso, 13 ekor  ikan blodok, 27 ekor benih udang ronggeng, 3 ekor benih belut laut, 5 ekor juvenil buntal, 2 ekor ikan blue angle fish, 34  ekor  udang putih merah, 62 ekor ikan monster dan 16 ekor udang hijau. Semua hasil tangkapan juvenil lobster ditampung dalam kotak penampungan fiber glass dalam keadaan hidup. Berdasarkan hasilpenelitian menunjukkan bahwa juvenil lobster dapat ditangkap dengan alat tangkap perangkap juvelob yang terbuat dari waring dan perbedaan pelakuan dari kedalaman perangkap terhadap hasil tangkapan berbeda nyata. Hasil penelitian ini menjanjikan untuk dapat mendukung pengembangan budidaya pembesaran lobster melalui perolehan benih lobster dari alam. Kata kunci: perangkap juvelob, juvenil lobster
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN PERAN STAKEHOLDERS UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN BERBASIS PENANGKAPAN DI PENGAMBENGAN, JEMBRANA-BALI Mustaruddin Mustaruddin
Buletin PSP Vol. 20 No. 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengambengan dipilih sebagai sasaran pengembangan kawasan minapolitan sekitar 75,3% kegiatan perikanan Kabupaten Jembrana terjadi di Pengambengan. Selain itu, sekitar 6.935 dari 10.149 RTN beraktivitas di sana. Metode yang digunakan dalam penelitian inimencakup analisis fisiko-kimia, analisis bivariat correlation, dan analisis QSPM. Dari aspek lingkungan, pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan masih terkendala oleh kondisi perairan yang sedikit tercemar oleh deterjen (1,02 ppm) dan logam berat Pb (0,0011ppm). PEMDA dan nelayan mempunyai tingkat peran “kuat’ bagi pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan, yang ditunjukkan oleh NK masing-masing 0,713 dan 0,645. Industri perikanan mempunyai tingkat peran “sedang” (NK 0,379), sedangkan usahapendukung/jasa perikanan seta masyarakat mempunyai tingkat peran “sangat kuat” bagi pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan, dengan NK masing-masing 0,785 dan 0,814.  Praktek produksi bersih dalam penangkapan dan penanganan industri perikananmerupakan strategi terpilih (TNKO= 5,65) untuk mendukung  pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan di Pengambengan, Kabupaten Jembrana.Kata kunci: lingkungan, minapolitan, perikanan tangkap, tingkat peran
STRATEGI NELAYAN DALAM MENGHADAPI DAMPAK REKLAMASI DI TELUK JAKARTA Nono Sampono; Ari Purbayanto; John Haluan; Budy Wiryawan; Ahmad Fauzi
Buletin PSP Vol. 20 No. 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reklamasi merupakan salah satu jalan untuk mengatasi kebutuhan lahan di DKI Jakarta yang terus meningkat. Program reklamasi yang akan dilaksanakan di Teluk Jakarta tentunya membawa dampak terhadap aktivitas perikanan yang  saat ini telah berlangsung. Penelitian inibertujuan untuk mengidentifikasi dampak reklamasi terhadap aktivitas perikanan dan strategi adaptasi nelayan untuk menghadapi dampak tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dogol, bagan, payang, gillnet dan budidaya kerang hijau merupakan jenis aktivitas perikananyang akan menerima dampak reklamasi dimana gangguan terhadap jalur kapal, rusaknya sumber daya ikan dan gangguan terhadap budidaya kerang hijau merupakan jenis dampak yang paling dominan.  Nelayan akan tetap menjalankan profesinya sebagai nelayan meskipun terjadi penurunan hasil tangkapan atau harus berpindah ke lokasi lain sebagai dampak dari kegiatan reklamasi. Kata kunci: dampak, perikanan, reklamasi, Teluk Jakarta
ANALISIS HUKUM INTERNASIONAL DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN DI LAUT LEPAS UNTUK MEWUJUDKAN PERIKANAN BERKELANJUTAN Ady Candra; Budy Wiryawan; Mulyono S. Baskoro; Arif Satria
