cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
IMPLEMENTASI ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DENGAN PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SISTEM TEKNOLOGI WASTE TO ENERGY (WTE) Wirjawan, John Kevin; Choandi, Mieke
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27474

Abstract

Waste processing with a sustainable architectural system essentially develops side by side, in order to achieve current needs and future sustainability. Fossil fuels are one of the factors triggering increasing global warming. Many developed countries are starting to innovate in developing waste processing systems. Apart from that, they are also trying to allocate investment in alternative energy. One that is relevant is waste to energy (WtE), a sustainable energy source that can reduce waste problems with technology. Developing countries find it difficult to get out of this serious threat that has never found a solution, such as Indonesia. Developed countries in Asia and Europe have started to implement technological systems and are growing rapidly to 29% in the European Union in 2018. It is clear that this application can reduce piles of waste, minimize accumulation in landfills, and produce recycling systems and technological processing into energy. But this development must be supported and involve the community and the government through appropriate habits, education, communities, programs and regulations. The WtE system is very possible to be implemented, because the high demand for energy and waste can be managed, so that the problem of waste that has been piled up for years can be reduced. Sustainable architecture with WtE technology innovation as a forum from the smallest community level programs to the development of private projects, can create architecture that prioritizes the environment by paying attention to healthy environmental issues where the architecture stands, as an inspiration for society and its behavior. Keywords: energy; sustainable architecture; waste management; waste technology; waste to energy Abstrak Pengolahan sampah dengan sistem arsitektur berkelanjutan hakikatnya berkembang berdampingan, guna mencapai kebutuhan masa kini dan keberlangsungan masa depan. Bahan bakar fosil merupakan salah satu faktor pemicu meningkatnya pemanasan global. Banyak negara maju mulai berinovasi dalam pengembangan sistem pengolahan  sampah. Selain itu, pengalokasian investasi pada energi alternatif pun turut mereka upayakan. Salah satu yang relevan adalah waste to energy (WtE), sumber energi berkelanjutan yang dapat mengurangi permasalahan sampah dengan teknologi. Negara berkembang sulit untuk keluar dari ancaman serius ini yang tak kunjung menemukan solusi, seperti Negara Indonesia. Negara maju di Asia dan Eropa sudah mulai menerapkan sistem teknologi dan berkembang pesat hingga 29% di Uni Eropa 2018. Jelas penerapan ini dapat mengurangi tumpukan sampah, meminimalisir penumpukan di TPA, serta menghasilkan sistem daur ulang dan pengolahan teknologi menjadi energi.  Tetapi pengembangan ini harus didukung dan melibatkan masyarakat sampai pemerintah melalui kebiasaan, pendidikan, komunitas, program, dan regulasi yang tepat. Sistem WtE sangat mungkin diterapkan di Indonesia, karena kebutuhan yang tinggi akan energi dan sampah dapat dikelola, sehingga masalah sampah yang sudah tertimbun bertahun-tahun dapat dikurangi. Arsitektur berkelanjutan dengan inovasi teknologi WtE sebagai wadah dari program tingkat terkecil masyarakat sampai pengembangan proyek swasta, dapat menciptakan arsitektur yang mengedepankan lingkungan dengan memperhatikan masalah lingkungan hidup sehat dimana aristektur itu beridiri, sebagai inspirasi bagi masyarakat dan perilakunya.
PEMANFAATAN RUANG PUBLIK KOTA OLEH PKL DARI SUDUT PANDANG ARSITEKTUR EMPATI Gandhi, Joses; Choandi, Mieke
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27475

