cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUMAH BIO-HERBAL NUSANTARA Raihan Dzaky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10814

Abstract

The case of Covid-19 in Indonesia, which is increasingly increasing, has made all levels of society, from the government, ordinary citizens to street vendors, to busy promoting a healthy lifestyle, such as wearing masks, washing hands, eating 4 healthy 5 perfect foods, and drinking herbal medicine as an enhancer. Body stamina. By raising the issue of herbal medicine, a project called Rumah Bioherbal Nusantara was created which aims to attract public attention to the world of Indonesian banquets. In this project, it combines modern elements but also includes traditional elements in the building so that this project can ward off the public's perception of herbal medicine as a very traditional drink. The method used in this project is Biomorphic Architecture, this is due to the use of many herbal plant elements in the form of turmeric, ginger, cat whiskers and so on, both inside and outside the building. Kebon Jeruk was chosen as the location for the construction of the project, because this area is an area with a fairly rapid development and commercial level in the Jakarta area, especially West Jakarta, plus access to and to Kebon Jeruk is quite easy, both for public transportation and private transportation, because of its location. Which is located in the orange garden, has created a building program tailored to the characteristics of the site, including a Research Center, a Jamu Experience Café, a Herbal Medicine Workshop, a Multipurpose Room, a Jamu Market and Spa, a Library and a Museum. To support this project, the concept of educational and recreational tourism is applied where visitors are educated about herbal plants in Indonesia in a recreational way that attracts visitors and can further elevate the image of herbal medicine to the international world. Keywords: covid 19; educative; herbal medicine; recreational AbstrakKasus Covid 19 di Indonesia yang semakin lama semakin meningkat membuat semua lapisan masyarakat mulai dari pemerintah, warga biasa hingga pedagang kaki lima beramai ramai mempromosikan gaya hidup sehat, seperti memakai masker, mencuci tangan, mengonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna, serta meminum jamu sebagai penambah stamina tubuh. Dengan mengangkat isu jamu, memunculkan suatu proyek yang bernama Rumah Bio-herbal Nusantara yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat mengenai dunia perjamuan Indonesia. Dalam proyek tersebut menggabungkan unsur modern namun juga tetap memasukkan unsur unsur tradisional didalam bangunannya sehingga dengan proyek ini dapat menepis anggapan masyarakat mengenai jamu sebagai minuman yang sangat tradisonal. Metode yang digunakan dalam proyek ini yaitu Arsitektur Biomorfik hal ini disebabkan banyak menggunakan unsur unsur tanaman herbal berupa tanaman kunyit, jahe, kumis kucing dan sebagainya baik didalam maupun diluar bangunan. Kebon Jeruk dipilih sebagai lokasi didirikannya proyek, karena kawasan ini merupakan kawasan dengan tingkat pembangunan dan komersil yang cukup pesat di daerah Jakarta khususnya Jakarta Barat, ditambah dengan akses menuju dan ke kebon jeruk cukup mudah, baik untuk transportasi umum maupun transportasi pribadi, oleh sebab tapak yang berada di kebon jeruk, memunculkan program bangunan yang disesuaikan dengan karakteristik tapak, yaitu diantaranya terdiri atas Pusat Penelitian, Café Jamu Experience, Workshop Jamu, Ruang Serbaguna, Jamu Market dan Spa, Perpustakaan dan Museum. Untuk menunjang proyek tersebut diterapkan konsep wisata edukatif dan rekreatif dimana pengunjung mendapat edukasi mengenai tanaman herbal yang ada di Indonesia dengan cara cara rekreatif membuat pengunjung tertarik dan dapat mengangkat citra jamu lebih jauh lagi ke dunia international.
MUSEUM KAPAL NUSANTARA DI JAKARTA UTARA Dina Amelia Putri; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3999

