cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
mosharafajournal@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Gedung B, Lantai 2, Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut Jalan Pahlawan No. 32 Sukagalih, Garut, Jawa Barat
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 20864280     EISSN : 25278827     DOI : https://doi.org/10.31980/mosharafa
Core Subject : Education,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,006 Documents
PENERAPAN MODEL ACTIVE KNOWLEDGE SHARING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII DI SMPN 18 PALEMBANG Eka Fitri Puspa Sari
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.713 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v5i3.288

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui keaktifan dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Active Knowledge Sharing. Subjek penelitian adalah siswa-siswi SMP N 18 Palembang kelas VII1 yang berjumlah 40 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi untuk mengetahui keaktifan siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Active Knowledge Sharing. Berdasarkan analisis data observasi diperoleh nilai rata-rata 13,0 dikategorikan tinggi dalam rentang 4-16. Selanjutnya pengumpulan data menggunakan LKS, PR dan tes akhir dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Active Knowledge Sharing. Dari hasil belajar yang telah dianalisis diperoleh rata-rata hasil belajar siswa 75,4.AbstractThis study aims to determine the activity and student learning outcomes after the implementation of Active Knowledge Sharing learning model. The subjects were students of SMP N 18 Palembang VII1 classes totaling 40 people. Collecting data using observation sheet to know the students' activity after the implementation of Active Knowledge Sharing learning model. Based on the analysis of observational data obtained by the average value of 13.0 categorized as high in the range of 4-16. Further data collection using the worksheets, homework and the final test is performed to determine student learning outcomes after the implementation of Active Knowledge Sharing learning model. From the results of the study have been analyzed gained an average of 75.4 students' learning outcomes.
Pengembangan Learning Trajectory Based Instruction Materi Kerucut Menggunakan Konteks Megono Gunungan Farida Nursyahidah; Bagus Ardi Saputro; Irkham Ulil Albab; Fifin Aisyah
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1560.048 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i1.560

Abstract

AbstrakSebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam belajar kerucut. Oleh karena itu diperlukan pendesainan lintasan belajar materi tersebut menggunakan konteks dan media yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan Learning Trajectory Based Instruction (LTBI) materi kerucut menggunakan konteks tradisi Syawalan masyarakat Pekalongan yaitu Megono Gunungan yang dikemas dalam bentuk video interaktif. Penelitian ini menggunakan design research yang dikembangkan oleh Gravemeijer dan Cobb yang terdiri dari tiga tahap yaitu: preliminary design, design of the experiment (pilot experiment and teaching experiment), dan retrospective analysis. Namun, artikel ini memaparkan hasil pada tahap pertama, yaitu tahap preliminary design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP N 38 Semarang. Dalam penelitian ini dihasilkan LTBI yang terdiri dari serangkaian aktivitas pembelajaran, yaitu: (1) mengidentifikasi bagian-bagian kerucut melalui video interaktif Megono Gunungan, (2) menemukan luas permukaan kerucut dengan menggunakan jaring-jaring kerucut, (3) menemukan volume kerucut dengan menggunakan media beras, dan (4) menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan kerucut. Selanjutnya, siswa diharapkan dapat lebih mudah memahami materi kerucut melalui beberapa aktivitas yang telah didesain. Development of Learning Based on Trajectory Material Cone Middle School Using Megono Gunungan AbstractMost students still experience difficulties in learning cones. Therefore it is necessary to design the learning trajectory of the material using the right context and media. This study aims to produce Learning Trajectory Based Instruction (LTBI) cone material using the context of the Pekalongan community's Syawalan tradition, Megono Gunungan, which is packaged in the form of interactive video. This study uses design research developed by Gravemeijer and Cobb which consists of three stages: preliminary design, design of the experiment (pilot experiment and teaching experiment), and retrospective analysis. However, this article presents the results of the first stage, the preliminary design stage. The subjects of this study were students of class IX SMP N 38 Semarang. In this study LTBI produced consisting of a series of learning activities, namely: (1) identifying cone sections through interactive video Megono Gunungan, (2) finding the surface area of the cone by using cone nets, (3) finding the volume of the cone by using rice media, and (4) resolve contextual problems related to cones. Furthermore, students are expected to more easily understand the cone material through several activities that have been designed.
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI MAHASISWA MENGGUNAKAN CRI PADA MATA KULIAH KALKULUS II Abdul Mujib
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.783 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.305

