cover
Contact Name
Sutia Budi
Contact Email
sutia.budi@universitasbosowa.ac.id
Phone
+62411-452901
Journal Mail Official
sri.mulyani@universitasbosowa.ac.id
Editorial Address
Program Pascasarjana Universitas Bosowa Jl.Urip Sumoharjo Km.4, Gedung B Lt. 9, Kampus Universitas Bosowa Makassar 90231 Telp/Fax : (0411)452901-452789/(0411)-424568 Email : ubpostgradjournal@gmail.com Homepage : postgraduate.universitasbosowa.ac.id
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Journal of Aquaculture and Enviroment
Published by Universitas Bosowa
ISSN : 26566508     EISSN : 26851008     DOI : https://doi.org/10.35965/jae.v3i1.267
Journal of Aquaculture and Enviroment  merupakan jurnal ilmiah yang dikelola secara peer review memiliki e-ISSN:  2685-1008 dan p-ISSN: 2656-6508 diterbitkan oleh Postgraduate Bosowa University Publishing.  Terbit dua kali (Juni dan Desember) dalam satu tahun.  Journal of Aquaculture and Enviroment menerbitkan artikel yang pada bidang aquaculture, fisheries biotechnology, feed and fish nutrition, marine microbiology, marine aquaculture, fishery technology, fisheries biology, population dynamics, fisheries sensing, fishing, marine ecology, fish ecology, coastal management, marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology dan oseanografi. Bagi penulis yang memiliki artikel pada bidang ini dapat disesuaikan dengan panduan penulisan dan template kemudian disubmit secara online di website jurnal dengan melakukan registrasi terlebih dahulu.
Articles 100 Documents
POTENSI KANDUNGAN NUTRISI EKSTRAK BIJI LAMUN Enhalus acoroides SEBAGAI SUPLEMEN PAKAN GELONDONGAN IKAN BANDENG Chanos chanos Arif, Awaluddin; Ratnawati, Ratnawati; Umar, Nur Asia
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 1 (2025): Journal of Aquaculture and Enviroment Desember 2025
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i1.7046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan nutrisi pada ekstrak biji lamun (Enhalus acoroides), menganalisis konsentrasi suplemen ekstrak biji lamun (Enhalus acoroides) yang paling efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup, menganalisis kinerja pakan dengan pemberian suplemen ekstrak biji lamun (Enhalus ecoroides) pada gelondongan ikan bandeng (Chanos chanos) berupa efisiensi pakan (Feed Efficiency) dan FCR (Feed Conversion Ratio). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan nutrien ekstrak biji lamun dengan komposisi persentase diatas 50% adalah terbesar adalah Air 72% dan karbohidrat yakni 71%. Kandungan makronutiren ekstrak biji lamun dengan persentase dibawah 20% yakni protein 12%, dan lemak 1%. Ekstrak biji lamun berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan mutlak gelondongan ikan bandeng (Chanos chanos). Pertumbuhan tertinggi terdapat pada perlakuan D (15ml) sebesar 38,20 gram. Ekstrak biji lamun tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, rasio konversi pakan dan survival rate gelondongan ikan bandeng (Chanos chanos). This research aims to analyze the nutritional content of seaweed seed extract (Enhalus acoroides), analyze the most effective concentration of seaweed seed extract (Enhalus acoroides) supplement in improving growth and survival rates, and analyze feed performance with the addition of seaweed seed extract (Enhalus ecoroides) on milkfish (Chanos chanos) in terms of feed efficiency and FCR (Feed Conversion Ratio). The results of this study indicate that the nutrient content of seagrass seed extract with a percentage composition above 50% is highest in water (72%) and carbohydrates (71%). The macronutrient content of seagrass seed extract with a percentage below 20% was protein at 12% and fat at 1%. Seagrass seed extract had a significant effect on the absolute growth of milkfish (Chanos chanos) fingerlings. The highest growth was observed in treatment D (15 ml) at 38.20 grams. Seaweed seed extract does not have a significant effect on the absolute growth, daily growth rate, feed efficiency, feed conversion ratio, and survival rate of milkfish (Chanos chanos) fingerlings.
Pengaruh Berat Bibit Awal Terhadap Dinamika Metabolik Pada Gracilaria Verrucosa Sri Muliani Wahdaningsih; Sri Mulyani; Suryawati Salam
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.6454

