cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN SAMPAH DI DESA SANUR Indira Sapphira; Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10773

Abstract

Human dwelling to survive, so that their existence can be seen in the world (Heidegger, 1971). In his life, humans will produce garbage. The consumptive culture of the community causes the amount of waste to increase day by day. According to the European Commission, Indonesia is the country with the second largest waste producer in the world, with a low recycling rate (22%). In Indonesia, South Denpasar (Sanur) is the city with the highest waste problem with lowest recycling rate. This design project aims to create a living space in South Denpasar (Sanur) that is able to coexist with garbage, make people interact and be educated on the importance of recycling their own waste, and live in the future while still applying the tri hita karana concept by minimizing waste production. By using this type of qualitative descriptive approach, starting with the stage of literatur to study the related dwelling, waste recycling, the concept of tri hita karana. second, field observations to determine the condition of the site around, people's daily behavior. Third, comparing several case studies to present several programs that will be created in this project. Fourth, compile/tabulate the results of observations and data so that we can find out the spatial scenario and calculate the amount that will be created. Applying the tri hita karana concept with Zero Waste Living to the project, as an approach to community culture, then providing a program that educates the public about waste recycling, not only that, the concept of using building materials derived from recycling is also presented in this project so that it can create Bali clean and green province. Keywords: Sustainable living; Waste Problem; Zero Waste Living Abstrak Manusia Dwelling untuk bertahan hidup sehingga terlihat keberadaannya / kehadirannya di dunia (Heidegger, 1971). Di kehidupannya manusia akan menghasilkan sampah. Budaya masyarakat yang konsumtif menyebabkan jumlah sampah kian hari kian bertambah. Menurut European Commision, Indonesia adalah negara dengan produsen sampah kedua terbesar di dunia, dengan tingkat daur ulang yang rendah (22%). Di Indonesia, Denpasar Selatan (Sanur) merupakan kota dengan permasalahan sampah tertinggi dengan tingkat daur ulang yang rendah. Proyek rancangan ini bertujuan untuk menciptakan ruang berhuni di Denpasar Selatan (Sanur) yang mampu berdampingan dengan sampah, membuat masyarakat berinteraksi dan teredukasi dengan pentingnya mendaur ulang sampah, dan hidup dimasa depan dengan tetap menerapkan konsep tri hita karana dengan meminimalkan produksi sampah. Dengan menggunakan jenis pendekatan deskriptif kualitatif, diawali dengan tahapan studi literatur terkait dwelling, pendaur ulangan sampah, konsep tri hita karana. kedua, observasi lapangan untuk mengetahui kondisi tapak sekitar, perilaku masyarakat sehari-hari. Ketiga, mengkomparasikan beberapa studi kasus untuk menghadirkan beberapa program yang akan diciptakan dalam proyek ini. Keempat, mengkompilasi/mentabulasi hasil dari observasi maupun data sehingga dapat mengetahui scenario ruang dan mengkalkulasikan besarannya yang akan di buat. Menerapkan konsep tri hita karana dengan Zero Waste Living pada proyek, sebagai pendekatan terhadap kebudayaan masyarakat , lalu memberikan program yang mengedukasi masyarakat tentang daur ulang sampah, tidak hanya itu konsep penggunaan material bangunan yang berasal dari daur ulang juga di hadirkan pada proyek ini sehingga dapat menciptakan Bali clean and green province.
PUSAT SIMULASI ESPORT JAKARTA Steven Chandra; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4004

Abstract

Indonesia merupakan negara yang beragam dengan menggunakan pariwisata sebagai salah satu sumber devisa terbesar dengan 10,4 juta turis dengan peningkatan 7,2% per tahun pada 2016.  Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan kunjungan 20 juta wisatawan asing, dengan target pemasukan devisa Rp 260 triliun. Indonesia merupakan negara pengguna dan pemain e-sport dengan peringkat ke-16 di dunia dengan lebih dari 43 juta orang Indonesia menyumbang menjadi pemain e-sport dengan dibantu Architourism. Namun dengan jumlah pengguna di cabang olahraga yang termasuk baru ini, Indonesia belum memiliki pusat E-sport yang berbasis simulator dengan teknologi yang memadai dan tempat pertandingan yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa Cabang Olahraga E-sport mulai merambah pada bidang Simulasi dan tidak hanya bergerak pada basis PC dan Mobile saja. Perkembangan teknologi yang cepat membuat di Indonesia-pun penggemar atau pemain bahkan atlit-atlit dari bidang cabang olahraga elektronik yang berbasis simulasi-pun mulai berdatangan dan berkembang. Berada dikawasan Cengkareng, Jakarta Barat dengan pertimbangan lokasi yang sangat strategis berada langsung di titik kawasan TOD Rawa Buaya. Konsep yang diangkat adalah retrofuturism yang diangkat bagian cyberpunk-nya. Bangunan memiliki beragam fungsi yakni kantor developer game, kantor atlit, pusat bermain, pusat komunitas, restoran robotik, retail, dan arena yang menjadi fungsi utama berkapasitas 4.567 orang.
KAJIAN RUANG SAKRAL BAGI MILENIAL DI DALAM KREMATORIUM Drama Permai; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4326

