cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
INTEGRASI RUANG DAN KEHIDUPAN MELALUI ADAPTIVE REUSE DI KAWASAN SENEN, JAKARTA PUSAT Rainy, Rainy; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30877

Abstract

The Grand Theater Senen was one of the first single cinema buildings in Jakarta to be very popular in the 1980s. The Senen Grand Theatre's downturn was caused by the defeat of the competition due to the emergence of modern cinemas, as well as the degradation of the Senen area as a result of the monetary crisis. Although the government has attempted to revitalize the Senen Area several times, there are only a few crowded points. As a result of the degradation, the GTS was abused as a venue for blue films, drug sales, and prostitution. Currently, the building is abandoned. The location of the building is in Simpang Lima or Senen Triangle Area, one of the high-mobility intersections in central Jakarta. In this context, the research aims to understand the role of environmental damage and area degradation in building conditions, by proposing Adaptive Reuse as a primary solution. The plan includes the development of people-crossing bridges (JPOs), capsule hotels for commuters, rental offices, and commercial areas, which not only enhance connectivity but also create a more comfortable, secure, and sustainable environment, so that GTS can support the economic growth of communities especially in the dynamic Senen Area, while improving the quality of life of people and improving neglected environmental conditions, making GTS a functional hub that can facilitate both outdoor and indoor accessibility, providing safe and comfortable accommodation. Keywords: Adaptive reuse; Commuter; Hotel capsule; Interconnection; Rent virtual office Abstrak Grand Theater Senen merupakan salah satu gedung bioskop tunggal pertama di Jakarta yang sangat populer pada era 80-an. Kemunduran Grand Theater Senen disebabkan oleh kalah saing karena kemunculan bioskop modern, juga terjadinya degredasi pada Kawasan Senen yang disebabkan oleh krisis moneter. Walaupun pemerintah sudah berupaya melakukan revitalisasi Kawasan Senen beberapa kali, namun hanya ada beberapa titik yang ramai. Akibat dari degredasi tersebut, GTS disalahgunakan sebagai tempat pemutaran film biru, penjualan narkoba, dan prostitusi. Saat ini, bangunan tersebut terbengkalai. Lokasi bangunan ada di Simpang Lima atau Kawasan Segitiga Senen, salah satu persimpangan yang memiliki mobilitas tinggi di Jakarta Pusat. Dalam konteks ini, penelitian bertujuan untuk memahami peran kerusakan lingkungan dan degradasi kawasan dalam kondisi bangunan, dengan mengusulkan Adaptive Reuse sebagai solusi utama. Rencana ini mencakup pengembangan jembatan penyeberangan orang (JPO), hotel kapsul untuk komuter, kantor sewa, dan area komersial, yang tidak hanya meningkatkan konektivitas namun juga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, aman, dan berkelanjutan, sehingga GTS dapat mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat terutama di Kawasan Senen yang dinamis, sambil meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperbaiki kondisi lingkungan yang terabaikan, menjadikan GTS sebagai sebuah hub fungsional yang dapat memudahkan aksesibilitas baik dari luar maupun dalam ruangan, penyediaan akomodasi yang aman dan nyaman.
MENGEMBALIKAN IDENTITAS MUARA ANGKE MELALUI STRATEGI PENGELOLAAN BUDIDAYA IKAN YANG BERKELANJUTAN Wibin, Arlene; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30878

