cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
MEMADUKAN DUNIA ANAK- ANAK MELALUI ARSITEKTUR BERMAIN: MERANCANG RUANG EDUKASI BERFOKUS SEJARAH PERMAINAN INDONESIA Karim, Fernando Janvier; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27456

Abstract

In the face of rapid technological development, children's games have undergone significant transformation, leading to a decline in the physicality of play and the loss of the essence of play as a crucial aspect of child development. This study combines the Montessori approach, emphasizing the importance of play in developing sensory, motor, and social skills, with the concept of empathetic architecture. The focus is on redesigning playgrounds in two different locations: Cluster PIK2 and Kampung Lumpang. Through case studies, observations, and identification of children's needs, we have created design guidelines that integrate Indonesia's play heritage and empathetic architecture principles. The design program includes the redesign of playgrounds, art installations, and mural projects. Considering the needs of children in the local context, such as accessibility and the loss of the essence of street play, this design aims to rebuild physical, sensory, and social engagement through play. Through modularity and adaptation to the context of each location, this research unites the diversity of play spaces while respecting and preserving the history of Indonesian children's games, creating spaces that celebrate joy and the values of play in child development. The ultimate achievement of this design is the realization of a redesigned playground in a holistic and sustainable manner. Children in Kampung Lumpang and Cluster PIK2 can enjoy games that support the development of their sensory, motor, and social skills, while experiencing the joy and pride of Indonesia's play heritage. By involving them in the design process, this design also achieves the accomplishment of a shared sense of ownership within the community, creating strong social bonds and bringing together two potentially separate worlds. Keywords: architecture empathy; montessori approach; play; playground Abstrak Dalam menghadapi era perkembangan teknologi yang pesat, permainan anak-anak mengalami transformasi yang signifikan, mengakibatkan penurunan fisikalitas permainan dan kehilangan esensi permainan sebagai aspek utama perkembangan anak-anak. Studi ini menggabungkan pendekatan Montessori, yang menekankan pentingnya permainan dalam pengembangan sensorik, motorik, dan keterampilan sosial, dengan konsep arsitektur empati. Fokusnya adalah merancang kembali taman bermain di dua lokasi berbeda: Cluster PIK2 dan Kampung Lumpang. Melalui studi kasus, observasi, dan identifikasi kebutuhan anak-anak, kami menciptakan panduan desain yang mengintegrasikan warisan bermain Indonesia dan prinsip-prinsip arsitektur empati. Program desain mencakup redesain taman bermain, instalasi seni, dan proyek mural. Dengan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak dalam konteks lokal, seperti aksesibilitas dan kehilangan esensi bermain di jalanan, desain ini bertujuan untuk membangun kembali keterlibatan fisik, sensorik, dan interaksi sosial melalui permainan. Melalui modularitas dan adaptasi terhadap konteks setiap lokasi, penelitian ini menyatukan keberagaman ruang bermain dengan menghormati dan memelihara sejarah permainan anak-anak Indonesia, menciptakan ruang yang merayakan kegembiraan dan nilai-nilai bermain dalam perkembangan anak-anak. Pencapaian akhir dari desain ini adalah terwujudnya taman bermain yang dirancang ulang secara holistik dan berkesinambungan. Anak-anak di Kampung Lumpang dan Cluster PIK2 dapat menikmati permainan yang mendukung perkembangan sensorik, motorik, dan keterampilan sosial mereka, sambil merasakan kegembiraan dan kebanggaan akan warisan bermain Indonesia. Dengan melibatkan mereka dalam proses perancangan, desain ini juga mencapai pencapaian berupa rasa kepemilikan bersama dari komunitas, menciptakan ikatan sosial yang kuat dan menyatukan dua dunia yang mungkin terpisah.
PENERAPAN ARSITEKTUR PERILAKU DALAM DESAIN RUMAH SINGGAH KREATIF ANAK JALANAN Ryandi, Eric Nicholas; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27458