Abstract

Sejarah maritim Indonesia adalah sejarah peradaban manusia secara umum. Peran laut, daratan, pelaut dan kapal tak bisa dilepaskan karena merupakan satu kesatuan pembentuk unsur maritim Indonesia. Kapal merupakan bagian sejarah besar maritim Indonesia, kapal adalah transportasi yang penting di Indonesia mengingat indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah 17.504 pulau. Peran kapal sangat penting bagi sejarah dan ekonomi, sosial, budaya Indonesia itu sendiri kapal memiliki nilai sejarah yang sangat kuat bagi Indonesia dan tentu nya masyarakat Indonesia perlu tau dan mengerti sejarah kapal di Indonesia. Namun pengetahuan mengenai perkapalan di Indonesia masih kurang bagi masyarakat awam. Oleh sebab itu salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah penyediaan sebuah “Museum Kapal Nusantara” sebuah wadah rekreasi yang mengedukasi masyarakat mengenai perkapalan di Indonesia. Terletak disebelah pelabuhan sunda kelapa bangunan seakan menjadi satu kesatuan dengan sejarah besar pelabuhan sunda kelapa dengan disediakan nya aktvitas luar ruang yang berorientasi pada pelabuhan sunda kelapa dimana pengunjung dapat mencoba mendayung perahu dan lainnya. Dalam wadah rekreasi ini disediakan ruangan seperti ruang pamer, area simulator, area audiovisual, cinema 4D, aquarium ikan karang, dan kegiatan pendukung lainnya. Ide-ide tersebut dibungkus dan di tampilkan secara interaktif, Dengan teknologi 2D, 3D dan 4D sebagai wadah penyampaian dalam museum kapal nusantara ini. Dengan dibangunnya proyek ini diharapakan masyarakat Indonesia lebih mengenal perkapalan indonesia dan terinsprasi untuk dapat ambil andil dalam perkembangan industri kapal di indonesia yang tentunya akan dapat mewujudkan cita-cita pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
TEMPAT KESEHATAN HOLISTIK DI PURI KEMBANGAN Laurencia Barnessa; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8568

Abstract

This project is located in Puri Kembangan’s region which known as a Central Business District,, entertainment and residential area .In life, healthiness is one of the most important thing in life that sometime still poorly understood by the society. In the modern era today, society have a different point of view and attitude towards healthiness. In order to maintain the balance of modernization, there are health treatment called holistic healing that had been popular recently. Holistic healing space is a healthiness comprehensive that not only focus on one aspect only, but to a lot of aspect such as body, mind and soul. The growth of diseases have increasingly diverse from time to time and possess a deadly impact that affect the complexity of the urban society lives. Therefore, it is very important to notice holistic healthiness, not only physicall aspect but mind and soul as well. In everyday life, espicially work routine tend to cause a high level of stress in the society that drive the urge to be free from daily routine or be refreshed to fulfill psychological needs. As for social needs, human needed the time to socialize with friends and communicate with other people. The Holistic Healing Space project is expected to be a vessel for the society to fulfill the condition of their Holistic Healthiness and manage a healthier urban life pattern, because maintaining healthiness is not an ordinary thing but had already become the lifestyle of urban society. Keywords: healthy; holistic; urban Abstrak Proyek ini terletak di kawasan masyarakat menengah keatas daerah Puri Kembangan yang merupakan kawasan perkantoran, hiburan dan hunian. Dalam kehidupan, kesehatan merupakan salah satu hal utama yang terkadang masih kurang dipahami oleh masyarakat. Di era modernisasi saat ini, masyarakat memiliki cara pandang dan sikap yang berbeda terhadap kesehatan. Untuk mengimbangi modernisasi, ada pelayanan kesehatan yaitu kesehatan holistik, yang belakangan ini mulai populer. Kesehatan Holistik ini merupakan kesehatan menyeluruh tidak hanya pada satu aspek saja, tetapi pada banyak aspek seperti tubuh, pikiran dan jiwa. Perkembangan penyakit dari waktu ke waktu semakin beraneka ragam yang memiliki dampak mematikan, sehingga mempengaruhi kompleksitas kehidupan masyarakat urban. Maka dari itu, pentingnya memperhatikan kesehatan secara holistik, tidak hanya pada fisik saja tapi juga kesehatan pikiran dan jiwa.  Selain itu dalam kehidupan sehari-hari, terutama rutinitas pada pekerjaan menyebabkan tingkat stres yang cukup tinggi di kalangan masyarakat, sehingga menimbulkan keinginan untuk keluar dari rutinitas atau refresing untuk memenuhi kebutuhan psikologis. Sehingga proyek Holistic Healing Space ini berharap bisa menjadi wadah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kondisi kesehatan holistik serta mengusahakan pola hidup urban yang lebih sehat, karena menjaga kesehatan bukan sesuatu hal yang biasa tetapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat urban.
FASILITAS EDUTAINTMENT DI KELAPA GADING Andreas Yonaftan; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6748

