cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
TEMPAT PENGOLAHAN KOPI DI CIKINI Christoforus Davin; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6894

Abstract

Nowadays social needs and lifestyle become a phenomenon where going to a place to take a break from routine becomes a necessity, especially in a metropolitan city like Jakarta, from that background the Menteng Area, Cikini is a place of very intense routines between one place to other places to achieve something. From this statement, Cikini Coffee Roastery is an answer that can meet the needs and activities in the Cikini area, especially for workers, students, and coffee shops in various circles in the area. Through an interactive and open form of building with a bridge across the front of the building that gives the impression of a soul bond. Nursery as an engineered coffee plant is located at the back of the building as an area of interaction between the core building and the site, and the environment. The function of the space in the building has an orientation to serve the visitors, as well as the community in the area around the site. Abstrak  Di masa sekarang kebutuhan sosial dan gaya hidup menjadi sebuah fenomena dimana pergi ke sebuah tempat untuk rehat dari rutinitas menjadi sebuah kebutuhan, khususnya di kota metropolitan seperti Jakarta, dari latar belakang tersebut maka Kawasan Menteng, Cikini adalah tempat terjadinya rutinitas yang sangat intens antara satu tempat ke tempat lain guna mencapai sesuatu. Dari pernyataan tersebut maka Cikini Coffee Roastery adalah sebuah jawaban yang dapat memenuhi kebutuhan dan kegiatan di daerah Cikini, khususnya untuk para pekerja, mahasiswa, dan kedai – kedai kopi berbagai kalangan di Kawasan tersebut. Lewat bentuk bangunan yang interaktif dan terbuka dengan jembatan yang melintang di bagian muka bangunan yang memberikan kesan ikatan jiwa. Nursery sebagai tempat rekayasa tumbuhan kopi berada di bagian belakang bangunan sebagai area interaksi antara bangunan inti dengan tapak, serta lingkungannya. Fungsi ruang di dalam bangunan memiliki orientasi untuk melayani para pengunjung, maupun komunitas yang berada di lingkungan sekitar tapak.
PUSAT KREATIVITAS DI PASAR BARU Gunawan, Reynaldo; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4424

Abstract

Based on research, milennials have one prominent character over the past generations, it is creative thinking. after several studies milenials have a huge interest on fashion and craft, as seen on their creative activity both In real life and digital life related to it. Indonesian Creative Entrepreneurs nowadays are dominated with Millennials1. But what prevent their bussinesses from growing are the synergy inbetween that is too complicated, waisting their time and money. Creative Hub is a space, sustainably supporting creative entrepreneurs and people to gather, collaborate, and grow. Createur itself is a combination of Creative and Entrepreneur. Createur located near Pasar Baru, a historic shopping center that supply various things related to fashion and craft, there are also skilled workers related. Design method that was used is Pattern Language by studying physical pattern around site and recreating new pattern associated with the building programs produced. Createur in this case provide various kinds of facilty related from idea searching, designing, producing, to publishing. Milenials that was working inside the Creative Hub can easily jump to the field discovering materials. watching the skilled workers, and practice directly inside the Creative Hub. AbstrakBerdasarkan pengkajian, milenials memiliki satu karakteristik yang menonjol dari generasi sebelumnya, yakni berpikir kreatif. Setelah melakukan beberapa studi milenials memiliki minat yang besar terhadap bidang Fashion dan Kriya, hal ini terlihat dari banyaknya aktivitas kreatif milenials baik di dunia nyata maupun di dunia maya yang terkait dengan kedua hal tersebut. Pelaku usaha kreatif di indonesia saat ini didominasi oleh Milenials. Namun yang menjadi penghalang berkembangnya usaha kreatif milenials adalah sinergi usaha yang terlalu rumit dan membuang banyak waktu dan biaya. Pusat Kreativitas adalah ruang yang secara berkelanjutan mendukung pelaku usaha kreatif dan orang-orang untuk berkumpul, berkolaborasi, dan berkembang. Createur sendiri adalah gabungan dari creative dan entrepreneur yang artinya adalah pelaku usaha kreatif. Createur berlokasi di dekat Pasar Baru, pusat perbelanjaan bersejarah yang menyediakan berbagai macam kebutuhan yang berhubungan dengan fashion dan kriya didalamnya-pun banyak tenaga terampil terkait. Metode perancangan yang digunakan adalah pattern language dengan mengkaji pola fisik di sekitar tapak dan membuat pola baru dengan mengaitkan dengan program bangunan yang dihasilkan. Createur dalam hal ini menyediakan berbagai macam fasilitas yang berhubungan mulai dari pencarian ide, mendesain, produksi, hingga publikasi. Milenials yang sedang bekerja di dalam Pusat Kreativitas dapat dengan mudah terjun ke lapangan berbelanja bahan produksi, melihat para tenaga ahli bekerja, dan langsung mempraktikannya di dalam Pusat Kreativitas.
PUSAT PENCEGAHAN CYBERBULLYING: PENCEGAHAN CYBERBULLYING MELALUI KARYA ARSITEKTUR Brian James; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4450

