cover
Contact Name
I Gde Dharma Atmaja
Contact Email
sangkareangmataram@gmail.com
Phone
+62818361014
Journal Mail Official
sangkareangmataram@gmail.com
Editorial Address
Jl Pemuda No. 59A, Dasan Agung Baru, Mataram
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram
Published by Sangkareang Mataram
ISSN : 23559292     EISSN : 27752127     DOI : -
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram merupakan jurnal resmi yang memuat artikel ilmiah dari berbagai disiplin keilmuan (bunga rampai) seperti Kesehatan, Kedokteran Hewan, Seni, Teknologi, Teknik, Ekonomi, Kehutanan, Kependidikan dan lain sebagainya
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 402 Documents
ANALISIS VEGETASI HUTAN DI DUSUN EMBUNG JAYA DESA MUMBU KABUPATEN DOMPU Wahyu Yuniati Nizar
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 1 (2017): Maret 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guna mengetahui struktur dan komposisi vegetasi hutandi Dusun Embung Jaya Desa Mumbu Kabupaten Dompu telah di laksanakan pada bulan Juli 2016. Teknik pengambilan dengan metode inventarisasi dengan penempatan jalur dilakukan dengan streep sampling with random start. Vegetasi tingkat pohon kerapatannya sangat kecil, hal ini dikarenakan telah banyak ditebang oleh masyarakat pada saat melakukan aktifitas pemungutan hasil hutan terutama kayu Songga dan madu hutan. Pohon Binong mendominasi karena merupakan pohon yang menjadi sarang lebah madu hutan. Songga juga mendominasi karena jenis ini cocok dengan kawasan hutan setempat, dan songga ini banyak dimanfaatkan penduduk setempat sebagai obat herbal. Terdapat dinamika stratifikasi pohon dalam kawasan hutan di Dusun Embung Jaya Desa Mumbu. Sebaran vertikal dari tinggi pohon dalam kawasan Hutan di Dusun Embung Jaya Desa Mumbu menunjukkan dinamika pada komposisi jenisnya. Jenis Songga, Jabon, Binong dan Katowi mendominasi pada tingkat lapisan bawah. Songga, Binong, dan Jabon mendominasi pada lapisan tengah. Pada lapisanatas yang memiliki pohon tertinggi didominasi oleh jenis Binong, Jabon, Katowi dan Asam.
KADAR HEMOGLOBIN DAN PARITAS SEBAGAI FAKTOR RISIKO PERDARAHAN POSTPARTUM PADA IBU BERSALIN DI PUSKESMAS AMPENAN KOTA MATARAM M Karjono
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 1 (2017): Maret 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdarahan postpartum adalah perdarahan setelah anak lahir melebihi 500 ml yang merupakan risiko kematian maternal terbanyak. Pada SDKI tahun 2012, Angka Kematian Ibu naik menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup. Risiko terbesar kematian ibu di Indonesia selama tahun 2010-2013 yaitu perdarahan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan kadar hemoglobin dan paritas ibu bersalin dngan perdarahan postpartum di Puskesmas Ampenan tahun 2015. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di Puskesmas Ampenan Kota Mataram sejak bulan Januari sampai dengan bulan Oktober tahun 2015 yaitu sebanyak 246 orang. Sampel penelitian sebanyak 71 orang yang ditentukan denganalfa 0,01. Analisis penelitian menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat yaituCoefficient Contingency C.Hasil uji statistik bivariat terhadap masing-masing variabel independen (kadar hemoglobin dan paritas ibu bersalin) dengan variabel dependen (perdarahan postpartum) menemukan bahwa ada hubungan antara kadar hemoglobin (p = 0,013) dan paritas ibu bersalin (p = 0,045) dengan perdarahan postpartum. Kesimpulan penelitian ini ada hubungan kadar hemoglobin dan paritas ibu bersalin dengan perdarahan postpartum di Puskesmas Ampenan tahun 2015. Disarankan tenaga kesehatan memberi penyuluhan tentang pentingnya konsumsi tablet Fe dan penggunaan alat kontrasepsi pasca persalinan.
