cover
Contact Name
Nurul Kusumawardani
Contact Email
nurul.kusumawardani@almaata.ac.id
Phone
+6281902808231
Journal Mail Official
inpharnmed.journal@almaata.ac.id
Editorial Address
Jl. Brawijaya no.99, Tamantirto, Kasihan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal)
ISSN : 25806637     EISSN : 25807269     DOI : http://dx.doi.org/10.21927/inpharnmed
Core Subject : Health,
Pharmaceutics, Biopharmaceutics, Drug Delivery System, Physical Pharmacy, Chemical Pharmacy, Pharmaceutical Technology, Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, Pharmacology and Toxicology, Pharmacokinetics, , Pharmaceutical Chemistry, Pharmaceutical Biology, Community and Clinical Pharmacy, Regulatory Affairs and Pharmaceutical Marketing Research, and Alternative Medicines
Articles 146 Documents
KAJIAN PENGGUNAAN OBAT OFF-LABEL PADA ANAK DI PUSKESMAS SLEMAN Akbar, Rizki; Setyaningrum, Ndaru; Estiningsih, Daru
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v1i1.501

Abstract

AbstrakOff-label merupakan istilah singkat yang menjelaskan penggunaan obat diluar ketentuan yang berkaitan dengan dosis, kelompok usia, rute pemberian, dan indikasi yang berbeda. Penggunaan obat off-label pada anak terjadi karena tidak lengkapnya data farmakokinetik, farmakodinamik, dan efek samping dari suatu obat karena penelitian klinik pada anak cukup sulit dan tidak sesuai dengan etika dan moral penelitian. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif. Data prevalensi penggunaan off-label pada anak diperoleh dengan melakukan telaah catatan medik anak di Puskesmas Sleman selama periode tahun 2015. Selain kajian obat off-label dilakukan juga pengelompokan obat berdasarkan sistem klasifikasi ATC (Anatomical Therapeutic Chemical). Berdasarkan hasil penelitian dari 100 sampel rekam medis pasien anak usia 0-18 tahun selama tahun 2015 terdapat obat-obat off-label sebanyak 25 kasus (8,41%), yang terdiri dari 12 kasus (4,04%) off-label cara pemberian, 8 kasus (2,69%) off-label indikasi, dan 5 kasus (1,68%) off-label usia. Sedangkan untuk kategori off-label dosis dan off-label kontraindikasi tidak ditemukan adanya kasus off-label. Obat yang paling banyak diresepkan secara off-label adalah golongan obat saluran napas sebanyak 13 penggunaan (4,38%) yaitu salbutamol, dan gliseril guaiakolat. Kata Kunci: Obat off-label, Anak, Puskesmas Sleman, ATC. AbstractOff-label is a term to decscribe the usage of drugs agaisnt the regulations in accordance to doses, age groups, distribution routes, and diverse indications. The usage of off-label drugs on children is caused by incomplete pharmacokinetic data, pharmacodynamic, and as a result of side effects due to clinical studies on children are quite complex and incorresponding with ethics and moral of the studies. Method used in this study was evaluative-descriptive using retrospective approach in data collection. Prevelance data of the usage of off-label drugs on children was gathered by examining the children medical records in Sleman Community Health Center within the time period of 2015. Besides research on off-label drug, drug categorization was also done based on the ATC Classification system (Anatomical Therapeutic Chemical). Based on the result of the research, out of 100 sample of patient medical record of the age 0-18 years along 2015, there has been 25 cases of off-label medicines (8,41%), in which 12 cases (4,04%) was distribution way off-label, 8 cases (2,69%) indicated off label, and 5 cased (1.68%) age off-label. While for the category of dose off label and contraindication off label has not been found any case. The most common off label prescription was respiratory drugs of 13 use (4,38%) that is salbutamol, and glyceril guaiacolat. Keyword: Off-label drugs, Children, Sleman Community Health Center, ATC.
PENGARUH FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK ETANOL 96% AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS HEPAR TIKUS BETINA Sprague Dawley YANG DIBERI KARSINOGEN 7,12-Dimetilbenz(a) antrasen (DMBA) Wijayatri, Ratna
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v1i1.505