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara berat bibit awal dan rasio RNA/DNA pada Gracilaria verrucosa, rumput laut yang bernilai ekonomi tinggi. Dengan menggunakan Desain Acak Lengkap (CRD), empat berat bibit awal yang berbeda (50g, 75g, 100g, dan 125g) diuji, dan rasio RNA/DNA diukur pada akhir periode budidaya selama 49 hari. Hasil menunjukkan bahwa bibit yang lebih ringan (50 g/ikat) memiliki rasio RNA/DNA tertinggi, yang mengindikasikan aktivitas metabolik yang lebih tinggi, sementara bibit yang lebih berat (100 g/ikat dan 125 g/ikat) menunjukkan penurunan rasio RNA/DNA, mengindikasikan penurunan fleksibilitas metabolik. Temuan ini menyoroti pada bibit yang lebih besar, terjadi peralihan alokasi energi beralih menuju pemeliharaan daripada proses metabolik. Variabilitas pada bibit yang lebih berat (125 g/ikat) menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang mendorong perbedaan ini. Penelitian ini berkontribusi pada praktik akuakultur dengan menunjukkan bagaimana berat bibit mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas metabolik. Memahami hubungan ini dapat mengarah pada manajemen bibit yang lebih efisien dan hasil budidaya yang lebih baik. Penelitian lebih lanjut perlu mengeksplorasi interaksi faktor lingkungan dan variasi genetik dengan berat bibit untuk mengoptimalkan strategi budidaya. This research aims to explore the relationship between initial seed weight and RNA/DNA ratio in Gracilaria verrucosa, a seaweed with high economic value. Using a Completely Randomized Design (CRD), four different initial seed weights (50 g, 75 g, 100 g, and 125 g) were tested, and the RNA/DNA ratio was measured at the end of the 49-day cultivation period. The results showed that lighter seedlings (50 g/bundle) had the highest RNA/DNA ratio, indicating higher metabolic activity, while heavier seedlings (100 g/bundle and 125 g/bundle) showed a decrease in the RNA/DNA ratio, indicating a decrease in metabolic flexibility. These findings highlight that in larger fry, there is a shift in energy allocation towards maintenance rather than metabolic processes. The variability in heavier fry (125 g/batch) underscores the necessity for additional research to elucidate the factors influencing these disparities. This research contributes to aquaculture practices by showing how seedling weight affects growth and metabolic activity. Understanding this relationship can lead to more efficient seedling management and better cultivation results. Further research is needed to explore the interaction of environmental factors and genetic variation with seedling weight to optimize cultivation strategies.
PENGARUH SUBSTRAT BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN, KANDUNGAN AGAR, DAN SERAPAN KARBON Gracilaria verrucosa Muliati Sehe; Nur Asia Umar; Sri Mulyani
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.6455

