cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENYEDIAAN SARANA PENDUKUNG UNTUK MENINGKATKAN MINAT BACA REMAJA BEKASI Chandra, Ricky; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27501

Abstract

According from a study from United States, Indonesia is ranked 60th out of 61 countries measured by its population’s reading interest (Mikhael Gewati, 2016). One of the worst case existed in Bekasi, where only 10 percent of its teenagers has a sufficient reading interest. The main causes are the non-matching teenager’s character that is dynamic with the existing library’s characters which are enclosed and monotonous, as well as the obligation of text books usage, which makes them feel like they are being given additional “task” when reading other books (Quora, 2022). Both statements are proven after few teenagers are surveyed, where only 1 of 20 teenagers took interest in reading routinely. From this problem, hybrid-public library design is proposed, with programs such as reading analog and digital book, discussing, studying, eating together, watching video, playing games, and resting, to highlight the productive aspects of reading, not only done by just “staring texts”. After searching strengths and weaknesses of existing libraries in Bekasi, the location at Jl. Kimangun Sarkoro, RW.006, Bekasi Jaya, Kec. Bekasi Timur is recognized as the perfect place for the design. Since the surrounding buildings are low-rise, the library will be made with just 3-storey height, with the minimum required area is 5018,57 square meter. Architectural theme that will be applied has characters of “youth” which are flexible, unimpeded, with various material expressions and different from existing libraries. Keywords: reading facility; reading interest; teenager Abstrak Menurut sebuah studi yang berasal dari Amerika Serikat, Indonesia memasuki urutan ke-60 dari 61 negara yang diukur berdasarkan minat baca penduduknya (Gewati, 2016). Kasus yang parah berada di Kota Bekasi, di mana hanya 10 persen remaja yang tinggi minat bacanya. Penyebab utamanya adalah ketidaksesuaian karakter remaja yang dinamis dengan karakter sarana baca eksisting yang tertutup dan monoton, serta kewajiban penggunaan buku pelajaran, yang membuat mereka seperti diberi “tugas” tambahan saat membaca buku lain (Quora, 2022). Kedua hal ini terbukti setelah beberapa remaja di survei, dimana hanya 1 dari 20 anak remaja minat membaca secara rutin. Dari masalah ini, diusulkan perancangan sarana pustaka umum hibrida dengan program membaca buku analog dan digital, diskusi, belajar, berkumpul sambil makan, nonton video, bermain, dan istirahat, untuk menonjolkan aspek produktif dari membaca, yang tidak hanya sekedar “melihat teks”. Setelah menelusuri kelebihan dan kekurangan sarana pustaka eksisting di Bekasi, didapat lokasi Jl. Kimangun Sarkoro, RW.006, Bekasi Jaya, Kec. Bekasi Timur sebagai tempat yang tepat untuk rancangannya. Karena bangunan sekitar bertingkat rendah, maka sarananya akan dibuat setinggi 3 lantai saja, dengan luas yang dibutuhkan minimal 5018,57 meter persegi. Tema arsitektur yang digunakan berkarakter “youth” yang fleksibel, leluasa, dengan ekspresi material yang beragam dan berbeda dari sarana pustaka eksisting.
IMPLEMENTASI DESAIN SARANA TERAPI BERMAIN UNTUK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN WICARA DAN BAHASA ANAK PENYANDANG TUNARUNGU Handojo, Helen Leticia; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27502

