cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PUSAT KOMUNITAS SENI DI BINTARO, JAKARTA SELATAN Jeremy Alexander; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10857

Abstract

Living is a concept of being in a place of residence where humans do not have to stay but can also wander, in another sense that the concept of dwelling is not always permanent, but humans can express feelings, exchange ideas, gather and so on. Mental’s healthiness is one of the most important things of a person’s life. Mental’s healthiness can affect the way of somebody’s life and somebode’s future. There are many causes that affect someone’s mental’s healthiness that triggered by someone’s stress level for short and long period of time. A lot of people those suffer from mental’s healthiness attacks by many other factors beside stress. According to scientists, things like these can be prevented by increasing someone’s dopamine hormone which can produce good feeling,  when someone is doing activities they enjoy and other things that contains art and community activities to express their feelings. Of the many countries in the world, only a few of countries that implement and monitoring the mental’s healthiness of their people. Therefore, it is very recommended for a country to develop some facilities which is generally related to arts and communities activities, that is art community center for preventing someone’s mental’s disorder. This project’s aim is make people to express their feelings as possible and be able to support the prevention of mental’s disorder. So that mental’s healthiness issues can be prevented, controlled, and not ignored. Keywords:  Art, community,dwelling, mental’s healthiness, preventing. AbstrakBerhuni adalah suatu konsep manusia berada di tempat tinggal dimana manusia itu tidak harus menetap melainkan dapat mengembara juga, dalam artian lain bahwa konsep berhuni tidak selalu menetap, melainkan manusia dapat mengekspresikan perasaan, bertukar pikiran, berkumpul dan lain – lain. Kesehatan mental adalah salah satu bagian yang terpenting dalam kehidupan seseorang. Kesehatan mental dapat memengaruhi suatu jalan hidup dan masa depan seseorang. Banyak sekali penyebab kelainan mental yang salah pemicunya adalah tingkat stres seseorang dalam jangka waktu yang sebentar atau lama. Tidak sedikit orang yang terkena serangan kesehatan mental yang disebabkan oleh banyak faktor selain stres. Menurut ilmuwan, hal seperti ini dapat dicegah dengan peningkatan hormon dopamin yang dapat menghasilkan perasaan senang ketika seseorang melakukan kegiatan yang mereka senangi dan hal – hal lainnya yang berbau seni serta juga aktivitas yang berhubungan dengan komunitas untuk mengungkapkan perasaan mereka. Dari sekian banyak negara di dunia, hanya sebagian kecil negara yang menerapkan dan memantau kesehatan mental rakyatnya. Oleh karena itu sangat disarankan suatu negara mengembangkan suatu fasilitas yang pada umumnya berbau dengan hal seni dan komunitas yakni suatu pusat komunitas seni untuk pencegahan kekurangan dalam hal mental seseorang. Proyek ini bertujuan untuk membuat seseorang dapat mengekspresikan dirinya sebagaimana mungkin dan dapat mendukung pencegahan terhadap kekurangan mental seseorang, sehingga isu kesehatan mental pada suatu negara dapat terkendali dan tidak dibiarkan begitu saja.
PUSAT AKUATIK JAKARTA BARAT Avine Setiadi; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4005

Abstract

 Pusat Akuatik  ini berlokasi di jakarta barat, Kebun jeruk, Jl Panjang. di tengah metropolis proyek ini membuat sebuah wisata, dimana mendukung kepariwisataan serta orang yang membutuhkan wisata ini. perkembangan minat olahraga minat olahraga akuatik khususnya di jakarta kurang baik dikarenakan malasnya berolahraga. padahal indonesia merupakan wilayah perairan,  atlet renang di indoensia juga masih memiliki potensi. kolam renang berbasis rekreasi di jakarta barat ini ingin menyediakan fasilitas renang yang diharapakan menyelesaikan masalah tersebut sebagai kawasan yang akan menjadi wisata.kolam renang berbasis rekreasi merupakan bisnis yang menggirurkan.terbukti dari wahana-wahaan kolam di jakarta yang sudah terkenal. di proyek ini akan digabung standar internasional yaitu kolam renang olympic dan kolam wahana (waterpark)Kunci:Pusat Akuatik Jakarta barat
RUMAH KOST UNTUK MILENIAL Ivan Laksana Setiadi; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4574

