cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG BIOSKOP RAMAH KURSI RODA Tubalawony, Novinca Debora; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27489

Abstract

Persons with disabilities still often experience various obstacles and limitations when seeking access to meet their needs, including difficulties in obtaining public services and facilities. There are only less than 30% of people with disabilities in Indonesia who can carry out activities in public independently so there is currently a need for government awareness to make changes and innovations in fulfilling and ensuring public services and facilities for people with disabilities. Entertainment and recreation facilities have become one of the important factors in people's lives today and watching in a movie theater is one of the most popular entertainment activities with the aim of entertaining themselves and providing pleasure when they feel bored. However, in terms of accessibility rights, the availability of cinema entertainment facilities and infrastructure is still minimal to provide a friendly space experience for people with physical disabilities. So this research will discuss the design of a friendly cinema space for people with physical disabilities who use wheelchairs. The research method used is descriptive qualitative research method with literature study approach and data development. With further elaboration, a discussion will be obtained regarding the design and application of design elements in the cinema room specifically for wheelchair users. The author hopes that this research can help to provide an ideal space experience for people with physical disabilities who use wheelchairs so that they can feel and enjoy cinema facilities safely and comfortably. Keywords: cinema; disabilities; wheelchair Abstrak Penyandang disabilitas masih sering mengalami berbagai rintangan dan keterbatasan ketika mencari akses untuk memenuhi kebutuhan mereka, termasuk kesulitan dalam mendapatkan layanan dan fasilitas publik. Hanya terdapat kurang dari 30% penyandang disabilitas di Indonesia yang dapat melakukan aktivitas di publik secara mandiri sehingga saat ini diperlukan kesadaran pemerintah untuk melakukan perubahan dan inovasi dalam memenuhi dan menjamin pelayanan dan fasilitas publik bagi penyandang disabilitas. Fasilitas hiburan dan rekreasi telah menjadi salah satu faktor penting dalam kehidupan masyarakat saat ini dan menonton di bioskop merupakan salah satu kegiatan hiburan yang banyak diminati dengan tujuan untuk menghibur diri dan memberikan kesenangan ketika sudah merasa jenuh. Namun dalam hak aksesibilitas, ketersediaan sarana dan prasarana hiburan bioskop masih minim untuk memberikan pengalaman ruang yang ramah bagi penyandang disabilitas fisik. Sehingga penelitian ini akan membahas desain ruang bioskop yang ramah bagi penyandang disabilitas fisik yang menggunakan kursi roda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan pengembangan data. Dengan penguraian lebih lanjut, akan diperoleh pembahasan mengenai rancangan dan penerapan elemen desain pada ruang bioskop yang dikhususkan untuk pengguna kursi roda. Penulis berharap agar penelitian ini dapat membantu untuk memberikan pengalaman ruang yang ideal bagi penyandang disabilitas fisik yang menggunakan kursi roda agar dapat merasakan dan menikmati fasilitas bioskop dengan aman dan nyaman.
RUMAH TERAPI BAGI REMAJA PENDERITA TRAUMA INNER CHILD Tanoto, Reynaldi; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27490

