cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
ADAPTIVE RE-USE UNTUK REVITALISASI EKS. BANDARA KEMAYORAN, JAKARTA PUSAT Lukas, Fernando; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30354

Abstract

Jakarta is rich in historical memories left over from the colonial era. However, many of these buildings are now just remnants of a valuable past. Unfortunately, some of these structures have been left neglected, leading to significant deterioration over time. It's regrettable because these historical buildings hold cherished memories and meanings. Consequently, these buildings have fallen into the phenomenon of "Placeless Place." One prominent example is the former Kemayoran Airport, which ceased operations in 1991. Once serving international and domestic routes as Jakarta's first airport, it now lacks significance in the eyes of Jakarta's populace. Much of the Kemayoran Airport area has been repurposed for housing and other uses. What remains is a derelict waiting lounge used from 1940 to 1984. Yet, if utilized effectively, it could transform the cityscape through the revitalization of old buildings. With a focus on preserving the memories of the former Kemayoran Airport and safeguarding its remaining relics, this renewal effort must be executed judiciously. Employing Adaptive Re-use as a method to revitalize this old airport site could effectively restore its identity with new functions and purposes. It is hoped that this revitalization will breathe new life into the Kemayoran Airport, restoring its building's identity and delivering significant benefits to the community. Keywords:  adaptive re-use; kemayoran airport; placeless place; revitalization Abstrak Jakarta kaya akan memori sejarah yang merupakan peninggalan dari era kolonial. Kini, bangunan-bangunan ini hanya meninggalkan sejarah yang berharga. Akan tetapi, beberapa dari bangunan tersebut dibiarkan tidak terurus, sehingga mengalami banyak kerusakan seiring berjalannya waktu. Sangat disayangkan, karena bangunan bersejarah ini memiliki kenangan dan makna tersendiri. Akhirnya, bangunan-bangunan ini mengalami fenomena Placeless Place. Salah satu contohnya adalah Eks. Bandara Kemayoran, yang sudah tidak beroperasi sejak tahun 1991. Sebuah bangunan yang sebelumnya memiliki makna sebagai bandara pertama di Jakarta yang melayani rute internasional dan domestik, sekarang tidak lagi memiliki arti di mata masyarakat Jakarta. Sebagian besar area Bandara Kemayoran sudah dialih fungsikan menjadi perumahan dan juga kegunaan lainnya. Sekarang, tersisa sebuah bangunan ruang tunggu yang digunakan pada tahun 1940 – 1984 yang kini terbengkalai begitu saja. Padahal, jika di manfaatkan dengan baik akan menghadirkan wajah kota yang baru dengan hasil dari merevitalisasi bangunan lama. Dengan fokus mempertahankan memori dari Eks. Bandara Kemayoran dan menjaga peninggalan – peninggalan yang masih tersisa di upayakan pembaharuan ini harus dilakukan dengan tepat. Menggunakan metode Adaptive Re-use sebagai salah satu cara untuk merevitalisasi kawsan bandara lama ini. Adaptive Re-use dapat menjadi metode efektif untuk mengembalikan identitas bangunan ini dengan fungsi serta kegunaan yang baru. Diharapkan dengan adanya fungsi baru ini, Eks. Bandara Kemayoran akan kembali hidup dan mengembalikan identitas bangunanya, serta memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.
PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA IKAN BERKELANJUTAN DENGAN KONSEP NATURAL PADA RESTORASI LINGKUNGAN, SOSIAL DAN PEREKONOMIAN KAMPUNG NELAYAN KAMAL MUARA Wilianto, Juan Nathanie; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30859