Abstract

Muara Angke, once a place rich in meaning and identity for fishermen, is facing a series of phenomena that have transformed it into a placeless place. Fishermen who once relied on the waters for their livelihoods now face significant challenges in finding sustenance from what they once called "place." The aim of this research is to explore the role of architecture in assisting the community in maintaining economic resilience and cultural significance to ensure sustainable programs. The methods employed include data analysis, field observations, and interviews to comprehensively understand the socio-economic dynamics and environmental conditions in Muara Angke. The proposed architectural solution includes the design of a fish processing industry and training for fishermen that facilitates economic activities, as well as providing commercial spaces to attract the general public. The findings of this research are expected to make a significant contribution to the local economic development of Muara Angke and restore the meaning and identity of "place" for the fishermen. Additionally, the research findings are anticipated to provide new insights into sustainable natural resource management strategies in coastal areas affected by environmental changes. The novelty of this research lies in its holistic approach, integrating social, economic, and environmental aspects in addressing the challenges faced by the fishing communities in Muara Angke from an architectural perspective. Keywords:  Fishermen; Identity; Muara Angke; Placeless place; Sustainable Abstrak Muara Angke, dulunya merupakan sebuah tempat kaya akan makna dan identitas bagi para nelayan, menghadapi fenomena yang mengubahnya menjadi tempat yang kehilangan keberadaannya, menjadikannya placeless place. Nelayan yang dulunya menggantungkan hidup mereka pada hasil tangkapan di perairan, kini menghadapi tantangan besar untuk mencari dari tempat yang dahulu mereka panggil sebagai "place". Tujuan dari penelitian adalah mengeksplorasi peran arsitektur dalam membantu masyarakat dalam menjaga resiliensi ekonomi dan signifikansi budaya tempat agar mendapatkan program berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi analisis data, observasi lapangan, dan wawancara untuk memahami secara holistik dinamika sosial-ekonomi dan kondisi lingkungan di Muara Angke. Solusi arsitektur yang diusulkan meliputi desain industri pengelolaan ikan dan pelatihan bagi para nelayan yang memfasilitasi kegiatan ekonomi, serta menyediakan ruang komersial untuk menarik masyarakat umum. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi lokal di Muara Angke serta memulihkan kembali makna dan identitas "place" bagi para nelayan. Temuan dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan baru terhadap strategi pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di kawasan pesisir yang terdampak perubahan lingkungan. Kebaruan dari penelitian ini adalah pendekatan holistik yang menggabungkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam upaya untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh komunitas nelayan di Muara Angke secara arsitektural.
DESAIN MODUL HUNIAN KHUSUS SENIMAN Yobe, Norlando Thomson Carlheinzt; Winata, Suwardana
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30880

Abstract

The Ismail Marzuki Park Art Center has become an area for artists to work and exhibit. In 2019-2024, the art center is undergoing revitalization, but artists and culturalists are protesting this change, one of which is the change of the artist's special wedding function to the hotel. This leads to a loss of identity in the area because the artists who were supposed to revive the area of the art center now disappear and set up their own posko with a badge. In fact, artists with a wide range of skills also need space to work. The purpose of writing this journal is to study, understand, and explore the humane modules that support the artist in creating, preserving, and displaying or showcasing the work of the artist. In addition, this space can also accommodate tools and materials other than the reactions of the artist with his art in the space, so that the discovery of sufficient space loads can be achieved. It is obtained and studied through spatial study methods, literature studies, or other mediators that can support it. Therefore, a number of space indicators are suitable for artists with direct analysis methods on self-made two- or three-dimensional space image modules. As a result, there are some recommended spaces to be used in the artist's special dwellings. Keywords: Art; Artist; Creation; Space Abstrak Pusat seni Taman Ismail Marzuki telah menjadi area untuk berkarya dan menampilkan karya para seniman. Pada tahun 2019-2024 pusat seni ini mengalami revitalisasi, namun para seniman dan budayawan memprotes perubahan ini salah satunya adalah karena perubahan fungsi wisma khusus seniman menjadi hotel. Hal ini menimbulkan Hilangannya identitas pada kawasan karena seniman yang  semestinya menghidupkan area pusat seni, kini menghilang dan mendirikan posko sendiri dengan tagar savetim. Sebenarnya seniman dengan berbagai macam keterampilan yang dimiliki juga membutuhkan ruang untuk berkarya. Tujuan penulisan jurnal ini adalah untuk mempelajari, memahami, dan mengeksplorasi modul hunian yang mendukung seniman untuk berkreasi, menyimpan, dan memajang atau menunjukkan karya yang telah dibuat oleh sang seniman. Selain itu, ruang ini juga dapat mengakomodasi alat-alat dan bahan-bahan selain itu aksi-reaksi seniman dengan seninya di dalam ruang tersebut, agar penemuan terhadap muatan ruang yang cukup dapat tercapai. Hal ini didapatkan dan dipelajari melalui metode studi ruang, kajian literatur, maupun mediator-mediator lain yang dapat mendukung. Oleh karena itu, dibuat beberapa Indikator ruang yang cocok untuk seniman dengan metode analisis langsung pada modul gambar ruang yang dibuat sendiri secara dua maupun tiga dimensi. Hasilnya ada beberapa ruang yang direkomendasikan untuk digunakan pada hunian khusus seniman.
PENERAPAN METODE ARSITEKTUR KESEHARIAN DALAM PERANCANGAN DESAIN MEETING POINT DI GUNUNG SAHARI, JAKARTA PUSAT Meylina, Scholastica Violetha; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30882