Abstract

The World Health Organization (WHO) states that 10 percent of the total population of Indonesia has disabilities. The deaf occupies the second position with the largest number of people with disabilities in the world; Apart from that, it was reported by the Central Committee for the Management of Hearing Loss and Deafness that as many as 5,200 million children in Indonesia have the potential to be born deaf. Deafness refers to individuals who have lost part or all of their sense of hearing and therefore require hearing aids. However, with the limited supply of hearing aids, we need to provide alternatives to respond to the needs of the deaf community. The project target is aimed at deaf children aged 0-12 years so that the atmosphere created has a playful nuance; as one of the basic needs of children aged 0-12 years is to play. Research analysis uses a rationalistic approach with qualitative methods through interviews and observations. Play therapy is the main activity of the project which is used to improve children's interpersonal processes in learning and socializing as well as as an intervention for responsive parenting. The activity program offered is educational and recreational. In this way, the play therapy room is made of a variety of games. The room is designed simply and decorated with curved corners to give a soft and feminine impression. Keywords: Language; deaf person; play therapy;  speech Abstrak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sebesar 10 persen dari total penduduk negara Indonesia menyandang disabilitas. Tunarungu atau biasa disebut sebagai Tuli menempati posisi kedua dengan jumlah penyandang disabilitas paling banyak di dunia; selain itu dilaporkan oleh Komite Pusat Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian sebanyak 5.200 juta anak di Indonesia berpotensi terlahir Tunarungu. Tunarungu merujuk kepada individu yang mengalami kehilangan sebagian atau seluruh indera pendengarannya sehingga memerlukan alat bantu dengar. Namun dengan keterbatasan pasokan alat bantu dengar, maka kita perlu memberikan alternatif untuk menanggapi kebutuhan masyarakat Tunarungu. Target proyek ditujukan untuk anak penyandang Tunarungu mulai dari usia 0-12 tahun sehingga atmosfer yang tercipta bernuansakan playful; sebagaimana salah satu kebutuhan dasar anak pada usia 0-12 tahun adalah bermain. Analisa penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik dengan metode kualitatif melalui wawancara dan observasi. Terapi bermain menjadi kegiatan utama proyek yang digunakan untuk meningkatkan proses interpersonal anak dalam belajar dan bersosialisasi serta sebagai intervensi dari pola asuh orang tua yang responsif. Program kegiatan yang ditawarkan bersifat rekreasional edukatif.  Dengan demikian ruangan terapi bermain dibuat bervariasi permainan. Ruangan didesain dengan sederhana dan dihiasi sudut yang melengkung untuk memberikan kesan yang halus dan feminim.
SARANA PEMULIHAN FISIK DAN PSIKOLOGIS BAGI PASIEN PALIATIF STROKE DAN KELUARGA DI SULAWESI UTARA Mamahit, Felicia Belinda; Santoso, J.M.Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27503

