cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PEMANFAATAN FASILITAS UNTUK KEBERLANJUTAN RTH DAN RPTRA KALIJODO Susanto, Faldo; Herlambang, Suryono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30943

Abstract

Kalijodo is an area in Jakarta that was once known for its slum complex and famous for its nightlife and slums. In 2016, the Jakarta Government decided to demolish Kalijodo to renovate and clean up the area so that it turned into a park that has recreational facilities, sports fields, and green areas for family activities. Visitors to the Kalijodo RTH and RPTRA are dominated by children and teenagers who come from local residents, inside and outside the city. Currently, due to poor park maintenance, the current condition of the park is unsustainable or can be said to be declining in quality and visitors. If there is a maintenance program, community activities, and steps taken to ensure that the revitalization of Kalijodo continues to have a positive impact. By revitalizing this park, it can continue to provide ecological, economic, aesthetic and social benefits to the community and become an example of sustainability and a better quality of life. According to Law Number 26 of 2007 Paragraph 3, the proportion of public green open space of at least 20% provided by the city government is intended so that the proportion of green open space can be more guaranteed to be achieved so that it can be widely utilized by the community. The analysis tools used in this study are descriptive methods and IPA. To find out visitor perceptions dan provide recommendations in the form of policies, facilities, dan functions related to revitalization so that the sustainability of this object is maintained.    Keywords:  Utilize Kalijodo RTH; Revitalization of Kalijodo RTH; Revitalization of Kalijodo RPTRA; Kalijodo RTH Facilities; Kalijodo RTH Functions Abstrak Kalijodo adalah sebuah wilayah di Jakarta yang dulunya dikenal karena kompleks pemukiman kumuh dan terkenal dengan kehidupan malamnya dan kumuh. Pada tahun 2016, Pemerintah Jakarta memutuskan untuk merobohkan Kalijodo sebagai bagian dari upaya untuk merenovasi dan membersihkan daerah tersebut sehingga berubah menjadi sebuah taman yang memiliki fasilitas rekreasi, lapangan olahraga, dan area hijau untuk kegiatan keluarga. Pengunjung RTH dan RPTRA Kalijodo didominasi dengan anak” dan remaja yang datang dari warga sekitar, dalam kota, dan juga luar kota. Saat ini dikarenakan perawatan taman yang kurang baik, sehingga membuat kondisi taman saat ini menjadi tidak berkelanjutan atau bisa dibilang menurunnya kualitas dan pengunjung. Jika ada program pemeliharaan, kegiatan komunitas, dan langkah-langkah yang diambil untuk memastikan bahwa revitalisasi Kalijodo tetap berdampak positif. Upaya revitalisasi dapat diterapkan untuk keberlanjutan RTH dan RPTRA Kalijodo. Dengan melakukan revitalisasi pada taman ini dapat terus menyediakan manfaat ekologis, ekonomi, estetika dan sosial bagi masyarakat dan menjadi contoh keberlanjutan dan kualitas hidup yang lebih baik dalam perkotaan. Menurut Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2007 Ayat 3, Proporsi ruang terbuka hijau publik seluas minimal 20 (dua puluh) persen yang disediakan oleh pemerintah daerah kota dimaksudkan agar proporsi ruang terbuka hijau minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya sehingga memungkinkan pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode deskriptif, dan IPA. Untuk mengetahui persepsi pengunjung dan memberikan saran rekomendasi berupa kebijakan, fasilitas, dan fungsi terkait revitalisasi agar keberlanjutan objek ini tetap terjaga.
DESAIN VIHARA BUDDHA DENGAN KONSEP KESEDERHANAAN SEBAGAI IDENTITAS DI KAWASAN MANGGA BESAR Theodorus, Pricilia Angelina; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30944

