cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
STUDI INTEGRASI WISATA RELIGIUS DAN WISATA BAHARI (OBJEK STUDI: KAWASAN BANTEN LAMA DAN PELABUHAN KARANGANTU) Rizky Adhitya Pradani; Suryono Herlambang; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8951

Abstract

The Old Banten City and Port of Karangantu are located in Kasemen District, Serang City and are the remnants of the Sultanate of Banten in Java. This area was once the center of civilization and international trade in Java. The Old Banten City itself is currently the main tourist attraction in the City of Serang with the Banten Grand Mosque being the religious tourism destination in the City of Serang. In 2017, the number of tourists visiting the Banten Grand Mosque reached 1.7 million people. Its fate is vastly different from the Port of Karangantu which is currently not well developed as The Old Banten City. Whereas Karangantu itself has the potential for marine tourism with its natural products and access to marine tourism objects in the vicinity. Although there is a historical link between Banten Lama and Port of Karangantu, there is currently a developmental imbalance between the two objects, where the Old Banten City is much more developed than Karangantu Harbor. The purpose of this study is to propose any aspects that can be integrated from Religious Tourism in Banten Lama and Maritime Tourism in Port of Karangantu. This Research use qualitative descriptive methodology. The analysis used is policy analysis, location and site analysis, historical value analysis, tourist attraction analysis, tourism integration analysis. The results of this analysis are the discovery of two aspects that can be integrated for Tourism in The Old Banten City and Karangantu, namely accessibility and atmosphere between The Old Banten City and Karangantu. Keywords: integrated tourism; maritime tourism; Old Banten City; Port of Karangantu; religious tourism  AbstrakKawasan Banten Lama dan Pelabuhan Karangantu terletak di Kecamatan Kasemen, Kota Serang dan merupakan bekas peninggalan Kesultanan Banten di Pulau Jawa. Dahulu Kawasan ini menjadi pusat peradaban dan perdagangan internasional di Pulau Jawa. Kawasan Banten Lama sendiri saat ini menjadi daya tarik wisata utama di Kota Serang dengan adanya Masjid Agung Banten yang menjadi destinasi Wisata Religi di Kota Serang. Bahkan pada tahun 2017, jumlah Wisatawan yang berkunjung ke Masjid Agung Banten mencapai 1,7 Juta orang. Berbeda nasibnya dengan Kawasan Pelabuhan Karangantu yang saat ini tidak berkembang sepesat Banten Lama. Padahal Pelabuhan Karangantu sendiri memiliki potensi wisata bahari dengan hasil alamnya dan akses ke objek wisata bahari di sekitarnya. Walaupun adanya keterkaitan sejarah antara Banten Lama dan Pelabuhan karangantu namun saat ini terjadi ketimpangan perkembangan antar kedua objek ini, dimana daerah Banten Lama jauh lebih berkembang daripada Pelabuhan Karangantu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan usulan faktor-faktor yang dapat di integrasikan dari Wisata Reliji di Banten Lama dan Wisata Bahari di Pelabuhan Karangantu. Menggunakan metodologi deskriptif kualititatif. Analisis yang digunakan yaitu analisis kebijakan, analisis lokasi dan tapak, analisis nilai sejarah, analisis daya tarik wisata, analisis integrasi wisata. Hasil dari analisis ini adalah ditemukannya dua unsur yang dapat dipadukan untuk Pariwisata Banten Lama dan Karangantu yang lebih terpadu yaitu aksesibilitas antar objek wisata dan suasana.antar objek wisata.
RUANG KOLEKTIF DI WIJAYA KUSUMA Vensiscaria Vensiscaria; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6886

