cover
Contact Name
Lery Prasetyo
Contact Email
leryprasetyo@rocketmail.com
Phone
+6282140158300
Journal Mail Official
sabbhata_yatra@radenwijaya.ac.id
Editorial Address
Redaksi Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya Program Studi Pariwisata Buddha Address: Jl. Kantil Bulusulur Wonogiri-Jawa Tengah Kode Pos 57615
Location
Kab. wonogiri,
Jawa tengah
INDONESIA
SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 27455513     DOI : -
Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya is scientific journal which publishes scientific articles about tourism and culture. There are two main basic sciences on this journal, they are: Tourism : tourism plan, tourism management, tourism destination, travelling, gastronomy, pilgrimage, and hospitality Culture : traditions, customs, belief systems, art, history, society, ethnics, culture philosophy, heritage, and society system.
Articles 97 Documents
STRATEGI PENGELOLAAN KAMPUNG KEDUNG LUMBU SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI KOTA SURAKARTA Ichwan Prastowo; Sudarmaji Sudarmaji
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 1 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i1.433

Abstract

Kedung Lumbu Village, Kliwon Market at Surakarta Municipality is in the center of the heart of the city has many historical places and buildings, all of which have the potential to be developed into an integrated tourist destination. This study aims to determine the tourism potential that exists in Kedung Lumbu village and strategies that can be used for the management of Kedung Lumbu Village sabagai tourist attractions in Surakarta City. As for this study using natiralistic qualitative methods, the data used are the result of observations, documentation, literature studies and interviews. The data used is mostly the result of interviews with informants consisting of tourism managers (Pokdarwis), local governments, tourists, and also the surrounding community. The results of some of these interviews will be analyzed by SWOT to find out the tourism potential and strategies in its management The results in this study can identify existing strengths, weaknesses, opportunities and also threats. These results can be analyzed with SWOT according to the situation and conditions in the tourist spot so that tourism potential and strategies can be obtained to take policies in the development of tourist destinations Kedung Lumbu Village, KLiwonMarket at Surakarta City. Concretely, the results of this study can be used in determining sustainable tourism, especially Kedung Lumbu Village and generally for other tourist attractions in Surakarta City.
Peran Tradisi Ngejot dalam Meningkatkan Kerukunan Antar-Umat Beragama di Desa Mareje Timur Kabupaten Lombok Barat: Perspektif Umat Buddha hemawati
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 1 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i1.461

Abstract

Abstrak Salah satu tradisi yang masih dipertahankan dan dijalankan sampai saat ini oleh masyarakat Desa Mareje Timur, Dusun Tendaun adalah tradisi Ngejot. Tradisi Ngejot merupakan salah satu tradisi yang ditandai sebagai wujud kedekatan dan eratnya persaudaraan antar-umat beragama khususnya umat Buddha dan umat Islam. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada saat hari-hari besar keagamaan seperti Waisak dan Pattidana masal bagi umat Buddha serta Idul Fitri bagi umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran tradisi Ngejot dalam meningkatkan kerukunan antar-umat beragama dalam perspektif umat Buddha. Penelitian ini menggunakan metode etnografi, pengumpulan data dilakukan melalui observasi (pengamatan), wawancara dan partisipasi langsung. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan konsep dari tokoh Miles dan Huberman melalui tiga tahap, yaitu kondensasi data, reduksi data dan kesimpulan atau verifikasi. Hasil dari penelitian ini, tradisi Ngejot merupakan tradisi yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan antar-umat beragama dan tradisi Ngejot ini berperan sebagai perekat solidaritas sosial. Dalam hal ini, tradisi Ngejot terbukti memiliki peran yang strategis dalam menjaga keharmonisan antar-umat beragama dengan demikian kerukunan masyarakat di Dusun Tendaun semakin meningkat. Di samping itu, dalam kehidupan sehari-hari banyak kegiatan lain yang menjadi upaya pendukung untuk menciptakan kerukunan umat beragama seperti begawe, gotong royong dan baksos. Selain itu, dari hasil penelitian juga ditemukan fakta-fakta lain bahwa tradisi Ngejot ini selaras dengan ajaran Buddha, yaitu memberi atau berdana dan cinta kasih yang juga membawa pada kerukunan. Kata Kunci: Tradisi Ngejot, Kerukunan, Perspektif Umat Buddha Abstrak Salah satu tradisi yang masih dipertahankan dan dijalankan sampai saat ini oleh masyarakat Desa Mareje Timur, Dusun Tendaun adalah tradisi Ngejot. Tradisi Ngejot merupakan salah satu tradisi yang ditandai sebagai wujud kedekatan dan eratnya persaudaraan antar-umat beragama khususnya umat Buddha dan umat Islam. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada saat hari-hari besar keagamaan seperti Waisak dan Pattidana masal bagi umat Buddha serta Idul Fitri bagi umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran tradisi Ngejot dalam meningkatkan kerukunan antar-umat beragama dalam perspektif umat Buddha. Penelitian ini menggunakan metode etnografi, pengumpulan data dilakukan melalui observasi (pengamatan), wawancara dan partisipasi langsung. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan konsep dari tokoh Miles dan Huberman melalui tiga tahap, yaitu kondensasi data, reduksi data dan kesimpulan atau verifikasi. Hasil dari penelitian ini, tradisi Ngejot merupakan tradisi yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan antar-umat beragama dan tradisi Ngejot ini berperan sebagai perekat solidaritas sosial. Dalam hal ini, tradisi Ngejot terbukti memiliki peran yang strategis dalam menjaga keharmonisan antar-umat beragama dengan demikian kerukunan masyarakat di Dusun Tendaun semakin meningkat. Di samping itu, dalam kehidupan sehari-hari banyak kegiatan lain yang menjadi upaya pendukung untuk menciptakan kerukunan umat beragama seperti begawe, gotong royong dan baksos. Selain itu, dari hasil penelitian juga ditemukan fakta-fakta lain bahwa tradisi Ngejot ini selaras dengan ajaran Buddha, yaitu memberi atau berdana dan cinta kasih yang juga membawa pada kerukunan. Kata Kunci: Tradisi Ngejot, Kerukunan, Perspektif Umat Buddha
Makna Simbolik Tradisi Ngalungi Sapi dan Relevansinya Dengan Brahma Vihara Dalam Budhisme Sarwi Sarwi; Agus Subandi
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 1 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i1.478