Abstract

The rapid development of technology created a huge gap in the previous generation. Marked by the existence of the internet that facilitates users to communicate with each other without limits. While communicating on the internet, someone who is more open to express himself without having to hit social norms is commonly found indirect interaction. This has a huge influence on the millennial generation which is characterized by the phenomenon of online disinhibition effects / online disinhibited effects, disinhibition is an absence of boundaries in conversations, where online users can access and use their emotions personally with newly recognized online users. According to Suler (2004), activities such as these are called benign or disinhibited disinhibitions that are harmless, making Millennials easily use harsh words, cruel, challenging, hateful, even opposing criticism. In addition, they are also added to those released from dangerous internet sites such as pornographic sites, crime or violence are activities that contain toxic or disinhibition that is dangerous (Suler, 2004). Increasing cyberbullying in the city has become a major factor for designers to progressively cyberbullying, as a new educational forum using Virtual Reality, as a form of simulation to counter cyberbullying in the hope of creating public interest and participation for teenagers and cyberbullying people, exchange ideas in the form of a Community Center. AbstrakPesatnya perkembangan teknologi, menciptakan gap yang sangat besar pada generasi sebelumnya. Ditandai dengan adanya internet yang memudahkan para pengguna dapat saling berinteraksi tanpa batas. Selama berinteraksi di internet, seseorang cenderung lebih terbuka untuk mengespresikan dirinya tanpa harus terbentur norma-norma sosial yang biasa ditemukan pada interaksi langsung. Hal ini membawa pengaruh yang sangat besar pada generasi milenial yang ditandai dengan munculnya fenomena  efek disinhibisi online/online disinhibition effects, disinhibisi merupakan suatu ketiadaan batas dalam berkomunikasi, dimana online user dapat lebih terbuka dan mengekspresikan emosinya secara personal dengan sesama online user yang baru dikenal. Menurut Suler (2004), aktivitas seperti ini disebut dengan benign disinhibition atau disinhibisi yang tidak berbahaya, membuat Generasi Millennial mudah menggunakan kata-kata kasar, kritik yang kejam, kemarahan, kebencian, bahkan ancaman terhadap orang lain. Selain itu ditambah juga mereka yang mengunjungi sisi gelap internet seperti website pornografi, kriminal atau kekerasan yaitu aktivitas yang merupakan sebagai toxic disinhibition atau disinhibisi yang berbahaya ( Suler, 2004). Meningkatnya tindakan cyberbullying di kota, menjadi faktor utama bagi perancang untuk merancang pusat pencegahan cyberbullying, sebagai wadah edukasi baru dengan penggunaan Virtual Reality, sebagai bentuk simulasi dampak cyberbullying dengan harapan terciptanya kesadaran dan partisipasi publik bagi para remaja dan orang dewasa atas bahaya Cyberbullying, untuk saling bertukar pikiran dalam bentuk Community Center.
EKSPLORASI RUANG KOMUNAL DAN INFORMAL DI KEHIDUPAN KAMPUNG KOTA JAKARTA DALAM PROYEK BALAI BUDAYA KOLEKTIF DAN ANAK PASEBAN Olivia Nadya; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8547

