cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
REVITALISASI BIOSKOP GRAND THEATER SENEN MENJADI DISTRIK SENI BERKONSEP RUANG KETIGA Soros, Martris Loa; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30905

Abstract

The Senen area was once home to many artists who eventually became known as Seniman Senen. Due to the flourishing art scene at that time, Senen developed a reputation as an art center. Unfortunately, the art in the area has disappeared, leaving the Seniman Senen without a space to create. One of the icons of Senen is the Grand Theater Senen, a historic cinema building in Jakarta, which no longer functions as it used to. The building has declined in functionality due to prostitution activities, leading to its closure and abandonment. Given the site's potential, the Grand Theater Senen, now a placeless place, is planned for revitalization by changing the program and function of the building according to the needs of the area and its users. The primary community in the area consists of traders and commuters. Through contextual architectural principles analysis, it is found that traders need better spaces for their businesses as their trade is slowing down. Commuters, who often have to wait for public transportation, feel bored and tired, requiring spaces for rest and refreshing. These contextual architectural principles are applied by designing in accordance with the needs of the users and the area's conditions. Therefore, the design of an art district with a third place concept is expected to meet these needs. The design aims to provide a place for rest, refreshment, socializing, trading, and a space for the Seniman Senen to create, thereby reviving the art in the area. Keywords:  architecture; art district; grand theater senen; revitalization; third place Abstrak Kawasan Senen dahulunya terdapat banyak pendatang yang berkarya seni, yang pada akhirnya dikenal sebagai Seniman Senen. Akibat majunya seni kala itu, Kawasan Senen akhirnya memiliki karakteristik sebagai pusat seni. Namun sayangnya, seni pada kawasan sudah hilang yang menyebabkan Seniman Senen tidak lagi memiliki ruang untuk berkarya. Pada Kawasan Senen terdapat ikon kawasan yaitu Grand Theater Senen yang merupakan sebuah bangunan bioskop bersejarah di Jakarta yang sekarang sudah tidak lagi memiliki fungsi bangunan seperti sedia kala. Bangunan ini mengalami kemunduran fungsi dikarenakan adanya kegiatan prostitusi sehingga pada akhirnya bangunan ini harus tutup dan terbengkalai. Akan adanya potensi tapak yang baik, Grand Theater Senen yang sudah menjadi placeless place direncanakan untuk dilakukan revitalisasi dengan mengubah program dan fungsi bangunan sesuai dengan kebutuhan kawasan dan pengguna. Jenis masyarakat yang memayoritasi kawasan adalah pedagang dan komuter. Melalui analisis yang menggunakan metode prinsip arsitektur kontekstual, pedagang memerlukan ruang untuk berdagang yang lebih mendukung dikarenakan dagangan yang mulai sepi. Komuter yang harus menunggu jadwal keberangkatan transportasi umum seringkali merasa jenuh dan lelah, sehingga memerlukan ruang untuk beristirahat dan refreshing. Prinsip arsitektur kontekstual tersebut kemudian diterapkan dengan merancang desain yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan kondisi kawasan. Maka dari itu, perancangan distrik seni berkonsep ruang ketiga diharapkan dapat menjadi solusi dari kebutuhan yang ada. Perancangan ini bertujuan untuk menjadi sarana untuk beristirahat, refreshing, bersosialisasi, berdagang, dan menjadi ruang bagi para Seniman Senen untuk berkarya sehingga dapat menghidupkan lagi seni dari kawasan.
RUANG MUSIK DAN KERJA PADA BANGUNAN EX TOKO TIO TEK HONG DI PASAR BARU JAKARTA PUSAT Williyanto, Daniel; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30909