Abstract

Kampung Nelayan Kamal Muara, once a vibrant coastal community, is now ensnared in environmental and social degradation. Marine pollution, reclamation, and excessive exploitation of natural resources have triggered the death of marine life, habitat destruction, silting, and changes in ocean currents. This has not only taken away livelihoods and economies but also a sense of security, connection to the environment, cultural identity, and has the potential to turn Kamal Muara into a "placeless place." This research aims to combat degradation and rebuild a sense of place in Kamal Muara through sustainable aquaculture architecture. Literature studies have shown that sustainable aquaculture offers an innovative solution to restore coastal ecosystems, improve seawater quality, and empower communities. The research method combines qualitative and quantitative approaches. Data is collected through surveys, interviews, observations, and secondary data analysis. The results show that the aquaculture system in Kamal Muara can increase marine biodiversity, seawater quality, and fishermen's income. This system can also strengthen cultural identity and traditions. This research proves aquaculture to be an effective strategy for restoring coastal ecosystems and empowering communities in Kamal Muara. Sustainable aquaculture architecture focuses not only on ecological and economic functions but also on social and cultural aspects. Architectural designs that are sensitive to the local context and community needs can help rebuild a sense of place in Kamal Muara, counteract the phenomenon of "placelessness," and create meaningful spaces for this coastal community. Keywords:  Environmental degradation; Kamal Muara Fishing Village; Marine pollution ; Placeless place; Sustainable aquaculture Abstrak Kampung Nelayan Kamal Muara, dahulu komunitas pesisir yang dinamis, kini terjerat degradasi lingkungan dan sosial. Pencemaran laut, reklamasi, dan eksploitasi sumber daya alam berlebihan memicu kematian biota laut, kerusakan habitat, pendangkalan, dan perubahan arus laut. Hal ini tak hanya merenggut mata pencaharian dan ekonomi, tapi juga rasa aman, keterikatan dengan lingkungan, identitas budaya, dan berpotensi menjadikan Kamal Muara sebagai "placeless place". Penelitian ini hadir sebagai upaya melawan degradasi dan membangun kembali rasa tempat di Kamal Muara melalui arsitektur akuakultur berkelanjutan. Kajian literatur menunjukkan akuakultur berkelanjutan menawarkan solusi inovatif untuk memulihkan ekosistem pesisir, meningkatkan kualitas air laut, dan memberdayakan masyarakat. Metode penelitian menggabungkan kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara, observasi, dan analisis data sekunder. Hasil menunjukkan bahwa sistem akuakultur di Kamal Muara dapat meningkatkan keanekaragaman hayati laut, kualitas air laut, dan pendapatan nelayan. Sistem ini pun dapat memperkuat identitas budaya dan tradisi.Penelitian ini membuktikan akuakultur sebagai strategi efektif dalam memulihkan ekosistem pesisir dan memberdayakan masyarakat di Kamal Muara. Arsitektur akuakultur berkelanjutan tak hanya berfokus pada fungsi ekologis dan ekonomi, tetapi juga aspek sosial dan budaya. Desain arsitektur yang sensitif terhadap konteks lokal dan kebutuhan masyarakat dapat membantu membangun kembali rasa tempat di Kamal Muara, menangkal fenomena "placeless place", dan menciptakan ruang yang bermakna bagi komunitas pesisir ini.  
ANALISIS PENGELOLAAN TEPIAN SUNGAI MAHAKAM STUDI KASUS MAHAKAM LAMPION GARDEN DI KOTA SAMARINDA Kahat, Alesya Gabriella; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30867

