cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
APARTMENT SEWA SMART LIVING DI JATINEGARA Kevin Fernando; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4483

Abstract

This research is to learn about the behavior and needs of the Millennial generation or generation Y that born between 1981-1994. The character and behavior of the Millennial Generation is formed from the development of technology and information that they use during their lifetime. The Millennial generation curently in a productive age where the Millennials are already married and or planning to have a family so they need a place to live. So it is necessary to make a Smart housing that suitable for Millennial Generation that familiar with technology and prefers things that are simple and efficient.            So it is necessary to build a Smart living Apartment that can control their house using technology and the use of multifunctional furniture that makes efficient use of space. The method used in this study is a qualitative research method consisting of the stages of data collection, data processing, discussion, and conclusions. Data collection is done by direct observation or review into the field and study of documents. From the results of these data, the chosen location is in the East Jakarta area because it has the highest number of Millennials in Jakarta. This generation can bring changes to the world and also changes in the building. Therefore this study is expected to provide smart living rent apartment designs that can fulfill the needs of the Millennial generation. Abstrak Penelitian bertujuan untuk mempelajari tentang perilaku dan kebutuhan Generasi Milenial atau generasi Y yang merupakan generasi yang lahir antara tahun 1981-1994. Sifat dan perilaku Generasi Milenial terbentuk dari berkembangnya ilmu teknologi dan informasi yang digunakannya selama masa hidupnya. Generasi Milenial yang saat ini sedang berada di usia produktif dimana generasi Milenial sudah berkeluarga maupun baru berencana untuk berkeluarga sehingga membutuhkan tempat tinggal. Maka perlu dibuat hunian yang Smart sesuai dengan generasi Milenial yang  dekat dengan teknologi dan lebih memilih hal yang simpel dan efisien. Maka dari itu perlu dibuat Apartment smart living yang dapat mengatur hunian mereka menggunakan teknologi dan penggunaan perabotan multifungsi yang membuat efisiensi penggunaan ruang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang terdiri dari tahap pengumpulan data, pengolahan data, pembahasan, dan kesimpulan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi atau tinjauan langsung ke lapangan dan studi dokumen. Dari hasil data tersebut, lokasi yang dipilih adalah di daerah Jakarta Timur karena memiliki jumlah Generasi Milenial terbanyak di Jakarta. Generasi ini dapat membawa perubahan terhadap dunia dan juga terhadap perubahan pada bangunan. Maka dari itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan rancangan apartment sewa smart living yang dapat memenuhi kebutuhan generasi Milenial.
TEMPAT PENGEMBANGAN GRIT Hans Jonathan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8591

Abstract

One of the problems in human life is individualism. This is because humans spend too much time at work and at home, so they rarely do social activities, along with the existence of social media that causes people to socialize with each other. This particular problem will be discussed in "Open Architecture as Third Place" project, which discusses how to create a third place as a place for people to socialize with each other and also as a public information space. The issue raised in this project is about "Grit" where people can learn how to grow grits within themselves to achieve the goals they want to achieve in the future. The project location is on Jalan Tanjung Duren Utara. This site is quite strategic for this third place project because it is close to First Place and Second Place where this project can become a permeability. This third place project is wished for people to be able to grow grits in themselves so that they can achieve their goals in their lives and can achieve their life goals that they have set. The method used in research is Field Survey, Literature Study, and Precedent Study. The results obtained are the design of the building as a "Grit Improvement Space". The main program in this project is the Experimental Room, Workshop, and Exhibition along with the supporting programs namely Co-Working Space, Library, and Late Night Street Food. Keywords: grit; human; permeability; social  AbstrakPermasalahan dalam kehidupan manusia salah satunya individualisme. Hal ini disebabkan karena manusia terlalu banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja dan di rumah, maka orang akan jarang sekali melakukan kegiatan sosial. Dengan adanya media sosial juga menyebabkan manusia bersosialisasi satu sama lain. Permasalahan utama yang akan dibahas di proyek ini adalah "Open Architecture sebagai Third Place" yang membahas bagaimana cara menciptakan tempat ketiga sebagai tempat untuk manusia saling bersosialisasi satu sama lain dan juga sebagai tempat publik informasi. Isu yang diangkat dalam proyek ini adalah mengenai "Grit" dimana orang dapat belajar cara menumbuhkan grit di dalam dirinya untuk mencapai goals yang mereka ingin capai di masa depan. Lokasi proyek berada di Jalan Tanjung Duren Utara. Tapak ini cukup strategis untuk proyek third place ini karena berdekatan dengan First Place dan Second Place sehingga proyek ini dapat menjadi rembesan (permeabilitas). Di proyek third place ini diharapkan orang bisa menumbuhkan grit dalam dirinya sehingga mereka bisa mencapai targetnya dalam hidup mereka dan dapat mencapai tujuan hidupnya yang telah mereka tentukan.  Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Survey Lapangan, Studi Literatur, dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai "Tempat Pengembangan Grit". Program utama dalam proyek ini adalah Experimental Room, Workshop, dan Pameran. Lalu juga ada program pendukung yaitu Co - Working Space, Library, dan Late Night Street Food.
REDEVELOPMENT PASAR KEMBANG CIKINI DENGAN KONSEP OPEN ARCHITECTURE SEBAGAI RUANG KETIGA DAERAH CIKINI, MENTENG Erdin Yosep; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6856