Abstract

AbstrakEurycoma longifolia Jack adalah tanaman yang mempunyai Kandungan bioaktif dalam ekstrak air, butanol, metanol, dan kloroform yang terbukti memiliki efek antikanker secara  in vitro pada berbagai human cancer cell lines seperti MCF 7, HepG2, Hela, dan CaOv-3. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian fraksi etil asetat ekstrak etanol 96% akar pasak bumi (E. longifolia Jack) terhadap organ hepar yang telah diinduksi dengan DMBA.Tikus galur Sprague Dawley berumur 1 bulan digunakan dalam penelitian ini dan dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok 1 merupakan kelompok kontrol positif (tamoksifen), kelompok II merupakan kontrol negatif (DMBA dalam corn oil), kelompok III,IV dan V merupakan kelompok perlakuan fraksi etil asetat ekstrak etanol 96% akar pasak bumi (12,6 mg/kgBB, 25,2 mg/kgBB, dan 50,4 mg/kgBB), kelompok VI sebagai kontol pelarut (corn oil), kelompok VII sebagai kontrol baseline (pakan dan minum). DMBA digunakan sebagai penginduksi tumor diberikan 2 kali seminggu selama 5 minggu dengan dosis 20 mg/KgBB pada minggu ke-3 sampai minggu ke-7. Fraksi etil asetat ekstrak etanol 96% akar pasak bumi diberikan satu minggu sebelum pemberian DMBA dan selama pemberian DMBA.Pada minggu ke-16 setelah pemberian DMBA terakhir organ hepar kemudian diamati baik sacara makroskopis dan mikroskopis. Hasil menunjukkan bahwa fraksi etil asetat ekstrak etanol 96% akar pasak bumi (E. longfolia Jack) pada dosis 25,2 mg/KgBB mampu melindungi hepar dari kerusakan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yaitu DMBA yang menunjukkan adanya kerusakan berupa radang, kongesti dan limfoblastik sel sekitar pembuluh darah. Kata kunci : Eurycoma longifolia Jack, 7,12-Dimetilbenz(a)antrasen (DMBA), Hepar AbstractEurycoma longifolia Jack is a plant that content of bioactive compound in the water extract, butanol, and chloroform showed that they have anti cancer effect in the human cancer cell lines sich as MCF 7, HepG2, Hela, and CaOv-3. The aims of the study is to look at the effect of ethyl acetate fraction of ethanolic extract 96% from E. longifolia Jack root to the liver that has been induced by DMBA.Strain of Sprague Dawley rats aged 1 month used in this study and divided into several groups. Group I represents the positive control group (Tamoksifen), group II was negative controls (DMBA in corn oil), group III, IV and V is a variation of treatment group who were given ethyl acetate fraction of etanolic extract 96% from the E. longifolia Jack root (12,6mg/Kg, 25,2mg/Kg, and 50,4mg/Kg), group VI as the solvent control (corn oil), group VII as a baseline control (food and drink). 7,12-Dimethylbenz(a)anthracene (DMBA) is used as a tumour inductor given 2 times a week for 5 weeks with a dose of 20mg/kg at thirth week until seventth week. The ethyl acetate fraction of etanolic extract 96% of E. longifolia Jack root given one weeks prior DMBA and during DMBA giving.In the 16th week after the last giving of DMBA to the mouse, they were both observed macroscopically and microscopically. The result shows that the ethyl acetate fraction of etanolic axtract 96% of E. longifolia Jack with dose 25,2mg/Kg capable to protect the liver from the damage. It is different with the negative control group which shows the presence of DMBA damage in the form inflammation, congestion and limfoblastic celc around blood vessels. Keyword : Eurycoma longifolia Jack, 7,12-Dimethylbenz(a)antrhacene   (DMBA), liver
OBAT INFUSI MEMPENGARUHI KEJADIAN FLEBITIS PADA PASIEN RAWAT INAP DI BANGSAL UMUM RSUD WONOSARI TAHUN 2017 Nurinda, Eva
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v1i1.542

