cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PELEBURAN CINA BENTENG: POTENSI MENINGKATKAN SENSE OF PLACE KAWASAN KOTA LAMA TANGERANG SEBAGAI PUSAT BUDAYA KOTA TANGERANG Vierry, Jon; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30956

Abstract

The Old Town of Tangerang area is known for its Chinese Ethnic Settlement, commonly referred to as Chinatown, which has integrated with the local community. This is evidenced by the strong Benteng Community, cultural heritage, and the Kali Pasir mosque with distinctive Chinese characteristics. Unfortunately, the Tangerang City Government has yet to establish a Cultural Heritage Regulation, leading to the gradual fading of historical and cultural sites in the Old Town of Tangerang over time. The Tangerang City Government is currently making efforts to revitalize and focus on developing the old town area into a culinary center and traditional market to attract foreign tourists. The development of the area stimulates Chinatown to become more modern, especially with the emergence of modern eateries using shophouses with Chinese characteristics adapted to modern shophouse designs. Buildings that do not follow this trend are either repurposed or abandoned by their owners. The aim of this research is to explore the potential to enhance the sense of place in the Old Town of Tangerang. The method used is qualitative, gathering supporting data and conducting observations of the Old Town of Tangerang area, which are then identified using the sense of place elements theory by John Montgomery and John Punter. The research results indicate that the integration of the Cina Benteng culture not only enriches the cultural diversity of Old Town Tangerang but also strengthens the identity and solidarity among the local community. Keywords:  chinatown; Chinese; culture; identity Abstrak Kawasan  Kota  Lama  Tangerang  dikenal  dengan  kawasan  Perkampungan  Etnis  Tionghoa atau lebih dikenal dengan pecinan yang sudah melebur dengan masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan   dengan   keberadaan   Komunitas   Benteng   yang   kuat,   warisan   budaya,   dan bangunan  Masjid  Kali  Pasir  berciri  khas  Tionghoa.  Sangat  disayangkan  Pemerintah  Kota Tangerang hingga saat ini tidak memiliki Perda Cagar Budaya sehingga seiring berjalannya waktu   situs-situs   bersejarah   dan   kebudayaan   kawasan   Kota   Lama   Tangerang   mulai memudar.  Pemerintah  Kota  Tangerang  kini  tengah  berupaya  untuk  menata  ulang  dan memfokuskan  perkembangan  kawasan  kota  lama  menjadi  kawasan  pusat  kuliner  dan pasar    tradisional    dengan  meningkatkan    minat    para    wisatawan    asing. Pengembangan kawasan menstimulus kawasan pecinan menjadi lebih modern, terutama dengan munculnya tempat makan modern yang menggunakan bangunan ruko berciri Tionghoa diadaptasi mengikuti desain bangunan ruko modern dan bangunan yang    tidak    mengikuti    perkembangan    menjadi    dialihfungsikan    atau    terbengkalai ditinggalkan  pemiliknya.  Tujuan  dari  penelitian  untuk    melihat potensi yang ada dalam upaya untuk meningkatkan sense of place dikawasan Kota Lama Tangerang   Metode   yang   digunakan   adalah metode kualitatif dengan mengumpulkan data-data pendukung serta melakukan observasi terhadap kawasan Kota Lama Tangerang yang kemudian diidentifikasi menggunakan teori John Montgomery dan John Punter mengenai  elemen sense of place. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggabungan budaya Cina Benteng tidak hanya menambah kekayaan keragaman budaya di Kota Lama Tangerang, tetapi juga menjadi potensi dalam memperkuat identitas dan solidaritas di antara masyarakat setempat.
PENERAPAN ARSITEKTUR BERTEMA BUNGA PADA REDESAIN PASAR BUNGA CIKINI Sheren, Sheren; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30957