Abstract

A very thick culture in Indonesian society is increasingly fading away by the milenial generation over time. One culture that is taken as an example is the culture of ancestral prayer, fading due to the absence of mediators to study the culture. The learning of ancestral prayer culture can be practiced directly in one of the sacred buildings, namely the crematorium and the columbarium. The purpose of this study was to examine the typology of crematorium spaces that match the behavior of the milenial generation and how to process the spatial atmosphere elements in the crematorium building. The research method used is collecting data from direct interviews, internet data and books, comparison of precedent studies and synthesis analysis. The crematorium was designed for the milenial by emphasizing a journey that will be carried out by the milenials. Space scale, space colors, light and dark spaces, and the atmosphere inside will create a sacred journey. This Journey is expected to be a reference where milenials can save a cultural experience by directly sensing the atmosphere and activities in each of their spaces that will create a separate memory for the milenials. The design presented will separate the 2 main programs, namely the sacred mass and the non-sacred mass that is connected with a link. The role of nature is also included as a combination of the artificial world and the natural world such as the earth where the sky is superimposed. AbstrakBudaya yang sangat kental di dalam masyarakat Indonesia semakin lama semakin memudar oleh generasi milenial seiring dengan berjalannya waktu. Salah satu budaya yang diambil sebagai contoh adalah budaya sembahyang leluhur, memudar dikarenakan tidak adanya mediator untuk mempelajari budaya tersebut. Pembelajaran budaya sembahyang leluhur dapat dipraktekan langsung di salah satu bangunan sakral, yaitu krematorium dan kolumbarium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti tipologi ruang krematorium yang cocok dengan perilaku generasi milenial dan bagaimana cara mengolah unsur suasana keruangan di dalam bangunan krematorium. Metode penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data dari wawancara secara langsung, data internet dan buku, perbandingan studi preseden dan analisis sintesis. Krematorium ini dirancang untuk milenial dengan menekankan pada sebuah perjalanan yang akan dilakukan oleh para milenial. Permainan skala ruang, warna ruang, terang dan gelap ruang, dan suasana hiruk pikuk suasana di dalamnya akan menciptakan sebuah perjalanan sakral. Perjalanan ini diharapkan dapat menjadi acuan dimana para milenial dapat menyimpan sebuah pengalaman budaya dengan cara merasakan langsung suasana dan kegiatannya di setiap ruangnya yang akan menciptakan memory tersendiri bagi para milenial. Desain yang disajikan akan memisahkan 2 program utama yaitu massa sakral dan massa non-sakral yang dihubungkan dengan sebuah penghubung. Peran alam juga dimasukkan sebagai perpaduan antara dunia buatan dan dunia alam seperti bumi dimana dilapiskan oleh langit.
RUANG KETIGA SEBAGAI MEDIA INTERAKSI DI WIJAYA KUSUMA Ruliana Ruliana; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8545