Abstract

The fact is that the average Jakarta community has activities that only revolve around the scope of the first place (home-place of residence) and second place (office-place of work-place of study), this continues over and over until it becomes a boring routine. Therefore they need somewhere in between of their daily scope of routine. But ironically, when people need public space to be able to interact with each other, there is no place outside the first place and second place to do activities or just gather among people because of the lack or even the absence of public space facilities to accommodate them based on space limitations. Therefore, people need a Third place container that can be a place for answers to the needs of the space they need. Not only as a place to release stress and boredom due to routine, but also as a place to socialize with relatives, friends and neighbors who come from different backgrounds so they can live in mutual respect and side by side, where social inequalities will not be exposed at all to form humanistic, open, dynamic, and productive for each individual. These things that make the need for Third place to bridge life in the home and work activities with informal activities are needed. AbstrakFaktanya masyarakat Jakarta rata-rata memiliki kegiatan yang hanya berkisar di ruang lingkup first place (rumah-tempat tinggal) dan second place (kantor-tempat bekerja-tempat belajar), hal ini terus menerus berulang hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Oleh karena itu mereka butuh suatu tempat in between dari rutinitas ruang lingkup mereka sehari hari. Namun ironisnya ketika masyarakat membutuhkan ruang publik untuk dapat berinteraksi dengan sesamanya, tidak ditemukan tempat di luar lingkungan first place dan second place untuk melakukan kegiatan ataupun sekedar berkumpul antar sesama dikarenakannya minimnya atau bahkan tidak adanya fasilitas ruang publik untuk mewadahi mereka yang didasari oleh keterbatasan ruang. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan sebuah wadah Third place yang dapat menjadi tempat untuk jawaban atas kebutuhan ruang yang mereka butuhkan. Bukan hanya sebagai tempat melepaskannya stress dan kejenuhan akibat rutinitas, tapi juga sebagai wadah untuk bersosialisasi dengan saudara, teman-teman maupun tetangga yang berasal dari latar belakang berbeda agar dapat hidup saling respek dan berdampingan, yang dimana nantinya kesenjangan sosial tidak terekspos sama sekali guna membentuk sifat humanis, terbuka, dinamis, dan produktif bagi tiap individu. Hal-hal tersebut yang membuat kebutuhan akan Third place untuk menjembatani kehidupan dalam rumah dan aktifitas kerja dengan kegiatan informal sangat dibutuhkan.
PUSAT KEGIATAN KAUM MILLENIAL Denny Kusuma
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4379

Abstract

One of the characteristics of millennials is being creative. However, this creativity has not been utilized fully due to the absent of spare rooms to be used, whilst the main drive of creative industry is millennials themselves. The government begins to realize the importance of the emergent creative industry that can play a big role in the overall economy of the country. So, the government is currently trying to provide various spaces to accommodate them, likewise supporting them to open up to possibilities and innovation that drives them towards the creation of start-up companies. Millennial Hub that is situated at Grogol functions as a space for millennials to co-share, co-develop, open up ideas and creativity in order to assemble start-up companies or innovative produces that can increase the creative economy on a nationwide or global scale. Here, there are two main programs: millennial hall and creative hub. Both spaces support each other – creative hub functions as a space for the millennial generation to develop their creativity, meanwhile millennial hall functions as a space for them to exhibit their own creative innovations so as to be acknowledged by the public that can help in the investment on the nation or global scale.AbstrakSalah satu karakteristik millennial adalah kreatif, di mana kreativitas millennial ini belum tersalurkan secara maksimal dengan adanya wadah-wadah yang dapat menampungnya, sedangkan pendorong utama industri kreatif utama saat ini adalah generasi millennial tersebut. Pemerintah pun mulai menyadari akan pentingnya industry kreatif ini untuk mendorong perekonomian negara. Oleh karena itu maka pemerintah mulai membuat wadah-wadah untuk menampung dan juga mendorong generasi millennial ini untuk menyalurkan hingga akhirnya membentuk perusahaan-perusahaan baru dalam bidang industri kreatif. Pusat Kegiatan Kaum Millenial atau Millennial Hub yang terletak di Grogol ini difungsikan sebagai wadah bagi generasi millennial untuk saling berbagi, mengembangkan dan menyalurkan ide dan kreativitas mereka hingga akhirnya mereka dapat membentuk dan menghasilkan perusahaan start-up maupun sesuatu yang berguna untuk meningkatkan ekonomi kreatif baik skala nasional maupun internasional. Di dalam Pusat Kegiatan Kaum Millenial ini terdapat 2 program utama yaitu Balai Millennial dan Pusat Kreativitas dimana kedua program ini saling mendukung satu dengan lainnya dimana Pusat Kreativitas difungsikan sebagai wadah bagi generasi millennial untuk menyalurkan dan mengembangkan kreativitasnya, sedangkan Millennial Hall difungsikan sebagai wadah bagi mereka untuk menunjukkan hasil dari kreativitasnya tersebut hingga diketahui dan diakui oleh masyarakat dan dapat dibantu kembangkan hingga skala nasional maupun internasional.
FASILITAS KESEHATAN HOLISTIK DI KEBON JERUK, JAKARTA BARAT Klarissa Febriana; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4515