Abstract

Riverbanks play an important role in supporting the ecosystem, urban aesthetics, and the socio-economic life of the surrounding community. This study aims to analyze the management of the Mahakam Riverbanks with a case study of Mahakam Lampion Garden in Samarinda City. This research uses qualitative methods with a descriptive approach to explore how Mahakam Lampion Garden is managed and its impact on the environment and the local community. Data were collected through in-depth interviews with management officials, field observations, and related document analysis. The results of the study indicate that the management of Mahakam Lampion Garden has made a positive contribution to improving environmental quality, urban aesthetics, and community welfare. This area has become one of the leading tourist destinations that attract many visitors, which in turn has a significant economic impact on the local residents. However, this study also found several challenges that need to be addressed, such as cleanliness issues, maintenance of public facilities, and suboptimal waste management. Recommendations from this study include increasing community awareness and participation in maintaining environmental cleanliness, as well as developing more sustainable management policies. With the implementation of these recommendations, it is expected that the management of Mahakam Lampion Garden can be continuously improved to support environmental sustainability and community welfare along the Mahakam Riverbanks Keywords: infrastructure; mahakam lantern garden; mahakam river; riverbank management; riverbanks Abstrak Tepian sungai memiliki peran penting dalam mendukung ekosistem, estetika kota, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan tepian Sungai Mahakam dengan studi kasus Mahakam Lampion Garden di Kota Samarinda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mengeksplorasi bagaimana Mahakam Lampion Garden dikelola serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pihak pengelola, observasi lapangan, dan analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan Mahakam Lampion Garden telah memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kualitas lingkungan, estetika kota, dan kesejahteraan masyarakat. Area ini telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang menarik banyak pengunjung, yang pada gilirannya memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi penduduk setempat. Penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti masalah kebersihan, pemeliharaan fasilitas umum, dan pengelolaan sampah yang belum optimal. Rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian ini mencakup peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, serta pengembangan kebijakan pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Dengan implementasi rekomendasi tersebut, diharapkan pengelolaan Mahakam Lampion Garden dapat terus ditingkatkan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di sepanjang tepian Sungai Mahakam.
TRANSFORMASI KWITANG : MENUJU PEMULIHAN IDENTITAS MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR PROGRAMATIK Rozy, Davis; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30869

Abstract

Kwitang, a neighborhood in Central Jakarta, is famous for its pencak silat skills and for being a hotspot for book lovers. Before Kwitang became known as a legendary book center, in 1953, the area was still quiet due to the lack of activity. The situation changed when Toko Buku Kwitang 13 and book carts arrived, attracting children and making the area lively. However, change came with the local government's crackdown which led to the dispersal of traders and a decline in book sales. The Kwitang area struggles to attract buyers also because of the shift in interest to digital formats such as e-books. The existence of disruption 4.0 and declining literacy towards books have reduced the number of visitors, especially during the pandemic. This research uses the documentation method and qualitative descriptive analysis. The programmatic architectural concept approach can redevelop the identity of the Kwitang Area as a literacy and cultural center, and maintain its identity as a lively and dynamic destination for book lovers. It is hoped that with this step, Kwitang Area can become an area attractor and restore the identity that develops and remains relevant in the midst of changing times. This effort involves the addition of modified functions that support social, cultural, and economic interactions, as well as the introduction of various facilities and activities that are relevant to the times. Keywords: Kwitang; 4.0 Disruption; Programatic Architecture Abstrak Kwitang, sebuah kelurahan di Jakarta Pusat, terkenal karena keahlian pencak silat dan menjadi pusat perhatian bagi para pecinta buku. Sebelum Kwitang dikenal sebagai sentra buku legendaris, pada tahun 1953, kawasan ini masih sepi karena minimnya aktivitas. Situasi berubah ketika Toko Buku Kwitang 13 dan gerobak buku hadir, menarik minat banyak anak dan menjadikan kawasan tersebut ramai. Namun, perubahan terjadi dengan adanya penertiban oleh pemerintah daerah yang menyebabkan penyebaran pedagang dan penurunan penjualan buku. Kawasan Kwitang kesulitan menarik pembeli juga karena adanya pergeseran minat ke format digital seperti e-book. Adanya disrupsi 4.0 dan menurunnya literasi terhadap buku telah mengurangi jumlah pengunjung, terutama selama pandemi. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan analisis deskriptif kualitatif. Adanya pendekatan konsep arsitektur programatik dapat mengembangkan kembali identitas Kawasan Kwitang sebagai pusat literasi dan budaya, serta mempertahankan identitasnya sebagai destinasi yang ramai dan dinamis bagi pencinta buku. Diharapkan dengan langkah ini, Kawasan Kwitang dapat menjadi atraktor kawasan dan mengembalikan identitas yang berkembang dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Upaya ini melibatkan penambahan fungsi-fungsi termodifikasi yang mendukung interaksi sosial, budaya, dan ekonomi, serta pengenalan berbagai fasilitas dan kegiatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
REVITALISASI TAPAK EX-KANTOR BORSUMIJ MEDAN MENJADI FASILITAS PENDUKUNG UMKM DENGAN METODE ARSITEKTUR SIMBIOSIS Jovan, Felicia; Sutanto, Agustinus
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30870