Abstract

AbstrakFlebitis menjadi salah satu indikator mutu pelayanan Rumah Sakit. Angka kejadian flebitis di RSUD Wonosari masih tinggi yaitu pada tahun 2016 terdapat 131 kejadian flebitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan obat secara infusi dengan kejadian flebitis pada pasien rawat inap di bangsal umum RSUD Wonosari. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan cohort dengan sampel 80 pasien yang dihitung dengan rumus slovin dan diambil  dengan  tehnik  purposive  sampling.  Instrumen  penelitian  yang  digunakan berupa lembar observasi dan analisis dengan metode deskriptif. Berdasarkan data penelitian didapatkan hasil bahwa pasien yang mengalami flebitis yaitu 41 pasien (51,2%). Sebanyak 55,56% pasien yang mendapatkan antibiotik mengalami flebistis dan 52,68% bukan antibiotik mengalami flebitis. Kejadian flebitis yang terjadi dapat disebabkan oleh faktor-faktor selain pemakaian obat melalui infus.  Kata Kunci: terapi melalui infus, antibiotik, flebitis.  AbstractPhlebitis is one of the indicators of hospital service quality. The incidence of phlebitis in RSUD Wonosari is still high, in 2016 there are 131 incidence of phlebitis. This study aims to determine the relationship between drug use in infusion with the incidence of phlebitis in hospitalized patients in the general ward RSUD Wonosari. The research was a qualitatif study with a cohort design with a sample of 80 patients calculated by the slovin formula and taken with purposive sampling technique. The research instrument that used was in the form of observation sheet and analysis with descriptive method. Based on the research data showed that patients with phlebitis were 41 patients (51.2%). As many as 55.56% of patients taking antibiotics had flebitis and 52.68% of patients taking not antibiotics had phlebitis. Phlebitis that happened can be caused by other factors than intravenous drug usage. Keywords: drug use in infusion, antibiotics, phlebitis.
TERATAI (Nymphaea stellata Willd.) SEBAGAI AGEN ANTIDIABETIK Muna, Laili Nailul
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v1i1.563

Abstract

AbstrakDiabetes Millitus (DM) adalah sekelompok penyakit gangguan metabolik. Salah satu tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai agen antidiabetes adalah Nymphae stellata (Syn. Nymphae nouchali) yaitu teratai biru. Di India, teratai digunakan sebagai Ayurveda dan Siddha untuk mengobati penyakit diabetes. Nymphayol merupakan steroid yang diisolasi dari bunga teratai yang terbukti bertanggung jawab memiliki aktivitas agen antidiabetes. Review ini bertujuan untuk melihat efektivitas dari Nymphae Stellata yang memiliki potensi sebagai agen antidiabetes.Studi ini menggunakan metode Review Article. Pencarian literatur dalam penelitian ini menggunakan data base Pubmed dan Google Scholar. Strategi pencarian artikel berdasarkan PICO. Nymphayol dilaporkan memiliki aktivitas antidiabetik  pada dosis 20 mg/kg BB oleh tikus diabetes terinduksi streptozotocin. Pemberian perlakuan Hydro-Ethanolic Extract (HEE) Nymphae stellata 300 mg/kg BB pada tikus yang terinduksi aloksan mampu menurunkan nilai HbA1C secara signifikan (P<0.001) dibandingkan kelompok normal yang terindikasi kontrol glikemik yang buruk. Ekstrak bunga Nymphae stellata  terhadap tikus terinduksi alloxan menujukkan nilai penurunan Fasting Blood Glucose (FBG) yang signifikan lebih (P<0.001) tinggi pada dosis 300 mg/kg BB dibandingkan dosis 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB.Review menunjukkan bahwa HEE Nymphae stellata dan ekstrak bunga Nymphae stellata efektif sebagai agen antidiabetes dengan berbagai mekanisme spesifik dibandingkan dengan placebo sebagai pembanding. Nymphayol merupakan steroid yang terbukti bertanggung jawab memiliki aktivitas agen antidiabetes.Kata kunci :  Nymphae stellata, Nymphayol, Antidiabetes, Efektivitas  AbstractDiabetes Mellitus is a group metabolic disorders. One of herbal plant that can be use for antidiabetic agent is Nymphae stellata (Syn. Nymphae nouchali) called blue lotus. In India, lotus used as Ayurveda dan Siddha to treat diabetes. Nymphayol form isolated steroid from lotus which proved to be responsible to have an activity of antidiabetic agent.This review intends to see the effectivity of Nymphae Stellata which has a potential as an antidiabetic agent.This study uses Review Article method. Prospecting literature in this research uses Pubmed and Google Scholar databases. Article prospecting strategy based on PICO. Decreased glucose levels in diabetic patients. Nymphayol reported that it has antidiabetic activity at doses 20 mg / kg body weight by streptozotocin induced diabetic mice. Giving treatment Hydro-Ethanolic Extract (HEE) Nymphaea stellata 300 mg / kg in mice induced by alloxan able to reduce HbA1c values significantly (P <0.001) compared to the normal group indicated rough glycemic control. Nymphae stellata flower extract induced alloxan mice showed the significant decreasing values of Fasting Blood Glucose (FBG) higher (P<0.001) at doses 300 mg/kg body weight than doses 200 mg/kg body weight and 400 mg/kg body weight.The review showed that HEE Nymphae stellata and Nymphae stellata flower extract are effective as an antidiabetic agent with various specific mechanism compared to placebo as comparator. Nymphayol is a steroid that was proven to responsible for antidiabetic agent activities. Keywords : Nymphae stellata, Nymphayol, Antidiabetic, Effectivity
PENGARUH INTERVENSI APOTEKER TERHADAP KEJADIAN DRUG RELATED PROBLEMS PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIS DI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL Kurniawan, Andi Haris
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i2.1253