Abstract

Menteng, Central Jakarta as the first Garden City in Indoneisa, served as the most significant green  district in Jakarta. Located at the most green area in Jakarta, Cikini Flower Market (the oldest flower and ornamental plant center around) is less visible as the part of various urban axes. Cikini Flower Market Redevelopment is an uprising and refurbisment of local traditional marketplace against modern wholesale market. The design methods deliver from urban axis mapping, selected program analyze, and forming a building mass from study of market morphology. As a ‘the third place’, the concept is sharing activity with dedicated communal space and activity. All of building program, formed this project as rendezvous space for locals and outsider for shopping, recreation, collaborate, work/study, or just hangout. Through combination of open architecture and sharing economy, this project will redevelop a marketplace to contextual third place. Therefore, Cikini Flower Market will defined as the part of Menteng Green Development, and as well Ciliwung Cultural Line by maintaining it’s essence as the market. Finally, this project is designed to be open, spacious, and communal place for short break or daily needs. AbstrakSalah satu daerah dengan pengembangan ruang terbuka hijau paling signifikan di Jakarta adalah Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat yang merupakan kota taman pertama di Indonesia. Identitas Menteng sebagai wilayah paling hijau di Jakarta justru kurang terlihat pada Pasar Kembang Cikini sebagai penyedia tanaman hias bunga tertua di Jakarta yang berada pertemuan berbagai axis perkotaan. Proyek redevelopment Pasar Kembang Cikini menjadi sebuah upaya untuk memperkuat kembali identitas pasar tradisional agar mampu bersaing dengan pasar modern.  Metode perancangan yang digunakan, yaitu berangkat dari memetakan axis kawasan perkotaan tapak terpilih, menganalisa program yang dihasilkan, dan membentuk massa bangunan berdasarkan studi morfologi bangunan pasar. Sebagai sebuah ruang ketiga, konsep pasar baru yang ditawarkan menekankan kegiatan sharing dengan adanya ruang dan aktivitas yang bersifat komunal. Gabungan dari seluruh program tersebut membuat proyek ini menjadi sebuah third place yang mempertemukan masyarkat Cikini, maupun masyarakat luar untuk datang berbelanja, berekreasi, bekolaborasi, bekerja/ belajar, maupun sekedar nongkrong. Melalui perpaduan konsep arsitektur terbuka dan ekonomi kolaboratif, proyek ini bertujuan mengembangkan sebuah pasar menjadi sebuah ruang ketiga yang kontekstual dengan pengembangan hijau Menteng dan jalur budaya Ciliwung dengan mempertahankan esensinya sebagai sebuah pasar. Proyek ini didesain untuk terasa terbuka, lapang dan komunal untuk dikunjungi sebagai tempat istirahat sejenak maupun untuk kegiatan sehari – hari. 
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN PENGELOLAAN KAWASAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN KAWASAN SCBD JAKARTA Gregorius Gerard; Nurahma Tresani; Nasiruddin Mahmud
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10098

