cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
Klub Olahraga di Kawasan Kapuk, Jakarta Edmund Edmund
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6783

Abstract

Jakarta is a large city that has a population of 10,374,235 people on 661.52 km² land, which shows that Jakarta is a very densely populated area in Indonesia. As the capital and as a big city, it certainly has a density of routine activities that can lead to boredom and suppress the mentality of the people who live or come to work. These things should become the attention of the government.To overcome these problems, it is necessary to have a place that can facilitate the community to rest, communicate, and entertain themselves from the busyness that is the main activity of the people in the big cities, called as the third place. With limited time and technological advances, people become lazy to interact and exercise. The issue of the lack of sports facilities in the Jakarta area is also a concern for the Jakarta government. The Regional Representative Council (DPRD) highlighted the lack of sports facilities and infrastructure in Jakarta. People in Indonesia who realize the importance of exercising and doing it are only 27.61%, this figure is a fairly low number compared to that in other countries. With a typology approach to use of space and combined with conventional methods, design can provide good use of space for the community. By creating a new container for sports facilities combined with the concept of third place, it is expected that people can be aware of the importance of interacting, exercising and maintaining physical and non-physical health. AbstrakJakarta merupakan kota besar yang memiliki jumlah penduduk sebesar 10.374.235 jiwa dengan luas wilayah 661.52 km², hal ini menunjukkan bahwa kota Jakarta merupakan daerah yang sangat padat akan penduduknya di Indonesia. Sebagai Ibukota dan sebagai kota besar pasti memiliki kepadatan akan aktivitas rutin yang dapat menimbulkan kejenuhan dan menekan mental masyarakat yang tinggal maupun yang datang untuk bekerja. Hal-hal tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya sebuah tempat yang dapat mewadahi masyarakat untuk beristirahat, berkomunikasi, dan menghibur diri dari kesibukan yang menjadi aktivitas utama masyarakat di kota besar yang disebut sebagai the third place. Dengan keterbatasan waktu dan kemajuan teknologi, masyarakat menjadi bermalas-malasan untuk berinteraksi dan berolahraga. Isu mengenai kurangnya fasilitas olahraga di wilayah Jakarta juga menjadi perhatian pemerintah Jakarta. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menyoroti kurangnya sarana dan prasarana olahraga di Jakarta. Masyarakat Indonesia yang menyadari pentingnya berolahraga dan menjalaninya hanya sebesar 27.61%, angka tersebut merupakan angka yang cukup rendah dibandingkan dengan negara lain. Melalui pendekatan tipologi untuk kegunaan ruang dan dipadukan dengan metode konvensional, desain dapat memberikan kegunaan ruang secara baik untuk masyarakat. Dengan menghadirkan sebuah wadah sarana olahraga baru yang di gabungkan dengan konsep third place diharapkan dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya berinteraksi, berolahraga dan menjaga kesehatan fisik maupun non fisik.  
RUANG BERBUDAYA BETAWI KEMAYORAN Sylvia Sylvia; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10747