Abstract

AbstrakPenyakit ginjal kronis (PGK) adalah penyakit yang sering muncul di berbagai negara. Penurunan fungsi ginjal secara progresif pada pasien penyakit ginjal kronis dapat menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan dari penggunaan obat, karena menurunnya fungsi ginjal dalam mengekskresikan obat dan metabolitnya disamping komorbid yang sering timbul. Drug Related Problems (DRPs) dapat berdampak pada efektifitas dan keamanan suatu pengobatan juga menyebabkan morbidity, mortality dan biaya pengobatan yang dikeluarkan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran DRPs yang terjadi pada pasien PGK dan pengaruh intervensi apoteker terhadap DRPs di RSU PKU Muhammadiyah Bantul dengan cara membandingkan DRPs yang timbul sebelum dan sesudah intervensi apoteker. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain observational kohort. Pengambilan data dilakukan secara prospektif kohort untuk melihat gambaran. DRPs dan pengaruh intervensi apoteker terhadap kejadian DRPs pada pasien PGK rawat inap di RSU PKU Muhammadiyah Bantul periode Agustus-Oktober 2017. Kategori DRPs mengikuti klasifikasi DRPs PCNE V7.0, tercatat DRPs kategori masalah sebanyak 19 kasus (45,2%) dan kategori penyebab sebanyak 24 kasus (57,1%). Drug Related Problems yang paling banyak ditemukan terapi tidak optimal (28,6%), waktu/interval pemberian obat (26,8%), kombinasi obat dengan obat (16,7%) dan ada indikasi tidak ada obat (11,9%). Dilakukan intervensi oleh apoteker terhadap kejadian DRPs yang ditemukan, intervensi apoteker dalam bentuk merubah instruksi penggunaan obat (30,7%), memberikan informasi/ rekomendasi kepada penulis resep (16,7%) dan memberikan edukasi pada pasien (11,9%). Intervensi apoteker yang dilakukan dapat mencegah atau mengatasi DRPs yang ditemukan. Kesimpulan pada penelitain ini masih terdapat DRPs yang terjadi pada pasien PGK rawat inap. Keterlibatan apoteker dapat mencegah atau menurunkan kejadian DRPs serta memastikan terapi obat yang efisien, efektif dan amanKata Kunci: drug related problems; penyakit ginjal kronik; intervensi apoteker AbstractChronic kidney disease (CKD) is a disease that often appears in various countries. Progressive decline in kidney function in patients with chronic kidney disease can lead to unexpected events from drug use, due to decreased kidney function in excreting the drug and its metabolites in addition to the co-morbidities that often arise. Drug-Related Problems (DRPs) is one of the problems that can arise from treatment. Drug-Related Problems (DRPs) in addition to impacting the effectiveness and safety of treatment can also cause morbidity, mortality, and treatment costs incurred by the patient. This study aims to look at the picture of DRPs that occur in CKD patients and the effect of pharmacist intervention on DRPs in PKU Muhammadiyah Hospital Bantul by comparing DRPs that arise before and after pharmacist intervention. This research is descriptive with an observational cohort design. Data were collected prospectively in a cohort to see DRPs drawings and the influence of pharmacist interventions on the incidence of DRPs in inpatient CKD patients at PKU Muhammadiyah Hospital in Bantul in the period August-October 2017. The DRPs category followed the PCNE V7.0 DRP classification, recorded DRPs in the problem category for 19 cases (45.2%) and the category of loading was 24 cases (57.1%). The most drug-related problems were found to be non-optimal therapy (28.6%), the time/interval of drug administration (26.8%), the combination of drugs with drugs (16.7%), and there were indications of no drugs (11.9%). Pharmacists intervened with the incidence of DRPs found, pharmacists intervened in the form of changing instructions for using drugs (30.7%), giving information/recommendations to prescribers (16.7%), and providing education to patients (11.9%). Pharmacist intervention can prevent or overcome the DRPs found. Conclusions in this study there are still DRPs that occur in inpatient CKD patients. The involvement of pharmacists can prevent or reduce the incidence of DRPs and ensure efficient, effective, and safe drug therapy.Keywords: drug-related problems; chronic kidney disease; pharmacist intervention
KEPATUHAN MENGKONSUMSI SUPLEMEN ZAT BESI BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA KEHAMILAN Kusumawardani, Nurul
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i2.1376