Abstract

The negative impact phenomenon in the Mangga Besar area occurs because modernization and globalization have resulted in the transformation of an area that was once rich in Chinatown culture into a place famous for its nightlife. The issue of the area as the center of economic and cultural activities for the Chinese community, with its culinary diversity, religious rites and typical Chinatown architecture, is undergoing drastic changes. The biggest change that is clearly visible is the transformation of the area's function. The problem is, once filled with traditional shops, it has now been filled with the nightlife industry. This marks a shift in focus from traditional economic activities to a modern entertainment industry that accommodates Jakarta's rapidly growing urban lifestyle. This research aims to rebalance elements of Chinese culture and public perception and highlight the potential of the area through placemaking. The method used is qualitative with the concept of simplicity and naturalness of Buddhist Temple design. His findings by adding new functions that can balance activities in this area can be a solution to increase positive perceptions and achieve environmental balance in this area. The novelty is a building that can balance and provide calm amidst the busy nightlife in Mangga Besar. Keywords: architecture; degradation; function; placemaking; temple Abstrak Fenomena dampak negatif di kawasan Mangga Besar terjadi karena modernisasi dan globalisasi terhadap transformasi sebuah kawasan yang dahulunya kaya akan budaya pecinan menjadi sebuah tempat yang terkenal akan kehidupan malamnya. Isu kawasan sebagai pusat kegiatan ekonomi dan budaya masyarakat Tionghoa, dengan keberagaman kuliner, ritus keagamaan, dan arsitektur khas pecinannya tengah mengalami perubahan yang drastis. Perubahan terbesar yang terlihat jelas adalah transformasi fungsi kawasan. Masalahnya, dahulu kawasan ini dipenuhi dengan toko-toko tradisional, kini telah dipenuhi oleh industri hiburan malam. Hal ini menandai pergeseran fokus dari kegiatan ekonomi tradisional ke industri hiburan modern yang mengakomodasi gaya hidup urban yang berkembang pesat di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menyeimbangkan kembali elemen budaya pecinan serta persepsi masyarakat dan menonjolkan potensi kawasan melalui placemaking. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan konsep kesederhanaan dan kealamian desain vihara Buddha. Temuannya dengan menambahkan fungsi baru yang dapat menyeimbangkan kegiatan di kawasan ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan persepsi positif dan mencapai keseimbangan lingkungan di Kawasan ini. Kebaruannya adalah bangunan yang dapat menyeimbangkan dan memberikan ketenangan di tengah kepadatan kehidupan malam di Mangga Besar.
RUANG KREATIF: REKREASI DI SENEN MELALUI KONSEP TERBUKA DAN MENGUNDANG Wijaya, Gunardi Naga; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30945

Abstract

The Senen area, which was once known as the center of the economy in Jakarta, is now abandoned, many of the building functions are not maintained, not keeping up with the times, and coupled with the lack of place needs for the people in Senen regarding the need for a place to relieve stress. The stress arises from the density of space and the busyness of its people. Along with the development of the era, the Senen area will become a dense place for housing, shops, and transportation centers. With the facilities in the Senen area that are quite complete, the Senen area is a suitable place to restore its image as before. From these emerging problems, an open space is needed that can be a recreation center. The lack of entertainment venues in the Senen area is the right strategy to add programs with entertainment functions. By implementing an open and inviting concept, it aims to invite people in the Senen area to have a new entertainment venue that functions as a place to pour out existing creative ideas. Using qualitative methods and figure of reasoning methods to find out what space program needs are suitable to respond to existing. problems. Keywords:  Stress; Open Space; Open and Inviting Abstrak Kawasan Senen yang dahulu dikenal sebagai pusat perekonomian di Jakarta yang sekarang ditinggalkan, banyaknya fungsi bangunan yang tidak terawat,  kurang mengikuti zaman dan ditambah dengan kurangnya kebutuhan tempat untuk masyarakat di Senen mengenerasiai kebutuhan tempat untuk menghilangkan rasa stress. Rasa stress yang muncul yang berasal dari kepadatan ruang dan kesibukkan dari masyarakatnya. Seiring dengan perkembangan zaman kawasan Senen akan menjadi tempat yang padat akan hunian, pertokoan, maupun pusat dari transportasi. Dengan adanya fasilitas yang ada di kawasan Senen yang sudah cukup lengkap, maka dari itu kawasan Senen menjadi tempat yang cocok untuk diangkat kembali citranya seperti dulu. Dari permasalahan yang muncul inilah dibutuhkannya ruang terbuka yang dapat menjadi pusat rekreasi. Kurangnya tempat hiburan yang ada di kawasan Senen menjadi strategi yang tepat untuk menambah program dengan fungsi sebagai hiburan.  Dengan penerapan konsep terbuka dan mengundang (open and inviting) bertujuan agar mengundang masyarakat yang ada di kawasan Senen agar memiliki tempat hiburan baru yang berfungsi sebagai tempat untuk menuangkan ide kreatif yang ada. Menggunakan metode kualitatif dan metode figure of reasoning agar dapat mengetahui kebutuhan program ruang apa yang cocok untuk merespon masalah yang ada.
PENERAPAN PLACEMAKING PADA ANCOL BEACH CITY MALL MELALUI KONSEP DIVERSITY DAN CONNECTIVITY Liem, Yohanes Raymond; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30946