Abstract

The spread of street children in public spaces is still a very common problem faced in Indonesia, which is mainly caused by the increasing level of living welfare that is not matched by balanced employment opportunities. Children who go down to work on the streets are certainly influenced by the surrounding environment which has a high poverty rate so that they are vulnerable to dropping out of school because they have to work by force or self- sacrifice which reduces the interest in developing the academic or non-academic potential of the child. Street children usually have a mental and psychological condition that is still childish plus academic, motor skills, along with immature emotional intelligence due to lack of interaction from peers so that if they live in a bad environment there is a possibility that their thoughts are easily influenced if they are not given education. As part of the future of the nation's development, street children must be given proper living facilities that can provide them with a feeling of security and comfort but not forgetting interactive learning facilities that can equip their skill development so that they can grow into critical and productive individuals. Therefore, the creative boarding house is an alternative to combining residential space and creative learning space for street children used to develop their knowledge, hobbies, and skills according to their abilities. In order for the creative halfway house to be interactive with street children, the application of the applied design must follow the personality and life behavior of street children who prioritize flexibility and a sense of communal ownership Keywords: communal ownership; creative boarding house; flexibility; living environment; street children Abstrak Penyebaran anak jalanan di ruang publik masih menjadi masalah yang sangat umum dihadapi di Indonesia yang utamanya disebabkan oleh semakin meningkatnya taraf kesejahteraan hidup yang tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang seiimbang. Anak turun yang turun bekerja di jalan tentunya dipengaruhi oleh lingkungan hidup di sekitarnya yang memiliki angka kemiskinan yang tinggi sehingga mereka rentan dengan aksi putus sekolah karena harus bekerja secara paksaan atau pengorbanan diri sendiri yang menurunkan minat untuk mengembangkan potensi akademis ataupun non-akademis yang dimiliki anak tersebut. Anak jalanan biasanya memiliki kondisi mental dan psikis yang masih kekanak-kanakan ditambah lagi kemampuan akademik ,motorik, beserta kecerdasan emosional yang belum matang karena kurangnya interaksi dari teman sebaya sehingga bila ia hidup di lingkungan yang buruk ada besar kemungkinan pemikiran mereka mudah di pengaruhi bila tidak diberi pendidikan. Sebagai bagian dari masa depan pembangunan bangsa anak jalanan harus diberikan fasilitas hidup yang layak yang dapat memberikan mereka perasaan aman dan nyaman namun tidak melupakan fasilitas pembelajaran yang interaktif dapat membekali perkembangan skill mereka agar mereka dapat tumbuh berkembang menjadi pribadi yang kritis dan produktif. Oleh karena itu, rumah singgah kreatif menjadi salah satu alternatif penggabungan ruang hunian dan ruang aksi pembelajaran kreatif anak jalanan yang digunakan untuk mengembangkan ilmu, hobi, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan kemampuan mereka. Agar rumah singgah kreatif bisa mendapat interaktif dengan anak jalanan maka penerapan desain yang diterapkan harus mengikuti kepribadian dan perilaku hidup anak jalanan yang mengedepankan fleksibilitas maupun adanya rasa kepemilikan komunal.
PROGRAM REGENERASI TERHADAP DEGRADASI BUDAYA CINA BENTENG DI KOTA TANGERANG Ronaldo, Ronaldo; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27464