Abstract

Jalan Cikini Kramat, which was once famous as a flower paradise in Jakarta, now has a different face. Currently, this market operates on the side of the road, neatly lined up in an alley with partitions separating the stalls. The market atmosphere used to be increasingly lively with the presence of parcel traders selling their wares on the sidewalk, although this often made the market area look less neatly organized. Rather than the famous flowers, nowadays, street food in this area is better known even though it is a flower market. Unfortunately, the presence of these traders can make the area around Cikini Station look slummer than it should. The physical changes to this area are able to eliminate the initial character that formed on Jalan Cikini Kramat. The aim of this research is to revive the face of Cikini as an area with floral characteristics in Jakarta. This research was carried out through surveys, analysis and interviews with the perpetrators involved on Jalan Cikini Kramat. The results of the research are the redevelopment of the flower market and the development around the market with flower characters that can attract visitors. The main finding of this research is the change in Cikini public space into an area with a floral character with relationships between local residents and visitors. The new aspect that is expected is to reshape the face of Jalan Cikini Kramat into an area with character. Keywords:  character; flower; market Abstrak Pasar Bunga Cikini yang dahulu terkenal sebagai surga bunga di Jakarta, kini hadir dengan wajah berbeda. Saat ini, pasar ini beroperasi di pinggir jalan, berjajar rapi di satu gang dengan sekat-sekat yang memisahkan antar kiosnya. Suasana pasar yang dulu semakin semarak dengan kehadiran para pedagang parsel yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar, meskipun tak jarang membuat kawasan pasar terlihat kurang tertata rapi. Daripada kembangnya yang terkenal, justru di masa kini, kuliner kaki lima di daerah ini lebih dikenal padahal merupakan pasar kembang. Sayangnya, keberadaan para pedagang ini mampu membuat sekitar Stasiun Cikini terlihat lebih kumuh dari yang seharusnya. Perubahan fisik dari kawasan ini mampu menghilangkan karakter awal yang terbentuk dari Pasar Bunga Cikini yang dulunya adalah penguasa di Jalan Cikini Kramat. Tujuan dari penelitian ini untuk membangkitkan kembali wajah Pasar Bunga Cikini menjadi pasar dengan edukasi tentang bunga yang ada di Jakarta. Penelitian ini dilakukan melalui kegiatan survey, analisis, serta wawancara terhadap pelaku-pelaku terlibat di Pasar Bunga Cikini. Hasil dari penelitian adalah pembangunan kembali pasar kembang dan pengembangan sekitar pasar dengan karakter dari bunga yang dapat menarik para pengunjung. Temuan utama dari penelitian ini adalah perubahan ruang publik Cikini menjadi kawasan berkarakter bunga dengan hubungan antara warga lokal dan pengunjung. Aspek baru yang diharapkan adalah membentuk kembali wajah Jalan Cikini Kramat menjadi kawasan berkarakter.
RUANG EKSPRESI DAN APRESIASI BAGI MUSISI JALANAN DI KAWASAN SENEN, JAKARTA PUSAT Yuono, Glorius Timoty; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30970

Abstract

The city of Jakarta has a profession called Street Musician. However, many streets are affected by economic pressures in the development of the city of Jakarta. Street musicians have no platform and are starting to be neglected. There is a need for space to accommodate the activities of street musicians in the city of Jakarta. The aim is to help develop quality musicians and entertainment spaces for the city of Jakarta, where currently music is embedded in everyday lifestyle. Based on data collected through interviews and observations, there is a formation process that represents the reality of the perpetrators, namely street musicians themselves. From various kinds of phenomena, facts and rules, the author can use them as a reference to define space in accordance with existing discourse. There are several factors that influence a musician's performance, including sound factors, lighting factors, performance space, and audience and circulation space. If these factors are taken into account properly, they can support musicians in presenting works that visitors can enjoy well too. If there is space for the musicians and the audience, they can enjoy the musicians' expressions comfortably so that they will naturally appreciate the musicians' performances. These spaces need to be combined well because they have different identities, namely spatial (architecture) and musical. Pasar Senen, which used to have a rich artistic culture, will be re-emerged as a space for musicians to express themselves, creating spaces for musicians to gather and improving the quality of musicians at Pasar Senen and in its surroundings. Keywords: appreciation space; expression space; street musicians Abstrak Kota Jakarta memiliki salah satu profesi yang di sebut Musisi Jalanan. Namun musisi jalanan terkena dampak tekanan ekonomi dalam perkembangan kota Jakarta. Musisi Jalanan tidak memiliki wadah dan mulai terabaikan. Perlu adanya ruang untuk mewadahi aktifitas dari musisi jalanan di kota jakarta. Tujuannya adalah untuk membantu mengembangkan kualitas musisi dan ruang hiburan bagi kota Jakarta, dimana saati ini musik sudah melekat dalam gaya hidup sehari-hari. Berdasarkan data-data yang terkumpul melalui wawancara dan pengamatan, terdapat proses pembentukan yang merepresentasikan realitas pelaku yaitu musisi jalanan sendiri. Dari berbagai macam fenomena, fakta dan aturan, penulis dapat menjadikannya sebagai acuan untuk mendefinisikan ruang yang sesuai dengan wacana yang ada. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh pada penampilan musisi, diantaranya adalah fakor suara, faktor pencahayaan, ruang penampilan, dan ruang penonton dan sirkulasi. Faktor-faktor tersebut apabila di perhitungkan dengan baik dapat mendukung musisi menampilkan karya yang dapat dinikmati pengunjung dengan baik juga. Apabila ruang musisi dan penonton terpenuhi mereka dapat menikmati ekspresi musisi dengan nyaman sehingga dengan sendirinya mereka akan memberikan apresiasi dari penampilan musisi. Ruang-ruang ini perlu dikombinasikan dengan baik karena memiliki identitas yang berbeda yaitu keruangan (Arsitektur) dan musik. Pasar senen yang dulunya memiliki kekayaan budaya seni, akan dimunculkan kembali sebagai ruang untuk musisi berekspresi, menciptakan ruang-ruang untuk para musisi berkumpul dan meningkatkan kualitas musisi di Pasar Senen maupun di sekitarnya.
Cover Jurnal STUPA V6N2 - OKTOBER 2024 STUPA, Jurnal
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Jurnal STUPA V6N2 - OKTOBER 2024
Redaksi Jurnal STUPA V6N2 - OKTOBER 2024 STUPA, Jurnal
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

