cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
JURNAL P4I Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd Phone: 085239967417 Email: ardhysmart7@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ELEMENTARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar
ISSN : 27748014     EISSN : 27747034     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dasar.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 248 Documents
PENGARUH MODEL HANDS ON ACTIVITY TERHADAP HASIL BELAJAR IPA PADA KELAS V SD 4 GONDOSARI GEBOG KUDUS Faizah Kusuma Ningrum, Noor; Rahmawati, Septina; Aufia Abshor, Devy; Cahya Rohim, Dhina; Aris Prasetiyanto, Moh
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i3.6822

Abstract

Improving science learning outcomes in elementary schools, particularly in rural areas with limited resources, remains a persistent challenge. At SD 4 Gondosari Gebog Kudus, instruction is still dominated by lecture-based methods, resulting in passive student participation and low academic achievement. This study aims to examine the effect of the Hands-On Activity model on the science learning outcomes of fifth-grade students. A quantitative approach was employed using a One Group Pretest-Posttest design. The sample consisted of 13 fifth-grade students, and the research instrument was a 20-item multiple-choice test that had been validated and tested for reliability. Data analysis included the Shapiro-Wilk test for normality, Levene’s test for homogeneity, simple linear regression, and paired sample t-test. The results showed an increase in the average score from 61.54 (pretest) to 82.69 (posttest), with the t-test yielding a significance value of p = 0.000 (< 0.05), indicating a significant effect of the Hands-On Activity model. These findings reinforce the effectiveness of active learning in enhancing students’ conceptual understanding and engagement, especially in resource-constrained educational environments. The Hands-On Activity model offers a contextual and practical alternative instructional strategy for elementary education. ABSTRAK Peningkatan hasil belajar IPA di sekolah dasar, khususnya di wilayah pedesaan dengan keterbatasan sarana, masih menjadi tantangan. Di SD 4 Gondosari Gebog Kudus, pembelajaran masih didominasi metode ceramah yang membuat siswa pasif dan berdampak pada rendahnya capaian akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Hands-On Activity terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain One Group Pretest-Posttest. Sampel terdiri dari 13 siswa kelas V, dengan instrumen tes pilihan ganda sebanyak 20 soal yang telah divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Analisis data meliputi uji normalitas (Shapiro-Wilk), homogenitas (Levene), regresi sederhana, dan paired sample t-test. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari 61,54 (pretest) menjadi 82,69 (posttest), dengan uji t menghasilkan p = 0,000 (< 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan dari penggunaan model Hands-On Activity. Temuan ini memperkuat efektivitas pembelajaran aktif dalam meningkatkan pemahaman konsep IPA dan keterlibatan siswa di lingkungan belajar dengan sumber daya terbatas. Model ini dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif di sekolah dasar.
STRATEGI GURU BAHASA INGGRIS DALAM MENGAJAR KEMAMPUAN BERBICARA PADA SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH Widiyanti, Leny; Umami, Mashlihatul
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i3.7095

Abstract

The purpose of this study was to describe the strategies used by English teachers in teaching speaking skills to fifth grade students at Madrasah Ibtidaiyah Ma'arif Kandangan, Temanggung. The research method used is a descriptive qualitative approach that involves collecting data through observation, interviews and documents. The research findings reveal that teachers adjust speaking materials based on students' needs analysis, use small group discussion methods, listening and repetition techniques, and interactive approaches such as educational games. These strategies are effective in increasing active participation, improving pronunciation, and creating a conducive classroom atmosphere. The main challenges faced by teachers are students' low confidence and anxiety when speaking, lack of parental support, and limited school facilities. To overcome these obstacles, teachers create a supportive learning environment, give appreciation for students' efforts, and utilize technology as learning media. This study recommends the implementation of varied, relevant and interactive learning strategies so that students' speaking skills can develop optimally at the primary level, and appreciation of each learning process is key in optimizing students' speaking skills in a sustainable manner. ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan strategi yang digunakan guru Bahasa Inggris dalam mengajar kemampuan berbicara pada siswa kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Kandangan, Temanggung. Metode penelitian yang dipakai adalah pendekatan kualitatif deskriptif yang melibatkan pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara dan dokumen. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa guru menyesuaikan materi berbicara berdasarkan analisis kebutuhan siswa, menggunakan metode diskusi kelompok kecil, teknik mendengarkan dan mengulangi, serta pendekatan interaktif seperti permainan edukatif. Strategi ini efektif meningkatkan partisipasi aktif, memperbaiki pengucapan, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif. Tantangan utama yang dihadapi guru adalah rendahnya rasa percaya diri dan kecemasan siswa saat berbicara, kurangnya dukungan orang tua, serta keterbatasan fasilitas sekolah. Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru menciptakan lingkungan belajar yang suportif, memberikan apresiasi atas usaha siswa, dan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Penelitian ini merekomendasikan penerapan strategi pembelajaran yang variatif, relevan, dan interaktif agar kemampuan berbicara siswa dapat berkembang optimal di tingkat dasar, serta apresiasi terhadap setiap proses belajar merupakan kunci dalam mengoptimalkan kemampuan berbicara siswa secara berkelanjutan.
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR, KERJASAMA, DAN HASIL BELAJAR PADA MUATAN IPAS MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN LENTERA PADA SISWA SEKOLAH DASAR Nashiroh, Nashiroh; Maimunah, Maimunah
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.7133