ANALISIS KEBUTUHAN DOSEN IDEAL DAN STRATEGI DALAM MENARIK MINAT CALONDOSEN MENJADI DOSEN DI UNIVERSITAS 45 MATARAM Sulaeman
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan jumlah dosen tahun 2015 dan perkiraaan kebutuhan dosen yang ideal di Universitas 45 mataram jangka waktu 2015-2018 pada tiap fakultas maupun program studi sertamerumuskan strategi dalam menarik minat calon dosen untuk menjadi dosen di Universitas 45 Mataram jika terjadinya kekukrangan dosen. Jenis penelitian ini adalah penelitian gabungan (mixed methods) antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Data di kumpulkan melalui wawancara mendalam dan penebaran kuisioner terhadap 13 pengelola inti dalam pemenuhan kebutuhan dosen di Universitas 45 Mataram, penyebaran formulir data bahan evaluasi pengajaran dalam menenentukan jumlah kebutuhan dosen ideal serta studi dokumentasi terkait dengan penelitian. Hasil perhitungansecara keseluruhan menunjukan total kebutuhan dosen ideal di seluruh fakultas adalah 68 orang Tahun 2015, 74 orang tahun 2016, 81 orang 2017 dan 88 orang pada tahun 2018. Jumlah kebutuhan dosen jangka waktu 2015-2018 secara keseluruhan setiap tahunnya lebih besar dari pada jumlah dosen tetap di seluruh fakultas 47 orang, sehingga nampak adanya kekurangan dosen tetap.Berdasarkan analisis SWOT strategi utama yang berhasil dirumuskan dalam menarik minat calon dosen untuk menjadi dosen adalah dengan memberikan akses kemudahan dalam mengurus Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) bagi dosen baru dengan merekrut lulusan program pasca sarjana calon dosen Kemenristekdikti dan merekrut dosen, ilmuan dan praktisi purna tugas untuk menjadi dosen, selanjutnya memanfaatkan dukungan Yayasan dalam meningkatkan kompetensi dan pengembangan dosen untuk mewujudkan ketersediaan dosen yang berkualitas.
KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS TERHADAP PENATAAN RUANG DI KAWASAN STRATEGIS PROVINSI (KSP) SENGGIGI TIGA GILI Teddy Hartawan; Eliza Ruwaidah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Senggigi Tiga Gili terdiri dari 2 (dua) wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Lombok Barat ,Kabupaten Lombok Utara. Kawasan Senggigi Tiga Gili dengan sektor unggulan pariwisata, industri dan perikanan diharapkan dapat menunjang pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB secara menyeluruh sehingga dibutuhkan regulasi dari aspek perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang untuk menunjang berbagai kegiatan infrastruktur serta kegiatan sektoral lainnya dalam rangka perwujudan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Sebagai sebuah dokumen perencanaan yang menyangkut aspek keruangan, maka diperlukan pertimbangan lingkungan hidup yang berkelanjutan agar proses danmanfaat dapat terlaksana secara optimal dan lestari. KLHS atau Strategic Environmental Assessement (SEA) merupakan suatu rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif serta pendekatan strategis jangka panjang pengelolaan lingkungan menujupembangunan berkelanjutan. KLHS wajib dilaksanakan untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah serta Kebijakan, Rencana dan/atau Program (KRP). KLHS wajib diintegrasikan kedalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya baik di tingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Dalam hal ini termasuk memaduserasikan KRP yang berpotensi menimbulkan dampak atau resiko lingkungan hidup, fungsi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di suatu wilayah. Berdasarkan hasil kajian pengawasan mutu pelaksanaan kegiatan KLHS, disimpulkan: 1)Sebanyak 8 sub-kegiatan (31%dari total kegiatan) telah tercakup sepenuhnya, terutama pada kegiatan yang sifatnya pengindetifikasian dan inventarisir. 2) Sebanyak 14 sub-kegiatan (54% dari total kegiatan) telah tercakup sebagian besar, terutama pada kajiankajian mengenai isu-isu pembangunan. Meskipun demikian, diperlukan penyempurnaan dengan memperkaya referensi kajian dan analisis mengenai efek-efek KRP terhadap lingkungan. 3)Hanya 2 subkegiatan (8% dari total kegiatan) yang tercakup sebagian kecil, yaitu pada sub-kegiatan mengonsultasikan dan menyepakati substansi rekomendasi bersama SKPD dan mengintegrasikan kesepakatan substansi rekomendasi ke RTR KSP bersama Tim Penyusun RTR KSP. Nilai ini diberikan mengingat proses penyusunan RTR KSP telah rampung dan telah diperdakan. 4)Hanya 2 sub-kegiatan (8% dari total kegiatan) yang tidak tercakup sama sekali, yaitu pada sub-kegiatan yang berkaitan dengan penyampaian rancangan RTR KSP kepada Gubernur dan Bupati serta dokumentasinya. Hal ini disebabkan karena proses ini telah berakhir dan pada saat itu proses KLHS belum dilaksanakan.