Abstract

Pasar Baru is a trading area in the Sawah Besar District, Central Jakarta. Established in the 19th century, it is one of Jakarta's oldest shopping centers. Initially a bustling trading hub inhabited by the Chinese and Dutch, Pasar Baru's historical buildings have now undergone functional transformations, with diminishing community recognition of their historical significance. Over time, many historic buildings in Pasar Baru have lost their identity, becoming "placeless places" despite their strategic location near transit points and iconic areas of Central Jakarta. The research aims to revive this historically significant area amidst the development of the city's cultural tourism districts. Revitalization efforts involve introducing activity programs designed to attract visitors and restore the original functions of these heritage buildings. Emphasis is placed on preserving the cultural heritage of the area. The study anticipates enhancing the cultural image of Pasar Baru, transforming it from a neglected "placeless place" into a culturally vibrant center that holds meaningful relevance in contemporary Jakarta. Keywords: education; historical; iconic Abstrak Kawasan Pasar Baru merupakan kawasan perdagangan di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pasar Baru merupakan kawasan yang dibangun pada abad ke-19, dan kawasan di sekitarnya merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua di kota Jakarta. Awal mula berdirinya kawasan ini merupakan pusat perdagangan yang banyak dihuni oleh orang Tiong Hoa dan juga Belanda. Namun, kawasan Pasar Baru dengan banyaknya bangunan historical yang ada di dalamnya, sekarang telah berubah fungsi dan masyarakat tidak lagi mengenal nilai historical bangunan yang penting dalam kawasan tersebut. Seiring waktu, banyak bangunan historic di kawasan Pasar Baru kehilangan identitasnya dan menjadi placeless place, padahal tempat ini memiliki potensi dan lokasi strategis yang berada dekat dengan beberapa titik transit dan kawasan bangunan ikonik Jakarta Pusat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali tempat bersejarah yang terhimpit oleh perkembangan kawasan wisata budaya kota, metode revitalisasi dilakukan dengan menambahkan program-program aktivitas yang mendukung dan menarik pengunjung untuk datang. Revitalisasi dilakukan dengan fokus utama pada pelestarian warisan budaya kawasan ini. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan citra budaya dari bangunan yang saat ini placeless place menjadi aktif kembali dan memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya citra budaya Pasar Baru yang saat ini terpinggirkan, menjadi pusat aktivitas kultural yang berarti dan relevan.
MARKET HALL YANG INKLUSIF DAN BERKELANJUTAN PADA PASAR GLODOK, JAKARTA BARAT Agung, Andreas Rahmat; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30910

Abstract

Glodok is a Chinatown area that has been established since the 17th century, located in Taman Sari Village, West Jakarta. The name Glodok comes from the word 'Golodog' which means the entrance to the Sunda kingdom before it was controlled by the Dutch. The Glodok area itself is famous as a trading area that sells wholesale goods ranging from electronics, textiles, culinary delights and even traditional Chinese medicine which has been around since the early 18th century. One example is Glodok Market, which is the largest electronics market in Jakarta and known to all Indonesian people as a center for wholesale electronic goods and has become one of the wheels of the economy in Jakarta in its era. This legendary electronics market, which has been around since 2001, is starting to fade to the point of almost closing, especially since the emergence of the e-commerce market and the Covid-19 outbreak. There is also a reason why Glodok Market cannot compete because the function and space program is very homogeneous and there is no new and fresh innovation. The aim of this research is to revive Glodok Market with new innovations and more heterogeneous programs, so that visitor interest can return. It is hoped that qualitative and quantitative approaches, through the Re-design design concept that will be applied to this building, can provide new and innovative program variations. Keywords: heterogeneous; innovation; market Abstrak Glodok merupakan kawasan pecinan yang telah berdiri sejak abad ke 17, yang berada pada Kelurahan Taman Sari, Jakarta Barat. Nama Glodok berasal dari kata ‘Golodog’ yang memiliki arti pintu masuk kerajaan Sunda sebelum dikuasai oleh Belanda. Kawasan Glodok sendiri terkenal sebagai kawasan perdagangan yang menjual barang – barang grosiran mulai dari elektronik, tekstil, kuliner bahkan pengobatan tradisional Chinese yang telah berdiri dan sejak awal abad 18. Salah satu contoh adalah Pasar Glodok, yang merupakan pasar elektronik terbesar yang ada di Jakarta dan dikenal seluruh masyarakat Indonesia sebagai pusat barang grosir elektronik dan telah menjadi salah satu roda perekonomian di Jakarta pada era-nya. Pasar elektronik legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 2001 ini kian mulai meredup hingga nyaris tutup terlebih lagi sejak adanya pasar e-commerce  dan wabah Covid-19. Ada pula alasan mengapa Pasar Glodok tidak dapat bersaing karena fungsi dan program ruang yang sangat homogen serta tidak adanya inovasi yang baru dan segar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali Pasar Glodok dengan inovasi yang baru serta program yang lebih heterogen, sehingga minat pengunjung dapat kembali. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif, melalui konsep perancangan Re-design yang akan diterapkan pada bangunan ini diharapkan dapat memberikan variasi program yang baru dan inovatif.
PENDEKATAN FENGSHUI DALAM DESAIN RUANG PUBLIK UNTUK MENGEMBALIKAN CITRA PASAR BARU, JAKARTA PUSAT Meivoda, Ivy; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30911