Abstract

West Jakarta that has a dense millennial population.  Basically, millennials live on technological developments, therefore, technology is extremely influential for the millennial generation, but as the year grows, an impending phenomenon occurs in the millennial generation, such as the increase in the price of housing.  These events greatly affect the life to come.  The increase in housing prices rose twice as fast than the millennial's salary increase.  Therefore the millennial generation is threatened by the possibility of not being able to afford a housing.  The proposal for the "Boarding House for Millennials" program aims to make an alternative place for the millennials to live where the millennial generation can live comfortably and adapt according to the times, so they can learn new things to survive. Users will experience an architectural trend and get links from the community, because the millennial generation needs these links inside the community to facilitate their lives.  The concept of boarding is a concept that is much needed in terms of its nature, namely educating users, it is its intention that this building can be a positively valued space for the millennial generation, also it can be used as an alternative place to live for the millennial generation, in addition to having a positive value for the environment  and the necessities of the surrounding community. AbstrakRawa Buaya merupakan kelurahan di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Rawa Buaya merupakan daerah di Jakarta Barat yang memiliki populasi millennial yang padat. Pada dasarnya manusia millennial hidup pada perkembangan teknologi sehingga teknologi sangatlah berpengaruh untuk generasi millennial, namun seiring bertambahnya tahun, terjadi sebuah fenomena pada generasi millennial yang tidak bisa terhindarkan, yaitu kenaikan harga tempat tinggal. Peristiwa tersebut sangatlah mempengaruhi kehidupan yang akan datang. Kenaikan harga tempat tinggal naik 2 kali lipat lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji yang didapat oleh millennial. Maka dari itu generasi millennial terancam tidak bisa memiliki tempat untuk tinggal. Pengusulan program “Rumah Kost untuk Millennials” memiliki tujuan menjadikan sebuah tempat alternatif untuk millennial tinggal dimana generasi millennial dapat hidup dengan senang dan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga mendapat sebuah hal pembelajaran yang baru untuk kelangsungan hidupnya. Pengalaman pengguna yang akan merasakan sebuah trend arsitektur dan mendapatkan link dari berkomunitas, karena generasi millennial sangat memerlukan sekali link dalam berkomunitas untuk mempermudah hidupnya. Konsep kost merupakan konsep yang sangat dibutuhkan dari segi sifatnya, yaitu mendidik pengguna, maka dari itu diharapkan bangunan ini dapat menjadi nilai positif untuk generasi millennial, dapat dijadikan sebagai tempat alternatif sebagai tempat tinggal untuk generasi millennial disamping itu tempat kost ini memiliki nilai positif untuk lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. 
RUANG SENI BEBAS STRES TJIKINI Jessica Santoso; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8519