Abstract

ABSTRACT This research aims to improve learning activities, cooperative skills, and student learning outcomes through the application of a combination of Problem Based Learning, Team Games Tournament, and Course Review Horray models in IPAS learning. This research was conducted as a Classroom Action Research (CAR) with a focus on qualitative approaches and descriptive methods, which was carried out in 4 meetings with 28 students in grade IV of SDN Pasar Lama 1 Banjarmasin. Data collection was carried out through observation and interviews. The results showed an increase in all aspects studied: Teacher activity increased from 87.50% in the first meeting to 100% in the last meeting, student activity from 57.69% in the first meeting, to 92.31% in the last meeting. Cooperation skills from 46.15% at the first meeting, to 92.31% at the last meeting. Likewise, the aspect of learning outcomes went from 34.61% at the first meeting, to 88.46% at the last meeting. These findings show that the application of the LENTERA learning model is effective in increasing student activity, cooperation skills and student learning outcomes. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar, keterampilan kerja sama, dan hasil belajar siswa melalui penerapan kombinasi model Problem Based Learning, Team Games Tournament, dan Course Review Horray dalam pembelajaran IPAS. Penelitian ini dilakukan sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan fokus pada pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, yang dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan pada siswa kelas IV SDN Pasar Lama 1 Banjarmasin sebanyak 28 orang siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh aspek yang diteliti: Aktivitas guru meningkat dari 87,50% pada pertemuan pertama menjadi 100% pada pertemuan terakhir, aktivitas siswa dari 57,69% pada pertemuannpertama, menjadi 92,31% pada pertemuan terakhir. Keterampilan kerja sama dari 46,15% pada pertemuan pertama, menjadi 92,31% pada pertemuan terakhir. Begitupula dengan aspek hasil belajar dari 34,61% pada pertemuani pertama, menjadi 88,46% pada pertemuan terakhir. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran LENTERA efektif dalam meningkatkan keaktifan siswa, keterampilan kerjasama  dan capaian hasil belajar siswa.
PENGALAMAN GURU DALAM MENERAPKAN PROJECT BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN IPAS DI SD Rohmah, Lathifatur; Chusna, Cahya Amalia; Izzah, Armiya Nur Lailatul
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.7193

