cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
COLLABORATIVE-HUB SEBAGAI UPAYA MENGENANG KAWASAN HARMONI Dewi, Jessica Christiani; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30893

Abstract

The Harmoni area is an area that is getting busier every day and is an active commercial area. This area has a collection of history that cannot be felt by the current generation. Some points in this place are very dark and vulnerable when all offices and shops are closed at night. Many old buildings are empty and abandoned. This area has the potential to become an old city area that provides a new sense of nostalgic space for each generation and can also function as a place of entertainment for the surrounding and outside communities. The historical value of this area is increasingly eroded, which should be a lesson for the community about how the city of Jakarta got here. This study discusses efforts to preserve abandoned historical areas through continuous restoration in accordance with technological advances and the times to suit the current generation by conducting observations, collecting and analyzing data at the location. By adapting activities in places that have been done before, such as including public spaces, gathering places, or party places and utilizing the potential of areas that have good accessibility considering that this area has the largest transit point in Jakarta so that the area can keep up with the times. This activity is implemented in an empty land located on Jalan Juanda which is within a radius of 150 meters from the Harmoni node. This implementation aims to restore the character of the area that has been degraded so that it comes back to life and is crowded with visitors. Keywords: harmoni; location; public area; transit Abstrak Kawasan Harmoni merupakan daerah yang semakin ramai setiap hari dan merupakan area komersial yang aktif. Wilayah ini memiliki sekumpulan sejarah yang tidak dapat dirasakan oleh generasi saat ini. Beberapa titik di tempat ini sangat gelap dan rawan pada saat semua perkantoran dan toko tutup di malam hari. Banyak bangunan lama yang kosong dan terbengkalai. Wilayah ini berpotensi menjadi kawasan kota lama yang memberikan perasaan ruang nostalgia baru bagi setiap generasi dan juga dapat berfungsi sebagai tempat hiburan bagi komunitas sekitar dan luar. Nilai sejarah dari wilayah ini semakin tergerus, yang seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat tentang bagaimana kota Jakarta sampai di sini. Penelitian ini membahas tentang upaya untuk melestarikan wilayah bersejarah yang telah ditinggalkan melalui pemulihan yang berkesinambungan sesuai dengan kemajuan teknologi dan zaman agar sesuai dengan generasi sekarang dengan cara melakukan observasi, mengumpulkan dan menganalisis data pada lokasi. Dengan mengadaptasi aktivitas-aktivitas pada tempat-tempat yang pernah dilakukan sebelumnya seperti memasukan ruang publik, tempat berkumpul, atau tempat berpesta serta memanfaatkan potensi dari kawasan yang memiliki aksesibilitas yang baik mengingat kawasan ini memiliki titik transit terbesar di Jakarta sehingga kawasan dapat mengikuti perkembangan zaman. Aktivitas ini dterapkan dalam lahan kosong yang berlokasi di Jalan Juanda yang berada dalam radius 150 meter dari simpul Harmoni. Penerapan ini bertujuan untuk mengembalikan kembali karakter kawasan yang telah mengalami degradasi agar kembali hidup dan ramai pengunjung.
ADAPTIVE REUSE SEBAGAI UPAYA MEMBANGKITKAN KEMBALI MEMORI EX - BANDARA KEMAYORAN Fitria, Faniatus Salma; Sutisna, Sutarki
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30894