Abstract

Ancol Beach City Mall is a tourist area located in Taman Impian Jaya Ancol, North Jakarta. Until now, the Ancol area still maintains its identity as a tourist destination. A tourist attraction is a place that is very attractive to visitors, with natural, cultural, or historical values. However, there is currently a phenomenon about the decline in the attractiveness of Ancol Beach City Mall along with the development of modern architecture. The area has experienced a functional loss of identity and only capitalizes on selling views (movement over dwelling), and prioritizes vehicle access over pedestrian. This resulted in Ancol Beach City Mall losing the competition with other modern tourism.  The purpose of this topic is to conduct a placemaking design method with program changes at Ancol Beach City Mall in order to adapt to the latest developments, such as concert performance programs and exhibitions, so that it can be utilized effectively and still maintain its original purpose as one of the tourist destinations in Ancol. The writing method used in this research is a qualitative method, through the design concept of Diversity and Connectivity. By adjusting the program that is currently trending and to apply the design concept of Diversity and Connectivity as the new face of Ancol Beach City Mall can be a solution to revive Ancol tourist destinations. The novelty achieved in this research is a building that emphasizes flexibility of access and is environmentally friendly by having visual and contextual responses to the surrounding environment. Keywords: connectivity; diversity; entertainment; icon; placemaking Abstrak Ancol Beach City Mall merupakan kawasan wisata yang berlokasi di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Sampai saat ini, Kawasan Ancol masih mempertahankan identitas nya sebagai destinasi wisata. Daya tarik wisata merupakan suatu tempat yang sangat menarik bagi pengunjung, dengan memiliki nilai-nilai alam, budaya, atau sejarah. Namun, saat ini terdapat fenomena tentang menurunnya daya tarik Ancol Beach City Mall seiring dengan perkembangan arsitektur modern. Kawasan tersebut telah mengalami kehilangan jati diri secara fungsional dan hanya bermodal menjual pemandangan (movement over dwelling), serta mementingkan akses kendaraan dari pada pedestrian. Hal tersebut mengakibatkan Ancol Beach City Mall kalah dalam persaingan dengan wisata modern lainnya. Tujuan dari topik ini adalah untuk melakukan metode desain placemaking dengan perubahan program pada Ancol Beach City Mall agar dapat beradaptasi dengan perkembangan terkini, seperti program pertunjukan konser dan pameran, sehingga dapat dimanfaatkan dengan efektif dan tetap mempertahankan tujuan awalnya sebagai salah satu destinasi wisata di Ancol. Metode penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, melalui konsep perancangan Diversity dan Connectivity. Dengan menyesuaikan program yang sedang tren pada saat ini dan untuk menerapkan konsep desain Diversity dan Connectivity sebagai wajah baru Ancol Beach City Mall dapat menjadi solusi untuk membangkitkan destinasi wisata Ancol. Kebaruan yang dicapai pada penelitian ini berupa bangunan yang mengedepankan fleksibilitas akses serta ramah lingkungan dengan memiliki visual dan respon yang kontekstual dengan lingkungan sekitar.
ERA BARU GALERI NASIONAL INDONESIA: MENGHIDUPKAN KEMBALI GALERI DI DALAM KAWASAN CAGAR BUDAYA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL JUKSTAPOSISI Auditya Hidayah, Raden; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30947