PENGUKURAN TAHANAN JENIS (RESISTIVITY) UNTUK PEMETAAN POTENSI AIR TANAH DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PRAYA Sukandi
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Sakit Umum Daerah Praya merupakan Rumah Sakit milik pemerintah yang memiliki fungsi untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat, sehingga perlu fasilitas penunjang yang lengkap terutama dalam hal penyediaan air baku. Pemenuhan pasokan air baku dari PDAM terasa kurang, maka akan dimanfaatkan potensi air tanah. Untuk mengetahui potensi air tanah, dilakukan survey permukaan dan bawah permukaan. Salah satu metode survey yang akan dilakukan adalah pendugaan geolistrik. Dengan survey geolistrik dapat diketahui kedalaman lapisanaquifersehingga dapat ditafsirkan potensi air tanah. Penelitian ini menggunakan metode investigasi langsung di lapangan berupa pengukuran geolistrik dengan menerapkan konsep konfigurasi elektroda Schlumberger vertical electrical sounding untuk memperoleh nilai arus dan potensial. Pengolahan hasil pengukuran di lapangan dengan menggunakan programsoftware IP2WINyang di kombinasikan dengansoftware Progres 2D.Berdasarkan penyelidikan dengan menggunakan metode geolistrik didapatkan nilai resistivitydan ketebalan lapisan yang berbedabeda setiap titik walaupun masih dalam formasi yang sama. Lapisan ke-1 berupa lanau pasiran dengan tahanan jenis 1.24–94.77Ohm-m.Lapisan ke-2 berupa breksi tufaan dengan nilai tahanan jenis 7.68– 80.02Ohm-m. Lapisan ke-3 berupa tuf pasiran dengan nilai tahanan jenis 3.39–9.37Ohm-m. Lapisan ke4 berupa tuf pasiran dengan nilai tahanan jenis 2.92–6.19 Ohm-m.Dari hasil interpretasi menunjukkan bahwa lapisan muka air tanah (akuifer) berada pada kedalaman 25.0 meter dengan nilai tahanan jenis antara 3.39–9.37Ohm-m yang berada pada lapisan tuf pasiran. Lapisanakuiferyang ada pada daerah ini termasuk sebagaiakuiferbebas karena berada dalam daerah cekungan air tanah (CAT).
GAMBARAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PASIEN ORTODONTIDI KLINIK RSGM FKG UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR TAHUN 2017 Wiwekowati; I D G Budijanana; IGN Rizky Prayudi
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan perawatan ortodonsi ditentukan oleh kesehatan gingival. Perawatan ortodonti bisa dilakukan secara cekat maupun lepasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kesehatan ginggiva pada pasien yang memakai alat ortodonti lepasan di Klinik RSGM FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pasien ortodonti sebanyak 25 orang diambil dengan menggunakan metode total sampling, pada kunjungan bulan Mei 2017. Kriteria pasien adalah telah dilakukan perawatan minimal selama 6 bulan dan bersedia mengikuti penelitian ini. Instrumen pengukuran kesehatan gingiva yang digunakan adalah Index Gingival dari Loe & Silness. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 32% kasus jenis gingivitis ringan, tidak terdapat kasus gingivitis jenis sedang maupun gingivitis berat.