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi Ngalungi Sapi, mendeskripsikan makna simbolik tradisi Ngalungi Sapi, dan mendeskripsikan relevansi tradisi Ngalungi sapi dengan Brahma Vihara. Tradisi Ngalungi sapi di Dusun Glagah Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati dilaksanakan setiap setahun sekali antara hari Selasa Kliwon atau hari Jumat Pahing pada bulan Suro, dilaksanakan pada malam hari. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara observasi secara langsung, dokumentasi dilapangan, dan wawancara dengan informan. Informan dalam penelitian ini adalah sesepuh dan beberapa tokoh masyarakat di Desa Giling. Berdasarkan deskripsi data dan analisis data dapat diketahui dan dapat ditemukan bahwa dalam tradisi ngalungi sapi dilaksanakan sejak zaman dahulu pada saat hewan ternak sapi digembalakan secara liar oleh pemiliknya, terdapat makna simbolik yang terkandung dalam ubopame maupun ritual didalam tradisi ngalung sapi, tradisi ngalungi sapi memiliki relevansi dengan brahma vihara. Implikasi yang terbentuk adalah mempertahankan dan melestarikan nila-nilai luhur bersumber dari tradisi nenek moyang sebagai ciri khas peradaban suatu bangsa. Kata kunci: Pelaksanaan, Makna Simbolik, Relevansi, Tradisi Abstract This study aims to describe the implementation of the Ngalungi sapi tradition, describe the symbolic meaning of the Ngalungi sapi tradition, and describe the relevance of the Ngalungi sapi tradition to the Brahma Vihara. The tradition of Ngalungi sapi in Glagah Hamlet, Giling Village, Gunungwungkal District, Pati Regency is carried out once a year between Kliwon Tuesday or Pahing Friday in the month of Suro, held at night. This research is a qualitative research. Data were collected by direct observation, field documentation, and interviews with informants. Informants in this study were elders and several community leaders in Giling Village. Based on the data description and data analysis, it can be seen and it can be found that in the tradition of ngalungi sapi carried out since ancient times when cattle were grazed wildly by their owners, there is a symbolic meaning contained in the ubopome and rituals in the tradition of ngalungi sapi, the tradition of ngalungi sapi has relevance with the Brahma Vihara. The implication that is formed is to maintain and preserve noble values ​​originating from ancestral traditions as a characteristic of a nation's civilization. Keywords: Implementation, Symbolic Meaning, Relevance, Tradition
IDENTITAS KOTA DAN PARIWISATA: MENAFSIR ULANG “SOLO THE SPIRIT OF JAVA” Agus Saputro
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 1 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i1.503