Abstract

Globalization and developments over time create changes in all aspects including buildings and architecture, especially changes and developments in urbanization and cities, population growth which creates urban architecture that is oriented towards more efficient land use by prioritizing products or brands rather than places or people, technological developments as well. supports large-scale development in a shorter time with 'standards', does not reflect or respond to surrounding conditions, creates buildings that make up a city that have the same shape, nature and characteristics of most developing cities both in Indonesia and abroad. world, eliminating the uniqueness and characteristics of the region. This research will discuss one of the abandoned buildings in Medan which has been abandoned for around 50 years, a Dutch heritage building with a Dutch colonial architectural style which is a combination of classical architectural style, with more modern geometry. The method that will be used in this research is regional analysis which also consists of collecting the development and history of the area using the Revitalization with Symbiotic Architecture design method, to create space from abandoned buildings into something useful for the surrounding community that connects the past, present and future. front. The results of the research are the construction of buildings with facilities to support MSME activities, identifying locations in trade zones to support MSME actors, support local brands and support regional economic development Keywords:  Neglected; Revitalization; symbiosis Abstrak Globalisasi dan perkembangan zaman menciptakan perubahan dalam segala aspek termasuk bangunan dan arsitektur, terutama perubahan dan perkembangan urbanisasi dan perkotaan, pertumbuhan populasi yang menciptakan arsitektur perkotaan yang berorientasi pada pemanfaatan lahan yang lebih efisien dengan mementingkan tentang produk atau brand daripada tentang place atau person perkembangan teknologi juga mendukung pembangunan berskala besar dalam waktu yang lebih singkat dengan “standar”, tidak mencerminkan ataupun merespon terhadap keadaan sekitar, menciptakan bangunan-bangunan yang membentuk sebuah kota memiliki bentuk, sifat, dan karakteristik  yang sama pada sebagian besar kota yang berkembang baik di Indonesia maupun di dunia, menghilangkan keunikan dan karakteristik kawasan. Penelitian ini akan membahas tentang salah-satu bangunan terbengkalai di Medan yang sudah ditelantarkan sekitar 50 tahun lamanya, bangunan peninggalan Belanda dengan gaya arsitektur kolonial Belanda yang berupa perpaduan gaya arsitektur klasik, dengan geometri yang lebih modern. Metode yang akan digunakan dalam penelitian kali ini berupa analisis kawasan yang juga berupa pengumpulan perkembangan dan sejarah kawasan dengan metode perancangan Revitalisasi dengan Arsitektur Simbiosis, untuk menciptakan ruang dari bangunan yang terbengkalai menjadi sesuatu bermanfaat bagi masyarakat sekitar yang menghubungkan antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Hasil dari penelitian berupa pembentukan bangunan dengan fasilitas untuk mendukung kegiatan UMKM mengenal lokasi yang berada pada zona perdagangan untuk mendukung pelaku UMKM, mendukung brand lokal dan mendukung perkembangan ekonomi kawasan.
PENAMBAHAN PROGRAM AKTIVITAS UNTUK MENGEMBALIKAN KUALITAS PLACE PADA MALL PLUIT VILLAGE Wijaya, Daniel; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30871