Abstract

AbstrakMiskonsepsi merupakan masalah yang selalu muncul dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi mahasiswa yang sedang mengambil matakuliah kalkulus II. CRI (Certainty of Response Index) digunakan untuk mengidentifikasi mahasiswa yang mengalami miskonsepsi, tidak paham konsep, dan sama sekali tidak tahu konsep. Penelitian ini melibatkan 20 responden yang sedang mengambil matakuliah kalkulus II. Instrument yang digunakan adalah tes diasnogtik dalam bentuk essay. Selain menjawab soal, mahasiswa juga diminta untuk menuliskan tingkat keyakinan kebenaran dari jawaban mereka. Selain itu, wawancara terstruktur juga digunakan untuk mengvalidasi tingkat keyakinan mahasiswa dan penyebab terjadinya miskonsepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CRI dapat dengan mudah membedakan siswa yang memahami konsep dengan baik dengan mahasiswa yang mengalami kesalahan. Berdasarkan analisis kesalahan mahasiswa diperoleh 46% mahasiswa mengalami miskonsepsi, 53,4% mahasiswa tidak mengetahui konsep dan 0,6% mahasiswa yang sama sekali tidak tahu konsep (lucky guess).Kata Kunci: Miskonsepsi, CRI (Certainty of Response Index), Kalkulus II.AbstractMisconception is an issue that always arises in teaching and learning activities. Therefore, this study aims to identify the misconception of students who are taking calculus II courses. CRI (Certainty of Response Index) is used to identify students with misconceptions, not understanding concepts, and not knowing concepts at all. This study involved 20 respondents who are taking calculus II courses. Instrument used is diagnogtic test in essay form. In addition to answering questions, students are also asked to write down the level of confidence in their answers. In addition, structured interviews are also used to validate student confidence and the causes of misconceptions. The results show that CRI can easily distinguish students who understand the concept well with students who experience errors. Based on the student error analysis, 46% of students have misconception, 53,4% of students do not know concept and 0,6% of students do not know concept (lucky guess).Keyword: Misconceptions, CRI (Certainty of Response Index), Calculus II.
PEMBELAJARAN INKUIRI MODEL SILVER UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN DISPOSISI MATEMATIK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Sri Wardani
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.368 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v1i1.167

Abstract

Penelitian ini merupakan eksperimen dengan design kontrol grup dan hanya postes, yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematik siswa melalui pembelajaran inkuiri model Silver. Penelitian melibatkan siswa kelas X Sekolah Menengah Atas kelompok sekolah tinggi dan sedang di Kota Cimahi. Instrumen penelitian mencakup tes kemampuan awal matematika, tes pemecahan masalah matematik, skala disposisi matematik, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Data dianalisis menggunakan anova satu dan dua jalur, uji Scheffe, asosiasi kontingensi. Hasil penelitian ini adalah: 1) Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang belajar inkuiri model Silver grup lebih baik dari inkuiri model Silver klasikal dan biasa, demikian pula kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang belajar inkuiri model Silver klasikal lebih baik dari pembelajaran biasa; 2) Model pembelajaran, kelompok sekolah, dan kemampuan awal matematika memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik. Namun model pembelajaran mempunyai peranan lebih besar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik.; 3) Tidak terdapat interaksi antara kelompok sekolah dan model pembelajaran, dan juga antara kelompok pembelajaran dan kemampuan awal matematika dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematik; 4) Disposisi siswa terhadap matematika positif; 5) Terdapat asosiasi antara kemampuan pemecahan masalah matematik dan disposisi siswa terhadap matematika.
Mendesain Soal Berbasis Masalah untuk Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Calon Guru Ekasatya Aldila Afriansyah; Tatang Herman; Turmudi Turmudi; Jarnawi Afgani Dahlan
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1619.772 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i2.649