Abstract

Based on site analysis in Wijaya Kusuma, there is social gap between two social groups which are living side by side but rarely interacting to each other because there isn’t any place to accommodate their interactions, this region’s population mostly are school-aged children and there’s a large number of schools in this region, so Wijaya Kusuma Playscape as a third place hopefully could be the answer of the problem, by using playing as a medium where can be a place for the two social groups to interact, as well as a non-formal education forum for local residents. Using observation and interview methods to collect the data and using analogy method as the design method. Using tree house as the design concept to build playful ambience and the theory of the third place by Ray Oldenburg also applied in this project. Hopefully Wijaya Kusuma Playscape could be a place where people can meet, interact, play, and learn in Wijaya Kusuma. Keywords:  interact; play; third place Abstrak Berangkat dari investigasi tapak di Kelurahan Wijaya Kusuma, berdasarkan analisis kawasan, dilihatnya ada kesenjangan sosial dimana terdapat dua golongan sosial yang hidup berdampingan namun kurang berinteraksi karena tak ada wadah yang mempertemukan, dominasi penduduk yang berusia anak sekolah dengan jumlah sekolah yang banyak pada kawasan ini, maka dibuatlah Wijaya Kusuma Playscape sebagai ruang ketiga yang diharapkan dapat menjadi jawaban dari analisis masalah yang ditemukan, dengan menggunakan media bermain dapat menjadi wadah kedua golongan sosial tersebut untuk berinteraksi, serta menjadi wadah pendidikan non-formal bagi warga sekitar. Menggunakan metode observasi dan wawancara sebagai metode pengumpulan data dan menggunakan metode analogi sebagai metode perancangan. Konsep perancangan menggunakan konsep rumah pohon untuk menciptakan suasana bermain yang asik dan menerapkan teori ruang ketiga dari Ray Oldenburg ke dalam perancangan. Diharapkan Wijaya Kusuma Playscape dapat menjadi tempat berkumpul, berinteraksi, bermain, dan belajar di Kelurahan Wijaya Kusuma.
KANTOR UNTUK MILENIAL Albert Satyagraha; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4362

Abstract

Millennial generation is the generation of births from 1980 to 2000, which is currently 20 to 39 years old. Currently the millennial generation fills the second largest generation in Indonesia, which is 40% and will continue to grow in the future. Millennials are people who are easily bored in doing things, they like to move around. The average millennial has moved to 4 times in 10 years. This is a result of a work environment that does not match what they want. They do not like a formal and rigid work environment, where they have to spend time working by sitting at the computer for hours with a set amount of time. Millennials love the freedom to do things. They will try to make themselves as comfortable as possible in work without being bound by time and place. In addition, other influences that make them uncomfortable in their workplaces are the work done just that, without new things and challenges. In dealing with existing problems, we need to learn what millennial characteristics are like, then adjust to the system and work environment they need. Millennials need containers for them to work, which can make them feel comfortable and not feel depressed. This will make them feel work is not a demand and punishment, but a part of the life they live. AbstrakGenerasi millennial adalah generasi kelahiran sekitar tahun 1980 sampai dengan 2000, dimana pada saat ini berumur 20 sampai 39 tahun. Saat ini generasi millenial mengisi angkatan terbesar kedua di Indonesia, yaitu sebesar 40% dan akan terus bertambah ke depannya. Millennial adalah kaum yang mudah bosan dalam melakukan suatu hal, mereka  senang pindah-pindah kerja. Rata-rata millennial pindah kerja hingga 4 kali dalam 10 tahun.  Hal ini merupakan akibat dari lingkungan kerja yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Mereka tidak menyukai lingkungan kerja yang formal dan kaku, dimana mereka harus menghabiskan waktu bekerja dengan duduk di depan komputer selama berjam-jam dengan waktu yang sudah ditentukan. Millenial menyukai kebebasan dalam melakukan sesuatu. Mereka akan berusaha membuat diri mereka senyaman mungkin dalam bekerja tanpa terikat tempat dan waktu. Selain itu, pengaruh lain yang membuat mereka tidak nyaman dalam tempat kerjanya adalah pekerjaan yang dilakukan itu-itu saja, tanpa adanya hal dan tantangan baru. Dalam menghadapi masalah yang ada, kita perlu mempelajari seperti apa karakteristik millenial terlebih dahulu, lalu menyesuaikan dengan sistem dan lingkungan kerja yang mereka butuhkan. Millenial membutuhkan wadah untuk mereka bekerja, yang dapat membuat mereka merasa nyaman dan tidak merasa tertekan. Hal ini akan membuat mereka merasa kerja bukanlah suatu tuntutan dan hukuman, melainkan bagian dari hidup yang dijalaninya. 
RUANG KOMUNITAS BERBASIS TANAMAN DI RAWA BELONG Antonia Vicki Amelia; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10744