Abstract

Many Indonesian people suffer from stroke, especially in old age, residing in North Sulawesi. Inadequate hospital conditions, both in facilities and design, can cause stress or psychological effects on stroke patients. Stroke requires special treatment, such as that offered by specialized hospitals, covering physical, psychological, and emotional aspects. This research is designed to develop effective solutions to reduce the negative impact of strokes and improve the quality of life for patients and families, especially in spatial design and arrangement. The comparative method is used to determine the differences among various hospital typologies to produce a new hospital building typology by including elements that are requirements for palliative care. In the analysis process, qualitative methods were used to obtain something ideal for stroke sufferers. The study reveals that currently, stroke patient treatment in general hospitals largely follows general medical service guidelines. To become a special hospital (political stroke), it must be improved through new findings, such as spaces that are able to create a cheerful, free, spacious, cool, comfortable atmosphere without worrying, including a space for increasing faith. The next finding is that a free atmosphere and other requirements are impossible to find in a treatment room with a large capacity. In this research, a spatial planning simulation was successfully carried out. The conclusion for further steps is how to create a hospital for palliative patients with a large capacity due to the socio-economic conditions of the Indonesian people, but that can provide a much more comfortable atmosphere in terms of space. Keywords: recovery; physical; psychological; stroke palliative Abstrak Penyakit stroke banyak diderita masyarakat Indonesia khususnya di usia senja, termasuk masyarakat di Sulawesi Utara. Kondisi rumah sakit yang tidak memadai dari segi fasilitas dan desain bisa menambah stress atau menimbulkan efek psikologis pasien stroke. Stroke memerlukan perawatan khusus, seperti yang disediakan oleh Rumah Sakit Khusus, mencakup aspek fisik, psikologis, dan emosional. Penelitian ini dirancang untuk mengembangkan solusi efektif mengurangi dampak buruk dari penyakit stroke dan meningkatkan kualitas hidup bagi pasien dan keluarga khususnya dalam desain dan penataan ruang. Metode komparatif digunakan untuk mengetahui perbedaan antara tipologi rumah sakit satu dan lainnya untuk menghasilkan tipologi bangunan rumah sakit baru dengan memasukkan unsur-unsur yang menjadi persyaratan penurunan paliatif. Dalam proses analisis digunakan metode kualitatif untuk mendapatkan sesuatu yang ideal bagi penderita stroke. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa saat ini, penanganan pasien stroke di rumah sakit umum sebagian besar mengikuti pedoman pelayanan medis umum di rumah sakit. Untuk menjadi rumah sakit yang bersifat khusus (paliatik stroke) harus diperbaiki melalui temuan–temuan baru seperti ruang–ruang yang mampu menciptakan suasana ceria, bebas, luas, sejuk, nyaman, tanpa cemas disertakan pula ruang peningkatan iman. Temuan berikutnya suasana bebas dan persyaratan lainnya tidak mungkin ditemukan pada ruang perawatan dengan kapasitas besar. Dalam penelitian ini berhasil dilakukan simulasi penataan ruang. Kesimpulan untuk langkah lebih lanjut adalah bagaimana menciptakan rumah sakit penderita paliatif dengan kapasitas besar karena kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia namun bisa memberikan suasa yang jauh lebih nyaman secara ruang.
PENGUATAN KESEHATAN MENTALITAS KAUM TUNADAKSA MELALUI DESAIN RUANGAN Atmaja, Filipus Jordan Kusuma; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27504

Abstract

Society often looks down on people with disabilities, especially people with physical limitations. In Indonesia, especially in Jakarta, there are still many disabled people who have fragile mental problems due to accidents/hereditary factors, which cause them to be physically disabled. This causes a decline in the mentality of the disabled. In fact, the rights of persons with disabilities are regulated in Law Number 4 of 1997 which discusses Persons with Disabilities, "any person who does not provide accessible or unequal opportunities and equal treatment to students with disabilities in units, study programs, types of and levels of educational administration sanctions”. The aim of this research is to analyze design methods, explore the design and space of buildings or activities that can make disabled people achieve good mental health so that later they can become better, and enable them to have a good quality of life for the outside world. The method used in this research is a qualitative descriptive method. This method was chosen based on the object of study taken in relation to the narrative of the life experiences of the physically disabled. For example, accessibility is an important part of improving environmental design. Physically disabled people cannot be free from their mental illness, until they are free from the trauma they have experienced. Which in the end can create a design design to enable disabled people to gain quality of life, as well as improve their mental health. Keywords: healing; mentality; physical-disability Abstrak Masyarakat seringkali memandang rendah penyandang disabilitas, terutama penyandang disabilitas keterbatasan fisik. Di Indonesia, terutama di Jakarta masih banyak kaum tunadaksa yang memiliki masalah mentalnya yang masih rapuh akibat dari kecelakaan/faktor keturunan, yang menyebabkan mereka cacat secara fisik. Hal ini menyebabkan penurunan mentalitas dari tunadaksa. Padahal, hak penyandang disabilitas sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 yang membahas tentang penyandang disabilitas, “Setiap orang yang tidak memberikan kesempatan yang dapat diakses atau tidak sama dan perlakuan yang sama kepada peserta didik penyandang cacat pada satuan, program studi, jenis dan jenjang sanksi administrasi pendidikan”. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis cara desain, mengeksplorasi desain dan ruang dari bangunan atau kegiatan yang dapat membuat Tunadaksa memperoleh kesehatan mental yang baik agar nantinya mereka bisa menjadi lebih baik, dan membuat mereka dapat memiliki kualitas hidup yang baik untuk dunia luar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode tersebut dipilih berdasarkan objek kajian yang diambil berkaitan dengan narasi pengalaman hidup dari tunadaksa. Misalnya, aksesibilitas adalah bagian penting dari peningkatan desain lingkungan. Tunadaksa tidak bisa terbebas dari penyakit mentalnya, sebelum mereka terbebas dari trauma yang mereka alami. Yang pada akhirnya bisa membuat perancangan desain rancangan untuk membuat tunadaksa mendapatkan kualitas dari hidup, sekaligus memperbaiki mentalnya kembali.
DESAIN RUANG KEMOTERAPI DALAM MENDUKUNG PENYEMBUHAN FISIK DAN MENTAL PENDERITA KANKER PAYUDARA Wibowo, Adrian Saputra; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27505

