cover
Contact Name
I Gde Dharma Atmaja
Contact Email
sangkareangmataram@gmail.com
Phone
+62818361014
Journal Mail Official
sangkareangmataram@gmail.com
Editorial Address
Jl Pemuda No. 59A, Dasan Agung Baru, Mataram
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram
Published by Sangkareang Mataram
ISSN : 23559292     EISSN : 27752127     DOI : -
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram merupakan jurnal resmi yang memuat artikel ilmiah dari berbagai disiplin keilmuan (bunga rampai) seperti Kesehatan, Kedokteran Hewan, Seni, Teknologi, Teknik, Ekonomi, Kehutanan, Kependidikan dan lain sebagainya
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 402 Documents
STUDI PEMBUATAN KERAMIK BERPORI DARI LUMPUR LAPINDO DENGAN TANIN SEBAGAI CETAKAN PORI Muhammad Ali Ilyas
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 2 (2016): Juni 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengarah pada pembuatan keramik berpori dari lumpur Lapindo dengan tanin sebagai cetakan pori. Pemilihan bahan dari lumpur Lapindo karena kandungan alumina dan silika yang tinggi dan bahan ini tersedia cukup melimpah. Tanin merupakan senyawa organik polifenol hasil metabolit sekunder tanaman. Sebelum dilakukan pembuatan keramik, terlebih dahulu dilakukan ekstraksi untuk mengurangi garam-garam larut. Metode pembuatan keramik yang digunakan adalah metode yang mirip dengan diepressing. Kadar tanin dalam lumpur Lapindo yang digunkan dalam penelitian ini adalah 0%, 10%, 20%, 30% dan 40%, sedangkan karakterisasi keramik berpori yang dilakukan adalah penentuan suhu sintering dengan analisa DTA, analisa sifat fisik yang meliputi susut bakar (susut volume dan massa), massa jenis, diameter pori dan kekerasan, serta analisa sifat kimia yaitu keasaman Bronsted permukaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosentase susut bakar mengalami peningkatan sebanding dengan peningkatan jumlah tanin, namun keramik dengan 0% tanin memperlihatkan nilai susut negatif setelah sintering. Hal ini disebabkan karena berdasarkan hasil analisa XRD telah terjadi perubahan parameter sel yang meningkatkan volume secara signifikan pada oksida besi(Fe 2 O 3 ). Analisa massa jenis dan diameter pori menunjukkan penurunan nilai dengan meningkatnya jumlah tanin dalam keramik, dan berdasarkan hasiluji SEM pada berbagai perbesaran tampak adanya berbagai bentuk dan ukuran pori. Hasil uji kekerasan dalam skala Vikers memperlihatkan penurunan nilai kekerasan, dan kekerasan tertinggi dimiliki oleh keramik dengan prosentase tanin 0% dengan nilai 99,07 Hv. Untuk analisa sifat kimia dengan FT-IR memperlihatkan adanya vibrasi Si-O-Al pada panjang gelombang 775– 735 cm -1 ,yang membuktikan adanya situs asam Bronsted.
PENGELOLAAN BERSAMA KAWASAN HUTAN SESAOT BERBASIS MASYARAKAT Baharuddin; Kurniawan
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 2 (2016): Juni 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan hutan Sesaot merupakan Hutan Lindung dan merupakan daerah tangkapan air yang memegang peranan strategis bagi penyediaan air bagi masyarakat hulu sampai hilir. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, masyarakat banyak menggantungkan hidupnya pada kawasan hutan Sesaot, menyebabkan kawasan tersebut terus menerus mengalami degradasi. Masyarakat yang mengelola kawasan hutan sesaot membentuk kelompok besar, seperti Wana Dharma, Wana Lestari, Wana Abadi, KKMPH, dan Forum Kawasan. Pengelolaan sumber daya hutan dilakukan dengan menyusun perencanaan kawasan. Perencanaan yang tepat dan baik diperlukan agar pelaksanaan pengelolaan hutan berjalan dengan lancar berdasarkan prinsip-prinsip konservasi. Dalam perkembangannya, terjadi perubahan pengelolaan kawasan hutan kemasyarakatan, dimana saat ini arah program tidak lagi di arahkan pada proses pemberian hak konsesi saja, tetapi juga diarahkan pada upaya pendampingan dan pembinaan secara berkelanjutan. Metode Focus Group Discussion dengan melibatkan peserta yang berasal dari anggota kelompok besar sebanyak 71 orang selama 3 hari dari tgl 11-13 Agustus 2014. Keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan kehutanan di daerah kawasan hutan merupakan elemen utama dalam implementasi kebijakan disektor kehutanan. Konsep perencanaan yang disusun harus meletakan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Sistem perencanaan partisipatif oleh berbagai pihak banyak dikembangkan untuk meningkatkan fungsi dan peran masyarakat, khususnya di bidang kehutanan. Perencanaan partisipatif merupakan sebuah konsep perencanaan yang melibatkan semua masyarakat dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi untuk memperoleh kondisi yang diharapkan, menciptakan aspirasi dan rasa memiliki. Inisiasi pengembangan perencanaan partisipatif sedang di gagas oleh masyarakat dikawasan hutan sesaot kabupaten Lombok Barat. Perencanaan tersebut dikemas dalam bentuk perencanaan ditingkat kawasan yang mengelaborasi semua kepentingan kelompok masyarakat yang berada di kawasan tersebut. Perencanaan yang disusun menjadi pedoman dan membingkai perencanaan yang selama ini masih disusun secara parsial oleh masyarakat. Kelompok besar yang ada didalam kawasan hutan sesaot memiliki perencanaan sendiri-sendiri dan secara subtansi perencanaan masing-masing kelompok sama jenis kegiatan dan kebutuhannya.