Abstract

Golden Truly Mall is a place for recreation, a place to eat, a gathering place for various groups of people both from the surrounding area and outside because of its strategic location, in the city center, and close to TransJakarta transportation. Based on the results of a qualitative survey of the surrounding community, there are still many who feel they have missed the "Golden Truly Mall". In creating a new meeting point, it is necessary to collect data using qualitative methods to study the needs of the local community. So using everyday architectural methods, this project focuses on people's needs and habits in using public spaces. Apart from considering their various needs, we also consider several aspects of the simple modern economy that can support people's businesses in the field of online commerce, as well as increase their productivity as students and workers. Because the surrounding community consists of various age groups, this meeting point also has various points and spatial functions that have been considered for their needs based on their age. In this way, it is hoped that this place can become a shared home, especially for the local community. Where all their needs can be fulfilled in this place. Keywords: Architecture; Everydayness architecture; Placeless place; Transit hub Abstrak Golden Truly Mall merupakan sebuah tempat rekreasi, tempat makan, tempat berkumpulnya berbagai kalangan masyarakat baik dari daerah sekitar maupun dari luar karena lokasinya yang strategis, berada di pusat kota, dan dekat dengan transportasi TransJakarta. Berdasarkan hasil survey kualitatif terhadap masyarakat sekitar, masih banyak yang merasa kehilangan “Mall Golden Truly”. Dalam menciptakan sebuah titik pertemuan yang baru, maka perlu dilakukan pengumpulan data dengan metode kualitatif untuk mempelajari kebutuhan masyarakat daerah tersebut. Sehingga dengan metode arsitektur keseharian, proyek ini berfokus pada kebutuhan dan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan ruang publik. Selain mempertimbangkan berbagai macam kebutuhan mereka, juga mempertimbangkan beberapa aspek perekonomian modern sederhana yang bisa mendukung usaha masyarakat dalam bidang perdagangan secara daring, serta meningkatkan produktifitas mereka sebagai pelajar dan pekerja. Karena masyarakat sekitar terdiri dari berbagai kelompok usia, maka titik temu ini juga memiliki berbagai titik dan fungsi ruang yang sudah dipertimbangkan untuk kebutuhan mereka berdasarkan usianya.  Dengan demikian, diharapkan tempat ini bisa menjadi rumah bersama, terutama bagi masyarakat sekitar. Dimana segala kebutuhan mereka dapat terpenuhi di tempat ini.
PENATAAN KEMBALI KAWASAN PASAR MINGGU DENGAN PENERAPAN KONSEP TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT Cunnoris, Fernando; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30885