Abstract

Millennials as a generation entering the productive stage have different perspectives and attitude towards health as health action shifted from illness medication to illness prevention/health maintenance. They also embrace holistic health principle with an accent on balance between the body, mind, and soul. Furthermore, high stress and depression rate among millennials brings out their eagerness to ‘runaway’/relax so holistic health amenities takes it’s role as a vessel to fulfill their needs of holistic health as to attempt a healthier urban life. The project is located at Jalan Panjang, Kebon Jeruk, West Jakarta which is dominated by elite housing area and office complex, high accessibility, and the site located on first layer (edge of primary collector street) which makes it more exposed. The design method used in the design process is pattern language with functional design (depending on building users) and macro, mezzo, and micro environmental analysis. This holistic health amenities combines physical and mental/spiritual programs to reach holistic health and aims to general health and well-being. This project is expected to give positive outcome to its surrounding environment by making healthy lifestyle as a part of the residents’ life, improving productivity and life quality. The project is also expected to be a place where new healthy communities form as to be a retreat place that gives serenity/relaxation with nature elements integrated into the building. AbstrakGenerasi milenial sebagai generasi yang berada dalam usia produktif memiliki cara pandang serta sikap yang berbeda terhadap kesehatan seiring dengan perubahan tindakan kesehatan dari pengobatan penyakit ke pencegahan penyakit/pemeliharaan kesehatan. Mereka juga menganut prinsip kesehatan holistik dengan penekanan pada keseimbangan antara tubuh, jiwa dan pikiran. Selain itu, tingkat stres dan depresi yang tinggi di kalangan milenial menimbulkan keinginan untuk ‘melarikan diri’/relaksasi sehingga fasilitas kesehatan holistik hadir sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan mereka akan kondisi kesehatan holistik serta mengusahakan pola hidup urban yang lebih sehat. Proyek terletak di Jalan Panjang, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan dominasi kawasan perumahan menengah hingga atas dan perkantoran, aksesibilitas tinggi, serta posisi tapak pada lapisan pertama (sisi jalan kolektor primer) yang membuatnya lebih terekspos. Metode perancangan yang digunakan adalah metode bahasa pola dengan perancangan bangunan secara fungsional (berdasarkan kebutuhan) serta analisis lingkungan proyek secara makro, mezo, dan mikro. Fasilitas kesehatan holistik ini mengombinasikan program yang bersifat fisik serta mental/spiritual dalam rangka pencapaian kesehatan holistik dan mengarah kepada kesehatan general serta kesejahteraan (well-being). Proyek ini diharapkan dapat memberi dampak positif bagi lingkungannya dengan menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari kehidupan penduduk sekitar, meningkatkan produktivitas serta kualitas hidup. Selain itu, proyek juga diharapkan menjadi sarana pembentukan komunitas lingkungan yang baru dan sehat serta menjadi tempat pelarian yang memberi ketenangan/relaksasi dengan integrasi unsur alam dalam bangunannya.
FASILITAS OLAHRAGA INTERAKTIF DI RAWA BUNGA Jessica Jessica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8549