Abstract

In the era of advanced technology, cancer also has various types, the types recorded and spread throughout the world are around 200 types. In Indonesia alone, the cancer that dominates women is breast cancer. Breast cancer cases in Indonesia totaled 65,858 cases. But with the high number of cancer cases in Indonesia, treatment can only be done in hospitals or clinics located in hospital areas based on the regulations of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia number 26 of 2018, section 27 article 36 paragraph 3. Which discusses clinics and clinic operations, treatment of cancer that can be treated outside a clinic or hospital through chemotherapy, and some healing and mental therapies. The expected goal is to create a chemotherapy room design that can support physical healing but can also help mental healing in terms of the use of color and the interior of the room and knowing the criteria or factors that go into the desired design. The method used to collect existing data is qualitative. This qualitative method can be used to find out about the spatial feeling of the chemotherapy room. And also by collecting data from existing literacy to find out the existing criteria to help mental healing for breast cancer sufferers. The results will be a form of design for a chemotherapy room that can help heal the mental health of breast cancer sufferers by paying attention to comfort and existing comfort-supporting elements. Keywords:  comfort; chemotherapy; interior; therapy room Abstrak Pada era teknologi maju, penyakit kanker juga memiliki berbagai jenis, jenis yang tercatat dan tersebar di dunia berjumlah sekitar 200 jenis. Di Indonesia sendiri kanker yang mendominasi pada perempuan adalah kanker payudara. Kasus kanker payudara di indoneisa berjumlah 65.858 kasus. Tapi dengan tingginya kasus kanker di Indonesia penanganannya hanya bisa dilakukan di rumah sakit ataupun klinik yang berada di dalamawasan rumah sakit berdasarkan peraturan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia nomor 26 tahun 2018, bagian 27 pasal 36 ayat 3, yang membahas tentang klinik dan pengoperasian klinik, pengobatan kanker yang dapat dilakukan di luar klinik atau rumah sakit hanyalah kemoterapi dan beberapa terapi penyembuhan serta mental. Tujuan yang diharapkan adalah menciptakan desain ruang kemoterapi yang dapat mendukung penyembuhan fisik tapi juga dapat membantu penyembuhan secara mental dari segi penggunaan warna dan juga interior dari ruangan tersebut dan mengetahui kriteria atau faktor yang masuk kedalam desain yang diinginkan. Metode yang digunakan dalam menggumpulkan data yang ada dengan menggunakan kualitatif. Metode kualitatif ini yang dilakukan dapat mengetahui tentang perasaan keruangan dari ruang kemoterapi tersebut. Dan juga dengan menggumpulkan data dari literasi yang ada untuk mengetahui kriteria yang ada dalam membantu penyembuhan mental bagi penderita kanker payudara. Hasil yang ada akan menjadi bentuk desain dari ruang kemoterapi yang dapat membantu penyembuhan mental penderita kanker payudara dengan memperhatikan kenyamanan serta elemen-element pendukung kenyamanan yang ada.
STUDI PERKEMBANGAN PROPERTI PERUMAHAN GRAHA RAYA BINTARO TANGERANG SELATAN Yudi, Christopher Hans Putraning; Bella, Priyendiswara Agustina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27506