Abstract

Pluit Village Mall, which was established in 1996 and has an area of 86,691 square meters, used to be the main entertainment center in the Pluit area. However, the number of visitors continues to decrease every year. Pluit Village Mall did not anticipate the changing times that resulted in changing activity patterns. The facilities remain the same, the architectural style lags and the lack of innovation makes the people of Pluit abandon this mall. To determine the factors that caused the decline in the number of visitors at Pluit Village Mall, the author used comparative, qualitative, and direct observation research methods. Data collected from various sources, including journals and the internet, were compared with current theoretical findings. The results of the comparison show that additional buildings that offer a variety of new facilities that are different from the old ones are needed to re-attract visitors and improve the quality of Pluit Village Mall. A "Sportstainment" support facility is proposed to connect Pluit Village Mall with Pluit Reservoir. It is hoped that this will be a successful strategy to attract more visitors, both from Pluit residents and from the rest of North Jakarta. Mall Pluit Village can transform into a new destination of interest to a wide range of people by presenting new and exciting facilities. Not only is the latest generation looking for a more diverse and dynamic shopping and entertainment experience, but longtime visitors will also want to appeal to the new generation.  Keywords:  Comparative  research; Mall Pluit Village; Program; Sportstainment; Strategy Abstrak Mall Pluit Village, yang didirikan pada tahun 1996 dan memiliki luas 86.691 meter persegi, dulunya merupakan pusat hiburan utama di kawasan Pluit. Namun, jumlah pengunjung terus berkurang setiap tahunnya. Mall Pluit Village tidak mengantisipasi perubahan zaman yang mengakibatkan perubahan pola aktivitas. Fasilitasnya yang tetap sama, gaya arsitekturnya yang tertinggal, dan kurangnya inovasi membuat masyarakat Pluit meninggalkan mal ini. Untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan penurunan jumlah pengunjung di Mall Pluit Village, penulis menggunakan metode penelitian komparatif, kualitatif, dan observasi langsung. Data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk jurnal dan internet, dibandingkan dengan temuan teori saat ini. Hasil komparasi menunjukkan bahwa bangunan tambahan yang menawarkan berbagai fasilitas baru yang berbeda dengan yang lama diperlukan untuk kembali menarik pengunjung dan meningkatkan kualitas Mall Pluit Village. Konsep fasilitas pendukung "Sportstainment" diusulkan untuk menghubungkan Mall Pluit Village dengan Waduk Pluit. Diharapkan ini akan menjadi strategi yang berhasil untuk menarik lebih banyak pengunjung, baik dari penduduk Pluit maupun dari seluruh Jakarta Utara. Mall Pluit Village dapat berubah menjadi destinasi baru yang diminati berbagai kalangan dengan menghadirkan fasilitas baru dan menarik. Tidak hanya generasi baru yang mencari pengalaman berbelanja dan hiburan yang lebih beragam dan dinamis, tetapi pengunjung lama juga ingin menarik kembali pembaruan ini. Di tengah persaingan ketat dengan mal-mal lainnya di Jakarta, menggabungkan elemen olahraga dan hiburan dalam satu tempat dapat menjadi kunci sukses dalam mengembalikan kualitas Mall Pluit Village.
REVITALISASI KAWASAN HARMONI: PENANGANAN SUDUT SIMPANG HARMONI DENGAN KARAKTER HIJAU Michael, Frans; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30873