Abstract

This study aims to determine teachers' experiences in implementing Project Based Learning (PjBL) in science learning in elementary schools, regarding how teachers become facilitators in the classroom, face challenges, and teach professionally. PjBL is a learning method that emphasizes student activeness through real projects planned by teachers to train creativity, collaboration, and critical thinking. Although PjBL is known to be effective in increasing student motivation and skills, teachers' experiences in implementing it still require in-depth understanding to support optimal learning practices. The method used in this study is descriptive phenomenology, with in-depth interviews as data collection techniques. The research subjects consisted of three elementary school teachers who implemented PjBL in science subjects. Meanwhile, the data analysis technique used meaning reduction techniques, theme identification, and synthesis of the essence of experience, thus describing the teachers' experiences in depth. The results of this study indicate that each teacher has different experiences in implementing PjBL. The challenges faced by teachers include time management, individual guidance, and limited facilities/infrastructure. The essence of the teachers' experiences shows that PjBL is a learning strategy that requires adaptation, creativity, and careful planning, while also providing a positive impact on student development holistically. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman guru dalam menerapkan Project Based Learning (PjBL) pada pembelajaran IPAS di sekolah dasar, tentang bagaimana guru menjadi fasilitator dikelas, menghadapi tantangan, dan mengajar secara profesional. PjBL merupakan salah satu metode pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa melalui proyek-proyek nyata yang direncanakan guru untuk melatih kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis. Meskipun PjBL dikenal efektif dalam meningkatkan motivasi dan keterampilan siswa, pengalaman guru dalam menerapkannya masih memerlukan pemahaman mendalam untuk mendukung praktik pembelajaran yang optimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi deskriptif, dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam. Subjek penelitian terdiri dari tiga guru SD yang menerapkan PjBL pada mata pelajaran IPAS. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik reduksi makna, identifikasi tema, dan sintesis esensi pengalaman, sehingga menggambarkan pengalaman guru secara mendalam.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru mempunyai pengalaman masing-masing yang berbeda selama menerapkan PjBL. Adapun tantangan yang dihadapi guru meliputi manajemen waktu, bimbingan individual, dan keterbatasan sarana/prasarana. Esensi pengalaman guru menunjukkan bahwa PjBL merupakan strategi pembelajaran yang menuntut adaptasi, kreativitas, dan perencanaan matang, sekaligus memberikan dampak positif bagi perkembangan siswa secara holistik.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN MELALUI MODEL CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING PADA SISWA KELAS IV SDN Mokoagow, Sri Nora Aulia; Pulukadang, Wiwy Trianty; Husain, Rusmin; Monoarfa, Fidyawati; Husain, Rustam I.
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.7699

Abstract

This study was motivated by the low essay writing ability of elementary school students, particularly fourth-grade students at SDN 12 Anggrek, North Gorontalo Regency. Many students still perceive writing as a difficult task due to limited skills in identifying main ideas, organizing storylines, and selecting appropriate vocabulary and sentence structures. To address these challenges, the Contextual Teaching and Learning (CTL) model was implemented as an instructional approach that connects learning materials with students’ real-life experiences, thereby making the writing process more meaningful and engaging. The purpose of this research was to determine the effectiveness of the CTL model in improving students’ essay writing skills. The study employed Classroom Action Research (CAR), conducted in two cycles. Data were collected through essay writing tests, classroom observations, and documentation. The findings revealed a consistent improvement in students’ performance across the cycles. In Cycle I, Meeting I, 6 students (50%) achieved the competency criteria, which increased to 8 students (67%) in Meeting II. In Cycle II, the number of students meeting the criteria rose to 10 students (83%). These results indicate that the CTL model is effective in enhancing the essay writing ability of fourth-grade students at SDN 12 Anggrek. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan menulis karangan pada siswa sekolah dasar, khususnya siswa kelas IV SDN 12 Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara. Kegiatan menulis masih dianggap sulit oleh sebagian besar siswa karena keterbatasan dalam menemukan gagasan pokok, menyusun alur cerita, serta memilih kata dan kalimat yang tepat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diterapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai pendekatan pembelajaran yang mengaitkan materi dengan pengalaman nyata siswa sehingga proses menulis menjadi lebih bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan model CTL dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan teknik pengumpulan data melalui tes menulis karangan, observasi proses pembelajaran, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis dari setiap siklus. Pada siklus I pertemuan I, sebanyak 6 siswa (50%) mencapai kategori mampu, meningkat menjadi 8 siswa (67%) pada pertemuan II. Pada siklus II, jumlah siswa yang mencapai kategori mampu bertambah menjadi 10 siswa (83%). Temuan ini membuktikan bahwa penerapan model CTL efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas IV SDN 12 Anggrek.
PERSEPSI GURU TERHADAP IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH DASAR Zulparis, Zulparis
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.7740