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis substrat berbeda terhadap laju pertumbuhan, kandungan agar, dan serapan karbon rumput laut Gracilaria verrucosa di tambak. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan substrat yaitu pasir (100%), lumpur (100%), dan campuran pasir-lumpur (50:50), masing-masing dengan tiga ulangan. Parameter yang diukur mencakup pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, kandungan agar, dan serapan karbon. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan substrat pasir-lumpur memberikan pertumbuhan tertinggi sebesar 108 g dan laju pertumbuhan spesifik sebesar 2,83% per hari. Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan antar perlakuan terhadap kandungan agar dan serapan karbon (P > 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa substrat campuran lebih efektif meningkatkan pertumbuhan biomassa, tetapi tidak secara signifikan memengaruhi kualitas biokimia. Penelitian ini memberikan dasar penting dalam pengelolaan substrat budidaya rumput laut untuk efisiensi produksi dan kontribusi lingkungan melalui penyerapan karbon. This research aims to analyze the effect of different substrate types on the growth rate, agar content, and carbon uptake of Gracilaria verrucosa seaweed in ponds. The research method used a completely randomized design (CRD) with three substrate treatments, namely sand (100%), mud (100%), and a sand-mud mixture (50:50), each with three replicates. The parameters measured included absolute growth, specific growth rate, agar content, and carbon uptake. The results indicated that the sand-mud substrate treatment provided the highest growth of 108 g and a specific growth rate of 2.83% per day. However, there were no significant differences between treatments in agar content and carbon uptake (P > 0.05). These findings indicate that mixed substrates are more effective in increasing biomass growth but do not significantly affect biochemical quality. This study provides an important basis for the management of seaweed cultivation substrates for production efficiency and environmental contribution through carbon sequestration.
MEDIA PENGISI ORGANIK SEBAGAI SOLUSI TRANSPORTASI KERING UNTUK LOBSTER AIR TAWAR Cherax quadricarinatus Miftahul Jannah R; Hadijah Mahyuddin; Erni Indrawati
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.6775

Abstract

Transportasi sistem kering merupakan metode alternatif yang efisien untuk distribusi lobster air tawar, tetapi memerlukan media pengisi yang mampu menjaga stabilitas fisiologis organisme selama perjalanan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kombinasi media pengisi berupa daun pisang kering, sabut kelapa, dan jerami padi terhadap kelangsungan hidup, penurunan bobot, indeks stres kumulatif (CSI), suhu, dan kelembapan selama transportasi sistem kering lobster air tawar Cherax quadricarinatus. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan kombinasi media pengisi: A (daun pisang kering + jerami padi), B (daun pisang kering + sabut kelapa), dan C (sabut kelapa + jerami padi), masing-masing tiga ulangan. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan B menghasilkan performa terbaik dengan kelangsungan hidup 100%, penurunan bobot terendah (2,74%), dan CSI terendah (77,7). Kondisi suhu dan kelembapan kemasan juga paling stabil, masing-masing 25,8°C dan 99%. Temuan ini mengindikasikan bahwa kombinasi daun pisang kering dan sabut kelapa merupakan media pengisi paling efektif untuk mempertahankan kondisi fisiologis lobster selama transportasi sistem kering. Dry transport systems are an efficient alternative method for distributing freshwater lobsters, but they require a filling medium that can maintain the physiological stability of the organisms during transport. This research aims to evaluate the effectiveness of a combination of filling media consisting of dried banana leaves, coconut husks, and rice straw on survival, weight loss, cumulative stress index (CSI), temperature, and humidity during dry system transportation of freshwater lobsters of the species Cherax quadricarinatus. The study used a completely randomized design (CRD) with three treatments of filling media combinations: A (dried banana leaves + rice straw), B (dried banana leaves + coconut husks), and C (coconut husks + rice straw), each with three replicates. The results showed that treatment B produced the best performance with 100% survival, the lowest weight loss (2.74%), and the lowest CSI (77.7). The packaging conditions maintained the most stable temperature and humidity levels, measuring 25.8°C and 99%, respectively. These findings indicate that the combination of dried banana leaves and coconut husks is the most effective packing material for maintaining the physiological condition of lobsters during dry-system transportation
PENGARUH LAMA PEMELIHARAAN RUMPUT LAUT Euchema cottonii TERHADAP KANDUNGAN KARAGENAN Megawati Megawati; Nur Asia Umar; Erni Indrawati
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.6776