Abstract

The Inner Child within a person is a past and present experience that can occur whenever and wherever the individual is. An experience can significantly impact behaviour when the child enters adulthood, even in old age. For this reason, it is necessary to study more deeply the cause and effect of the Inner Child with a descriptive analysis method and a narrative architecture approach that can help find solutions to recover Inner Child trauma. Based on the data, Inner Child is mostly experienced by teenagers, namely in cases of Domestic Violence. Parents as perpetrators cannot provide good parenting to children, so when children reach adulthood, their behaviour and emotions become unstable. A high awareness and empathy must be needed to restore these adolescents’ psychic and mental health. One of the design strategies applied is social care, where a camp-like lodging place (glamping) is provided to provide a sense of togetherness and kinship. Then, it is also necessary to use several therapeutic techniques from psychologists to restore the Inner Child trauma of adolescents. The therapeutic techniques performed would be converted into the form of architectural space as an act of empathy for adolescent victims of domestic violence who have poor Inner Child trauma. The space plays with materials, textures, nuances, and light as a procedure for Inner Child therapy techniques to release the inner child trauma. Keywords:  adolescent victim; inner child; narrative architecture; therapeutic home; trauma Abstrak Inner Child yang berada di dalam diri seseorang merupakan pengalaman masa lalu dan masa yang sekarang dapat terjadi kapanpun dan dimanapun individu berada. Suatu pengalaman yang dialami dapat berdampak besar kepada perilaku ketika anak tersebut telah masuk usia dewasa, bahkan usia tua. Untuk itu perlu dikaji lebih dalam mengenai sebab akibat Inner Child dengan metode deskriptif analisis dan pendekatan arsitektur naratif yang dapat membantu menemukan solusi untuk memulihkan trauma Inner Child. Berdasarkan data Inner Child banyak dialami oleh remaja yaitu pada kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Orang tua sebagai pelaku tidak dapat memberikan pola asuh yang baik kepada anak, sehingga ketika anak menyentuh usia dewasa, tingkah laku serta emosi mereka menjadi tidak stabil. Perlu adanya tingkat awareness serta empati yang tinggi untuk memulihkan psikis serta mental remaja tersebut. Strategi desain yang diterapkan salah satunya yaitu social care, dimana disediakan tempat penginapan yang menyerupai perkemahan (glamping) untuk memberikan makna kebersamaan dan kekeluargaan. Lalu perlu juga menggunakan beberapa teknik terapi dari ahli psikolog untuk memulihkan trauma Inner Child remaja. Teknik terapi yang dilakukan akan dikonversikan ke dalam bentuk ruang arsitektur sebagai tindakan empati kepada remaja korban KDRT yang memiliki trauma Inner Child yang buruk. Ruang bermain dalam material, tekstur, nuansa, dan cahaya sebagai prosedur teknik terapi Inner Child untuk melepaskan emosi.
DESAIN PASAR PAKAIAN BEKAS DAN TERMINAL BUS SENEN DENGAN KONSEP FASHION ARCHITECTURE, DRIVE-THRU, DAN PARK & RIDE Widyanti, Metta; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27492

Abstract

Pasar Senen, one of Jakarta’s oldest markets, has an area called Pasar Malam Senen, which is open from night until dawn. In this area, sellers sell second-hand clothes on the side of a main road, creating an unsafe and uncomfortable situation because the area is congested with vehicles. A similar problem occurs at the Senen Bus Terminal, which has not yet undergone revitalization, maintaining disorganized conditions and making it uncomfortable for users. The problem was identified as how to improve the image of the Pasar Malam Senen and Senen Bus Terminal with Fashion Architecture to meet user needs. This research aims to improve the image of both by applying Fashion Architecture and Drive-Thru. This research uses descriptive analysis methods to analyze data from interviews and direct observation at Senen Night Market and Senen Bus Terminal. Programs from both locations were combined into one large program to design a building that integrated the two. The result is a building design that combines the concepts of Fashion Architecture, a Drive-Thru second-hand clothes market, and a bus terminal in Senen. Drive-Thru is implemented to meet the daily needs of Senen Night Market sellers and buyers, with goods displayed on the road without the need to get out of the vehicle. The building design includes a corrugated roof and second skin. With this approach, it is hoped that the image of the Bus Terminal and second-hand Clothing Market in Senen can improve while meeting user needs. Keywords: drive-thru; fashion architecture; park and ride; second-hand clothes market; terminal Abstrak Pasar Senen, salah satu pasar tertua di Jakarta, memiliki area bernama Pasar Malam Senen, yang buka dari malam hingga subuh. Di area ini, pedagang berjualan pakaian bekas di jalan raya menciptakan situasi jual-beli tidak aman dan nyaman dikarenakan area padat dengan kendaraan. Masalah serupa terjadi di Terminal Bus Senen yang belum mengalami revitalisasi, mempertahankan kondisi tidak tertata dan kumuh sehingga tidak nyaman bagi penggunanya. Diidentifikasi masalah bagaimana meningkatkan citra Pasar Malam dan Terminal Bus Senen dengan Fashion Architecture agar memenuhi kebutuhan pengguna. Penelitian ini bertujuan meningkatkan citra keduanya dengan mengaplikasikan Fashion Architecture dan Drive-Thru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis untuk menganalisis data dari wawancara dan observasi langsung di Pasar Malam Senen dan Terminal Bus Senen. Program-program dari kedua lokasi digabungkan menjadi satu program besar untuk merancang bangunan yang mengintegrasikan keduanya. Hasilnya adalah desain bangunan yang memadukan konsep Fashion Architecture, Drive-Thru pasar pakaian bekas, dan terminal bus di Senen. Drive-Thru diterapkan untuk memenuhi kebutuhan harian penjual dan pembeli Pasar Malam Senen, dengan barang dipajang di jalan raya tanpa perlu turun dari kendaraan. Desain bangunan mencakup atap bergelombang dan second skin. Dengan pendekatan ini, diharapkan citra Terminal Bus dan Pasar Pakaian Bekas di Senen dapat meningkat sambil memenuhi kebutuhan pengguna.
RUANG BAGI PEMULUNG DAN TEMPAT DAUR ULANG SAMPAH PLASTIK Azzahrah, Fatiyah; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27493