Abstract

Identity is a distinctive identity attached to an object. Objects here can be material and non-material, with a character that the person will know and remember objects more easily. In this paper, the object studied in the city, with an identity formed through a tagline or "jargon". The city in question is Solo, with the identity to be formed as "Solo The Spirit of Java". This tagline has actually been used for a long time to brand Solo City, with various interests. In this paper, we try to explore the interpretation of the tagline, from its appearance, determination, implementation, and until now. Good interpretation of meaning, importance, and contribution to the creation of the identity of the City of Solo. The results showed that the presence of the tagline "Solo the Spirit of Java" was responded to positively by the community. The purpose of this branding is to form the image of the regional city of Subosukawonosraten in marketing for improvement, especially for the economic sector. The conclusion of this study, although it received a positive response from the public, needs to be added regarding brand strategy. Because there are data in the study, the image of the city of Solo is not too influential for tourists. Branding Strategy includes; brand positioning (the position of the brand among other similar products or brands), brand identity (what identity is raised by a product or brand), and brand personality (human attributes attached to the brand object). In addition, social capital is also an important aspect of the success of building the image of the city of Solo.
FUNGSI DAN NILAI CANDI BOROBUDUR DI ERA GLOBALISASI Tri Yatno Tri Yatno
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 2 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i2.636

Abstract

Candi Borobudur merupakan bangunan warisan budaya bangsa Indonesia yang memiliki fungsi dan nilai, masyarakat Indonesia sebagai pewaris budaya memiliki tanggung jawab dalam pelestarian Candi Borobudur. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan fungsi dan nilai Candi Borobudur di era globalisasi. Metode penelitian yang digunakan diskriptif holistik. Hasil penelitian menyatakan keberadaan Candi Borobudur di era globalisasi sebagai ikon agama dan negara, Candi Borobudur menjadi spirit umat Buddha dan menjadi landasan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi masyarakat Indonesia. Candi Borobudur sebagai identitas budaya bangsa memiliki tiga fungsi, pertama, Candi Borobudur sebagai wahana spiritual, umat Buddha melihat Candi Borobudur sebagai tempat suci yang sakral dan bernilai religius, kedua, Candi Borobudur digunakan sebagai media edukasi, struktur dan sistem tanda pada ornamen Candi Borobudur tersirat nilai-nilai kehidupan moralitas yang digunakan sebagai media pembelajaran, dan ketiga, Candi Borobudur sebagai tempat wisata religi, nilai estetika dan seni Candi Borobudur memiliki nilai jual sebagai komoditas. Candi Borobudur sebagai simbol budaya bangsa mengandung nilai-nilai luhur yang dijadikan pedoman moralitas di era globalisasi. Nilai-nilai Candi Borobudur di era globalisasi meliputi nilai spiritual, nilai intelektual, dan nilai komersial.
Partisipasi Masyarakat Dalam Mendukung Kegiatan Pariwisata Di Desa Wisata Hijau Bilebante Kabupaten Lombok Tengah Baiq Fitrisna Widyasari; Titik Akiriningsih; Suharto
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 2 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i2.638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan pariwisata di Desa Wisata Desa Bilebante dan untuk mengetahui apa saja yang mendukung dan menghambat partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan 3 narasumber yang berperan dalam kegiatan wisata di Desa Wisata Desa Bilebante. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Bilebante sudah terlibat dalam kegiatan wisata dengan partisipasi berupa gagasan dengan memberikan ide, partisipasi tenaga dengan menjadi pelaku wisata, partisipasi harta dengan menghibahkan dan menyewakan tanah dan kendaraan, partisipasi keterampilan dan kecakapan dengan menciptakan industri berupa makanan, penginapan, dan kesehatan, serta partisipasi sosial dengan berpartisipasi dalam kegiatan di Desa Wisata Desa Bilebante. Partisipasi tersebut dipengaruhi oleh faktor pendukung yaitu motivasi masyarakat untuk berpartisipasi, masyarakat sudah memahami konsep sadar wisata dan mampu menjadi pelaku wisata, serta masyarakat mengikuti pelatihan dan kegiatan yang diadakan oleh pengelola desa, sedangkan faktor penghambatnya adalah partisipasi masyarakat tidak dipengaruhi oleh usia, tetapi jenis kelamin mempengaruhi partisipasi masyarakat, serta bantuan berupa pelatihan dan dana dari Pemerintah Daerah. Keywords: Partisipasi masyarakat, kegiatan pariwisata
Pengembangan Agrowisata Merah Jambu Berbasis Wisata Edukasi Di Kabupaten Karanganyar Silfi Amalia Chusna; Made Prasta Yostitia Pradipta; Erna Sadiarti Budiningtyas
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 2 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i2.643