Abstract

3rd Place or third place is a place where everyone can go there, regardless of social status, economy, work, etc., this place is usually a place where local residents can meet and talk with one another casually so they feel like being at home, being able to meet new people, become regulars, and so on. Therefore a 3rd place is very important in an area, especially in Jakarta which is the capital of the Indonesian state. But in reality what happens is the existing 3rd Place requires someone to buy something first so that it indirectly classifies a person's social and economic status. And also a lot of 3rd Place that is used by millennials to work in groups so that people who are relaxed enjoy their leisure time or are having a meeting for work become disrupted. Therefore the purpose of this research is to create a 3rd Place that is free and very open to the public by providing programs that can solve the issues that often occur. By using a design method that refers to the analysis of data about the weaknesses and strengths of the location of this area that produces design concepts and programs that are appropriate. So this project produces a 3rd Place with library programs for both children and adults, co-working space, cafes, sports fields, children's playgrounds, and others.Abstrak3rd Place atau tempat ketiga adalah sebuah tempat dimana semua orang dapat pergi kesana, tidak memperdulikan status sosial, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain, tempat ini biasanya menjadi tempat para warga sekitar dapat bertemu dan saling berbincang satu dengan yang lainnya dengan santai sehingga mereka merasa seperti berada di rumah sendiri, dapat bertemu dengan orang baru, menjadi langganan, dan lain-lain. Oleh karena itu sebuah 3rd Place sangat penting dalam sebuah kawasan, terutama di Jakarta yang merupakan ibukota dari negara Indonesia. Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah 3rd Place yang ada mengharuskan seseorang untuk membeli sesuatu terlebih dahulu sehingga secara tidak langsung mengelompokan status sosial dan ekonomi seseorang. Dan juga banyak 3rd Place yang digunakan oleh generasi milenial untuk bekerja kelompok sehingga membuat orang yang sedang santai menikmati waktu luangnya atau sedang meeting untuk pekerjaan menjadi terganggu. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini yaitu menciptakan sebuah 3rd Place yang bersifat free dan sangat terbuka untuk umum dengan menyediakan program-program yang dapat menyelesaikan isu-isu yang sering terjadi. Dengan menggunakan metode perancangan yang mengacu pada analisa data-data tentang kelemahan dan kelebihan lokasi kawasan ini berada yang menghasilkan konsep perancangan serta program-program yang tepat. Sehingga proyek ini menghasilkan sebuah 3rd Place dengan program perpustakaan baik untuk anak dan dewasa, co-working space, kafe, lapangan olahraga, tempat bermain anak, dan lain-lain. 
PUSAT RESTORASI EKOSISTEM: PENGEMBALIAN ALAM Heni Sofyani; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4365