Abstract

Cina Benteng are ethnic Chinese who dominate the Tangerang area. Regeneration activities in improving the quality of cultural elements to deal with the problem of cultural degradation have become the focal point for architectural program development. The problem of cultural degradation from modernization factors increasingly makes the value of a culture less visible and diminished by developments over time. The regeneration program is a development that maintains cultural heritage, traditions, and activities passed down from generation to generation, becoming a combination of programs in one complete space. Program conditions that have been supported by the surrounding social context which has been well acculturated support the program. With the regeneration program, it is hoped that it can become an important reference as a form of returning the memories that form the active interaction patterns of Cina Benteng, in order to maintain traditions passed down from generation to generation. The method of this research uses qualitative methods, through direct observation of existing buildings that have become icons for preserving the Cina Benteng cultural heritage. Analysis from Cina Benteng people in maintaining traditions becomes a reference for selected "regeneration" programs and activities, namely popular, potential, and ritual programs with spatial elements. The results of this research develop the adaptation of the activities of Cina Benteng community into a proposed regeneration program that is felt by users, the "Bakti" program which can be used as a design development, while also fighting cultural degradation. Keywords: activities; cultural; cina benteng; degradation; regeneration Abstrak Cina Benteng merupakan etnis Tionghoa yang mendominasi kawasan Tangerang. Aktivitas regenerasi dalam meningkatkan kualitas elemen budaya untuk menghadapi masalah degradasi budaya, menjadi titik fokus pengembangan program secara arsitektur. Masalah Degradasi budaya dari faktor modernisasi, semakin membuat nilai suatu kebudayaan semakin kurang terlihat dan tergilis oleh perkembangan zaman. Program regenerasi menjadi pengembangan yang menjaga warisan budaya, tradisi, serta aktivitas turun-temurun, menjadi gabungan program dalam suatu ruang yang utuh. Kondisi program yang sudah didukung dari konteks sosial sekitar yang sudah terakulturasi dengan baik, mendukung program. Dengan adanya program regenerasi, diharapkan dapat menjadi acuan penting sebagai bentuk pengembalian memori-memori yang membentuk pola interaksi aktif user Cina Benteng, dalam menjaga tradisi turun-menurun. Metode dari penelitian ini menggunakan metode kualitatif, melalui pengamatan langsung ke eksisting bangunan yang sudah menjadi ikon menjaga warisan kebudayaan Cina Benteng. Analisis dari sudut pandang Cina Benteng dalam menjaga tradisi, menjadi acuan untuk program dan aktivitas “regenerasi” terpilih, yaitu program populer, potensial, dan ritual dengan elemen spasial. Hasil Penelitian ini mengembangkan adaptasi aktivitas masyarakat Cina Benteng menjadi usulan program regenerasi yang dirasakan oleh user, program “Bakti” yang dapat dijadikan pengembangan desain, sekaligus melawan degradasi budaya.
PENERAPAN ELEMEN ARSITEKTUR DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP LANSIA PADA RUANG PUBLIK Sariputra, Jefferson; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27465

Abstract

Over time, older people experience physical and cognitive changes, such as: hearing, vision and physical strength impairment, which affect their well-being. Suitable mobile equipment should be considered. Seniors need a quiet space, good sleep, and social interaction. Elderly is synonymous with age and age, if discussed in general terms, life expectancy in Indonesia is quite low compared to other countries. One of the problems that occurs is due to higher levels of air pollution and a lack of implementing a healthy lifestyle. With the hope of improving the quality of life of the elderly and also the life expectancy of the elderly, we will implement several architectural elements that prioritize safety and comfort for the elderly. The problems that occur focus on the welfare of the elderly in Indonesia. The method of this research uses an architectural approach, which uses methods to analyze and design an architectural design object effectively. The results of this research develop the application of architectural elements which can later be applied to the use of building designs for the elderly. Architectural elements will be implemented based on the basic needs of the elderly. Keywords: architectural elements; elderly; life expectancy Abstrak Seiring waktu, orang lanjut usia mengalami perubahan fisik dan kognitif, seperti:  gangguan pendengaran, penglihatan dan kekuatan fisik, yang mempengaruhi kesejahteraan mereka. Peralatan bergerak yang sesuai harus dipertimbangkan. Lansia membutuhkan ruang yang tenang, tidur yang nyenyak, dan interaksi sosial. Lansia identik dengan umur maupun usia, jika dibahas scara umum, angka Usia harapan hidup di Indonesia tergolong cukup rendah dibandingkan negara – negara lain. Salah satu masalah yang terjadi dikarenakan tingkat polusi udara yang lebih tinggi dan kurangnya penerapan pola hidup sehat. Dengan memiliki harapan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dan juga angka usia harapan hidup lansia, akan melakukan penerapan beberapa elemen arsitektur yang mementingkan keamanan serta kenyamanan bagi lansia. Masalah yang terjadi berfokus kepada kesejahteraan lansia di Indonesia. Metode dari penelitian ini menggunakan pendekatan arsitektur, yang dimana penggunaan metode untuk menganalisis dan merancang suatu objek rancangan arsitektur secara efektif. Hasil penelitian ini mengembangkan penerapan elemen arsitektur yang nantinya dapat diterapkan ke dalam penggunaan desain bangunan untuk lansia. Elemen arsitektur nantinya akan diterapkan berdasarkan kebutuhan dasar para lansia.
ARSITEKTUR HANDCRAFT RUMAH KAJANG DAN RUMAH SAPAU STUDI KASUS: KAMPUNG AIR BINGKAI, KABUPATEN LINGGA Willian, Marco; Priyomarsono, Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27467