Abstract

The existence of scavengers is often ignored by society and the government, with some living in slums, collecting scrap to sell, and even living on the side of the road as homeless people. Inadequate housing and workplaces result in low welfare. The architectural involvement improves the livelihood of scavengers through innovative and empathetic design. This research aims to create a space that can facilitate scavengers in selling the waste they collect, provide a shelter for homeless scavengers around West Jakarta, and develop facilities to recycle plastic waste collected from waste pickers. The research method used is description analysis, including survey method, observation and description, case studies, and literature study. The results obtained are a space for scavengers to sell the waste they collect by setting up a waste bank and a stopover facility for scavengers who do not have a place to live. These facilities' spatial design and circulation arrangements need to be simplified so that scavengers can easily navigate the area. By establishing a safe, convenient, and sustainable stopover, scavengers can have a facility that meets their basic needs and provides safety and comfort while resting. In addition, the waste brought by scavengers can be processed by providing a recycling area for plastic waste to become plastic flakes. Keywords:  homeless people; plastic flakes; recycling; scavangers; shelter Abstrak Keberadaan pemulung sering kali diabaikan oleh masyarakat dan pemerintah, sebagian pemulung tinggal di permukiman kumuh, mengumpulkan barang bekas untuk dijual, bahkan tinggal di pinggir jalan sebagai tunawisma. Tempat tinggal dan tempat kerja yang tidak layak mengakibatkan rendahnya kesejahteraan mereka. Keterlibatan arsitektur untuk meningkatkan kelayakan hidup pemulung melalui perancangan yang inovatif dan berempati. Penelitian ini bertujuan menciptakan suatu ruang yang dapat memfasilitasi pemulung dalam menjual sampah yang mereka kumpulkan, menyediakan tempat singgah bagi pemulung tunawisma di sekitar Jakarta Barat, dan mengembangkan fasilitas untuk melakukan daur ulang sampah plastik yang dikumpulkan dari pemulung. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis yang mencakup metode survei, pengamatan dan mendeskripsikan, mempelajari studi kasus, dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh adalah ruang bagi pemulung untuk menjual sampah yang mereka kumpulkan dengan mendirikan bank sampah dan fasilitas persinggahan bagi pemulung yang tidak memiliki tempat tinggal. Perancangan ruang dan pengaturan sirkulasi pada fasilitas ini perlu disederhanakan agar pemulung dapat dengan mudah menavigasi area tersebut. Dengan membangun tempat persinggahan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan, pemulung dapat memperoleh fasilitas yang memenuhi kebutuhan dasar mereka serta memberikan perasaan aman dan nyaman saat beristirahat. Selain itu, sampah yang dibawa oleh pemulung dapat diolah dengan menyediakan area daur ulang sampah plastik sampai menjadi plastic flakes.
KONSEP ARSITEKTUR TERAPEUTIK UNTUK DESAIN RUANG KONSELING BAGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DI JAKARTA Christanto, Verin Novella; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27494