Abstract

AbstrakMahasiswa calon guru yang memiliki kemampuan berpikir kritis matematis diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan konsep matematika ataupun konsep didaktiknya. Fokus keterampilan berpikir kritis matematis pada mahasiswa calon guru adalah kemampuan untuk mengidentifikasi permasalahan, mencari strategi, melakukan refleksi kembali, dan menganalisis permasalahan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain soal berbasis masalah yang valid dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa calon guru dalam berbagai materi pendidikan menengah. Penelitian ini mengambil jenis penelitian pengembangan, terdiri dari studi literatur, observasi, dan pengembangan soal. Kesimpulan dari penelitian ini hasil validasi expert menunjukan nilai validitas muka 80,35% dan nilai validitas isi 86,85%. Hal ini berarti soal-soal berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis matematis dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam mata kuliah Kapita Selekta Matematika Pendidikan Dasar 1 untuk mahasiswa calon guru. AbstractProspective teacher students who can think critically mathematically are expected to be able to solve problems related to mathematical concepts or didactic concepts. The focus of mathematical critical thinking abilities on prospective teacher-students is the ability to identify problems, find strategies, reflect, and analyze mathematical problems. This study aims to design a valid and practical problem-based activity question to improve students' mathematical critical thinking abilities of prospective teachers in various secondary education materials. This research takes the type of Research and Development, consisting of a study of literature, observation, and development of questions. The conclusion from this study the results of expert validation showed an advance validity value of 80.35% and a value of content validity of 86.85%. This means that problem-based activity questions to improve mathematical critical thinking abilities can be used as learning material in the Kapita Selekta Mathematics Basic Education 1 course for prospective teacher students. 
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DOMAT Imas Komariah; Rostina Sundayana
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.729 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.321

Abstract

AbstrakSebagian besar siswa SMP menganggap bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dipelajari dan membosankan. Salah satu penyebabnya adalah karena matematika bersifat abstrak serta pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru matematika untuk dapat menggunakan media pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif belajar matematika, sehingga para siswa merasa senang belajar matematika. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan media permainan DOMAT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IX-A SMP Negeri 2 Tarogong Kidul. Adapun hasil penelitian ini adalah pada siklus I belum menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu jumlah siswa yang aktif sebanya 75% (27 orang). Artinya, pelaksanaan tindakan pada siklus pertama belum berhasil dan harus dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan perbaikan tindakan yang dianggap menjadi penyebab ketidakberhasilan. Pada siklus II sudah menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan, yaitu jumlah siswa yang aktif pada setiap pertemuan 75%. Artinya, pelaksanaan tindakan pada siklus II sudah berhasil. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media permainan domat merupakan salah satu cara atau strategi untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika.Kata Kunci: Aktivitas belajar, Domino Matematika.AbstractMost junior high school students consider that math is a difficult subject to learn and bore. One reason is that mathematics is abstract and the choice of less precise learning method. It is a challenge for math teachers to be able to use instructional media that can involve students actively learning math, so that students feel happy learning math. The purpose of this classroom action research is to find out whether the use of DOMAT game media can improve the learning activity of grade IX-A students of SMP Negeri 2 Tarogong Kidul. The results of this study is that in cycle I has not shown the achievement of the established success indicators, ie the number of active students sebanya 75% (27 people). That is, the implementation of the action in the first cycle has not been successful and should proceed to the next cycle with the improvement of the action considered to be the cause of the unsuccessfulness. In the second cycle has shown the achievement of a predetermined success indicator, ie the number of students who are active at each meeting 75%. That is, the implementation of action in cycle II has been successful. Thus it can be concluded that the use of domat game media is one way or strategy to increase student activity in learning mathematics.Keyword: Learning Activities, Domino Mathematics.
PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA ANTARA YANG MENDAPATKAN MODEL PEMBELAJARAN BRAIN BASED LEARNING DENGAN NUMBERED HEAD TOGETHER Wiwin Winarti; Cici Nurul Haq
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.838 KB)

Abstract

Abstrak:The research was conducted to distinguish the two models , this is Brain Based Learning ( BBL ) with the Numbered Head Together ( NHT ) to see the extent to which the two models are instrumental in improving the learning outcomes of students learning mathematics . Authors wanted to see if there are differences in mathematics achievement between students who received  Brain Based Learning ( BBL ) with Numbered Head Together ( NHT ) ? . The method that I use in this study is experimental research that is giving treatment to two different classes . The population in this study were all  students class VII of SMP Negeri 1 Cikajang with a randomly selected sample of the class VII- C and class VII - D . The instrument used to measure student learning outcomes in the form mathematics objective tests , administered before and after the treatment the author gives a treat .  From the analysis of the Mann Whitney test , to test initial value Zhitung = 1.72 and Ztabel = 2.24 with a significance level of 5 % ( α = 0.05 ) zhitung  which is located in the reception area Ho , Ho is accepted then it means there is no difference initial ability between experimental classes experiment I and experiment II . While the results of Mann Whitney test to post test at significance level of 5 % ( α = 0.05 ) , zhitung = 3.18 using the two test sides of Zhitung value = 3.18 > Ztabel = 2.24 , in other words zhitung rejection of Ho is in the region , in other words Ha accepted . It means that there are differences in mathematics outcomes between students who received learning model with Brain Based Learning  (BBL) with Numbered Head Together (NHT).
Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik dan Self Efficacy Mahasiswa melalui Model CORE Tri Arif Wiharso; Helfy Susilawati
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2086.207 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v9i3.573