Abstract

Rapid development of technology in Indonesia has made foreign culture easier to enter and this has made local culture in Indonesia less attractive to new generations. The capital city of Jakarta is the main entrance for foreign cultures to enter, one of the most affected cultures is Betawi culture. Not only due to technological developments, there are also problems with the lack of exploration of the Betawi community space that has been provided in Jakarta. As a result, Betawi culture is increasingly eroded and forgotten with a new culture and it will end up as history, which will gradually disappear from the process of future habitation., which will gradually disappear from the process of future habitation. To fix this situation, a change in the way of living is needed. Starting from changing the daily patterns of the new generation which are usually only carried out during events and in certain areas, into an activity that can invite all generations to enjoy and re-develop Betawi culture so that it is not eroded by foreign cultures. By providing a space for the Betawi community to attract and bind the interests of human current generation, a new hybrid culture can be created. Therefore, Kemayoran Betawi cultural section was designed, this new space will use everydayness and approaching methods to the problems of the existing developments by utilizing the increasingly sophisticated developments in information technology. Apart from preserving Betawi culture, this space can also be used as a provider of new jobs, recreation and education facilities for the local community.  Keywords:  technological development; community; Betawi culture AbstrakPerkembangan teknologi yang pesat di Indonesia, membuat budaya asing lebih mudah masuk dan hal ini menyebabkan budaya lokal menjadi kurang diminati oleh generasi baru. Ibu kota Jakarta merupakan pintu masuk utama masuknya kebudayaan asing, salah satu kebudayaan yang terpengaruh besar adalah kebudayaan Betawi. Tidak hanya akibat perkembangan teknologi saja, terdapat juga permasalahan akan kurang tereksplornya ruang komunitas Betawi yang telah disediakan di Jakarta. Akibatnya kebudayaan Betawi semakin tergerus dan terlupakan yang akan berakhir menjadi sejarah yang lama kelamaan akan menghilang diproses berhuni masa depan. Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan perubahan cara berhuni penduduk. Dimulai dari mengubah pola keseharian generasi baru yang biasanya hanya dilakukan saat acara dan pada area tertentu saja, menjadi sebuah kegiatan yang dapat mengajak semua generasi agar dapat ikut menikmati dan mengembangkan kembali kebudayaan Betawi agar tidak tergerus oleh kebudayaan asing. Dengan memberikan sebuah wadah ruang komunitas Betawi untuk menarik dan mengikat ketertarikan masyarakat generasi sekarang, dapat memunculkan sistem berhuni dengan budaya hybrid baru. Oleh sebab itu, dirancanglah sebuah ruang berbudaya Betawi Kemayoran, dimana ruang baru ini akan menggunakan metode everydayness dan approaching terhadap permasalahan perkembangan zaman yang ada dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih. Selain melestarikan kebudayaan betawi, ruang ini juga bisa digunakan sebagai penyedia sarana kerja, rekreasi, dan edukasi baru bagi masyarakat setempat.
WISATA INTERAKTIF RAMAH LINGKUNGAN Reza Tanikara; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/.v1i1.3987

Abstract

Pertumbuhan jumlah pengguna sosial media dalam waktu singkat telah meningkat sangat pesat terutama di kota urban seperti Jakarta. Kurangnya interaksi masyarakat dengan alam dapat mengancam kestabilan kesehatan mental masyarakat, rendahnya interaksi tersebut antara lain dikarenakan kondisi fasilitas wisata ekologi yang ada masih kurang. Menghadapi permasalahan di atas, penulis mengusulkan pembangunan wisata interaktif ramah lingkungan yang ingin menggabungkan antara manusia dengan alam. Architourisme merupakan topik penting yang diangkat untuk membantu menyelesaikan permasalahan wisata kota. Pendekatan ini diterapkan pada waduk Ria-Rio, yang merupakan salah satu lahan terbuka hijau terbesar di Jakarta Timur yang bertujuan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan dengan mengimpilemtasikan hiburan yang interaktif dan menyenangkan. Maka penulis menambahkan fungsi wisata dalam bidang edukasi, resort, dan interaksi. Fasilitas akan berisi ruang yang dibutuhkan pengunjung yang ingin berinteraksi langsung dengan alam baik flora maupun fauna. Sehingga penulis menghasilkan ide solusi berupa fasilitas wisata ekologi yang terintegrasi dengan alam. Fasilitas wisata akan menggunakan konsep alami yang bisa dirasakan oleh pengunjung dari segi fungsi dan komposisi massa.
KONSEP BERKELANJUTAN PADA KANTOR MILENIAL TERINTEGRASI TRANSPORT HUB DI DUKUH ATAS Andre Onggara; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4581