Abstract

Indonesia's population growth increases rapidly every year, one of the causes is urbanization. However, the availability of job opportunities in the formal sector cannot keep up with rapid population growth. Therefore, the informal sector is the last option for residents and immigrants to avoid unemployment, and street vendors (PKL) are one of the informal sectors that have developed into an integral part of the life of city residents in housing, education, recreation and other living spaces. The development of street vendors in the city has increased significantly and brought benefits to the community, but there are also several things that are detrimental to local communities, such as the use of pedestrian paths as business places for selling. This has a negative impact on the aesthetics and cleanliness of the city environment. This research uses a qualitative descriptive method with data obtained through interviews and conducting literature studies. This research focuses on investigating the extent to which architecture can help improve the welfare and survival of informal sector workers, especially street vendors and find solutions to overcome problems that arise due to the presence of street vendors on a small and large scale. Apart from that, this research aims to eliminate the stigma about street vendors being dirty and only for the lower middle class community. It is hoped that the results of this research can help and improve the quality of life of the community, especially in urban areas, without damaging the aesthetics of urban public spaces. Keywords: informal sector; public space; quality of life; street food vendors; urbanization Abstrak Pertumbuhan penduduk Indonesia meningkat pesat tiap tahunnya, salah satu penyebabnya adalah urbanisasi. Namun, ketersediaan lapangan kerja di sektor formal tidak dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk yang pesat. Oleh karena itu, sektor informal menjadi opsi terakhir bagi penduduk dan pendatang untuk menghindari pengangguran, dan pedagang kaki lima (PKL) termasuk salah satu sektor informal yang berkembang menjadi bagian integral dalam tata kehidupan warga kota di perumahan, pendidikan, rekreasi dan ruang kehidupan lainnya. Perkembangan PKL di kota meningkat signifikan dan membawa keuntungan bagi masyarakat, tetapi terdapat pula beberapa hal yang merugikan masyarakat lokal sekitar, seperti pemakaian jalur pejalan kaki menjadi tempat usaha untuk berjualan. Hal ini berdampak buruk terhadap estetika dan kebersihan dari lingkungan kota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data yang didapat melalui wawancara dan melakukan studi pustaka. Penelitian ini berfokus untuk menginvestigasi sejauh mana arsitektur dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan kelangsungan hidup pekerja sektor informal, khususnya PKL dan menemukan solusi untuk mengatasi masalah yang timbul akibat kehadiran PKL dalam skala kecil maupun besar. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menghilangkan stigma tentang PKL yang kotor dan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menengah ke bawah saja. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu dan meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat terutama di perkotaan, tanpa merusak estetika dari ruang publik kota.
PENERAPAN HEALING THERAPEUTIC ARCHITECTURE PADA HUNIAN SEMENTARA PASIEN RAWAT JALAN DI KOTA BAMBU SELATAN Coananda, Jenny Aprillia; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27476

Abstract

Outpatient is a term used to describe someone who is undergoing a treatment process outside the hospital, so a temporary shelter is needed to help these outpatients, Shelter is a place to provide a sense of belonging, warmth, love, and security for patients and their companions, shelter can also be used as a place of daily activities, social gatherings, and physical buildings. South Bamboo City still lacks temporary housing for patients in need. Therefore, temporary housing is needed to help patients who live far from the hospital. The functions of temporary shelters are as a place to live and stay for sick people, as a patient information center, as a place for social workers, as a place for patients and their companions, as a place for early detection of disease, and as a temporary residence. Empathy Means putting yourself in someone else's shoes and feeling the emotions they feel. Using the Healing Therapeutic Architecture method, we can help outpatients both mentally and physically by providing the support and resources they need, using descriptive methods, qualitative approaches, and research management. The goal is to improve the physical and mental health of outpatients through program design, implementation, and to create a safe and comfortable living environment. Outpatients face many problems when they want to go to the hospital for treatment, so this temporary shelter can facilitate outpatients. Keywords: mental therapy; outpatient; physical therapy; purpose of temporary shelter; temporary shelter Abstrak Pasien rawat jalan merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang menjalani proses pengobatan di luar rumah sakit, sehingga diperlukannya sebuah hunian sementara untuk membantu pasien rawat jalan tersebut, Hunian merupakan tempat untuk memberikan rasa memiliki, kehangatan, cinta, dan keamanan  bagi pasien dan pendampingnya, hunian juga dapat digunakan sebagai tempat aktivitas sehari-hari, pertemuan sosial, dan  bangunan fisik. Kota Bambu Selatan masih kekurangan hunian sementara bagi pasien yang membutuhkan. Oleh karena itu, hunian sementara sangat diperlukan untuk membantu pasien yang tinggal jauh dari rumah sakit. Fungsi hunian sementara adalah sebagai tempat tinggal dan tinggal bagi orang sakit, sebagai pusat informasi pasien, sebagai tempat pekerja sosial, sebagai tempat pasien dan pendampingnya, sebagai tempat deteksi dini penyakit, dan sebagai tempat tinggal sementara. Empati Berarti menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain dan merasakan emosi yang mereka rasakan. Dengan menggunakan metode Healing Therapeutic Architecture, kami dapat membantu pasien rawat jalan baik secara mental maupun fisik dengan memberikan dukungan dan sumber daya yang mereka butuhkan, menggunakan metode deskriptif, pendekatan kualitatif, dan manajemen penelitian. Tujuannya untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pasien rawat jalan melalui rancangan, implementasi program, dan untuk menciptakan lingkungan hidup yang aman dan nyaman. Pasien rawat jalan banyak menghadapi masalah ketika ingin melakukan perawatan ke rumah sakit, maka dengan adanya hunian sementara ini dapat memudahkan pasien rawat jalan.
PERAN ELEMEN WAYFINDING SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN LANSIA DEMENSIA Tandanu, Fergie Christabelle; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27478