Abstract

The consequences of living in a big city with such an intense life pace putting the citizens at higher risk for stress compared to those who live in the rural areas. Jakarta ranked 132nd out of 150 in the world’s most stressfull cities ranking. The stress level of its citizens is at level five on a scale of 1-10 and the numbers of its population with mental health problem keeps increasing each year. There are several factors that contribute to stress, i.e. the high rate of urbanization, traffic congestion, the lack of green spaces availability, heavy workload and also the pace of life in cities that needs us to always be faster, dynamic and efficient. Therefore, those who live in the cities needs the third place. A comfier space between home (first place) and work (second place) for citizens to spend the time, to take  a break from the daily routine, to socialize and to interact with others, and also as a place to relieve the stress. Using the healing environment approach, the purpose of Tjikini Stress Relieve Art Space is to provide an urban public space for recreation, freedom of expression, social gathering, social interaction and to have better knowledge on the arts as one of the alternatives to relax and to relieve the stress. It also acts as an supporting facility for arts activities in Cikini area which will become art and culture center of Jakarta. Keywords: Interaction; Stress; Third Place; Urban Stress AbstrakKonsekuensi tinggal di kota besar dengan dinamika kehidupannya yang sangat intens menjadikan masyarakat perkotaan rentan mengalami stres dibandingkan mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Jakarta menduduki peringkat ke-132 dari 150 kota paling stres di dunia. Tingkat stres masyarakatnya telah memasuki tahap kritis yakni, melebihi stadium lima dari skala 1-10 dan jumlah penderita gangguan mental emosional (stres) yang terus meningkat setiap tahunnya. Banyak faktor yang menjadi penyebab stres masyarakat kota diantaranya, tingginya tingkat urbanisasi, kemacetan, kurangnya ketersediaan ruang terbuka hijau, stres akibat menghadapi beban tuntutan pekerjaan hingga stres akibat tuntutan kehidupan perkotaan yang serba cepat, dinamis, dan serba efisien. Maka dari itu, masyarakat kota membutuhkan tempat ketiga. Sebuah ruang yang menghubungkan  rumah atau tempat tinggal (tempat pertama) dan tempat kerja (tempat kedua) sebagai ruang publik yang lebih santai bagi masyarakat kota untuk dapat beristirahat, berhenti sejenak dari segala rutinitas yang dilakukan setiap hari, bersosialisasi dan  berinteraksi serta menjadi tempat untuk menyalurkan stres. Dengan menggunakan metode Healing Environment, Ruang Seni Bebas Stres Tjikini bertujuan untuk membuat sebuah ruang publik yang memberikan ruang dan waktu bagi masyarakat kota untuk berkreasi, berekspresi, berkumpul, berinteraksi, dan mengenal lebih luas mengenai seni sebagai salah satu alternatif untuk relaksasi dan menyalurkan stres mereka. Juga sebagai fasilitas pendukung kegiatan seni pada Kawasan Cikini yang akan menjadi Pusat Kesenian Dan Kebudayaan Jakarta.
KANTOR EQUIPOISE: MENYEIMBANGKAN KEHIDUPAN BEKERJA DAN BERKELUARGA Judelia Kusuma Halim; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4437

Abstract

Millennials behavior is currently being shaped by the life cycle effect, in which they are setting out for the third stage of life with a focus on career improvement and starting a family. Equipoise Office is a space facilitating millenials in achieving and balancing those life goals. Equipoise Office is an office building, divided into two-towers by applying transprogramming in design to produce a new program that can be experienced by millennials. It is designed in a form that symbolizes parents and children as the main concept that reflects the mix of programs in it. The second skin is added as an element that aids in reducing heat and light that enters the building. Zone division is designed based on user analysis in accordance with the method used, intended to provide space experience to users and visitors efficiently with the embodiment of architecture in the form of light, shadow, material, color, texture, and shape of space. Abstrak Saat ini, perilaku generasi milenial dipengaruhi oleh life cycle effect, di mana mereka sedang memulai di tahap kehidupan ketiga dengan fokus meningkatkan karir serta memulai kehidupan berkeluarga. Kantor Equipoise merupakan sebuah wadah bagi mereka untuk dapat mencapai dan menyeimbangkan tujuan kehidupan tersebut. Kantor Equipoise merupakan sebuah kantor yang terbagi menjadi 2 tower dengan penerapan transprogramming dalam desain untuk menghasilkan sebuah program baru yang dapat dialami oleh generasi milenial. Kantor Equipoise didesain dengan bentuk yang melambangkan orang tua dan anaknya sebagai konsep utama yang mencerminkan paduan program di dalamnya. Penambahan second skin ditujukan sebagai elemen yang membantu mengurangi panas dan cahaya yang masuk ke dalam bangunan. Desain pembagian zona didasarkan pada analisis pengguna sesuai dengan metode yang digunakan, bertujuan untuk memberikan pengalaman ruang kepada pengguna maupun pengunjung secara efisien dengan perwujudan arsitektur berupa cahaya, bayangan, material, warna, tekstur, serta bentuk ruang.
DALIHAN NA TOLU: “CARA HIDUP ORANG BATAK” Livia Angelina Soetanto; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10807