Abstract

Millenials  who is biological species continues to live in  artificial machine cities.  The needs of modern man invaded  the urban with buildings left no space for natural settings. Noticed that peoples started to plant trees one dear for living with nature : see, touch, feel, and be part of them. Indonesia is a country with the second longest coastal line in the world, but nowadays people aren’t take good care of the sea some bad phenomenon really happened particularly in the central city of Indonesia, Jakarta. In Ancol people throwing waste, the industry waste contaminated the sea and in result the sea ecosystem is unstable. The project Ecosystem Restoration Center in Ancol, Jakarta Utara with a purpose when this project is being built people can change their perspective on how to treat and in  contact with nature. Phenomenology and arhitecture types as a method to design this building, the result of theproject appear as the solution for millenials in the invaded city, an injection for balancing and perhaps regenerating the ecosystem of air, ground and sea. A fun and relax space for public realm to retrieve their dear of  nature, for them to exchange and shape a new then better behavior of them toward on how to treat and in contact the nature. Abstrak Milenial merupakan spesies biologis yang hidup di kota-kota ‘buatan’. Kebutuhan manusia modern sangat kompleks ruang kota berisi bangunan- bangunan dan tidak menyisakan ruang untuk alam/ area hijau. Memperhatikan bahwa orang-orang mulai membuat jalur hijau sebagai tanda bahwa mereka ingin hidup berdampingan dengan alam: melihat, menyentuh, merasakan, dan menjadi bagian dari alam. Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, tetapi saat ini manusia tidak merawat laut dengan baik, beberapa fenomena buruk benar-benar terjadi terutama di pusat kota Indonesia, Jakarta. Di Ancol orang membuang sampah sembarangan, limbah industri mencemari laut dan akibatnya ekosistem laut menjadi tidak stabil. Proyek Pusat Restorasi Ekosistem yang terletak di Ancol, Jakarta Utara ini bertujuan untuk mengubah perspektif manusia tentang cara merawat dan berinteraksi dengan alam. Penggunaan fenomenologi dan tipologi arsitektur sebagai metode untuk merancang bangunan ini, hasil proyek ini berupa solusi untuk milenial, injeksi untuk penyeimbangan dan meregenerasi ekosistem udara, darat dan laut. Ruang yang menyenangkan dan rileks bagi ranah publik untuk kembali bersama alam, ruang untuk bertukar dan membentuk perilaku baru yang lebih baik mengenai cara memperlakukan dan berhubungan dengan alam.
BANGUNAN CAMPURAN DENGAN RUANG HIJAU SEBAGAI ASPEK DOMINAN PERANCANGAN Novalentina Novalentina; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10889

Abstract

Dwelling (also a residence, a residence) is a self-contained accommodation unit used by one or more households as a home; such as a house, apartment, mobile home, household, vehicle, other "substantial" structure. The concept of residence has significance in relation to search and seizure, transport of real property, theft, offenses, and land use planning. In a city like Jakarta, with dense infrastructure, wide economic disparities and a tense social composition, increasing green space should be a top priority. However, residents of the capital Jakarta can reiterate that this is not the case. That in fact lacks a conspicuous park, playground and public park in the capital. The urban design concept deals with the integration of land use, movement and traffic management and the form of the built environment.Its aim is to provide urban high-quality places that are efficient, functional and attractive, and can respond to changing societal, environmental and economic needs over time. In designing it also contributes to, and bridges between planning and design. It deals with the surrounding environment by paying attention to the context of the building and space rather than the object itself. Then it requires access to green infrastructure, open space areas and green spaces, which will contribute to a greener, healthier, smarter, safer, livelier, richer and fairer. This guide will assist in assessing and demonstrating progress in improving green infrastructure to create a place that is useful, sustainable and well used. It creates a wider community, natural environment and supports a healthy economy. Keywords:  Dwelling; Green space; Private space; Public space ; Sustainable. AbstrakDwelling (juga tempat tinggal) adalah sebuah unit akomodasi mandiri yang digunakan oleh satu atau lebih dari satu rumah tangga sebagai; rumah, apartemen, rumah bergerak, rumah tangga, kendaraan, atau struktur "substansial" lainnya. Konsep tempat tinggal memiliki signifikansi dalam kaitannya dengan pencarian, pengangkutan properti nyata, dan perencanaan penggunaan lahan. Di kota seperti Jakarta, dengan infrastruktur yang sangat padat, kesenjangan ekonomi yang luas dan kehidupan sosial yang tegang, peningkatan ruang hijau seharusnya menjadi prioritas utama. Namun, penduduk ibukota Jakarta dapat menegaskan kembali bahwa hal ini tidak terjadi. Bahwa pada nyatanya kekurangan Taman, tempat Bermain dan taman umum yang mencolok di ibukota. Konsep desain perkotaan berkaitan dengan integrasi penggunaan lahan, pergerakan dan lalu lintas manajemen dan bentuk lingkungan binaan. Tujuannya adalah untuk menyediakan perkotaan berkualitas tinggi tempat-tempat yang efisien, fungsional dan menarik, dan dapat menanggapi kebutuhan perubahan masyarakat, lingkungan dan ekonomi dari waktu ke waktu. Dalam mendisain juga berkontribusi, dan menjembatani antara perencanaan dan perancangan. Ini berhubungan dengan lingkungan sekitar dengan memperhatikan konteks bangunan dan ruang daripada objeknya sendiri. Maka diperlukan akses ke infrastruktur hijau, area ruang terbuka dan ruang hijau, yang akan berkontribusi lebih hijau, lebih sehat, lebih cerdas, lebih aman, lebih hidup, lebih kaya dan lebih adil. Panduan ini akan membantu dalam menilai dan mendemonstrasikan perkembangan dalam meningkatkan infrastruktur hijau untuk menciptakan tempat yang berguna, berkelanjutan dan digunakan dengan baik. Ini membuat masyarakat yang lebih luas, lingkungan alam dan mendukung perekonomian yang sehat.
SARANA REKREASI AIR DI BEKASI SELATAN Karen Rafaela; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6772