Abstract

Dementia generally affects elderly people aged 65 years and over, where care facilities for dementia are rarely provided. Difficulty in orienting and navigating in the environment, especially in familiar places, is a major challenge for people with dementia. The increasing number of elderly sufferers from year to year shows that this disease is very susceptible to attacking the elderly and emphasizes the urgency to find a solution. Wayfinding as a concept and method focusing on the human ability to orient and navigate in the environment has become a research target to improve spatial memory in dementia patients. This approach not only involves technical elements, but also emphasizes the importance of empathy and understanding of the lived experiences of dementia patients. By considering the wayfinding element, this research shows that facilities adapted to their emotional and cognitive needs can act as a place to organize health programs that are more secure, provide care for the relationship between memory, memory, time and a better experience of space, provide comfort, and makes navigation easier, thereby helping them to live their daily lives with a greater level of independence and meaning. Keywords:  dementia; elderly; element; wayfinding Abstrak Demensia umumnya diderita oleh lansia berusia 65 tahun ke atas, dimana fasilitas perawatan untuk demensia masih jarang disediakan. Kesulitan dalam berorientasi dan bernavigasi di lingkungan, terutama pada tempat yang akrab, menjadi tantangan utama bagi penyandang demensia. Meningkatnya jumlah penderita lansia dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa penyakit ini sangat rentan menyerang lansia dan menekankan urgensi untuk mencari solusi. Wayfinding sebagai konsep dan metode berfokus pada kemampuan manusia untuk berorientasi dan bernavigasi di lingkungan telah menjadi target penelitian untuk meningkatkan memori spasial pada pasien demensia. Pendekatan ini tidak hanya melibatkan elemen teknis, tetapi juga menekankan pentingnya empati dan pengertian terhadap pengalaman hidup pasien demensia. Dengan mempertimbangkan elemen wayfinding, penelitian ini menunjukkan bahwa fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan emosional dan kognitif mereka dapat berperan sebagai tempat menyelenggarakan program kesehatan yang lebih terjamin keamanannya, memberikan perawatan hubungan antara memori, ingatan, waktu serta pengalaman ruang yang lebih baik, memberikan kenyamanan, dan memudahkan navigasi, sehingga membantu mereka untuk hidup sehari-hari dengan tingkat kemandirian dan makna yang lebih baik.
PENGARUH HEALING ENVIRONMENT TERHADAP PEMULIHAN PASIEN ADIKSI NARKOBA DI SENTUL Halim, Grady Fornathan; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27479