Abstract

Graha Raya Bintaro, established in 1997 with a land area of 350 hectares and having developed 2/3 of the total land, is the primary focus of this study titled "Study on the Development of Residential Properties in Graha Raya Bintaro, South Tangerang." The background of the development of this area involves direct field surveys and interviews with the development management to obtain primary data, while secondary data is gathered from literature and open information portals. The research problem formulation focuses on a profound understanding of the development of residential properties in the region. The research methodology includes direct field surveys and interviews with the development management to obtain primary data, while secondary data is collected from literature and open information portals. The research objective is to analyze trends in the development of residential properties, considering factors such as strategic location and quality public facilities. The importance of the location is further reinforced by the plan to develop Phase 3 of the MRT, which will connect Tangerang to Jakarta, starting in August 2024. One of the MRT Phase 3 stations is planned to be built in the vicinity of the study area, approximately 3 kilometers from the study location. In addition to the MRT, there are also plans for additional connecting transportation to assist the community in accessing existing MRT stations. The research findings are expected to provide a holistic view for developers, stakeholders, and prospective buyers in addressing the changing dynamics of the residential property market in Graha Raya Bintaro. Keywords:  growth; houses;  property Abstrak Graha Raya Bintaro, didirikan pada tahun 1997 dengan luas lahan mencapai 350 hektar dan telah membangun 2/3 dari total lahan, menjadi fokus utama studi ini berjudul "Studi Perkembangan Properti Perumahan Graha Raya Bintaro, Tangerang Selatan." Latar belakang pengembangan kawasan ini melibatkan survei langsung ke lapangan dan wawancara dengan manajemen pengembang untuk mendapatkan data primer, sementara data sekunder dikumpulkan dari literatur dan portal informasi terbuka. Rumusan masalah penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam tentang perkembangan properti perumahan di kawasan tersebut. Metode penelitian melibatkan survei langsung ke lapangan dan wawancara dengan manajemen pengembang untuk mendapatkan data primer, sementara data sekunder dikumpulkan dari literatur dan portal informasi terbuka. Tujuan penelitian adalah menganalisis tren perkembangan properti perumahan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti lokasi yang strategis dan fasilitas umum berkualitas. Pentingnya lokasi semakin diperkuat dengan rencana pembangunan MRT Fase 3 yang akan menghubungkan Tangerang dengan Jakarta, dimulai pada Agustus 2024. Salah satu stasiun MRT Fase 3 direncanakan akan dibangun di kawasan dekat lokasi studi, sekitar 3 kilometer dari lokasi studi. Selain MRT, juga direncanakan akan ada transportasi penghubung tambahan yang membantu masyarakat mengakses stasiun MRT yang ada. Hasil penelitian diharapkan memberikan pandangan holistik bagi pengembang, pemangku kepentingan, dan calon pembeli dalam menghadapi perubahan dinamika pasar properti perumahan di Graha Raya Bintaro.
FAKTOR – FAKTOR LOKASI YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL RUMAH DI KECAMATAN SAWANGAN KOTA DEPOK Setia, Nadia Vinieta; Bella, Priyendiswara Agustina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27509