Abstract

The advancement of modern times has led to an increased interest in visiting galleries, making it a current trend. However, the public's interest in visiting galleries located in historic buildings has declined because they are perceived as unfamiliar and not adaptive. GNI (National Gallery of Indonesia) is one such gallery that has seen a decrease in visitors. This is due to the lack of exhibition space, which causes the current generation to avoid visiting GNI, ultimately leading to the building becoming placeless. This study uses descriptive qualitative and phenomenological methods with a juxtaposition design approach to meet the needs of the current generation while maintaining historical and cultural values. Additionally, this method serve as a strategy to prevent it from becoming placeless. The results show that from 1987 until now, there have been no changes in the program. The study findings suggest adding programs that respond to modern needs through disprogramming and contextual juxtaposition approaches. These programs can meet the needs of the current generation while maintaining local, historical, and cultural values. Keywords: Cultural Heritage; Gallery; Historic; Juxtaposition; Modernization Abstrak Modernisasi akan mengakibatkan meningkatnya minat masyarakat untuk mengunjungi galeri yang merupakan sebuah tren pada saat ini. Namun, minat masyarakat mengunjungi galeri yang berada pada bangunan bersejarah menurun karena dianggap asing dan tidak adaptif. GNI (Galeri Nasional Indonesia) adalah salah satu galeri yang saat ini semakin sepi dikunjungi. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya jumlah ruang pameran yang menjadikan generasi saat ini tidak mengunjungi GNI dan pada akhirnya menyebabkan placeless pada bangunan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan fenomenologi dengan pendekatan desain jukstaposisi yang dapat menunjang kebutuhan akan generasi saat ini, namun tidak terlepas dengan nilai sejarah dan budaya. Selain itu, metode dan pendekatan ini juga berperan sebagai strategi untuk mewujudkan kembali visi dari GNI dan menghindari akan terjadinya placeless agar tetap menjadi place yang memiliki nilai historis. Hasil menunjukkan bahwa dari tahun 1987 hingga sekarang belum ada perubahan program dan fungsi sehingga tidak dapat merespon kebutuhan modern. Temuan penelitian ini memberikan solusi dengan menambahkan program yang merespon kebutuhan modern melalui disprogramming dan penataan lingkungan sekitar dengan pendekatan kontekstual jukstaposisi. Program tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini dengan tetap mempertahankan lokalitas, sejarah, dan budaya. Selain itu, dalam program tersebut juga dirancang sebagai penghubung tren lampau dan tren saat ini, sehingga dapat menunjang generasi sebelumnya.
PENERAPAN STRATEGI URBANISME LANSKAP DALAM PLACEMAKING DI WADUK SETIABUDI Hanjaya, Michael; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30948

Abstract

The reservoir in Setiabudi, Jakarta, has the potential to become a meaningful place for the surrounding community. By implementing Landscape Urbanism approaches, we can create spaces that integrate green and blue elements, enhancing residents' care and ownership of the reservoir. The main goal of this project is to transform the reservoir into an attractive and beneficial "place" for local residents. Here are some strategies that can be implemented: Green and Blue Open Spaces: Introducing green and blue open spaces can address the lack of green areas and provide attractions for residents. Green areas can be used for various activities such as sports, picnics, or relaxation. Meanwhile, the blue areas (water) can be utilized for education about water quality and how the reservoir works. Active and Passive Education: Education can encompass two aspects. Firstly, active education involves experiments with water conditions, planting water-cleansing plants, and understanding the benefits of the reservoir. Secondly, passive education includes information about how the reservoir works and observing related city utilities. Involving residents in the planning and management of the reservoir will enhance their ownership and care. Through community meetings, workshops, and other participatory activities, we can ensure that the reservoir truly becomes a beloved and community-owned place. With this approach, the Setiabudi reservoir can transform into more than just infrastructure but also an essential part of residents' daily lives. Keywords: Green and Blue Open Spaces; Landscape Urbanism; Setiabudi Reservoir Abstrak Waduk di Setiabudi, Jakarta, memiliki potensi untuk menjadi tempat yang berarti bagi komunitas sekitar. Mengimplementasikan pendekatan Landscape Urbanism, dapat menciptakan ruang yang menggabungkan elemen hijau dan biru, serta meningkatkan kepedulian dan rasa kepemilikan warga terhadap waduk tersebut. Tujuan utama dari proyek ini adalah mengubah waduk menjadi sebuah “place” yang menarik dan bermanfaat bagi warga sekitar. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan: Ruang Terbuka Hijau dan Biru: Ketika memperkenalkan ruang terbuka hijau dan biru, dapat mengatasi kekurangan area hijau dan memberikan atraksi bagi warga. Area hijau dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti berolahraga, berpiknik, atau sekadar bersantai. Sementara itu, area biru (air) dapat dimanfaatkan untuk edukasi tentang kualitas air dan cara kerja waduk, edukasi aktif dan Pasif dapat mencakup dua aspek. Pertama, edukasi aktif melibatkan eksperimen dengan kondisi air, penanaman tanaman yang memperbaiki kualitas air, dan pemahaman tentang manfaat waduk. kedua, edukasi pasif melibatkan informasi tentang cara kerja waduk dan observasi terhadap utilitas kota yang terkait, melibatkan warga dalam perencanaan dan pengelolaan waduk akan meningkatkan rasa kepemilikan dan kepedulian mereka. Ketika mengadakan pertemuan komunitas, workshop, dan kegiatan partisipatif lainnya, dapat memastikan bahwa waduk benar-benar menjadi milik dan tempat yang dicintai oleh warga sekitar. Dengan pendekatan ini, waduk di Setiabudi dapat bertransformasi menjadi tempat yang lebih dari sekadar infrastruktur, tetapi juga sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari warga.
PENERAPAN URBAN ACUPUNCTURE DAN EVERYDAY URBANISM DALAM TRANSFORMASI RUANG JALAN JAKSA SEBAGAI DESTINASI WISATA URBAN Awalokiteswara, Chaterine Edria; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30949