Abstract

This study aims to find out what developments should be done by Merah Jambu Agrotourism in order to become an education-based Agrotourism in Karanganyar Regency. Through education-based agro-tourism development efforts, it is hoped that it can help improve the economy of the community around the agro-tourism area and education can become a new attraction that can attract tourists. In this study, the author uses a qualitative descriptive method. Data collection techniques were carried out by means of library research, observation, interviews and documentation, data analysis techniques used were data reduction, data presentation and conclusion drawing. Next, test the validity of the data in this study using the triangulation technique. Based on the results of the study, it can be found that the problems that exist in the Merah Jambu Agrotourism are the absence of attractions and also the lack of facilities in the Merah Jambu agrotourism. Therefore, the need for agro-tourism development as in the tourism development theory by Cooper, namely A4 (Attractions, Accessibility, Amenity, and Ancillary) and the development of education-based attractions in agro-tourism in the form of agricultural education tourism systems in plantation areas and the use of restaurants as facilities for workshops can be realized. by Merah Jambu Agrotourism to become an education-based Agrotourism in Karanganyar Regency.
THE JAVANESE MYTH AMONGS THE MODERN PEOPLE IN 2000s GENERATION Sahid; M. Elfan Kaukab
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 2 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i2.668

Abstract

This study aims at investigating the Javanese myth among the modern people in 2000s generation. This study focuses on the area of Wonosobo Regency to be observed. The researcher conducted the in-depth interview toward the stake holder (Sesepuh/traditional leader, the residents); observation, documentation and giving questionnaires also conducted to obtain the validity of data. The result of this study shows there are various perception and attitudes toward the existence of Javanese myth among them and there are some kinds of myth that still believed. The Javanese myth still exist among the modern people in the area of Wonosobo.
MAKNA SIMBOLIK RITUAL SOTOBA MAJELIS NICHIREN SHOSHU BUDDHA DHARMA INDONESIA (MNSBDI) Kajian Folklor Ratmawati Ratmawati; Junaidi Junaidi; Santi Paramita
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 3 No 2 (2022): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v3i2.676

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan latar belakang munculnya dan pelaksanaan ritual Sotoba, mendeskripsikan simbol-simbol dan fungsi pelaksanaan Sotoba bagi umat MNSBDI. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif naratif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Sotoba merupakan badan pencapaian kesadaran Buddha untuk almarhum, bersama Myohorengekyo. Sutra yang dipakai yaitu bab Upaya Kausalya dan Bab Panjangnya Usia Sang Tathagata . Fungsi ritual Sotoba bagi masyarakat MNSBDI sebagai sistem proyeksi, angan-angan yaitu pemohon memperoleh karunia yang dapat dirasakan tujuh keturunan keatas dan tujuh turunan kebawah. Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan. Ritual Sotoba sebagai pranata yang syah dalam tradisi doa kematian di MNSBDI, sebagai wujud pendidikan balas budi anak kepada orang tua serta sebagai wujud cinta kasih terhadap semua makhluk. Ritual Sotoba sebagai alat pemaksa bagi umat MNSBDI dan sebagai bentuk taat dengan ajaran yang ada di Saddharmapundarika-Sutra
DAMPAK PENGELOLAAN HOMESTAY TERHADAP MASYARAKAT DI DESA WISATA TETEBATU LOMBOK TIMUR Nurmala Dewi; Darmaesti
SABBHATÃ YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya Vol 4 No 1 (2023): SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya
Publisher : STABN Raden Wijaya Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/sabbhatayatra.v4i1.699

Abstract

Pengelolaan homestay di Desa Wisata Tetebatu, Lombok Timur dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar menjadi tujuan terhadap penelitian ini. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data didapat melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dampak pengelolaan homestay di desa wisata Tetebatu dengan melibatkan peran masyarakat secara langsung sebagai pengelola homestay maupun sebagai pendukung dalam mengelola homestay. Pengelolaan Homestay juga berdampak diadakannya pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan mengelola homestay, sehingga menimbulkan perubahan dari segi ekonomi, sosial dan budaya. Dampak ekonomi dapat terlihat melalui perubahan terhadap kesejahteraan ekonomi pada masyarakat sekitar, dampak sosial dapat dilihat dari adanya kegiatan yang di dalamnya terjadi interaksi sosial antar masyarakat, sehingga terjadinya perubahan sosial, dan dampak budaya dapat dilihat dari pelestarian kesenian lokal yaitu Gendang Beleq dan masyarakat dapat bertukar informasi antara budaya wisatawan dengan pelaku wisata. Saran untuk masyarakat yang berperan dalam pengelolaan homestay tetap mempertimbangkan kemampuan dalam mengelola homestay Tetebatu sebagai homestay berbasis masyarakat.

Page 4 of 10 | Total Record : 97