Abstract

The former Kemayoran Airport is one of the historical buildings that holds significant historical value and potential for the Kemayoran area. However, with the development of the Kemayoran area, this building needs to be addressed and abandoned. If utilized, this building has historical potential and could serve as a space for the local community or the preservation of Betawi culture, which is indeed synonymous with Kemayoran itself. Moreover, Kemayoran has been designated as a business area and can be utilized as a new recreational area. By implementing the concept of adaptive reuse, it is hoped that a new face can be given to this area. By preserving the airport's memory and adding green spaces, the building can become multifunctional. The collaboration between two different functions can also become a characteristic of this building. The results of this study show that the adaptive reuse method can create a new place in the community. By combining the historical value of the Kemayoran area with its current environment, this building can have two main program functions that will be harmonious. The memory of Kemayoran Airport and the Cultural Field will provide a space for the community and a space for the history of Kemayoran Airport. This renewal can revive a valuable and forgotten history and create a new environment and space for the surrounding community and its users. Keywords:   adaptive reuse; former Kemayoran Airport; placeless place Abstrak Bandara Lama Kemayoran merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai sejarah serta potensi bagi kawasan Kemayoran. Namun, dengan seiring perkembangan daerah Kemayoran, bangunan ini di abaikan keberadaanya dan dibiarkan terbengkalai. Padahal jika dimanfaatkan bangunan ini memiliki potensi sejarah dan dapat menjadi wadah bagi komunitas sekitar ataupun pelestarian kebudayaan Betawi yang memang identik dengan Kemayoran sendiri. Selain itu, Kemayoran sendiri ditetapkan menjadi area bisnis dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu area rekreasi baru. Dengan penerapan konsep adaptive reuse diharapkan dapat memberikan wajah baru bagi kawasan ini. Dengan berfokus mempertahankan memori yang telah ada pada bandara ini dan menambahkan fasilitas ruang hijau dan terbuka menjadi bangunan multifungsi bagi lingkungan. Pemanfaatan sejarah dari kawasan juga menjadi salah satu dari pembaruan ini. Kolaborasi antara dua fungsi berbeda juga dapat menjadi salah satu ciri pada bangunan ini. Hasil dari penelitan ini menunjukan bahwa dengan metode adaptive reuse akan menghasilkan sebuah tempat baru di masyarakat. Dengan memadukan nilai sejarah dari kawasan Kemayoran dengan keadaan lingkungan ini dapat menciptakan bangunan ini akan memiliki dua fungsi profram utama yang akan di gabungkan secara harmonis. Memori Bandara Kemayoran dan Lapangan budaya akan menyedikan wadah bagi komunitas dan wadah bagi sejarah bandara kemayoran. Pembaruan ini juga dapat menghidupkan kembali sebuah sejarah yang berharga dan telah dilupakan, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan dan ruang baru bagi masyarakat sekitar serta penggunanya.
PENERAPAN KONSEP MULTISENSORI DALAM PERANCANGAN RUANG INTERPRETASI BERBASIS TEKNOLOGI DI SUNDA KELAPA Salis, Ralph Louis; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30896

Abstract

Indonesia is an archipelagic country with seas covering 70% of its territory so that people's activities at sea are quite busy, one of which is buying and selling activities on sea routes. This can be seen from the spread of port points in Indonesia. Sunda Kelapa Harbor is one of Indonesia's ancient ports, located in North Jakarta. Historically, this port was the main port for buying and selling activities on the island of Java. In the 19th century, this port experienced shallowing so that this port began to be replaced and busy community activities at Sunda Kelapa Harbor began to decline and the value of this port as a 'place' began to fade. Therefore, this research was carried out to look for architectural solutions with spatial experience and accompanied by supporting facilities that are more in demand in this century. The research carried out resulted in a solution in the form of designing an interpretation center supported by other programs. The design was carried out using a multisensory design method involving technology as an adaptation to the times so that it is more interesting and interactive. Keywords: interpretation, sunda kelapa, place, technology Abstrak Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lautan seluas 70% dari wilayahnya sehingga aktivitas masyarakat di laut cukup padat salah satunya kegiatan jual beli jalur laut. Hal ini dapat dilihat dari tersebarnya titik pelabuhan di Indonesia. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan kuno Indonesia yang terletak di Jakarta Utara. Pada sejarahnya, pelabuhan ini merupakan pelabuhan utama dalam kegiatan jual beli di Pulau Jawa. Pada abad ke-19 pelabuhan ini mengalami pendangkalan sehingga pelabuhan ini mulai tergantikan dan kesibukan aktivitas masyarakat di Pelabuhan Sunda Kelapa mulai menurun dan nilai pelabuhan ini sebagai ‘tempat’ mulai memudar. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mencari solusi arsitektural dengan pengalaman ruang dan disertai dengan fasilitas penunjang yang lebih diminati pada abad ini. Dari penelitian yang dilakukan menghasilkan solusi berupa perancangan pusat interpretasi yang didukung program lainnya. Perancangan dilakukan dengan metode desain multisensori yang dilibatkan dengan teknologi sebagai salah satu penyesuaian terhadap zaman sehingga lebih menarik dan interaktif.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NARATIF PADA EKSTENSI MUSEUM BAHARI Elia Kadang, Yegar Sahaduta; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30897