Abstract

The Sea nomade Tribe is a primitive nomadic tribe that lives in the sea. The Sea nomade Tribe spends their time living on boats (Kajang), but in several seasons, they also spend a lot of time in the land. One element of their cultural identity is their traditional houses called Kajang and Sapau which are have strong sacred values to this day. The Kajang House is a house on a boat covered with a roof of pandan leaves (mengkuang). Meanwhile, the Sapau house is a stopover house for the Sea nomade tribe people when the weather is bad. Sapau houses use woven pandan leaves (mengkuang) as the walls and roofs of their houses. The Sapau house structural system uses wooden piles. The use of building materials for sea nomadet tribe houses uses materials provided by nature. The Sea Nomade tribe house studied came from Air Bingkai Village, Tajur Biru sub-district, Lingga Regency. This village was chosen as a research object because of its easy access and the culture of nomadic and Madenese fishing arts is still maintained. The problem is that weaving is an ancestral work of art from the Sea tribe which is now starting to be degraded because they have become aware of the instantaneous culture of the land. The impact of this degradation is that their weaving abilities are no more advanced than their parents. The aim of this research is to get to know the art of weaving techniques and architecture of the Laut tribe in its implementation in their traditional house buildings. This research uses a historical qualitative method, namely a study based on the daily lives of the Laut people. Data collection techniques use interview and field observation methods. The data that can be compared with theories contained in the literature. The results are references to weaving techniques and manufacturing techniques from Kajang houses and Sapau houses Keywords : degradation; kajang house; sapau house; webbing Abstrak Suku Laut merupakan salah satu suku nomaden yang hidupnya berada di lautan. Suku Laut menghabiskan waktu hidup di perahu (Kajang), namun di musim tertentu, mereka juga banyak menghabiskan waktu di darat. Salah satu unsur indentitas budaya mereka yaitu rumah adatnya bernama Kajang dan Sapau yang memiliki nilai kesakralan yang kuat hingga kini. Rumah Kajang merupakan rumah berupa perahu ditutupi oleh atap daun pandan yang dianyam (mengkuang). Rumah Sapau merupakan persinggahan orang suku Laut apabila cuaca buruk. Sistem struktur rumah Sapau mengunakan pancang kayu. Penggunaan material anyaman rumah suku Laut menggunakan material disediakan oleh alam. Rumah suku Laut diteliti berasal dari Kampung Air Bingkai, kecamatan Tajur biru, Kabupaten Lingga. Kampung ini terpilih menjadi objek penelitian karena aksesnya yang mudah dijangkau serta kebudayaan seni melaut nomaden dan maden masih terjaga dan mempunyai bentuk rumah yang sangat spesifik. Permasalahannya adalah; anyaman merupakan karya seni leluhur suku Laut yang kini mulai terdegradasi budayanya akibat asimilasi orang laut yang di rumahan oleh pemerintah. Mereka harus beradaptasi kembali dan berbaur terhadap warga daratan (Melayu). Dampaknya mereka sudah melek terhadap kebudayaan daratan yang serba instan, hal tersebut membuat kemampuan menganyam mereka menurun seiring waktu. Tujuan penelitian ini adalah mengenal anyaman yang di implementasikan dalam bentukan arsitektur. Penelitian ini untuk mendapatkan data akurat mengunakan metode kualitatif historis yaitu kajian berdasarkan keseharian menganyam orang Laut. Teknik pengumpulan data mengunakan metode wawancara dan observasi lapangan. Data yang di dapat di sandingkan dengan teori yang terdapat di literatur. Hasil yang di dapat berupa penerapan anyaman di dalam rumah Kajang dan rumah Sapau.
RUANG DEMOKRASI DI DESA ADAT CANGGU Darmawan, Tjahyadi; Priyomarsono, Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27468