Abstract

Jalan Jaksa was an entertainment and recreation icon for both foreign and local tourists in Jakarta from the '60s to the '90s, leveraging its strategic location in the city center. However, after a series of riots and bombings in Indonesia, Jalan Jaksa experienced a decline in visitors, leading to a shift in its function and loss of identity. Urban acupuncture was employed to revitalize Jalan Jaksa as a cohesive strip by injecting programs at various points along the street. Using the everyday urbanism method, researchers identified the daily activities of residents and visitors, serving as a foundation for determining programmatic and sensitive acupuncture points. The goal of this study was to revive and develop the potential of Jalan Jaksa, located in the heart of Jakarta, by creating tourist attractions and a new network of programs in the area. This approach aimed to enhance interactions, activities, accessibility, and highlight Jalan Jaksa’s identity as an urban tourist destination. The resulting network of urban acupuncture points includes key attractions such as café bars and an active play area to attract visitors. Additionally, commercial amenities, capsule hotels, and improved accessibility were aligned with the street’s character, meeting the criteria for placemaking theory, including openness, social interaction, usage, comfort, image, and connectivity. Keywords:  everyday urbanism; jalan jaksa; placemaking; transforming space; urban acupuncture Abstrak Jalan Jaksa merupakan ikon hiburan dan rekreasi bagi wisatawan asing maupun wisatawan lokal di Jakarta pada tahun ’60 hingga ‘90an dengan memanfaatkan lokasi strategis di pusat kota. Setelah rentetan peristiwa kerusuhan dan pengeboman yang terjadi di Indonesia, Jalan Jaksa mengalami penurunan pengunjung yang mengakibatkan perpindahan fungsi dan kehilangan identitas kawasannya. Urban acupuncture dilakukan untuk menghidupkan kembali Jalan Jaksa sebagai satu strip dengan cara melakukan injeksi program yang menyebar pada beberapa titik di Jalan Jaksa. Menggunakan metode everyday urbanism untuk mengidentifikasi keseharian masyarakat, baik pengunjung dan lokal terhadap aktivitas spasial dan temporal sebagai acuan dasar dari karakter masyarakat dalam menentukan program dan titik sensitif akupuntur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan potensi Jalan Jaksa yang terletak di pusat kota Jakarta dengan menciptakan atraksi wisata serta jaringan program baru di kawasan Jalan Jaksa sebagai penunjang sekaligus pemicu interaksi, aktivitas, aksesibilitas serta menonjolkan identitas Jalan Jaksa sebagai destinasi wisata perkotaan, serta memenuhi kriteria place dalam teori placemaking untuk berupa keterbukaan dan interaksi sosial, penggunaan dan aktivitas, kenyamanan dan citra, serta akses dan keterhubungan. Hasilnya adalah jaringan titik akupuntur kota dengan program yang mendukung elemen pariwisata meliputi atraksi utama berupa bar cafe dan active play area sebagai faktor penarik bagi pengunjung, amenitas berupa area komersil pertokoan, akomodasi berupa hotel kapsul, dan aksesibilitas kawasan dengan karakter yang sesuai dengan kriteria karakter jalan jaksa, yaitu karakter teras.
PENERAPAN TEORI PLACEMAKING PADA REDESAIN PASAR SENI ANCOL Larasati, Nuraida Damar; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30950