Abstract

AbstrakKondisi kehamilan memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia defisiensi zat besi. Hal ini dikarenakan, kebutuhan zat besi meningkat secara signifikan namun tidak diimbangi dengan penyimpanan zat besi di dalam tubuh. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran tingkat kepatuhan ibu hamil dengan metode pill count dan self report dalam mengkonsumsi suplemen zat besi serta hubungannya terhadap kejadian anemia pada kehamilan. Penelitian ini merupakan descriptive correlation study dengan rancangan case-control design, dimana sampel pada penelitian ini terbagi menjadi kelompok kasus (ibu hamil dengan anemia) dan kontrol (ibu hamil tanpa anemia). Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode consecutive sampling, hingga didapatkan 68 responden usia kehamilan trimester III yang rutin melakukan antenatal care (ANC) sejak awal kehamilan di Puskesmas Jetis, Kota Yogyakarta pada bulan Februari 2019. Keseluruhan responden terbagi menjadi dua kelompok, masing-masing sebanyak 34 responden. Analisis statistika yang digunakan untuk merumuskan hasil penelitian ini adalah Chi-square (X2 test) dengan Spearman's rank correlation coefficient (ρ) untuk mengetahui kekuatan dan arah korelasi antara kejadian anemia dengan tingkat kepatuhan responden berdasarkan metode pill count. Hasilnya menunjukkan bahwa responden yang tidak patuh mengkonsumsi suplemen zat besi berhubungan bermakna dengan kejadian anemia (X2=11,56; p=0,001 (p<0,050)), odd ratio (OR) = 10,79; 95%CI 2,25-51,66 dan memiliki arah korelasi positif dengan kekuatan sedang (ρ=0,412, p=0,001), sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu hamil yang tidak patuh akan berisiko 10 kali lipat mengalami anemia (Hb<11,5 g/dL) pada masa kehamilan. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa pentingnya mengkonsumsi suplemen zat besi untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil.Kata Kunci: anemia, hemoglobin, kehamilan, kepatuhan, suplemen zat besi AbstractWomen with pregnancy have a higher risk of developing anemia with iron deficiency. This condition is due to the maternal body requirements for a significant iron, but the intake and storage of iron in the body are inadequate. The aim of this study was to describe the compliance of pregnant women in consuming iron supplement and correlation with anemia in pregnancy. The purpose of the study to describe the compliance of pregnant women in consuming iron supplements and its relationship with the incidence of anemia in pregnancy. This study is a descriptive correlation study with a case-control design. The sampling technique used was non-probability sampling with the consecutive sampling method, so that 68 respondents of pregnancy in their third trimester who routinely performed antenatal care (ANC) since the beginning of pregnancy at Primary Health Center Jetis, Yogyakarta City in February 2019. Chi-square statistical analysis (X2 test) with Spearman's rank correlation coefficient (ρ) to determine the strength and direction of the correlation between anemia and respondent compliance based on the pill count method. The results showed that respondents who did not adhere with iron supplements had a significant relationship with the incidence of anemia (X2 = 11.56; p-value= 0.001 (p-value<0.050)), odds ratio (OR) = 10.79; 95% CI 2.25-51.66 and has a positive correlation direction with moderate strength (ρ-value= 0.412, p-value = 0.001), so it can be concluded that pregnant women who are not adherent will have 10 times the risk of experiencing anemia (Hb 11.5 g/dL) during pregnancy. Keyword: anemia, hemoglobin, pregnancy, adherence, iron supplements
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TERHADAP PERILAKU SWAMEDIKASI NYERI YANG RASIONAL DI APOTEK HARISH FARMA KABUPATEN SUKOHARJO Artini, Kusumaningtyas Siwi
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i2.1386

Abstract

AbstrakSelf-medication (pengobatan sendiri) adalah penggunaan obat-obatan dengan maksud terapi tanpa saran dari profesional atau tanpa resep. Swamedikasi dapat dilakukan dengan menggunakan obat dari pengobatan sebelumnya, dengan membeli obat tanpa resep, mengikuti saran dari saudara atau teman tentang penggunaan obat tertentu. Nyeri menjadi salah satu penyakit yang banyak dialami pasien yang kadang tidak bisa ditolerensi sehingga pasien melakukan pengobatan sendiri. Penggunaan obat nyeri banyak digunakan bebas di masyarakat sehingga dapat menyebabkan ketergantungan, sehingga diperlukan edukasi sehingga pengobatan tersebut rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap swamedikasi nyeri di Apotek Harish Farma, Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan rancangan survey cross sectional dengan menggunakan accidental sampling dan data kuesioner diolah dengan metode uji Pearson. Pada penelitian ini melibatkan 84 responden. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2020. Dari penelitian dapat dilihat 46% responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang, 48% responden memiliki pengetahuan yang cukup baik dan 6% responden memiliki pengetahuan yang baik dan untuk perilaku swamedikasi sebanyak 37% responden memiliki perilaku swamedikasi yang kurang, 39% responden memiliki perilaku swamedikasi yang cukup baik, dan 24% memiliki perilaku swamedikasi yang baik. Pada analisis dengan menggunakan uji pearson diperoleh hasil r hitung sebesar 0,309 dan nilai sig. 0,004 yang menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku swamedikasi nyeri. Kata Kunci: tingkat pengetahuan, swamedikasi; antinyeri; apotekAbstractSelf-medication is the use of drugs for the purpose of therapy without professional advice or without a prescription. Self-medication can be done by using drugs from previous treatment, by buying drugs without a prescription, following advice from relatives or friends about the drugs. Pain is one of the diseases which sometimes cannot be tolerated so patient do self-medication. The analgetic is widely used in the community so education to the patient is needed in order to make the medication will be rational. The purpose of this study was to determine the correlation between patient knowledge and pain self-medication at Apotek Harish Farma, Kabupaten Sukoharjo. This study used a cross-sectional survey design using accidental sampling and the questionnaire data were processed using the Pearson test method. This study was used by 84 respondents. This research was conducted in July - August 2020. The results showed that 46% of respondents had a low level of knowledge, 48% of respondents had good enough knowledge and 6% of respondents had good knowledge and 37% of respondents had less self-medicated behavior, 39% of respondents had good enough self-medicated behavior, and 24% have good self-medicated behavior. In the analysis using the Pearson test, the r count was 0.309 and the sig value. 0.004 which shows the relationship between knowledge and pain self-medication behavior. Keyword: level of knowledge; self-medication; analgetic; apotek
KARAKTERISTIK DAN STATUS KETERGANTUNGAN PEROKOK AKTIF TERHADAP NIKOTIN DI KOTA YOGYAKARTA Dwinta, Eliza
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i2.1399