Buletin PSP Vol. 20 No. 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi perikanan dunia semakin menurun, sehingga beberapa hukum internasional dikeluarkan untuk mengatasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis landasan hukum pengelolaan perikanan di laut lepas; dan (2) memaparkan organisasiorganisasi sub-regional dan regional perikanan yang terbentuk di wilayah laut lepas yang berbatasan dengan perairan Indonesia. Metode dalam penelitian ini adalah analisis yuridis normatif melalui pendekatan yuridis historis dan yuridis  komparatif. Analisis hukum mengungkapkan terdapat lima hukum internasional yang mengatur pemberantasan IUU  Fishing, yaitu UNCLOS 1982, FAO Compliance Agreement 1993, UNIA 1995,CCRF 1995, danIPOA on IUU Fishing 2001. Sementara RFMO yang berbatasan dengan perairan Indonesia, adalah IOTC, WCPFC, dan CCSBT. Beberapa hal yang diperhatikan dalam kerjasama  RFMO, yaitu wilayah kewenangan, spesies ikan yang ditangkap, keanggotaan, dan kewajiban para pihak. Kata kunci: hukum internasional, laut lepas, perikanan,  RFMO
PENDEKATAN TERPADU PENGAYAAN STOK DAN SEA RANCHING UNTUK MENJAMIN KEBERLANJUTAN SUMBER DAYA PERIKANAN TANGKAP Am Azbas Taurusman
Buletin PSP Vol. 20 No. 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stok ikan tangkapan global mengalami penurunan sejak era 1990-an. Fenomena yang sama juga telah terjadi di beberapa kawasan penangkapan di Indonesia. Integrasi upaya pengayaan stok (stock enhancement) dan sea ranching dalam kerangka pengelolaan perikananyang bertanggung jawab merupakan alternatif solusi yang perlu segera diimplementasikan.  Analisis dilakukan terhadap berbagai hasil studi yang tersedia untuk memahami konsep dan permasalahan pengayaan stok ikan. Hasilnya, suatu pendekatan yang terintegrasi dan sistematis dalam melakukan program pengayaan stok disintesis dan diusulkan dalam kontribusi ini. Selanjutnya, karakteristik bioekologi yang dimiliki sumberdaya ikan kelompok invertebrata laut, potensial digunakan sebagai biota target dalam menginisiasi dan mengembangkan program stock enhancement dan sea ranching. Namun serangkaian penelitian perlu dilakukan untuk efektifitas program ini.  Kata kunci: pengayaan stok, sea ranching, avertebrata laut, overfishing
PENGARUH POSISI UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT Dahri Iskandar; Rahmad Caesario
Buletin PSP Vol. 21 No. 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah hasil tangkapan yang tertangkap pada bubu lipat dengan posisi pemasangan umpan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan bubu lipat yang biasa digunakan oleh nelayan untuk menangkap kepiting bakau di Perairan Subang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama penelitian hasil tangkapan dominan adalah kepiting batu (Thalamita sp.) dengan jumlah 87 ekor atau 36% dari total hasil tangkapan, diikuti oleh rajungan (Portunus pelagicus) sebanyak 49 ekor atau setara dengan 20% dari total hasil tangkapan. Berdasarkan uji Mann-Whitney terhadap total hasil tangkapan bubu dan bobot hasil tangkapan bubu dengan posisi umpan yang berbeda, diperoleh nilai Asympt.Sig.(2-tailed) sebesar 0,761 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan bubu dengan posisi umpan yang berbeda.Kata kunci: umpan, bubu lipat, hasil tangkapan
Keselamatan Kerja pada Operasi Penangkapan Ikan Cantrang Nelayan Tanjung Sari, Kabupaten Rembang Suparman Sasmita; Sulaeman Martasuganda; Ari Purbayanto; Totok Hestirianoto