Abstract

As a combination of Kota (formal city) and Kampung (traditional village), the ‘taste’ of Jakarta can be found in urban villages where many residents formed strong communities. The community produces a new typology that will continue to change and develop according to the adaptability of its citizens. By viewing shared space or commons as an important element of living in cities, urban village development should focus on this commons, in which has a meaning on the use of space, civil society culture, and infrastructure as a process of aligning various urban daily life paths. Urban villages are an example where the practice of shared space is found in daily life. With a narrative architectural exploration method approach based on the scenarios of people's daily lives, the spaces that are formed will become a 'second home' for local residents and also a Third Place’ for its users. The 'Paseban Collective Culture and Children Hall’ Project provides a designated public space, for residents of Kampung Kramat Sawah and Kramat Lontar in Paseban Village, Senen District, based on community participation in socio-cultural-recreational aspects which can also provide non-formal education and productive economic livelihood for its citizens through community empowerment. So that urban villages are  not only as a social production space for habitats, but are also economically productive, according to its local character.  Keywords: Community Empowerment; Community Hall; Informal Social Space; Third Space; Urban Village AbstrakSebagai perpaduan antara Kota (kota formal) dan Kampung (desa tradisional), ‘rasa’ kota Jakarta dapat ditemukan di kampung-kampung kota dimana banyak penduduk membentuk komunitas yang kuat. Komunitas tersebut menghasilkan sebuah tipologi baru yang akan terus berubah dan berkembang sesuai adaptivitas warganya. Dengan memandang ruang komunitas bersama sebagai elemen penting berkehidupan di kota, perkembangan kampung kota seharusnya berfokus pada ruang bersama ini, yang memiliki makna pada: penggunaan ruang, budaya masyarakat sipil, dan prasarana sebagai proses menyelaraskan berbagai jalan hidup sehari-hari perkotaan. Kampung kota menjadi contoh dimana praktik ruang bersama ini banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.  Dengan pendekatan metode eksplorasi arsitektur naratif yang berdasarkan skenario kehidupan sehari-hari para warga, ruang-ruang yang terbentuk akan menjadi ‘rumah kedua’ bagi warga lokal dan juga menjadi Ruang Ketiga bagi para penggunanya. Proyek 'Balai Budaya Kolektif dan Anak Paseban' memberikan ruang bersama publik terancang, bagi warga Kampung Kramat Sawah dan Kramat Lontar di Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, berdasarkan partisipasi komunitas dalam aspek sosial-budaya-rekreasional yang juga dapat memberikan edukasi non-formal dan penghidupan ekonomi produktif bagi warganya melalui pemberdayaan komunitas. Sehingga dapat diraihnya kampung yang selain sebagai ruang produksi sosial habitat, tetapi juga produktif secara ekonomi, sesuai dengan karakter kelokalannya.
RUANG KERJA BERSAMA DENGAN REPARASI OTOMOTIF Aditya Jovianto; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4380

Abstract

Today's working age is mostly millennial generations who like workplaces that are not impressed as a closed / confined place. Workplaces that can enable them to be productive but still be able to communicate with others, build relationships with others and collaborate with each other. Therefore now they prefer to work in places like fast food cafes or restaurants. But actually the places is not suitable to be a place to work because many people with different interests gather there such as chatting with friends, eating / drinking, working, or even watching a spectacle that is hot. The type of project decided to be designed is a building with office functions with a Co-Working Space to meet the needs of the millennial generation, develop and popularize the type of workplace Co-Working Space especially in Jakarta. After conducting research and data searching, it was found that the North Jakarta area had the least number of Co-Working Space. Then the Sungai Bambu urban village was chosen, with Tanjung Priok sub-district with a site size of 7450m2. The method used is using the pattern method, where the program looks at the pattern of the surrounding neighborhood building near the automotive office area, each of which has its own warehouse. Therefore the program in this project includes joint workspaces, rental offices, workshops, warehouses, and additional program foodcourt. The pattern is also used to get a form of mass composition, where the right and left areas of the site are buildings that have elongated grid shapes, namely warehouse and shop. AbstrakUsia kerja sekarang ini kebanyakan adalah generasi milenial yang menyukai tempat kerja dengan kriteria yang tidak terkesan sebagai tempat tertutup/terkurung. Tempat kerja yang dapat memungkinkan mereka untuk bisa produktif namun tetap bisa berkomunikasi dengan orang lain, membangun relasi dengan orang lain dan berkolaborasi antara satu sama lain. Generasi milenial lebih menyukai untuk bekerja di tempat-tempat seperti cafe atau restoran cepat saji. Namun sebenarnya tempat tersebut tidak cocok menjadi tempat untuk bekerja karena banyak orang dengan kepentingan berbeda berkumpul disana seperti berbincang dengan teman, makan/minum, bekerja, atau bahkan menyaksikan sebuah tontonan yang sedang hangat. Jenis proyek yang diputuskan untuk didesain adalah bangunan dengan fungsi kantor dengan ruang kerja bersama (Co-Working Space) untuk memenuhi kebutuhan generasi milenial serta mengembangkan dan mempopulerkan jenis tempat kerja Co-Working Space terutama di Jakarta. Setelah dilakukan penelitian dan pencarian data, didapati bahwa daerah Jakarta Utara memiliki paling sedikit Co-Working Space. Kemudian dipilihlah daerah kelurahan Sungai Bambu, kecamatan Tanjung Priok dengan luas tapak sebesar 7450m2. Metode yang digunakan adalah menggunakan metode pola, dimana program melihat pola bangunan lingkungan sekitar dekat dengan kawasan perkantoran otomotif yang masing – masing kebanyakan memilki gudang sendiri. Oleh karena itu program dalam proyek ini meliputi ruang kerja bersama, kantor sewa, bengkel, gudang, dan program tambahan food court. Pola juga digunakan untuk mendapatkan bentuk gubahan massa, dimana area kanan dan kiri tapak merupakan bangunan yang memilki bentuk grid yang memanjang yaitu gudang dan ruko. 
METODE DISPROGRAMMING DALAM MENDESAIN PASAR IKAN DADAP Fahmi Syafutra; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10891

Abstract

Geographically, Indonesia is an archipelago with a sea area larger than land, but unfortunately the potential of the coast has not been utilized properly. This is not an exception to Kampung Dadap, which is an area on the coast of the North Java coast that borders the Tangerang and DKI Jakarta Regencies. The majority of the people of Dadap Fishermen Village, who work as fishermen and roadside traders, do not have activity support facilities as a place for them to express their activities, so that their economic potential does not develop, making the fishermen's village appear to be a dead village due to lack of visitors. In responding to the problems that arise, this project aims to make the Fish Market a supporting facility for fishery activities that can attract visitors, which can improve the quality of life of the Dadap Fishermen Village community in dwelling, social and economic context. This project is aimed at all communities, especially around the Dadap Kosambi Fisherman Village area. With the modern market concept of "disprogramming method", it is hoped that the middle to lower and upper middle class people of the economy can join forces to form mutually beneficial activities. This project also provides supporting facilities that can invite newcomers to develop the economic potential of local residents and can improve the quality of life for fishing village communities. With this, the quality of life of the people of Kampung Nelayan Dadap, in the context of dwelling, social and economic life will improve. Key words: Disprogramming; Facility; Fishermen; Market; Village. AbstrakSecara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas laut yang lebih besar dari daratan, Namun sayangnya potensi pesisir belum dimanfaatkan dengan baik. Hal ini tidak menjadi pengecualian bagi Kampung  Dadap  yang merupakan  suatu  wilayah  di  pesisir  Pantai  Utara  Jawa  yang  membatasi wilayah  Kabupaten  Tangerang  dan  DKI  Jakarta. Mayoritas masyarakat Kampung Nelayan Dadap yang berprofesi sebagai nelayan ikan tangkap dan pedagang di pinggir jalan, tidak memiliki fasilitas penunjang kegiatan sebagai wadah mereka untuk menuangkan aktivitasnya, sehingga potensi ekonominya tidak berkembang menjadikan kampung nelayan terkesan sebagai kampung mati karena sepi pengunjung. Dalam menjawab permasalahan yang muncul tersebut, proyek ini bertujuan untuk membuat Pasar Ikan sebagai fasilitas pendukung kegiatan perikanan yang dapat menarik pengunjung,  yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kampung Nelayan Dadap dalam konteks berhuni, sosial dan ekonominya. Proyek ini ditujukan untuk semua masyarakat terutama di sekitar kawasan Kampung Nelayan Dadap Kosambi. Dengan konsep pasar modern “metode disprogramming” diharapkan masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah sampai menengah keatas dapat bergabung membentuk suatu aktivitas yang saling menguntungkan.  Proyek ini menyediakan pula fasilitas penunjang  yang dapat mengundang pendatang mengembangkan potensi ekonomi warga setempat dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan  masyarakat kampung nelayan. Dengan ini kualitas hidup masyarakat Kampung Nelayan Dadap dalam konteks berhuni, sosial dan ekonominya dapat meningkat.
PEMBENTUKAN RUANG KOLEKTIF SEBAGAI LANSKAP KREATIF MASYARAKAT KAMPUNG KOTA DI KEBON KACANG Nathanael Hanli; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6826

Abstract

The turn of the 21st century saw a transformation in urban society as the abundance of  physical resources no longer serves as the sole determinant of a city’s economic development, rather it is the human capital and the ideas produced which generate growth through the creative economy sector. The image of a city, engraved by diversity and distinctive local identity, engage with individuals from various communities, establishing a creative landscape as a third place where interaction between members of the creative class occurs. The neighbourhood of Kebon Kacang is known as a residential area which embraces the city-village typology (first place). Located next to the central business district and economic center of the city (second place), its inhabitants are forced to occupy negative spaces left in between the high density area of downtown Jakarta, such as sidewalks and empty lot, and overhauling them in a temporal and spontaneous manner into informal third places. Aside as a social space for the local residents, the informal third place of Kebon Kacang also function as a production house for a variety of local products, ranging from staple dishes to small scale textile industry. Through the synthesis process consisting of field observation and literature study regarding the formation of social space in urban kampung, the informal quality attributed to the creative landscape of Kebon Kacang serves as a foundation in the planning and design process of Kebon Kacang Collective Space. AbstrakAbad ke-21 menjadi saksi atas transformasi perekonomian masyarakat kota di mana perkembangan suatu kawasan tak lagi ditentukan oleh keberadaan sumber daya fisik semata, melainkan juga ide dan pemikiran manusia sebagai katalis perkembangan ekonomi kreatif. Diversitas serta identitas yang membentuk citra suatu kawasan mengundang hadirnya individu dari berbagai komunitas yang berbeda, menciptakan lanskap kreatif sebagai third place di mana masyarakat kreatif dapat berinteraksi satu sama lain dan saling bertukar pikiran. Kelurahan Kebon Kacang sebagai permukiman kampung kota (first place) yang berbatasan dengan sentra bisnis dan perekonomian kota (second place) berkepadatan tinggi mendorong pemanfaatan ruang-ruang antara yang tersisa seperti bahu jalan dan lahan kosong sebagai third place bersifat informal yang diisi secara cair dan temporal oleh masyarakatnya, menjadikannya tak hanya sebagai wadah interaksi melainkan juga sarana berkreasi yang menghasilkan produk-produk lokal seperti kuliner hingga industri tekstil skala kecil. Melalui investigasi kawasan yang didasari oleh dua metode utama, yakni observasi lapangan dan kajian pustaka terhadap pembentukan ruang sosial di kampung kota sebagai third place, potensi karakteristik informal dalam pembentukan ruang antara sebagai lanskap kreatif di kawasan Kebon Kacang pun diangkat sebagai gagasan dalam perencanaan dan perancangan Ruang Kolektif Kebon Kacang yang bertujuan menghadirkan  third place sebagai wadah interaksi, kreasi, dan promosi bagi seluruh lapisan masyarakat di Kelurahan Kebon Kacang.
GALERI WISATA-MAKNA FOTOGRAFI Gerald Tanujaya; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3979

Abstract

Penulisan Laporan kali ini bertujuan menginformasikan tentang sebuah seni dalam perkembangan teknologi yang sangat pesat di era globalisasi saat ini yaitu fotografi, hampir diseluruh dunia yang serba digital kali ini fotografi mengambil peran penting di berbagai aspek kehidupan dan dapat menjadi sebuah jembatan antar bahasa bagi seluruh dunia, sehingga sangat bersinergi dengan media informasi dan platform media sosial yang sangat marak di era digital dan market place online. Fotografi memiliki perkembangan yang cukup pesat dan dampak yang sangat besar salah satunya dalam aspek pariwisata architourism. banyaknya eksistensi perlombaan fotografi sebagai salah satu cara marketing di era digital ini, dan juga daya beli kamera yang terus meningkat menunjukan bahwa Indonesia menerima dengan baik teknologi fotografi itu sendiri, berkaca dari kemajuan bidang fotografi yang pesat, khususnya di kota metropolitan Jakarta yang menjadikan titik acuan prospek strategis untuk menampung kegiatan praktik fotografi yang sangat kompleks dan cukup dapat mewarnai atmosfer dunia seni, pendidikan, perdagangan konvensional dan digital, parawisata, dan media lain dituangkan ke dalam suatu wadah galeri fotografi.
WADAH MUSIK KREASI BERBASIS INDIE Therina Adela; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8631

Abstract

Urban Modern Society daily activities can not be separated from all the bustle in the office, as well as at home with all the routine activities. All this daily bustle demands the people in the urban and urging them to keep working, and moving almost without them knowing the time so that there is a high possibility for the people to forget the need to rest and have a recess. As of this research are aimed to answer that needs, the people’s need to take a rest for a while, especially those people and society in Duren Tiga, an area with many offices, through the role of architecture in creating a space and place to relax in the middle of all the hustle and bustle activities. Methods used in this research are conducting a study, observation, and questionnaire for the preliminary data collection. Learning, reviewing, and observing the needs of the society, and the needs of activity as for the second step. The third is composing an architectural program suitable for the project, corresponding to the result of the observation, and answering the needs of the people so that the project’s objectives can be adequately achieved. Generally, the purpose of the project is to illustrate and define music and indie as the basic for the concept, design and activities, also for the answer to the needs of third place. Keywords: Activities; Creation; Indie; Music AbstrakKegiatan Masyarakat Kota Modern sehari-hari tidak terlepas dari segala kesibukannya dalam rutinitas di kantor maupun di rumah, dengan berbagai aktivitasnya. Kesibukan sehari-hari inilah yang menuntut masyarakat di kota modern untuk terus bekerja, bergerak, serta beraktivitas hampir tanpa mengenal waktu, sehingga sangat memungkinkan bagi mereka untuk melupakan kebutuhan akan beristirahat. Sehingga penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat tersebut, terutama masyarakat Duren Tiga yang merupakan daerah dengan banyak perkantoran dan jasa, melalui peran arsitektur dalam menciptakan sebuah space maupun place untuk beristirahat dan bersantai di tengah kesibukan dan kepadatan aktivitas yang dijalani. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah studi, observasi dan penyebaran kuesioner sebagai pengumpulan data awal, mempelajari dan meninjau kebutuhan masyarakat dan kebutuhan aktivitas untuk melepas kejenuhan dan beristirahat sebagai tahap kedua. Ketiga, menyusun program yang dibutuhkan sesuai dengan hasil observasi, menjawab kebutuhan masyarakat sehingga tujuan proyek yang diinginkan akan tercapai dengan baik. Secara umum tujuan dari proyek ini untuk menggambarkan musik dan indie sebagai dasar perancangan dari konsep, desain serta aktivitas dan jawaban atas kebutuhan third place.  
WADAH AKTIVITAS PENUNJANG KESEJAHTERAAN FISIK DI UJUNG MENTENG Ivana Melia Setiawan; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6869