Abstract

The rapid development of the population in this current era leads the growing population density. In daily life, we know the terms of  first-place and second-place (the place of work/school). As the era developments, each function of first-place and second-place is often combined and in the end it has no clear separation of functions between the two. From the issue, comes third-place to be an intermediate space between first-place and second-place to host activities that should be done outside of the both places. Bekasi as one of the most populous city in Indonesia has a large potential source such as Irrigation Channels Kalimalang which can be utilized as recreational facilities and also water treatment as an educational platform for the community and utilize existing technology. The method used in this project is the Behavior Setting Method, by observing the behavior patterns of surrounding communities supported by other methods such as mapping the pattern of human movements and the place that is the goal of the movement. With this method, the goals that we hoped is we can create a program that fits the habits of the community. The results obtained are a third-place with the main water recreation program, and supported by supporting program such as food-street, waterfront garden, cultural show, and commercial to suit the needs of the surrounding community. AbstrakPerkembangan penduduk yang pesat di era sekarang ini menyebabkan kepadatan penduduk yang terus meningkat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal istilah first-place (rumah) dan second-place (tempat bekerja/sekolah). Seiring perkembangan jaman, masing-masing fungsi dari first-place dan second-place seringkali menyatu dan pada akhirnya tidak memiliki pemisahan fungsi yang jelas diantara keduanya. Dari permasalahan tersebut, terbentuklah third-place untuk menjadi ruang perantara antara first-place dan second-place untuk mewadahi aktivitas yang seharusnya dilakukan di luar kedua tempat tersebut. Bekasi sebagai salah satu kota terpadat di Indonesia memiliki sumber potensi besar seperti Saluran Irigasi kalimalang yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi dan juga pengolahan air sebagai wadah edukasi bagi masyarakat dan memanfaatkan teknologi yang telah ada. Metode yang dipakai dalam proyek ini adalah Metode Behavior Setting, yakni dengan melakukan pengamatan terhadap pola perilaku masyarakat sekitar yang didukung dengan metode lain seperti melakukan pemetaan terhadap pola pergerakan manusia dan tempat yang menjadi tujuan dari pergerakan tersebut. Dengan metode ini, diharapkan dapat menciptakan program yang sesuai dengan kebiasaan yang ada di masyarakat. Hasil yang diperoleh ialah berupa sebuah third-place dengan program utama rekreasi air, dan didukung oleh program pendukung seperti food-street, waterfront garden, pertunjukkan budaya, dan komersial yang sesuai dengan kebutuhan masayarakat sekitar.
STUDI KELAYAKAN APARTEMEN UNTUK GENERASI MILENIAL DI AREA STASIUN LRT GUNUNG PUTRI KABUPATEN BOGOR Kent Demas Kynan; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.11272

