cover
Contact Name
Diena Juliana
Contact Email
knj@ejournalyarsi.ac.id
Phone
+6281225795630
Journal Mail Official
knj@ejournalyarsi.ac.id
Editorial Address
Jl. Panglima Aim No.1, Dalam Bugis, Kec. Pontianak Tim., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78232
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Khatulistiwa Nursing Journal
ISSN : 2655772X     EISSN : 27983897     DOI : 10.53399
Core Subject : Health,
Khatulistiwa Nursing Journal is a peer-reviewed Indonesian journal dedicated to all nursing areas published by The School of Nursing and Graduate School of Nursing at STIKES Yarsi Pontianak. The aim of this journal is to contribute to the growing field of nursing practice and provide a platform for researchers, physicians and healthcare professionals. This journal presents contemporary research on the issue such as basic research in nursing, management nursing, emergency and critical nursing, medical surgical nursing, mental health nursing, maternity nursing, pediatric nursing, gerontological nursing, community nursing and family nursing education nursing. Khatulistiwa nursing journal welcomes original research publications that employ the quantitative, qualitative, or mixed-method approach as well as scholarly works on advanced practice nursing. The target audiences of this journal are nursing students' managers, senior members of the nursing professions, practicing nurses, nurse educators, and researchers at all levels who are committed to advancing practice and professional growth on the basis of fresh information and evidence.
Articles 127 Documents
PERSEPSI KUALITAS PELAYANAN PADA PASIEN LSL POSITIVE HIV/AIDS, DI KOTA MEDAN Tukiman; R Kintoko Rochadi; Syarifah
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.343

Abstract

Info Artikel ABSTRAK Received month 06, 2025 Revised month 00, 9999 Accepted month 00, 999 Latar Belakang: Kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) merupakan populasi kunci dalam epidemi HIV di Indonesia, namun masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses layanan kesehatan, termasuk stigma, kurangnya privasi, serta keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi LSL yang hidup dengan HIV terhadap kualitas layanan kesehatan di Puskesmas Kota Medan serta mengidentifikasi faktor yang mendukung dan menghambat pemanfaatan layanan tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 21 LSL positif HIV dan empat petugas program VCT di Puskesmas Helvetia, Padang Bulan, Teladan, dan Medan Deli. Data dianalisis secara tematik melalui proses koding manual untuk mengidentifikasi pola dan tema utama. Hasil: Layanan seperti edukasi, pendampingan, konseling, dan penjangkauan dinilai bermanfaat, terutama berkat kerja sama dengan LSM Medan Plus, Galatea, dan PKBI. Namun, hambatan seperti kurangnya privasi saat pendaftaran dan pengambilan obat, serta kekhawatiran bertemu orang yang dikenal masih dirasakan. Hubungan yang positif dengan petugas kesehatan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kenyamanan dan kepercayaan pasien. Kesimpulan: Meskipun layanan kesehatan bagi LSL HIV positif di Kota Medan telah berjalan cukup baik, perbaikan masih diperlukan terutama dalam aspek privasi, kenyamanan, dan pelibatan aktif komunitas LSL dalam sistem layanan, guna meningkatkan akses, kepatuhan, dan kualitas hidup mereka secara berkelanjutan.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi Pasien Kemoterapi Di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Maryati A. Barimbing; Fepyani T. Feoh; Maria M. Bayo
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.329

Abstract

Latar Belakang: Kemoterapi merupakan penanganan preparate antineoplastic sebagai upaya untuk membunuh sel-sel tumor dengan mengganggu fungsi dan reproduksi seluler. Rangkaian program kemoterapi yang berkelanjutan dapat menimbulkan berbagai efek samping fisik dan psikologis pada pasien. Hal tersebut menyebabkan banyak pasien kemoterapi yang tidak bertahan mengikuti siklus kemoterapi atau dapat dikatakan memiliki resiliensi rendah. Salah satu yang membuat pasien kemoterapi bertahan adalah dukungan keluarga. Dilihat dari efek samping kemoterapi yang begitu banyak dan prosesnya yang panjang, maka perlu adanya dukungan keluarga agar pasien tersebut memiliki resiliensi yang tinggi untuk bertahan dan mampu melewati segala proses kemoterapi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Metode: . Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan desain korelasi dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 82 responden serta pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil: Hasil analisa data menggunakan uji statistik Spearman-Rho didapatkan p value=0,001 dan r=0,375 artinya ada hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi pasien kemoterapi, dengan kekuatan hubungan sedang dan arah positif artinya semakin baik dukungan keluarga maka semakin tinggi resiliensi pasien kemoterapi. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan resiliensi pasien kemoterapi di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Gambaran Mean Arterial Pressure (MAP) pada Pasien Sectio Caesarea dengan Spinal Anestesi di RSUD Dr. Soedirman Kebumen. Mualief Ainun Fissilmy; Septian Mixrova Sebayang; Arlyana Hikmanti
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.336