Abstract

Karaginan merupakan polisakarida hidrofilik yang diekstrak dari dinding sel rumput laut merah, terutama Eucheuma cottonii, dan banyak dimanfaatkan sebagai pengental, penstabil, serta pengemulsi pada berbagai industri pangan dan nonpangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan karaginan rumput laut E. cottonii yang dibudidayakan dengan lama pemeliharaan berbeda. Penelitian dilaksanakan pada Maret–Mei 2025 di perairan Kelurahan Akkajeng, Kecamatan Sajoanging. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan lama pemeliharaan (35, 45, dan 55 hari) dan tiga ulangan, sehingga diperoleh 9-unit percobaan. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel serta grafik untuk menggambarkan kecenderungan nilai antarperlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan karaginan meningkat seiring bertambahnya lama pemeliharaan. Nilai tertinggi diperoleh pada umur panen 55 hari (43,96%), diikuti 45 hari (41,36%), sedangkan umur 35 hari menghasilkan kandungan karaginan paling rendah (40,93%). Temuan ini menunjukkan bahwa pemanenan pada usia 55 hari lebih optimal untuk memperoleh rendemen karaginan tertinggi dari E. cottonii.   Carrageenan is a hydrophilic polysaccharide extracted from the cell walls of red seaweed, particularly Eucheuma cottonii, and is widely used as a thickener, stabilizer, and emulsifier in various food and non-food industries. This research aims to analyze the carrageenan content of E. cottonii seaweed cultivated with different cultivation periods. The study was conducted from March to May 2025 in the waters of Akkajeng Village, Sajoanging District. The study design used a completely randomized design (CRD) with three treatment periods (35, 45, and 55 days) and three replicates, resulting in 9 experimental units. The data were analyzed descriptively and presented in tables and graphs to illustrate the trends in values between treatments. The results indicated that the carrageenan content increased with longer cultivation periods. The highest value was obtained at 55 days of harvest (43.96%), followed by 45 days (41.36%), while 35 days resulted in the lowest carrageenan content (40.93%). These findings indicate that harvesting at 55 days is optimal for obtaining the highest carrageenan yield from E. cottonii
ANALISIS ENRICMENT MINYAK CUMI PADA ROTIFER DAN ARTEMIA DENGAN DOSIS BERBEDA PERTUMBUHAN DAN SINTASAN MEGALOPA RAJUNGAN Portunus pelagicus Risymayanti Risymayanti; Sutia Budi; Sri Mulyani
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.6779

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah enganalisis pengaruh pemberian dosis yang berbeda dari enrichment minyak cumi pada Rotifer dan Artemia terhadap pertumbuhan dan sintasan megalopa rajungan. Membandingkan efek dosis minyak cumi yang diperkaya pada Rotifer dan Artemia terhadap pertumbuhan dan sintasan megalopa rajungan. Penelitian ini dilakukan di unit pembenihan Rajungan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar yaitu pada bulan Juni sampai Juli 2025. Analisis knadungan minyak cumi dilakukan di Laboratorium Unhas. Penelitian ini disusun menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap. Berdasarkan hasil yang diperoleh, penelitian menunjukkan bahwa Enricment Artemia dan Rotifer dengan minyak cumi mampu meningkatkan pertumbuhan dan sintasan megalopa rajungan. Dosis 0,6 g/L memberikan hasil terbaik pada seluruh parameter tanpa menimbulkan efek negatif, sedangkan dosis yang terlalu tinggi justru menurunkan efisiensi. Penggunaan minyak cumi tidak menurunkan kualitas air, sehingga aman diterapkan dalam sistem pembenihan rajungan. The purpose of this study was to analyze the effect of different doses of squid oil enrichment on Rotifer and Artemia on the growth and survival of megalopa crabs. Comparing the effects of squid oil enriched doses on Rotifer and Artemia on the growth and survival of megalopa crabs. This study was conducted at the Crab hatchery unit at the Takalar Brackish Water Aquaculture Center from June to July 2025. Analysis of squid oil content was carried out at the Unhas Laboratory. This study was arranged using a Completely Randomized Design. Based on the results obtained, the study showed that Artemia and Rotifer enrichment with squid oil was able to increase the growth and survival of megalopa crabs. A dose of 0.6 g/L gave the best results on all parameters without causing negative effects, while too high a dose actually reduced efficiency. The use of squid oil did not reduce water quality, so it is safe to be applied in the crab hatchery system.
PENGGUNAAN SUMBERDAYA USAHA TAMBAK DALAM PENINGKATAN PRODUKSI TAMBAK IKAN BANDENG Chanos chanos DI DESA MANAKKU KECAMATAN LABAKKANG KABUPATEN PANGKEP Rostiana Andi Abdullah; Suryawati Salam; Nur Asia Umar
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.6825