Abstract

Dalihan Na Tolu is a philosophical meaning for Batak ethnic group which means ‘tungku tiga kaki’ in Indonesian. Dalihan Na Tolu has become the dwelling of the Batak people which is a three-inseparable unity (respect, help, and appriciate) in the life of the Batak people and is implemented into the concept of the traditional Batak house architecture. This project will expose the life of the ethnic group to the outside community, in order to other people understand the way of living, eating, socilizing, and understanding the history of Batak ethnicity. The project will eliminate any negative stigma about the group. In addition, this will give Batak people different perspective about outsiders. As a result, the value of the area in Cililitan which has been exclusive will increase. Moreover, the design solution offers re-creating interactive programs that elevate the essence of the Batak people. This can be done by adapting architectural details from traditional Batak housesandornaments. For example, the use of windveil with Batak Gorga motifs, wooden blinds with geometric shapes of Ulos cloth motifs, and solar panels to produce and save energy. In conclusion, the building that is designed becomes music through air, light, and sound Keywords: Batak; Cililitan; Dalihan Na Tolu; Dwelling; Windveil AbstrakDalihan Na Tolu berarti mengembalikan esensi seluruh etnis Batak yang artinya tungku tiga kaki. Dalihan Na Tolu ini menjadi cara hidup orang Batak yang merupakan tiga kesatuan (menghormati, menghargai, dan menolong) yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan orang Batak dan juga implementasi ke dalam konsep rumah adat Batak. Proyek ini bertujuan untuk mengeskpos kehidupan etnis Batak kepada masyarakat luar, sehingga masyarakat luar dapat merasakan cara berhuni orang Batak mulai dari berhuni, makan, besosialisasi, berinteraksi, dan sejarah tentang orang Batak, sehingga tidak muncul lagi stigma-stigma negatif tentang orang Batak. Selain dari itu, dari kalangan orang-orang Batak sendiri dapat melihat ke arah luar, di mana banyak masyarakat luar yang tertarik dan ingin tahu tentang cara hidup dan berhuni orang Batak sehingga dapat meningkatkan nilai kawasan di Cililitan yang selama ini bersifat eksklusif. Solusi yang ditawarkan ke dalam perancangan adalah mengangkat kembali program-program interaktif yang mengangkat esensi orang Batak menjadi program-program pada perancangan, begitu pun detail-detail arsitektur yang mengadaptasi dari rumah adat Batak, dan ornamen-ornamen Batak seperti penggunaan windveil dengan motif gorga Batak, penggunaan krepyak kayu dari bentuk geometris motif kain ulos, maupun solar panel untuk menghemat energi yang menghasilkan pengudaraan, dan pencahayaan alami. Jadi bangunan yang di desain menjadi bermusik lewat udara, cahaya, dan suara.
PENGEMBANGAN PERUMAHAN SUBSIDI UNTUK PEKERJA INDUSTRI DI KARAWANG Hubert Winata; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7272