Abstract

AbstrakRokok mengandung unsur-unsur kimia seperti tar, nikotin, benzovrin, metal-kloride, aseton, amino, dan karbon monoksida. Adanya kandungan nikotin dalam rokok dapat menyebabkan ketergantungan. Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) digunakan sebagai kuisioner bagi para perokok di daerah Yogyakarta untuk mengetahui tingkat ketergantungan terhadap nikotin. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Responden sejumlah 70 perokok aktif dengan hasil karakteristik demografis, yaitu (97,1) laki-laki dan (2,9) perempuan, dan awal mula masyarakat merokok yaitu pada usia 17-25 tahun dengan pendidikan terakhir SMA sederajat. Penghasilan perokok melalui penelitian ini didapatkan sebesar Rp 1.000.000,00 hingga Rp 2.000.000,00. Dari 70 perokok terdapat 40% perokok ketergantungan nikotin rendah hingga sedang, 34,3% responden memiliki ketergantungan rendah; 21,4% responden memiliki tingkat ketergantungan sedang, dan 4,3% responden memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap nikotin. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui status ketergantungan perokok aktif terhadap nikotin di wilayah Kota Yogyakarta. Status ketergantungan terhadap nikotin dapat dijadikan salah satu kriteria dalam menentukan sasaran promosi kesehatan oleh tenaga kesehatan terkait merokok. Sasaran dan metode promosi kesehatan yang tepat dapat memudahkan informasi tersampaikan guna meningkatkan kesadaran perokok terhadap kesehatan tubuhnya.Kata Kunci: fagerstrom test for nicotine dependence; status perokok; perokok aktif AbstractCigarettes contain chemical elements such as tar, nicotine, benzovrin, metal-chloride, acetone, amino, and carbon monoxide. The presence of nicotine in cigarettes can cause dependence. The Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) was used as a questionnaire for smokers in the Yogyakarta area to determine the level of dependence on nicotine. This research is a descriptive cross-sectional approach. Respondents were 70 active smokers with the results of demographic characteristics, namely male (97.1%) and female (2.9%), and the beginning of the smoking community, namely at the age of 17-25 years with the latest high school education equivalent. The income of smokers through this research is obtained from Rp 1,000,000.00 to Rp 2,000,000.00. Of the 70 smokers, 40% of smokers had low to moderate nicotine dependence; 34.3% of respondents had low dependence; 21.4% of respondents have a moderate level of dependence, and 4.3% of respondents have a high level of dependence on nicotine. The purpose of this study was to determine the nicotine dependence status of smokers in Yogyakarta. Nicotine dependence status can be used as one of the criteria in determining health promotion targets by health workers related to smoking. The right targets and methods of health promotion can make it easier for information to be conveyed in order to increase smokers’ awareness of their health. Keywords:  Fagerstrom test for nicotine dependence; dependence status of smokers; active smokers
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK SEDIAAN GEL TUNGGAL DAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOLIK DAUN SIRIH MERAH (Pipper crocatum) dan MINYAK KAYU MANIS (Cinnamon oil) Emelda, Emelda
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i2.1405