Abstract

The village of Canggu has recently emerged as a prominent destination in Bali, celebrated for its serene rice fields, vibrant beaches, and thriving surf culture. Canggu seamlessly integrates modern conveniences with authentic Balinese culture, complemented by the warmth of its locals, making it an appealing choice for digital nomads and other immigrant communities to make a permanent home. This phenomenon creates a societal transformation of Bali, transitioning from a predominantly homogeneous community to a more diverse and pluralistic society. Creating a challenge to the current Banjar democratic system. The situation underscores the necessity for an inclusive and adapted space that accommodates the diverse ethnic backgrounds now shaping the community. Balancing tradition with innovation, fostering community dialogues, and embracing participatory approaches is essential to reconstruct the democratic value in Balinese culture. This calls for a calls for an architectural design approach that is both nuanced and empathetic, with Deleuze and Guattari's concept of the 'rhizome' as a cohesive approach demonstrates the complex and interrelated structure of the developing social framework in Bali. The utilisation of market as a program represent intangible democracy that extends beyond socio-economics limitations, encapsulating inclusivity. The architectural narrative presented by through empathy  demonstrates a dedication to promoting togetherness, the architectural structures serve as a catalyst for facilitating the harmonic cohabitation of the diverse cultural fabric that characterises the dynamics of Balinese community. Keywords: balinese architecture; democracy, empathic architecture; rhizome Abstrak Desa Adat Canggu baru-baru ini muncul sebagai tujuan wisata terkemuka di Bali, yang terkenal dengan sawahnya yang tenang, pantai yang semarak, dan budaya selancar yang berkembang. Canggu memadukan kenyamanan modern dengan budaya Bali yang otentik, dilengkapi dengan keramahtamahan penduduk setempat, menjadikannya pilihan yang menarik bagi para digital nomad dan imigran lainnya untuk berhuni secara permanen. Fenomena ini menciptakan transformasi sosial di Bali, beralih dari masyarakat yang homogen secara budaya menjadi masyarakat yang lebih majemuk. Menciptakan tantangan bagi sistem demokrasi Banjar saat ini. Situasi ini menggarisbawahi perlunya ruang yang inklusif dan adaptif yang mengakomodasi keragaman dalam tatanan masyarakat. Menyeimbangkan tradisi dengan inovasi dan merangkul pendekatan partisipatif sangat penting untuk merekonstruksi nilai demokrasi yang tertanam dalam tradisi Bali. Hal ini membutuhkan pendekatan desain arsitektur yang kompleks dan berempati. Konsep ‘rhizome’ dari Deleuze dan Guattari digunakan sebagai pendekatan yang kohesif menunjukkan struktur yang menciptakan keterkaitan dari kerangka sosial yang berkembang di Bali. Pemanfaatan program pasar sebagai representasi dari demokrasi yang intangible melampaui batasan sosio-ekonomi dan merangkum prinsip inklusivitas. Narasi arsitektur disajikan dengan menggunakan prinsip arsitektur empati menunjukkan dedikasi untuk mempromosikan kolektifitas dengan arsitektur yang berfungsi sebagai katalis untuk memfasilitasi kehidupan bersama yang harmonis dari beragam tatanan budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Bali yang dinamis.
PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPUTIK DALAM PERANCANGAN RUMAH TERAPI YANG AMAN BAGI PEREMPUAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL Kosasih, Vicky; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27470