Abstract

The global economy had been running dynamical in the last 5 years. Since, the emergence of the ASEAN Economic Community (AEC). COVID-19 also generate growth of digital economy platform. Unstable economic conditions have prompted the company's response to be more sensitive to consumer needs and responsive to changes in the market. SCBD as one of market leader in Jakarta’s CBD estate management Jakarta's CBD. The management of the SCBD area has responsibility operate the area properly and protect the area in the current situation and conditions. Service quality is an important component for a company. This study aims to determine the effect of area management service satisfaction on customer satisfaction in the SCBD Jakarta area using the Customer Satisfaction Index (CSI) method. Research shows that the CSI value of the SCBD area remains in the satisfactory category, but it still needs to be maintained while maintaining performance and improving the factors that still need to be improved. Regarding the pandemic, the factor of handling COVID-19 still needs to be maintained. In addition, there is a need for further discussion related to effective and efficient operational activities without sacrificing customer comfort. So, public trust can be improve and the activities in SCBD can be return as before. Keywords:  CBD; customer; estate; management; satisfaction; SCBD AbstrakPerekonomian Global memiliki dinamika yang sangat tinggi dalam 5 tahun terakhir, mulai dari munculnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), berkembangnya perekonomian digital, serta bertumbuhnya platform perekonomian digital yang antara lain dipacu oleh adanya pandemi COVID-19. Namun kondisi perekonomian yang tidak stabil, mendorong respon perusahaan untuk semakin peka terhadap kebutuhan konsumen dan tanggap menghadapi perubahan dalam pasar. SCBD sebagai salah satu CBD Jakarta tentunya turut terdampak  secara perekonomian. Pengelola kawasan SCBD mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga kawasan agar dapat beroperasi dengan baik pada situasi dan kondisi saat ini. Kualitas pelayanan merupakan komponen penting bagi perusahaan untuk dapat bertahan dalam bisnis. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan pelayanan pengelolaan kawasan terhadap kepuasan pelanggan Kawasan SCBD Jakarta dengan metode Customer Satisfaction Index (CSI). Penelitian menunjukkan nilai CSI Kawasan SCBD tetap  berada dalam kategori memuaskan pada kondisi saat ini, namun hal tersebut tetap perlu dipertahankan dengan tetap menjaga performa serta memperbaiki faktor-faktor yang masih perlu ditingkatkan. Terkait adanya pandemi, faktor penanganan COVID-19 tetap perlu dipertahankan. Selain itu perlu adanya pembahasan lebih lanjut terkait kegiatan operasional yang efektif dan efisien tanpa mengorbankan kenyamanan pelanggan. Hal tersebut dilakukan agar kepercayaan masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali di SCBD seperti sediakala dapat terbangun kembali.
PUSAT PAGELARAN KESENIAN BETAWI Emilia Yustiana; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3969

Abstract

DKI Jakarta, kota metropolis dan kota multicultural di Indonesia, sesuai dengan peraturan pemerintah memiliki pengembangan kota sebagai sebuah tempat tujuan wisata dan budaya dengan standar internasional. Sesuai dengan tema Architourism in metropolis, penulis mengangkat Betawi sebagai identitas Kota Jakarta yang akan mendukung tujuan pemerintah dalam menjadikan Jakarta sebagai kota wisata dan budaya. Dalam perkembangan kota metropolis Jakarta yang semakin modern, diperlukan sebuah tindakan dalam menanamkan dan mengingatkan kembali suku Betawi yang sudah semakin tersisih, nyatanya kesadaran sebagai orang Betawi di Jakarta pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Maka itu penulis memeutuskan untuk mendesain sebuah Ruang Atraksi berupa Pusat Pagelaran Kesenian Betawi, yang dapat menjadi ruang bagi kelompok masyarakat atau sanggar untuk mementaskan atraksi budaya tersebut. Diharapkan ruang atraksi ini dapat memperkenalkan dan dapat mengangkat kembali budaya Betawi dalam memenuhi visi-misi pemerintah DKI Jakarta sebagai kota pariwisata bertaraf internasional. 
EVALUASI PERENCANAAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) STASIUN MRT FATMAWATI KECAMATAN CILANDAK, KOTA JAKARTA SELATAN Timothy Julio; Ju Tjung Liong; I.G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8850