Abstract

Sawangan is one of the districts with the lowest population density in the city of Depok. The rapid development in Sawangan is attributed to numerous residential areas constructed by renowned developers such as Sinarmas Land and Ciputra Group. Residential property prices in this location also experience annual increases. Despite being quite distant from the city center, reaching the nearest MRT station from Sawangan takes approximately 45 minutes by motorcycle. This research aims to determine how location factors influence the sale prices of houses in the Sawangan district based on these issues. The study involves multiple regression analysis and quantitative analysis. Using SPSS test results, it is indicated that location significantly affects the selling prices of residences in Sawangan. This is evident from the positive correlation observed in the sale prices of properties in Sawangan, Depok, where the positive constant value (a) of 52498.678 indicates a positive correlation between independent variables and property sale prices. Furthermore, the dominant location factor affecting house prices in Sawangan is the accessibility to public transportation, with a regression coefficient value of -3252.669, indicating that for every 1  km increase in the public transportation variable, the property sale price decreases by -3252.669, assuming other variables remain constant. Keywords:  location factors, sawangan district; selling prices Abstrak Sawangan merupakan salah satu kecamatan yang memiliki angka kepadatan penduduk terendah di Kota Depok. Perkembangan pesat di Kecamatan Sawangan tak lepas dari banyaknya kawasan pemukiman yang dibangun oleh pengembang ternama seperti Sinar Mas Land dan Ciputra Group. Harga jual hunian di lokasi ini juga mengalami kenaikan setiap tahunnya. Kawasan ini sebenarnya terletak cukup jauh dari pusat kota. Melihat kondisi eksisting saat ini, untuk mencapai stasiun MRT terdekat dari Kecamatan Sawangan saja memakan waktu kurang lebih 45 menit dengan menggunakan sepeda motor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana faktor lokasi mempengaruhi harga jual perumahan di kawasan Kecamatan Sawangan berdasarkan permasalahan tersebut. Penelitian ini mencakup analisis regresi berganda serta analisis kuantitatif. Dengan menggunakan hasil uji SPSS, ditunjukkan bahwa lokasi berpengaruh terhadap harga jual hunian. Hal ini dibuktikan dari hasil yang positif seiring dengan harga jual perumahan di Kecamatan Sawangan, Kota Depok dimana nilai konstanta (a) positif sebesar 52498,678 menunjukkan korelasi positif antara variabel independen dan harga jual properti. Kemudian untuk faktor-faktor lokasi sendiri yang tergolong dominan mempengaruhi harga jual rumah di Kecamatan Sawangan adalah keterjangkauan dengan transportasi umum dengan nilai koefisien regresi sebesar -3252,669 yang berarti jika variabel transportasi umum mengalami kenaikan 1 Km, maka sebaliknya variabel harga jual akan mengalami penurunan sebesar -3252,669. Dengan asumsi bahwa variabel lainnya dianggap konstan.
ANALISIS KONDISI FASILITAS DAN TINGKAT PELAYANAN PASCA RENOVASI STASIUN JATINEGARA Paulsone, Yosef Mariano Amando; Bella, Priyendiswara Agustina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27510

Abstract

A train station is a train operating facility or a place where trains stop regularly for boarding and disembarking passengers and loading and unloading goods. In general, each station has a main building that provides additional services such as ticket sales, supporting facilities, and waiting rooms and platforms prepared for travel routes. Based on Government Regul4tion of the Republic of Indonesia Number 56 of 2009, stations are places where trains depart and stop with integration between the train line network and other train line networks as well as with other modes of transportation carried out at the station. Based on Law of the Republic of Indonesia Number 27 of 2007 article 35, a train station functons as a place where train dep4rt or stop to s3rve passengers on and off, loading and unloading goods, and/or for train operation purposes. Stations for passengers getting on and off are at least equipped with facilities. Jatinegara Station is a grade A station and is a transit station that connects 3 lines, namely Pasar Senen Station, Manggarai Station, and the train line to Cikarang /Bekasi. Every day Jatinegara Station is passed by hundreds of trains so it is quite busy because many trains come. and went to pick up and drop off the passengers. Facilities at the station must be met for the comfort of KRL users, therefore facilities and infrastructure are needed at a station. After the renovation of Jatinegara Station, several improvements such as physical buildings and supporting facilities have been completed with several additional facilities. Keywords: Jatinegara Station function; Jatinegara Station renovation; train station Abstrak Stasiun kereta api merupakan sarana atau fasilitas untuk kereta api berhenti dengan teratur, juga sebagai tempat untuk turun naik penumpang serta bongkar muat barang. Pada umumnya setiap stasiun memiliki bentuk fisik bangunan utama yang di dalamnya disediakan layanan seperti penjualan tiket, fasilitas penunjang, dan ruang tunggu serta peron yang disiapkan untuk rute perjalanan. Berdasarkan PP Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2009 stasiun merupakan tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api dengan keterpaduan antar jaringan jalur kereta api dengan jaringan jalur kereta api lain serta dengan moda transportasi lain yang dilakukan di stasiun. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 pasal 35 Stasiun Kereta Api berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk melayani naik turun penumpang, bongkar buat barang, dan/atau keperluan operasi kereta api. Stasiun untuk keperluan naik turun penumpang sekurang-kurangnya dilengkapi fasilitas. Stasiun Jatinegara merupakan stasiun dengan grade A sebagai stasiun transit dari 3 jalur, yaitu Stasiun Pasar Senen, Stasiun Manggarai, dan jalur kereta arah ke Cikarang/Bekasi. Setiap harinya Stasiun Jatinegara dilewati oleh ratusan kereta api sehingga cukup sibuk karena banyak kereta yang datang dan pergi untuk menjemput serta mengantar para penumpang. Fasilitas dalam stasiun harus terpenuhi guna kenyamanan para pengguna KRL. Oleh karena itu diperlukan fasilitas baik sarana maupun prasarana pada suatu stasiun. Pasca renovasi Stasiun Jatinegara beberapa peningkatan seperti bangunan fisik dan fasilitas penunjang sudah terselesaikan dengan beberapa penambahan fasilitas.
PENGELOLAAN POS BLOC DALAM MEMANFAATKAN BANGUNAN BERSEJARAH MELALUI KONSEP ADAPTIVE REUSE Lego, Viando Insan Niscaya; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27512