Abstract

Rawa Bunga population is constantly increased as time goes by. The increasing population in Rawa Bunga is leading to a change in land-use planning. The initial planning which create a balance between commercial and housing is forced to change into domination of housing. Although the housing community is constantly increased, but the government didn’t increased the community facility or third place in Rawa Bunga. This condition is causing a huge problem for the community to satisfy their daily basic needs. Even more, they started to occupy every vacant place for their activity and making problems for other people. The objective of this design is making a third place for the community of Rawa Bunga that can help them to socialize and interact with each other. The design method is divided into two parts, the first part is collecting data from observation, urban study, and analysis. The second part is start from the program and follow the theory of activity tipology. The design idea is a community facility or third place for interactive sport, sport and interactive technology is chosen because the community in Rawa Bunga loves sports. In addition, the third place will inserted by Betawi culture to introduce the genius loci of Rawa Bunga. Keywords:  interactive sports; Rawa Bunga; Third Place AbstrakKelurahan Rawa Bunga memiliki jumlah penduduk yang selalu meningkat seiring berjalannya waktu. Peningkatan jumlah penduduk yang terjadi berdampak kepada perubahan fungsi lahan yang tidak semestinya seperti Rancangan zonasi awal yang mempunyai komposisi yang seimbang antara komersial dan hunian. Tetapi pada kenyataannya, fungsi lahan yang ada didominasi oleh hunian. Walaupun fungsi hunian bertambah, tetapi tidak diiringi pertambahan third place yang memadai. Akibatnya adalah masalah beruntun berupa kebutuhan dasar manusia yang tidak terpenuhi. Dampak yang dihasilkan adalah pelaksanaan aktivitas masyarakat di tempat – tempat yang tidak semestinya sebagai ganti fasilitas lingkungan yang tidak memadai. Tujuan dari perancangan ini adalah berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di Kelurahan Rawa Bunga akan aktivitas penunjang seperti sosialisasi dan interaksi baik antar manusia maupun dengan lingkungannya melalui third place. Metode Perancangan yang dipakai dibagi menjadi dua tahap, pertama tahap pencarian data dengan metode empiris yaitu observasi, studi kota dan analisis. Tahap kedua, Tahap perancangan dimulai dari hasil yang didapat dari analisis berupa program. Program akan diolah dengan pendekatan metode desain tipologi kegiatan. Ide dari perancangan ini adalah fasilitas lingkungan atau third place dengan aktivitas olahraga yang memakai teknologi interaktif untuk membantu proses sosialisasi dan interaksi baik antar manusia maupun dengan lingkungannya. Olahraga dipilih karena masyarakat di Rawa Bunga senang dengan aktivitas yang bersifat olahraga dan tidak lupa juga disisipi elemen kebudayaan Betawi untuk memperkenalkan genius loci kawasan Rawa Bunga.
TEMPAT RELAKSASI DI MERUYA Bervianda Bervianda; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6749