Abstract

High rates of sexual violence in Jakarta cause severe psychological trauma, including post-traumatic stress disorder, anxiety, depression, behavior changes, and insecurity. The issue lies in the insufficient number of hospitals with Integrated Service Centers (PPT) for sexual violence victims, leading to a shortage of counseling and therapy rooms. This research, utilizing qualitative methods such as interviews and literature studies, seeks to address the problem by exploring a spatial concept to overcome trauma. Results indicate that the physical environment, particularly room conditions, significantly impacts victims' physical and psychological health. Introducing therapeutic architecture to counseling and therapy rooms is proposed to support the healing process by reducing stress and creating a comfortable treatment atmosphere. The research findings highlight that implementing appropriate design strategies in these rooms can effectively address the trauma of sexual violence victims, contributing significantly to understanding the link between the physical environment and mental health. Additionally, it introduces a new therapeutic direction for helping victims overcome the profound psychological impact of such traumatic experiences. Keywords: architecture; counseling; sexual;  therapeutic; violence Abstrak Fenomena tingginya angka kekerasan seksual di Jakarta memberikan dampak serius terhadap trauma psikologis, termasuk gangguan stres pasca-trauma, kecemasan, depresi, perubahan perilaku, dan perasaan tidak aman. Isu yang muncul adalah ketidakselarasan jumlah rumah sakit yang menyediakan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT), khususnya untuk korban kekerasan seksual di Jakarta. Adapun masalah yang ditemukan adalah bahwa ruang konseling maupun terapi untuk korban kekerasan seksual yang sudah ada belum cukup mewadahi korban. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep dalam mengatasi trauma akibat kekerasan seksual melalui ruangan menggunakan metode kualitatif melalui studi kasus wawancara dan studi literatur untuk mengeksplorasi permasalahan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekitar, terutama kondisi ruangan, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikis korban. Untuk mengatasi permasalahan ini, penerapan konsep arsitektur terapeutik pada ruang konseling dan terapi untuk korban kekerasan seksual dapat mendukung proses penyembuhan. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi tingkat stres dan menciptakan suasana yang nyaman selama perawatan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi desain yang tepat pada ruang konseling dan terapi dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi trauma korban kekerasan seksual. Temuan ini tidak hanya memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman tentang korelasi antara lingkungan fisik dan kesehatan mental, namun juga arah baru dalam pendekatan terapeutik untuk membantu korban mengatasi dampak psikologis yang mendalam dari pengalaman traumatis tersebut.
PENGALAMAN MULTISENSORI TEMAN TULI DALAM PERANCANGAN EDUKASI-HIBURAN DI KEMBANGAN Collin, Stella Felicia; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27495

Abstract

There is still a spatial phenomenon that concerns Deaf Friends' accessibility and their availability of facilities, including jobs and education. This acts as a consequence of Jakarta's present space shortage for edutainment facilities that might encourage employment and education. Furthermore, a significant number of public spaces fail to accommodate the visual demand of Deaf Friends demand. By enhancing the Deaf Friends' sensory experience, this research attempts to establish a non-formal edutainment area with a forum for social interaction between Deaf Friends and hearing friends. For the purpose of investigating Deaf Friends as users, the author employed a qualitative method that involved reading literature reviews and analyzing prior research on deaf rooms and special schools in Jakarta, with conducted interviews and observations. Theoretically, Deaf Friends' senses affect the way they move and go about their everyday lives. To ensure that the experience of space is felt holistically, the steps involve considering all senses. This designated outcome includes an educational-entertainment for art talent interest, exhibition and amphitheater, community cafe, indoor and outdoor park for motor sensory, as well as hearing examination and therapy area. The inventions are in the form of an edutainment area that stimulates Deaf Friends' five sensory and an interaction space that allows hearing friends to feel what Deaf Friends feel in a room. The novelty of the three programs collaboration can bring good influence both to Deaf Friends and the Hearing Friends environment. Keywords: deaf; interaction; edutainment; sensory Abstrak Fenomena ruang akses teman tuli dalam fasilitas tuli masih kurang, termasuk dalam pendidikan dan pekerjaan. Hal tersebut dapat terjadi karena isu ruang yang berkaitan dengan ruang kreativitas yang dapat menunjang pendidikan dan pekerjaan di Jakarta yang masih jarang. Tidak hanya itu, banyak fasilitas umum belum memenuhi visualisasi yang dibutuhkan oleh teman tuli. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan mengangkat ruang edukasi-hiburan yang bersifat non-formal dengan wadah interaksi sosial antara teman tuli dan teman dengar, dengan memaksimalkan sensori teman tuli. Metode kualitatif digunakan dengan membaca kajian literatur dan membedah preseden yang sudah ada terkait ruang tuli dan sekolah luar biasa di Jakarta, serta didukung dengan wawancara dan observasi untuk mendalami teman tuli sebagai pengguna. Secara hipotesis indra teman tuli berpengaruh terhadap kesehariannya dalam beraktvitas, bergerak, dan berpindah, karena sensori dan perilaku merupakan sebuah kesinambungan. Langkah yang digunakan yaitu mempertimbangkan semua indra dalam pengalaman ruang agar dapat dirasakan secara holistik. Desain yang dihasilkan berupa area edukasi-hiburan untuk minat bakat kesenian, pameran dan amphitheater, kafe komunitas, area dalam dan luar untuk sensorik motorik, serta area pemeriksaan pendengaran dan terapi. Temuannya berupa desain pelatihan dan area sensorik motorik yang menstimuli kelima indra sensori teman tuli dan ruang interaksi agar teman dengar dapat merasakan yang dirasakan oleh teman tuli pada suatu ruangan. Kebaruan dari penyatuan ketiga program dapat membawa pengaruh baik bagi teman tuli dan lingkungan teman dengar.
KONSEP LANSIA AKTIF DALAM PERANCANGAN PANTI JOMPO DI KEMANG SELATAN Haryadi, Sesilia Revalina; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27496