Abstract

The Maritime Museum plays a crucial role in preserving and disseminating knowledge about maritime culture and history. In an effort to expand the functions and appeal of this museum, the application of the right architectural concept is paramount. This research explores how the application of the narrative architecture concept can be used to design an extension of the Maritime Museum. Narrative architecture, which incorporates storytelling elements into its design, allows visitors to experience and understand maritime history more deeply and interactively. Through case study analysis and field observations, this research identifies key elements that must be considered in the design of the extension. The research findings show that integrating elements of maritime culture and history into architectural design can enhance visitor experience, strengthen the museum's identity, and support cultural conservation efforts. The narrative architecture approach not only enriches the aesthetic value of the building but also significantly contributes to the education and preservation of maritime heritage. Recommendations include involving the local community and maritime experts in the design process, as well as adopting new technologies to create more interactive and engaging spaces for various visitor groups. Additionally, education programs and community-based activities focused on maritime culture are suggested to increase public engagement and support the preservation of maritime heritage. Thus, the Maritime Museum can become a dynamic, relevant, and inspiring center for education and cultural preservation for all generations. This inclusive and collaborative approach will not only enhance the museum's appeal but also ensure that the values of maritime culture and history remain alive and understood by the wider society. Keywords: extension; maritime culture; maritime history; narrative architecture Abstrak Museum Bahari memegang peran penting dalam pelestarian dan penyebaran pengetahuan mengenai budaya dan sejarah bahari. Dalam upaya untuk memperluas fungsi dan daya tarik museum ini, penerapan konsep arsitektur yang tepat menjadi sangat krusial. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penerapan konsep arsitektur naratif dapat digunakan untuk merancang ekstensi Museum Bahari. Arsitektur naratif, yang menggabungkan elemen-elemen cerita dalam desainnya, memungkinkan pengunjung untuk merasakan dan memahami sejarah bahari secara lebih mendalam dan interaktif. Melalui analisis kasus studi, observasi lapangan, penelitian ini mengidentifikasi elemen-elemen kunci yang harus dipertimbangkan dalam perancangan ekstensi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi elemen-elemen budaya bahari dan sejarah bahari dalam desain arsitektur dapat meningkatkan pengalaman pengunjung, memperkuat identitas museum, dan mendukung upaya konservasi budaya. Pendekatan arsitektur naratif tidak hanya memperkaya nilai estetika bangunan, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap edukasi dan pelestarian warisan bahari. Saran yang diberikan mencakup melibatkan komunitas lokal dan pakar maritim dalam proses desain, serta mengadopsi teknologi baru untuk menciptakan ruang yang lebih interaktif dan menarik bagi berbagai kalangan pengunjung. Selain itu, program pendidikan dan aktivitas berbasis komunitas yang berfokus pada budaya bahari juga disarankan untuk meningkatkan keterlibatan publik dan mendukung pelestarian warisan maritim. Dengan demikian, Museum Bahari dapat menjadi pusat edukasi dan pelestarian budaya yang dinamis, relevan, dan menginspirasi bagi semua generasi. Pendekatan yang inklusif dan kolaboratif ini tidak hanya akan memperkuat daya tarik museum tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai budaya dan sejarah bahari tetap hidup dan dipahami oleh masyarakat luas.
ARSITEKTUR BUDAYA TUGU: SEBUAH KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN SEJARAH PERKAMPUNGAN PORTUGIS DI JAKARTA UTARA Natasya, Shela; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30898