Abstract

As Urban Interchange of Jakarta, Transport Hub is a key to promote sustainable transportation and mobility and to promote the use of public transportation. Dukuh Atas, as an interchange  between  major public transportation such as : MRT, LRT, KRL Sudirman, and KRL Bandara has become Transit Oriented Development based on masterplan of Dukuh Atas by Government of Indonesia. Millennial Office integrated with Transport hub is a form of  integration between activity-based working space and public transportation. This kind of integration is pioneered by  type and behaviour of millennials and it resulting the change of typology. The previous typology of office and transport hub aren’t fitted to be used by millennials. This cause the evolution of transport hub as an interchange between many public transportation and private vehicle and also an activity-based office which is separate room or zone based on activity. The Notion of office and transport hub’s type are re-composed by retrospectively analyze the typology and behaviour involved in it to be integrated  with surrounding place and public transportation. Other than facilitating  the interchanging between  transportation, the architecture of Millennial Office integrated with Transport Hub at Dukuh Atas became a pioneer of a working place with transport oriented development and to  promote the use of public transportation in Jakarta. AbstrakSebagai Urban Interchange, Transport Hub merupakan kunci sukses terjadinya perpindahan dan mobilitas secara berkelanjutan dan mempromosikan penggunaan transportasi publik. Dukuh Atas yang merupakan titik pertemuan beberapa transportasi publik besar seperti: MRT, LRT, KRL Sudirman, dan KRL Bandara menjadi salah satu kawasan berorientasi transit yang sedang direncanakan oleh pemerintah DKI Jakarta dan pihak MRT. Kantor Milenial terintegrasi Transport Hub di Dukuh Atas merupakan  bentuk integrasi antara transportasi publik dengan tempat kerja dengan tipologi  berbasis aktivitas. Hal ini dipelopori oleh  tipe dan perilaku dari milenial yang mendorong pergeseran tipologi dari transport hub dan kantor. Tipologi lama dari kantor dan transport hub sudah tidak cocok untuk generasi milenial. Hal ini  mendukung usulan desain transport hub sebagai tempat transit memiliki integrasi ke beberapa transportasi publik dan pribadi dan kantor berbasis aktivitas yang tidak dibatasi dalam cubicle atau ruang individual. Konsep tipologi dari transport hub dan kantor di komposisi ulang dengan metode kualitatif dengan melihat tipologi terdahulunya secara retrospektif dan menganalisis perilaku didalamnya, yang menghasilkan tipologi kantor dan transport hub menjadi satu kesatuan bangunan terintegrasi yang juga terhubung dengan daerah dan fasilitas transportasi publik sekitar. Selain sebagai sarana integrasi transportasi publik sekitar, arsitektur Kantor Milenial terintegrasi Transport Hub menjadi pelopor tempat  kerja yang berorientasi transit dan mendorong penghuninya untuk lebih menggunakan transportasi publik guna mengurangi polusi dan kemacetan di kota Jakarta.
REVITALISASI GLODOK SEBAGAI TEMPAT BERSOSIALISASI KOMUNITAS MASYARAKAT TIONGHOA Sharen Sharen; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8504

Abstract

Glodok Pancoran is one of the areas in DKI Jakarta that has high economic and cultural values in the Netherlands, colonizing Indonesia until now. Glodok Pancoran, known as the center of typical Chinese and Betawi trade, ranging from culinary, medicine, and trinkets has great potential as an area of art and cultural tourism in West Jakarta. This research describes the development planning of the Glodok Pancoran to improve the image of the region and maximize the potential of the arts and cultural tourism. The pattern of trading life and daily activities become the basis for designing the design with the aim to increase Jakarta or foreign tourists. Data analysis was performed using theory, namely analysis based on environmental aspects, human aspects and building aspects combined with other theories. The result that will be received is the design concept of the Glodok Pancoran area as an art and cultural tourism area in West Jakarta by taking into account tourism experiences within the area. The result that will be achieved is the design concept Glodok Pancoran area as an art and cultural tourism area in Pinangsia village, West Jakarta by taking into account the experience of tourists in the area. Keywords:  Art and Culture Tourism; Glodok Pancoran; Pecinan                                 Abstrak Kawasan Glodok Pancoran merupakan salah satu kawasan di DKI Jakarta yang memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Kawasan Glodok telah eksis sejak jaman Belanda menjajah Indonesia sampai saat ini. Glodok Pancoran yang dikenal sebagai pusat perdagangan khas Tionghoa dan Betawi, mulai dari kuliner, obat-obatan, dan pernak-pernik mempunyai potensi yang besar sebagai kawasan wisata seni dan budaya di Jakarta Barat. Studi ini menjelaskan tentang perencanaan perkembangan kawasan Glodok untuk meningkatkan citra kawasan dan memaksimalkan potensi wisata seni dan budaya. Pola kehidupan berdagang dan aktivitas sehari-hari menjadi dasar untuk perancangan desain dengan tujuan untuk meningkatkan wisatawan kota Jakarta maupun mancanegara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori yaitu analisis berdasarkan aspek lingkungan, aspek manusia dan aspek bangunan yang dipadu dengan teori lainnya. Hasil yang akan dicapai adalah konsep desain kawasan Glodok Pancoran sebagai kawasan wisata seni dan budaya di kelurahan Pinangsia, Jakarta Barat dengan memperhatikan pengalaman wisatawan di dalam kawasan.        
RUANG REFLEKSI DIRI Jeremy Marshall; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6873

Abstract

One common problem today is the lack of a Third Place gathering place that is a place other than home (First Place) and an office (Second Place), so that Third Place is made as a place for people to gather, feel calm, and avoid the saturation of daily habits, namely first place and second place issues that exist today in daily activities that cause people to become unproductive, namely the problem of stress, without us knowing, now the problem of stress has been experienced by anyone, not affected by age, because there are many stressors , so that it is a problem that is experienced by everyone, and can be one of the targets that must be overcome to create people who have good lifestyles and productive in doing something, the design goals of this project itself are also made to address current global issues , starting from the region that is most affected by the issue of stress, because it has many things becoming a trigger for someone to become stressed, this can create a project that can be a place for people to gather and overcome the issues of stress that affect this life together, this stress issue can also be overcome by changing the stressed population to join the Wellbeing or welfare program individuals, according to the CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Wellbeing