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas tambak, jumlah benih, pakan, tenaga kerja, dan pupuk terhadap produksi tambak ikan bandeng (Chanos chanos) di Desa Manakku, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep. Metode penelitian menggunakan survei terhadap 75 petani tambak yang dipilih secara acak dari 302 populasi. Data dianalisis menggunakan model regresi linier berganda Cobb-Douglas, uji efisiensi alokasi faktor produksi, dan analisis optimalisasi input. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima variabel input secara simultan berpengaruh signifikan terhadap produksi (F-hitung 13,917 > F-tabel 1,99; R² = 0,815). Secara parsial, benih, pupuk, dan tenaga kerja berpengaruh nyata, sedangkan luas tambak dan pakan tidak signifikan. Produksi rata-rata 148,4 kg/ha/musim belum optimal, dan peningkatan input benih menjadi 1.809,11 kg/ha, pakan 5,535 kg/ha, tenaga kerja 62,96 orang, serta luas tambak 22,17 ha dapat meningkatkan produksi menuju kapasitas optimal. This research aims to analyze the effect of pond area, number of seeds, feed, labor, and fertilizer on milkfish (Chanos chanos) pond production in Manakku Village, Labakkang District, Pangkep Regency. The research method used a survey of 75 pond farmers randomly selected from a population of 302. The data were analyzed using the Cobb-Douglas multiple linear regression model, the efficiency test for allocating production factors, and the input optimization analysis. The results showed that all five input variables simultaneously had a significant effect on production (F-count 13.917 > F-table 1.99; R² = 0.815). Partially, seeds, fertilizer, and labor had a significant effect, while the pond area and feed were not. The average production of 148.4 kg/ha/season is not yet optimal, and increasing seed input to 1,809.11 kg/ha, feed to 5.535 kg/ha, labor to 62.96 people, and pond area to 22.17 ha can increase production toward optimal capacity.
EVALUASI PEMANFAATAN ARANG AKTIF DALAM MEREDUKSI SENYAWA BESI AIR SUMUR BOR Hesbert Siahaya; Hadijah Hadijah; Erni Indrawati
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.7109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas arang aktif yang berasal dari berbagai bahan, yaitu tongkol jagung, tempurung kelapa, dan kayu ketapang, dalam mereduksi senyawa besi (Fe) pada air sumur bor di SMK Negeri 1 Popayato Gorontalo dan analisis sampel air di Laboratorium PT. Parigi Akuakultura Prima site Sijoli. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang kayu Ketapang memiliki presentase penurunan kadar Fe tertinggi sebesar 30%,diikuti arang tongkol jagung 18,89 %, tempurung kelapa 12,34 %, dan Air sumur bor (komtrol) 11,05 %.. Parameter uji pada penelitian ini yaitu laju adsorpsi. Adapun parameter kualitas air yang diamati yaitu, suhu, ph, Do, dan salinitas. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perlakuan arang aktif kayu ketapang paling efektif dengan rata-rata removal 30 %. Diikutu tongkol jagung 18,89 %, tempurung kelapa 12,34 % dan air sumur bor (kontrol) 11,05 % dalam mereduksi senyawa besi pada air sumur bor. This research aims to evaluate the effectiveness of activated charcoal derived from various materials, namely corn cobs, coconut shells, and ketapang wood, in reducing iron (Fe) compounds in borehole water at Vocational High School (SMK) Negeri 1 Popayato Gorontalo and water sample analysis at the PT. Parigi Akuakultura Prima site Sijoli Laboratory. The study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates. The results indicated that Ketapang wood charcoal had the highest percentage of Fe reduction at 30%, followed by corn cob charcoal at 18.89%, coconut shells at 12.34%, and borehole water (control) at 11.05%. The test parameter in this study was the adsorption rate. The water quality parameters observed were temperature, pH, DO, and salinity. The results of the research concluded that Ketapang wood activated charcoal treatment was the most effective, with an average removal rate of 30%. This technique was followed by corn cobs at 18.89%, coconut shells at 12.34%, and borehole water (control) at 11.05% in reducing iron compounds in borehole water.
ANALISIS KESESUAIAN TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANAME Litopenaeus vannamei BERDASARKAN PARAMETER FISIKA-KIMIA PERAIRAN DI DESA BATU BERDAUN KABUPATEN LINGGA Hasnawiya Hasnawiya; Hadijah Mahyuddin; Erni Indrawati
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.7916