Abstract

Housing has always been a necessity in the lives of modern man. Anyone who was already working needs to own at least some form of housing. Development of a city plays a part in determining the prices of the housing sold whereas in the central and business district houses can be very expensive, the one’s at the outskirt of the town can be cheaper or it can be which will be shown in this research. The government concerned offered developers a project which is known as Subsidized Housing, a house which is cheap with lots of benefits to encourage low income buyers. The industrial sector is known for its High Workforce which implies that a lot of manpower is involved, this creates ample market opportunities. Why don’t we see a lot of subsidized housing? This concerns the fact that not all houses built for this manner yields enough profit to entice developers to actually build them. Thus the research for counting the actual benefit must be done in order to convince developers that there is an acceptable return to be gained when developing Subsidized Housing. The analysis conducted in this research include location analysis, site analysis, legality analysis, comparative object study analysis, preference analysis and financial analysis. The analytical tool used is the analysis of proximity, Discounted Cashflow, Sensitivity Analysis, descriptive and quantitative. The results of this study are the amount of returns obtained by the developer in n years, the length of the return and the percentage of profits. Keywords: building material; developer’s profit; industrial district; subsidized housing ABSTRAKRumah sudah menjadi sesuatu yang wajar dimiliki oleh masyarakat di berbagai kalangan, rumah tidak hanya berperan dalam memberikan perlindungan terhadap cuaca tetapi juga sebagai tempat untuk keluarga berkumpul dan menikmati waktu bersama dengan keluarga maupun orang lain. Tentu tidak semua orang bisa memiliki rumah dengan berbagai alasan, oleh sebab itu pemerintah melakukan intervensi dalam bentuk penyediaan subsidi. Namun mengapa tidak banyak perumahan subsidi dikarenakan pihak pengembang hanya melihat secara singkat seberapa besar pengembalian yang didapat pengembang tingkat pengembalian tersebut yang menentukan apakah pengembang mau atau tidak mengembangkan perumahan subsidi. Dengan pertanyaan tersebut dilakukanlah penelitian pengembangan perumahan perumahan subsidi untuk menunjukkan tingakt keuntungan yang akan didapatkan seorang pengembang beserta lamanya pengembalian modal. Analisis yang dilakukan yakni analisis lokasi, analisis tapak, analisis legalitan, analisis objek studi banding, analisis preferensi dan analisis keuangan. Alat analisis yang digunakan adalah analisis proximitas, Discounted Cashflow, Sensitivity Analysis, deskriptif dan kuatitatif. Hasil dari penelitian ini adalah besarnya pengembalian yang didapatkan pengembang pada tahun n, lama pengembaliannya dan persentase keuntungannya.
KAJIAN INOVASI DESAIN BIOSKOP DALAM UPAYA PENGEMBALIAN MINAT GENERASI MILENIAL TERHADAP MOTION PICTURE ENTERTAINMENT Chelsea Mutama; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4436

Abstract

The Millennials Generation or Gen Y, are those born between the year of 1981-2000. The characteristic and lifestyle differences between them and previous generations have resulted in the emergence of new problems and trends in the millennial era, including a phenomena known as The Death of Cinemas that affected the closing of some cinema venues and the drop of cinema ticket sales. According Research conducted by National Cinemedia in the year 2016, The Death of Cinemas is caused by millennials’ dissatisfaction of movie theater venues. There had been no significant changes in the last 20 years while the ticket price had increased 2 times as expensive. This further resulted in 2% decrease of ticket sales per year. Other results showed that movies have a great significance on millennials, not only as entertainment, but also education, influencer, even passion. So this project, titled CineFlicks : Movie Theater & Animation Course aims to restore the essence of motion picture entertainment for millennials and support the advancement of animation, as one of the most preferred movie genre for millennials. The design method used in this project is typology. By studying the evolution of types and variations of movie theater, the designer hopes to understand the design aspects that have changed and those that have always been maintained in movie theater planning. By doing this, the designer hopes to create a certain innovation that will able to respond millennials’ movie-going behaviors as well as possible. AbstrakGenerasi Milenial atau Gen Y adalah mereka yang lahir antar tahun 1981-2000. Perbedaan karakteristik dan gaya hidup mereka dengan generasi-generasi sebelumnya menimbulkan berbagai permasalahan dan trend baru, salah satunya adalah fenomena The Death of Cinemas yang ditandai 2 hal utama, yaitu penutupan beberapa bioskop dan penurunan pedapatan bioskop dari penjualan tiket. Sejak dampak dari fenomena ini semakin terasa, 2 perusahaan yang bergerak di bidang marketing & management bioskop melakukan riset untuk memahami penyebab peristiwa ini dan cara menanganinya. Berdasarkan hasil riset National Cinemedia (NCM) berjudul Millennials Movie Going Experience, yang dilakukan tahun 2016 mengenai penyebab fenomena The Death of Cinemas, diketahui bahwa mayoritas mengalami ketidakpuasan akan movie theater venue yang tidak mengalami perkembangan signifikan dalam 20 tahun terakhir, namun diiringi dengan kenaikan harga tiket hingga dua kali lipat. Film memiliki signifikansi besar dalam dunia generasi milenial, tidak hanya sebagai hiburan, tapi juga sarana edukasi, influencer, dan passion. Jadi, proyek ini bertujuan mengembalikan esensi dari motion picture entertainment bagi generasi milenial dan mendukung perkembangan animasi, sebagai genre film yang mengalami peningkatan pesat sebagai preferensi. Metode yang digunakan dalam perancangan adalah metode tipologi. Dengan mempelajari perkembangan movie theater venue, perancang berharap dapat memahami faktor-faktor yang berubah atau dipertahankan seiring perkembangan zaman, agar dapat menghasilkan sebuah inovasi desain yang dapat merespon movie-going behaviours dari generasi milenial dengan sebaik mungkin.
KAJIAN MENGENAI RUMAH KOPI SEBAGAI RUANG PUBLIK DI KERAMAIAN KOTA KAWASAN BLOK M Alfredo Wijaya Putera
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4345