Abstract

Urban citizen is a modern society with a wide range of routine, activity, and high mobility. This life demand them to follow a fast-paced and practical lifestyle. This urban lifestyle often followed by demanding workload and activities that are time consuming that they usually forgot about their own primary needs, and one of them is to rest. This research are aimed to answer the needs of the residence who are living under such life, which is the residence of Meruya. Meruya holds the record of being one of the busiest area with high mobility people from Jakarta and Tangerang. Methods that were used in study are conducting studies, observation and giving out online questionnaire as pleminary data collection. To strengthen the pleminary data, studying and reviewing a few resident of Meruya to help finding them a better way for them to still be able to have a calm mind admist their busy life. The results were then processed into architectural programs that hopefully may answer the needs of the resident of Meruya.AbstrakMasyarakat kota merupakan masyarakat modern dengan berbagai rutinitas dan aktivitas serta mobilitas yang tinggi. Keseharian ini menuntut mereka dengan gaya hidup yang serba cepat serta praktis. Gaya hidup masyarakat kota yang seperti ini sering sekali menuntut mereka untuk menghadapi suatu pekerjaan dan kegiatan yang begitu menyita waktu sehingga dapat membuat mereka lupa akan kebutuhan lainnya termasuk istirahat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat Meruya yang merupakan salah satu daerah transisi antara kota Jakarta dan Tangerang melalui peran ruang arsitektur dalam menciptakan ruang untuk beristirahat dan relaksasi ditengah kepadatan aktivitas yang dijalani. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah; pertama, melakukan studi, observasi dan penyebaran kuesioner sebagai pengumpulan data awal; kedua, mempelajari dan meninjau kebutuhan dari masyarakat sekitar serta kebutuhan untuk melepas kejenuhan dan beristirhat ditengah aktivitas yang padat; ketiga, menyusun program sesuai dengan hasil survei, observasi serta menjawab kebutuhan masyarakat sehingga tujuan proyek akan tercapai.
RUANG KESADARAN DIALEKTIK, MAMPANG PRAPATAN, JAKARTA SELATAN Angelita Permatasari Angkola; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10730

Abstract

Living in the middle of the hustle and bustle of urban modernization, a high city lifestyle, dense environmental conditions, and the demands of work make people feel psychological pressure, so that the risk of stress in urban areas increases. In addition, rapid technological advances make it easier for metropolitan citizen to get stressors (stressful situations). This makes it more difficult for individuals to deal with stress due to social, economic and environmental demands that continue to affect our surroundings. When the citizen often under prolonged stress, it can cause mild mental disorders such as depression and anxiety disorders. Urban stress is not only caused by a person's personal condition but can also be caused by cities that are not supported by facilities and infrastructure for psychological comfort in urban areas.Therefore, the project "Dialectic Healing Space – Ruang Kesadaran Dialektik" seeks to create a space that becomes a place for therapy to various urban fatigue and busyness. A space that can be an emotional expression for those who experience stress. This design proposes is as a recreational space in the form of a spatial experience that can influence the senses and emotions of visitors through various dialectical media dedicated to achieving the healing process as a form of positive response to help reduce stress levels in the metropolitan by approaching the five senses, physical and psychological interactions of visitors. Keyword: dense city activity; metropolitan; psychological; recreational space; stress ABSTRAKHidup ditengah hiruk piruknya modernisasi perkotaan, gaya hidup yang tinggi, kondisi lingkungan yang padat, dan tuntutan pekerjaan membuat orang merasakan tekanan secara psikologis hingga semakin bertambahnya risiko stres terhadap masyarakat perkotaan. Selain itu, kemajuan teknologi yang pesat menyebabkan masyarakat metropolitan lebih mudah mendapatkan stressor (situasi penuh tekanan). Hal ini menyebabkan semakin sulitnya individu untuk menghadapi stres karena tuntutan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terus mempengaruhi di sekitar kita. Apabila mengalami stres berkepanjangan dapat mengakibatkan gangguan jiwa ringan seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres perkotaan tidak hanya disebabkan oleh kondisi personal seseorang namun juga dapat disebabkan oleh perkotaan yang tidak didukung dengan sarana dan prasarana untuk kenyamanan psikologis di perkotaan. Oleh sebab itu, proyek “Dialectic Healing Space – Ruang Kesadaran Dialektik” ini berusaha untuk mewujudkan ruang yang menjadi tempat untuk “terapi” dari berbagai kepenatan dan kesibukan perkotaan. Ruang yang dapat menjadi pengekspresian emosi bagi mereka yang mengalami stres. Desain ini mengusulkan wadah rekreasi berupa pengalaman ruang yang dapat mempengaruhi panca indera dan emosi pengunjung melalui berbagai media dialektik yang didedikasikan untuk mencapai proses healing sebagai bentuk dari respon positif membantu mengurangi tingkat stres pada masyarakat metropolitan dengan melakukan pendekatan melalui panca indera, interaksi fisik dan psikologis pengunjung. Rancangan menggunakan pendekatan melalui metode biophilic design.
GALERI SENI RUPA KONTEMPORER Brm Suryo Cahyo Sulistyohadi; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3809