Abstract

Feasibility Study is a study of an investment project to determine whether the project can be said to be feasible and implemented successfully. The Feasibility Study of a 1.6 hectare land in the planned area of the Gunung Putri LRT Station, Bogor Regency, has several unique feasibility study criteria. Its characteristics can be seen from the defined segmentation, such as Millennial Housing and the condition of environment has the potential for pollutants due to Toll Roads and Cement Factories. In this feasibility study, there are three main feasibility studies and one additional feasibility study were carried out. The feasibility is physical & legal feasibility, environmental health feasibility through ADKL analysis (Environmental Health Impact Analysis), market feasibility and investment feasibility. This Feasibility Study produces feasibility in all aspects with recommended requirements in the form of environmental mitigation with tamarind trees, application of the concept of millennial housing, choosing the right sales and construction time to see the conditions of the COVID-19 pandemic and choosing an alternative programming unit in investing. The results of this feasibility study are said to be physically and legally feasible, market and investment by considering the concept of Open Spaces, Green Concept, Integrity with Leisure and Business and Affordable Housing by selling units in the range of Rp. 16,850,000 / m2 plus the implementation of a Green Site. Selection of the 3rd Alternative with sales pursuit for a take up rate of at least 78% as the best alternative with the largest return. Keywords: Apartment; Feasibility Study; Green Site; Investment; Millennial Generations AbstrakStudi Kelayakan adalah suatu kajian mengenai proyek investasi untuk dapat menentukan apakah proyek tersebut dapat dikatakan layak dan dilaksanakan dengan berhasil. Studi Kelayakan lahan seluas 1,6 Ha di area rencana Stasiun LRT Gunung Putri Kabupaten Bogor memiliki beberapa kriteria studi kelayakan yang unik. Karakteristiknya dapat dilihat dari segmentasi yang ditetapkan yaitu Generasi Milenial dan lingkungan berpotensi polutan oleh sebab Jalan Tol dan Pabrik Semen. Pada studi kelayakan ini dilaksanakan tiga kelayakan utama dan satu kelayakan tambahan. Kelayakan tersebut adalah kelayakan fisik & hukum, kelayakan kesehatan lingkungan lewat analisis ADKL (Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan), kelayakan pasar dan kelayakan secara investasi. Studi Kelayakan ini menghasilkan kelayakan diseluruh aspek dengan syarat rekomendasi berupa mitigasi lingkungan dengan pohon trembesi, penerapan konsep hunian milenial, pemilihan waktu penjualan dan waktu konstruksi yang tepat melihat kondisi pandemi COVID-19 serta pemilihan alternatif programming unit dalam berinvestasi. Hasil dari studi kelayakan ini dikatakan layak secara fisik dan legal, pasar dan investasi dengan mempertimbangkan konsep Open Spaces, Green Concept, Integrity with Leisure and Business dan Affordable Housing dengan menjual unit di kisaran Rp. 16.850.000/m2 ditambah dengan penerapan Green Site. Pemilihan Alternatif ke-3 dengan pengejaran penjualan untuk take up rate minimal 78% sebagai alternatif terbaik dengan pengembalian terbesar.
HORISON KEMATIAN – TAMAN PEMAKAMAN UMUM KARET BIVAK Kevin Tobias; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3972

Abstract

Kota Jakarta terus melakukan perluasan area sejak awal terbentuk. Lansekap kota terus mengalami perubahan namun ada yang tidak. Kuburan sebagai artefak kota yang bertahan mengalami stagnansi dan terancam di alihfungsikan jika tidak sesuai lagi dengan rencana tata kota. Meskipun demikian kuburan di kota memiliki peran penting dalam mengingatkan warganya akan kematian sebagai siklus kehidupan manusia, sehingga mereka tidak larut akan rutinitas kesehariannya. Program wisata ditambahkan ke dalam komplek kuburan untuk memberikan makna-makna baru bagi kuburan melalui perjalanan wisata. Makna-makna tersebut merupakan horizon antara kehidupan dengan kematian yang ditemukan oleh wisatawan di kuburan. Kesadaran akan makna-makna ini dapat dicapai melalui pengalaman fenomenologis bagi penggunanya bertujuan untuk menimbulkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial seseorang. Melalui interaksi dengan kematian sebagai tujuan akhir dari kehidupan manusia, kesadaran akan eksistensi diri dapat dihadirkan dan menjadi momen penting bagi seseorang untuk menentukan arah hidupnya. Perjalanan wisata akan bercerita mengenai perjalanan hidup dan sudut pandang seseorang dari lahir, masa kanak-kanak, dewasa, sampai menuju kematian, yang akan disampaikan melalui pengalaman ruang. Diharapkan arsitektur yang dihasilkan mampu untuk menjawab kebutuhan tempat wisata di metropolis di masa depan dan melalui makna-makna yang ditemukan dapat meningkatkan nilai kuburan di dalam kota bagi masyarakat. Kuburan dapat menjadi media bagi masyarakat kota tanpa memandang latar belakang agama apapun untuk memenuhi kebutuhan spiritual setiap individu akan kesadaran eksistensialnya.
CLUB HOUSE REKREASI DAN SENI Vicky Agusta Setiawan; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8584