Abstract

With the most dominant number, millennial generation is one generation which it has high income compared to the previous generation. This change has an impact on lifestyle, where one of  the  lifestyles  that  are  studied  and  understood  is  the  lifestyle   of   drinking   coffee. These lifestyle changes how community enjoying coffee, so coffee houses that exist especially in Jakarta try to adapt to this activity. Apart from that, the adaptation of coffee houses in Jakarta is also more oriented towards American culture, where its role is in the entry of coffee houses in Jakarta, especially in the era of the second wave. So the question is whether the changes in coffee houses in Jakarta are in accordance with the definition of public spaces in cities where they can contribute to providing life, especially in urban spaces. To find out more about this, type of coffee houses studied especially in Jakarta, and get results coffee houses in Jakarta as a public space specifically providing ‘life’ only in building and forget about his role as public space in urban. Considered this problem, studied about type of coffee house in the European region, which can solve about giving a urban life. From these results, type about coffee house in European tried to be rearranged and combined with type coffee houses in Jakarta, which can contribute a urban life in Jakarta. AbstrakDengan jumlah yang paling dominan saat ini, generasi milenial adalah salah satu generasi dimana mempunyai pendapatan yang tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Perubahan ini berdampak dalam gaya hidup, dimana salah satu gaya hidup yang dikaji dan dibatasi adalah gaya hidup ngopi. Perubahan gaya hidup ini mempengaruhi perubahan aktifitas masyarakat dalam menikmati kopi, sehingga rumah kopi yang ada khususnya di Jakarta mencoba beradaptasi dengan aktifitas ini. Terlepas dari itu, adaptasi rumah kopi yang ada di Jakarta juga lebih berorientasi pada budaya Amerika, dimana perannya pada masuknya rumah kopi di Jakarta khususnya pada era the second wave. Sehingga yang menjadi pertanyaan adalah apakah perubahan rumah kopi yang ada di Jakarta sesuai dengan definisi ruang publik dalam kota dimana dapat berkontribusi dalam memberikan kehidupan, khususnya dalam ruang kota. Sehingga untuk mempelajari lebih lanjut mengenai permasalahan tersebut, maka disini dicoba di pelajari bagaimana tipe rumah kopi yang ada khususnya di Jakarta, dan didapatkan hasil bahwa rumah kopi yang ada di Jakarta dijadikan ruang publik yang lebih hidup bersifat ‘kedalam’ bangunan saja, menyampingkan sebagai fungsi ruang publik khususnya memberikan kehidupan dalam ruang kota. Sehingga dengan demikian dicoba di pelajari tipe rumah kopi khususnya yang ada di bagian daerah Eropa, dimana mempunyai ciri khusus dapat berkontribusi dalam memberikan kehidupan khususnya pada ruang kota yang di tempatinya. Dari hasil ini kemudian dicoba disusun ulang dan dikombinasikan dengan tipe rumah kopi yang ada di Jakarta, sehingga diharapkan tipe rumah kopi yang ada di Jakarta dapat berperan memberikan kehidupan khususnya pada ruang kota.
TEMPAT SANTAI DI BLOK M Ricky Setiadi; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8600

