cover
Contact Name
Junio Richson Sirait
Contact Email
juniorichson1995@gmail.com
Phone
+6285842776956
Journal Mail Official
juniorichson1995@gmail.com
Editorial Address
Weron Umbulharjo, Cangkringan Sleman, Yogyakarta.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Teologi (JUTEOLOG)
ISSN : 27749355     EISSN : 27754006     DOI : https://doi.org/10.52489/juteolog.v2i1
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) is a double-blind reviewer and open access peer-reviewed journal that focuses on the novelty of theology, biblical exegesis, and Christian service and education practices through quantitative research, and qualitative research (hermeneutics, argumentative, and case studies). This journal publishes original articles, reviews, and also new case reports. Journal Subject: 1. Development of theology and religion 2. Bible Interpretation 3. Biblical Study 4. Educational Science Research 5. Christian Education Research 6. Christian Ethics 7. Pastoral Practice 8. Old Testament and Old Testament Hermeneutics
Articles 83 Documents
Eksplanasi dan Konfirmasi Hidup Taat kepada Perintah Tuhan Berdasarkan Ulangan 10:12–22 bagi Pemuda dan Remaja Oikumene di Desa Tumbang Bai Andri Andri; Sri Wahyuni; Heni Periati Mendrofa
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.279

Abstract

Hidup taat pada perintah Tuhan merupakan respons iman umat kepada kasih dan keagungan-Nya. Berdasarkan Ulangan 10:12–22, Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa yang dikehendaki Allah adalah rasa takut, kasih, dan ketaatan yang tulus. Penelitian ini menelaah aspek eksplanatori dan konfirmatori ketaatan pemuda remaja Oikumene di Desa Tumbang Bai, Seruyan Tengah, Kalimantan Tengah. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan angket skala Likert. Data diolah melalui SPSS 25 dengan uji validitas, reliabilitas, normalitas, interval kepercayaan, regresi, dan anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfirmasi hidup taat berada pada kategori “tinggi,” dengan nilai 133,04056–136,55203. Dimensi dominan adalah “hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan,” dengan kontribusi sebesar 91%. Temuan ini memperlihatkan bahwa meskipun pemuda menunjukkan konfirmasi yang kuat, praktik ketaatan mereka dipengaruhi oleh tantangan kontekstual seperti kesibukan pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas sosial. Kajian ini memberikan kontribusi bagi teologi pemuda serta implikasi praktis bagi gereja untuk memperkuat pembinaan rohani remaja.
Doktrin Trinitas dalam Perspektif Biblika dan Patristik: Relevansinya bagi Gereja Masa Kini Yanvantius Tulai
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.280

Abstract

Doktrin Trinitas merupakan pilar utama dalam teologi Kristen yang menyatakan bahwa Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah dasar biblika dari doktrin ini sebagaimana tercermin dalam teks-teks Perjanjian Baru serta menelusuri perkembangan dan artikulasinya dalam pemikiran para Bapa Gereja (Patristik). Dengan pendekatan kualitatif dan studi literatur historis-teologis, artikel ini mengkaji bagaimana Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M) memformulasikan pengakuan iman Trinitaris sebagai respons terhadap ajaran sesat seperti Arianisme. Selanjutnya, tulisan ini menyoroti relevansi doktrin Trinitas dalam konteks gereja masa kini, termasuk implikasinya terhadap penyembahan, kehidupan jemaat, relasi interpersonal, dan misi gereja di tengah pluralitas dunia modern. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman yang benar terhadap Allah Tritunggal tidak hanya mempertahankan kemurnian iman Kristen, tetapi juga membentuk spiritualitas dan pelayanan gereja yang berpusat pada kasih, persekutuan, dan pengutusan.
Eksplanatori dan Konfirmatori Hidup Kudus Berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 Bagi Remaja Di GPdI Mahanaim Rembang Jawa Tengah Trilien Telaumbanua; Matius I Totok Dwikoryanto; Heni Periati Mendrofa
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.283