Abstract

Jakarta City as the capital city of Indonesia is a city with a population of 10.504.100 people (Jakarta Central Agency, 2019) and population density wih an average of 16.704 people/ km2. The population of Jakarta is crowded with various educational, economics, socio-cultural, and diverse backgrounds, making the people of Jakarta living in environment  and daily activities that vary. Every day, the most common things they do are activities at home and at school or workplace. Gradually activities into routines, then people starting to experience “boredom”. One solution to get rid of this “boredom” is required a place where everyone can rest, interact, express and entertain themselves, which  usually in the form of Third Place. Duri Kosambi area consists of three housing whose inhabitants rarely interact with each other. The area was then surveyed as a form of conventional design methods to determine the needs of residents. Third Place that can be built between three different characteristics housing is a Club House with ‘recreation and art’ theme. ‘Recreation’ to get rid of “boredom” and ‘Art’ which is to develop the creativity and special skills of the residents. It’s main programs are painting workshop, dance and music studio. This Club House Recreation and Art aims to create a new meeting point for the three different housing. With the opening of access point for the whole society, it also tries to create new interactions between fellow residents with diverse backgrounds to further develop a sense of brotherhood, mutual respect, sharing ideas and information. Keywords: boredom; club house; housing; recreation and art, third place AbstrakJakarta, ibukota negara Indonesia merupakan kota yang jumlah penduduk mencapai 10.504.100 jiwa (Badan Pusat Statistik Jakarta, 2019) dengan kepadatan penduduk mencapai 16.704 jiwa/km2. Kepadatan penduduk Jakarta  yang beragam pendidikan, sosial ekonomi dan budaya, membuat kota Jakarta hidup di dalam lingkungan dengan ciri khas dan aktivitas keseharian yang berbeda-beda pula. Setiap harinya penduduk Jakarta melakukan berbagai aktivitas, yang paling umum ialah di rumah dan di sekolah atau tempat kerja. Lama-kelamaan aktivitas menjadi sebuah rutinitas. Ketika aktivitas menjadi sebuah rutinitas, manusia pasti mengalami “kejenuhan”. Salah satu solusi untuk menghilangkan “kejenuhan” ini diperlukan sebuah wadah di mana semua golongan masyarakat dapat beristirahat, berinteraksi, berekspresi dan menghibur diri dari rutinitas  mereka hadapi, di mana seringkali wujudnya berupa Third Place. Kawasan Duri Kosambi  terdiri dari tiga perumahan yang penghuninya jarang berinteraksi. Kawasan ini kemudian di survey sebagai bentuk metode perancangan konvensional untuk mengetahui kebutuhan warga. Salah satu Third Place yang dapat muncul di tengah-tengah ke tiga perumahan dengan karakteristik masyarakat yang beragam yaitu sebuah Club House yang lebih bertema ‘rekreasi dan seni’. ‘Rekreasi’ untuk melepas “kejenuhan” dan ‘Seni’ berupa penambahan fasilitas kawasan untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan bagi warga masyarakat setempat. Dengan program utama berupa fasilitas lokakarya melukis, sanggar tari, dan studio musik. Club House Rekreasi dan Seni, diharapkan dapat menjadi titik simpul berkumpul dan beraktivitas bersama bagi setiap warga dari ke tiga perumahan berbeda. Dengan terbukanya akses bagi seluruh masyarakat, maka diharapkan terjadi interaksi antar sesama warga Duri Kosambi dari berbagai kalangan untuk menumbuhkan rasa persaudaraan, saling menghormati, saling berbagi ide dan informasi.

Page 35 of 134 | Total Record : 1332