Abstract

Historically, Pasar Baru has long been the trading centre of Jakarta.  Being one of trading area at West Jakarta, Pasar Baru became a meeting place of various ethnics and social groups that created a place of acculturation and tradition.  Formerly, Pasar Baru was known as a place where the locals and travellers go to buy textile, clothes, shoes and sport accessories.  Now Pasar Baru is challenged when it has to face the era of globalization and modernization that making it a deserted place.  Competition among modern shopping centres and electronics has pressed the volume of selling at Pasar Baru down while its conventional design of architecture has made this area no more an interesting place to visit, hence being deserted by the customers.  Hence, its popularity is continuing to decrease.  Many shops closed or moved to more popular locations.  That is to say that Pasar Baru has experienced a degradation of trading and cultural value. Such is the phenomenal case of ‘placeless place’, when Pasar Baru being the area with such a magnitude and powerful meaning has now been losing everything.  The objective of this study is to revive the busy and interesting image of Pasar Baru. The method used is the feng shui approach, starting from data analysis, field observations and interviews in order to comprehensively understand the socio-economic dynamics and environmental conditions in Pasar Baru. A holistic approach is taken by combining efforts to preserve cultural heritage and sustainable economic development. It is hoped that the results of this research can become a new strategy in re-developing Pasar Baru's identity as a rich trading center with a rich cultural heritage. Keywords: image; Pasar Baru; placeless place Abstrak Pasar Baru telah lama menjadi pusat perdagangan dan kawasan bersejarah Kota Jakarta. Berfungsi sebagai salah satu kawasan perdagangan di Jakarta Barat, Pasar Baru menjadi titik pertemuan berbagai kelompok etnis dan sosial serta menciptakan ruang pertukaran budaya dan tradisi. Dahulu, Pasar Baru dikenal sebagai tempat penjualan tekstil, pakaian, sepatu, dan perlengkapan olahraga yang menjadi daya tarik bagi pengunjung lokal maupun wisatawan, namun sekarang Pasar Baru menghadapi berbagai tantangan ketika berhadapan dengan era globalisasi dan modernisasi yang menjadikan kawasan tersebut mulai sepi. Persaingan dengan pusat perbelanjaan modern dan perdagangan elektronik telah menekan tingkat penjualan di Pasar Baru, sementara desain arsitektural yang konvensional membuat kawasan ini kurang menarik sehingga popularitas Pasar Baru menurun dan ditinggalkan pengunjung. Banyak toko yang tutup atau berpindah ke lokasi yang lebih diminati. Dengan perkataan lain, Pasar Baru mengalami degradasi perdagangan dan nilai budaya. Fenomena ini merupakan contoh kasus placeless place, yaitu saat ketika Pasar Baru sebagai kawasan yang pernah memiliki daya tarik dan kekuatan makna sekarang kehilangan segalanya.  Tujuan dari penelitian ini adalah mengembalikan citra kawasan Pasar Baru yang ramai dan diminati masyarakat tadi. Metode yang digunakan adalah pendekatan fengshui digunakan mulai dari analisis data, observasi lapangan dan wawancara guna memahami secara komprehensif dinamika sosial ekonomi dan kondisi lingkungan di Pasar Baru. Pendekatan secara holistik dilakukan dengan menggabungkan upaya pelestarian warisan budaya dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi strategi baru dalam pengembangan kembali identitas Pasar Baru sebagai pusat perdagangan yang kaya dengan warisan budaya yang kaya.
PEMAKNAAN KEMBALI MEMORI KOLEKTIF DI SUNDA KELAPA MELALUI OBJEK WISATA SEJARAH DAN EDUKASI DENGAN METODE KONTRAS HARMONIS Tenezu, Felicia; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30912