VARIASI KADAR AIR TIGA JENIS BAMBU BERDASARKAN ARAH AKSIAL Febriana Tri Wulandari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 3 (2018): September 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bambu tumbuh secara alami dan berumpun di kawasan hutan Indonesia, tak terkecuali di daerah Lombok, NusaTenggaraBarat.Manfaat bambu bagi masyarakat antara lain :sebagai bahan konstruksi ringan, sebagai bahan mebel dan kerajinan, sebagai papan komposit (papan lamina, papan partikel dan papan serat), sebagai bahan baku pembuatan kertas dan lain-lain. Disamping multi fungsi bambu yang tinggi maka terdapat beberapa kelemahan dari bambu antara lain : pengerjaan tidak mudah karena mudah pecah atau retak, mudah terserang serangga perusak kayu sehingga tidak tahan lama (tidak awet), variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya. Dengan mengetahui sifar fisika bambu maka dapat mengatasi adanya cacat akibat retak dan pecah karena pada saat bambu akan dikerjakan harus dalam kondisi kadar air yang rendah sehingga tidak mengalami perubahan dimensi (kembang susut yang tinggi). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi kadar air pada tiga jenis bambu (bambu petung, bambu ampel dan bambu tali) berdasarkan arah aksialnya (pangkal,tengah dan ujung).Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu menyajikan suatu gambaran terperinci atas suatu situasi khusus (Silalahi,2009). Sumber data diperoleh dari pengujian di laboratorium dan dibandingkan standar kualitas bambu yang telah ada.Penelitian dilaksanakan di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Senaru dan laboratorium Silvikultur dan Teknologi Hasil Hutan Program Studi Kehutanan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Pola sebaran kadar airpada arah aksial meningkat dari pangkal menuju ujung batang dan bagian ruas memiliki nilai kadar air yang lebih tinggi dari bagian buku.
PERBEDAAN KUANTITAS DAN KUALITAS AIR SUSU SAPI PERAH PADA KEBUNTINGAN TRIMESTER I DAN TRIMESTER II Lalu Faesal Fajri
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 1 (2017): Maret 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

saha untuk meningkatkan kualitas air susu yaitu dapat dilakukan dengan manajemen peternakan, manajemen pakan, dan manajemen pemerahan yang baik sehingga sapi perah dapat melakukan proses produksi yang teratur agar menghasilkan air susu yang berkualitas tinggi dan memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh SNI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas (protein, lemak, berat jenis, bahan kering, bahan kering tanpa lemak) air susu pada sapi perah pada kebuntingan trimester I dan kebuntingan trimester II. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel air susu segar yang berasal dari lima belas ekor ekorsapi perah pada kebuntingan trimester I (P1), dan air susu segar yang berasal dari lima belas ekor sapi perah pada kebuntingan trimester II (P2). Sapi diperah dua kali dalam satu hari pada pukul 12.00 dan 24.00 WIB. Sapi yang dipilih adalah sapi yang berumur 4 tahun dan sedang berproduksi pada laktasi II. Hijauan diberikan sebanyak 10% dari berat badan sapi, yaitu 40kg/ekor/hari dan konsentrat diberikan sebanyak setengah dari produksi air susu, yaitu sekitar 5kg/ekor/hari.