can improve physical and spiritual health based on the results of positive activities carried out by an individual or group that is continuously carried out, so that it can have a big impact such as, the habits of someone who will do good activities, application of 5 ways to wellbeing is a theory used to improve one's life habits for the better, and this can be maximized with programs related to activities in nature based on the book The Tao of Architecture, the method used is also based on typology methods, by applying design based on common formations that can be fun, and soothing to relieve the stress of visitors, and the Spatial Relations method used to provide a unique design that does not yet exist from combining the formation of healing patterns, with a pleasant pattern formation. Therefore the Retreat can have a pleasant and interesting impact on the community to carry out positive activities to make the population have a better life. A place that has many natural elements has a function to calm a person, so that person can become calm. Abstrak Salah satu masalah yang umum saat ini adalah kurangnya tempat berkumpul Third Place yaitu tempat selain rumah (First Place) dan kantor (Second Place), sehingga Third Place dibuat sebagai tempat orang berkumpul, merasa tenang, dan terhindar dari kejenuhan kebiasaan sehari hari, yaitu first place dan second place isu yang ada saat ini dalam kegiatan sehari hari yang menyebabkan orang menjadi tidak produktif, yaitu masalah stress, tanpa kita sadari, saat ini masalah stress sudah dialami oleh siapa saja, tidak terpengaruh oleh umur, karena terdapat banyaknya faktor faktor pemicu stress, sehingga hal itu merupakan masalah yang dialami oleh semua orang, dan dapat menjadi salah satu target yang harus diatasi untuk menciptakan manusia yang memiliki pola hidup baik dan produktif dalam mengerjakan sesuatu, tujuan desain proyek ini sendiri juga dibuat untuk mengatasi isu global yang ada saat ini, dimulai dari kawasan yang paling merasakan pengaruh isu stress ini, karena memiliki banyak hal yang menjadi pemicu seseorang menjadi stress, hal ini dapat menciptakan proyek yang dapat menjadi tempat orang untuk berkumpul dan mengatasi isu stress yang mempengaruhi kehidupan ini secara bersama sama, isu stress ini juga dapat diatasi dengan cara mengubah penduduk yang mengalami stress untuk mengikuti program Well being atau kesejahteraan individu, menurut CDC (Centers for Disease Control And Prevention), Well being dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani berdasarkan hasil dari kegiatan positif yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok yang terus menerus dilakukan, sehingga dapat memberikan dampak besar seperti kebiasaan seseorang yang akan melakukan kegiatan kegiatan yang baik, penerapan 5 ways to well being merupakan teori yang digunakan untuk memperbaiki kebiasaan hidup seseorang menjadi lebih baik, dan hal ini dapat dimaksimalkan dengan program yang berhubungan dengan aktivitas di alam berdasarkan buku The Tao of Architecture, metode yang digunakan juga berdasarkan metode tipologi, dengan cara menerapkan desain berdasarkan bentukan bentukan umum yang dapat menyenangkan, dan menenangkan untuk meredakan stress pengunjungnya, dan metode Spatial Relation yang digunakan untuk memberikan desain unik yang belum ada dari penggabungan bentukan bentukan pola healing, dengan pola bentukan yang menyenangkan. Oleh karena itu tempat Retreat dapat memberikan dampak kesan menyenangkan dan menarik masyarakat untuk melakukan kegiatan kegiatan positif untuk menjadikan penduduk menjadi memiliki hidup yang lebih baik. Tempat yang memiliki banyak unsur alam memiliki fungsi untuk menenangkan pikiran seseorang, sehingga pikiran seseorang dapat menjadi tenang. 
RUMAH WISATA BULUTANGKIS Yohanes Santoso; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4003