Abstract

Kampung Tugu is one of the oldest villages in Jakarta, having been established in 1678. Kampung Tugu is known as a Christian-Portuguese village which is a cultural heritage area. The cultural heritage in Tugu Village is in the form of a building known as the Tugu Church. Currently, Kampung Tugu is undergoing changes, with most of the surrounding land now being used for container parking and industrial activities. As a result, Kampung Tugu area looks less attractive, and not many people know about this tourist area and create a placeless impression. The purpose of this research is to develop the historical tourism area in an effort to revive the memory of Tugu Culture consisting of Mande-Mande and Rabo-Rabo traditions as well as Keroncong music, which are the characteristics of the area of Kampung Tugu which must be preserved. Developing the tourist area and insight of Kampung Tugu by adding cultural attractions in the form of a cultural space that focuses on preserving keroncong music and introducing typical culinary delights from Kampung Tugu. It is hoped that this cultural space can become the new face of Kampung Tugu to maintain the continuity of its existence, revive the character of the area and open new spaces in the hope that it can accommodate the surrounding area and become an attraction for the outside community. The design uses an adaptive and contextual design approach to the surroundings that responds to modern conditions. Keywords:  cultural heritage; historical tourism; kampung tugu; tugu culture Abstrak Kampung Tugu termasuk sebagai kampung tertua di Jakarta, yang sudah ditetapkan sejak tahun 1678. Kampung Tugu dikenal sebagai kampung Kristen – Portugis yang termasuk kawasan cagar budaya. Cagar budaya yang ada di Kampung Tugu berupa sebuah bangunan yang dikenal sebagai Gereja Tugu. Saat ini Kampung Tugu mengalami perubahan, dengan sebagian besar lahan di sekitarnya kini digunakan untuk parkir kontainer dan kegiatan industri. Adanya perubahan membuat Kawasan Kampung Tugu menjadi terlihat kurang menarik, tergolong tidak banyak yang mengetahui mengenai kawasan sejarah ini dan terciptanya kesan placeless. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kawasan menjadi wisata sejarah sebagai upaya membangkitkan kembali memori dari budaya tugu yang terdiri dari, Tradisi Mande-Mande dan Rabo-Rabo serta musik Keroncong, yang menjadi karakter kawasan dari Kampung Tugu yang harus dilestarikan. Mengembangkan area wisata dan wawasan Kampung Tugu dengan penambahan atraksi budaya dalam bentuk ruang kebudayaan yang berfokus pada pelestarian musik keroncong dan mengenalkan kuliner khas dari Kampung Tugu. Ruang kebudayaan ini diharapkan dapat menjadi wajah baru Kampung Tugu untuk menjaga keberlanjutan dari eksistensi untuk menghidupkan karakter kawasan dan membuka ruang baru dengan harapan dapat mewadahi sekitar dan menjadi daya tarik bagi masyarakat luar. Perancangan menggunakan metode pendekatan desain yang adaptif dan kontekstual terhadap sekitar yang merespon kondisi modern.
PERANCANGAN FUNGSI BARU MAL BLOK M BERORIENTASI TRANSIT DENGAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI Herawan, Rafael Kelvin; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30899

Abstract

The purpose of this study is to propose new functions that can revive Blok M Mall in the present day. Originally, Blok M Mall was a market that emerged due to the establishment of the Blok M terminal. Over time, the transportation modes in the Blok M area have continued to develop, transforming it into a transit area rather than just a terminal. However, Blok M Mall stopped developing and can now be considered defunct and inactive. Therefore, using the phenomenological method, the author attempts to understand the phenomena occurring at Blok M Mall over time by studying the users during its peak period from various sources and understanding how they transited and engaged in activities at Blok M Mall. This will result in a scope of understanding to find suitable functions for current users who are still actively transiting, enabling them to engage in activities at Blok M Mall once again. The method also includes superimpose (referring to the discussion of the method in the main text). Keywords: Blok M; function; phenomenology; transit Abstrak Tujuan dari studi ini adalah untuk bisa menemukan usulan fungsi baru yang bisa menghidupkan kembali Mal Blok M di masa kini. Awal mulanya Mal Blok M merupakan pasar yang muncul akibat lahirnya terminal Blok M. Dalam perjalanannya, moda di kawasan Blok M terus berkembang dan tidak hanya terminal saja hingga menjadi sebuah kawasan transit. Namun demikian, Mal Blok M justru berhenti berkembang hingga di saat ini bisa dikatakan mati dan tidak berjalan. Oleh karena itu, dengan metode fenomenologi, penulis mencoba memahami fenomena yang terjadi di Mal Blok M dari masa ke masa dengan memahami pengguna di masa jaya Mal Blok M dari berbagai sumber dan mengetahui bagaimana mereka melakukan transit serta turut beraktivitas di Mal Blok M, akan menghasilkan gambaran ruang lingkup untuk bisa menemukan fungsi yang cocok bagi pengguna di masa kini yang masih terus aktif melakukan transit agar bisa kembali beraktivitas di Mal Blok M lagi.
REDESAIN TOKO BUKU GUNUNG AGUNG DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR NARATIF UNTUK MENGEMBALIKAN IDENTITAS KAWASAN KWITANG Gunawan, Ivan; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30900