HUBUNGAN MOTIVASI DAN PELATIHAN DENGAN KINERJA TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG) DI PROVINSI NTB Mustika Hidayati
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 2 (2016): Juni 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan motivasi dan pelatihan terhadap kinerja Tenaga Pelaksana Gizi di Provinsi Nusa Tenggaran Barat.Data yang digunakan dalampenelitianini adalah data primer hasil kuesioner terhadap peserta Pelatihan Peningkatan kapasitas Petugas Gizi Puskesmas dalam Konseling Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang meliputi variabel dependen kinerja Tenaga Pelaksana Gizi dan variabel independen motivasi dan pelatihan. Analisis data dalam penelitian menggunakan metode statistik program komputer korelasi untuk mengetahui hubungan motivasi dan pelatihan terhadap kinerja Tenaga Pelaksana Gizi dengan menggunalakan analisis non parametric dengan korelasi rank spearman. Dari analisis tersebut diketahui bahwa motivasi dan pelatihan ternyata memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja Tenaga Pelaksana Gizi (p<0,05).
HUBUNGAN PARITAS DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI PUSKESMAS PEJERUK KOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2016 Rohani
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 2 (2016): Juni 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu indikator dalam menilai derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi (AKB) salah satunya disebabkan oleh BBLR. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi BBLR di Indonesia mengalami penurunan dari 11,1% di tahun 2010 menjadi 10,2% di tahun 2013. Walaupun secara nasional terjadi penurunan, namun di beberapa daerah prevalensi BBLR masih sangat tinggi seperti di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 16,9% (Kemenkes, 2013). Dalam Bulletin Sistem Kesehatan tahun 2011 disebutkan bahwa perkiraan setiap tahunnya terdapat sekitar 400.000 BBLR di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi NTB, jumlah bayi BBLR di NTB pada tahun 2014 yaitu 3730 jiwa dan yang meninggal sebesar 508 kasus, sedangkan di Kota Mataram sebesar 274 kasus dan yang meninggal sebesar 13 kasus (Bapeda NTB, 2014). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR di Puskesmas Pejeruk Kota Mataram. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder. Penelitian dilakukan pada bulan Mei tahun 2016. Data diambil adalah data BBLR yang tercatat dalam register kohort bayi tahun 2013 sampai tahun 2015 di puskesmas Pejeruk Kota Mataram. Tehnik pengambilan sampel diambil dengan menggunakan total sampling sebanyak 57 sampel. Data dianalisis dengan menggunakan alat bantu komputer dengan anilisis univariat untuk melihat karekteristik responden dan analisis bivariat untuk melihat hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR dengan menggunakan uji chi square. Data disajikan dengan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar BBLR murni sebanyak 52 orang (91,2%), multi para sebanyak 29 orang (50,9%), umur reproduksi sehat (20-35 tahun) sebanyak 49 orang ( 86%) tidak bekerja sebanyak 32 orang (56,1%). Ada hubungan antara paritas dnegna kejadian BBLR dengan p value (0,035). Kesimpulan : karekteristik ibu yang melahirkan bayi BBLR sebagian besar dengan BBLR(1500-<2500 gram), umur reproduksi sehat (20-35) tahun, multipara dan tidak bekerja. Ada hubuangan antaran paritas dengan kejadian BBLR. Saran : Hendaknya KIE terkait pencegahan terjadinya BBLR dapat lebih ditingkatkan lagi mengingat terdapat hubungan antara BBLR dengan paritas, sehingga kehamilan dapat berlangsung dengan normal dan puskesmas diharapkan dapat melibatkan lintas sektor terkait dan masyarakat di wilayah kerja puskesmas jika memungkinkan melakukan gerakan mendukung kehamilan terkait pencegahan faktor-faktor terjadinya BBLR.
ANALISIS PERBEDAAN FAKTOR HABITAT MANGROVE ALAMDENGAN MANGROVE REHABILITASI DI TELUK SEPI DESA BUWUN MAS KECAMATAN SEKOTONG KABUPATEN LOMBOK BARAT Mareta Karlin Bonita
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pengukuran dan pengujian laboratorium yang telah dilakukan di Teluk Sepi Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat bertujuan untuk Mengetahui perbedaan antara mangrove rehabilitasi dan mangrove alam dilihat dari faktor habitat (salinitas, suhu, pH, oksigen terlarut, ketebalan lumpur, N total, P tersedia, K tersedia, dan C organik) di Teluk Sepi Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat. Prosedur analisis data dilakukan uji Independent t test, Uji T2 Hoteling dan diskriminasi. Hasil penelitian dapat dilihat bahwa perbedaan faktor habitat mangrove rehabilitasi dan mangrove alam menunjukkan faktor salinitas di mangrove rehabilitasi 21,52 %o lebih rendah dibandingkan mangrove alam 25,73 %o. Faktor pH air pada mangrove rehabilitasi 7,06, lebih kecil dibandingkan dengan pH air pada mangrove alam 7,65. Faktor Suhu pada hutan mangrove rehabilitasi 28,72 0C lebih kecil dibandingkan dengan Suhu di mangrove alam 33,18 0C. Faktor DO (oksigen terlarut) di mangrove rehabilitasi 1,59 mg/l, nilai ini lebih rendah dari faktor DO di mangrove alam 5,25 mg/l. Untuk ketebalan lumpur di mangrove rehabilitasi 73,20 cm lebih tebal dibandingkan dengan mangrove alam 65,87 cm. N total di mangrove rehabilitasi 0,08 % lebih rendah dibandingkan dengan di mangrove alam 0,17 %. P tersedia mangrove rehabilitasi 1,47 Ppm lebih tinggi dibandingkan dengan di mangrove alam 1,36 Ppm. K tersedia di mangrove rehabilitasi 2,99 Meg/100gr lebih besar dibandingkan dengan di mangrove alam 2,10 Meg/100gr dan parameter C organik di mangrove rehabilitasi 1,32% lebih rendah dibandingkan dengan di mangrove alam 4,46 %. Dari semua faktor-faktor habitat tersebut ada satu faktor pembeda yang paling dominan dilihat dari besarnya koefesien fungsi diskriminansi yang merupakan pembeda pada mengarove Rehabilitas dan mangrove alam yakni pada parameter pH air 1,290C
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIV/AIDSDI KELURAHAN DASAN AGUNG WILAYAH KERJA PUSKESMAS DASAN AGUNG KOTA MATARAM Febriyan Tari; Kadek Mulyawan; Yuni Widyastuti; I Gusti Agung Ayu Hari Triandini
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah penderita HIV AIDS di Kota Mataram mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Oleh karenanya dalam rangka melaksanakan program pencegahan dan penanggulanagan HIV/AIDS, Konsep Layanan Komperhensif dan Berkesinambungan (LKB) digagas oleh Kementerian Kesehatan melalui upaya-upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif agar masyarakat yang belum terinfeksi tidak tertular HIV/AIDS dan masyarakat yang sudah terinfeksi dapat meningkatkan kualitas hidupnya di masa mendatang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS di Kelurahan Dasan Agung Wilayah Kerja Puskesmas Dasan Agung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu hamil yaitu sebanyak 75 orang di Kelurahan Dasan Agung. Data pada penelitian ini diperoleh dari data primer yaitu melalui hasil pengumpulan data sendiri dari responden menggunakan alat bantu kuesioner. Pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS ditinjau dari karakteristik responden menurut umur, pendidikan, pekerjaan adalah responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 69 orang (92,0%), berpengetahuan cukup sebanyak 6 orang (8,0%). Walaupun sebagian besar responden berpengetahuan baik, namun masih ada beberapa pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan benar diantaranya yaitu pertanyaan tentang pengertian, gejala dan penularan HIV/AIDS. Disarankan agar petugas kesehatan tetap melakukan penyuluhan kepada ibu hamil terutama yang berkaitan dengan gejala dan cara pencegahan HIV/AIDS.