Abstract

Sunda Kelapa area is the forerunner of the economic driver in Jakarta that has been operating since the 5th century AD and has gone through several eras. More than just being the oldest port in Jakarta, the Sunda Kelapa area is designated as a historical tourist destination to open the knowledge of future generations about the nation's journey. Along with the times, the Sunda Kelapa area has experienced degradation of historical value and collective memory so that it is categorized as a placeless place. This is because the Sunda Kelapa area does not have a 'place' that attracts tourists to explore tourist objects around the area as an issue. The problem caused is the fading of local identity and collective memory, both historically and culturally so that the sense of place attachment to the area is decreasing. The goal is to recall the historical value and collective memory of Sunda Kelapa in an adaptive way without dismissing these values. With the method of harmonious contrast approach, the focus of architectural design emphasizes on creating tension and visual interest as a blend of past and present. The steps used include: 1) data collection, 2) survey, 3) analysis and conclusion. The result of the design is to create a historical and educational tourism environment that is adaptive, interactive, and digitized in an effort to revive historical values and collective memory in the midst of globalization so that the Sunda Kelapa area has a sense of place and identity. Keywords:  degradation; identity; memory; tourism Abstrak Kawasan Sunda Kelapa merupakan cikal bakal penggerak perekonomian di Jakarta yang telah beroperasi sejak abad ke-5 Masehi dan telah melalui beberapa zaman. Lebih dari sekadar sebagai pelabuhan tertua di Jakarta, kawasan Sunda Kelapa ditetapkan sebagai destinasi wisata sejarah untuk membuka pengetahuan generasi mendatang mengenai perjalanan bangsa. Seiring dengan perkembangan zaman, kawasan Sunda Kelapa mengalami degradasi nilai historis dan memori kolektif sehingga dikategorikan sebagai placeless place. Hal ini disebabkan kawasan Sunda Kelapa tidak memiliki ‘place’ yang menarik perhatian wisatawan untuk menjelajahi objek-objek wisata di sekitar kawasan sebagai sebuah isu. Masalah yang ditimbulkan adalah pudarnya identitas lokal dan memori kolektif, baik secara sejarah dan budaya sehingga rasa place attachment pada kawasan semakin menurun. Tujuannya untuk mengingatkan kembali nilai historis dan memori kolektif Sunda Kelapa dengan cara adaptif tanpa menepikan nilai-nilai tersebut. Dengan metode pendekatan kontras harmonis, fokus desain arsitektur menekankan pada terciptanya ketegangan dan visual interest sebagai perpaduan masa lalu dan masa kini. Langkah-langkah yang digunakan antara lain: 1) pengumpulan data, 2) survey, 3) analisis dan kesimpulan. Hasil perancangan untuk menciptakan lingkungan wisata sejarah dan edukasi yang adaptif, interaktif, dan terdigitalisasi dalam upaya meningatkan kembali nilai historis dan memori kolektif di tengah lajunya globalisasi sehingga kawasan Sunda Kelapa memiliki sense of place dan identitas.
PASAR RAWA BELONG SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN DAN WADAH AKTIVITAS MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN KEBUDAYAAN BETAWI Hartanto, Kelvin; Winata, Tony
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30913

Abstract

Ayub Rawa Belong Market is located in Ayub Road, North Sukabumi district, Kebon Orange district. It is a market of promotion and marketing of various needs such as foodstuffs, culinary trade and shops. However, there are still many problems emerging in this market that tend to contradict the history of Rawa Belong Village. In the beginning, Rawa Belong was identical with the sale of its flowers, which is now expanding with the presence of the Bunga Bunga Belong which is located on the Sulaiman Street and sells various kinds of flowers. This village is also supposed to advance its culture and traditions. Besides, it is seen from the physical buildings and spaces used as trading locations, which are now far from ideal. Furthermore, since the building functions only in the morning and there is no activity during the day, the building facilities are not identical to the market in the area where the market is open for 24 hours, which leaves the site abandoned and has no activity. Therefore, the Job Market in Rawa Belong requires mature planning and planning to produce an ideal design. The market must also express its identity as a representation of Southeast Asian culture. It supports the efforts of the local government to revive this market. During the planning process, literature reviews and comparative studies were conducted to determine the most appropriate market space programmes for the international service scale. The method of everydayness and localities which studies the history, culture, and culture of Betawi and Rawa Belong. In addition, consider the context values of places that shape market characteristics. This process creates a market with educational, entertainment and commercial facilities. Keywords:  Betawi; Cultural Cente;r Flower Market; Placelessness; Sense Of Place Abstrak Pasar Ayub Rawa Belong terletak di Jalan Ayub, Kecamatan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk. Merupakan pasar promosi dan pemasaran berbagai kebutuhan seperti bahan makanan, perdagangan kuliner dan warung. Namun masih banyak permasalahan yang muncul di pasar ini yang cenderung bertentangan dengan sejarah Kampung Rawa Belong. Pada awalnya Kampung Rawa Belong identik dengan penjualan bunganya, yang sekarang ini berkembang dengan adanya Pasar Bunga Rawa Belong yang terletak di Jalan Sulaiman dan menjual berbagai jenis bunga. Kampung ini juga seharusnya mengedepankan budaya dan tradisinya. Selain itu, terlihat dari fisik bangunan dan ruang yang digunakan sebagai lokasi perdagangan, yang kini jauh dari idealnya. Selain itu, karena fungsi bangunan hanya beroperasi pada pagi hari dan tidak ada aktivitas pada siang hari, maka fasilitas bangunan tersebut belum identik dengan pasar yang berada pada daerah tersebut dimana pasar pada daerah tersebut buka selama 24  jam. Hal tersebut menyebabkan tempat itu terbengkalai dan tidak memiliki aktivitas. Oleh karena itu, Pasar Ayub di Rawa Belong memerlukan perencanaan dan perancangan yang matang untuk menghasilkan desain yang ideal. Pasar juga harus mengekspresikan identitasnya sebagai representasi budaya Asia Tenggara. Hal ini mendukung upaya pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali pasar ini. Selama proses perencanaan, dilakukan tinjauan literatur dan studi komparatif untuk menentukan program ruang pasar yang paling tepat untuk skala layanan internasional. Untuk itu digunakan metode keseharian dan lokalitas yang mengkaji sejarah, kebudayaan, dan kebudayaan Betawi dan Rawa Belong. Selain itu, pertimbangkan nilai kontekstual tempat yang membentuk karakteristik pasar. Proses ini menciptakan pasar dengan fasilitas pendidikan, hiburan dan komersial.
MENINGKATKAN CITRA DAERAH LITTLE TOKYO-BLOK M UNTUK MASA DEPAN August, Hoky Kristian; Winata, Tony
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30914

Abstract

Blok Blok M is one of the commercial areas in the South Jakarta area which has quite a big influence on the area. One of the famous places in the Blok M area is Little Tokyo Blok M. This area was previously an area built for Japanese people who worked in the Sudirman area. With regional characteristics that have a Japanese cultural concept which is expected to provide comfort for the Japanese people. However, this area is now starting to be abandoned by Japanese people. This can happen because the Japanese people, who are the main users of this area, are starting to move from Blok M to other places such as Karawaci. This has caused the Little Tokyo Blok M area to begin to lack visitors. Meanwhile, other areas in the Blok M area are still busy with visitors, but the majority of visitors are teenagers. Therefore, so that the Little Tokyo Blok M area can remain busy with visitors, changes are needed in this area. Implementing a new concept by no longer relying on Japanese users as the main target but starting to change to young people. Researchers believe that remodeling this area is one of the right methods. By providing new functions to areas such as shopping centers, cafes, clubs, karaoke and sports areas to attract the interest of young people such as Gen Z who were born from 1997 to 2012. In this way, it is hoped that this new function can create a new life that can return Little Tokyo Blok M to being busy with visitors again. Keywords:  Little Tokyo Blok M; Place; Placeless; Teenager Abstrak Ditulis Blok M merupakan salah satu kawasan komersil pada daerah Jakarta Selatan yang cukup berpengaruh besar pada daerah tersebut. Salah satu tempat yang terkenal pada Kawasan Blok M adalah Little Tokyo Blok M. Kawasan ini dulu merupakan kawasan yang di bangun untuk orang-orang Jepang yang bekerja pada daerah Sudirman. Dengan ciri khas kawasan yang memiliki konsep kebudayaan Jepang yang diharapkan dapat memberi kenyamanan bagi para orang-orang Jepang tersebut. Namun kawasan ini sekarang mulai ditinggalkan oleh orang-orang Jepang hal ini dapat terjadi karena, orang-orang Jepang yang merupakan user utama kawasan ini mulai berpindah dari Blok M ke tempat lain seperti Karawaci. Hal ini menyebabkan kawasan Little Tokyo Blok M mulai sepi pengunjung. Sedangkan kawasan lain pada daerah Blok M masih ramai dikunjungi namun dengan mayoritas pengunjung adalah remaja. Oleh karena itu agar kawasan Little Tokyo Blok M juga dapat tetap ramai dikunjungi diperlukan perubahan pada kawasan ini. Menerapkan konsep baru dengan tidak berpatokan pada user orang-orang Jepang lagi sebagai target utama namun mulai berganti menjadi anak-anak muda. Peneliti meyakini dengan merombak ulang kawasan ini adalah salah satu metode yang tepat. Dengan memberikan fungsi baru pada kawasan seperti shopping center, cafe, Club, Karaoke dan area olahraga untuk menarik minat kaum muda seperti Gen Z yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 . Dengan demikian diharapkan fungsi baru ini dapat menciptakan kehidupan baru yang dapat mengembalikan Little Tokyo Blok M kembali ramai dikunjungi.
DESAIN CREATIVE SPACE UNTUK MENGHIDUPKAN KAWASAN PASAR SENEN BLOK 6 Wakeisha, Teresa Carmelia; Winata, Tony
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30915

Abstract

Senen Market is in Central Jakarta, DKI Jakarta. Pasar Senen Block 6 is a part of Pasar Senen, located close to the Senen Bus Terminal. However, Senen Block 6 Market was closed due to delays in Anies Baswedan's revitalization plan in 2021 due to the Covid-19 pandemic. This revitalization plan provides a solution for traders occupying TPS (Temporary Shelters). Still, it has also resulted in their income over the last 5 years decreasing due to the lack of parking space for buyers. The condition of the TPS Pasar Senen Block 6 building is also poorly maintained, ranging from unsafe stairs to paths for visitors too narrow due to limited land. Senen Block 6 Market is the main target in this project. Over time, Pasar Senen Blok 6 changed significantly in physical condition and functionality. This project aims to revive Pasar Senen Blok 6 which had failed to be revitalized into a creative space with the main program being workshops and rental offices to help old traders have a suitable place to sell and visitors can express their creativity. Keywords: Creative Center; Revitalization; Stalled Abstrak Pasar Senen merupakan di Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Pasar Senen Blok 6 merupakan salah satu bagian dari Pasar Senen, berada dekat dengan Terminal Bus Senen. Namun, Pasar Senen Blok 6 mangkrak dikarenakan tertundanya rencana revitalisasi oleh Anies Baswedan pada tahun 2021 akibat pandemi Covid-19. Perencanaan revitalisasi tersebut memberikan solusi untuk para pedagang menempati TPS (Tempat Penampungan Sementara), namun juga mengakibatkan pendapatan mereka selama 5 tahun terakhir semakin menurun karena tidak adanya lahan parkir untuk para pembeli. Kondisi bangunan TPS Pasar Senen Blok 6 juga kurang terawat, mulai dari tangga yang tidak aman untuk digunakan hingga jalur untuk pengunjung yang terlalu sempit akibat terbatasnya lahan. Pasar Senen Blok 6 menjadi target utama dalam proyek ini. Seiring berjalannya waktu perubahan pada Pasar Senen Blok 6 terjadi secara signifikan dalam kondisi fisik, dan fungsionalitas. Tujuan dari proyek ini adalah menghidupkan kembali Pasar Senen Blok 6 yang sempat gagal direvitalisasi menjadi creative space dengan program utamanya berupa workshop dan kantor sewa untuk membantu para pedagang lama memiliki tempat yang layak untuk berjualan dan para pengunjung dapat mengeluarkan kreativitasnya.
PENERAPAN KONSEP TERAS PADA RUANG KOMUNITAS SEBAGAI SRATEGI MENGHIDUPKAN KEMBALI MAKNA TEMPAT DI LITTLE TOKYO BLOK M Immanuel, Jonathan; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30916

Abstract

Little Tokyo, which is located in the Blok M area, is one of the entertainment venues that is popular with young people in Jakarta. This area has a historical background as a place for Japanese people in Jakarta. The Japanese community has a culture of spending time at entertainment venues after a long day of work. This culture was carried over by Japanese people in Jakarta and was the beginning of why Little Tokyo was formed. Initially, this area was dominated by culinary places, bars and karaoke, offices, and others. However, as time goes by, there is a decrease in the number of native Japanese people who are still in Jakarta, so that Little Tokyo increasingly loses its meaning as a place. The aim of the research is to explore design approaches that can revive Little Tokyo as a place or forum for a community of Japanese culture lovers. The method used is a qualitative descriptive method by tracing the influence of Japanese culture in the Little Tokyo area through observation, starting from physical elements such as buildings to non-physical elements such as activities. This research resulted in the application of the terrace concept in Little Tokyo. The terrace concept can be related to the location of the site as a gate or entrance to the Little Tokyo area. The terrace concept also creates open space on several connected floors. The terrace concept is related to the Japanese cultural activity program and has been accepted by Indonesian culture. Keywords:  community; Japan; terrace Abstrak Little Tokyo yang terletak di Kawasan Blok M merupakan salah satu tempat hiburan yang digemari oleh kalangan anak muda di Jakarta. Kawasan ini memiliki latar belakang sejarah sebagai tempat bagi orang-orang Jepang di Jakarta. Komunitas Jepang tersebut memiliki budaya untuk menghabiskan waktu ke tempat hiburan setelah seharian bekerja. Budaya tersebut terbawa oleh orang Jepang yang ada Jakarta dan menjadi awal mengapa Little Tokyo ini terbentuk. Awalnya, kawasan ini didominasi oleh tempat kuliner, bar dan karaoke, kantor, dan lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi penurunan jumlah orang asli Jepang yang masih berada di Jakarta sehingga Little Tokyo semakin kehilangan makna tempatnya. Tujuan penelitian adalah untuk menelusuri pendekatan perancangan yang dapat membangkitkan kembali Little Tokyo sebagai tempat atau wadah bagi komunitas pecinta budaya Jepang. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif kualitatif dengan melakukan penelusuran terhadap pengaruh budaya Jepang di kawasan Little Tokyo melalui observasi, mulai dari unsur fisik seperti bangunan sampai pada nonfisik seperti kegiatan. Penelitian ini menghasilkan penerapan konsep teras di Little Tokyo. Konsep teras dapat berhubungan dengan letak site sebagai Gate atau pintu masuk kawasan Little Tokyo. Konsep teras juga menciptakan ruang terbuka di beberapa lantai yang saling terkoneksi. Konsep teras berhubungan terhadap program aktivitas budaya orang Jepang dan sudah diterima oleh budaya orang Indonesia.
PENERAPAN METODE DISPROGRAMMING DALAM PENINGKATAN IDENTITAS DAN PERKEMBANGAN HERITAGE TOURISM PADA GALANGAN VOC Salsabila, Aurellia Ghasani; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30918

Abstract

Kawasan heritage merupakan sebuah kawasan dengan peninggalan sejarah yang perlu dilestarikan keberadaannya. Sunda Kelapa Kota Tua dikenal sebagai kawasan sejarah yang menjadikanya salah satu destinasi wisata bagi turis lokal hingga mancanegara. Sebagai kota metropolitan, Jakarta tak luput dengan kehidupan modernitas. Akibatnya, pada kawasan sejarah ini didapati sebuah area yang mengalami degradasi akibat paparan fenomena modernitas. Area tersebut adalah komplek bangunan Gedung Galangan VOC. Galangan VOC merupakan salah satu bangunan tua peninggalan era kolonial Belanda dengan begitu banyak cerita sejarah didalamnya. Kini bangunan Gedung GalanganVOC termasuk dalam golongan bangunan bersejarah dikawasan cagar budaya Kota Tua. Degradasi yang terjadi pada area Gedung Galangan VOC ini berupa degradasi fisik dan juga fungsi sehingga membuatnya kurang merespon dan tidak menyesuaikan secara konteks. Menanggapi permasalahan degradasi tersebut, dilakukan upaya perumusan solusi arsitektural dalam mengatasi isu-isu yang menghambat perkembangan Galangan VOC sebagai wisata sejarah dalam bentuk cagar budaya, dengan pendekatan metode Disprogramming guna menemukan peluang yang ada, diharapan kan mampu membantu menghidupkan kembali, menjaga keberadaan serta membantu melestarikan bangunan Gedung Galangan VOC ini.  Temuan penelitian ini diharapkan mampu menjadi solusi yang tepat untuk menjaga keaslian Gedung Galangan VOC ini dan menjadi daya tarik yang lebih bagi wisatawan.