Buletin PSP Vol. 21 No. 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas nelayan di perairan laut mempunyai resiko yang tinggi. Pengoperasian alat tangkap cantrang di kapal berukuran 20 GT membutuhkan 13 orang nelayan. Aktivitas nelayan sangat terbatas di area kapal, terutama pada saat kegiatan penangkapan berlangsung. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi kemungkinan kecelakaan, tingkat resiko dan upaya penanggulangan kecelakaan pada pengoperasian cantrang. Tahapan kerjanya mempunyai resiko yang tinggi, dimulai dengan setting, towing dan hauling, serta aktivitas memasak. Kemungkinan kecelakaan tertinggi pada saat hauling yaitu aktivitas penarikan tali, dimana sering terjadi tali kusut di kelos gardan. Indeks resiko saat hauling termasuk sedang dan tinggi. Resiko tinggi sering mengakibatkan cedera anggota tubuh dan meninggal dunia, sedangkan aktivitas sedang berupa tabrakan, dan jatuh saat penarikan jaring.Kata kunci: cantrang, resiko, keselamatan
MORPHOMETRIC STUDY OF TWO INDONESIAN MANTIS SHRIMPS (Harpiosquilla raphidea and Oratosquillina gravieri) Yusli Wardiatno; Ali Mashar
Buletin PSP Vol. 21 No. 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dua jenis udang mantis Indonesia, Harpiosquilla raphidea dan Oratosquillina gravieri, variasi karakter morfometrik [Panjang Kubo (BL), panjang capit (CL), lebar capit (CW), dan panjang penis (PL)] dikaji berdasarkan hasil tangkapan dari pantai berlumpur di Kuala Tungkal, Jambi, Sumatera. Hubungan alometri dibuat dengan kombinasi dua karakter morfometrik, dimana BL dijadikan sebagai faktor tetap pada sumbu x; hasilnya memperlihatkan bahwa nilai CL, CW, dan PL meningkat secara linear seiring peningkatan nilai BL. Hail analisis kovarians mengindikasikan bahwa panjang capit jantan H.raphidea lebih panjang daripada panjang capit jantan O.gravieri. Karakter ini mungkin merupakan faktor dibalik superioritas kemampuan kompetisi H. raphidea terhadap O. gravieri ketika keduanya hidup berdampingan. Kata kunci: udang mantis, kajian morfometri, Harpiosquilla raphidea, Oratosquillina gravieri
Desain Perahu Fiberglass Bantuan LPPM IPB di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Sukabumi Eko Sulkhani Yulianto; Budhi Hascaryo Iskandar; Fis Purwangka; Wazir Mawardi
Buletin PSP Vol. 21 No. 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Cikahuripan sebagian besar penduduknya, yaitu 1.425 dari total penduduk sebanyak 2.507 jiwa adalah sebagai nelayan. Sebagai nelayan, kapal/perahu merupakan kebutuhan vital yang digunakan untuk sarana unit penangkapan ikan, yaitu sebagai alat transportasi dari fishing base ke fishing ground dan media pengangkutan ikan. Keadaan dari perahu nelayan Cikahuripan sebagian besar sudah tua dan tidak layak laut, sehingga perlu peremajaan kapal. Namun kendala yang dihadapi adalah pengadaan bahan baku berupa kayu yang berkualitas tinggi di daerah Cikahuripan sangat sulit dan ditambah lagi maraknya isu illegal logging yang semakin menambah susah dalam usaha mencari bahan baku. Sehingga dipilih bahan fiberglass sebagai alternatif pengganti kapal kayu. Permasalahan sakarang ini adalah belum adanya pengujian kelayakan dari perahu yang diproduksi sehingga peneliti merasa perlu meneliti lebih lanjut. Perahu fiberglass yang diproduksi diberi nama perahu “Kahuripan Nusantara“. Perahu ini mempunyai dimensi utama sebagai berikut; panjang total (LOA) sebesar 9,56 m; LPP sebesar 8,2 m; dalam (D) sebesar 73,5 cm dan lebar (B) sebesar 111,6 cm. Bahan baku utama pembuatan fiberglass yaitu resin, katalis, talk, erosil, met, roving dan kayu sebagai penguat rangka (gading-gading). Perahu yang diproduksi mengikuti desain perahu dari Cilacap. Proses pembuatan perahu fiberglass masih menggunakan metode sederhana yaitu hand lay up dengan urutan pengerjaan yaitu pelapisan gelcoat -> met -> roving -> met dan terakhir dilakukan pelapisan gelcoat kembali. Secara umum perahu fiberglass yang diproduksi sesuai dengan kapal-kapal yang beroperasi di Indonesia, mulai dari nilai rasio dimensi utama sampai nilai parameter hidrostatisnya. Selain itu, perahu Kahuripan Nusantara juga tergolong mempunyai kestabilan yang cukup baik.Kata kunci: desain perahu, fiberglass, general arrangement, lines plan, parameter hidrostatis