Abstract

Hidup kudus merupakan panggilan bagi orang percaya sebagai respons terhadap karya keselamatan dari Allah di dalam Yesus Kristus. Kekudusan bukan hanya dimaknai sebagai kondisi moral yang terpisah dari dosa, tetapi sebagai perwujudan nyata dari transformasi hidup yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Gereja merupakan salah satu wadah untuk mendidik remaja. Tujuan dasar mendidik remaja adalah supaya mereka dibekali pemahaman dasar tentang kekudusan sehingga hidup bisa menjadi berkat bagi orang lain. Gereja akan dikatakan bertumbuh ketika memiliki remaja yang hidup dalam kekudusan. Berkaitan dengan ajaran tersebut masih ditemukan remaja yang tidak pergi beribadah, berkata kotor, yang membuat terhambatnya pertumbuhan remaja hidup kudus. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan pengajaran rasul Petrus berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 belum dikerjakan secara maksimal. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat dan dimensi mana yang paling dominan menentukan terkonfirmasinya hidup kudus berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 bagi remaja GPdI Mahanaim Rembang, Jawa Tengah. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah kuantitatif., data diperoleh dari observasi dan kuesioner yang dibagikan.  Hasil menunjukan bahwa tingkat Konfirmasi Hidup Kudus Berdasarkan 1 Petrus 1: 13-25 Bagi Remaja di GPdI Mahanaim Rembang Jawa Tengah pada kategori Tinggi dan dimensi yang Dominan Menentukan Konfirmasi Hidup Kudus Berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 Bagi Remaja di GPdI Mahanaim Rembang Jawa Tengah adalah D1 Hidup sebagai anak-anak Allah.
Eksplanatori dan Konfirmatori Menghadap Allah Berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat Okto Sinariyo; Ari Suksmono Hertanto; Hendrikus Hendrikus
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.286

Abstract

Penelitian ini bermula dari persoalan menurunnya kesadaran spiritual kaum bapak dalam menghayati makna ibadah sebagai hubungan pribadi dengan Allah. Banyak di antara mereka terjebak dalam rutinitas keagamaan yang bersifat seremonial, sehingga ibadah kehilangan dimensi transformatifnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui tingkat konfirmasi, dimensi yang dominan dalam menentukan konfirmasi hidup dalam beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat. Hasil pengujian hipotesis pertama dilakukan dengan rumus Confidence Interval pada taraf signifikansi 5% diperoleh 130,9871–135,4129. Angka lower bound dan upper bound tersebut berada pada kategori interval sedang sehingga dapat disimpulkan bahwa Konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat ada pada kategori “sedang“. Kedua, dari tabel rekapitulasi regresi linier setiap dimensi exogenous variabel dengan endogenous variable (Y) di atas diketahui bahwa kontribusi terbesar didapatkan dari dimensi D1 Menghadap Allah dengan nilai koefisien korelasi 0,937 dan koefisien determinasi 0,878 atau kontribusi sebesar 87,8% dalam membentuk Konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat (Y). Untuk D2 memiliki konstribusi sebesar 80,2%. Hipotesis pertama menunjukkan bahwa tingkat Konfirmatori kategori Sedang, dan yang diajukan ada pada kategori sedang. Hasil pengujian terhadap hipotesis kedua menunjukkan bahwa dimensi yang dominan menentukan konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat adalah Menghadap Allah.
Jesus as the Messiah: A Biblical Theology Perspective Tonny Andrian Stefanus; Muner Daliman
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.300

Abstract

This study presents a biblical-theological exploration of Jesus as the Messiah by examining key New Testament passages that reveal His identity, mission, and redemptive authority. The purpose of the research is to clarify how the Gospel of Matthew integrates faith, salvation, and healing within the ministry of Jesus, while also demonstrating the continuity between Old Testament covenant promises and their fulfillment in Christ. Using a qualitative biblical-theology method, the study conducts textual analysis, canonical tracing, thematic synthesis, and comparative evaluation of selected passages from the Gospels and Acts.The findings affirm that Scripture consistently portrays Jesus as the promised Messiah and the divine Son of Man who possesses authority to forgive sins and bring holistic restoration. Faith in Christ is shown to be the foundation for both salvation and healing, revealing the unity of God’s redemptive work. The study concludes that recognizing Jesus as the Messiah is essential for understanding the fullness of God’s saving activity. This research contributes to theological scholarship by offering an integrated perspective that connects Christ’s healing ministry, covenant fulfillment, and salvific mission within the broader canonical narrative.
Analisis Teologis Tiupan Sangkakala Keluaran 19:16 dalam Liturgi Gereja Pentakosta Kontemporer di Indonesia Kasmer Hutagalung; Kornelius Rulli Jonathans; Andreas Eko Nugroho
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.303