Abstract

Latar Belakang: Sectio caesarea adalah operasi bedah yang memfasilitasi pembuatan sayatan di rahim dan dinding perut untuk menciptakan janin, plasenta, dan cairan amnion. Pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolik dapat digunakan untuk mendeteksi hipertensi. Parameter Mean Arterial Pressure (MAP), yang mengukur rata-rata tekanan arteri yang mempengaruhi aliran darah ke tubuh selama episode jantung, biasanya digunakan untuk menentukan keberadaan hipertensi pada kasus dengan parestesia spinal. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuii gambaran nilai Mean Arterial Pressure (MAP) pada pasien yang menjalani operasi Sectio Caesarea dengan menggunakan teknik anestesi spinal. Metode: Metode yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan pendekatan crosssectional. Sampel penelitian terdiri dari 80 pasien yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada usia 20–35 tahun, memiliki indeks massa tubuh normal, dan tidak memiliki riwayat penyakit. Sebelum anestesi spinal, sebagian besar pasien memiliki nilai MAP normal. Setelah anestesi spinal, pada menit ke-1, ke-2, dan ke-3, mayoritas pasien mengalami MAP dalam kategori optimal. Penurunan MAP disebabkan oleh efek anestesi spinal yang memengaruhi tonus vaskuler. Kesimpulan: Terdapat perubahan nilai MAP pada pasien yang menjalani anestesi spinal yang sedang melakukan operasi section caesarea. Sebelum anestesi, nilai MAP sebagian besar berada dalam rentang normal. Namun, setelah penerapan anestesi spinal, mayoritas pasien menunjukkan nilai MAP yang optimal.
Implementasi Komunikasi Terapeutik Antara Perawat Dan Pasien Di Ruang Rawat Inap Sri Sudarsih; Windu Santoso; Muhammad Hafidh Taqiuddin
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.337

Abstract

Background: Therapeutic communication is a very important element in nursing. Effective therapeutic communication is essential to foster trust and understanding between nurses and patients, which significantly improves patient care outcomes. Therapeutic communication skills are necessary for an effective therapeutic relationship. Objective: The objective of this research was to determine the implementation of therapeutic communication between nurses and patients. Method: The study is a descriptive study. The sample in the study were patients in the inpatient room, who were taken using purposive sampling techniques and in accordance with the researcher's criteria. Data collection used a Global Interprofessional Therapeutic Communication Scale (GITCS) instrument. Result: The results of the study showed that most of the nurses' therapeutic communication was in the good category. Conclusion: Most of the nurses' therapeutic communication is in the good category which is supported by 5 indicators, most of which are in the good category.
Gambaran Emergence Agitation pada Pasien Pasca Bedah Otolaryngology Dengan General Anestesi Di RSU Siaga Medika Purbalingga Alifika Julianinta Sudarmono; Magenda Bisma Yudha; Wasis Eko Kurniawan
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.339

Abstract

Latar Belakang: Emergence agitation (EA) adalah kondisi kebingungan dan kegelisahan akut pada fase pemulihan pasca anestesi yang ditandai dengan respon motorik yang berlebihan tanpa tujuan dan sering kali tidak disertai kesadaran penuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian emergence agitation pada pasien pasca bedah otolaryngology dengan general anestesi di recovery room RSU Siaga Medika Purbalingga. Metode Penelitian ini menerapkan pendekatan non-eksperimental dengan rancangan potong lintang (cross sectional). Sampel dipilih menggunakan teknik accidental sampling, melibatkan 32 responden yang merupakan pasien pasca operasi otolaringologi dengan anestesi umum. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat. Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh sejumlah 11 responden (31.4%) mengalami kejadian EA. Hasil Sebanyak 7 responden (21.9%) dengan rentang usia 1–5 tahun mengalami EA. yang mengalami EA, berdasarkan jenis kelamin laki-laki sejumlah 7 responden (21.9%) yang mengalami EA, berdasarkan jenis pembedahan otolaryngology pembedahan faryngology/laryngology sejumlah 9 responden (28.1%), berdasarkan teknik anestesi keseluruhan 32 responden diberikan anestesi dengan teknik balanced anesthesia. Kesimpulan: kejadian EA lebih sering terjadi pada anak laki-laki usia pra sekolah yang menjalani pembedahan Otolaryngology.
Waktu Pulih Sadar Pasien Pasca General Anestesi Nabila Nada Fauziyyah; Tophan Heri Wibowo; Septian Mixrova Sebayang
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.341