Abstract

Pos Bloc is a public space that has a commercial area inside which is located in Central Jakarata, before becoming Pos Bloc it used to be the Filateli Building where the post office was located during the Dutch colonial era, this Filateli Building also served philatelic services, until later this building was designated as a historical building and entered into part of the DKI Jakarta cultural heritage. Over time the Filateli Building then changed functions and experienced the unproductivity of a historic building. Until PT Ruang Kreatif Pos which is a private company in collaboration with PT Pos Indonesia by converting the Filateli Building into a productive building again with the use of the Adaptive Reuse concept. According to Austin (1988) adaptive reuse is an alternative to protecting and preserving historic buildings with steps to convert them to benefit the community and the area itself. That way unproductive historic buildings can be reused and see how utility management efforts in using the adaptive reuse concept. After the development through the adaptive reuse concept, Filateli Building is again productive and well utilized. The results of this study aim to determine the results of the use of the adaptive reuse concept on historic buildings and see what changes and what does not change from the Filateli Building when using Adaptive reuse, this study also looks at how successful the use of the adaptive reuse concept on historic buildings, success is seen from all indicators of the Filateli Building which has changed into Pos Bloc. Keywords: adaptive reuse; commercial; management; Pos Bloc Abstrak Pos Bloc merupakan sebuah ruang publik yang terdapat area komersial didalamnya yang berada di Jakarata Pusat, sebelum menjadi Pos Bloc dulunya adalah Gedung Filateli tempat kantor pos pada zaman penjajahan Belanda, Gedung Filateli ini juga melayani pelayanan filateli, sampai kemudian bangunan ini ditetapkan sebagai bangunan sejarah dan masuk kedalam bagian dari cagar budaya DKI Jakarta. Seiring waktu Gedung Filateli kemudian berganti-ganti fungsi dan mengalami ketidakproduktifan sebuah bangunan bersejarah. Hingga PT Ruang Kreatif Pos yang merupakan perusahaan swasta berkerja sama dengan PT Pos Indonesia dengan mengalihfungsikan Gedung Filateli tersebut menjadi produktif kembali dengan penggunaan konsep adaptive reuse. Menurut Austin (1988), adaptive reuse merupakan alternatif untuk melindungi dan menjaga bangunan bersejarah dengan langkah mengalihfungsikan yang bermanfaat bagi masyarakat dan kawasan itu sendiri. Dengan begitu bangunan-bangunan bersejarah yang tidak produktif dapat dimanfaatkan kembali dan melihat bagaimana upaya pengelolaan utilitas dalam menggunakan konsep adaptive reuse. Setelah dilakukannya pengembangan melalui konsep adaptive reuse, Gedung Filateli kembali produktif dan termanfaatkan dengan baik. Hasil studi ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari penggunaan konsep adaptive reuse terhadap bangunan bersejarah dan melihat perubahan apa saja dan yang tidak berubah dari Gedung Filateli tersebut saat penggunaan adaptive reuse, studi ini juga melihat bagaimana keberhasilan dari penggunaan konsep adaptive reuse terhadap bangunan bersejarah, keberhasilan dilihat dari segala indikator terhadap Gedung Filateli yang telah beruabah menjadi Pos Bloc.
STUDI TINGKAT KEPUASAN TERHADAP FASILITAS PEJALAN KAKI DI LOW EMISSION ZONE KOTA TUA Wiyono, Winston; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27513