Abstract

According to the Jakarta BPS (2019), population density in the Jakarta area has reached an average of 15,938 people/km2 in 2019. Such population density creates a population mobility of up to 1.2 million people per day based on the results of the 2019 Jabodetabek Commuter Survey. Therefore, the DKI Jakarta Provincial Government has collaborated with the Jakarta MRT to start making an Urban Design for Mass Rapid Transit (MRT). In the construction of 13 MRT stations, the government needs to think about how the concept of the Integrated Transit Area (TOD) will be formed in the area around the station. The MRT project was completed on March 24, 2019. One of the DKI Jakarta Provincial Government's planning concepts applied is the MRT Fatmawati TOD area with the gateway concept, which is a system of integration of the city transportation mode with a feeder system to the origin's central area that is outside the initial transit point development area. After one year has passed, the Fatmawati MRT area needs to be evaluated based on indicators set by the Government and local NGOs to measure the feasibility of the Fatmawati MRT function as a gateway TOD area and whether the TOD policy itself is appropriate for the integrated Fatmawati MRT area. Keywords:  Transit Oriented Development; Feasibility; MRT FatmawatiAbstrakMenurut BPS Jakarta (2019), kepadatan penduduk di daerah Jakarta sudah sampai dengan rata-rata 15.938 jiwa/km2 pada tahun 2019. Kepadatan penduduk demikian menciptakan mobilitas penduduk sampai dengan 1,2 juta orang per hari berdasarkan hasil Survei Komuter Jabodetabek 2019. Untuk itu. Pemprov DKI Jakarta telah bekerjasama dengan MRT Jakarta untuk mulai membuat Perancangan Kota (Urban Design) untuk sistem angkutan massal yang bernama Mass Rapid Transit (MRT). Dalam pembangunan 13 stasiun MRT, pemerintah perlu memikirkan bagaimana konsep Kawasan Transit Terpadu (TOD) yang akan terbentuk pada kawasan sekitar stasiun. Proyek MRT ini selesai dibangun pada tanggal 24 Maret 2019 dan menjadi jawaban untuk mewadahi mobilitas penduduk yang tinggi. Salah satu konsep perencanaan Pemprov DKI Jakara yang diterapkan yaitu pada kawasan TOD MRT Fatmawati dengan konsep gateway, yaitu sistem integrasi jaringan moda transportasi kota dengan sistem feeder ke area pusat origin yang berada di luar area pengembangan titik transit awal, mengembangkan fungsi yang dapat mengakomodasikan aktivitas live-play-work, yang berfungsi sebagai daerah ‘origin’, dan mengembangkan sarana parkir komunal untuk fasilitas park and ride. Setelah satu tahun berlalu, kawasan MRT Fatmawati perlu dievaluasi berdasarkan indikator yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah dan LSM setempat untuk mengukur kelayakan fungsi MRT Fatmawati sebagai kawasan TOD gateway dan apakah kebijakan TOD itu sendiri sudah sesuai terhadap kawasan terpadu MRT Fatmawati. 
KONSEP MEDIATEK DALAM PERANCANGAN MEDIA CENTER SEBAGAI THIRD PLACE Achmad Dimas Haristiyanto; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6871