Abstract

AbstrakPenelitian ini bermaksud untuk memperoleh hasil peningkatan kemampuan Koneksi matematik dan self efficacy melalui pembelajaran Model CORE, selain itu untuk melihat respon mahasiswa terhadap belajar matematik dengan model CORE. Pelaksanaan penelitian ini berbentuk quasi eksperimen dengan membandingkan prestasi belajar mahasiswa melalui model CORE dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Populasi berasal dari mahasiswa Fakultas Teknik di Perguruan Tinggi di Garut dengan sampel penelitiannya berjumlah 54 mahasiswa. Dengan 27 orang diberi pembelajaran dengan model CORE dan 27 lainnya melalui pembelajaran konvensional. Dalam pengambilan data digunakan Instrumen berupa tes matematik, angket model CORE dan angket self efficacy. Hasil yang didapat yaitu: 1) Peningkatan Koneksi matematik mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model CORE lebih baik dari pada mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. 2) Self efficacy mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model CORE peningkatannya tidak lebih baik dari pada mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. 3) Terdapat hubungan antara model CORE dengan Self efficacy dalam kategori sedang. 4) Mahasiswa memberikan kesan yang positif terhadap model CORE. Improving Mathematical Connection Ability and Self Efficacy Students through Core-Based ModelsAbstractThis study aims to obtain the results of increasing the ability of mathematical connections and self-efficacy through learning the CORE Model, in addition to seeing student responses to learning mathematics with the CORE model. The implementation of this research is in the form of a quasi-experiment by comparing student learning achievement through the CORE model with students who receive conventional learning. The population came from students of the Faculty of Engineering at Higher Education in Garut with a research sample of 54 students. With 27 people being taught using the CORE model and 27 others through conventional learning. In collecting the data, instruments were used in the form of a mathematical test, a CORE model questionnaire, and a self-efficacy questionnaire. The results obtained are: 1) Increased mathematical connection of students who get learning with the CORE model is better than students who receive conventional learning. 2) The increase in self-efficacy of students who get learning with the CORE model is not better than students who get conventional learning. 3) There is a relationship between the CORE model and Self-efficacy in the medium category. 4) Students give a positive impression on the CORE model.
PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ADAPTIVE REASONING SISWA Ida Nuraida
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.018 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v7i1.338

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kemampuan adaptive reasoning siswa yang masih rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menggunakan pembelajaran Realistic Mathematics Education karena tahap pembelajaran ini mendukung pada indikator kemampuan adaptive Reasoning siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan dan pencapaian kemampuan adaptive Reasoning siswa melalui pendekatan pembelajaran RME. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan desain penelitian the nonequivalent pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 5 Kota Tasikmalaya Tahun Pelajaran 2015/2016. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling dengan kelas IXF sebagai kelas eksperimen yaitu pembelajaran RME dan kelas IXG sebagai kelas kontrol yaitu pembelajaran biasa yang masing-masing terdiri dari 32 orang siswa. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan instrumen tes berupa uraian berjumlah 4 soal. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji t dan uji Mann-Whitney dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan data, analisis data dan pengujian hipotesis diperoleh kesimpulan bahwa Peningkatan adaptive reasoning siswa kategori PS (atas dan menengah) yang memperoleh pembelajaran RME lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran Konvensional. AbstractThis research is motivated by the ability of adaptive reasoning of students who are still low. To overcome these problems, researchers use Realistic Mathematics Education because this learning stage supports the indicators of Adaptive Reasoning ability of students. The purpose of this research is to know the improvement and achievement of Adaptive Reasoning ability of students through learning approach of RME. The method used in this research is the quasi experiments with the nonequivalent design study of pretest-posttest control group design. The population in this research is all students of class IX SMP Negeri 5 Kota Tasikmalaya Lesson Year 2015/2016. Sampling in this research is done by purposive sampling with class IXF as experiment class that is learning of RME and class IXG as control class that is conventional which each consist of 32 students. Technique of collecting data that is using test instrument in the form of description is 4 problems. Data analysis techniques used to test the hypothesis are t test and Mann-Whitney test with significance level of 5%. Based on the results of research, data processing, data analysis and hypothesis testing, it is concluded that the increase of adaptive reasoning of (upper and middle) PS category students who gain RME learning is better than students who get conventional learning.
Media Pembelajaran Puzzle pada Bangun Datar Jajargenjang untuk Anak Tunarungu Vina Septiyani; Hartatiana Hartatiana; Ambarsari Kusuma Wardani
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.875 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v10i1.854

