cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG PEREDA STRESS DI MAPHAR Michelle Aurellia Santhonie; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8630

Abstract

individualistic characteristics, and are more sensitive to their personal space. This happens because of their lack of need for other people around them. All are available on a gadget or smartphone, they can send messages, buy goods, find information, with more easily and practically. The state of the city has also become functionalist, where people only have functional activities without thinking about elements such as interacting or socializing. In fact the workers go to work and will go straight home, then spend time watching television or just relaxing at home to relieve stress. These problems occur in the metropolitan city of Jakarta and are becoming increasingly complex, due to unequal social welfare that occurs in the community, as happened in Maphar Village, Taman Sari, West Jakarta. This area was indeed from the Dutch era dominated by people of Chinese descent who worked as traders. In this area the conditions and situation of the house were so tight that there was no room for reforestation or a place to relax. This is where the task of an architect which can provide an activity space for the community in the form of a third space as a solution  in healing people with stress disorders. With the third room that is presented in the design of a building, by providing programs or facilities that are appropriate, and appropriate to the problem of stress by creating a stress relief room in the form of an outdoor classroom aimed at providing education and workshops for children and adults, Studio training, and the creative stage as a forum for the community to channel their talents and interests in the arts, mediatech library as a place for children to get positive space for learning, and other supporting programs. Keywords:  interaction; stress; third place; tightAbstrakPesatnya perkembangan teknologi, masyarakat yang hidup di zaman modern ini cenderung memiliki sifat yang individualis, dan lebih sensitif terhadap personal space-nya. Hal ini terjadi karena rasa ketidakbutuhan mereka terhadap orang lain yang ada di sekitarnya. Semua sudah tersedia di gadget atau smartphone, mereka bisa mengirim pesan, membeli barang, mencari informasi, dan lainnya dengan mudah dan praktis. Keadaan kota juga menjadi fungsionalis, dimana masyarakat hanya beraktivitas secara fungsional tanpa memikirkan elemen seperti berinteraksi atau bersosialisasi. Kenyataannya para pekerja pergi bekerja dan akan langsung pulang ke rumah, kemudian menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau hanya bersantai di rumah untuk menghilangkan stres. Permasalahan-permasalahan tersebut terjadi di kota metropolitan Jakarta dan menjadi semakin kompleks, karena tidak meratanya kesejahteraan sosial yang terjadi di masyarakat, seperti yang terjadi di Kelurahan Maphar, Taman Sari, Jakarta Barat ini. Kawasan ini memang dari zaman Belanda didominasi oleh orang-orang keturunan Tionghoa yang bekerja sebagai pedagang. Di daerah ini kondisi dan situasi rumahnya pun sangat rapat sampai tidak ada ruang untuk penghijauan atau tempat bersantai. Disinilah tugas seorang arsitek yang mana dapat memberikan ruang aktivitas untuk masyarakat berupa ruang ketiga sebagai solusi dalam penyembuhan terhadap masyarakat dengan gangguan stres. Dengan ruang ketiga yang dihadirkan dalam rancangan sebuah bangunan, dengan memberikan program atau fasilitas yang sesuai, dan tepat terhadap masalah stres dengan menciptakan sebuah ruang pereda stres berupa outdoor classroom yang bertujuan memberi edukasi dan workshop bagi anak-anak maupun orang dewasa, Pelatihan sanggar, dan panggung kreasi sebagai wadah masyarakat menyalurkan bakat dan minat di bidang seni, mediatech library sebagai tempat anak-anak mendapat ruang positif untuk belajar, dan program pendukung lainnya.
RUMAH KACA PINGGIR KOTA DI DAAN MOGOT Valdo Helmy; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6825