Abstract

The phenomenon of the number of elderly facilities is still quite insufficient and not proportional to the number of elderly people. The issue of space in nursing homes also still does not meet safety and security standards for the elderly who experience physical limitations. This can cause the elderly to feel uncomfortable and can even experience accidents in living their daily lives. The purpose of this design is to design the needs of the elderly that are intensively met in the design of senior living based on active ageing strategies. Qualitative research methods are carried out by surveys and interviews with individual elderly people or elderly people living in institutions. The steps are carried out by finding data collection surveys and interviews, then determining the needs according to the results of the data that has been found by applying appropriate concepts to existing problems. The design results consist of residential services for independent elderly, non-self-occupancy, elderly care clinic, gardening area as the main program and intergenerational activities as supporting programs such as food court, cooking class, sewing, knitting, music club, book club, and movie club. The project findings are the merging of senior living with intergenerational programs. The novelty of combining the two programs can have a positive impact on both the elderly and the younger generation. Keywords: active; elderly; living; senior living Abstrak Fenomena jumlah fasilitas lansia yang masih cukup kurang dan tidak sebanding dengan jumlah lansia di Indonesia terbilang cukup penting. Isu ruang dalam panti jompo juga belum memenuhi standar keselamatan dan keamanan bagi lansia yang mengalami keterbatasan fisik. Hal tersebut dapat mengakibatkan lansia merasa kurang nyaman bahkan dapat mengalami kecelakaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mendesain kebutuhan lansia yang terpenuhi secara intensif dalam rancangan hunian lansia berbasis strategi active ageing. Metode penelitian kualitatif dilakukan dengan survei dan wawancara kepada lansia individu ataupun lansia yang tinggal di panti. Langkah penelitian dimulai dengan mencari data, lalu menentukan kebutuhan sesuai dengan hasil dari data yang sudah ditemukan dengan penerapan konsep yang sesuai untuk permasalahan yang ada. Hasil desain terdiri dari layanan hunian lansia mandiri, hunian non-mandiri, klinik perawatan lansia, area berkebun sebagai program utama dan aktivitas  antargenerasi sebagai program penunjang seperti pujasera, kelas memasak, menjahit, merajut, ruang musik, ruang baca, dan ruang menonton. Temuan proyek adalah penggabungan senior living dengan program antargenerasi. Kebaruan dari penggabungan kedua program dapat memberi dampak positif pada lansia maupun generasi muda.
RUANG KOMUNITAS ANAK JALANAN DI GROGOL, JAKARTA BARAT Wijaya, Janice Adriana; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27497