Abstract

Abstrak                                                                                        Anak tunarungu mengalami keterbatasan dalam berbahasa dan komunikasi, sehingga guru disekolah luar biasa dituntut mempunyai strategi dalam menyampaikan materi matematika agar mereka dapat memahami materi dengan baik. Penggunaan media pembelajaran bagi anak tunarungu dapat memberikan pengaruh kepada anak tunarungu agar konsep-konsep dan ide matematika yang bersifat abstrak dapat dikaji, dipahami, dan dicapai oleh penalaran anak. Untuk itu penelitian ini  bertujuan untuk menjelaskan kepraktisan media pembelajaran puzzle bangun datar segi empat pokok bahasan jajargenjang untuk anak tunarungu. Metode penelitian yang digunakan adalah pengembangan, menggunakan alur formative evaluation ditinjau dari tahap one-to-one dan small group. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelas VIII SLB-B Karya Ibu Palembang yang berjumlah 7 anak. Instrumen yang digunakan adalah angket, wawancara, observasi dan soal posstest . Dari hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa:menghasilkan media pembelajaran puzzle bangun datar segi empat pokok bahasan jajargenjang yang praktis, kepraktisan media ini dilihat dari komentar dan saran anak pada tahap one-to-one dan small group.Kata Kunci: Anak tunarungu,  media pembelajaran puzzle, pengembangan 

Page 11 of 101 | Total Record : 1006


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): January Vol. 14 No. 4 (2025): October Vol. 14 No. 1 (2025): January Vol. 13 No. 4 (2024): October Vol. 13 No. 3 (2024): July Vol. 13 No. 2 (2024): April Vol. 13 No. 1 (2024): January Vol. 12 No. 4 (2023): October Vol. 12 No. 3 (2023): July Vol 12, No 3 (2023) Vol. 12 No. 2 (2023): April Vol 12, No 2 (2023) Vol. 12 No. 1 (2023): January Vol 12, No 1 (2023) Vol. 11 No. 3 (2022): September Vol 11, No 3 (2022) Vol. 11 No. 2 (2022): Mei Vol 11, No 2 (2022) Vol. 11 No. 1 (2022): Januari Vol 11, No 1 (2022) Vol. 10 No. 3 (2021): September Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol. 10 No. 2 (2021): Mei Vol. 10 No. 1 (2021): Januari Vol 10, No 1 (2021) Vol. 9 No. 3 (2020): September Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol. 9 No. 2 (2020): Mei Vol 9, No 1 (2020) Vol. 9 No. 1 (2020): Januari Vol 8, No 3 (2019) Vol. 8 No. 3 (2019): September Vol. 8 No. 2 (2019): Mei Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol. 8 No. 1 (2019): Januari Vol 7, No 3 (2018) Vol. 7 No. 3 (2018): September Vol. 7 No. 2 (2018): Mei Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol. 7 No. 1 (2018): Januari Vol. 6 No. 3 (2017): September Vol 6, No 3 (2017) Vol. 6 No. 2 (2017): Mei Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol. 6 No. 1 (2017): Januari Vol 5, No 3 (2016) Vol. 5 No. 3 (2016): September Vol. 5 No. 2 (2016): Mei Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol. 5 No. 1 (2016): Januari Vol 4, No 3 (2015) Vol. 4 No. 3 (2015): September Vol. 4 No. 2 (2015): Mei Vol 4, No 2 (2015) Vol. 4 No. 1 (2015): Januari Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol. 3 No. 3 (2014): September Vol 3, No 2 (2014) Vol. 3 No. 2 (2014): Mei Vol 3, No 1 (2014) Vol. 3 No. 1 (2014): Januari Vol 2, No 3 (2013) Vol. 2 No. 3 (2013): September Vol 2, No 2 (2013) Vol. 2 No. 2 (2013): Mei Vol 2, No 1 (2013) Vol. 2 No. 1 (2013): Januari Vol. 1 No. 2 (2012): September Vol 1, No 2 (2012) Vol. 1 No. 1 (2012): Mei Vol 1, No 1 (2012) More Issue