@2024 - Redaksi Jurnal STUPA V6N2 - OKTOBER 2024
Daftar Isi Jurnal STUPA V6N2 - OKTOBER 2024 STUPA, Jurnal
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi Jurnal STUPA V6N2 - OKTOBER 2024
HUBUNGAN POLA AKTIVITAS PENGHUNI DENGAN PENGATURAN ZONING PADA DESAIN RUMAH SUSUN SEWA Winata, Gabriela Deanna; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33914

Abstract

Placeless Place is a term used to refer to a place that has lost its geographic identity or local attachment. The term can refer to a place or neighborhood that lacks the features or characteristics that make it geographically or culturally unique. The Manggaraiarea is located in Tebet sub-district, South Jakarta and is famous for its Ciliwung River sluice gate and train station which is a transportation hub from various points. The Manggarai area has great potential to be an area with transportation points that expand regionally, and also an increase in the area can occur if several points in this area are developed. The Manggarai area is famous for its densely populated settlements, so to prevent the increasingly dense residential space in this area, it can be developed into a more feasible vertical residence with the optimization of open space and community interaction space. One example of the non-compliance of a building that has been built with building regulations can be seen from the KDB, KLB, KDH which should be followed by the land owner or architect concerned with the development. The design method used is the dwelling approach method , which is concerned with the interaction between residents in the existing location through open space and community interaction space. The results of this research aim to describe the design concept approach of rental flats that can optimize space for community interaction. Keywords: Area; Manggarai; Population Abstrak Placeless Place adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu tempat yang telah kehilangan identitas geografis atau keterikatan lokalnya. Istilah tersebut dapat merujuk pada suatu tempat atau lingkungan yang tidak memiliki ciri atau ciri khas yang menjadikannya unik secara geografis atau budaya. Kawasan Manggarai terletak di kecamatan Tebet, Jakarta Selatan dan terkenal dikarenakan adanya pintu air  Kali Ciliwung dan stasiun kereta yang merupakan pusat transportasi dari berbagai titik. Kawasan Manggarai memiliki potensi besar untuk dijadikan kawasan dengan titik transportasi yang meluas secara kawasan, dan juga peningkatan kawasan dapat terjadi jika dilakukan pengembangan beberapa titik di kawasan ini. Kawasan Manggarai terkenal akan permukiman penduduk yang sangat padat, sehingga untuk mencegah semakin padatnya ruang bermukim yang berada di kawasan ini, dapat dikembangkan menjadi hunian vertikal yang lebih layak dengan optimalisasi ruang terbuka dan ruang interaksi warga. Salah satu contoh ketidaksesuaian bangunan yang sudah terbangun dengan peraturan pembangunan dapat dilihat dari KDB, KLB, KDH yang seharusnya diikuti oleh pemilik lahan yang bersangkutan dengan pembangunan tersebut. Metode perancangan yang digunakan merupakan metode pendekatan dwelling, yang mementingkan interaksi antar warga di lokasi eksisting melalui ruang terbuka dan ruang interaksi warga. Hasil penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan pendekatan konsep desain rumah susun sewa yang dapat mengoptimalkan ruang untuk interaksi warga.
PENDEKATAN TRANS-PROGRAMMING DALAM ARSITEKTUR PADA WISATA RELIGI PESISIR LUAR BATANG, SUNDA KELAPA Venantius, Dicky; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33915