Abstract

In recent years there has been a significant increase in the occurrence of sexual violence and harassment where almost 78% of victims of sexual violence and harassment are women ranging in age from 8 to 18 years. This high level of violence has resulted in the growth of victims who have experienced trauma from the events that have happened to them. In this case, empathy architecture plays a role in providing a safe recovery space for women victims of sexual violence. Therefore, using the therapeutic concept, this study aims to explore design approaches for safe spaces for victims to recover and treat their trauma so that victims can slowly return to the social sphere and live their lives. The research method is to make field observations of the needs of therapy rooms, study of precedents related to therapeutic architecture including tracing coping mechanisms, therapy houses, and safe spaces. The findings of this study refer to the architecture of empathy that has a spatial effect, differences in the form and level of impact of sexual violence on victims, the stages of the type of therapy and its effect on the spatial and therapeutic architecture in creating a safe therapeutic home. Keywords:  empathic architecture;  safe space; sexual assault; therapy home; trauma Abstrak Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual yang dimana hampir 78% korban kekerasan dan pelecehan seksual merupakan Perempuan yang memiliki rentang umur 8 - 18 tahun. Tingginya tingkat kekerasan ini mengakibatkan bertumbuhnya juga korban yang mengalami trauma akan kejadian yang telah menimpanya. Dalam hal ini, arsitektur empati berperan dalam menyediakan ruang pemulihan yang aman bagi para Perempuan korban kekerasan seksual. Maka dari itu dengan menggunakan konsep teraputik, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri pendekatan perancangan bagi ruang yang aman bagi korban untuk memulihkan dan mengobati traumanya sehingga korban dapat secara perlahan kembali kedalam lingkup sosial dan menjalani kehidupannya. Metode penelitiannnya adalah dengan melakukan observasi lapangan terhadap kebutuhan ruang terapi, olah studi terhadap preseden terkait dengan arsitektur teraputik termasuk penelusuran coping mechanism, rumah terapi, dan ruang aman. Temuan penelitian ini merujuk pada arsitektur empati yang berpengaruh secara spasial, perbedaan bentuk dan tingkatan dampak kekerasan seksual terhadap korban, tahapan jenis terapi dan pengaruhnya terhadap keruangan dan arsitektur terapeutik dalam menciptakan rumah terapi yang aman.
HEALTHY GRIEFING DALAM ALUR NARASI SPASIAL SEBAGAI PENDEKATAN PERANCANGAN RUMAH DUKA DAN KREMATORIUM CILINCING, JAKARTA Nathaniel, Louis Nelson; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27471