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU PREMENOPAUSE DI DESA BONJERUK WILAYAH KERJA PUSKESMAS BONJERUK LOMBOK TENGAH Rani Ayu Mulya; Ni Luh Budi Astuti; M Karjono; I Gusti Agung Ayu Hari Triandini
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Premenopause adalah suatu kondisi fisiologis wanita yang telah memasuki masa penuaan (aging) yang ditandai dengan menurunnya kadar hormonal estrogen ovarium yang sangat berperan dalam reproduksi seksualitas. Premenopause sering menimpa wanita yang berusia menjelang 40 tahun ke atas. Wanita yang menjalani fase premenopause akan mengalami perubahan pole menstruasi, perubahan psikologis/kejiwaan, perubahan fisik. Jumlah penduduk lansia di NTB mencapai 280.938. Data perempuan usia lanjut hingga saat ini sangat tinggi yaitu lebih dari 70%. Wilayah kerja Puskesmas Bonjeruk salah satu penyumbang perempuan menopause yaitu 192 orang yang terdapat di beberapa desa dan 42 orang di antaranya adalah ibu premenopause. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan ibu premenopause di Desa Bonjeruk Wilayah Kerja Puskesmas Bonjeruk Lombok Tengah. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan konsep Visual Analog Scale (VAS). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu premonopause yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Bonjeruk sebanyak 42 orang. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan metode sensus kepada 42 orang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecemasan responden terhadap respon psikologi dengan cemas ringan sebanyak 15 orang (60%), Tingkat kecemasan responden terhadap respon perilaku tidak cemas sebanyak 9 orang (52.9%), dan berdasarkan tingkat kecemasan diketahui cemas ringan 20 orang (47.6%) dan cemas berat sebanyak 2 orang (4.7%).
NYERI DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI DI SMPN 11 MATARAM TAHUN 2015 Murtiana Ningsih
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dismenorrea is abdominal pain derived from uterine camps and happened during menstruation. Giving of warm compresses is one of non pharmacology therapy to dismenorrea pain. This study was aimed to know the relationship between using warm compresses and changes of dismenorrea pain level on teenage girl at SMPN 11 Mataram in 2015. This study is experimental study by true experiment pretest-post-test control group. Population if the study is teenage girl at SMPN 11 Mataram in 2015 in the amount of 379 students. Number of samples in the amount of 62 student by accidental sampling technique. Data are taken by observation on respondent. Data are analyzed by coefficient contingency correlation test and logistic regression test then analyzed different of probability value and determination coefficient value between the two test instruments so that got proper test instrument ti analyze nominal scale data. Based on the result of statistical test by coefficient contingency got p value = 0,002 whereas by logistic regression test got p value = 0,001. It showed there was significant relationship between using warm compresses and changes of dismenorrea pain level on teenage girl at SMPN 11 Mataram in 2015. Besides, it is found different determination coefficient between each instrument test in which coefficient contingency r 2 = 0,1369 and logistic regression r 2 = 0,224. It can be concluded that both of the test instruments probability value to reject H 0 < 0.05 whereas its determination coefficientvalue is different on each test instruments. Effort to give counseling to teenage girl is necessary to prevent dismenorea and warm compresses can be used as one of the prevention efforts.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN RUANG PADA KORIDOR JL. LANGKO–PEJANGGIK– SELAPARANG DITINJAU TERHADAP RTRW KOTA MATARAM Eliza Ruwaidah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan yang cukup pesat merupakan penyebab utama meningkatnya kebutuhan akan ruang di Kota Mataram, terutama di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang.Hal initercermin dari terkonversinya lahan pertanian produktif di sepanjang jalur transportasi menjadi lahan terbangun, yang pada akhirnya mengakibatkan perubahan dalam segi kualitas, kuantitas sertapatternatau pola fisik penggunaan lahan secara keruangan.Terlihat dari pola penggunaan lahan dari luas Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang yang terdistribusi ke dalam