Abstract

Children are the nation's next generation who are expected to realize positive hopes in the future. Until now, the phenomenon of street children is still a social problem that is often found in big cities in Indonesia, one of which is Jakarta. Street children is a term for children aged 6 to 18 years who spend most of their time on the street to survive by earning income, either in the form of money or goods. Grogol Petamburan, as an administrative area in West Jakarta, is one of the locations with the most social welfare problems. Environment is a crucial factors that influences children's health physically, psychologically and socially. The streets in Grogol, with high vehicle intensity and unhealthy air quality have the potential to hinder the growth and development process of children. The majority of street children in Grogol have the same enthusiasm for learning as other children. However, they have little opportunity to pursue non-formal education outside of school. Based on research, they have special behavior in learning, which also influences their activity space. Therefore, a community space is needed that can improve the quality of life of street children. Through empathetic architecture, community space is realized through productive activities in the form of training, teaching and socialization. The space-forming elements that are created must be based on the behavioral patterns of street children in order to create a comfortable place for street children as the main users. Keywords:  activity; behavior; children; environmen; street Abstrak Anak merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu mewujudkan harapan positif di masa yang akan datang. Hingga saat ini, fenomena anak jalanan masih menjadi masalah sosial yang banyak ditemui di kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Jakarta. Anak jalanan merupakan sebuah istilah untuk anak-anak berusia 6 hingga 18 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk bertahan hidup dengan memperoleh pemasukan, baik dalam bentuk uang ataupun barang. Grogol Petamburan sebagai wilayah administratif di Jakarta Barat, menjadi salah satu lokasi dengan penyandang masalah kesejahteraan sosial terbanyak. Lingkungan merupakan salah satu faktor krusial yang mempengaruhi kesehatan anak secara fisik, psikologi, maupun sosial. Jalanan di Grogol, dengan intensitas kendaraan yang tinggi dan kualitas udara dalam kategori tidak sehat berpotensi menghambat proses tumbuh kembang pada anak. Mayoritas anak jalanan di Grogol memiliki semangat belajar yang sama dengan anak-anak lainnya. Hanya saja, kecil kesempatan mereka untuk menempuh pendidikan non-formal di luar sekolah. Setelah diteliti, anak jalanan memiliki perilaku khusus dalam belajar, yang turut mempengaruhi ruang aktivitas mereka. Oleh karena itu, diperlukan ruang komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup anak jalanan. Melalui arsitektur yang berempati, ruang komunitas diwujudkan melalui aktivitas produktif berupa pelatihan, pengajaran, dan sosialisasi. Elemen pembentuk ruang yang diwujudkan harus didasari oleh pola perilaku anak-anak jalanan agar sesuai dan nyaman bagi anak jalanan selaku pengguna utama.
PENERAPAN KONSEP ECO-CULTURAL TOURISM DALAM PENGEMBANGAN KAMPUNG BATIK CIWARINGIN DI CIREBON Nurwinata, Sharron; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27498

Abstract

Cirebon is a city in West Java that is not only famous for its nickname of Shrimp City but also for its rich batik cultural heritage. In addition to Trusmi, which has now become a national tourist attraction, Cirebon also has Ciwaringin area that produces Ciwaringin Batik. Ciwaringin Batik comes from Ciwaringin Village, Cirebon Regency, Ciwaringin Batik has maintained the tradition of written batik for three generations. Ciwaringin Batik Village, especially in Kebon Gedang Block, is the center of a community of batik artisans who produce written batik with traditional processes. The difference between Ciwaringin Batik and Trusmi Batik is that besides the difference in motifs, Ciwaringin Batik is made using natural dyes. Currently, the potential of Ciwaringin Batik is not widely known due to several obstacles such as limited production facilities, lack of physical and non-physical marketing facilities, hard-to-reach locations due to limited transportation systems. This results in the next generation of Ciwaringin culture is also less interested in preserving and developing Ciwaringin Batik. Through Empathy Architecture and the use of the concept of Eco-Cultural Tourism in the design, the author conducts research using qualitative descriptive methods to be able to identify the real needs to propose facilities. This facility is expected to promote local culture, improve the quality of life and economic conditions of the residents, and encourage the growth of Ciwaringin Batik art at the national and international levels. This is necessary in order to ensure the continuity and sustainability of the heritage of Ciwaringin Batik art. Keywords: batik ciwaringin, cirebon, eco-cultural tourism, empathic architecture Abstrak Cirebon merupakan Kota di Jawa Barat yang tidak hanya terkenal dengan julukan Kota Udang namun juga dengan kekayaan warisan budaya batiknya. Selain Trusmi yang saat ini sudah menjadi obyek kunjungan wisata nasional, Cirebon juga memiliki Kawasan Ciwaringin yang memproduksi Batik Ciwaringin. Batik Ciwaringin berasal dari Kampung Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Batik Ciwaringin telah mempertahankan tradisi batik tulis selama tiga generasi. Kampung Batik Ciwaringin, terutama di Blok Kebon Gedang, menjadi pusat komunitas pengrajin batik yang menghasilkan batik tulis dengan proses tradisional. Perbedaan antara Batik Ciwaringin dengan Batik Trusmi selain perbedaan motif, Batik Ciwaringin dibuat menggunakan pewarna alam. Saat ini potensi Batik Ciwaringin belum dikenal luas akibat beberapa kendala seperti keterbatasan fasilitas produksi, kurangnya fasilitas fisik dan non fisik pemasaran, lokasi yang sulit dijangkau akibat keterbatasan sistem transportasi. Hal ini mengakibatkan generasi penerus budaya Ciwaringin juga kurang tertarik untuk melestarikan dan mengembangkan Batik Ciwaringin. Melalui Arsitektur Empati dan penggunaan konsep Eco-Cultural Tourism pada penelitian, penulis melakukan penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk dapat mengidentifikasikan kebutuhan riil guna mengusulkan fasilitas. Wadah ini diharapkan dapat mempromosikan budaya lokal, meningkatkan kualitas hidup ,kondisi ekonomi penduduk, serta mendorong pertumbuhan seni Batik Ciwaringin di tingkat nasional dan internasional. Hal ini diperlukan agar dapat menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan warisan dari seni Batik Ciwaringin ini.
PENERAPAN KONSEP PLAYFUL DALAM PERANCANGAN RUMAH TUMBUH KEMBANG ANAK DI KAWASAN CASA JARDIN, JAKARTA BARAT Hanny, Marcella; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27500