Abstract

The Pasar Minggu, which has long been known as an important trade and transportation center in Jakarta, is now facing significant degradation due to chaotic and disorganized conditions. This chaos not only causes a decline in the environmental quality and efficiency of the area, but also eliminates the element of integration that previously characterized Pasar Minggu. To overcome this problem, this research explores the potential for re-developing the Pasar Minggu area into a Transit-Oriented Development (TOD) area. The TOD approach aims to maximize regional potential by integrating public transportation modes, increasing connectivity, and optimizing land use. Through design that pays attention to transportation integration, it is hoped that this area can become more orderly, comfortable and sustainable. This research also emphasizes the importance of follow-up studies to ensure comprehensive planning and effective implementation. In this way, the transformation of the Pasar Minggu area can be achieved optimally, restoring its social and economic functions, and making it an example of successful TOD implementation in urban Indonesia. To overcome this problem, this research explores the potential for re-developing the Pasar Minggu area into a Transit-Oriented Development (TOD) area. The TOD approach aims to maximize regional potential by integrating public transportation modes, increasing connectivity, and optimizing land use. Through design that pays attention to transportation integration, it is hoped that this area can become more orderly, comfortable and sustainable. This research also emphasizes the importance of further studies to ensure comprehensive planning and effective implementation, so that the transformation of the Pasar Minggu area can be achieved optimally, restoring its social and economic function, and making it an example of successful TOD implementation in urban Indonesia. Keywords: Chaos; Mixed-used; Transit Abstrak Kawasan Pasar Minggu, yang selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan transportasi penting di Jakarta, kini menghadapi degradasi signifikan akibat kondisi yang semrawut dan tidak teratur. Kesemrawutan ini tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan efisiensi kawasan, tetapi juga menghilangkan unsur pembauran yang sebelumnya menjadi ciri khas Pasar Minggu. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengeksplorasi potensi pengembangan ulang kawasan Pasar Minggu menjadi kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Pendekatan TOD bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan dengan mengintegrasikan moda transportasi umum, meningkatkan konektivitas, serta mengoptimalkan penggunaan lahan. Melalui desain yang memperhatikan integrasi transportasi, diharapkan kawasan ini dapat menjadi lebih teratur, nyaman, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memastikan perencanaan yang komprehensif dan implementasi yang efektif. Dengan demikian, transformasi kawasan Pasar Minggu dapat tercapai secara optimal, mengembalikan fungsi sosial dan ekonominya, serta menjadikannya contoh penerapan TOD yang berhasil di perkotaan Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengeksplorasi potensi pengembangan ulang kawasan Pasar Minggu menjadi kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Pendekatan TOD bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan dengan mengintegrasikan moda transportasi umum, meningkatkan konektivitas, serta mengoptimalkan penggunaan lahan. Melalui desain yang memperhatikan integrasi transportasi, diharapkan kawasan ini dapat menjadi lebih teratur, nyaman, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memastikan perencanaan yang komprehensif dan implementasi yang efektif, sehingga transformasi kawasan Pasar Minggu dapat tercapai secara optimal, mengembalikan fungsi sosial dan ekonominya, serta menjadikannya contoh penerapan TOD yang berhasil di perkotaan Indonesia.
RUANG BUDAYA SEBAGAI REPRESENTASI PERKEMBANGAN MASYARAKAT BATAK DI KAWASAN CAWANG DAN CILILITAN Nababan, Christian Agung Jaya; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30886