Abstract

An Art Market is a place where producers and consumers meet to transact art. In the context of tourism, an art market combines attractions, facilities and accommodation and acts as a place to market art through demonstrations, sales, exhibitions and performances. One of the Art Markets in Jakarta is Ancol Art Market, located in North Jakarta. However, Ancol Art Market faces significant challenges due to globalization and changing times, causing a decline in the number of visitors and active artists. This study uses a quantitative method in the form of a g-form survey aimed at the general public to find out what their interests and desires are for the arts. In addition, interviews were conducted with several experts such as artists and craftsmen in the research object area to gain insight into the context of the Ancol Art Market. This research is also supported by a case study method regarding Ancol Art Market in Indonesia, criteria collection based on placemaking theory, and qualitative research as an architectural approach. It was found that Ancol Art Market has the potential to become a re-active art district that reflects the fusion of contemporary art and open space. The buildings in this art district are designed with an open concept, providing flexible galleries, open spaces, and artist residency programs. With a design that integrates functional and aesthetic elements, as well as interactive spaces that encourage public participation, Ancol Art Market will be an art district that celebrates the creation and appreciation of art. Keywords:  public outdoor space; ancol art market; placemaking; urban tourism Abstrak Pasar Seni adalah tempat di mana produsen dan konsumen bertemu untuk bertransaksi hasil karya seni. Dalam konteks pariwisata, pasar seni menggabungkan atraksi, fasilitas, dan akomodasi serta berperan sebagai tempat pemasaran seni melalui peragaan, penjualan, pameran, dan pertunjukan. Salah satu Pasar Seni yang terdapat di Jakarta adalah Pasar Seni Ancol, yang terletak di Jakarta Utara. Namun, Pasar Seni Ancol menghadapi tantangan signifikan akibat globalisasi dan perubahan zaman, menyebabkan penurunan jumlah pengunjung dan seniman yang aktif. Studi ini menggunakan metode kuantitatif dalam bentuk survey g-form yang ditujukan kepada masyarakat umum untuk mengetahui apa minat dan keinginannya terhadap kesenian. Selain itu, dilakukan wawancara terhadap beberapa ahli seperti seniman dan pengrajin di kawasan objek penelitian untuk menambah wawasan mengenai konteks Pasar Seni Ancol. Penelitian ini juga  didukung dengan metode studi kasus mengenai Pasar Seni Ancol di Indonesia, pengumpulan kriteria berdasarkan teori placemaking, dan penelitian kualitatif sebagai pendekatan arsitektur. Ditemukan bahwa Pasar Seni Ancol memiliki potensi menjadi kawasan yang aktif kembali dalam kegiatan seni yang mencerminkan perpaduan seni kontemporer dan ruang terbuka. Bangunan di distrik seni ini dirancang dengan konsep terbuka, menyediakan galeri fleksibel, ruang terbuka, dan program residensi seniman. Dengan desain yang mengintegrasikan elemen fungsional dan estetika, serta ruang interaktif yang mendorong partisipasi publik, Pasar Seni Ancol akan menjadi distrik seni yang merayakan kreasi dan apresiasi seni.
PENERAPAN METODE PLACEMAKING DALAM REDESAIN PASAR BARANG BEKAS DI TAMAN PURING, JAKARTA SELATAN Samosir, Yustina Regitha; Choandi, Mieke
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30952