Abstract

ABSTRACT Changes in national curriculum policy require teachers to adapt their instructional practices in accordance with the principles of flexibility and learner-centeredness that characterize the Merdeka Curriculum. This condition highlights the importance of examining how teachers perceive and interpret the implementation of the new curriculum, particularly at the elementary school level. This study aims to describe teachers’ perceptions of the implementation of the Merdeka Curriculum at SD Pasar Lama 2. A qualitative approach with a narrative design was employed to explore the experiences of a fifth-grade teacher through in-depth interviews and an analysis of instructional documentation. The data were analyzed through systematic processes of data reduction, data presentation, and meaning interpretation. The findings indicate that teachers perceive the Merdeka Curriculum as providing greater autonomy to innovate, diversify instructional strategies, and adjust learning activities to students’ characteristics and needs, which contributes to increased student engagement. Nevertheless, teachers continue to encounter challenges related to limited training opportunities and difficulties in preparing instructional materials during the initial phase of implementation. This study concludes that the Merdeka Curriculum has the potential to be implemented effectively when supported by adequate teacher understanding and appropriate learning facilities. These findings underscore the need for sustained professional support for teachers and provide a foundation for further research in more diverse school contexts. ABSTRAK Perubahan kebijakan kurikulum nasional menuntut guru untuk melakukan penyesuaian pembelajaran agar sejalan dengan prinsip fleksibilitas dan orientasi pada kebutuhan peserta didik yang menjadi ciri utama Kurikulum Merdeka. Kondisi tersebut mendorong pentingnya kajian mengenai bagaimana guru memandang dan memaknai penerapan kurikulum baru, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru terhadap implementasi Kurikulum Merdeka di SD Pasar Lama 2. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain naratif, yang menggali pengalaman seorang guru kelas V melalui wawancara mendalam dan telaah dokumentasi pembelajaran. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penafsiran makna secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memandang Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang memberikan keleluasaan dalam berinovasi, mengembangkan variasi strategi pembelajaran, serta menyesuaikan kegiatan belajar dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik, sehingga berdampak pada meningkatnya keterlibatan siswa. Meskipun demikian, guru masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pelatihan dan tantangan dalam penyusunan perangkat ajar pada fase awal penerapan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka berpeluang berlangsung optimal apabila didukung oleh pemahaman guru yang memadai serta fasilitas pembelajaran yang mendukung. Temuan ini menegaskan perlunya pendampingan profesional yang berkelanjutan bagi guru dan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan pada konteks sekolah yang lebih beragam.
STRATEGI PEMBELAJARAN GURU BAHASA INDONESIA BAGI SISWA SLOW LEANERS DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DI SEKOLAH DASAR NEGERI 343 KUBANGAN TOMPEK BATAHAN Nst, Herlina Yusroh; Deliani, Nurfarida; Batubara, Juliana; Mukholik, Idghom
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.8150

Abstract

This research is motivated by academic challenges at State Elementary School 343, Kubang Tompek Batahan, where some students are slow learners, possessing relatively low cognitive capacity and slower comprehension of material compared to their peers. This study focuses on exploring the learning process and analyzing the strategies of Indonesian language teachers in optimizing these students' learning outcomes. The method used was field research with a descriptive qualitative approach, involving classroom teachers and students through observation, in-depth interviews, and documentation. The research findings revealed that student learning was facilitated through the provision of structured materials, independent repetition at home, and the completion of diagnostic assignments. The comprehensive strategies implemented by the teachers included the application of a variety of teaching methods, the integration of play-based learning concepts to reduce anxiety, strategic seating arrangements, the use of supportive peers as tutors, and continuous motivation. The main conclusion indicates that the pedagogical interventions implemented by the teachers through these various strategies successfully facilitated learning access, created an inclusive environment, and had a significant positive impact on the academic progress of slow learner students. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan akademik di Sekolah Dasar Negeri 343 Kubangan Tompek Batahan, di mana terdapat siswa dengan karakteristik slow learner yang memiliki kapasitas kognitif relatif rendah dan proses pemahaman materi yang lebih lambat dibandingkan teman sebayanya. Penelitian ini berfokus untuk mengeksplorasi gambaran proses belajar serta menganalisis strategi guru Bahasa Indonesia dalam mengoptimalkan hasil belajar siswa tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif, melibatkan guru kelas dan siswa melalui teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa proses belajar siswa difasilitasi melalui pemberian materi terstruktur, pengulangan mandiri di rumah, dan penyelesaian tugas diagnostik. Strategi komprehensif yang diterapkan guru mencakup penerapan variasi metode pengajaran, integrasi konsep belajar sambil bermain untuk mengurangi kecemasan, pengaturan tempat duduk strategis, pemanfaatan teman sebaya yang suportif sebagai tutor, serta pemberian motivasi yang berkelanjutan. Simpulan utama menunjukkan bahwa intervensi pedagogis yang dilakukan guru melalui berbagai strategi tersebut berhasil memberikan kemudahan akses belajar, menciptakan lingkungan yang inklusif, serta memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kemajuan akademik siswa slow learner.    
IMPLEMENTASI PROGRAM KEAGAMAAN UNTUK PENGUATAN KARAKTER RELIGIUS SISWA DI SDN MRICAN 2 KOTA KEDIRI Triyuda, Rahmad; Laila, Alfi; Sari, Dini Nur Faticha; Wahyuningtyas, Lutfia
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i1.8263