Abstract

Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu sektor perikanan budidaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan terus berkembang di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Keberhasilan budidaya udang vaname sangat dipengaruhi oleh kesesuaian kondisi lingkungan perairan, khususnya parameter fisika-kimia yang berperan dalam mendukung pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan produktivitas tambak. Desa Batu Berdaun, Kabupaten Lingga, memiliki potensi pengembangan budidaya udang vaname yang cukup besar, namun informasi mengenai tingkat kesesuaian tambak berdasarkan kualitas perairan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi parameter fisika-kimia perairan serta menentukan tingkat kesesuaian tambak budidaya udang vaname di Desa Batu Berdaun Kabupaten Lingga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2025 dengan menggunakan metode purposive sampling pada tiga stasiun tambak budidaya. Parameter yang diamati meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), amonia, dan nitrit. Analisis data dilakukan menggunakan metode matching dan scoring berdasarkan kriteria kesesuaian budidaya udang vaname yang mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berkisar 30,1–30,2°C, pH 7,9–8,3, salinitas 15,7–20,5‰, DO 6,1–6,5 mg/L, amonia 0 mg/L, dan nitrit 1,73–2,43 mg/L. Nilai indeks kesesuaian pada Stasiun 1 sebesar 79%, Stasiun 2 sebesar 75%, dan Stasiun 3 sebesar 88%. Stasiun 1 dan Stasiun 2 termasuk kategori cukup sesuai (S2), sedangkan Stasiun 3 termasuk kategori sangat sesuai (S1). Faktor pembatas utama yang ditemukan adalah rendahnya kecerahan perairan dan tingginya konsentrasi nitrit pada beberapa stasiun pengamatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar tambak di Desa Batu Berdaun masih layak untuk budidaya udang vaname dengan beberapa upaya pengelolaan kualitas air guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha budidaya..    Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) farming is one of the most important aquaculture sectors with high economic value and significant growth potential in coastal areas of Indonesia. The success of vannamei shrimp culture is strongly influenced by water quality suitability, particularly physicochemical parameters that support growth, survival, and pond productivity. Batu Berdaun Village in Lingga Regency has considerable potential for vannamei shrimp farming development; however, information regarding pond suitability based on water quality characteristics remains limited. This study aimed to analyze the physicochemical conditions of pond waters and determine the suitability level of vannamei shrimp ponds in Batu Berdaun Village, Lingga Regency. The research was conducted from May to July 2025 using purposive sampling at three shrimp pond stations. Observed parameters included temperature, transparency, depth, pH, salinity, dissolved oxygen (DO), ammonia, and nitrite. Data were analyzed using matching and scoring methods based on vannamei shrimp culture suitability criteria referring to the Regulation of the Minister of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia Number 75 of 2016. The results showed that temperature ranged from 30.1–30.2°C, pH from 7.9–8.3, salinity from 15.7–20.5‰, DO from 6.1–6.5 mg/L, ammonia at 0 mg/L, and nitrite from 1.73–2.43 mg/L. The suitability index values were 79% at Station 1, 75% at Station 2, and 88% at Station 3. Stations 1 and 2 were classified as moderately suitable (S2), while Station 3 was classified as highly suitable (S1). The main limiting factors identified were low water transparency and high nitrite concentrations at several observation stations. These findings indicate that most ponds in Batu Berdaun Village are suitable for vannamei shrimp farming, although improvements in water quality management are required to enhance productivity and support sustainable aquaculture development.
PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN BETOK Anabas testudineus Baiturrohmawati Baiturrohmawati; Saifullah Saifullah; Muh. Herjayanto
Journal of Aquaculture and Environment Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Aquaculture and Enviroment Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/jae.v8i2.9088