Abstract

Cawang and Cililitan are areas located in Kramat Jati subdistrict, East Jakarta. This region is known for its predominantly Batak population and high crime rates. Historically, Cawang and Cililitan were associated with criminality, including ethnic conflicts between Bataks and Ambonese, UKI student unrest, and involvement with drugs and petty crime. However, despite these dark pasts, the areas have transformed into a popular cultural destination for Bataks from North Sumatra. The region has a long history and strong Batak culture, with Batak residents often involved in criminal activities such as ethnic conflicts, student unrest, drug involvement, and petty crime. Despite being shrouded by negative stories of criminality, Cawang and Cililitan have risen with the progressive thinking of its residents. As time has progressed, the community, including the Batak population, has become more developed in their thinking, leading to improved conditions in the area.To enhance the area's image and promote Batak culture, a Cultural Center was built. This center serves as a symbol of progress and a platform to elevate Batak perspectives and essence. The architectural design combines traditional Batak elements like gorga and ulos with modern and sustainable touches. The integration of green buildings and solar panels results in energy-efficient and environmentally friendly structures. The Cultural Center in Cawang and Cililitan is a testament to the harmonization of culture and modernization, guiding the area towards a brighter future. Keywords: Batak Ethnic; Cawang and Cililitan; Cultural Center; Neo Vernacular Abstrak Cawang dan Cililitan merupakan wilayah yang terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Daerah ini cukup dikenal dengan masyarakatnya yang didominasi oleh Suku Batak dan juga tingkat kriminalitasnya yang tinggi. Cawang dan Cililitan, dua wilayah di Jakarta Timur ini dulunya identik dengan kriminalitas, kini bertransformasi menjadi tujuan wisata budaya Batak yang ramai. Dikenal sebagai tempat perantauan orang Batak dari Sumatera Utara, wilayah ini memiliki sejarah panjang dan budaya Batak yang kental. Orang Batak yang tinggal di Cawang dan Cililitan dulunya seringkali terlibat tindak kriminalitas seperti kerusuhan antara orang Batak dan orang ambon (antar suku), kerusuhan mahasiswa UKI (antar fakultas), keterlibatan masyarakat dengan narkoba serta marakanya premanisme dan pencurian di kawasan tersebut. Meskipun sempat diselimuti cerita kelam kriminalitas, Cawang dan Cililitan bangkit dengan pemikiran maju masyarakatnya. Seiring berkembangnya zaman pada kawasan tersebut membuat masyarakat di wilayah tersebut termasuk masyarakat Batak lebih berkembang dalam segi pemikiran yang mana hal tersebut menyebabkan peningkatan kondusifitas pada wilayah tersebut. Upaya untuk meningkatkan citra kawasan dan memajukan budaya Batak melahirkan solusi yaitu dengan membangunnya sebuah Cultural Center. Cultural Center ini bukan hanya simbol kemajuan, tetapi juga wadah untuk mengangkat pandangan dan esensi orang Batak. Mengusung konsep arsitektur neo-vernakular, desainnya memadukan unsur tradisional Batak seperti gorga dan ulos dengan sentuhan modern dan berkelanjutan. Penggabungan bangunan hijau dan solar panel menghasilkan struktur yang hemat energi dan ramah lingkungan. Cultural Center Cawang dan Cililitan menjadi bukti nyata harmonisasi budaya dan kemajuan zaman, mengantarkan wilayah ini menuju masa depan yang lebih cerah.
PENERAPAN DESAIN BIOFILIK PADA PERANCANGAN RUANG PUBLIK DI KAWASAN GUNUNG SAHARI Nata, Steven; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30887