Abstract

One of the issues of urgency now is the lack of awareness of a healthy lifestyle, unhealthy lifestyles can have an impact on long-term health that is the risk of non-communicable diseases namely Diabetes, Hypertension, Heart, etc. The third place as a pause or lounge space between the first place (residence) and second place (work place) is currently connected with places like cafes, malls, places to eat, etc. that do not support a healthy lifestyle. What is needed now is Third Place in addition to social space but also educates about healthy lifestyles and physical well-being. Physical Well-being is a Good Physical Condition Not Only Because It Does Not Ignore Disease by Eating Nutritious Foods, Conducting Physical Activity and Overcoming the Mind, and Balanced Soul (American Association Nurse Anesthetist). The design of this project is based on the issues obtained by site selection indicators related to environmental quality theories that affect individual health (air quality, temperature, greening, etc.). Cakung Subdistrict, East Jakarta, Ujung Menteng Village is a location that does not meet environmental health quality indicators. Menteng tip area is a place that is approved by the industry and close to a place to live but close to 3 points of supporting buildings such as sports. Activities in the project related to the program are based on Physical Welfare theory, 5 Ways of Welfare, and Third Place from Ray Oldenburg. Theory of Language Design and Edward T. White book source concept, which is based on the analysis of observations in the surrounding community environment and other data (macro. Mezo, micro, government regulations, etc.). The results obtained from the potential needed by third parties who support health and physical well-being. Abstrak Salah satu isu urgensi saat ini adalah belum adanya kesadaran akan gaya hidup yang sehat, gaya hidup tidak sehat dapat berdampak pada kesehatan  jangka panjang yaitu resiko pada penyakit tidak menular yaitu Diabetes, Hipertensi, Jantung, dll. Third place sebagai ruang jeda atau ruang santai antara first place (tempat tinggal) dan second place (tempat kerja) saat ini identik dengan tempat berkumpul seperti café, mall, tempat makan, dll yang cenderung kurang mendukung gaya hidup sehat. Sehingga dibutuhkan saat ini adalah Third Place selain sebagai ruang sosial namun juga mengedukasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat dan kesejahteraan fisik (physical well-being). Physical Wellbeing adalah Keadaan fisik yang baik bukan hanya karena tidak adanya penyakit tetapi menghindari penyakit dengan makan-makanan bernutrisi, melakukan aktivitas fisik dan memelihara pikiran, dan jiwa yang seimbang (American Association Nurse Anesthetist).  Perancangan proyek ini berdasarkan dari isu didapatkan indikator pemilihan tapak terkait dengan teori kualitas lingkungan hidup sekitar yang memengaruhi kesehatan individu (kualitas udara, suhu, penghijauan, dll). Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Kelurahan Ujung Menteng menjadi lokasi yang kurang memenuhi indikator kesehatan kualitas lingkungan hidup. Kawasan ujung menteng merupakan dikelilingi oleh industri dan dekat dengan tempat tinggal namun dekat dengan 3 titik  bangunan pendukung seperti olahraga. Aktivitas di dalam proyek terkait dengan program berdasarkan teori Physical Well-being, 5 Ways Of Well-being, dan Third Place dari Ray Oldenburg. Pendekatan pada desain bangunan mengambil pada teori Pattern Language dan Edward T.White buku sumber konsep, yang didasari dari analisa observasi kebiasaan di lingkungan masyarakat sekitar dan data lainnya (makro, mezo, mikro, peraturan pemerintah,dll). Hasil didapatkan adanya potensi dibutuhkan thirdplace yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan fisik (Physical Wellbeing).

Page 36 of 134 | Total Record : 1332