Abstract

Olahraga bulutangkis merupakan olahraga yang sangat dikenal masyarakat luas setelah sepak bola. Bulutangkis di Indonesia sendiri adalah salah satu pesaing yang selalu diunggulkan di kejuaraan tingkat dunia. Peran masyarakat dalam membentuk mental juara adalah hal yang sangat penting terutama dalam pencarian bibit unggul untuk regenerasi.Berbagai prestasi telah diraih oleh para atlet bulutangkis Indonesia, namun sangat di sayangkan prestasi tersebut belum membuat masyarakat dan pemerintah untuk menghargai secara lebih dengan apa yang telah diraih. Sejarah dan prestasi merupakan sebuah momentum yang harus diabadikan dan di turunkan kepada penerus bangsa Indonesia. Pada proyek “ Badminton Touris, House “ akan memadukan program arsitektur dengan wisata olahraga dan diharapkan dapat mewadahi semua kenangan tersebut sehingga dapat dipelajari dan juga tidak sirna dengan waktu. 
FENOMENOLOGI SEBAGAI METODE PENGEMBANGAN EMPATI DALAM ARSITEKTUR Angelyna Angelyna; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8535

Abstract

Along with the times, humans gradually growing too. This different time which is the main holder of changes in human nature that unconsciously causing many things, like in social terms. Technology, economy, knowledge, safety, social level, and place become a factor that affect human’s social changes. These social changes can refer to individualistic and do not care about the surrounding environment, so empathy seems to never be heard agin in this era, especially in urban. Empathy includes the ability to feel the emotional statre of others, feel sympathetic and try to slove problems, and take other people’s perspective (Baron & Byrne, 2004),. While the fact from recent studies have shown that empathy in a person is becoming increasingly rare, as many as 65 percent of people do not care or lose empathy (Daily Mail, 2019). Though empathy itself is important according to Graaff et al (2014) where empathy which underlines the importance of ability, behavior and a very important role in the development of moral and prosocial. The reduced level of empathy in urban is a major factor for designers to design a Pegadungan Empathy Development a place that can maintain and develop empathy through the phemomenology approach using human senses, as a training to feel the emotions of others through architectural space, one of them by labyrinth. The method project from Juhani Pallasmaa theories “An Architecture of Seven Sense” and “The Eyes of The Skin: Architecture and Sense” and through data collection from DKI Jakarta BPS, scientific journals, e-books, survey, interview and questionnaires, and local society needs analysis. With this, this project expected that empathy can be felt and maintained at any time, with a design in accordance with the characteristic of empathy.Keywords:  empathy; labyrinth; Pegadungan; phenomenology; sense AbstrakSeiring perkembangan zaman, manusia semakin berkembang pula. Perubahan sifat manusia menjadi pemegang kunci utama yang tanpa disadari menimbulkan salah satunya dalam hal sosial. Teknologi, ekonomi, pengetahuan, keamanan, tingkat sosial, dan tempat menjadi faktor yang mempengaruhi perubahan sosial manusia. Perubahan sosial tersebut seperti manusia yang individualis dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, sehingga kata empati seakan tidak ada saat ini, terutama di daerah perkotaan. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain (Baron & Byrne, 2004). Faktanya, studi terbaru menunjukan rasa empati dalam diri seseorang semakin langka, sebanyak 65% orang bersikap tidak peduli atau kehilangan empati (Daily mail, 2019). Padahal empati merupakan hal penting menurut Graaff dkk, (2014), empatilah yang menggaris bawahi pentingnya kemampuan, tingkah laku dan sebuah peran yang sangat penting dalam pengembangan moral dan perilaku prososial. Menurutnya tingkat empati masyarakat di kota besar menjadi faktor utama bagi perancang untuk merancang sebuah Wadah Pengembangan Empati Pegadungan yang dapat menjaga maupun mengembangkan rasa empati tersebut melalui pendekatan fenomenologi indera manusia, sebagai wadah pelatihan untuk merasakan emosi sesama melalui ruang arsitektur, salah satunya pada labirin. Proyek ini menggunakan metode dari teori Juhani Pallasmaa “An architecture of seven sense” dan “The eyes of the skin: architecture and sense” dan melalui pengumpulan data dari BPS DKI Jakarta, jurnal ilmiah, e-book, survei, wawancara dan kuisioner, serta analisis kebutuhan masyarakat sekitar. Dengan ini diharapkan rasa empati tetap terasa dan terjaga sampai kapanpun, dengan desain sesuai dengan karakteristik empati.
KOMPLEK BIARA KOTA KONTEMPORER BERBASIS WISATA DI KECAMATAN TAMANSARI Tri Putra Bhakti; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3965