Abstract

Peran seni merupakan segala sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan sehingga mampu membangkitkan perasaan orang lain. Namun kurangnya wadah seni yang interaktif berdasarkan teknologi modern, dengan menggunakan konsep edutainment dan yang dapat menampung sebuah pameran seni kontemporer dalam skala besar masih dapat terbilang sedikit banyak ruang serbaguna yang di gunakan sebagai tempat pameran seni. Oleh karena itu penulis melakukan pendekatan Architourism pada isu perancangan dengan menggunakan dasar standar galeri dan mempunyai studio interaktif yang berfungsi sebagai sarana memperkenalkan budaya dan seni kontemporer dengan cara yang lebih modern yang dapat melibatkan pengunjung untuk lebih interaktif dengan media teknologi yang sedang berkembang dan memberikan pengalaman yang berbeda. Perancangan Galeri Seni Rupa Kontemporer di Cikini, Jakarta Pusat ini mempunyai konsep memberikan pengalaman baru untuk menikmati sebuah karya seni dengan media yang berbeda-beda dan memberikan ruang publik yang dapat di pergunakan untuk berinteraksi dan bersantai.
STUDI PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN SERTA KESESUAIAN Ilham Nabawi; Liong Ju Tjung; I.G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8869

Abstract

Bogor Regency is an urban area located in West Java Province, with a total administrative area of 293,968 Ha. Bogor Regency included in the National Strategic Region (NSR) plan. Based on Presidential Regulation No. 56 of 2008 about JABODETABEKPUNJUR Space Arrangement, it is established that Bogor Regency has the primary function as water and land conservation area. The establishment of Bogor Regency as water and land conservation area was based on a rather high area topography. For example, the Ciawi Sub-district located on the southern part of Bogor Regency has an estimated topography of 1,500 meters above sea level. Hence, Bogor Regency is the upstream part of the below areas (downstream). Following the establishment of Bogor Regency as water and land conservation area and its higher topography, the control and usage of developed land have to be the main focus for associated regional government. This study aimed to look at developed areas development since 1994 until 2019 with the study time range per 10 years and see whether the existing 2019 condition followed the applied Urban Planning policy. This study needed primary data of recorded satellite images from 1994, 2004, 2014, and 2019 using the remote sensing method. Based on the conducted study, the development of developed areas in Bogor Regency is 3% on average per year and tend to follow the infrastructure development, especially in the eastern part of Bogor Regency. As for the suitability, the comparison of the existing condition with the applied Urban Planning shows that the suggested area percentage is under control. Keywords: development land, remote sensing, RTRWAbstrakKabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah perkotaan yang terdapat di Provinsi Jawa Barat, dengan luas total wilayah administrasi 293,968 Ha. Kabupaten Bogor termasuk ke dalam perencanaan Kawasan Strategis Nasional (KSN). Berdasarkan peraturan Presiden (PP) no.56 Tahun 2008 mengenai Penataan Ruang JABODETABEKPUNJUR ditetapkan bahwa Kabupaten Bogor mempunyai fungsi utama sebagai daerah konservasi bagi air dan tanah. Penetapan Kabupaten Bogor sebagai daerah konservasi air dan tanah bukan tanpa sebab, secara geografis memiliki topografi cukup tinggi, contohnya Kecamatan Ciawi yang terdapat dibagian selatan Kabupaten Bogor memiliki kisaran topografi yaitu ± 1.500 mdpl sehingga dapat dikatakan Kabupaten Bogor merupakan daerah hulu bagi daerah yang lebih rendah (hilir). Dengan ditetapkannya sebagai daerah konservasi air dan tanah serta juga merupakan wilayah yang memiliki topografi lebih tinggi bagi sekitarnya, pengendalian serta penggunaan lahan terbangun juga harus menjadi fokus utama bagi pemerintah daerah terkait. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan lahan terbangun sejak tahun 1994 hinggga tahun 2019 dengan rentan waktu peneitian dibagi menjadi setiap 10 tahun, serta melihat apakah kondisi eksisting 2019 sudah seuai dengan kebijakan RTRW yang berlaku atau tidak. Pada penelitain ini akan dibutuhkan data primer berupa citra satelit perekaman tahun 1994,2004,2014, dan 2019 dengan menggunakan metode remote sensing. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat faktwa bahwa pertumbuhan lahan terbangun yang terjadi diwilayah Kabupaten Bogor rata-rata sebesar 3%/tahun dan cenderung mengkuti perkembangan infrastruktur jalan khususnya wilayah timur dari Kabupaten Bogor, sedangkan untuk kesesuaianya, kondisi eksisting dibandingkan dengan rencana RTRW yang berlaku presentase luas yang dianjurkan masih dalam kondisi cukup terkontrol.
RUANG JEDA INTERAKTIF KEMBANGAN Gary Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6819