Abstract

Architectural empathy is architecture that puts itself in the user's position so that it can truly understand the user's needs. Grief is a natural reaction when facing the death of someone close to you. The grief process can be ongoing and have a negative impact on physical and mental health if it is not experienced in a healthy way. Empathy architecture here acts as a medium and space that understands the needs of users who are grieving. The aim of this research is to explore a design approach that is empathetic to the grief process, especially in the design process for renewing funeral homes and crematoriums in Cilincing using narrative qualitative research methods. Cilincing Crematorium is one of the oldest crematorium and funeral home facilities in Jakarta, its condition is no longer good and needs updating. The Healthy Grieving concept is a design concept that aims to guide users to grieve in a healthier way. The narrative method is used so that architecture can tell the story of the user's experience of grief so that the user can better understand the tragedy that is being experienced. Understanding these feelings of grief can help users navigate the grief process. Keywords:  crematorium; funeral home; healthy grieving; narration Abstrak Empati arsitektur adalah arsitektur yang menempatkan diri pada posisi pengguna sehingga dapat memahami betul kebutuhan pengguna. Duka adalah reaksi natural ketika menghadapi kematian dari orang orang terdekat. Proses duka dapat menjadi berkelanjutan dan berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental apabila tidak dijalani dengan cara yang sehat. Arsitektur empati disini berperan sebagai suatu media dan ruang yang memahami kebutuhan pengguna yang sedang berduka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelusuri pendekatan perancangan yang berempati terhadap proses kedukaan terutama dalam proses perancangan pembaharuan rumah duka dan krematorium di Cilincing dengan menggunakan metode penelitian kualitatif naratif. Krematorium Cilincing adalah salah satu fasilitas krematorium dan rumah duka paling tua di Jakarta, kondisi nya sudah tidak baik dan diperlukan pembaharuan. Konsep Healthy Grieving adalah konsep perancangan yang bertujuan untuk memandu pengguna agar dapat berduka dengan cara yang lebih sehat. Metode naratif digunakan agar arsitektur dapat menceritakan pengalaman duka pengguna sehingga pengguna dapat lebih memahami tragedi yang sedang dijalani. Pemahaman terhadap perasaan duka tersebut dapat membantu pengguna untuk menjalani proses duka.
PENERAPAN TERAPI KREATIF DAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK DALAM MENCIPTAKAN “TEMPAT KETIGA” BAGI REMAJA UNTUK MEMPROSES DUKA Pane, Amru Akbar; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27472

Abstract

Adolescence is a critical phase in identity formation, shaping the direction for individuals transitioning to adulthood. The primary challenge is overcoming identity confusion arising from the failure to discover one's identity. Grief experiences, especially due to death or relationship breakups, significantly impact the mental health of adolescents, increasing the risk of issues such as anxiety and depression. Comprehensive support is crucial to assist adolescents in coping with traumatic experiences and fostering their development. The main focus of this research is to aid adolescents in dealing with grief, particularly after losing someone, facilitating grief processing, and supporting identity development and intimacy processes in the late adolescent phase. The research employs qualitative methods, including observation, analysis, documentation, and interviews, to explore the impact of grief on adolescents, especially when losing a loved one. The subjects are adolescents in Jakarta, with the participation of psychologists as contributors. The research aims to guide the creation of architectural spaces that support adolescents in facing the grieving process. The findings indicate that grief therapy interventions for adolescents, using methods like writing trauma narratives, journaling, and engaging in artistic activities, play a crucial role. The concept of a third place, re-mapping relationship patterns, and integrating therapeutic architecture is revealed as an effective approach to supporting adolescent recovery. The combination of creative therapy and therapeutic architectural approaches creates an environment that supports adolescents in managing the experience of loss while considering their developmental needs. Keywords:  adolescent; creative theraphy; grief; remapping; third place Abstrak Masa remaja merupakan fase kritis dalam pembentukan identitas, menentukan arah bagi individu menuju dewasa. Tantangan utama adalah mengatasi kebingungan identitas yang muncul dari kegagalan menemukan identitas. Pengalaman duka, terutama kematian atau putusnya hubungan, signifikan terhadap kesehatan mental remaja, meningkatkan risiko masalah seperti kecemasan dan depresi. Dukungan komprehensif penting untuk membantu remaja mengatasi pengalaman traumatis dan mendukung perkembangan mereka. Fokus utama penelitian ini adalah membantu remaja mengatasi duka, terutama setelah kehilangan seseorang, memfasilitasi pemrosesan kedukaan, dan mendukung perkembangan identitas serta proses intimasi pada fase remaja akhir. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan observasi, analisis, dokumentasi, dan wawancara untuk mengeksplorasi dampak kedukaan pada remaja, terutama saat kehilangan orang yang dicintai. Subjeknya adalah remaja di Jakarta, dengan partisipasi psikolog sebagai narasumber. Penelitian bertujuan mengarahkan pembentukan wadah arsitektur yang mendukung remaja dalam menghadapi proses kedukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi terapi kedukaan pada remaja, dengan metode seperti menulis narasi trauma, menjalani jurnal, dan terlibat dalam kegiatan seni, memiliki peran krusial. Konsep tempat ketiga, pemetaan ulang pola hubungan, dan integrasi terapeutik arsitektur diungkapkan sebagai pendekatan efektif untuk mendukung pemulihan remaja. Kombinasi terapi kreatif dan pendekatan arsitektur terapeutik menciptakan lingkungan yang mendukung bagi remaja dalam mengelola pengalaman kehilangan dengan memperhatikan perkembangan mereka.
PERAN ARSITEKTUR WELLBEING DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KARYAWAN DAN MENGATASI SICK BUILDING SYNDROME DI LINGKUNGAN KERJA Disastra, Renaldy Joel Yodoin; Choandi, Mieke
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27473