Abstract

Harmoni junction reached its heyday in the 19th century marked by the emergence of the Societeit de Harmonie building and followed by the construction of hotels in the vicinity. However, the Harmoni intersection has experienced degradation of the area's vitality due to changes and developments. The Harmoni area in recent years has only become a transit point for Transjakarta users and is not as busy as it was during its heyday. Currently, Harmoni Intersection is undergoing development in terms of transportation with the construction of the Harmoni MRT station and the renovation of the Harmoni Transjakarta Central Shelter. In line with the development carried out by the government in terms of public transportation, it is necessary to develop functions and activities that can revive the Harmony Area. The method used is a qualitative and comparative method by examining the history of the development of the Harmony Area until it reached its heyday and the turning point of the reason for degradation to date. To obtain a proposal for a suitable function for the Harmony Area by handling the abandoned corner of the Harmoni Intersection of the former Hotel Des Galeries. The concept of a breathing place as a new landscape for the city of Jakarta can be a solution to revitalize the Harmony Intersection in the middle of the increasingly crowded city of Jakarta. In addition, the concept of a breathing place is harmonized with the idea of green architecture in helping to deal with pollution in Jakarta. Meanwhile, the addition of main entertainment functions such as aviaries as exhibitions, exhibitions about the history of Harmony Intersection and city parks, as well as main functions according to the needs of public transportation users such as working areas and coffee shops. Keywords: Breathing Place; District Degradation; Green Architecture; Harmoni District; Revitalization Abstrak Simpang Harmoni mencapai masa kejayaannya pada abad 19 ditandai dengan munculnya bangunan Societeit de Harmonie dan diikuti dengan pembangunan hotel-hotel di sekitarnya. Namun, simpang Harmoni mengalami degradasi kevitalan kawasan akibat perubahan dan perkembangan zaman. Kawasan Harmoni beberapa tahun terakhir hanya menjadi tempat transit bagi pengguna Transjakarta dan tidak ramai aktivitas seperti saat masa kejayaannya. Saat ini, Simpang Harmoni sedang mengalami pengembangan dalam sisi transportasi dengan adanya pembangunan stasiun MRT Harmoni dan Renovasi Halte Sentral Transjakarta Harmoni. Selaras dengan pengembangan yang dilakukan pemerintah dari sisi transportasi publik, perlu dilakukan pengembangan fungsi dan aktivitas yang dapat menghidupkan Kawasan Harmoni kembali. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dan komparatif dengan mengkaji sejarah dari perkembangan Kawasan Harmoni hingga mencapai masa kejayaannya dan titik balik alasan terjadi degradasi hingga saat ini. Untuk memperoleh usulan fungsi yang cocok bagi Kawasan Harmoni dengan penanganan Sudut Simpang Harmoni bekas Hotel Des Galeries yang terbengkalai. Konsep breathing place sebagai lanskap baru bagi Kota Jakarta, dapat menjadi solusi untuk memvitalkan kembali Simpang Harmoni di tengah Kota Jakarta yang semakin padat. Selain itu, konsep breathing place diselaraskan dengan konsep arsitektur hijau dalam membantu penanganan polusi di Jakarta. Sementara itu, dilakukan juga penambahan fungsi utama hiburan seperti aviari sebagai pameran, pameran tentang histori Simpang Harmoni dan taman kota, serta fungsi utama sesuai kebutuhan pengguna transportasi publik seperti working area dan coffee shop.
REGENERASI PASARAYA MANGGARAI SEBAGAI RUANG REKREASI DAN KOMERSIAL DENGAN PENDEKATAN TRANSPROGRAMMING Fauzi, Gilang; Supatra, Suwandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30874