Abstract

Background: Recovery of consciousness is an important indicator of successful outcomes following general anesthesia. Delays in regaining consciousness may lead to complications such as airway obstruction and neurological disorders. Objective: To determine the duration of consciousness recovery in patients after general anesthesia at RSUD Dr. Soedirman Kebumen. Method: A descriptive quantitative study with a cross-sectional design involving 60 patients selected through consecutive sampling. The instrument used was an observation sheet based on the Aldrete Score. Data were analyzed using a univariate approach and presented through frequency distribution and descriptive statistics. Result: The majority of respondents were adults (74.2%), female (53.2%), and had an ASA physical status of II (77.4%). The average recovery time was 11.43 minutes, ranging from 6 to 23 minutes. Conclusion: Most patients regained consciousness within a normal time range following general anesthesia.
Kesejahteraan Psikologis sebagai Prediktor Kontrol Glikemik pada Diabetes Melitus Tipe 2 Gloria Elisabet Sjawal; Juwita Moreen Toar; Septriani Renteng
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.346

Abstract

Latar Belakang: Kontrol glikemik yang baik penting untuk mencegah komplikasi dan menurunkan angka kematian akibat diabetes. Pencapaian kontrol glikemik ini tidak hanya bergantung pada aspek medis, tetapi juga pada faktor psikologis. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kesejahteraan psikologis dengan kontrol glikemik pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Desain penelitian menggunakan studi cross-sectional. Penelitian dilakukan di Klinik Imanuel Manado. Sebanyak 87 sampel pasien diabetes melitus tipe 2 dipilih secara purposive dengan kriteria inklusi penelitian ini yaitu pasien diabetes melitus tipe 2 yang berusia 30 tahun keatas, pasien yang terdiagnosis diabetes melitus tipe 2 lebih dari 1 tahun, dan melakukan pemeriksaan kadar HbA1c selama 3 bulan terakhir. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian yang terdiri dari kuesioner Ryff’s Scale of Psychological Well-Being (SPWB) yang diadaptasi oleh peneliti sebelumnya. Hasil: Hasil uji statistik dengan korelasi Spearman rhoo menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesejahteraan psikologis dengan kontrol glikemik pada pasien DM Tipe 2 dengan kekuatan hubungan (r = -.753) dengan nilai p = 0,038 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kesejahteraan psikologis dan kontrol glikemik pada pasien DM tipe 2, dengan korelasi negatif yang kuat.
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS Sentra Medika Cikarang Nanun Fazriyani; Salsa Bhatary Amadhea; Riska Subhianti Putri; Mila Sartika
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.348

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen. Terapi utama yang dijalani oleh pasien gagal ginjal kronik (GGK) adalah hemodialisis, namun prosedur ini berpotensi memengaruhi kualitas hidup mereka. Peran aktivitas fisik cukup signifikan dalam menunjang peningkatan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis. Sayangnya, tidak sedikit di antara mereka yang menghadapi hambatan fisik dan mengalami kelelahan, yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya tingkat aktivitas fisik yang dilakukan. Tujuan: Hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisis di RS Sentra Medika Cikarang dianalisis dalam penelitian ini. Metode: Dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional, penelitian ini melibatkan 65 partisipan yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Pengisian kuesioner IPAQ dan KDQOL dilakukan oleh responden untuk mengukur variabel yang diteliti. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji chi-square guna mengungkap hubungan antara aktivitas fisik dan kualitas hidup. Hasil: Sebagian besar partisipan dalam penelitian ini menunjukkan tingkat aktivitas fisik yang tergolong ringan hingga sedang. Hasil analisis statistik mengungkapkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat aktivitas fisik dan kualitas hidup pasien, dengan nilai signifikansi p = 0,000. Kualitas hidup yang lebih baik cenderung dimiliki oleh pasien yang melakukan aktivitas fisik dalam intensitas yang lebih tinggi. Kesimpulan: Kualitas hidup pasien hemodialisis dapat ditingkatkan melalui peran signifikan dari aktivitas fisik. Oleh sebab itu, upaya edukatif dan bentuk intervensi perlu diberikan kepada pasien agar mereka termotivasi untuk lebih aktif secara fisik demi mendukung kesejahteraan yang lebih optimal.
Motivasi Lansia Tentang Penerapan Pola Hidup Sehat Di Posyandu Lansia Desa Sumberbendo Kabupaten Kediri Sutiyah Heni; Diana Nur Indah Sari
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 6 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v6i1.239