Abstract

Early childhood, often referred to as the golden age, represents a critical period in a child's development that spans from birth to eight years old. During this time, children undergo rapid growth and development, shaping moral, religious, physical, social, emotional, linguistic, artistic values, and acquiring knowledge and skills appropriate to their developmental stages. In relation to this crucial phase, known as the "Golden Period" between ages 0-5, the formation of brain nerve cells serves as the foundational basis for a child's intellectual development. Both genetic and environmental factors play pivotal roles in assessing a child's quality, influencing motor, cognitive, and language development. An emerging innovative approach involves integrating the concept of playfulness. This journal aims to explore the application of the playful concept in child development centers, focusing on its benefits for child development and the challenges that may arise during its implementation. Through literature reviews, the journal illustrates that a playful approach can stimulate creativity, social interaction, and healthy physical activities that are enjoyable for children. By combining theory and practice, this journal offers profound insights for design professionals, educators, and parents on leveraging the playful approach to create environments conducive to optimal child development. Keywords: age; child; gold; playful Abstrak Usia dini, sering disebut sebagai usia emas, menjadi periode kritis dalam perkembangan anak yang mencakup kelahiran hingga delapan tahun. Selama masa ini, anak-anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, membentuk nilai-nilai moral, agama, fisik, sosial, emosional, bahasa, seni, serta memperoleh pengetahuan dan keterampilan sesuai tahap perkembangan mereka. Terkait dengan fase krusial ini, dikenal sebagai "Masa Emas" pada usia 0-5 tahun, pembentukan sel syaraf otak menjadi landasan utama perkembangan kecerdasan anak. Faktor genetik dan lingkungan memainkan peran penting dalam evaluasi kualitas anak, mempengaruhi perkembangan motorik, kognitif, dan bahasa. Salah satu pendekatan inovatif yang sedang berkembang adalah integrasi konsep playful. Jurnal ini memiliki tujuan yaitu untuk mengeksplorasi penerapan konsep playful dalam rumah tumbuh kembang anak, dengan fokus pada manfaatnya terhadap perkembangan anak dan tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasinya. Melalui studi literatur, jurnal ini menunjukkan bahwa pendekatan playful dapat merangsang kreativitas, interaksi sosial, dan aktivitas fisik yang sehat dan menyenangkan bagi anak. Dengan menggabungkan teori dan praktik, jurnal ini memberikan wawasan mendalam kepada profesional desain, pendidik, dan orangtua tentang bagaimana memanfaatkan pendekatan playful untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan optimal anak.