Abstract

The loss of identity in an area or building can be understood as placelessness, which can lead to the reduction or even disappearance of locality in an area. One place experiencing the phenomenon of placelessness is the Kwitang area. Kwitang area used to be closely associated with literary life, as evidenced by the emergence of many bookstores. One bookstore that played a significant role in the Kwitang area is Toko Buku Gunung Agung. Which was also a pioneer of modern bookstores in Indonesia. Over time, due to changing of reading trends, the existence of Toko Buku Gunung Agung diminished, especially with its closure in 2023. Currently, the building experiences placelessness and cannot be utilized. Therefore, the problem with this bookstore is how architecture can restore the value of Toko Buku Gunung Agung. The aim is to provide a design proposal that can enhance the value of Toko Buku Gunung Agung. The design approach used is Narrative Architecture, telling the history of the Kwitang area's development, then showing how literary existence in the Kwitang area and its connection to Toko Buku Gunung Agung. This narrative architecture is implemented in the spatial program arrangement, including communal gardens, a History Garden, a Library, an Art Space Gallery, a Co-working Space, and a Rooftop Garden. Keywords: book store; Kwitang; narrative architecture; placeless place Abstrak Hilangnya identitas pada suatu kawasan atau bangungan bisa diartikan sebagai placeless, dan hal ini dapat menyebabkan berkurang atau bahkan hilangnya lokalitas pada suatu kawasan. Salah satu tempat yang mengalami fenomena placeless adalah Kawasan Kwitang. Kawasan Kwitang dahulu merupakan kawasan yang erat kaitannya dengan kehidupan literasi. Hal ini ditunjukan dengan adanya fenomena munculnya banyak toko buku. Salah satu toko buku yang memiliki peranan yang signifikan terhadap kawasan Kwitang  adalah Toko Buku Gunung Agung Kwitang, sekaligus menjadi perintis toko buku modern di Indonesia. Dalam perkembangannya, karena adanya perubahan trend membaca, menyebabkan eksistensi dari Toko Buku Gunung Agung menjadi berkurang, terlebih ditutupnya toko buku itu pada tahun 2023. Saat ini, bangunan tersebut mengalami placeless yang tidak dapat difungsikan. Oleh karena itu, permasalahan dari toko buku itu adalah bagaimana peranan arsitektur bisa mengembalikan value dari Toko Buku Gunung Agung. Dengan tujuan untuk memberikan usulan desain yang dapat meningkatkan value pada Toko Buku Gunung Agung. Pendekatan desain yang digunakan adalah Arsitektur Naratif, dengan menceritakan sejarah perkembangan Kawasan kwitang, lalu memperlihatkan bagaimana eksistensi literasi pada kawasan Kwitang, dan kaitannya dengan Toko Buku Gunung Agung. Arsitektur naratif ini diimplementasikan pada penataan program ruang seperti taman komunal, History Garden, Perpustakaan, Art Space Gallery, Co-working Space, hingga Rooftop Garden.
PERANCANGAN IDENTITAS TEMPAT PADA SEKOLAH CANDRA NAYA DENGAN PENDEKATAN NARASI ARSITEKTUR Saputra Wijaya, Natania; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30901