Abstract

Salah satu tantangan dalam budidaya ikan betok adalah pertumbuhannya yang relatif lambat. Pertumbuhan ikan yang lambat ini salah satunya disebabkan oleh ketersediaan pakan yang belum memadai, baik dari segi komposisi maupun tingkat kecernaan. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan pencernaan pakan salah satunya dengan menggunakan enzim papain. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pangaruh enzim papain yang ditambahkan ke dalam pakan komersial terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan betok (Anabas testudineus), serta untuk menentukan dosis yang berbeda terhadap enzim papain yang optimal pada ikan betok. Penelitian ini dilaksanakan selama 30 hari pada bulan September – Oktober 2025. Tempat pemeliharaan ikan dilakukan di Laboratorium Budidaya Perairan, Program Studi Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Analisis proksimat dilakukan di IPB. Media yang digunakan berupa akuarium dengan ukuran 60 cm × 30 cm × 30 cm (p × l × t) sebanyak 12 buah yang dilengkapi dengan aerator. Ikan uji yang digunakan yaitu ikan betok yang berukuran 6 – 8 cm. dengan kepadatan tebar 10 ekor per akuarium. Perlakuan yang diberikan berupa enzim papain dalam pakan komersial dengan dosis 0%. 2,5%, 5,0% dan 7,5%. Yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Hasil terbaik pada penelitian ini diperoleh pada perlakuan P1 pada pertumbuhan panjang mutlak sebesar 0,80 ± 0,05 cm dan berbeda nyata (p<0,05) dengan semua perlakuan. Perlakuan P1 pada pertumbuhan bobot mutlak juga menujukkan hasil terbaik sebesar 4,3 ± 0,17 g dan berbeda nyata (p<0,05) dengan semua perlakuan, kelangsung hidup seluruh perlakuan menunjukkan nilai 100%. Perlakuan P1 pada rasio konversi pakan juga menunjukkan hasil terbaik sebesar 6,46 ± 0,39%, dan berbeda nyata (p<0,05) dengan perlakuan P0 dan P3. Perlakuan P1 pada effisiensi pakan juga menunjukkan hasil terbaik sebesar 0,16 ± 0,01% dan berbeda nyata (p<0,05) dengan semua perlakuan. One of the challenges in cultivating climbing perch is its relatively slow growth. This slow growth is partly due to inadequate feed availability, both in terms of composition and digestibility. Therefore, it is necessary to improve feed digestion, one of which is by using the papain enzyme. This study aims to determine the effect of papain enzyme added to commercial feed on the growth and survival of climbing perch (Anabas testudineus), as well as to determine different doses of papain enzyme that are optimal in climbing perch. This study was conducted for 30 days in September - October 2025. The fish were reared at the Aquaculture Laboratory, Fisheries Science Study Program, Faculty of Agriculture, Sultan Ageng Tirtayasa University. Proximate analysis was conducted at IPB. The media used were 12 aquariums measuring 60 cm × 30 cm × 30 cm (p × l × h) equipped with an aerator. The test fish used were climbing perch measuring 6 - 8 cm, with a stocking density of 10 per aquarium. The treatments given were papain enzymes in commercial feed at doses of 0%, 2.5%, 5.0%, and 7.5%. Consisting of four treatments and three replications. The best results in this study were obtained in treatment P1 with an absolute length growth of 0.80 ± 0.05 cm and were significantly different (p <0.05) from all treatments. Treatment P1 also showed the best results in absolute weight growth of 4.3 ± 0.17 g and were significantly different (p <0.05) from all treatments, with survival of all treatments showing a value of 100%. Treatment P1 also showed the best results in feed conversion ratio of 6.46 ± 0.39%, and was significantly different (p <0.05) from treatments P0 and P3. Treatment P1 also showed the best results in feed efficiency of 0.16 ± 0.01% and was significantly different (p <0.05) from all treatments.  

Page 10 of 10 | Total Record : 100