ruang terbangun(built up area) lebih mendominasi daripada penggunaan lahan lainnya seperti pertanian/kebun campuran dan ruang terbuka hijau (RTH). Peningkatan kebutuhan akan ruang di sepanjang jalur utama juga dapat menyebabkan terjadinya berbagai konversi lahan, inkonsistensi pemanfaatan ruang, serta ketidakteraturan intesitas pemanfaatan ruang. Pembangunan yang cukup pesat telah menyebabkan terjadinya perubahan, dinamika pola penggunaan lahan dan inkonsistensi tata ruang yang merupakan ketidaksesuaian antara rencana arahan penataan pemanfaatan ruang menurut RTRW dengan pemanfaatan ruang saat ini. Inkonsistensi dapat terlihat dari ketidakkonsistenan antara pemanfaatan ruang eksisting dengan RTRW. Jenis penggunaan lahan yang tredapat di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang terdiri dari 4 (empat) peruntukan yaitu:peruntukan perumahan/ permukiman;peruntukan komersial (perdagangan dan jasa);peruntukan perkantoran dan pelayanan utama;peruntukan ruang terbuka non hijau; danperuntukan pertanian. Intensitas pemanfaatan ruang adalah besaran pembangunan yang diperbolehkan berdasarkan batasankepadatan bangunanatau kepadatan penduduk. Aturan intensitas pemanfaatan ruangminimum terdiri dari:Koefisien Dasar Bangunan (KDB);Koefisien Lantai Bangunan (KLB); danKoefisien Dasar Hijau (KDH).Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang secara umum memiliki fungsi yang nyaris sama sebagai kawasan perkantoran dan pelayanan sosial, jasa komersial, serta pelayanan umum dengan karakter wilayah yang heterogen. Penggunaan lahan di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang sebagian besar sudah sangat padat, sehingga pengembangan area terbangun di dalamnya perlu dibatasi sesuai dengan komposisi ideal suatu kawasan. Pengendalian pemanfaatan ruang di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang dilaksanakan secara ketat dengan menerapkan insentif dan disinsentif, pengenaan sanksi, dan peraturan zonasi. Rata-rata penyimpangan intensitas pemanfaatan ruang di Kecamatan Mataram mencapai 20%, Luas lahan terbangun di Kecamatan Mataram adalah 584,56 ha (54,33%). Kelonggaran untuk pengembangan lahan terbangun maksimal adalah mencapai 753,20 ha (70%).Rata-rata penyimpangan intensitas pemanfaatan ruang di Kecamatan Selaparang mencapai 30%, Luas lahan terbangun di Kecamatan Selaparang adalah 555,71 ha (51,60%). Kelonggaran untuk pengembangan lahan terbangunmaksimal adalah mencapai 753,90 ha (70%).
PENGARUH THERAPI AKTIFITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN SKIZOFRENIADI RSJ MUTIARA SUKMA PROPINSI NTB I Made Eka Santosa
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan fungsi otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak.Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri Berdasarkan hubungan antar pribadi normal.Sering kali diikuti dengan delusi dan halusinasi. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan quasi eksperimen, dengan menggunakan pendekatan pre test post testdengan jumlah populasi sebanyak 42 orang. Sampel dari penelitian ini adalah semua pasien skizoprenia yang mengalami penurunan depresi di RSJ Mutiara Sukma Propinsi NTB sebanyak 32 orang. Tehnik sampling yang digunakan pada penelitian ini menggunakanpurposive sampling .dengan waktu yang dibutuhkan selama 2 minggu (14 hari). Jenis instrumen yang digunkan untuk pengumpulan data adalah kuesioner dan lembar observasi pengolahan data di olah dengan rumus uji wilcoxon.Berdasarkan pembahasan diketahui hasil penelitian bahwa sebagian besar responden berdasarkan tingkat depresi yaitu tidak mengalami depresi yaitu sebanyak 8 responden (50%) dan yang mengalami depresi ringan yaitu sebanyak 8 responden (50%). Sementara pada kelompok kontrol dapat diperoleh bahwa yang mengalami depresi ringan yaitu sebanyak 13 responden (81.25%) dan 3 responden (18.75%) yang mengalami depresi sedang. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji wilcoxon smirnov tingkat depresi Dari kelompok eksperimen diperoleh hasil ada perbedaan secara bermakna antara pre dan post perlakuan (p = 0,003 , p< 0,05). Menunjukkan bahwa sesudah diberikan intervensi terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi maka diperoleh hasil ada perbedaan secara bermakna p = 0,003 (p< 0,05). Harapan untuk responden supaya dapatmenerapkan terapi aktivitas kelompok setiap minggu untuk mengurangi tingkat depresi yang muncul demi kesembuhan.