Abstract

The rehabilitation of drug addiction plays a vital role in aiding the recovery of patients addicted to narcotics, yet challenges persist in creating an environment conducive to well-being and recovery. The healing environment is recognized as a crucial factor in facilitating the physical, social, and psychological recovery process. This research aims to identify the influence of a healing environment on the well-being and recovery of drug addiction patients using a literature review approach. Relevant data was gathered from journals, books, theses, and internet sources. Data analysis was conducted to manage information that would serve as a guide in developing drug rehabilitation facilities prioritizing a holistic healing environment. The study demonstrates the importance of a healing environment in designing drug rehabilitation centers. Factors such as physical design, spatial arrangement, integration with nature, natural lighting, and social support are identified as key elements that enhance the well-being and recovery of drug addiction patients. With various natural facilities and green open spaces available, Sentul holds potential as an environment supportive of implementing the concept of a healing environment. Infrastructure that enables outdoor activities and engagement with nature can be crucial in facilitating the recovery process of drug addiction patients in that area. This research will result in a design concept for a drug rehabilitation center, constructing a physical atmosphere aligned with the needs of behavioral design. The design outcome will encompass the entirety of buildings, both indoor and outdoor spaces Keywords:  drug addiction; healing environment; recovery; rehabilitation center Abstrak Rehabilitasi narkoba berperan vital dalam membantu pemulihan pasien adiksi narkotika, namun tantangan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan dan pemulihan masih ada. Lingkungan penyembuhan diakui sebagai faktor penting dalam memfasilitasi proses pemulihan secara fisik, sosial, dan psikologis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh healing environment terhadap kesejahteraan dan pemulihan pasien adiksi narkoba dengan menggunakan pendekatan studi literatur. Data relevan dikumpulkan dari jurnal, buku, skripsi, dan sumber internet. Analisis data dilakukan untuk mengelola informasi yang nantinya akan menjadi pedoman dalam pengembangan bangunan rehabilitasi narkoba yang mengutamakan lingkungan penyembuh secara holistik. Studi ini memperlihatkan pentingnya healing environment dalam merancang rehabilitasi narkoba. Faktor-faktor seperti desain fisik, pengaturan ruangan, integrasi dengan alam, pencahayaan alami, dan dukungan sosial diidentifikasi sebagai elemen kunci yang meningkatkan kesejahteraan dan pemulihan pada pasien adiksi narkoba. Dengan berbagai fasilitas alam dan ruang terbuka hijau yang ada, Sentul memiliki potensi sebagai lingkungan yang mendukung penerapan konsep healing environment. Infrastruktur yang memungkinkan aktivitas luar ruangan dan keterlibatan dengan alam dapat menjadi aspek penting dalam memfasilitasi proses pemulihan pasien adiksi narkoba di daerah tersebut. Dari penelitian ini akan dihasilkan sebuah konsep desain tempat rehabilitasi narkoba, dengan membangun suasana fisik yang menyesuaikan dengan kebutuhan perilaku perancangan ini. Hasil desain akan mencangkup bangunan, ruang luar dan dalam secara keseluruhan.
PENDEKATAN EDUPLAY PADA FASILITAS PEMBELAJARAN SEKOLAH DASAR DI BOJONG BARU, KABUPATEN BOGOR Subagio, Angela; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27484

Abstract

In 2045, Indonesia's population will be the golden generation. Therefore, children aged 6-12 years have an important role to prepare themselves in the crucial factor, education. One of the challenges in the education sector in Indonesia is the lack of adequate facilities. According to data from the Badan Pusat Statistik (BPS) in the 2019/2020 school year, only 14% of classrooms in Indonesia were in good and adequate condition. Based on BPS data, Bogor Regency is at the top of the list with 8,243 classrooms that are inadequate for learning on Java Island. Based on preliminary research conducted by the author in 2023, there are 5 elementary schools in Bojong Baru and these schools have no other facilities besides classrooms. Meanwhile, according to the 1945 Constitution Article 31, schooling is the need and right of every citizen. The purpose of this research is to produce design criteria for the design of educational spaces for elementary school children by adjusting the characteristics of children who still like to play, lively and creative with the eduplay approach. Through the eduplay approach to building and space design, it is expected to create a learning environment that is fun, interesting, can stimulate children's growth and development and can balance learning and playing activities. This eduplay approach can be applied to the entire building, both exterior and interior. Covering: interactive classrooms, facilities to indoor-outdoor play areas. Keywords: Bojong Baru; education; eduplay; elementary school; kabupaten Bogor Abstrak Pada tahun 2045, penduduk Indonesia akan menjadi generasi emas. Oleh karena itu, anak usia 6-12 tahun memiliki peran penting untuk mempersiapkan diri dalam faktor krusialnya, pendidikan. Salah satu tantangan pada sektor pendidikan di Indonesia adalah masih kurang memadainya fasilitas. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun ajaran 2019/2020, tersisa 14% ruang kelas di Indonesia yang dalam kondisi baik dan memadai. Berdasarkan data BPS, Kabupaten Bogor berada pada urutan teratas dengan jumlah 8.243 ruang kelas yang tidak memadai untuk pembelajaran di Pulau Jawa. Berdasarkan riset awal yang dilakukan oleh penulis pada tahun 2023, terdapat 5 sekolah dasar di Bojong Baru dan sekolah tersebut tidak memiliki sarana lain selain ruang kelas. Sedangkan, menurut UUD 1945 Pasal 31, sekolah merupakan kebutuhan dan hak setiap warga negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan kriteria desain rancangan ruang pendidikan bagi anak sekolah dasar dengan menyesuaikan karakteristik anak yang masih suka bermain, lincah dan kreatif dengan pendekatan eduplay. Melalui pendekatan eduplay terhadap desain bangunan dan peruangan, diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, menarik, dapat merangsang tumbuh kembang anak serta dapat menyeimbangkan kegiatan belajar dan bermain. Pendekatan eduplay ini dapat diterapkan pada seluruh bangunan, baik exterior maupun interior. Meliputi: ruang kelas yang interaktif, fasilitas-fasilitas hingga area bermain indoor-outdoor.
PENERAPAN METODE PLACEMAKING PARAMETER USES AND ACTIVITIES TERHADAP RANCANGAN LIFESTYLE CENTER UNTUK PRODUK FASHION LOKAL SKALA MIKRO Bachtiar, Kavita Laurensia; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27485