Abstract

Biara sebagai bangunan pewadah kehidupan monastik, memiliki sejarah panjang dan telah berkembang selama 18 abad. Dalam perkembangannya, arsitektur biara memiliki nilai-nilai esensial yang terus dipertahankan, namun di sisi yang lain kompleksitas arsitektur biara terus meningkat karena penyisipan nilai atau injeksi program yang baru didalamnya sebagai upaya untuk  beradaptasi terhadap perubahan konteks. Proyek ini merupakan perancangan biara dengan injeksi kegiatan pariwisata berbasis spiritual didalamnya, dimana intervensi pariwisata menghasilkan aktifitas dan kondisi yang berbeda dan menuntut rancangan biara kontemporer yang sesuai. Sebagai bangunan spiritual dimana fungsionalitas dan pengalaman ruang adalah sama penting, digunakan dua metode yang berintikan pada teori tipe. Pertama untuk fungsionalitas, mengamati evolusi tipe bangunan biara yang dikomparasikan dengan pengamatan perkembangan kehidupan monastik sebagai inti yang membentuk biara sendiri untuk mencari esensi dari biara dan menemukan bagian rancangan yang perlu diubah. Kedua untuk pengalaman ruang, pencarian arke-tipe pemacu persepsi kesakralan dan teritori lingkupan religi melalui pengamatan evolusi tipe bangunan, yang kemudian disusun kembali sesuai dengan teori-teori pembentukan ruang sakral. Diharapkan hasil perancangan dapat menjadi pewadah kegiatan mindfulness yang memudahkan pengunjung mendapatkan relaxation response  (Benson, 1993) yang bermanfaat meningkatkan daya fokus, ketenangan dan produktifitas. Bagi kota Jakarta sendiri, memberikan dampak positif secara tidak langsung bagi perkembangan ekonomi kota, dan meningkatkan atraksi lintasan wisata religi di Kecamatan Tamansari dan Kecamatan Gambir, Jakarta.
TRIBUN SEPAKBOLA BERBASIS ALAM SEBAGAI TEMPAT BERAKTIVITAS PUBLIK DI KELURAHAN KALIANYAR Christopher Tjandrawira; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8612

Abstract

As one of the most populous sub-districts in Jakarta ,Kalianyar is experiencing social and health problems due to lack of green space which causes lack of space for activities and the emergence of various diseases. Kalianyar actually has a soccer field that can be used as a substitute for a green space, but until now, it has never been used because of its hidden location and exclusivity. This project aims to utilize the field to become a third place with natural nuances that can accommodate the activities of the community. A field, which is merely space, will not immediately become a "third place". A design is required, which in this case, a stands that support and connect the field, to give activities to the empty field so it can be a place of activity. The Tribune, in general, is an exclusive building to football fans, so an analysis that focuses on activities and materials is needed so that the design can be a green open space for the whole society of Kalianyar. The method used is  architectural design method with an ecological architecture approach. The results obtained is bamboo tribune. given the lack of space and cost, the use of bamboo material can be a solution because it can grow quickly, economically good and can provide a natural green space to the environment. Keywords: Green open space; Public Activity; TribuneAbstrak Sebagai salah satu kelurahan terpadat di Jakarta, Kalianyar mengalami permasalahan sosial dan kesehatan karena kurangnya ruang hijau yang  menyebabkan kurangnya ruang untuk beraktivitas dan munculnya berbagai macam penyakit. Kalianyar sebenarnya memiliki sebuah lapangan sepakbola yang  dapat digunakan sebagai pengganti dari sebuah ruang hijau, namun hingga sekarang, tidak pernah dimanfaatkan akibat lokasinya yang tersembunyi dan eksklusifitas lapangan. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan lapangan tersebut menjadi sebuah tempat ketiga dengan nuansa alam yang dapat mewadahi aktivitas masyarakatnya. Sebuah lapangan, yang merupakan sekadar ruang, tidak akan seketika menjadi sebuah “tempat ketiga”. Sebuah desain diperlukan, yang dalam kasus ini, sebuah tribun yang menjadi, pendukung, dan penghubung pada lapangan, untuk menghidupkan dan memberi aktivitas pada lapangan kosong tersebut agar dapat menjadi sebuah tempat beraktivitas. Tribun, secara umum merupakan bangunan yang eksklusif oleh penggemar sepakbola, sehingga diperlukan analisis yang berfokus pada aktivitas dan material agar desain dapat menjadi ruang terbuka hijau bagi seluruh masyarakat Kalianyar. Metode yang digunakan merupakan metode perancangan arsitektur dengan pendekatan Arsitektur ekologi. Hasil yang didapat berupa tribun bambu. mengingat minimnya ruang dan biaya, penggunaan material bambu dapat menjadi solusi karena dapat tumbuh dengan cepat, ekonomis serta dapat memberikan  ruang hijau secara alami kepada lingkungan.

Page 5 of 134 | Total Record : 1332