Abstract

Maraknya penggunaan shofar (terompet) dalam ibadah Pentakosta kontemporer memunculkan kebutuhan untuk menelaah kembali landasan-landasan alkitabiah, teologis, dan liturgisnya. Di satu sisi, simbol ini diyakini memancarkan dimensi profetis yang memperkaya pengalaman ibadah; di sisi lain, simbol ini berpotensi menimbulkan penyimpangan seperti ritualisme, legalisme simbolis, dan bentuk-bentuk sinkretisme yang belum teruji. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan evaluasi akademis mengenai makna dan fungsi shofar, khususnya dalam konteks Keluaran 19:16 sebagai teks sentral mengenai teofani dan kehadiran Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi teologis shofar dalam konteks teofani Sinai serta menganalisis implikasinya bagi praktik liturgi Pentakosta kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologis kualitatif, yang menggabungkan analisis teks Alkitab, tinjauan pustaka, interpretasi liturgi, dan wawancara terbatas dengan para praktisi yang menggunakan shofar dalam ibadah. Temuan-temuan ini menunjukkan tiga dimensi utama dalam Keluaran 19:16: teofani, sebagai tanda kehadiran Allah yang tak terkendali; perjanjian, sebagai panggilan menuju kekudusan; dan eklesiologis, sebagai unsur pembentuk yang membentuk respons spiritual jemaat. Dalam praktik Pentakosta kontemporer, shofar berfungsi sebagai simbol profetik tanpa memiliki kekuatan magis atau mistis apa pun secara intrinsik. Oleh karena itu, penggunaan shofar dapat memperkaya liturgi Pentakosta jika didasarkan pada pemahaman teologis yang kokoh dan dilindungi dari penyalahgunaan simbolis. Studi ini merekomendasikan pengembangan pedoman liturgi yang berakar pada hermeneutika teofanik, serta peningkatan pendidikan liturgi bagi para pelayan ibadah.
Pengaruh Pengajaran Rasul Paulus Tentang Nasehat Untuk Menjadi Teladan Berdasarkan Surat 1 Timotius 4:1-16 Terhadap Pembaharuan Perilaku Peserta Didik Di SMK Swasta Se-Kabupaten Sragen Hanang Tri Yanuri; Hana Suparti; Ana Lestari Uriptiningsih
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.304

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengajaran Rasul Paulus berdasarkan 1 Timotius 4:1–16 terhadap pembaharuan perilaku peserta didik di SMK Swasta se-Kabupaten Sragen. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis statistik inferensial melalui uji t, korelasi, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis diterima. Pertama, pengajaran Rasul Paulus tentang nasihat untuk menjadi teladan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembaharuan perilaku peserta didik dengan koefisien korelasi sebesar 0,842 dan kontribusi pengaruh sebesar 71%. Kedua, nasihat untuk hidup dalam iman berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,787 dan kontribusi sebesar 61,9%. Ketiga, nasihat untuk hidup dalam pengajaran yang sehat juga memberikan pengaruh positif dan signifikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,807 dan kontribusi sebesar 65,1%. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pengajaran Rasul Paulus memiliki peran penting dalam membentuk pembaharuan perilaku peserta didik secara signifikan.
OTORITAS: Makna, Tantangan, dan Relevansinya dalam Pembinaan Karakter Mahasiswa Angkatan 2024–2025 Di STTIAA Dwi Lestari Ningsih; Vinuz Zai
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.319