Abstract

City life is now increasingly modern and dynamic, accompanied by advances in digital technology which have caused changes in the lifestyle of city residents. Pasaraya Manggarai is a place that has been affected by this modernization and has experienced significant decline because it is unable to adapt to changing times. The emergence of new and more modern shopping centers resulted in the market starting to lose interest because it could not compete, until finally in 2020 the market stopped operating and the condition of the market is now an abandoned space considered Placeless. The market location holds many memories and is a witness to the development of the Manggarai area, which was once a commercial center until now it has become a major transit area. Therefore, the main objective of this project is to change the face of the Pasaraya into a new commercial and recreational area and maximize Manggarai's potential as a central station. Through the application of contextual methods and transprogramming, it can produce interesting, adaptive and integrated programs with the Manggarai area. In the end, the project will lead to the development of a shopping center, recreation area and cultural education center with a modern touch. The rebuilding of this market is designed to become an attraction in the Manggarai area. Later programs such as Shopping Retail, Game Sports, Communal & Co-Working Space, Reflexology, Hydrotherapy, Bike Park, Bike Exhibition, Interactive Museum, Art Gallery, Exhibition Hall and Public Green Space. This project is expected to become a place to stop, create space for interaction, grow new communities, improve the community's economy and become a new identity for the dynamic Manggrai area. Keywords:  Contextual; Placeless; Recreation;  Shopping Center; Transprogramming Abstrak Kehidupan kota kini semakin modern dan dinamis dengan diiringi oleh kemajuan teknologi digital yang menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat kota. Pasaraya Manggarai menjadi tempat yang terkena dampak modernisasi ini sehingga mengalami kemerosotan signifikan karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Munculnya pusat perbelanjaan yang baru dan lebih modern mengakibatkan pasaraya mulai kehilangan ketertarikan karena tidak dapat bersaing, hingga akhirnya pada tahun 2020 pasaraya berhenti beroperasional dan kondisi pasaraya kini menjadi ruang terbengkalai dianggap Placeless. Titik lokasi pasaraya menyimpan banyak memori dan menjadi saksi perkembangan kawasan Manggarai yang dulu merupakan pusat perniagaan hingga sekarang menjadi kawasan transit utama. Oleh karena itu, tujuan utama proyek ini mengubah wajah pasaraya menjadi area komersial dan rekreasi baru serta memaksimalkan potensi Manggarai sebagai stasiun sentral. Melalui penerapan metode kontekstual dan transprogramming dapat menghasilkan program menarik, adaptif dan terintegrasi dengan kawasan Manggarai. Pada akhirnya Proyek akan mengarah pada pengembangan sebuah pusat perbelanjaan, area rekreasi dan pusat edukasi budaya dengan sentuhan modern, Penmbangunan Kembali pasaraya ini dibuat untuk menjadi atraktor di kawasan Manggarai. Nantinya  program seperti Shopping Retail, Game Sports, Communal & Co-Working Space, Reflexology, Hydrotherapy, Bike Park, Bike Exhibition, Interactive Museum, Art Gallery, Exhibition Hall dan Ruang Hijau Publik. Proyek ini diharapkan menjadi tempat singgah, terciptanya ruang interaksi, tumbuhnya komunitas baru, meningkatkan perekonomian masyarakat serta menjadi indentitas baru kawasan manggrai yang dinamis.
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PEDAGANG PASAR LOAK KEBAYORAN LAMA MELALUI PENATAAN TATA RUANG PASAR Hardoyo, Hendra; Supatra, Suwandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30875

Abstract

The prediclection of buying second-hand goods has become popular in early 2024 among millennials. One of the most popular places to find quality second-hand goods is at the Kebayoran Lama flea market. The placement of traders in the Kebayoran Lama flea market is not well organised, the traders have stalls scattered around the road pavement with semi-permanent buildings or only with mats. Public facilities around Kebayoran Lama cannot function properly, especially on sidewalks and some roads that are disrupted due to the activities of the Kebayoran Lama flea market. This research aims to provide a more appropriate place for market traders, as well as to reorganise the Kebayoran Lama flea market traders. This market has potential as a centre of economic activity for the Kebayoran Lama community. Contextual method is used as a design approach in responding to the surrounding area as a design concept later. The research results show that the Kebayoran Lama flea market is not yet comfortable for traders and visitors, even though the flea market has economic potential for traders. Novelty is the need for facilities that can respond to the needs of the old kebayoran flea market by re-conceptualising the market to be more modern and organised with architectural disciplines. Keywords:  Contextual; Layout; Market; Old kebayoran Abstrak Kegemaran membeli barang-barang bekas menjadi populer dalam awal tahun 2024 bagi kalangan milenial. Salah satu tempat terkenal untuk mencari barang bekas berkualitas adalah di Pasar Loak Kebayoran Lama. Penempatan para pedagang di Pasar Loak Kebayoran Lama  tidak tertata dengan baik, para pedagang memiliki lapak yang bersebaran di sekitar trotoar jalan dengan bangunan semi permanen atau hanya beralaskan dengan tikar. Fasilitas publik di sekitar Kebayoran Lama tidak dapat berfungsi dengan baik, terutama pada trotoar dan beberapa jalan yang terganggu akibat adanya aktivitas Pasar Loak Kebayoran Lama. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan tempat yang lebih layak bagi para pedagang Pasar, serta melakukan penataan kembali para pedagang Pasar Loak Kebayoran Lama. Pasar ini memiliki potensi sebagai pusat kegiatan ekonomi bagi masyarakat Kebayoran Lama. Metode kontekstual digunakan sebagai pendekatan desain perancangan dalam merespons keadaan sekitar kawasan sebagai konsep perancangan nantinya. Hasil penelitan menunjukkan bahwa Pasar Loak kebayoran lama belum nyaman bagi para pedagang dan pengunjung, padahal Pasar Loak memiliki potensi ekonomi untuk para pedagang. Kebaruan dibutuhkannya fasilitas yang dapat merespons kebutuhan di Pasar Loak Kebayoran Lama dengan mengkonsep ulang Pasar menjadi lebih modern dan tertata dengan displin ilmu arsitektur.
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP: MENGEMBALIKAN IDENTITAS KAMPUNG KERANG HIJAU MUARA ANGKE Lizar, Richelle Angeline; Supatra, Suwandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30876