Abstract

Along with the times, there are more and more people, especially in big cities, who live individually and have less direct interaction between individuals, individuals with groups, and between groups. This lack of interaction is motivated by a variety of things, one of which is the absence of community spaces for gathering, interacting, or exchanging ideas. Plant as Connection is a plant-based community space located in the area of Rawa Belong, Kebon Jeruk, West Jakarta, with the aim of being a connector or link where individuals and groups can gather and interact directly. Due to its plant-based activities, this project is located in the Rawa Belong area, West Jakarta which has been known as an ornamental plant area from time immemorial. This project is designed based on plants because in the future life, plant is one of the important things that will affect the way of human life. The influence of plants on the human life has begun to be seen from the current conditions where many people are competing to planting at home to be used as room decoration, hobbies, leisure activities, even for consumption. Therefore, the similarity of activities and hobbies can lead to the emergence of new communities and create opportunities for community space to accommodate these community activities and increase interaction between individuals, individuals with groups, and between groups. Keywords:  community space; interaction; plants AbstrakSeiring perkembangan zaman semakin banyak orang-orang terutama di kota besar yang hidup secara individual dan kurang berinteraksi secara langsung baik antarindividu, individu dengan kelompok, maupun antar kelompok. Kurangnya interaksi tersebut dilatar belakangi oleh berbagai macam hal yang salah satunya adalah tidak adanya ruang-ruang komunitas untuk tempat berkumpul, berinteraksi, atau bertukar pikiran. Plant as Connection adalah sebuah ruang komunitas yang berbasis pada tanaman yang terletak di kawasan Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dengan tujuan menjadi konektor atau penghubung dimana individu maupun kelompok dapat berkumpul dan berinteraksi secara langsung. Dikarenakan aktivitasnya yang berbasis pada tanaman, maka proyek ini berlokasi di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat yang sudah dikenal sebagai kawasan tanaman hias dari zaman dahulu. Proyek ini dirancang berbasis pada tanaman karena pada kehidupan di masa depan tanaman merupakan salah satu hal penting yang akan mempengaruhi cara hidup manusia. Pengaruh tanaman pada cara hidup manusia ini sudah mulai terlihat dari kondisi saat ini dimana banyak sekali orang yang berlomba-lomba untuk merawat tanaman di rumah guna dijadikan sebagai hiasan ruangan, hobi, aktivitas di kala senggang, bahkan untuk dikonsumsi. Oleh sebab itu, kesamaan aktivitas maupun hobi ini dapat mengakibatkan munculnya komunitas baru dan menciptakan peluang adanya ruang komunitas guna mewadahi aktivitas komunitas tersebut serta meningkatkan interaksi antarindividu, individu dengan kelompok, maupun antar kelompok.
EVALUASI PENGELOLAAN JEMBATAN PENYEBERANGAN MULTIGUNA TANAH ABANG Hari Azhari; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7289

Abstract

The Tanah Abang Multiway Skybridge is a building located at Tanah Abang Market Area, precisely in Kampung Bali Village, Tanah Abang District, Central Jakarta. The Tanah Abang Multiway Skybridge was built on the basis of the relocation of street vendors in Tanah Abang Area, which was built by PD Saran Jaya and the Regional Government of DKI Jakarta. The construction of the Tanah Abang Multiway Skybridge is based on the instruction of the Governor of DKI Jakarta, Anies Baswedan, to relocate street vendor who are mushrooming and often create traffic jam on Jati Baru Raya Street. The Tanah Abang Multiway Skybridge was built in August 2018 and began operating on a trial period in December 2018.  With The Tanah Abang Multiway Skybrigde in The Tanah Abang Area, it has become a new trending area in The Tanah Abang Market Area which is directly connected with several modes of transportation and also other Tanah Abang Market Areas. But The Tanah Abang Multiway Skybrigde Area still has shortcomings in terms of its management, especially on the availability of facilities such as toilets, seating and also the charging booth as well as in terms of cleaniliness and securities. The Author conducted several analyses such as policy analysis, location analysis, site analysis, best practies analysis and them analysis of perception and preference of visitors to produce proposals and the management evaluation plans at Tanah Abang Multiway Skybridge Area.Keywords: evaluation; management; skybridgeAbstrakJembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang merupakan suatu bangunan yang terletak di kawasan Pasar Tanah Abang tepatnya di Kelurahan Kampung Bali, kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jematan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang dibangun atas dasar relokasi para pedagang kaki lima pada kawasan Tanah Abang yang dibangun oleh PD Sarana Jaya dan Pemerintah DKI Jakarta. Pembangunan Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang ini didasari oleh instruksi Gubernur DKI Jakarta yaitu Anies Baswedan guna untuk merelokasi para pedagang kaki lima yang menjamur dan kerap selalu membuat kemacetan pada Jalan Jatibaru Raya. Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang dibangun pada bulan Agustus tahun 2018 dan mulai dioperasikan dengan masa percobaan pada bulan Desember tahun 2018. Dengan adanya Jembatan Penyeberangan Multiguna, menjadikannya sebagai kawasan perdagangan baru pada kawasan pasar Tanah Abang yang terhubung langsung dengan beberapa moda Transportasi dan juga kawasan pasar Tanah Abang lainnya. Namun kawasan Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang ini masih memiliki kekurangan pada segi pengelolaannya, terutama pada ketesediaan fasilitas seperti toilet, tempat duduk dan juga charging booth serta pada segi kebersihan dan keamanannya. Penulis melakukan beberapa analisis seperti analisis kebijkana, analisis lokasi, analisis tapak, analisis best practies serta analisis presepsi dan preferensi pengunjung sehingga menghasilkan usulan dan rencana evaluasi pengelolaan pada kawasan Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang.
TAMAN BERMAIN ANJING PELIHARAAN Samuel Rustandy; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3997