Abstract

Religious character education at the elementary school level plays a strategic role in shaping students’ moral, spiritual, and prosocial attitudes. Social change and the development of digital technology often weaken the habituation of worship, discipline, and exemplary behavior. Therefore, schools need to implement structured and inclusive religious programs based on daily habituation. This study aims to examine how the religious programs are implemented, the impacts of these programs, and the challenges encountered in strengthening religious character at SDN Mrican 2. This research employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews with the principal, Islamic education teachers, and students, as well as documentation of the programs. Data validity was strengthened through source and technique triangulation, while data analysis followed the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings show that religious programs are routinely carried out through Congregational Dhuha Prayer, istighosah–tahlil, Friday Worship, Friday Sharing, MTQ activities, and calligraphy for Muslim students. Christian students participate in morning prayer, worship, and thanksgiving services guided by religious teachers. These habituation activities have formed an inclusive religious culture. Positive impacts are evident in students’ increased discipline, responsibility, social awareness, cooperation skills, and tolerance for diversity. Challenges encountered include inconsistency in students’ discipline, differences in understanding worship activities, limited facilities, and suboptimal involvement of non–Islamic education teachers. Overall, the habituation-based religious programs are proven effective in shaping religious and social character. To optimize the outcomes, continuous evaluation, strengthened teacher involvement, and innovation in habituation strategies are needed. ABSTRAK Pendidikan karakter religius pada jenjang sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk moral, spiritual, dan sikap prososial peserta didik. Perubahan sosial serta perkembangan teknologi digital sering melemahkan pembiasaan ibadah, disiplin, dan keteladanan. Oleh karena itu, sekolah perlu menerapkan program keagamaan berbasis pembiasaan yang terstruktur dan inklusif. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana pelaksanaan program keagamaan, dampak pelaksanaan program keagamaan, serta tantangan yang dihadapi dalam melaksanakan program keagamaan untuk penguatan karakter religius di SDN Mrican 2. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara terhadap kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, serta peserta didik, dan dokumentasi program. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program keagamaan dilaksanakan secara rutin melalui Salat Dhuha Berjamaah, istighosah–tahlil, Jumat Ibadah, Jumat Berbagi, MTQ, dan kaligrafi untuk siswa Muslim. Siswa Nasrani mengikuti doa pagi, ibadah, dan layanan syukur yang dipandu guru agama. Pembiasaan ini membentuk budaya religius yang inklusif. Dampak positif terlihat pada meningkatnya kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, dan toleransi keberagaman. Kendala yang dihadapi meliputi ketidakkonsistenan disiplin siswa, perbedaan pemahaman terhadap kegiatan ibadah, keterbatasan fasilitas, serta keterlibatan guru non-PAI yang belum optimal. Secara keseluruhan, program keagamaan berbasis pembiasaan terbukti efektif membentuk karakter religius dan sosial. Agar lebih optimal, diperlukan evaluasi berkelanjutan, penguatan peran seluruh guru, dan inovasi strategi pembiasaan.
INTEGRASI KEARIFAN LOKAL RUMAH JOGLO DALAM PEMBELAJARAN BANGUN DATAR PADA MAHASISWA PGSD Cahyanita, Elvin; Hutami, Trapsila Siwi; Lutfi, Muhammad; Proborini, Chandra Ayu; Fauziyah, Mailulah Ely
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.8312