Abstract

Currently, local fashion entrepreneurs in Indonesia, especially those operating in the micro sector, still face serious challenges in maintaining their existence against imported products that dominate the market. One of the causes is the incompatibility of platforms for promoting and developing local fashion products. Teten Masduki, Minister of Cooperatives and SMEs, stated that local fashion products often do not get business space in their own country, even though their quality is no less, or even better, than imported products. This situation is further complicated by the incompatibility of attractive functions and activities which causes a decline in public interest in local fashion products. Based on these problems, facilities are needed to develop local, micro-scale fashion products that are suitable and can attract public interest, especially Generation Z among late teens towards adulthood (aged 16-26 years), where this generation holds the largest percentage of the population in Indonesia, but their awareness Local fashion products are still very lacking. This research aims to examine the application of the placemaking method with a focus on uses and activities parameters in lifestyle center design for local fashion products, thereby producing an architectural platform that can prioritize the needs of local fashion businesses. From this research, it is hoped that the project design can become a basis for supporting business actors and the growth of local fashion products. Keywords: generation Z; lifestyle center; local fashion product; placemaking Abstrak Saat ini, pelaku usaha fashion lokal di Indonesia, terutama yang beroperasi di sektor mikro, masih menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan eksistensinya terhadap produk impor yang mendominasi pasar. Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian wadah dalam untuk mempromosikan dan mengembangkan produk fashion lokal. Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, menyatakan bahwa produk fashion lokal seringkali tidak mendapatkan ruang usaha di negeri sendiri, meskipun kualitasnya tidak kalah, bahkan lebih baik daripada produk impor. Situasi ini semakin dipersulit dengan tidak sesuainya daya tarik fungsi dan aktivitas yang menyebabkan penurunan minat masyarakat terhadap produk fashion lokal. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan fasilitas untuk mengembangkan produk fashion lokal skala mikro yang sesuai dan dapat menarik minat masyarakat, terutama Generasi Z kalangan remaja akhir menuju dewasa (usia 16-26 tahun), di mana generasi ini memegang persentase terbesar penduduk di Indonesia, namun kesadarannya akan produk fashion lokal masih sangat kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan metode placemaking dengan fokus pada parameter uses and activities terhadap rancangan lifestyle center untuk produk fashion lokal, sehingga menghasilkan wadah arsitektur yang dapat memprioritaskan kebutuhan pelaku usaha fashion lokal. Dari penelitian ini, diharapkan rancangan proyek dapat menjadi landasan untuk mendukung usaha pelaku dan pertumbuhan produk fashion lokal.
MENERJEMAHKAN EKSPRESI DEPRESI REMAJA MENJADI VOLUME KERUANGAN MENGGUNAKAN TEORI SEQUENCE OF EVENTS Giffari, Ryan; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27486