Abstract

Gunung Sahari is one of the areas in Jakarta. This area has been known for a long time as an office and government area, making this area one of the areas that is quite busy for the public to pass through. However, recently, this area has experienced some decline, such as many buildings starting to be neglected and abandoned by their owners because there are no visitors. So that in order to attract public attention again, the Gunung Sahari area requires several additional functions, one of which is public space. Public space itself is a room that is able to accommodate various kinds of community activities that occur in it. So public spaces are currently in demand by the wider community as a place to relax, entertain and gather with relatives and family. However, not all public spaces can provide good accommodation due to factors such as heat from the sun, air, wind, etc., which can affect the comfort level of the public space itself. So, one way to respond to this is by implementing several natural elements into public spaces using biophilic design. Biophilic design itself refers to the inclusion of natural elements into a room. Currently, incorporating natural elements into the spaces in buildings has become a trend. As seen in several buildings such as malls, offices and several other public buildings. Incorporating Biophilic elements in buildings can also be a solution to several problems such as dealing with heat in the building, making the building atmosphere more comfortable, minimizing stress levels for room users, etc. Gunung Sahari area also requires biophilic design. By implementing biophilic elements in this area, it can help attract visitors to return to this area. Keywords: architecture; biophilic design; community; gunung sahari; public space Abstrak Gunung Sahari adalah salah satu kawasan yang ada di Jakarta. Kawasan ini sudah dikenal sejak lama sebagai kawasan perkantoran dan pemerintahan, sehingga membuat kawasan ini menjadi salah satu kawasan yang cukup ramai untuk dilalui oleh masyarakat. Namun belakangan ini, kawasan ini mengalami beberapa penunrunan, seperti mulai banyak bangunan yang tidak terurus dan ditinggal oleh pemiliknya karena sepi akan pengunjung. Sehingga untuk dapat kembali menarik perhatian masyarakat, kawasan Gunung Sahari memerlukan beberapa fungsi tambahan, salah satunya ruang publik. Ruang publik sendiri adalah ruangan yang mampu menampung berbagai macam aktivitas-aktivitas masyarakat yang terjadi didalamnya. Sehingga ruang publik saat ini sedang diminati oleh masyarakat luas sebagai tempat bersantai, hiburan, dan berkumpul bersama kerabat dan keluarga. Namun, tidak semua ruang publik dapat memberikan akomodasi yang baik akibat faktor-faktor seperti panas matahari, udara, angin, dll, yang dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan dari ruang publik itu sendiri. Sehingga, salah satu cara untuk menanggapi hal tersebut adalah dengan menerapkan beberapa unsur alam kedalam ruang publik dengan menggunakan desain biofilik. Desain biofilik sendiri mengacu pada pemasukan unsur alam yang ada kedalam suatu ruangan. Saat ini, memasukkan unsur alam dalam ruang-ruang pada bangunan sendiri sudah menjadi sebuah tren. Seperti yang terlihat pada beberapa bangunan seperti bangunan mall, kantor, dan beberapa bangunan publik lainnya. Memasukkan unsur biofilik dalam bangunan juga dapat menjadi solusi untuk beberapa masalah seperti mengatasi panas di dalam bangunan, membuat suasana bangunan menjadi lebih nyaman, meminimalisir tingkat stres pada pengguna ruangan, dll. Kawasan Gunung Sahari pun tidak luput dari hal ini karena memerlukan desain biofilik. Dengan adanya penerapan unsur biofilik pada kawasan ini dapat membantu menarik minat pengunjung untuk kembali mengunjungi kawasan ini.
PERPADUAN IDENTITAS LOKAL DAN GLOBAL PADA DESAIN PASAR KULINER BENDUNGAN HILIR Sutandi, Isabel Gloria Permatasari; Mustaram, Agnatasya Listianti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30888