Abstract

Kurangnya ruang yang ramah terhadap hewan peliharaan di Jakarta memunculkan gagasan untuk membuat tempat yang ramah hewan peliharaan. sebuah tempat yang dapat mewadahi pecinta hewanpeliharaan dan hewan peliharaannya untuk melakukan aktivitas selain di rumah. Sebuah tempat dimana manusia bisa berkumpul, berinteraksi, bersosialisasi antar manusia dan hewan peliharaannya. Sebuah tempat bermain dengan fasilitas fasilitas yang memadai untuk pemilik hewan peliharaan maupun hewan peliharaan itu sendiri. Kelapa Gading menjadi pilihan tempat dimana proyek ini akan dibangun karena Kelapa Gading mayoritas merupakan kawasan perumahan yang boleh diperkenankan memelihara hewan peliharaan. Kelapa Gading juga dihuni oleh orang golongan menengah ke atas yang diasumsikan mau mengeluarkan uang lebih untuk memanjakan hewan peliharaannya. Metode Perancangan berupa kajian pustaka, studi preseden, studi lapangan dan analisis terhadap program program yang memiliki kemiripan. Metode ini membantu memberikan informasi yang dibutuhkan dalam proses perancangan. Program utama dalam proyek ini adalah sebuah taman bermain anjing peliharaan dengan fasilitas pendukung seperti Toko Hewan, Salon Hewan, Klinik Hewan, Hotel Hewan, Kolam Renang Anjing, Restoran dan Kafe. Proyek ini diharapkan dapat memberikan manfaat dengan mengurangi tingkat stress penduduk metropolis yang butuh rekreasi sebagai  penyegaran rohani dan jasmaninya dan meningkatkan sosialisasi antar penduduk yang dimana di kota metropolis penduduknya sangat individualis melalui hobi menyayangi hewan.
FASILITAS KEBUGARAN JASMANI DI KELURAHAN KALIDERES Vincent Vincent
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8539

Abstract

Human social life connected with the growth of the city itself, day now people in common are individualist so the idea of third place come up by sociologist Ray Oldenberg. According to Ray Oldenberg place divide into three, first place is a home, second place – workplace, and third place the place where you can relaxing, hangout, and socialize with the other. Third place have an important role to strengthen social relation, but third place day now is more focus on commercial activities, for example mall, café (Starbuck), bar or restaurant (Mcd) with the target market is upper middle class people so it create sense of ‘unwilling’ to lower middle class people to come to  the same place. This problem could cause social gap and third place no longer open for everyone (neutral). To answer this problem, writer designing SPA & Wellness Facility at Kalideres as third place for people in Kalideres region. This facility provide relaxation facility that can be enjoyed for free nor paid. The free facility consist of park, gymnastics area and shallow water pool for relaxation, this free facility is intended so the lower middle class people at Kalideres can enjoyed the third place facility. For the paid facility consist of gymnastics facility, hair treatment, pantry and SPA (massage, bath and pool).Keyword : Facility; Neutral; Relaxation; Third PlaceAbstrakKehidupan sosial manusia berhubungan dengan perkembangan kotanya, saat ini masyarakat pada umumnya bersifat individualis sehingga muncul isu mengenai third place yang diciptakan oleh Sosiolog Ray Oldenberg. Menurut Ray Oldenberg place dibagi menjadi tiga, yaitu first place yang merupakan rumah, second place -tempat bekerja, dan third place yang merupakan tempat untuk bersantai (hangout), berelaksasi dan bersosialisasi. Third place mempunyai peran yang penting untuk mempererat hubungan sosial, akan tetapi third place yang kita temui hari-hari ini di Jakarta lebih fokus kepada aktivitas komersial seperti mall, café (Starbuck), bar atau restoran (Mcd) dengan target marketnya adalah orang menengah ke atas sehingga menimbulkan rasa ‘segan’ bagi orang menengah ke bawah untuk datang ke tempat yang sama. Hal ini kemudian menciptakan kesenjangan sosial dan membuat third place tidak bisa dikunjungi semua orang. Untuk itu menjawab persoalan ini, penulis merancang Fasilitas Kebugaran Jasmani di Kalideres sebagai third place bagi masyarakat Kelurahan Kalideres. Fasilitas ini menyediakan fasilitas relaksasi yang dapat dinikmati secara tidak berbayar maupun berbayar. Fasilitas yang tidak berbayar meliputi area taman, area senam dan area relaksasi di kolam air dangkal, hal ini bertujuan agar orang menengah ke bawah di Kelurahan Kalideres juga dapat menikmati fasilitas third place. Untuk fasilitas yang berbayar terdiri dari fasilitas GYM, salon, pantry dan SPA (pijat, pemandian dan kolam renang).
FASILITAS TRANSIT RAWA BUAYA Cindy Herlim Santosa; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6841