Abstract

As time passed, Puring Park Market lost its identity as a place to sell used goods, reinforcing Edward Relph's (1976) theory of a Placeless Place, a phenomenon in which meaningful and unique places were replaced by monotonous and meaningless environments, due to a lack of sensitivity to the significance of places. The objective of this plan is to counteract the exploitation of public space that is not functioning optimally, to build a strong local identity by making it a bridge or space between individuals or communities in the Puring Park Market through proposed new programs such as commercial, creative Space, and communal areas. This research is qualitative. Data collection methods through the phase of interviews, site, and area observations, and then documentation. They also perform location analysis to obtain historical data, user, activity, and issues and problems on the location. The location of the research conducted at Puring Park Market, New Kebayoran - South Jakarta, aims to find out the role of architecture in restoring the identity of the Puring Garden Market. This design is adapted from the concept of modular design with the use of space in an adaptive time context, as well as elements of architecture undergoing changes or interactions of activity at different times. Create a comfortable public space with an attractive and unique impression with the processing of streetscape as an outdoor market. With the presence of a new identity at the Puring Park Market, it is expected to provide jobs to boost the local economy. Keywords: architecture; identity; Taman Puring Market; placeless place Abstrak Pasar Taman Puring dahulunya merupakan tempat berjualan barang-barang bekas. Seiring berjalannya waktu, Pasar Taman Puring kehilangan identitasnya sebagai tempat berjualan barang bekas, semakin memperkuat  teori Edward Relph (1976) tentang Placeless Place yang merupakan fenomena di mana tempat-tempat yang bermakna serta unik digantikan oleh lingkungan monoton dan tidak bermakna, ini disebabkan oleh kurangnya kepekaan terhadap signifikansi tempat. Tujuan Perancangan ini untuk menanggulangi pemanfaatan ruang publik yang tidak berfungsi secara optimal, untuk membangun identitas lokal yang kuat dengan menjadikannya jembatan atau ruang antar individu atau kelompok masyarakat di Pasar Taman Puring melalui program baru yang diusulkan seperti commercial, creative Space, dan  communal area. Penelitian ini bersifat kualitatif. Metode pengumpulan data melalui tahap wawancara, observasi tapak dan kawasan lalu dokumentasi. Lalu juga melakukan analisis lokasi dalam memperoleh data sejarah, pengguna, aktivitas, serta isu dan masalah pada lokasi. Lokasi penelitian dilakukan di Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan, bertujuan untuk mengetahui Bagaimana peran arsitektur dalam mengembalikan identitas Pasar Taman Puring. Perancangan ini diadaptasi dari konsep desain modular dengan penggunaan ruang dalam konteks waktu yang adaptive, serta elemen-elemen arsitektur mengalami perubahan atau interaksi aktivitas pada waktu berbeda. Menciptakan ruang publik yang nyaman dengan kesan yang menarik dan unik dengan pengolahan streetscape sebagai outdoor market. Dengan hadirnya identitas baru pada Pasar Taman Puring diharapkan dapat memberikan lapangan pekerjaan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
BATIK BERKELANJUTAN: TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN DI KAWASAN KARET KUNINGAN Putro, Angel; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30955

Abstract

A placeless place is a place or environment that has lost its identity or distinctive characteristics that differentiate that place from other places. One area of ​​contemporary Jakarta that has lost its characteristics is Karet Kuningan, South Jakarta. Initially, the Karet Kuningan area was a fairly well-known center for batik making and batik convection. However, batik workshops have now been evicted and moved to Cikarang, Bekasi because their waste pollutes the environment, the Karet area which is the Golden Triangle (business area), and Karet which is the center of urbanization and infrastructure development. Today's advances in architecture and technology have developed very rapidly, so that factory waste can also be processed through water treatment so that it becomes environmentally friendly and safe for health. This can renew the identity of Karet Kuningan as an environmentally friendly stamped batik area and can become a new job opportunity for the local community. The aim of this research is to give a new identity to batik in the Karet Kuningan area that is environmentally friendly and to show visitors and architectural residents an introduction to environmentally friendly batik. The research method used is a qualitative approach by collecting data on the novelty of technology for making environmentally friendly batik and surveying the location of the current condition of Brass Rubber so that batik can be accepted by all groups. Keywords: architecture; batik; waste; water-treatment Abstrak Placeless place adalah suatu tempat atau lingkungan yang kehilangan jati dirinya atau karakteristik khas yang membedakan tempat tersebut dengan tempat yang lainnya. Salah satu wilayah Jakarta masa kini yang telah kehilangan karakteristiknya adalah Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Awalnya wilayah Karet Kuningan merupakan pusat pembuatan batik dan konveksi batik yang cukup terkenal. Namun bengkel batik pun kini telah digusur dan dipindahkan ke Cikarang, Bekasi karena limbahnya yang mencemari lingkungan, wilayah Karet yang menjadi Segitiga Emas (kawasan bisnis), dan Karet yang menjadi pusat urbanisasi dan perkembangan infrastruktur. Kemajuan arsitektur dan teknologi masa kini sudah berkembang sangat pesat, sehingga dalam pengolahan dalam limbah pabrik pun dapat diolah melalui water treatment sehingga menjadi ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Hal ini dapat memperbaharui identitas dari Karet Kuningan sebagai kawasan batik cap ramah lingkungan dan dapat menjadi lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan identitas baru terhadap batik di kawasan Karet Kuningan yang ramah lingkungan dan memperlihatkan kepada para pengunjung maupun warga arsitektur dalam pengenalan batik yang ramah lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data kebaruan teknologi membuat batik yang ramah lingkungan dan survei lokasi kondisi Karet Kuningan masa kini agar batik dapat diterima oleh semua kalangan.