Abstract

The adolescent phase is a phase of self-discovery and identity development to enter a certain social sphere. The phenomenon that occurs in this adolescent phase is that many adolescents experience depression due to self-discovery and inappropriate decision making. The lack of a place in the form of a free environment as a place to mingle with friends and get emotional support and a place of escape from a toxic environment, it requires novelty to the function of space that adjusts the mental condition of adolescents both psychologically and socially, therefore this research raises the issue of spatial sequence for depressed adolescents. The function of the space is developed with spatial elements translating the mental expression of adolescents and used as an interactive element as a form of understanding adolescents. The research method uses a descriptive method that describes literature studies collected qualitatively and quantitatively either through journals, books, articles, experiences, research results, or questionnaires. Sequence of Events as a design method translates the narrative taken through a movie montage which is converted into a spatial volume with Luigi Moretti's theory. The result of the design is the volume of space that affects the spatial experience of the narrative space formed by the montage. Narrative space uses architectural elements to translate the size and scale used to fulfill a unique and interactive spatial experience that encourages teenagers to understand their mental state well. Keywords: adolescent depression, montage, narrative space, psychosocial Abstrak Fase remaja merupakan fase mencari jati diri dan mengembangkan identitas untuk masuk ke lingkup sosial tertentu. Fenomena yang terjadi pada fase remaja ini adalah banyak remaja yang mengalami depresi karena pencarian jati diri dan pengambilan keputusan yang kurang tepat. Kurangnya wadah berupa lingkungan yang bebas sebagai tempat bercengkerama bersama teman dan mendapatkan emotional support serta tempat pelarian dari lingkungan yang toxic, maka dibutuhkan kebaruan terhadap fungsi ruang yang menyesuaikan kondisi mental remaja baik secara psikis maupun sosial, karena itu penelitian ini mengangkat isu spatial sequence untuk remaja yang depresi. Fungsi ruang dikembangkan dengan elemen keruangan menerjemahkan ekpresi mental remaja dan dijadikan elemen interaktif sebagai salah satu bentuk pemahaman remaja. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif yang menjabarkan studi literatur yang dikumpulkan secara kualitatif maupun kuantitatif baik melalui jurnal, buku, artikel, pengalaman, hasil riset, atau kuisioner. Sequence of Events sebagai metode perancangan menerjemahkan narasi yang diambil melalui montase sebuah film yang diubah menjadi volume keruangan dengan teori Luigi Moretti. Hasil perancangan adalah volume ruang yang mempengaruhi pengalaman keruangan dari narrative space yang terbentuk oleh montase tersebut. Narrative space menggunakan elemen arsitektural untuk menerejemahkan ukuran dan skala yang digunakan untuk memenuhi pengalaman keruangan yang unik dan interaktif sehingga mendorong keingin remaja memahami kondisi mentalnya dengan baik.
MENCIPTAKAN ARSITEKTUR FUNGSIONALIS PADA PENYANDANG TUNANETRA Yaptan, Alvin Osvaldo; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27487

Abstract

The daily challenges faced by people with disabilities, particularly people with visual impairments, are significant in urban areas. research shows that vision is the most important aspect for all human beings, affecting their quality of life and access to education, employment, and health services among others. Although there are many visually impaired people in indonesia, the infrastructure in urban areas is still inadequate to meet the navigation needs of people with disabilities. Blindness and visual impairment are still a low priority in the healthcare system. Overcoming such problems requires an in-depth understanding of the needs of visually impaired people. one solution to addressing urban infrastructure issues for visually impaired people is through architectural design that considers physical accessibility, social support, and appropriate technology to help them move and navigate more independently. in addition, educating the public about visual disabilities, both positive and negative, is key to building a more inclusive society. This is so that even if appropriate infrastructure is created but the community lacks knowledge, it will not last long. By creating architectural designs that support the mobility of visually impaired people and educating the public, we can pave the way for a society that is more welcoming to diversity and the rights of visually impaired people. Keywords: community; disabilities; infrastructure; priority; visual impairments Abstrak Tantangan sehari-hari yang dihadapi oleh penyandang disabilitas, khususnya penyandang disabilitas indera penglihatan, merupakan hal yang signifikan di wilayah perkotaan. Penelitian menunjukkan bahwa  penglihatan adalah aspek terpenting bagi seluruh manusia, yang mempengaruhi kualitas hidup dan akses mereka terhadap pendidikan, pekerjaan, dan layanan Kesehatan dan yang lain - lainnya. Meskipun terdapat banyak penyandang tunanetra di wilayah Indonesia, infrastruktur – infrastruktur didalam perkotaan masih belum memadai untuk memenuhi kebutuhan navigasi para penyandang disabilitas. Masalah kebutaan dan gangguan penglihatan masih menjadi prioritas yang cukup rendah dalam sistem layanan Kesehatan. Dalam mengatasi permasalahan seperti ini memerlukan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan – kebutuhan bagi para penyandang tunanetra. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan infrastruktur di perkotaan untuk para penyandang tunanetra yaitu dari desain arsitektur yang mempertimbangkan aksesibilitas fisik, dukungan sosial, dan teknologi tepat guna dapat membantu mereka bergerak dan bernavigasi dengan lebih mandiri. Selain itu, mengedukasi masyarakat tentang penyandang disabilitas penglihatan, baik positif maupun negatif, adalah kunci untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif. Cara ini berguna supaya meskipun sudah terciptanya infrastruktur yang sesuai tetapi masyarakatnya minim pengetahuan juga tidak akan bisa bertahan lama. Selain itu hal ini bertujuan untuk menciptakan desain arsitektur yang mendukung mobilitas penyandang tunanetra dan mendidik masyarakat, kita dapat membuka jalan bagi masyarakat yang lebih ramah terhadap keberagaman dan hak-hak penyandang tunanetra.
PENGOPTIMALAN PERANCANGAN RUANG ARSITEKTUR MELALUI KEGIATAN MENENUN MASYARAKAT ENDE Sultono, Justinus Hermawan; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27488