Abstract

Urban density not only affects city development but can also affect the routine of the people. Departing from this routine, a feeling of saturation and stress arises, so a break is needed. The interlude in question can be in the form of recreational facilities to get out of the hustle and bustle of urban dense. Productive groups are the most vulnerable groups experiencing saturation and stress. The space between the dense urban environment that can function as a recreational facility in an open space, which can also function as a social space in a dense urban environment, contains activities that are healthy not only physically but also mentally which are expected to help reduce stress levels. South Kembangan is one of the areas that have the highest density level in Jakarta because it is a western primary center area which means the South Kembangan area will become a center of activity, especially in the West Jakarta Region. Based on these problems, Kembangan Interactive Breathing Space is proposed with the main entertainment program which is divided into two facilities namely recreation and relaxation in response to the impact of stress generated from community routines. Recreational facilities are divided into three zones namely perform, playful and creative play zones in the form of plazas and playground areas while relaxation facilities in the form of zones containing activities to escape mental and physical fatigue such as yoga, meditation, and fitness facilities in the form of gyms and sports fields. Abstrak Kepadatan perkotaan tidak hanya mempengaruhi perkembangan kota saja tapi dapat berdampak juga pada rutinitas masyarakatnya. Berangkat dari rutinitas inilah kemudian muncul perasaan jenuh dan stres sehingga diperlukan adanya jeda. Jeda yang dimaksud dapat berupa sarana rekreasi untuk keluar dari hiruk pikuk padatnya perkotaan. Masyarakat golongan produktif menjadi golongan yang paling rentan mengalami jenuh dan stres. Ruang jeda diantara padatnya lingkungan perkotaan yang dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi yang berada di ruang terbuka, yang juga dapat berfungsi sebagai ruang sosial ditengah padatnya lingkungan perkotaan, berisi kegiatan – kegiatan yang menyehatkan tidak hanya fisik tapi juga secara mental yang diharapkan mampu membantu mengurangi tingkat stress. Kembangan selatan merupakan salah satu wilayah yang memilki tingkat kepadatan yang paling tinggi di Jakarta karena merupakan wilayah sentra primer barat yang artinya wilayah Kembangan Selatan akan menjadi pusat aktivitas terutama di Kawasan Jakarta Barat. Berdasarkan permasalahan tersebut diusulkanlah Ruang Jeda Interaktif Kembangan dengan program utama entertainment yang dibagi menjadi dua fasilitas yaitu rekreasi dan relaksasi sebagai respon terhadap dampak stress yang dihasilkan dari rutinitas masyarakat. Fasilitas rekreasi terbagi menjadi tiga zona yaitu zona perform, playful dan creative play berupa plaza dan area playground  sedangkan fasilitas relaksasi berupa zona yang berisi kegiatan untuk melepaskan diri dari kelelahan mental dan fisik seperti yoga,  meditasi dan fasilitas kebugaran berupa gym dan lapangan olahraga.

Page 2 of 134 | Total Record : 1332