Abstract

DKI Jakarta as the capitol consists of 5 regions and 1 district. Jakarta has the highest population density in Indonesia. In this modern ag, the population tends to live and work in the city thus psychological problems arise in the form of stress. In the urban lifestyle, stress is caused  due to daily routine where everybody is active between two places namely residence and work place. This routine can cause problems that begins with the feeling of boredom which can lead to a mental illness that is initially in the form of stress, anxiety disorder, and psychosis which can be worsen into depression. The step that can be made is to make a third place outside of domestic life at home and outside of professional life at work that aims to reduce psychologial symptoms that causes stress. Apart from that, it is said that a direct interaction with nature can help humans to strengthen their mental endurance to deal with symptoms that causes stress.The proposed design as a solution is in the form of an open public space, a plaza between two buildings, commercial building and a greenhouse where the commercial building has several functions such as food court, market, café, book shops, reading area, and workshop. While the greenhouse gives garden products to support the commercial functions and as a recreational spot. Apart from the functions within the buildings, in effort to encourage visitors into gardening activities and provide direct interactions to nature, community garden serves as a solution in which visitors can plant crops or plants if they wanted to in the provided area on the site. AbstrakDKI Jakarta sebagai ibukota negara terdiri dari 5 wilayah dan 1 kabupaten. Jakarta memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Di masa modern ini penduduk cenderung tinggal dan beraktivitas di daerah perkotaan dengan demikian muncul permasalahan psikologis berupa stres. Dalam kehidupan perkotaan, stres tersebut diakibatkan karena aktivitas rutinitas sehari-hari dimana semua orang beraktivitas di antara kedua tempat yaitu tempat tinggal dan tempat kerja. Rutinitas ini dapat menimbulkan permasalahan yang dimulai dari perasaan bosan dan jenuh hingga bisa mengakibatkan suatu penyakit mental yang awalnya berupa stres, gangguan kecemasan, dan psikosis yang bisa menjadi depresi. Langkah yang dapat dilakukan adalah untuk membuat suatu tempat ketiga di luar dari kehidupan rumah tangga di tempat tinggal dan di luar kehidupan profesional di tempat kerja yang bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala psikologis yang mengakibatkan stres. Selain dari itu dikatakan bahwa interaksi secara langsung dengan alam dapat membantu seorang manusia untuk memperkuat daya tahan mental mereka untuk menghadapi tekanan-tekanan yang mengakibatkan stres. Rancangan yang diajukan sebagai solusi berupa sebuah ruang publik terbuka berupa plaza diantara dua bangunan berupa bangunan komersil dan bangunan rumah kaca dimana bangunan komersil berupa pujasera, pasar modern, café, toko buku, ruang baca, serta workshop, sementara rumah kaca berfungsi untuk memproduksi hasil berupa hasil kebun kepada fungsi komersil dan sebagai fungsi rekreasi. Selain dari fungsi di dalam bangunan dalam upaya mendorong minat pengunjung tapak terhadap kegiatan berkebun serta memberikan interaksi langsung dengan alam, dibuat sebuah fungsi kebun komunitas dimana perngunjung yang mendatangi tapak dapat menanam tanaman yang mereka inginkan pada area yang disediakan di tapak.
KESESUAIAN RENCANA DETAIL TATA RUANG DKI JAKARTA 2030 DAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI CIPETE RAYA Dhaneswara Nirwana Indrajoga; B. Irwan Wipranata; Bambang Deliyanto; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.11395