Abstract

Globalization, commercialization and mass communication have brought cultural and geographical homogenization into urban space, giving rise to the term placeless place, namely the reduction of the unique characteristics and identity of a place. One of the places experiencing this phenomenon is the market and Bendungan Hilir Area. Bendungan Hilir Market, which was founded in 1972, used to have the meaning of a "place" with historical value and regional character. However, as time goes by, the value of this “place” disappears due to the influence of globalization. Now, Bendungan Hilir Market is considered less relevant and no longer able to accommodate the needs of the community, resulting in the loss of the value of authenticity, uniqueness and community connection to the market, resulting in a placeless place process. Referring to this background, there is a problem regarding the architectural completion of placeless place at Bendungan Hilir Market. Therefore, the aim of this design is to revive identity, historical ties, and community connections in the current context of globality. The design approach used is the cross-programming and contextual method through spatial experience with the traditional culinary market, meeting hub and supporting mixed use program activity stages. The traditional culinary market is a space that accommodates the main potential in the Bendungan Hilir area, namely as a culinary and commercial area. The meeting hub is the meeting center for the cities of Jakarta and Bendungan Hilir. As well as, supporting the mixed use program to accommodate community activities and services. This stage of activity will be a bond between the local community of Bendungan Hilir, and the global city of Jakarta environment, by creating a sense of place that is integrated with a mix of local and global identity elements. Keywords: globality; locality; traditional culinary market; placeless place Abstrak Globalisasi, komersialisasi, dan komunikasi massa telah membawa homogenisasi budaya dan geografis ke dalam ruang kota, memunculkan istilah placeless place, yaitu berkurangnya karakteristik dan identitas unik suatu tempat. Salah satu tempat yang mengalami fenomena ini adalah pasar dan kawasan Bendungan Hilir. Pasar Bendungan Hilir, yang berdiri sejak tahun 1972, dulunya memiliki makna sebagai "place" dengan nilai sejarah dan karakter kawasan. Namun, seiring waktu, nilai "place" ini menghilang karena pengaruh globalisasi. Kini, Pasar Bendungan Hilir dinilai kurang relevan dan tidak lagi mampu mewadahi kebutuhan masyarakatnya, mengakibatkan hilangnya nilai keaslian, keunikan, dan koneksi masyarakat terhadap pasar tersebut, sehingga mengalami proses placeless place. Mengacu pada latar belakang tersebut, terdapat permasalahan bagaimana penyelesain arsitektural placeless place pada Pasar Bendungan Hilir. Oleh karena itu, tujuan dari desain ini adalah untuk menghidupkan kembali identitas, ikatan historis, dan koneksi masyarakat dengan konteks globalitas sekarang ini. Pendekatan desain yang digunakan adalah metode cross-programming dan contextual melalui pengalaman ruang dengan tahapan aktivitas traditional culinary market, meeting hub serta supporting mixed use program. Traditional culinary market merupakan ruang yang mengakomodasi potensi utama di kawasan Bendungan Hilir yaitu sebagai kawasan kuliner dan komersial. Meeting hub menjadi pusat pertemuan kota Jakarta dan Bendungan Hilir. Serta, supporting mixed use program untuk mewadahi kegiatan serta pelayanan masyarakat. Tahapan aktivitas ini akan menjadi pengikat antara masyarakat lokal Bendungan Hilir, dengan lingkungan Globalitas Kota Jakarta, dengan menciptakan sense of place yang terintergrasi dengan perpaduan unsur identitas lokal dan global.
REPROGRAM MALL TAMAN PALEM UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN CENGKARENG TIMUR Henry, Daniel; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30890

Abstract

Every place has meaning, because place is not only about physicality and activities but also about meaning. Meaning is an identity that a place has, when the memory of humans who collectively interpret a place. The loss of meaning can be caused by several things, one of which is continuous development. Taman Palem Mall also lost its identity due to development. The first mall in Cengkareng became the first modern shopping center in Cengkareng, this mall became the only gathering point in this area, residents from several villages in Cengkareng and outside Cengkareng came for their respective needs, but after the construction of the jorr toll road at that time separated Cengkareng into two, namely west and east Cengkareng, limiting access to the palm garden mall. The separation of Cengkareng resulted in only west Cengkareng which continued to experience growth while east Cengkareng where this mall is located did not experience growth, so this had an impact on the decline of this mall. The location of this mall is strategic because it is on the connecting road between areas so it has the potential to be redeveloped and drive the growth of this area. Reprogram is chosen as a method that will be done to this mall, this is expected in addition to restoring the meaning of this mall can also build the area, especially East Cengkareng. The reprogram is also based on the contextual user and the needs of the East Cengkareng area and is expected to become a new attraction for this area. Keywords: Cengkareng; contextual; development; mall taman palem; reprogram Abstrak Setiap tempat memiliki makna, karena tempat bukan hanya bicara soal fisik dan aktivitas tapi tempat juga berbicara soal makna. Makna merupakan sebuah identitas yang dimiliki suatu tempat, ketika memori manusia yang secara kolektif memaknai suatu tempat. Hilangnya makna bisa disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah pembangunan yang terus berlanjut. Mall Taman Palem juga kehilangan identitasnya akibat pembangunan yang terjadi. Mall pertama di Cengkareng ini menjadi pusat perbelanjaan modern pertama di Cengkareng, mall ini menjadi titik kumpul satu-satunya di kawasan ini, warga dari beberapa kelurahan di Cengkareng dan diluar Cengkareng datang untuk keperluannya masing-masing, namun setelah pembangunan jalan tol jorr waktu itu memisahkan Cengkareng menjadi dua yaitu Cengkareng barat dan timur sehingga membatasi akses menuju Mall Taman Palem. Terpisahnya Cengkareng mengakibatkan hanya Cengkareng barat yang terus mengalami pertumbuhan sedangkan Cengkareng Timur tempat mall ini berada tidak mengalami pertumbuhan, sehingga ini berdampak pada menurunnya mall ini. Secara lokasi mall ini strategis karena berada di jalan penghubung antar kawasan sehingga berpontensi untuk dibangun kembali dan menggerakan pertumbuhan kawasan ini. Reprogram dipilih sebagai metode yang akan dilakukan terhadap mall ini, hal ini diharapkan selain untuk mengembalikan makna mall ini juga dapat membangun kawasan terutama Cengkareng Timur. Reprogram yang dilakukan juga didasari kontekstual user dan kebutuhan kawasan Cengkareng Timur yang dan diharapkan dapat menjadi daya tarik baru kawasan ini.
KEBERLANJUTAN IDENTITAS LOKAL: REVITALISASI PASAR BERINGIN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Chin, Hen; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30892