Abstract

This study aims to describe the integration of Joglo traditional house local wisdom into plane geometry learning and to analyze its contribution to the conceptual and contextual understanding of PGSD students. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, written tests, interviews, and documentation. A total of 41 students participated in learning activities that utilized the Joglo house as a cultural context in studying plane figures. The findings indicate that integrating local cultural elements supports students in understanding plane geometry concepts more concretely. Written test results show that 46.3% of students achieved the “good” category, 36.6% the “adequate” category, and 17.1% the “low” category. Students were able to identify trapezoids, rectangles, and squares within the architectural structure of the Joglo house and apply area and perimeter formulas more accurately. Interview data confirm that the cultural context facilitated shape identification, improved calculation processes, and provided more meaningful learning experiences through the values of balance and harmony embedded in Joglo architecture. Observation and task artefacts provide supporting evidence of active student engagement as well as the emergence of learning-related character traits such as independence, responsibility, and appreciation of local culture. Overall, the study highlights that learning activities that integrate local wisdom effectively strengthen mathematical understanding while fostering cultural awareness among prospective elementary school teachers. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan integrasi kearifan lokal rumah tradisional Joglo ke dalam pembelajaran geometri bidang dan menganalisis kontribusinya terhadap pemahaman konseptual dan kontekstual mahasiswa PGSD. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui observasi, tes tertulis, wawancara, dan dokumentasi. Sebanyak 41 mahasiswa berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan rumah Joglo sebagai konteks budaya dalam mempelajari bangun datar. Temuan menunjukkan bahwa integrasi unsur budaya lokal mendukung mahasiswa dalam memahami konsep geometri bidang secara lebih konkret. Hasil tes tertulis menunjukkan bahwa 46,3% mahasiswa mencapai kategori “baik”, 36,6% kategori “cukup”, dan 17,1% kategori “rendah”. Mahasiswa mampu mengidentifikasi trapesium, persegi panjang, dan persegi dalam struktur arsitektur rumah Joglo dan menerapkan rumus luas dan keliling dengan lebih akurat. Data wawancara menegaskan bahwa konteks budaya memfasilitasi identifikasi bentuk, meningkatkan proses perhitungan, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui nilai-nilai keseimbangan dan harmoni yang tertanam dalam arsitektur Joglo. Observasi dan artefak tugas memberikan bukti pendukung keterlibatan aktif siswa serta munculnya ciri-ciri karakter terkait pembelajaran seperti kemandirian, tanggung jawab, dan apresiasi terhadap budaya lokal. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti bahwa kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan kearifan lokal secara efektif memperkuat pemahaman matematika sekaligus menumbuhkan kesadaran budaya di kalangan calon guru sekolah dasar.
PENGEMBANGAN MODUL AJAR BERBASIS PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING (CRT) PADA MATERI DAERAHKU KEBANGGAANKU KELAS V SD Preyera, Laisya Okta; Sofwan, Muhammad; Sholeh, Muhammad
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.8326

Abstract

This study was motivated by the absence of a contextual teaching module that is responsive to the cultural diversity of students in IPAS learning at SDN 111/I Muara Bulian. Teachers still rely on generic online modules, resulting in learning activities that are less relevant to students’ local cultural experiences. This research focuses on the development, validity, and practicality of a teaching module based on the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach for the Grade V topic “Daerahku Kebanggaanku.” The research employed the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model consisting of the Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation stages. Validation was carried out by media, material, and language experts, while practicality data were obtained from teacher responses and implementation trials. The results indicate that media validation increased from 79.2% to 88% (highly valid), material validation rose from 66.25% to 93.75% (highly valid), and language validation reached 94% (highly valid). The overall average validity score was 91.92%, classified as highly valid. Implementation through small-group trials (8 students) and large-group trials (23 students) showed that students were able to connect the learning content with their local cultural context. The module’s practicality received a score of 95% from the teacher (highly practical). Thus, the CRT-based teaching module is considered valid, practical, and suitable for supporting contextual IPAS learning that centers on students’ cultural diversity. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum tersedianya modul ajar yang kontekstual dan responsif terhadap keberagaman budaya peserta didik pada pembelajaran IPAS di SDN 111/I Muara Bulian. Guru masih menggunakan modul daring bersifat umum sehingga pembelajaran kurang relevan dengan pengalaman budaya lokal peserta didik. Penelitian ini berfokus pada pengembangan, validitas, serta kepraktisan modul ajar berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) pada materi “Daerahku Kebanggaanku” kelas V SD. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang mencakup tahap Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi. Validasi dilakukan oleh ahli media, ahli materi, dan ahli bahasa, sementara kepraktisan diperoleh melalui respons guru dan pelaksanaan uji coba. Hasil validasi menunjukkan bahwa aspek media mengalami peningkatan dari 79,2% menjadi 88% (sangat valid), validasi materi naik dari 66,25% menjadi 93,75% (sangat valid), dan validasi bahasa memperoleh skor 94% (sangat valid). Rata-rata keseluruhan validitas sebesar 91,92% dengan kategori sangat valid. Tahap implementasi melalui uji coba kelompok kecil (8 siswa) dan kelompok besar (23 siswa) menunjukkan bahwa peserta didik mampu mengaitkan materi dengan budaya daerahnya. Kepraktisan modul memperoleh skor 95% dari guru (sangat praktis). Dengan demikian, modul ajar berbasis pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dinyatakan valid, praktis, dan layak digunakan untuk mendukung pembelajaran IPAS yang kontekstual dan berpusat pada keberagaman budaya peserta didik.