Abstract

City tourism (Urban Tourism) develops from year to year. City tours are very popular in major cities in the world such as Paris, New York, Singapore. It is also developing and developing by Indonesia, in this case Jakarta. This type of tourism can be stimulated by historical and cultural attractions, as well as shopping and event tours, as well as business trips. Much of the above also stimulates development. The tourism sector in DKI Jakarta Province also has a dominant role because it contributes around 13% of DKI Jakarta's Regional Original Revenue (PAD). For this reason, to advance the economy in DKI Jakarta, the government continues to develop the tourism sector, one of which is city tourism. South Jakarta Administrative City as a city that continues to develop, now approximately 2.2 million people live in South Jakarta. The city also has a growing tourism sector, including the urban tourism sub-sector. The choice of the Cipete Raya road area to be developed as a city tourism area is based on the policies of the South Jakarta Administration City Government, the development of culinary tourism activities in recent years, and accessibility because it is close to Cipete Raya. MRT station. The approach method used to solve this problem is to use a qualitative approach, such as tourism attributes and urban planning. The output of this research is in the form of an analysis of the trend of changes in the use of the Cipete Raya tourism area and its suitability with the Detailed Spatial Plan (RDTR 2030). Keywords:  City Tourism; Land Use; RDTR 2030; Suitability AbstrakPariwisata kota (Urban Tourism) berkembang dari tahun ke tahun. Wisata kota sangat populer di berbagai kota besar di dunia seperti Paris, New York, Singapura. Itu juga berkembang dan dialami oleh Indonesia dalam hal ini Jakarta. Jenis wisata ini dapat dirangsang oleh atraksi sejarah dan budaya, serta wisata belanja dan acara, serta perjalanan bisnis. Banyak hal di atas juga merangsang perkembangan. Sektor pariwisata di Provinsi DKI Jakarta juga memiliki peran dominan karena menyumbang sekitar 13% dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta. Untuk itu, untuk memajukan perekonomian di DKI Jakarta pemerintah terus mengembangkan sektor pariwisata, salah satunya pariwisata kota. Kota Administratif Jakarta Selatan sebagai kota yang terus berkembang, sekarang kurang lebih 2,2 juta orang tinggal di Jakarta Selatan. Kota ini juga memiliki sektor pariwisata yang berkembang termasuk sub sektor pariwisata kota. Pemilihan kawasan jalan Cipete Raya untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata kota didasarkan pada kebijakan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan, perkembangan kegiatan wisata kuliner beberapa tahun terakhir, serta kemudahan aksesibilitas karena dekat dengan Cipete Raya. Stasiun MRT. Metode pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif, seperti penyesuaian atribut pariwisata dan juga penataan kota. Output dari penelitian ini berupa analisis tren perubahan penggunaan lahan kawasan pariwisata kota Cipete Raya dan kesesuaiannya dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR 2030).
PENGALAMAN RUANG MELALUI LIMA INDERA Anita Hartati; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3807

Abstract

Jakarta, sang metropolis, saat ini adalah tempat bernaung bagi 10 juta penduduk Indonesia. Sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, Jakarta menarik banyak perhatian orang di luar kota untuk datang dan menetap di dalamnya sehingga membuat kota ini begitu padat. Selain padat akan penduduk, Jakarta juga padat akan bangunan, kendaraan dan polusi udara. Lingkungan seperti ini membuat penduduknya jarang merasa nyaman. Ditambah dengan masalah kehidupan pribadi membuat beban berat pada kondisi psikologis manusianya.Tidak heran jika penduduk kota Jakarta akrab dengan yang namanya stres. Manusia menggunakan lima indera sebagai alat untuk mengenal dunia. Mata untuk melihat, hidung untuk bernapas, telinga untuk mendengar, lidah untuk mengecap dan kulit untuk meraba. Saat ini di kota Jakarta kelima indera ini tidak lagi di stimulasi dengan pengalaman yang membuat nyaman. Sebut saja kebisingan dari klakson kendaraan yang memenuhi jalanan sehingga memekakkan telinga juga polusi udara yang penduduk Jakarta hirup setiap harinya. Untuk itu penulis mengkaji dan menganalis mengenai arsitektur dan interior yang dapat membuat manusia merasa nyaman. Sebagai tempat wisata Five Senses Experience ingin memberikan suatu pengalaman ruang melalui lima indera yang berbeda dari kehdupan sehari-hari di Jakarta. Melalui desain program wisata yang berupa perjalanan spiritual, tempat wisata ini diharapkan dapat menjadi alat coping stres bagi para pengunjung sehingga pikiran menjadi tenang dan damai.
Wadah Seni Kolektif Senen Samuel Axel Widjaya; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8511

Abstract

A 3rd place acts as an vital place in our daily life, aside from home as the 1st place or workplace as the 2nd place. 3rd place is a neutral public space, often seen as an alternative for some people. Everyone is welcome to visit and to do lots of activities on it. A 3rd place doesn’t have a fixed form, it can be anything the community around it needs it to be.Kawasan Senen was known as the centre of trade and art since forever. It can be seen from its history that became the birthplace of some of the finest artists in Indonesia. When Taman Ismail Marzuki was built on November 10th, 1968, the value of art in Kawasan Senen began to fade. But as time goes by, the value of art in Kawasan Senen begins to rise again. This event can be seen by the rise of art activities around Kawasan Senen such as Wayang Orang Bharata Purwa show that runs every Saturday, the free traditional dance classes that were held by Museum Kebangkitan Nasional and the emergence of Komunitas Planet Senen (KOPS) that actively trying to reintroduce the value of art to the Senen community. Senen Collective Art Space project was built on the hope to become the 3rd place to the community as well as providing and strengthening the value of Kawasan Senen. Keyword: Art in Senen; Collective Art; Neutral Public Space; Third Place AbstrakThe 3rd place merupakan tempat penting yang dibutuhan masyarakat, selain dari rumah sebagai the 1st place maupun tempat kerjanya sebagai 2nd place. 3rd place adalah ruang publik yang netral, sebagai tempat alternatif. Setiap orang dapat berkunjung dan melakukan berbagai aktivitas. Sebuah 3rd place dapat memiliki bentuk yang beragam, namun nyaman untuk beraktivitas sesuai dengan kehidupan dan budaya masyarakatnya. Kawasan Senen sejak dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan kesenian yang cukup ramai. Hal ini dapat dilihat dari sejarah kawasannya yang menjadi tempat lahir beberapa seniman terkenal tanah air. Dibangunnya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 10 November 1968 membuat  nilai seni di Kawasan Senen ini sempat luntur. Namun seiring waktu, nilai seni dari Kawasan Senen mulai kembali naik. Hal ini ditandai dengan beberapa aktivitas berunsur seni yang mulai dilaksanakan kembali di Kawasan ini seperti pertunjukan Wayang Orang Bharata Purwa yang rutin diadakan setiap hari Sabtu sampai kursus menari tradisional yang diadakan secara gratis oleh Museum Kebangkitan Nasional dan juga munculnya Komunitas Planet Senen (KOPS) yang kerap berusaha memperkenalkan unsur seni kepada masyarakat Senen. Proyek Wadah Seni Kolektif Senen ini bertujuan untuk menjadi wadah 3rd place bagi warga serta memfasilitasi dan memperkuat kembali unsur seni di Kawasan Senen ini.
TERAPI CYBERBULLYING BERBASIS REKREASI Elizabeth Clara; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4472

Abstract

A lot of new problem arise as the result of the development of information and digital technology that leads to the use of the Internet by millennials, namely cyberbullying. Cyberbullying hasn’t been solved by the millennials even the though the causes has been known. This problem also affects the other generations such as generation X and generation Z also feel the impact. To be more spesific, the definition of cyberbullying is the development of bullying from the traditional way to using digital devices. This is important because until now this problem still underestimated and hasn't received any special treatment even though the bullying cause a lot off negative effect such as depression which lead to suicide. This statement supported by the Kaspersky Lab's researchThe problem is 20% of people who witness of cyberbullying and 7% of the cases of those involved in bullying. Cyberbullying Theracreation project is designed to raise the awareness of cyberbullying in the community targeting the bullier. Theracreation are created from the word combination of theraphy and recreation. it’s related to the used solution method of the project called cognitive behaviour therapy (CBT). It’s combined with spatial experience in architecture and digital technology which consists of VR so that the therapy process is carried out without having to deal directly with a psychologist. The benefits of this therapeutic system can be done at any time in a predetermined location so that improving the community's process of cyberbullying can be done effectively. For the design concept, emphasize on the improvements in the community the concept building which blend with the level difference building design and focusing the activities at one center point. AbstrakSebagai hasil dari perkembangan teknologi informasi dan digital yang mengarah pada penggunaan Internet secara berlebihan oleh generasi millenial muncul masalah yaitu intimidasi dunia maya atau lebih dikenal dengan cyberbullying. Cyberbullying sendiri tidak terpaku pada generasi milenial saja melainkan generasi lainnya seperti generasi X dan generasi Z. Cyberbullying merupakan pengembangan perilaku bullying dari cara tradisional ke penggunan perangkat digital. Untuk menangani kasus tersebut diajukanlah proyek Cyberbullying Theracreation atau Terapi Cyberbullying berbasis rekreasi yang difokuskan untuk membangun cyberbullying awareness dalam masyarakat khususnya pelaku cyberbullying. Karena sampai sekarang belum kasus ini masih disepelekan dan belum mendapat perlakuan khusus. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Kaspersky Lab. Cyberbullying dapat menimbulkan pemikiran tentang bunuh diri, terkadang bertahan hingga dewasa. Bahayanya 20% dari orang-orang yang menyaksikan bullying secara online dan di 7% kasus mereka bahkan berpartisipasi dalam kasus bullying. Theracreation sendiri berasal dari pengabungan kata terapi (therapy) dan rekreasi (recreation) ini mengacu pada metode yang digunakan yaitu terapi rekreasi berprogram terapi kognitif perilaku (CBT) yang dipadukan dengan unsur arsitektur (pengalaman ruang) dan teknologi digital berupa VR sehingga proses terapi dilakukan tanpa harus berhadapan langsung dengan psikolog. Keuntungan dari sistem terapi ini adalah terapi bisa dilakukan kapanpun di lokasi yang sudah ditentukan sehingga dalam proses meningkatkan empati masyarakat terhadap cyberbullying bisa dilakukan secara efektif. Dalam desainnya, dengan tetap menekankan peningkatan empati dalam masyarakat dciptakan konsep arsitektur yang berbaur sehingga perbedaan level pada bangunan tersamarkan dan memusatkan aktivitas pada 1 titik pusat.
RUANG KOMUNITAS DIGITAL DAN BUDAYA Claresta Felicia; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10811

Abstract

The issue of covid 19 emerged in 2019 which affected the arrangement of space and the way humans interact. Increasing human dependence on digital media now that will lead to the industrial era 5.0. The needs for both students and work are high, technology inequality in each region. The density of the population and buildings, as well as open space which is only 9.98% is not sufficient for space. Furthermore, it is predicted that 65% of people will live in urban areas by 2050. Based on time, the human way of life will change towards industry 5.0. Digital will play an important role. Human being is important. Human activities that have meaning. In Setu village, Betawi cultural activities are quite thick. The Baritan ceremony is an activity that supports the sustainability of the building. Being and time is modified between culture and technology to produce new experiences. Design method with stages a) Setu environment; b) Issues and issue resolution concepts; c) Design Concept; d)Site Selection and Selected Sites; e) Site; f) Building Mass Concept; g) Zoning and Space Program; h) Facades, exteriors and interiors. The conclusion is the design of the Digital and Cultural Community Space by applying the Contextual concept with the Neo Vernacular style. Keywords: community; covid; culture; digital; industryAbstrakIsu covid 19 muncul ditahun 2019 yang mempengaruhi susunan ruang dan cara manusia berinteraksi. Meningkatkan ketergantungan manusia terhadap media digital sekarang yang akan menuju era industri 5.0. Kebutuhan dari sisi pelajar maupun bekerja tinggi, ketidakmerataan teknologi di setiap daerah. Padatnya penduduk dan bangunan, serta ruang terbuka yang hanya 9.98% tidak mencukupi kebutuhan ruang. Ditambah lagi diprediksikan adanya 65% masyarakat akan tinggal di perkotaan tahun 2050. Berdasarkan waktu, cara hidup manusia akan berubahan menuju industri 5.0. Digital akan mengambil peran penting. Keberadaan manusia penting atau juga being. Aktivitas manusia yang memiliki arti. Di kelurahan Setu, aktivitas budaya Betawi cukup kental. Adanya upacara Baritan sebagai salah satu aktivitas sebagai event yang mendukung keberlangsungan bangunan. Being and time ini dimodifikasi antara kultur dan teknologi menghasikan pengalaman baru. Metode perancangan dengan tahapan a)Lingkungan Setu; b) Isu dan konsep penyelesaian isu; c)Konsep Perancangan; d)Pemilihan Tapak dan Tapak Terpilih; e) Tapak; f)Konsep Massa Bangunan; g) Zoning dan Program Ruang; h)Facade, eksterior, dan interior. Kesimpulan perancangan Ruang Komunitas Digital dan Budaya dengan menerapkan konsep Kontekstual dengan gaya Neo Vernakular. 
TAMAN HEWAN PELIHARAAN DAN TEATER KEBON JERUK Judy Christiana Yeo; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6784

Abstract

People are always looking for something outside of what they find at home or at work. With the rapid population and economic growth in Indonesia, Jakarta has become one of the cities with the highest First and Second Place developments. The need for Third places is increasing to balance city growth as an alternative space. Companion animals can be a catalyst for several dimensions of personal and social relationships and interactions, to the formation of new friendships / communities. Given the increasing evidence of social isolation as a health risk factor, companion animals are an important factor in developing a healthy environment. Kebon Jeruk, West Jakarta has one of the most dominant First and Second Place developments. Based on survey results and analysis, as an area with one of the highest animal owners, this has hindered animal lovers from bringing their pets to public spaces safely and freely because of local regulations. Kebon Jeruk Pet Park and Theater is intended as a forum for residents of the surrounding population, for both animal lovers and other users that can intergrate basic  Third place theories with programs suitable for the needs of housing residents, workers, students, and users of nearby health facilities that focuses on the relationship between humans and their pets to improve the quality of life both physically and mentally as well as increase public tolerance and knowledge of the benefits of pets on daily life. AbstrakManusia selalu mencari sesuatu di luar apa yang mereka temukan di rumah atau di tempat kerja. Dengan pesatnya pertumbuhan kependudukan dan ekonomi di Indonesia, Jakarta menjadi salah satu kota dengan pembangunan First Place dan Second Place yang tinggi. Kebutuhan akan Third place meningkat sebagai wadah alternatif dan penyeimbang pertumbuhan kota. Hewan pendamping dapat menjadi katalisator untuk beberapa dimensi hubungan dan interaksi personal dan sosial, hingga pembentukan persahabatan/komunitas baru. Mengingatnya semakin banyak bukti isolasi sosial sebagai faktor resiko kesehatan, hewan pendamping menjadi faktor penting dalam mengembangkan lingkungan yang sehat. Kebon Jeruk, Jakarta Barat sangat mendominasi dalam pembangunan First dan Second Place. Sebagai wilayah pemilikan hewan yang cukup tinggi, dari hasil survey dan analisis, hal ini menghambat para pecinta hewan karena peraturan setempat yang cenderung mengakibatkan para pemilik hewan untuk tidak dapat membawa hewan peliharaannya ke tempat umum secara aman dan leluasa. Taman Hewan Peliharaan dan Teater Kebon Jeruk ditujukan sebagai sebuah wadah untuk warga penduduk baik pecinta hewan maupun bukan di sekitarnya yang dapat menggabungkan teori dasar Third place dengan program yang sesuai untuk kebutuhan para penduduk perumahan, pekerja, mahasiswa/murid, dan pengguna fasilitas kesehatan sekitar yang berfokus pada hubungan antara manusia dengan hewan peliharaannya guna meningkatkan kualitas hidup dalam bentuk fisik maupun mental dan meningkatkan toleransi dan pengetahuan masyarakat akan manfaat hewan peliharaan terhadap kehidupan sehari-hari.
PENERAPAN PERPUSTAKAAN INTERAKTIF TERHADAP GENERASI MILENIAL INDONESIA William Winata; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4466

Abstract

Reading is an observational process that is utilized to acquire  informations in media literatures. Millennials in Indonesia are stultified of the collected literatures that they cease to pursue reading activities. It is known that Indonesia is placed 1/69 with low reading interest. This is supported by the data that only 1 / 1,000 people actually enjoy reading. But the growing media of digital books did not generate an increase in interests. So what is the architectural response that will be able to provide stimulis for users to spark an interest in reading. Interactive and easing programs are needed to assist information necessities among millennials. Sharing informations does have have to rely on mere literature exclusively, multimedia approaches and occuring discussions between visitors can also be equally effective. The design that is located in the Pesing area, Daan Mogot, West Jakarta will apply Cellular Automata (CA) based design methods as a representation of the growth and development of digital books. Abstrak Membaca merupakan sebuah proses mengamati untuk mendapatkan sebuah informasi baik dalam media literasi. Kalangan milenial Indonesia sangat bosan dan jenuh dengan kumpulan literasi-literasi sehingga mereka malas membaca. Seperti diketahui, Indonesia mendapati peringkat 1/69 dengan minat baca rendah. Hal ini diperkuat dengan 1/1.000 orang yang sangat suka membaca. Walaupun media buku digital semakin berkembang tidak membuat mereka semangat untuk membaca. Oleh karena itu bagaimana solusi dari arsitektur yang dapat memberi stimulan bagi para kalangan milenial supaya meningkatkan semangat membaca. Pendekatan melalui program yang interaktif serta menenangkan sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan informasi para kalangan milenial. Tidak hanya berfokus pada sebuah literasi belaka, namun kebutuhan informasi bisa dengan pendekatan multimedia, maupun bisa saling berdiskusi antar pengunjung untuk bisa saling berbagi informasi. Lokasi perancangan yang terletak di kawasan Pesing, Daan Mogot, Jakarta Barat ini juga menggunakan pendekatan metode desain berbasis Cellular Automata (CA) sebagai representasi dari pertumbuhan dan perkembangan buku digital.
PASAR LAYAR BERBASIS E-COMMERCE Rewindy Astari Surbakti; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10805

Abstract

The 21st century is known as the industrial revolution 4.0 which changes the economy among people who grow together with modernity and technology systems. It proves that the development of human thinking on creativity will greatly affect the development of the creative economy, but this has made the market begin to be abandoned by new generations and switch to e-commerce systems. The existence of an epidemic that has begun to spread in people's lives is also one of the factors that have changed the world economy and made the market begin to be abandoned. Changes in the world economy will require revitalization so that this is used as a foundation in the formation of the Screen Market integrated with the digital system to polarize the economy. The new generation is the key to the development and balance of the economy in technology, this is in line with the entrepreneurial nature and character of the new generation, which makes them prefer to develop as start ups. The revitalization of the economic center will become a forum for interaction with the surrounding environment so that the characteristics of the formation of interaction space are the basis and the beginning of the screen market. The screen market is located on Jl Arjuna Utara which is surrounded by malls, offices, universities, making the type of retail being marketed a creative sub-sector, namely culinary with local products, fashion retail, and also craft retail managed by start ups so it is hoped that the screen market can accommodate interaction and creatively combined with digital developments. Keywords: Economy; Market; New Generation; Technology. Abstrak Abad ke-21 dikenal dengan terjadinya revolusi industri 4.0 yang mengubah  perekonomian  di kalangan masyarakat yang bertumbuh bersama dengan sistem modernitas dan juga teknologi. Membuktikan bahwa perkembangan pemikiran manusia terhadap kreativitas akan sangat memengaruhi perkembangan ekonomi kreatif tetapi hal ini menjadikan pasar mulai ditinggalkan oleh generasi baru dan beralih pada sistem e-commerce. Adanya wabah yang mulai merambat dikehidupan masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang merubah perekonomian dunia dan menjadikan pasar mulai ditinggalkan. Perubahan perekonomian dunia ini akan membutuhkan revitalisasi sehingga hal ini dijadikan sebagai landasan pijakan dalam pembentukan Pasar Layar yang dipadukan dengan sistem dari digital sebagai polarisasi perekonomian. Generasi baru merupakan kunci dari perkembangan dan keseimbangan perekonomian dalam teknologi, hal ini sejalan dengan sifat dan watak entrepreneur yang dimiliki oleh generasi baru sehingga menjadikan mereka lebih memilih berkembang sebagai start up. Revitalisasi pusat perekonomian ini akan menjadi wadah interaksi dengan lingkungan sekitar sehingga adanya karakteristik pembentukan ruang interaksi sebagai dasar dan awal dalam pasar layar. Pasar layar berada di Jl. Arjuna Utara yang dikelilingi oleh mall, kantor, universitas menjadikan jenis retail yang dipasarkan merupakan subsektor kreatif yaitu kuliner dengan produk lokal, retail fashion dan juga retail kriya yang dikelola start up sehingga diharapkan Pasar Layar mampu menampung antara interaksi dan kreatif  yang dipadukan dengan perkembangan digital.

Page 4 of 134 | Total Record : 1332