Abstract

A space becomes a place when the area has its own identity and as time goes by, there will be a place that experiences degradation which is ultimately called a placeless place. Traditional markets are one place that often experiences this phenomenon. One of the traditional markets that experiences the placeless place phenomenon is the Beringin Market, located in Singkawang, West Kalimantan. This market was founded in 1973 and is a silent witness to the social, economic, and cultural development of Singkawang, which is rich in Chinese culture. However, as time progressed, the Beringin Market failed to adapt to modern life and experienced various problems which then slowly began to be abandoned by new generations. Now the Beringin Market has experienced a drastic decline which has made it lose its uniqueness and place of attraction to this market. Therefore, an architectural strategy is needed that can restore the meaning and identity of the Beringin Market and maintain it in the long term. This design aims to strengthen the identity, culture, economy, and historical significance of the Beringin Market by using a contextual approach method that refers to the analysis of the area from a social, cultural, natural, and physical building perspective. Through the contextual approach method, it is hoped that it can re-weave the identity and meaning eroded by the times and make the Beringin Market a cultural tourism market. Keywords:  beringin market; contextual; placeless place; Singkawang Abstrak Sebuah tempat menjadi sebuah place saat kawasan tersebut memiliki identitasnya tersendiri dan seiiring dengan berkembangnya zaman, akan ada suatu tempat yang mengalami degradasi yang akhirnya disebut sebagai placeless place. Pasar tradisional merupakan salah satu tempat yang sering mengalami fenomena ini. Salah satu pasar tradisional yang mengalami fenomena placeless place yaitu Pasar Beringin yang terletak di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Pasar ini didirikan pada tahun 1973 dan menjadi salah satu saksi bisu dalam perkembangan sosial, ekonomi dan budaya kota Singkawang yang kaya akan budaya Tionghua. Namun seiring berkembangnya zaman, Pasar Beringin gagal dalam beradaptasi dengan kehidupan modern dan mengalami berbagai masalah yang kemudian secara perlahan pasar ini mulai ditinggalkan oleh generasi-generasi baru. Kini Pasar Beringin telah mengalami penurunan drastis yang membuatnya kehilangan keunikan dan place attactment terhadap pasar ini. Oleh karena itu, diperlukan sebuah strategi arsitektural yang dapat mengembalikan makna dan identitas dari Pasar Beringin dan mempertahankannya dalam jangka panjang. Tujuan dari desain ini yaitu untuk memperkuat kembali identitas, budaya, ekonomi dan makna sejarah dari Pasar Beringin dengan menggunakan metode pendekatan kontekstual yang mengacu pada analisis kawasan dari segi sosial, budaya, alam, dan fisik bangunan. Melalui metode pendekatan kontekstual, diharapkan dapat merajut kembali identitas dan makna yang terkikis oleh perkembangan zaman serta menjadikan Pasar Beringin sebagai pasar wisata-budaya.