Abstract

A place will have meaning as a Place, if there is contiguity, uniqueness, and connection both physically and non-physically. In its development, a place can experience degradation from activity or physicality known as Placeless Place. One of the places that experienced this phenomenon was Candra Naya School. At first, the existence of Candra Naya School had existed since 1946 in the Candra Naya Building, but due to changes in land use, Candra Naya School was moved to Jl. Jembatan Besi II. Since its move in 1993 until its current existence, Candra Naya School has lost its authenticity, uniqueness, disconnection with its environment and sense of belonging, making Candra Naya School experience the process of Placeless Place. Referring to this background, there is a problem of how to solve the architectural Placeless Place at Candra Naya School. Therefore, the purpose of this design is to restore the identity, uniqueness, historical ties, and meaning of student life at Candra Naya School. The design approach used is Narrative Architecture through space experience with the stages of Edu-cial, Society-Hub, and Historium activities.Edu-cial is a community-oriented educational space where interaction between students and the community occurs. Society-Hub is a space to accommodate activities and serve the community. And, Historium is a space about the historical journey of Candra Naya School. These stages of activity will become a bond between students, the community, and Candra Naya School so that a Sense of Place is created and becomes a Place again. Keywords: edu-cial; historium; narrative architecture; placeless place; society-hub Abstrak Suatu tempat akan memiliki makna sebagai Place, jika terdapat keontetikan, keunikan, dan koneksi baik secara fisik maupun non fisik. Dalam perkembangannya, tempat dapat mengalami degradasi dari aktivitas atau fisik dikenal dengan istilah Placeless Place. Salah satu tempat yang mengalami fenomena tersebut adalah Sekolah Candra Naya. Pada awalnya, eksistensi Sekolah Candra Naya sudah ada sejak tahun 1946 di Gedung Candra Naya, namun akibat pergantian tata guna lahan membuat Sekolah Candra Naya dipindahkan ke Jl. Jembatan Besi II. Sejak kepindahannya di tahun 1993 hingga eksistensinya saat ini, Sekolah Candra Naya kehilangan keotentikan, keunikan, diskoneksi dengan lingkungannya dan sense of belonging sehingga menjadikan Sekolah Candra Naya mengalami proses Placeless Place. Mengacu pada latar belakang tersebut, terdapat permasalahan bagaimana penyelesaian arsitektural Placeless Place pada Sekolah Candra Naya. Oleh karena itu, tujuan dari desain ini adalah untuk mengembalikan identitas, keunikan, ikatan historis, serta memaknai kehidupan siswa di Sekolah Candra Naya. Pendekatan desain yang digunakan adalah Arsitektur Naratif melalui pengalaman ruang dengan tahapan aktivitas Edu-cial, Society-Hub, serta Historium. Edu-cial merupakan ruang pendidikan yang berorientasi pada masyarakat dimana terjadi interaksi antara siswa dan masyarakat. Society-Hub merupakan ruang untuk mewadahi kegiatan serta melayani masyarakat. Serta, Historium merupakan ruang tentang perjalanan sejarah Sekolah Candra Naya. Tahapan aktivitas ini akan menjadi pengikat antar siswa, masyarakat, dan Sekolah Candra Naya itu sehingga terciptanya Sense of Place dan menjadi Place kembali.
IMPLEMENTASI EVERYDAYNESS DAN TRANSPROGRAMMING PADA PUSAT PERBELANJAAN MELAWAI PLAZA Gracia, Hannah; Solikhah, Nafiah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30902

Abstract

The Blok M area was previously known as a favorite "hang out" place for young people in the 80s and 90s. This is demonstrated by the existence of 'Lintas Melawai' as an exhibition for private vehicles together with popular Indonesian works inspired by the area. The popularity of Blok M was also influenced by the development of business and shopping centers which at that time were the only area that had 3 shopping centers at once in Jakarta, namely Plaza Aldiron, Plaza Melawai, and Plaza Blok M. Melawai Plaza, which was founded in 1983, was crowded with visitors at the same time. with the popularity of 'Lintas Melawai'. Entering the 2000s, shopping centers in the Blok M area began to quiet down due to the emergence of interest in more modern shopping centers in the south of Jakarta. This condition also had an impact on Melawai Plaza, plus the impact of the Covid-19 pandemic in 2019-2021 which caused most shops to go bankrupt and were forced to close. Currently Melawai Plaza is a placeless building with its "hanging out" identity lost and its design less flexible to current developments. Therefore, it is hoped that the research can reconnect lost historical identities, repair the disconnect between users and Melawai Plaza, and adapt to regional and contemporary developments. Through an everydayness approach to collecting existing building data and transprogramming to process the data into different program configurations, program proposals were obtained, namely Retail and Interactive ExhibiGold, Communal Space, and Skate Park. It is hoped that the resulting design proposal will wrap Melawai Plaza in a new identity and give the meaning of place to Melawai Plaza. Keywords:  everydayness; Melawai Plaza; placeless place; transprogramming Abstrak Kawasan Blok M dahulu dikenal sebagai tempat “nongkrong” favorit bagi kawula muda di era 80 hingga 90an. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ‘Lintas Melawai’ sebagai ajang pameran kendaraan pribadi bersama karya-karya populer tanah air yang terinspirasi dari kawasan tersebut. Popularitas Blok M juga dipengaruhi oleh perkembangan pusat bisnis dan perbelanjaan yang kala itu menjadi satu-satunya kawasan yang memiliki 3 pusat perbelanjaan sekaligus di Jakarta, yaitu Plaza Aldiron, Plaza Melawai, dan Plaza Blok M. Melawai Plaza yang berdiri sejak tahun 1983 ramai dikunjungi bersamaan dengan popularitas ‘Lintas Melawai’. Memasuki tahun 2000an, pusat perbelanjaan di kawasan Blok M mulai sepi karena munculnya peminat pusat-pusat perbelanjaan di selatan Jakarta yang lebih modern. Kondisi ini juga berimbas pada Melawai Plaza, ditambah adanya dampak pandemi Covid-19 pada tahun 2019-2021 yang menyebabkan sebagian besar toko bangkrut dan terpaksa tutup. Saat ini Melawai Plaza menjadi bangunan placeless dengan identitas “nongkrong”-nya yang hilang dan desainnya yang kurang fleksibel terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu, penelitian diharapkan dapat menghubungkan kembali identitas historis yang hilang, memperbaiki diskoneksi antara pengguna dan Melawai Plaza, serta menyesuaikan perkembangan kawasan dan zaman. Melalui pendekatan everydayness untuk pengumpulan data bangunan eksisting dan transprogramming untuk mengolah data menjadi konfigurasi program yang berbeda, didapatkan usulan program, yaitu Retail and Interactive ExhibiGold, Communal Space, serta Skate Park. Usulan perancangan yang dihasilkan, diharapkan akan membungkus Melawai Plaza dalam identitas baru serta memberi makna place pada Melawai Plaza.
PENERAPAN ARSITEKTUR NARATIF DI KAWASAN LOKASARI UNTUK MENGHIDUPKAN MEMORI KOLEKTIF PRINSEN PARK Dharma Tjhindra, Rudy; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30904