Abstract

Historical tourism is an architectural phenomenon that plays an important role in cultural preservation. One place with historical value in Jakarta is the Sunda Kelapa Area. This area is located in a strategic location because it has easy access to the location using public transportation. However, this does not promise many visitors to come, because historical tourism in Jakarta has decreased in the last three years. The decrease in the number of visitors is caused by several factors, such as the lack of attention to the Sunda Kelapa Area itself, resulting in many buildings that are now abandoned and unkempt, in other words, the Sunda Kelapa Area is experiencing physical and social degradation. Therefore, the development of functions and programs in the Sunda Kelapa Area is needed to revive the sense of place. The methods used in this study are qualitative and observation methods. The research steps begin with conducting a study related to the Sunda Kelapa Area in the last five years, followed by field observations to obtain data related to the current condition of historical buildings and activities carried out by the surrounding community, then continued with mapping related to the location points of historical buildings and activities that are currently taking place. From the data obtained, there is a relationship between the surrounding environment and the creation of programs within the site, the program includes religious tourism and coastal tourism which have contradictory characteristics, so a program is needed that can combine the two programs. The trans-programming approach is a method that aims to combine and connect different programs in a building. This approach can produce a novelty in the area so the building to be designed can live in contemporaneity. Keywords:  Degradation; History; Identity; Space Abstrak Wisata bersejarah merupakan fenomena arsitektur yang mempunyai peran penting dalam pelestarian budaya. Salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah di Jakarta adalah Kawasan Sunda Kelapa. Kawasan ini terletak di lokasi yang strategis, karena memiliki kemudahan dalam mengakses lokasi dengan menggunakan transportasi umum. Namun, hal ini tidak menjanjikan banyaknya jumlah pengunjung yang akan datang, karena wisata bersejarah di Jakarta mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Penurunan jumlah pengunjung ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya perhatian terhadap Kawasan Sunda Kelapa itu sendiri, sehingga menyebabkan banyaknya bangunan yang sekarang sudah terbengkalai dan tidak terurus, dengan kata lain Kawasan Sunda Kelapa mengalami degradasi secara fisik maupun sosial. Oleh karena itu pengembangan fungsi dan program pada Kawasan Sunda Kelapa diperlukan untuk menghidupkan kembali sense of place. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan observasi. Langkah penelitian dimulai dari melakukan kajian terkait Kawasan Sunda Kelapa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dilanjutkan dengan observasi ke lapangan untuk mendapatkan data terkait kondisi bangunan bersejarah pada saat ini dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan mapping terkait titik lokasi lokasi bangunan bersejarah dan aktivitas yang sedang terjadi. Dari data yang diperoleh terdapat keterkaitan lingkungan sekitar terhadap pembuatan program di dalam tapak, program tersebut meliputi wisata religi dan wisata pesisir yang memiliki sifat saling bertolakbelakang, sehingga diperlukan sebuah program yang dapat menggabungkan kedua program tersebut. Pendekatan trans-programming merupakan suatu metode yang bertujuan untuk menggabungkan dan menghubungkan program-program yang berbeda pada suatu bangunan. Pendekatan ini dapat menghasilkan suatu kebaruan pada kawasan, sehingga bangunan yang akan dirancang dapat hidup dalam kesejamanan.
PENDEKATAN THIRD PLACE DALAM REDEFINISI LOKASARI SEBAGAI RUANG UNTUK SENI PERTUNJUKAN Hadinata, Jason; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33916