Abstract

AbstrakSirih merah memiliki kandungan senyawa aktif seperti minyak atsiri, alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid. Minyak atsiri yang terkandung di dalamnya memiliki aktivitas sebagai antiseptik. Tanaman lain yang juga memiliki banyak manfaat adalah kayu manis. Minyak kayu manis diketahui memiliki aktivitas sebagai anti inflamasi. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat formulasi sediaan gel kombinasi ekstrak etanol daun sirih merah dan minyak kayu manis dan mengetahui sifat fisik sediaan tersebut.Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan. Daun sirih merah diekstraksi dengan pelarut etanol kemudian diformulasikan dalam bentuk gel dan dikombinasikan dengan minyak kayu manis. Uji sifat fisik sediaan krim dan salep, meliputi organoleptik, uji homogenitas, pH dengan indikator pH universal, uji daya lekat, daya sebar dan uji konsistensi.Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel kombinasi ekstrak etanol daun sirih merah dan minyak kayu manis memiliki warna hijau kecoklatan, dan kayu manis tunggal berwarna putih, memiliki bau khas, berbentuk semipadat, homogen, daya lekat lebih dari 1 detik, daya sebar masih berada dalam rentang 5-7 cm dan  uji konsistensi menunjukkan tidak terjadi pemisahan.Sediaan gel kombinasi ekstrak etanol daun sirih merah dan minyak kayu manis memenuhi persyaratan uji fisik, meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya lekat daya sebar dan uji konsistensi. Kata Kunci: Daun sirih merah, minyak kayu manis, gel, uji sifat fisik AbstractRed betel contains active compounds such as essential oils, alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids. The essential oil contained in it has antiseptic activity. Another plant that also has many benefits is cinnamon. Cinnamon oil is known to have anti-inflammatory activity. The purpose of this study was to formulate a gel preparation for a combination of ethanol extract of red betel leaf and cinnamon oil and to determine the physical properties of these preparations.This research is an experimental laboratory. Red betel was Extracted with an ethanol solvent, red betel leaves are then formulated in the form of a gel and combined with cinnamon oil. The physical properties test for cream and ointment preparations included organoleptic, homogeneity test, pH with a universal pH indicator, adhesion test, spreadability, and consistency test.The results showed that the combination gel preparation of the ethanol extract of red betel leaf and cinnamon oil had a brownish-green color and white for only cinnamon oil, had a distinctive odor, was semisolid, homogeneous, adhered more than 1 second, the spreadability was still within the range of 5-7 cm and consistency test showed there is no separation.The combination gel preparation for the ethanol extract of red betel leaf and cinnamon oil met the physical test requirements, including the organoleptic test, homogeneity, pH, adhesiveness, spreadability, and consistency test. Keyword: Red Betel leaf, Cinnamon oil, physical properties test 
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) DAN GANGGANG HIJAU (Ulva lactuca L.) Septiawan, Azizah Nada; Emelda, Emelda; Husein, Saddam
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i1.1601

Abstract

Penelitian yang dilakukan Rahman menyatakan bahwa ekstrak lidah buaya (Aloe vera L.) memiliki aktivitas antioksidan dengan adanya perubahan warnaungu pekat menjadi kuning. Sedangkan Penelitian yang dilakukan oleh Emelda menjelaskan bahwa kemampuan menangkap radikal bebas ekstrak etanol ganggang hijau (Ulva lactuca L.) lebih baik dibandingkan Vitamin C dilihat dari nilai IC 50 dan semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol ganggang hijau maka semakin tinggi kemampuan menangkap radikal bebas. Kombinasi dari dua jenis atau lebih tumbuhan yang memiliki kandungan antioksidan diharapkan dapat menghasilkan daya antioksidan yang lebih tinggi karena sifatnya sinergis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada kombinasi ekstrak etanol lidah buaya (Aloe vera L.) dan ganggang hijau (Ulva lactuca L.) melalui nilai IC 50 pada kombinasi ekstrak etanol lidah buaya (Aloe veraL.) dan ganggang hijau (Ulva lactuca L.). Jenis penelitian ini adalah eksperimental untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada ekstrak tunggal dan kombinasi ekstrak lidah buaya (Aloe vera L.) dan ganggang hijau (Ulva lactuca L.) dengan perbandingan 1:1; 1:2 dan 2:1 dengan menggunakan metode DPPH. Hasil Pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan bahwa kontrol positif, ekstrak etanol lidah buaya tunggal, ganggang hijau tunggal berserta kombinasi dengan perbandingan 1:1; 1:2 dan 2:1 memiliki aktivitas antioksidan kuat sampai sangat kuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kombinasi ekstrak etanol lidah buaya dan ganggang hijau 1:2 memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC 50 sebesar 16,51 µg/ml.

Page 8 of 15 | Total Record : 146