Abstract

Kampung Kerang Hijau, which is part of Kampung Nelayan Muara Angke, is known as the center of Jakarta's green mussel catch, which has become its trademark. However, the village is facing problems that threaten the sustainability of its identity in the current era. This research aims to identify these problems and offer architectural solutions to restore the village's identity. A descriptive qualitative method was used, focusing on the detailed depiction of spatial and building phenomena based on individual experiences. Data was collected through direct observation and interviews with local residents to understand their problems and aspirations.  Infrastructure development and improving the quality of life of fishermen in Kampung Kerang Hijau are expected to restore the essence and identity of the village. The architectural solution chosen is expected to overcome the problems faced by this village and strengthen its identity. Thus, it is expected that this village can maintain its existence and cultural uniqueness while adapting to changing times. This research is expected to provide a deeper insight into the problems faced by the village, and offer appropriate solutions to support the sustainability and restoration of the identity of Kampung Kerang Hijau in Muara Angke. The proposed solutions include a residential design on stilts that has connectivity between residences and other public facilities on the second floor so that residents' activities are not hampered when floods hit, village public facilities that support residents' daily activities and needs as well as community socialization, and a green mussel breeding program to improve the quality of green mussel harvests. Keywords: Identity; Infrastructure; Kerang Hijau Village; People; Placeless Place Abstrak Kampung Kerang Hijau, yang merupakan bagian dari Kampung Nelayan Muara Angke, dikenal sebagai pusat hasil tangkapan Kerang Hijau di Jakarta, yang menjadi ciri khasnya. Namun, kampung ini menghadapi masalah yang mengancam keberlangsungan identitasnya pada era saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah tersebut dan menawarkan solusi arsitektur guna memulihkan identitas kampung. Metode deskriptif kualitatif digunakan, dengan fokus pada penggambaran rinci fenomena ruang dan bangunan berdasarkan pengalaman individu. Untuk memahami permasalahan dan tuntutan warga setempat, pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara terhadap warga setempat.  Pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas hidup nelayan di Kampung Kerang Hijau diharapkan dapat mengembalikan esensi dan identitas kampung. Solusi arsitektural yang dipilih diharapkan dapat mengatasi masalah yang dihadapi kampung ini dan memperkuat jati dirinya. Dengan demikian, diharapkan kampung ini dapat mempertahankan keberadaan dan keunikan budayanya sambil beradaptasi dengan perubahan zaman. Penelitian ini diharapkan memberikan pandangan yang lebih dalam tentang permasalahan yang dihadapi kampung tersebut, serta menawarkan solusi yang tepat guna mendukung keberlangsungan dan pemulihan identitas Kampung Kerang Hijau di Muara Angke. Solusi yang diusulkan antara lain adalah desain hunian panggung yang memiliki konektivitas antar hunian dan fasilitas umum lainnya pada lantai dua agar aktivitas para warga tidak terhambat saat banjir melanda, fasilitas umum kampung yang mendukung aktivitas dan kebutuhan sehari-hari warga juga sosialisasi warga, dan program perkembangbiakan kerang hijau guna menaikkan kualitas hasil panen kerang hijau.