Abstract

Blok M region is part of the DKI Jakarta which never stops its activities. This is because Blok M is one of the business and office areas where work is dominated by traders and employees to provide primary and secondary daily life. As a result of the high levels of activity is stress level growing in the Blok M region. Another problem that causes stress levels in the Blok M area is that the surrounding buildings are unhealthy. A building is either lacking in light and in air, causing tedium, boredom, and depression as a result of minimum the open space. Therefore, the need an area for a relaxation, recreation, and socialization which stately privacy, can slip in and out of here safely and comfortably without certain restrictions. The goal was to relax the thought and energy of each individual in the Blok M region. The study using two methods of both primary and secondary data collection and comparative methods. The research result suggests a third place in Blok M in response to the conditions and issues. It is proposed in the building with the application of biopihilic design of open and green space and a related activity program that is expected to help reduce someone's stress levels a sa result of daily activities in the Blok M region. A major program of this project is foot bathtub, theme onsen, temper clinic, sleeping areas, viewing areas, and the coffee shop which is divided into some space that aims to bridge the social activity that can reach people with no boundaries in the Blok M region. Keywords:  stress; relaxing; recreation AbstrakKawasan Blok M yang merupakan bagian dari DKI Jakarta yang tidak pernah berhenti aktivitasnya. Hal ini dikarenakan kawasan Blok M salah satu kawasan perniagaan dan perkantoran yang dominasi pekerjaannya adalah pedagang dan karyawan guna memenuhi kehidupan sehari-hari baik primer dan sekunder. Akibat dari padatnya aktivitas timbulah tingkat stress pada kawasan Blok M. Permasalahan lain yang mengakibatkan tingkat stres meningkat di kawasan Blok M adalah  padatnya bangunan sekitar yang tidak sehat. Bangunan sekitar kurang adanya cahaya maupun udara yang masuk, menyebabkan rasa jenuh, bosan, dan tertekan akibat ruang terbuka yang minim. Oleh karena itu dibutuhkannya area bersifat relaksasi, rekreasi, dan sosialisasi yang sifatnya publik namun privasi, dapat keluar-masuk secara aman dan nyaman tanpa adanya batasan-batasan tertentu. Tujuannya untuk merelaksasi pikiran dan tenaga setiap individu yang berada di kawasan Blok M. Penelitian ini menggunakan dua metode yakni metode pengumpulan data baik secara primer dan sekunder serta metode komparatif. Dari hasil penelitian maka di usulkan sebuah third place di kawasan Blok M dalam menanggapi kondisi dan isu tersebut. Diusulkan dalam bangunan adanya penerapan biopihilic design berupa ruang terbuka dan hijau serta program  kegiatan berkaitan yang diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat stres pada seseorang sebagai akibat dari aktivitas yang dilakukan setiap hari di kawasan Blok M. Program utama dalam proyek ini yaitu berupa foot bathtub, theme onsen, temper clinic, area tidur, area nonton, dan coffee shop yang terbagi beberapa ruang yang bertujuan untuk mewadahi aktivtias sosial yang dapat merangkul masyarakat tanpa adanya batasan tertentu di kawasan Blok M.

Page 19 of 134 | Total Record : 1332