Abstract

Third place is any place we spend in our lives other than a place to work or home. It is a non-negotiable part of the workplace experience and very important to attract and motivate creative work we need to compete in the future. Library is a physical example of Third place, however, the existing library is not suitable for the lifestyle of creative class people because it has formal environment, strict regulation, and short opening time. Therefore, this study used the Third place theory as an approach to address issues of the lifestyle needs of creative class communities by referring to the standards of multimedia libraries. Third place provides flexibility in service, relaxed environment for exchanging information, develop ideas and creative thinking, and social interaction. The method used in data collection is divided into two categories, namely primary data and secondary data. Primary data is data obtained from the location of the issue, observed and recorded. While secondary data in the form of literature or references about the Mediatheque building are collected to support the process of compiling the program in the design.The design of Mediatek in Cikini, Central Jakarta has the concept of accommodating the need of creative class community for accurate information, opportunities to interact, develop relation, with multimedia basis. Abstrak Third place adalah tempat apapun dalam hidup kita selain daripada tempat bekerja atau rumah. Tempat tersebut menjadi bagian dari pengalaman di tempat kerja yang tidak dapat ditawar, dan berperan penting untuk menarik dan menjaga motivasi kerja kreatif yang dibutuhkan untuk bersaing di masa depan. Perpustakaan adalah salah satu bentuk fisik dari Third place, namun perpustakaan yang ada kurang cocok dengan gaya hidup masyarakat kelas kreatif karena memiliki suasana formal, dengan aturan tegas bagi pengunjung serta waktu pelayanan yang singkat. Oleh karena itu penulis menggunakan teori Third place sebagai pendekatan untuk menjawab isu kebutuhan gaya hidup masyarakat kelas kreatif dengan mengacu standar perpustakaan multimedia. Third place menyediakan ruang fisik dengan fleksibilitas waktu pelayanan, suasana santai untuk bertukar informasi, mengolah ide dan pikiran, dan berinteraksi. Metode yang digunakan pada perancangan ini adalah pencarian ide/gagasan untuk menjawab isu kelas kreatif yang kemudian dikembangkan melalui pengumpulan data sebagai bahan kajian dalam perancangan Mediatheque. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dibagi ke dalam dua kategori, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari lokasi yang menjadi isu, diamati dan dicatat. Sedangkan data sekunder berupa literatur atau referensi tentang bangunan Mediatheque dikumpulkan untuk mendukung proses menyusun program dalam perancangan. Perancangan Mediatek di Cikini, Jakarta Pusat memiliki konsep mengakomodasi kebutuhan masyarakat kelas kreatif untuk memperoleh informasi akurat, kesempatan saling berinteraksi, membangun relasi, dan berbasis multimedia.
UPAYA MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT KOTA TANGERANG MELALUI KERAJINAN TANGAN BAMBU Amiratri Ayu Poedyastuti; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10774

Abstract

As the times evolved, the problems that arise in social life are increasingly diverse, especially in urban areas which have a growing population, so the requirement of the community are also increasing. Unemployment is one of the big problems, especially in Banten province. Which of course can affect how the social life of the community and the individual. if not resolved, it will create vulnerability and have the potential to result in a bad economy or worse, lead to poverty. The development of the city of Tangerang as the largest city in Banten province, has the potential to raise a declining economy in Banten province. Seeing that there is an opportunity in the field of creative economy in the city of Tangerang, the locality method can accommodate activities for bamboo craftsmen which is the hallmark of the city of Tangerang. A place is needed for human interaction so that in addition to improving social life, it can improve the economy in the surrounding area, and can help the bamboo community who want to use the facility to develop the capabilities and local products of Tangerang city.Keywords : Economy; Human; Local; Unemployment.ABSTRAKSeiring berkembangnya zaman, permasalahan yang muncul dikehidupan sosial kian beragam, terutama pada daerah perkotaan yang memiliki jumlah penduduk yang terus bertambah maka kebutuhan masyarakat pun semakin bertambah. Pengangguran menjadi salah satu permasalahan yang besar terutama pada Provinsi Banten. Yang tentunya dapat mempengaruhi bagaimana kehidupan masyarakat dan individunya. Bila tidak diatasi akan menimbulkan kerawanan pada kehidupan sosial dan berpotensi mengakibatkan perekonomian yang buruk atau lebih parahnya lagi menyebabkan terjadinya kemiskinan. Perkembangan kota Tangerang sebagai kota terbesar di provinsi banten dapat berpotensi untuk membangkitkan perekonomian yang turun di provinsi Banten. Melihat adanya peluang dibidang ekonomi kreatif di kota Tangerang, metode lokalitas dapat mewadahi kegiatan bagi para pengrajin bambu yang menjadi ciri khas dari kota Tangerang. Diperlukan sebuah tempat untuk interaksi antar manusia sehingga selain memperbaiki kehidupan sosial, dapat memperbaiki perekonomian di wilayah sekitarnya, serta dapat membantu para komunitas bambu masyarakat sekitar yang ingin memanfaatkan fasilitas tersebut untuk  mengembangkan kemampuan dan produk lokal kota Tangerang.
GALERI SENI DAUR ULANG SAMPAH DI JAKARTA Selly lim; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3993