Abstract

Prinsen Park is the pioneer of the film industry in Indonesia which has given birth to many famous artists and actor and was given a nicknamed as tangkiwood. The glory of Prinsen Park began to fade due to a decline in interest in watching films and the development of analog television in the 1970s. Prinsen Park or what is now called Lokasari began to lose its original identity since the rejuvenation program which was implemented in 1985 and popping up of nightclubs in the area at the 90s. This project aims to restore the image of Prinsen Park and make the Lokasari area the center of community activities in Taman Sari. The cross section method was used to collect data through the process of observing existing areas accompanied by comparisons with historical evidence written in journals and books. The credibility of the data collected was strengthened through interviews with people regarding their impressions of the former location until now. The results of the analysis are a collection of collective community memories which were used in the design process to create the atmosphere of Prinsen Park in Lokasari. The atmosphere of Prinsen Park is presented again through the architectural narrative method. Narrative architecture plays a role in forming a collective memory which is useful in building an image of an area and building sense of place and sense of belonging among users to maintain the history of Prinsen Park and become a new chapter for the Lokasari. Keywords: Lokasari; memory; narrative; park; Prinsen Abstrak Prinsen Park merupakan cikal bakal dari industri perfilm-an di Indonesia yang telah melahirkan banyak seniman dan aktor serta diberi julukan tangkiwood. Kejayaan dari Prinsen Park mulai pudar disebabkan penurunan minat menonton film dan berkembangnya televisi analog pada tahun 1970-an. Prinsen Park atau yang sekarang bernama Lokasari mulai kehilangan identitas aslinya sejak dilaksanakan program peremajaan pada tahun 1985 disertai dengan mulai menjamurnya klub malam di kawasan tersebut pada tahun 90-an. Proyek ini bertujuan untuk mengembalikan citra Prinsen Park dan menjadikan kawasan Lokasari sebagai pusat kegiatan masyarakat di Taman Sari.  Metode cross section digunakan dalam pengumpulan data melalui proses observasi kawasan eksisting disertai perbandingan terhadap bukti sejarah yang tertulis pada jurnal dan buku, data yang dikumpulkan diperkuat kredibilitasnya melalui wawancara pada masyarakat mengenai impresi terhadap kawasan lokasari terdahulu hingga sekarang. Hasil analisis berupa kumpulan memori kolektif masyarakat yang digunakan dalam proses desain untuk menghadirkan suasana Prinsen Park di Lokasari. Suasana dari Prinsen Park kembali dihadirkan melalui metode naratif arsitektur. Arsitektur naratif berperan dalam membentuk memori kolektif yang berguna dalam membangun citra dari sebuah kawasan dan membangun sense of place serta sense of belonging pada pengguna untuk menjaga sejarah dari Prinsen Park dan menjadi lembaran baru bagi kawasan Lokasari.