Abstract

Otoritas merupakan konsep krusial namun problematis dalam konteks pendidikan tinggi teologi di Indonesia, khususnya dengan hadirnya mahasiswa angkatan 2024–2025 yang termasuk dalam Generasi Z digital dan bersikap kritis terhadap hierarki tradisional. Artikel ini bertujuan mengkaji makna, tantangan, dan relevansi otoritas dalam pembinaan karakter mahasiswa STTIAA. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif, penelitian ini mengintegrasikan perspektif teologi, epistemologi personal Michael Polanyi, serta analisis kritis terhadap dinamika sosio-kultural dan kebijakan pendidikan tinggi Indonesia. Melalui penelusuran akar konseptual auctoritas (yang menumbuhkan) dan exousia (kewenangan delegasi), artikel ini berargumen bahwa otoritas yang relevan bukanlah dominasi struktural, melainkan otoritas yang menumbuhkan, melayani, dan membentuk kebebasan yang bertanggung jawab. Bagi Generasi Z, otoritas dosen perlu diredefinisi sebagai otoritas dialogis, kuratorial, dan epistemik yang memandu pencarian kebenaran secara bijaksana. Refleksi diperkaya dengan pemikiran tokoh Indonesia seperti Magnis-Suseno, Darmaputera, dan Kristanto, serta data terkini tentang Generasi Z. Disimpulkan bahwa pemahaman otoritas yang alkitabiah (berdasarkan narasi Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan) dan responsif konteks mampu membentuk karakter mahasiswa yang integratif altruis, tangguh, dan misioner sesuai visi STTIAA. Rekomendasi praktis difokuskan pada pengembangan model kepemimpinan dosen, kurikulum partisipatif, dan penguatan komunitas akademik-spiritual.
An Intergenerational Model of Inclusive Leadership in the Contemporary Church Ana Budi Kristiani; Vian Klasia Wenno
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v7i1.320

Abstract

The phenomenon of generational gaps within the church has emerged as a critical issue affecting leadership sustainability, particularly in Presbyterian traditions that tend to function in a monogenerational pattern. Empirical studies indicate that the dominance of senior generations within church governance structures has contributed to the marginalization of younger members, resulting in decreased participation in ministry and, in some cases, church disengagement. Survey data from Bilangan Research Center (2018) and a report from the Indonesian Ministry of Religious Affairs (2019) reveal that more than half of Christian youth in Indonesia perceive church programs and leadership patterns as increasingly irrelevant to their context.This article aims to examine the causes, impacts, and potential solutions to generational disparities in the church by proposing an intergenerational model of inclusive leadership. Employing a qualitative descriptive approach based on literature review, the study finds that generational gaps are shaped by differences in values, communication styles, leadership expectations, and perspectives on social issues. These differences have led to youth alienation, internal tensions in worship practices, stagnation in leadership succession, and declining congregational engagement.To address these challenges, this study proposes a constructive framework of inclusive leadership that includes: (1) the implementation of multigenerational leadership structures, (2) the cultivation of reciprocal mentoring culture, (3) the creation of intentional intergenerational dialogue spaces, and (4) the development of inclusive worship practices through blended styles and multigenerational ministry teams.The findings underscore that inclusive leadership is not merely an optional strategy but an urgent ecclesiological necessity for the contemporary church. By embracing an intentional intergenerational model, churches can bridge generational divides, enhance cross-generational participation, and sustain ministerial relevance amid rapid societal change, while remaining grounded in their theological identity.
Peran Spiritualitas Pentakosta dengan Pertumbuhan Iman dan Militansi Pewartaan Injil Pada Jemaat Di GBI Cisarua Effendy Matondang S; Andreas Eko Nugroho; Kornelius Rulli Jonathans
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.325

Abstract

Jemaat GBI Cisarua menunjukkan dinamika rohani yang beragam. Jemaat memahami bahwa spiritualitas Pentakosta menjadi sebuah kekuatan rohani yang menandai kebangunan rohani besar dalam sejarah gereja modern. Pengalaman pribadi dengan Roh Kudus, manifestasi karunia-karunia rohani serta kehidupan yang dipenuhi dengan kuasa dan ketaatan kepada Allah. Namun mereka juga menyadari banyaknya tantangan masa kini yang berdampak munculnya sikap kompromi, apatisme rohani, ketidakmampuan membedakan yang benar dengan sesuatu yang ‘seolah’ benar. Di samping itu permasalahan lain adalah rendahnya partisipasi jemaat dalam melaksanakan pewartaan Injil. Anggapan bahwa pewartaan menjdi tugas pemimpin dan pelayan menjadi alasan jemaat engan terlibat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang memotret fenomena yang terjadi pada jemaat yang berkaitan dengan topi peneliian. Selain itu penelitian ini juga melibatkan analisis berbagai sumber yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pertumbuhan iman yang signifikan yang ditunjukkan melalui perubahan sikap dan pembentukkan karekter. Selain itu juga kesadaran jemaat menjalankan tugas mulia pewartaan Injil dalam praksis kehidupan.