Abstract

Jakarta Old Town is a cultural heritage area that has a long history with several revitalizations and has become a destination for local and foreign tourists. There are many cities around the world that have combined walkability with tourist destinations that prioritize pedestrians, a good level of walkability can increase comfort and safety for pedestrians using pedestrian facilities. However, there has been little research done in terms of the pedestrian expectations and satisfaction that addresses walking-related indicators in the low-emission zone of Old Town, a cultural heritage area. The main objective of this study is to identify the expectations and satisfaction levels of visitors walking in the Old Town Low Emission Zone with questionnaire questions using the Likert scale method in the respondent's perspective section using indicators related to pedestrian facilities ranging from accessibility, connectivity, continuity, safety, facilities, social benefits, economic benefits, and environmental benefits. Data from this research was collected through observation, government agencies, and 90 questionnaires that have been distributed to visitors who have experienced walking in the study area, namely the Old Town Low Emission Zone. After the analysis, the results show that visitors or pedestrians in the Old Town Low Emission Zone are overall satisfied with the pedestrian facilities in the Old Town Low Emission Zone but there are several variables that need to be improved so that visitors can feel even more satisfied in the future. Keywords:  low emission zone; old town; pedestrian; satisfaction Abstrak Kota Tua Jakarta merupakan kawasan cagar budaya yang memiliki sejarah yang panjang dengan melewati beberapa kali revitalisasi dan sudah menjadi tujuan destinasi bagi wisatawan lokal maupun wisatawan luar negeri. Terdapat banyak kota-kota di dunia yang telah menggabungkan kemampuan berjalan kaki dengan tujuan wisata yang memprioritaskan pejalan Kaki. Tingkat kemampuan berjalan kaki yang baik dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki yang menggunakan fasilitas pejalan kaki. Meskipun demikian, tidak terdapat banyak penelitian yang dilakukan mengenai tingkat kepuasan pejalan kaki yang membahas indikator yang berhubungan dengan berjalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua, yang merupakan kawasan cagar budaya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kepuasan pengunjung yang berjalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua dengan pertanyaan kuesioner yang menggunakan Skala Likert pada bagian perspektif responden yang menggunakan indikator yang berhubungan dengan fasilitas pejalan kaki mulai dari aksesibilitas, konektivitas, kontinuitas, keamanan, fasilitas, manfaat sosial, manfaat ekonomi, dan manfaat lingkungan. Data dari penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, instansi pemerintah, dan 90 kuesioner yang telah dibagikan kepada pengunjung yang sudah mengalami berjalan kaki di area studi yaitu Zona Rendah Emisi Kota Tua. Setelah dilakukan analisis, hasil menunjukkan bahwa pengunjung atau pejalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua secara keseluruhan sudah merasa puas terhadap fasilitas pejalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua akan tetapi terdapat beberapa variabel yang perlu ditingkatkan agar pengunjung dapat merasa lebih puas lagi kedepannya.