Abstract

 Jakarta merupakan kota metropolitan yang padat dan mempunyai beraneka macam kegiatan seharusnya memiliki pendaur ulangan sampah yang baik dan kesadaran masyarakat tentang daur ulang sampah. Aspek ini  merupakan salah satu hal yang dianggap penting karena memengaruhi kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya. Seharusnya sampah dapat lebih dimanfaatkan kembali atau dijadikan produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis. Perspektif tentang sampah yang negatif dapat berubah dengan tambahan aspek kreatifitas yang dapat menciptakan berbagai jenis produk dengan nilai jual dan nilai seni. Kawasan Sunda Kelapa sebagai salah satu tempat wisata bahari yang terkenal namun kurang terawat, salah satu penyebabnya adalah sampah yang berserakan menumpuk. Tindakan diwujudkan dengan mengusulkan sebuah wadah pendaur ulangan sampah dalam bentuk galeri untuk pameran benda-benda seni terbuat dari sampah dan bengkel kerja kerajinan tangan dari sampah terutama kertas, plastik, kaca dan metal. Pameran ini sebagai salah satu cara untuk menyentuh masyarakat tentang edukasi persampahan dan menjadi tempat wisata baru yang berhubungan dengan tempat wisata lain disekitarnya sekaligus memecahkan permasalahan sampah di lingkungan dan workshop yang menciptakan barang-barang kreatif dan keunikan yang dapat menarik para pengunjung. Lokasi tapak berada di antara Museum Bahari dan Pelabuhan Sunda Kelapa membentuk linkage dengan kawasan Kota Tua yang menjadikan potensi tapak sebagai objek wisata. Dengan adanya linkage dengan bangunan-bangunan kota tua, hal ini dapat dijadikan dasar metode desain yang akan diterapkan dalam pembentukkan massa dan penggunaan material. Dengan memanfaatkan linkage akan menciptakan bangunan yang selaras dengan bangunan sekitar.
FASILITAS KEMATIAN BAWAH TANAH : NARASI SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR Deanna Deanna; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4476

Abstract

Funeral process with flammable method and crematorium is a funeral culture that was applied from ancient times until now. Milennial generation as a 21st century most dynamic population has been changing the system and technology towards sustainable future and space customization. The Cremation Proccess based on Hydolisis and Electricity are amied to reduce the use of open land burial and decreasing carbon emission. Situation that is currently occur at DKI Jakarta is the concept of die as luxury  and denying human death as a part of natural cycle which destroy the ecosystem and biodiversities. The Expensive amount of luxury funeral service and separated funeral process has made the process becoming inefficient. With the planning and  design of  Underground funeral parlour facilities based on hydrolysis and electric cremation in North Jakarta, Penjaringan is expected to fulfil the efficient needs of funeral process with millennial eco-friendly way. Eliminating a traumatic and sad impression into a liberating moment for the death.  Also, breaking the boundaries between life of the city and death through nature access so it can change the perspective of neighbourhood through timeless crematorium millennial style.AbstrakProses pemakaman dengan membakar jenasah dalam perapian dan krematorium merupakan sebuah metode pemakaman yang sudah diterapkan oleh manusia dari jaman dahulu kala. Generasi millennial pada abad 21 telah mengubah sistem dan teknologi yang ada kearah yang lebih ramah lingkungan dan kustomisasi. Pelaksanaan proses kremasi berbasis hidrolisis dan elektrik ini bertujuan untuk mengurangi pengunaan lahan terbuka sebagai makam dan mengurangi emisi karbon. Keadaan yang saat ini terjadi di DKI Jakarta yaitu adanya konsep fasilitas krematorium yang bersifat meninggal “luxury” dan mengabaikan kematian manusia sebagai siklus yang berbasis pada alam, telah merusak ekosistem. Biaya yang mahal dan proses pemakaman yang terpisah-pisah menjadikan proses pemakaman tidak efisien. Dengan dilakukan perencanaan dan perancangan Fasilitas Kematian Bawah Tanah berbasis pada metode kremasi hidrolisis dan kremasi elektrik di daerah Penjaringan Jakarta utara diharapkan dapat memenuhi kebutuhan proses pemakaman dengan cara millennial yang lebih ramah lingkungan. Menghilangkan kesan traumatik dan menyedihkan menjadi sebuah pengalaman yang membebaskan. Serta menghilangkan batas antara kehidupan kota dan kematian lewat alam sehingga dapat merubah sudut pandangan masyarakat terharap gaya krematorium generasi Milennial yang tidak terkekang oleh waktu. 

Page 3 of 134 | Total Record : 1332