Abstract

Every workplace has the potential for dangers that can affect employee safety and health, making it difficult for employees to achieve wellbeing. This research aims to investigate problems in the physical work environment that influence employee wellbeing using a wellbeing architecture approach. Wellbeing is a sense of wellbeing that includes health, happiness and prosperity. Wellbeing architecture is used as an approach in designing buildings and spaces that focuses on creating an environment that supports the holistic well-being of its users. So it can minimize the occurrence of sick building syndrome. By focusing on the role of architecture in creating work spaces that support physical and mental balance while preventing employees from experiencing sick building syndrome, this research explores what employees feel when working and how the design of the physical environment can influence and contribute positively to employee well-being. The research method involves qualitative and quantitative analysis of the physical work environment and employee feelings, by combining data from employee surveys and questionnaires, workspace observations, and literature reviews related to wellbeing architecture. Based on the research results, symptoms of sick building syndrome and employees' dissatisfaction with their current work space were found. Apart from that, several factors were found that needed to be considered when designing the physical work environment, namely aspects of nature, movement, connection and air quality. It is hoped that the results of this research will provide in-depth insight into critical factors in the physical work environment that influence employee well-being. Keywords:  employee; physical work environment; sick building syndrome; wellbeing Abstrak Setiap ruang kerja memiliki potensi bahaya yang dapat memengaruhi keselamatan dan kesehatan karyawan yang membuat karyawan sulit mencapai wellbeing. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi masalah yang ada pada lingkungan kerja fisik yang berpengaruh terhadap kesejahteraan karyawan dengan pendekatan arsitektur wellbeing. Wellbeing adalah rasa sejahtera yang mencakup kesehatan, kebahagianh dan kemakmuran. Arsitektur wellbeing digunakan sebagai pendekatan dalam perancangan bangunan dan ruang yang berfokus pada penciptaan lingkungan yang mendukung kesejahteraan holistik penggunanya. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya sick building syndrome. Dengan fokus pada peran arsitektur dalam menciptakan ruang kerja yang mendukung keseimbangan fisik dan mental sekaligus mencegah karyawan mengalami sick building syndrome, penelitian ini mengeksplorasi apa yang dirasakan karyawan saat bekerja dam bagaimana desain lingkungan fisik dapat berpengaruh dan berkontribusi positif terhadap kesejahteraan karyawan. Metode penelitian melibatkan analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap lingkungan kerja fisik dan perasaan karyawan, dengan menggabungkan data dari survei dan kuesioner karyawan, observasi ruang kerja, dan tinjauan literatur terkait arsitektur wellbeing. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan gejala sick building syndrome dan rasa tidak puas karyawan terhadap ruang kerja mereka saat ini. Selain itu ditemukan beberapa faktor yang perlu diperhatikan saat merancang lingkungan kerja fisik, yaitu aspek nature, movement, connect, dan air quality. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam mengenai faktor-faktor kritis dalam lingkungan kerja fisik yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan.