cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN KONSEP KONTEKSTUAL PADA MALL METROPOLIS TOWN SQUARE DALAM BENTUK PUSAT OLAHRAGA DI KOTA MODERN Simarmata, Stella Catherina Tamelan Barita; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30919

Abstract

Marked by the closure of retailers and facilities such as cinemas, department stores, and food courts¸ making Metropolis Town Square Mall one of the shopping centers in Jabodetabek that experienced placelessness. The existence of a pandemic has also exacerbated the existing conditions, but after the pandemic has ended, the condition of the mall has not improved. The factors that cause placelessness are intense competition with other shopping centers, the development of e-commerce that is dominating, the lack of difference with other shopping centers, and the existence of vacant land on the site that is not used effectively. So that the impact obtained is that the Metropolis Town Square Mall has decreased attractiveness and visitors who come and resulted in many facilities in the mall that are no longer functioning or closed. Because of this, the research is expected to provide an intervention to revive, maximize the potential of the site and make the location back into place. Strategies that can be implemented are analyzing the target users around the site, using architectural approaches and methods, and promoting sustainability so that the building can last for a long time. Through the contextual architecture approach, the project produces a sports center by utilizing vacant land on the site to function more effectively. The resulting design proposal is expected to make the Metropolis Town Square Mall a place again. Keywords:  contextual; mall; placelessness; sports center Abstrak Ditandai dengan ditutupnya retail-retail dan fasilitas seperti bioskop, department store, hingga foodcourt membuat Mall Metropolis Town Square menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Jabodetabek yang mengalami placelessness. Adanya pandemi pun memperparah kondisi yang ada, namun setelah pandemi sudah berakhir kondisi mall pun belum membaik. Faktor-faktor penyebab placelessness tersebut berupa persaingan yang ketat dengan pusat perbelanjaan lain, perkembangan e-commerce yang sedang mendominasi, kurangnya perbedaan dengan pusat perbelanjaan yang lain, serta adanya lahan kosong di tapak yang tidak difungsikan secara efektif. Sehingga dampak yang didapat yaitu Mall Metropolis Town Square penurunan daya tarik serta pengunjung yang datang dan mengakibatkan banyak fasilitas dalam mall yang tidak lagi difungsikan atau tutup. Oleh karena ini, penelitian diharapkan dapat memberikan sebuah intervensi untuk menghidupkan kembali, memaksimalkan potensi yang dimiliki tapak dan menjadikan lokasi tersebut kembali menjadi place. Strategi yang dapat diimplementasikan yaitu menganalisis sasaran pengguna di sekitar tapak, menggunakan pendekatan dan metode arsitektur, serta mengedepankan keberlanjutan agar bangunan dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Melalui pendekatan arsitektur kontekstual menghasilkan proyek berupa pusat olahraga dengan memanfaatkan lahan kosong di tapak untuk difungsikan lebih efektif. Usulan perancangan yang dihasilkan tersebut diharapkan dapat menjadikan Mall Metropolis Town Square kembali menjadi place.  
PENGEMBANGAN WISATA BUDAYA DI SETU BABAKAN DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING: MENINGKATKAN DAYA TARIK WISATA Fitri, Namira; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30920

Abstract

The Betawi people, the indigenous people of Jakarta, have rich artistic heritage such as dance, culinary, and music. Over time, however, many Betawi art traditions were forgotten. The DKI Jakarta government developed the Setu Babakan Cultural Village to preserve and improve cultural tourism. Although initially successful in attracting tourists, Setu Babakan will experience a significant decrease in visits during the COVID-19 pandemic, influenced by the lack of physical and non-physical attraction as well as the cessation of art performances. This study aims to restore Setu Babakan's tourist attraction with the Placemaking approach and the application of interlock program. This study identified the factors that led to the degradation of Setu Babakan's tourist attraction, which strategized with placemaking principles and interlock program to create a cultural space integrated with existing tourism in Setu Babakan. Qualitative descriptive methods are conducted through literature studies, support theory studies, surveys and documentation. Through the results of the analysis, the programs found were interactive galleries, workshops, art training and informal schools using the concept of interlock program can overcome the degradation of tourist attraction and provide opportunities for visitors to travel to the existing Setu Babakan tourism so that tourism in Setu Babakan can become a tourist attraction again. To increase the maximum tourist attraction in Setu Babakan, further evaluation of the effectiveness of the proposed programs is needed. A survey on the satisfaction of visitors and the local community after new programs is urgently needed to receive input and continue to improve the quality of tourism in Setu Babakan. Keywords: interlock program; placemaking; Setu Babakan Abstrak Suku Betawi, suku asli Jakarta, memiliki warisan seni yang kaya seperti tari, kuliner, dan musik. Namun, seiring waktu, banyak tradisi seni Betawi terlupakan. Pemerintah DKI Jakarta mengembangkan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan untuk melestarikan dan meningkatkan pariwisata budaya. Meskipun awalnya sukses menarik wisatawan, Setu Babakan mengalami penurunan kunjungan signifikan saat pandemi COVID-19, dipengaruhi oleh minimnya daya tarik fisik dan non-fisik serta penghentian dari pertunjukan seni. Studi ini bertujuan untuk mengembalikan daya tarik wisata Setu Babakan dengan pendekatan Placemaking dan penerapan interlock program. Studi ini mengidentifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya degradasi daya tarik wisata Setu Babakan yang distrategikan dengan prinsip placemaking dan interlock program untuk menciptakan ruang budaya yang berintegrasi dengan wisata-wisata yang sudah ada di Setu Babakan. Metode desktiptif kualitatif dilakukan melalui studi literatur, kajian teori pendukung, survey dan dokumentasi. Melalui hasil analisis, program yang ditemukan berupa galeri interaktif, workshop, pelatihan seni dan sekolah informal dengan menggunakan konsep interlock program dapat mengatasi dari degradasi daya tarik wisata dan memberikan peluang bagi pengunjung untuk berwisata ke wisata Setu Babakan yang sudah ada sehingga wisata di Setu Babakan dapat kembali menjadi daya tarik wisata. Untuk meningkatkan daya tarik wisata di Setu Babakan secara maksimal, diperlukannya evaluasi lebih lanjut dari keefktifan program-program yang diusulkan. Survei kepuasan pengunjung dan masyarakat lokal setelah adanya program-program baru sangat diperlukan untuk mendapatkan masukan dan terus meningkatkan kualitas wisata di Setu Babakan. 
MERAJUT BUDAYA DAN PERDAGANGAN PECINAN GLODOK MELALUI PENDEKATAN PLACEMAKING Therik, Andrea Georgina; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30921

Abstract

Pecinan Glodok is the largest area in Jakarta with a rich Chinese cultural heritage, predominantly inhabited by ethnic Chinese descendants. Currently, the identity of Pecinan Glodok has faded over time. In the past, Glodok was known as a center of commerce and socio-cultural activities. However, today, Glodok's trade survives in a shabby and disorganized state, overshadowing the cultural activities that could thrive. This study aims to restore Pecinan Glodok's identity through a placemaking approach and traditional Chinese architectural concepts, particularly the principles of symmetry and balance. The study identifies factors contributing to the "Placeless Place" in Pecinan Glodok and concludes that integrating placemaking with traditional architectural principles can effectively revive Pecinan Glodok's identity, create an environment that supports social and cultural activities, and strengthen the sense of connection and place identity that has faded. Qualitative data collection methods include literature studies, supporting theoretical reviews, surveys, and documentation. The analysis found that with programs such as a Pecinan food market, cultural attractions, and improved public facilities using the concepts of symmetry and balance, the area's cultural identity can be restored, enhancing Pecinan Glodok's attractiveness to revive the local economy and help culture become visible and thrive. To optimize the improvement of Pecinan Glodok, further research is needed on the socio-economic impact of relocating street vendors, evaluation of area management, development of public spaces that support local culture, and surveys of visitor and business satisfaction. Keywords:  Glodok; placeless; place; placemaking Abstrak Pecinan Glodok merupakan kawasan dengan warisan budaya Tionghoa yang kaya dan terbesar di Jakarta dengan mayoritas penghuninya adalah warga dengan keturunan etnis Tionghoa. Melihat Pecinan Glodok saat ini, Identitasnya telah memudar seiring dengan berjalannya waktu. Dahulu, Glodok dikenal dengan pusat perdagangan serta aktivitas sosial budayanya. Namun, Saat ini perdagangan Glodok hanya bertahan seadanya dengan kondisi kumuh dan semrawut sehingga menutupi aktivitas budaya yang seharusnya dapat berkembang.  Studi ini memiliki tujuan untuk mengembalikan identitas Pecinan Glodok melalui pendekatan  Placemaking dan konsep arsitektur tradisional Cina, khususnya prinsip simetri dan keseimbangan. Studi ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap "Placeless Place" yang terjadi pada pecinan Glodok dan menyimpulkan bahwa perpaduan Placemaking dengan prinsip-prinsip arsitektur tradisional dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk menghidupkan kembali identitas Pecinan Glodok, menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas sosial dan budaya, serta memperkuat rasa keterhubungan dan identitas tempat yang kini telah memudar. Metode pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui studi literatur, kajian teori yang mendukung, survei dan dokumentasi. Melalui analisis, Ditemukan bahwa dengan program berupa pecinan food market, atraktor budaya, dan peningkatan fasilitas publik menggunakan konsep simetri dan keseimbangan dapat mengembalikan identitas budaya dan meningkatkan daya tarik kawasan agar dapat membangkitkan ekonomi lokal pecinan Glodok dan membantu budaya untuk dapat terlihat dan berkembang. Untuk mengoptimalkan pembenahan Pecinan Glodok, diperlukan penelitian lanjutan tentang dampak sosial-ekonomi relokasi pedagang kaki lima, evaluasi pengelolaan kawasan, pengembangan ruang publik yang mendukung budaya lokal, serta survei kepuasan pengunjung dan pelaku usaha.
MENGHIDUPKAN KEMBALI IDENTITAS KELURAHAN KEBON JERUK MELALUI STRATEGI PLACEMAKING Wong, Cellina; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30922

Abstract

Identity is an important factor in the meaning of a place. Identity here is formed from the authentic elements of a place that differentiate it from others. However, over time, a place can become placeless due to physical, economic or social degradation, which is known as a placeless place. Kebon Jeruk is one of them that experiences the placeless place phenomenon. It is named Kebon Jeruk because of its identity as the largest citrus fruit producing area since Dutch colonialism. It started with the implementation of a forced planting system policy which in this area focused on growing oranges. Shortly after independence, this area still maintained its identity as an orange plantation. The farmers grew crops in their yards without any coercion from the Dutch and then sold the harvests to the market, and some for their own consumption. This is a symbolic bond between nature and humans living side by side and complementing each other. However, this area has failed to adapt to an era where the identity of the name Kebon Jeruk is now not reflected in an area that is densely populated with residential areas and offices. Therefore, an architectural approach is needed with the aim of restoring the area's identity both in terms of culture and history, which can build a sense of place attachment among residents so that it has a long-term impact. With the programming method, it combines two main programs in the form of urban farming and edutainment into a new program, namely the agrotourism program. It is hoped that it can provide awareness of the importance of preserving the identity of Kebon Jeruk, as oranges have become a flavoring medium to build a sense of place attachment and have one's memory. Keywords: Edutainment;  Kebon Jeruk; Urban Farming; Placeless Place; Placemaking Abstrak Identitas menjadi faktor penting akan pemaknaan place dari suatu tempat. Identitas disini terbentuk dari unsur otentik suatu tempat yang membedakannya dengan yang lain. Namun seiring berjalannya waktu, place dapat berubah menjadi placeless dikarenakan degradasi dari segi fisik, ekonomi, atau sosial yang dikenal sebagai placeless place. Kebon Jeruk merupakan salah satunya yang mengalami fenomena placeless place. Dinamakan Kebon Jeruk karena identitasnya sebagai kawasan penghasil buah jeruk terbesar sejak penjajahan Belanda. Berawal dari diberlakukan kebijakan sistem tanam paksa yang pada kawasan ini berfokus menanam jeruk. Sesaat setelah kemerdekaan, kawasan ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai perkebunan jeruk. Para petani bercocok tanam di halaman rumahnya tanpa adanya paksaan dari Belanda yang kemudian hasilnya dijual ke pasar, dan sebagian untuk konsumsi sendiri. Hal ini menjadi ikatan simbolis antara alam dan manusia hidup berdampingan saling melengkapi. Akan tetapi, kawasan ini gagal beradaptasi dengan zaman dimana identitas dari nama Kebon Jeruk sekarang tidak tercermin pada kawasan yang padat pemukiman, dan perkantoran. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan arsitektural dengan tujuan mengembalikan identitas kawasan baik dari segi budaya, dan sejarah terkandung yang dapat membangun rasa place attachment para warga sehingga berdampak secara jangka panjang. Dengan metode disprogramming menggabungkan dua program utama berupa urban farming dan edutainment menjadi suatu program baru, yakni program agrowisata. Diharapkan dapat memberikan kesadaran akan pentingnya melestarikan identitas Kebon Jeruk sebagai jeruk menjadi media perasa untuk membangun rasa place attacment dari memori seseorang.
REVITALISASI VIHARA AMURVA BHUMI DENGAN PENDEKATAN LIVABILITY SPACE Larasati, Marcella Dwiyanda; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30923

Abstract

Jatinegara is known as one of the areas with a Chinatown environment in Jakarta, located on Jalan Pasar Lama as a trading area. Jatinegara has traditional, socio-economic and historical values ​​with high architectural value. This neighborhood has a history of Chinese culture and bustling trade, but over time, Chinatown on Jalan Pasar Lama has begun to disappear and trade in this area has declined. With so many old buildings that are poorly maintained, the vitality of this neighborhood is decreasing and the characteristic elements of Chinatown and the trade itself are also fading. However, one ethnic Chinese heritage was still found that was still standing and well-maintained in an area that had lost its character, namely the Amurva Bhumi Vihara, which has stood for 326 years, and is a point of interest on Jalan Pasar Lama. Therefore, several updates will be carried out to improve the function of the area by revitalizing the Amurva Bhumi Vihara with the aim of increasing the vitality of the area with a Buddhist religious approach. This research uses a rationalistic method using livability space design methods, namely in terms of activities, accessibility, security and also environmental quality by collecting data through observing the surrounding environment. Livability space is the definition of a comfortable area by making public space environmentally friendly with the development of the Buddhist religious sector and educational tourism. Keywords:  Buddha; chinatown; livability; revitalization; Vihara Abstrak Jatinegara dikenal sebagai salah satu kawasan dengan lingkungan pecinan di Jakarta, terletak di Jalan Pasar Lama sebagai kawasan perdagangan. Jatinegara memiliki nilai tradisi, sosial ekonomi, dan juga sejarah dengan nilai arsitektur yang tinggi. Lingkungan ini memiliki sejarah akan kebudayaan Cina dan perdagangan yang ramai, namun seiring berkembangnya zaman, pecinan pada Jalan Pasar Lama sudah mulai hilang dan perdagangan di kawasan ini sudah menurun. Dengan banyaknya bangunan tua yang kurang terawat, vitalitas pada lingkungan ini pun menurun dan unsur ciri khas pecinan dan perdagangan itu sendiri juga memudar. Namun masih ditemukan satu peninggalan Etnis Tionghoa yang masih berdiri dan terawat di kawasan yang kehilangan karakternya, yaitu Vihara Amurva Bhumi yang sudah berdiri selama 326 tahun, menjadi point of interest dari Jalan Pasar Lama. Maka dari itu, akan dilakukan beberapa pembaruan sebagai peningkatan fungsi kawasan dengan melakukan revitalisasi Vihara Amurva Bhumi sebagai tujuan meningkatkan vitalitas kawasan dengan pendekatan keagamaan buddha. Penelitian ini menggunakan metode rasionalistik dengan menggunakan metode perancangan dari livability space yaitu berupa segi aktivitas, aksesibilitas, keamanan, dan juga kualitas lingkungan dengan mengumpulkan data melalui observasi lingkungan sekitar. Livability space merupakan definisi dari sebuah kawasan yang nyaman dengan menjadikan ruang publik yang ramah lingkungan dengan adanya pengembangan sektor keagamaan Buddha dan wisata edukasi.
REDEVELOPMENT PASAR SENI ANCOL DENGAN PENERAPAN ADAPTIVE ARCHITECTURE Firdauzi, Fairuz Hayya; Lianto, Fermanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30925

Abstract

Ancol Art Market is the largest and oldest art market in Jakarta. The existence of the Ancol Art Market used to be a gathering place for artists and art lovers. Initially, the Art Market was built semi-permanently and because at that time, people had a high interest in the Ancol Art Market, Taman Impian Jaya Ancol decided to make the Art Market a permanent tourist attraction in Ancol.  However, with globalization and technological advances, the Ancol Art Market, which has not been able to keep up with these developments, has lost its identity and appeal. 2015 was the time when they started to lack a lot of buyers and visitors at the Ancol Art Market. Many artists and craftsmen only rely on customers for their income.  Therefore, this project aims to restore the identity of the Ancol Art Market and make the Ancol Art Market a new forum for young artists as well as give a new face to the Ancol Art Market without losing the old image and character of this art market. The method used in this research is content analysis with a design method using the adaptive architecture concept. The application of this method is to accommodate changes in the function of the art market over time and as technology develops. Ancol Art Market is designed in such a way that it can easily be repurposed from a traditional art exhibition venue into a space for modern art events, such as digital exhibitions, interactive art installations, or multimedia performances. Keywords:  Art; Innovation; Market; Modern; Technology Abstrak Pasar Seni Ancol merupakan pasar seni terbesar dan tertua di Jakarta. Keberadaan Pasar Seni Ancol dahulu adalah sebagai tempat berkumpulnya para seniman dan penikmat seni. Awal mulanya Pasar Seni ini dibangun semi permanen dan karena pada masa itu, masyarakat memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap Pasar Seni Ancol, maka pihak Taman Impian Jaya Ancol memutuskan untuk membuat Pasar Seni sebagai objek wisata permanen di Ancol.  Namun, dengan adanya globalisasi dan kemajuan teknologi membuat Pasar Seni Ancol yang tidak bisa mengikuti perkembangan tersebut kehilangan identitas dan daya tariknya. Tahun 2015 adalah masa dimana mereka mulai kekurangan banyak pembeli dan juga pengunjung di   Pasar Seni Ancol. Banyak dari para seniman dan perajin yang hanya mengandalkan pelanggan sebagai pendapatan mereka.  Oleh karena itu, tujuan dari proyek ini adalah untuk mengembalikan identitas Pasar Seni Ancol dan menjadikan Pasar Seni Ancol sebagai wadah baru bagi seniman muda serta memberikan wajah baru bagi Pasar Seni Ancol tanpa menghilangkan citra dan karakter lama dari pasar seni ini. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah content analysis dengan metode perancangan menggunakan konsep adaptive architecture. Penerapan metode ini adalah untuk mengakomodasi perubahan fungsi pasar seni seiring waktu dan teknologi yang berkembang. Pasar Seni Ancol dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah diubah fungsinya dari tempat pameran seni tradisional menjadi ruang untuk acara seni modern, seperti pameran digital, instalasi seni interaktif, atau performa multimedia.
GALANGAN VOC: MENGHIDUPKAN KEMBALI CITRA HISTORIS PESISIR MELALUI SPATIAL ADAPTIVE REUSE Christoper, Raymond; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30926

Abstract

Modernization plays a crucial role in spreading trends and dynamic needs. A location inability to adapt with modernity can result in degradation leading to placelessness, including historic buildings. Galangan VOC is known as one of the historic building on the coast of Jakarta. Since it’s establishment, the VOC Shipyard has undergone several program changes, from shipyards to restaurants. However, due to accessibility issues and program lagging behind to modern needs, the building has become bankrupt and abandoned.  These factors make accessibility and program adaptability the main causes of placelessness. The research approach uses qualitative descriptive and phenomenological methods with a spatial adaptive reuse as design approach, which is adaptive and changeable, while still reusing existing. The research findings indicate that the restaurant is not suitable for modern needs and context, and expansion of the area towads Tongkol Street has the potential to be attractor and main access to heritage site. Therefore, the research findings suggest the need for programs that align with modern needs and context, with the main entrance facing the cultural heritage site. These programs include the Shipyard program, aimed at reviving and preserving the coastal character, and the Modernity program, as a response of adaptivity to  trendy and modern program needs, while still considering the local community. Keywords: adaptive; connector; modernity; reuse; shipyard Abstrak Modernisasi memiliki peran krusial dalam penyebaran tren dan kebutuhan dinamis. Ketidakmampuan suatu lokasi untuk beradaptasi terhadap modernisasi dapat mengakibatkan degradasi yang mengarah pada placeless, tak terkecuali pada bangunan bersejarah. Galangan VOC dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah di pesisir Jakarta. Sejak berdiri, Galangan VOC telah mengalami sejumlah perubahan program, mulai dari perkapalan hingga restoran. Namun, sebagai akibat dari masalah aksesibilitas, serta ketertinggalan program pada kebutuhan modern membuat bangunan ini bangkrut dan akhirnya ditinggalkan. Faktor tersebut menjadikan aksesibilitas dan ketidakmampuan adaptasi program sebagai permasalahan utama penyebab placeless place pada Galangan VOC. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dan fenomenologi dengan pendekatan desain yaitu spatial adaptive reuse yang adaptif dan dapat berubah sesuai kebutuhan, serta tetap menggunakan kembali bangunan eksisting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program restoran kurang sesuai dengan kebutuhan modern dan konteks, serta perluasan area menuju jalan tongkol berpotensi sebagai attractor dan akses utama menuju cagar budaya. Sehingga, temuan penelitian berupa kebutuhan program yang selaras dengan kebutuhan modern dan konteks, serta akses masuk utama akan berseberangan dengan cagar budaya. Program tersebut yaitu program Shipyard, dalam mengangkat, menghidupkan, dan menjaga karakter pesisir kembali, serta program Modernity sebagai respon terhadap kebutuhan program yang adaptif terhadap tren dan modern, dengan tetap mengacu pada komunitas sekitar.
PUSAT REKREASI ANTARGENERASI SEBAGAI SOLUSI UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN KAMPUNG VIETNAM DI JAKARTA TIMUR Goethe, Keren Happuch; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30927

Abstract

The increasing population growth in East Jakarta is in line with the phenomenon of environmental degradation in Vietnamese villages. As the age of the population increases, their health condition decreases, because the needs received by the population are not appropriate. Vietnam Village itself is one of the long-neglected areas that has a history of being a place of refuge for Vietnamese citizens during the war with America in 1977. In 1980, the government began building a nursing home in this village, but the residents of the nursing home in this village had to be moved due to flooding in 2002. Until now, the condition of Vietnam Village is still abandoned, and there are no residents living in it. The research method used in this writing is a descriptive and qualitative method by analyzing existing data, observing, and conducting documentation studies. Through the application of elements to improve a person's quality of life both physically, socially, and emotionally, it is hoped that we can create a program with facilities that can support the health of users. This is in the form of a recreation center that can improve the quality of life for both children and the elderly. Where various generations can carry out activities or activities to improve health and quality of life. So that seniors remain active and feel needed, while children and adults can learn respect and tolerance, as well as other useful skills. Keywords: health; intergenerational; recreation; vietnamese village Abstrak Peningkatan pertumbuhan penduduk yang terjadi di Jakarta Timur selaras dengan fenomena degradasi lingkungan pada Kampung Vietnam. Dimana semakin tinggi usia penduduk, kondisi kesehatannya semakin menurun, hal ini dikarenakan kebutuhan yang diterima oleh penduduk tidak sesuai. Kampung Vietnam sendiri merupakan salah satu wilayah yang sudah lama terbengkalai yang memiliki sejarah tempat pengungsian bagi warga Vietnam ketika terjadi perang dengan negara Amerika pada tahun 1977. Dan pada tahun 1980, pemerintah mulai membangun panti jompo di kampung ini, namun penghuni panti jompo di kampung ini terpaksa dipindahkan karena adanya banjir pada tahun 2002. Hingga saat ini, kondisi Kampung Vietnam masih terbengkalai, dan tidak ada penghuni yang tinggal didalamnya. Metode riset yang digunakan dalam penulisan ini merupakan metode deskriptif dan kualitatif dengan melakukan analisis terhadap data yang ada, observasi, dan melakukan studi dokumentasi. Melalui penerapan elemen dalam meningkatkan kualitas hidup seseorang baik secara fisik, sosial, maupun emosional, diharapkan dapat menciptakan suatu program dengan fasilitas yang dapat mendukung kesehatan bagi para pengguna. Hal ini berupa pusat rekreasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup baik dari anak-anak hingga lansia. Dimana berbagai macam generasi dapat melakukan kegiatan atau aktivitas untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup. sehingga para lansia tetap aktif dan merasa dibutuhkan, sementara anak-anak dan orang dewasa dapat belajar rasa hormat dan toleransi, serta keterampilan lain yang bermanfaat.
REKONSTRUKSI SUAKA MARGASATWA MUARA ANGKE: INTEGRASI LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN SEBAGAI PUSAT PENELITIAN DAN PARIWISATA EKOLOGI Kaspriyo, Muhammad Vicko; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30928

Abstract

Based on the official decision of the Minister of Forestry of the Republic of Indonesia, as stated in Decree Number 097/Kpts-II/1988 on February 29, 1988, the Muara Angke Wildlife Sanctuary (SMMA), previously recognized as a nature reserve, has now been developed into a Conservation Area covering 25.02 hectares in the mangrove forests of North Jakarta. Although initially an intact wildlife sanctuary, the Muara Angke area has experienced significant pressure and damage, resulting in degradation of half of the nature reserve's area. Additionally, the Muara Angke Wildlife Sanctuary faces other challenges, such as a low number of visitors due to poorly maintained infrastructure and a lack of human resources to sustain the area's condition. The reconstruction efforts of the Muara Angke Wildlife Sanctuary involve a series of important steps. Improving the area's infrastructure and building an attractive entrance are necessary to increase visitor appeal. The main focus of this reconstruction is enhancing the quality of the refuge and developing research facilities to monitor the wildlife inhabiting the area. The Muara Angke Wildlife Sanctuary can become an ecotourism center that benefits environmental education, local economic growth, nature conservation, and tourism. The reconstruction process must be carried out sustainably to prevent ecosystem damage. The research methods used include observations in the style of Christopher Alexander and content-based data analysis. The results show that the reconstruction of the Wildlife Sanctuary is not only conservative but also an educational effort and community engagement in collective awareness of the importance of biodiversity conservation. Keywords: degradation, ecology, facilities, research, reconstruction Abstrak Berdasarkan keputusan resmi Menteri Kehutanan Republik Indonesia yang tercantum dalam Surat Keputusan Nomor 097/Kpts-II/1988 pada tanggal 29 Februari 1988, Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA), yang sebelumnya diakui sebagai cagar alam, kini telah berkembang menjadi Kawasan Konservasi seluas 25,02 hektar di wilayah hutan mangrove di Jakarta Utara. Meskipun awalnya merupakan suaka alam yang utuh, Kawasan Muara Angke mengalami tekanan signifikan dan kerusakan yang menyebabkan setengah dari luas cagar alam tersebut mengalami degradasi. Selain itu, Kawasan Margasatwa Muara Angke juga menghadapi tantangan lain, seperti minimnya jumlah pengunjung akibat kondisi infrastruktur yang kurang terjaga dan kekurangan sumber daya manusia untuk menjaga keberlanjutan kawasan ini. Upaya rekonstruksi Suaka Margasatwa Muara Angke melibatkan serangkaian langkah penting. Perbaikan infrastruktur kawasan dan pembangunan pintu masuk yang menarik diperlukan untuk meningkatkan daya tarik pengunjung. Fokus utama rekonstruksi ini adalah peningkatan kualitas pengungsian dan pembangunan fasilitas penelitian untuk memonitor perkembangan satwa liar yang mendiami kawasan ini. Suaka Margasatwa Angke dapat menjadi pusat pariwisata ekologi yang menguntungkan pendidikan lingkungan, pertumbuhan ekonomi lokal, pelestarian alam, dan pariwisata. Proses rekonstruksi harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menghindari kerusakan ekosistem. Metode penelitian yang digunakan melibatkan observasi ala Christopher Alexander dan analisis data berbasis konten. Hasilnya menunjukkan bahwa rekonstruksi Suaka Margasatwa tidak hanya bersifat konservatif, tetapi juga sebagai upaya edukasi dan keterlibatan masyarakat dalam kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
MENGINGAT KEMBALI BUDAYA TIONGHOA DI KOTA TANGERANG MELALUI INTERAKTIF GALERI DENGAN KONSEP AXIS INTERGRATED CIRCULATION Haryono, Erick Prasetya; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30929

Abstract

The disappearance of Chinese culture in Tangerang can be traced back to the main beliefs of the Cina Benteng community, namely Confucianism, and its relationship with other religious and cultural groups. The term "Cina Benteng" refers to the Chinese population in the Tangerang area, especially in Pasar Lama and its surroundings. The ancestors of the Cina Benteng community were Hokkien Chinese who came to Tangerang and settled in the area for several generations. However, over time, the Cina Benteng culture began to fade due to various factors, such as assimilation with local culture and modernization. The aim of this study is to propose a solution that can revive the lost Chinese culture in Tangerang. This can be achieved by creating spaces that depict the characteristics of Chinese culture. The method to be used is qualitative, by conducting surveys and observations regarding the current condition of Tangerang and then collecting data to determine if Chinese culture in Tangerang can be revived. The result of this study is an interactive gallery with an integrated axis circulation concept, allowing visitors to understand and experience the richness of Cina Benteng culture once again. This gallery will showcase artifacts, art, and traditions that are an important part of the Cina Benteng cultural heritage and provide a space for the community to interact and learn more deeply about the history and contributions of this community in Tangerang. It is hoped that with the existence of this gallery, the public can better appreciate and preserve the unique and valuable culture of Cina Benteng. Keywords:  architecture; chinese; gallery; interactive; Tangerang Abstrak Hilangnya budaya Cina di Tangerang merupakan fenomena yang dapat ditelusuri kembali ke keberadaan keyakinan utama masyarakat Cina Benteng, yaitu Konfusianisme, dan hubungannya dengan kelompok agama dan budaya lainnya. Masyarakat Tionghoa Benteng adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada populasi Cina di daerah Tangerang, terutama di area Pasar Lama dan sekitarnya. Para leluhur masyarakat Cina Benteng adalah orang Cina Hokkien yang datang ke Tangerang dan tinggal di daerah ini selama beberapa generasi. Namun, seiring berjalannya waktu, budaya Tionghoa Benteng mulai memudar akibat berbagai faktor, seperti asimilasi dengan budaya lokal dan modernisasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengusulkan salah satu solusi yang bisa membangkitkan budaya Tionghoa yang telah hilang di Tangerang. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan ruang-ruang yang menggambarkan khas dari budaya Tionghoa. Metode yang akan digunakan yaitu kualitatif dengan cara melakukan survei dan pengamatan mengenai kondisi Tangerang sekarang kemudian mengumpulkan data untuk mengetahui jika budaya Cina di Tangerang diangkat kembali. Hasil penelitian ini berupa galeri interaktif dengan konsep sirkulasi terintegrasi axis, yang memungkinkan pengunjung untuk memahami dan merasakan kembali kekayaan budaya Tionghoa Benteng. Galeri ini akan menampilkan artefak, seni, dan tradisi yang merupakan bagian penting dari warisan budaya Tionghoa Benteng, serta menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dan belajar lebih dalam tentang sejarah dan kontribusi komunitas ini di Tangerang. Diharapkan, dengan adanya galeri ini, masyarakat dapat lebih menghargai dan melestarikan budaya Tionghoa Benteng yang unik dan berharga.