Abstract

Traditions play a central role in the lives of people in many parts of Indonesia, and that includes the region of Ende, East Nusa Tenggara. Ende, which is rich in unique traditions and culture, not only sees traditional customs as an ancestral heritage, but also as an element of identity, social guidance, and community glue. Even in the face of changing times, the people of Ende remain closely connected to the values and norms of customs passed down from generation to generation. Customs provide guidance in various aspects of daily life, including in traditional governance systems, religious ceremonies, marriage, agriculture, personal traits of people, and other areas. But over time, the traditions and also the guidance of the people's lives there began to disappear. Where the Ende community used to do weaving activities together, they now do it individually in their individual homes. Many things make this happen, for example because of the individualistic nature of the community, changing times, technological developments, and others. Due to these things, the people there began to forget their traditions. However, despite facing challenges from globalization, urbanization, and modernization, the people of Ende strive to maintain and apply their customs. This research uses qualitative methods in order to produce a comprehensive synthesis which aims to better understand the essential needs of the people living in the area. This project aims to find out the potential role of architecture in shaping the ideal architectural space to accommodate all the activities of the Ende community based on local traditions. Keywords:  community; identity; individual; society; traditions Abstrak Adat istiadat memiliki peran utama dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah Indonesia, hal itu termasuk di wilayah Ende, Nusa Tenggara Timur. Ende, kaya akan tradisi dan budaya unik, tidak hanya melihat adat istiadat sebagai warisan leluhur, tetapi juga sebagai elemen identitas, panduan sosial, dan perekat komunitas. Walaupun dihadapkan pada perubahan zaman, masyarakat Ende tetap terhubung erat dengan nilai-nilai dan norma adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Adat istiadat memberikan pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pemerintahan tradisional, upacara keagamaan, pernikahan, pertanian, sifat pribadi orang, dan bidang lainnya. Tetapi lama kelamaan adat istiadat dan juga pendoman hidup masyarakat di sana mulai hilang. Yang dulunya masyarakat Ende melakukan aktivitas menenun secara bersama - sama sekarang mereka lakukan secara individu di rumahnya masing – masing. Banyak hal yang membuat tersebut terjadi, contohnya karena sifat individualis masyarakat, perubahan jaman, perkembangan teknologi, dan lain – lain. Oleh karena hal–hal tersebut masyarakat di sana mulai melupakan adat istiadat namun demikian, meskipun menghadapi tantangan dari globalisasi, urbanisasi, dan modernisasi, masyarakat Ende berusaha dengan gigih untuk mempertahankan dan menerapkan adat istiadat mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif supaya bisa menghasilkan sintesis yang komprehensif yang dimana hal ini bertujuan supaya lebih memahami kebutuhan esensial masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Proyek ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran arsitektur dalam membentuk ruang arsitektur yang ideal untuk mewadahi segala aktivitas masyarakat Ende berdasarkan adat istiadat setempat.