Abstract

Latar Belakang: Lanjut usia mengalami penurunan fisik yang menyebabkan lansia rentan terkena gangguan kesehatan. Namun demikian, masih banyak lansia yang tidak menjaga kesehatannya. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebabnya adalah kurangnya motivasi lansia dalam menerapkan pola hidup sehat. Penerapan pola hidup sehat dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit dengan pola hidup sehat merupakan upaya untuk menerapkan kebiasaan dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindari kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Tujuan: untuk mengetahui bagaimana motivasi lansia tentang penerapan pola hidup sehat di Desa Sumberbendo Kabupaten Kediri. Metode: Desain penelitian deskriptif, populasi 2327 responden dan sampel 59 responden, dengan teknik Accidental Sampling. Instrumen dengan kuesioner. Penelitian pada tanggal 21 - 30 Maret 2023 dengan variabel motivasi lansia tentang penerapan pola hidup sehat, data dianalisa dengan persentase, diinterpretasi secara kuantitatif. Hasil: Sebagian besar dari responden memiliki motivasi kuat (68%) dan hampir setengah dari responden memiliki motivasi sedang (32%). Motivasi lansia tentang penerapan pola hidup sehat dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, usia, tinggal bersama siapa dan informasi. Kesimpulan: Diharapkan lansia aktif mengikuti posyandu lansia dan mencari informasi terkait penerapan pola hidup sehat untuk meningkatkan motivasi lansia dalam menerapkan pola hidup sehat.
Aspek Spiritual Pada Pasien Dengan Penyakit Kronis Di Rumah Sakit Amelia Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Vela Purnamasari; Fitri Indah Kartini
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 6 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v6i1.245

Abstract

Latar Belakang: Spiritualitas berkaitan dengan konsep yang luas dengan berbagai dimensi dan perspektif yang ditandai adanya perasaan keterikatan (koneksitas) kepada sesuatu yang lebih besar dari diri kita, yang disertai dengan usaha pencarian makna dalam hidup atau dapat dijelaskan sebagai pengalaman yang bersifat universal dan menyentuh. Aspek spiritual di identifikasi sebagai sumber yang penting untuk seseorang, yang mana dengan spiritual tersebut dapat membantu seseorang mengatasi berbagai distress disaat mengalami dan menderita sakit. Saat seseorang terdiagnosa mengalami penyakit kronis, seringkali mengalami perubahan dalam hidupnya seperti perubahan perilaku, perubahan sosial, perubahan psikologis serta distress spiritual. Perubahan tersebut dapat menjadi beban atau tekanan mental yang disebut dengan stresor psikologi bagi penderita penyakit kronis. Pada kondisi seperti penyakit kronis memerlukan banyak dukungan, dari orang terdekat salah satunya dukungan pada aspek spiritual. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Aspek Spiritual pada pasien penyakit kronis di RS Amelia Pare. Metode: Desain penelitian menggunakan deskriptif, populasi penelitian 87 responden, besar sampel 26 responden, Teknik purposive sampling, variabel penelitian yaitu aspek spiritual pada pasien dengan penyakit kronis, instrument penelitian kuesioner SAS (Spiritual Assesment Scale), terdiri atas 21 item pertanyaan yang meliputi keyakinan pribadi, praktik keagamaan serta kepuasan spiritual. Analisa data menggunakan mean dan diinterpretasikan secara kuantitatif. Hasil: Hasil penelitian didapatkan dari 26 responden sebagian besar responden memiliki aspek spiritual terpenuhi dan hampir setengah responden memiliki aspek spiritual tidak terpenuhi. Kesimpulan: Sebagian besar responden didapatkan hasil aspek spiritual yang terpenuhi.

Page 6 of 13 | Total Record : 127