Abstract

As a city develops, there will also be changes to the spaces within the city. Placeless Place is a phenomenon where a place loses its identity that makes it a place. One example of the placeless place phenomenon that occurred is the Lokasari Entertainment Park or what was known in the past as Prinsen Park. Lokasari experienced a very significant change in identity where in the past, Prinsen Park was known as a center of entertainment and culture, now it is known as a nightlife center that has a negative image in the eyes of the surrounding community. In an effort to improve and change the negative image of Lokasari, a redesign was carried out on part of the THR Lokasari area with the aim of redefining the Lokasari area as a space for performing arts that is closely related to the history of the area in its heyday. With the projects and programs presented, it can provide the community around the Lokasari area with a shared space that is able to encourage and build communities based on performing arts around the area so that it can foster a sense of attachment between the community and the Lokasari area. In addition, this project can also provide a forum for self-expression for the surrounding community, especially young people, provide an alternative form of entertainment other than the nightlife activities that are currently rampant in the area, and become a new attraction that can revive the THR Lokasari area. Keywords:  Lokasari, Performing Arts, Placeless Place, Prinsen Park, Redefining Abstrak Seiring berkembangnya sebuah kota, akan terjadi juga perubahan terhadap  ruang – ruang dalam kota. Fenomena Placeless Place merupakan fenomena dimana sebuah tempat kehilangan identitas yang menjadikannya tempat. Salah satu contoh kasus fenomena placeless place yang terjadi adalah Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari atau yang dikenal pada masa lampau sebagai Prinsen Park. Lokasari mengalami perubahan identitas yang sangat signifikan dimana dulunya, Prinsen Park dikenal sebagai pusat hiburan dan kebudayaan kini dikenal sebagai pusat hiburan malam yang memiliki citra negatif di pandangan masyarakat sekitar. Dalam upaya memperbaiki dan mengubah citra negatif Lokasari,  maka dilakukan perancangan ulang pada bagian dari kawasan THR Lokasari dengan tujuan untuk meredefinisi kawasan Lokasari sebagai ruang untuk seni pertunjukan yang berhubungan erat dengan sejarah kawasan di masa jayanya. Dengan adanya proyek dan program – program yang dihadirkan, dapat menyediakan masyarakat sekitar kawasan Lokasari dengan ruang milik bersama yang mampu mendorong dan membangun komunitas – komunitas dengan basis seni pertunjukan di sekitar kawasan sehingga dapat menunmbuhkan rasa keterikatan antara masyarakat dengan kawasan lokasari. Selain itu, proyek ini juga dapat memberikan wadah untuk ekspresi diri untuk fmasyarakat sekitar terutama kalangan muda, menyediakan alternatif bentuk hiburan selain kegiatan hiburan malam yang saat ini marak pada kawasan, serta menjadi daya tarik baru  yang mampu membangkitkan kembali kawasan THR Lokasari.
PENGEMBALIAN IDENTITAS SENEN SEBAGAI SENTRA BUKU DENGAN METODE PLACEMAKING Halim, Hartono; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33918

Abstract

Senen is an area that is quite synonymous with booksellers since the 1970s. A famous bookstore, Gunung Agung, was also established in 1953 in Senen, Kwitang. Booksellers are also lined up along the roads in the Senen area, especially Kwitang. In 2008, the booksellers relocated, they moved to different places and some also rented a shophouse together in Kwitang. However, over the years, book sales and the number of visitors have decreased, especially during the pandemic. Senen's identity as an area synonymous with book sales also decreased due to advancing times so that the presence of printed books has been replaced by e-books. Even then, booksellers also complain about people’s low interest in reading.giving rise to a condition of "placelessness". Therefore, this project aims to attract the attention of those who like and don't like reading. There are several programs provided to increase interest in reading, such as exhibitions, theater, and others. Because the books generally sold by booksellers in the Senen area are used books, there is also room for restoring books. The method that will be used for this project is the placemaking method, which is a design approach where the aim of the design is to strengthen relationships between users and with a place. What we want to emphasize is the local identity of Senen, especially Kwitang, as an area famous for sales. books so that Senen's identity as an area synonymous with books returns. Keywords:  book; identity; placelessness; placemaking Abstrak Senen adalah kawasan yang cukup identik dengan pedagang buku sejak tahun 1970-an. Toko buku yang cukup terkenal yaitu Toko Buku Gunung Agung juga berdiri di Senen, Kwitang pada tahun 1953. Para pedagang buku pun berjejeran di sepanjang jalan kawasan Senen, terutama Kwitang. Pada tahun 2008, para pedagang buku mengalami relokasi, mereka berpindah menuju tempat yang berbeda dan ada juga yang menyewa ruko bersama-sama di Kwitang. Namun seiring tahun, penjualan buku dan jumlah pengunjung semakin menurun, terutama pada saat pandemi. Identitas Senen sebagai kawasan yang identik dengan penjualan buku juga semakin menurun karena kehadiran buku cetak tergeserkan oleh kehadiran e-book. Selain itu, para pedagang juga mengeluhkan rendahnya minat baca di kalangan masyarakat sehingga menimbulkan kondisi “placelessness”. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat yang gemar maupun yang kurang gemar membaca. Terdapat beberapa program yang disediakan untuk meningkatkan minat membaca seperti exhibisi, teater, dan lain-lain. Karena buku yang umumnya dijual pedagang di Kawasan Senen merupakan buku bekas, maka terdapat juga ruang untuk merestorasi buku. Untuk metode yang akan digunakan untuk proyek ini adalah metode placemaking, yang merupakan pendekatan desain dimana tujuan dari sebuah desain tersebut adalah mempererat hubungan antar pengguna dan dengan suatu tempat, hal yang ingin ditekankan adalah identitas lokal Senen, terutama Kwitang, sebagai kawasan yang terkenal akan penjualan buku agar identitas Senen sebagai kawasan yang identik dengan buku kembali.