PERKAWINAN USIA DINI MENURUT HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Farida Ariany
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 1 (2017): Maret 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan merupakan awal dari terbentuknyasebuah keluarga. Namun ketika perkawinan itu menyangkut masalah umur, menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat disebabkan perspektif dari regulasi perkawinan masing-masing berbeda dalam menentukan batasan umur antara hukum nasional yang diatur dalamUndang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan hukum agama yang diatur dalam Fiqih Islam serta Kompilasi Hukum Islam. Perbedaan batasan usia pernikahan ini baik dalam Islam maupun dalam UU No. 1 tahun 1974 masih jadi persoalan yang belum dapat diselesaikan. Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan menganut prinsip bahwa calon suami dan isteri harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan pernikahan, agar dapat mewujudkan tujuan pernikahan secara baik tanpa berakhir padaperceraian dan mendapatkan keturunan yang baik dan sehat, untuk itu harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami dan isteri yang masih dibawah umur. Dalam agama Islam secara tegas tidak terdapat kaidah-kaidah yang sifatnya menentukan batas usia perkawinan, berdasarkan hukum Islam pada dasarnya semua tingkatan usia dapat melakukan ikatan perkawinan. Dalam Islam syarat perkawinan itu adalah‘aqildanbalighyang tidak memandang batas usia. Berdasarkan perbedaan inilah penulis ingin meneliti terkait perbedaaan ini. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) yakni dengan membaca dan menela’ah bukubuku serta tulisan-tulisan yang ada kaitannya dengan objek pembahasan, yakni pernikahan usia dini, menurut hukum Islam dan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian ini antara lain: bahwa ulama berbeda pendapat terkait baligdalam usia perkawinan, antara lain: Imam Malik, berpendapat bahwa batas usia baligh adalah tumbuhnya bulu-bulu di sekitar kemaluan, sementara kebanyakan para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa batasan usia haid untuk perempuan dan lakilaki adalah 17 tahun atau 18 tahun. Abu Hanifah berpendapat bahwa usia baligh adalah 19 tahun atau 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi wanita. Imam Syafi’i, berpendapat bahwa hal itu adalah pada usia sempurna 15 tahun. Menurut Undang-undang perkawinan No. 1/1974 sebagai hukum positif yang berlaku di Indonesia, menetapkan batas umur perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan, (pasal 7 ayat (1), namun batas usia tersebut bukan merupakan batas usia seseorang telah dewasa yang cukup dewasa untuk bertindak, akan tetapi batas usia tersebut hanya merupakan batas usia minimal seseorang boleh melakukan pernikahan.
PEMETAAN POLA INTRUSI AIR LAUT DI BEBERAPA DAERAH YANG MENJADI DESTINASI PARIWISATA DI KABUPATEN LOMBOK UTARA Ni Putu Ety Lismaya Dewi; Indah Arry Pratama
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 1 (2017): Maret 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

North Lombok (KLU) is actively developing the tourism sector. One of the tourism sector with huge potential in KLU is the beach tourism. Various regions in KLU which became a tourist destination, local, national and international, among others Nipah beach, Malimbu, Pandanan, Gili Kodeq, Gili Indah, and Sire Beach. However, efforts to develop the tourism sector is experiencing various obstacles. One of the problems is a major constraint in the development of tourism sector in different regions KLU is the lack of existing facilities at tourist sites. Such facility including clean water, toilet facilities and security facilities. To that end, the provision of clean and adequate water into this matter urgently. The availability of clean water is often a visitor consideration in choosing a travel destination. The evaluation of the problem of seawater intrusion in coastal resorts North Lombok extremely important in efforts to manage groundwater resources, it is that the quantity and quality of groundwater supply in the long term to support tourism activities in KLU. The purpose of this study was to determine the patterns of freshwater availability vertically coastline as a result of salt water intrusion in some areas KLU tourism. In this research will be the process of digitization of the dots seawater intrusion in coastal resorts of North Lombok regency that will produce distribution maps of seawater intrusion in coastal resorts of North Lombok regency. The data obtained will then be analyzed descriptively and presented in the form of images, tables and graphs and discussed based on the need to address concerns and research purposes. Based on the analysis results can be seen that the highest level of salinity are in wells that were located closest to the shore while the lowest salinity values are in the wells were located 230 m from the beach. Wells salinity level citizens well residing in Malimbu Beach be in the range of 0.4% -1.233%. While the level of salinity of wells that were in Nipah Beach is in the range of 0% - 0.8%. Because salinity levels in the two sites are under 3%, then the water in the two sites are in the classification of freshwater. From this study it can be concluded that the availability of fresh water in Malimbu and Nipah are in good condition and able to support the needs of tourism in both locations.