Abstract

Jakarta is the second most populous city in the world with a population density of 10 million people in 2017. Density causes rapid development in the Jakarta area without any planning. The development that occurs makes the boundaries between office zoning located in the downtown area and residential zones located on the edge of the city. The zones formed have resulted in increased mobility that can be seen from vehicle ownership, transportation modes, and traffic congestion in Jakarta. Charles Montgomery in the book Happy City said that high congestion causes a decline in health that occurs due to stress for the community of public transportation modes. One way to reduce stress is to socialize according to Adhiatma and Christianto (2019). Third Place or social space becomes a solution for socializing for the public transportation community. The Third Place concept can be felt more by the public transportation community, where they can feel the difference between the housing zone and the office zone. The transit or transit place that is formed will be a social space that is used without differentiating social status. One of them is the transit facility located in Rawa Buaya. The Rawa Buaya transit facility is designed using qualitative data collection techniques and cross programming in design planning. The method used produces three main programs that emphasize service, entertainment and commercial functions, which shape social interaction, gathering space, and space for interaction between Rawa Buaya bus terminal communities. AbstrakJakarta merupakan kota kedua terpadat di dunia dengan kepadatan penduduk mencapai 10 juta jiwa pada tahun 2017. Kepadatan menimbulkan perkembangan yang cepat di wilayah Jakarta tanpa adanya perencanaan. Perkembangan yang terjadi membuat batasan antar zonasi perkantoran yang berada di daerah pusat kota dan zona hunian yang berada di pinggir kota. Zona yang terbentuk mengakibatkan peningkatan pergerakan mobilitas yang dapat dilihat dari kepemilikan kendaraan, pengguna moda transportasi, dan kemacetan yang terjadi di Jakarta. Charles Montgomery dalam buku Happy City mengatakan mengenai kemacetan yang tinggi menimbulkan penurunan kesehatan yang terjadi akibat stress bagi kaum komunitas moda transportasi umum. Salah satu cara mengurangi stress adalah dengan bersosialisasi menurut Adhiatma dan Christianto (2019). Third Place atau ruang sosial menjadi solusi untuk bersosialisasi bagi komunitas transportasi umum. Konsep Third Place dapat lebih dirasakan oleh komunitas transportasi umum, dimana mereka dapat merasakan perbedaan zona perumahan dengan zona perkantoran. Tempat transit atau tempat singgah yang terbentuk akan menjadi ruang sosial yang digunakan tanpa membedakan status sosial. Salah satunya fasilitas transit yang berada di Rawa Buaya. Fasilitas transit Rawa Buaya dirancang dengan menggunakan teknik pengumulan data kualitatif dan cross-programming dalam perencanaan perancangan. Metode yang digunakan menghasilkan tiga program utama yang menekankan pada fungsi pelayanan, hiburan, dan komersil, yang membentuk interaksi sosial, ruang berkumpul, dan ruang untuk berinteraksi antar komunitas terminal bus Rawa Buaya.

Page 18 of 134 | Total Record : 1332