cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 844 Documents
PENGALAMAN BELAJAR SEBAGAI PROSES PEMBENTUKAN DIRI PADA ANAK RENTAN: STUDI FENOMENOLOGI DALAM PERSPEKTIF KONSELING KOMUNITAS Moh. Fadhlan Adzaky; Zakki Nurul Amin
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.13673

Abstract

Vulnerable children often encounter social, economic, and environmental challenges that shape their learning experiences and influence their process of self-formation. Previous studies have primarily focused on educational access and the determinants of vulnerability, while limited attention has been given to understanding how vulnerable children construct the meaning of learning through their lived experiences, particularly from a community counseling perspective. This study aimed to explore the lived learning experiences of vulnerable children and examine how these experiences contribute to their process of self-formation. A qualitative phenomenological design was employed involving three purposively selected vulnerable children in Semarang City, Indonesia. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model supported by NVivo software. The findings revealed that learning was perceived as a life process extending beyond formal education, enabling participants to understand themselves, develop personal capabilities, adapt to life challenges, and maintain hope for the future. These learning experiences were constructed through interactions with family, schools, peers, community organizations, and the broader social environment. Social support from these networks emerged as a significant protective factor that strengthened learning motivation and facilitated self-formation, whereas economic hardship, social pressures, and limited educational opportunities remained major barriers. The study concludes that self-formation among vulnerable children develops through socially embedded learning experiences. These findings highlight the importance of community counseling approaches that actively engage families, schools, and community organizations in creating inclusive, supportive, and empowering learning environments for vulnerable children. ABSTRAK Anak rentan menghadapi berbagai keterbatasan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat memengaruhi pengalaman belajar serta proses pembentukan diri. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada akses pendidikan dan faktor-faktor penyebab kerentanan, sementara pengalaman subjektif anak rentan dalam memaknai belajar sebagai proses pembentukan diri masih terbatas, terutama dalam perspektif konseling komunitas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman belajar anak rentan dan memahami esensi pembentukan diri yang berkembang melalui pengalaman tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Tiga anak rentan di Kota Semarang dipilih secara purposive berdasarkan pengalaman belajar dalam kondisi kerentanan sosial dan ekonomi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña dengan bantuan perangkat lunak NVivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belajar dimaknai sebagai proses kehidupan yang melampaui aktivitas akademik, yaitu sebagai sarana memahami diri, mengembangkan kemampuan, membangun harapan masa depan, serta beradaptasi dengan berbagai tantangan. Pengalaman belajar terbentuk melalui interaksi dengan keluarga, sekolah, teman sebaya, organisasi, dan komunitas. Dukungan sosial dari lingkungan tersebut menjadi faktor utama yang memperkuat motivasi belajar dan proses pembentukan diri, sedangkan keterbatasan ekonomi, tekanan sosial, dan lingkungan belajar yang kurang mendukung menjadi hambatan yang dihadapi partisipan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan diri anak rentan merupakan proses yang berlangsung melalui pengalaman belajar dalam konteks sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya konseling komunitas yang melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas sebagai sistem pendukung untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, adaptif, dan memberdayakan.
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA PADUDI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA KELAS V SD Devi Safitri; Esti Untari
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13752

Abstract

Learning motivation is an important factor influencing students’ engagement in mathematics learning. Based on interviews with a fifth-grade teacher, students’ enthusiasm for mathematics learning was not consistently maintained, particularly when learning to present data using bar charts. This condition was associated with learning activities that were predominantly focused on teacher explanations, textbook use, and routine exercises, resulting in limited variation in students’ learning experiences. This study aimed to analyze the effect of the Problem-Based Learning (PBL) model assisted by PADUDI media on the mathematics learning motivation of fifth-grade elementary school students. A quantitative approach with a quasi-experimental method and a Nonequivalent Control Group Design was employed. The participants consisted of 53 fifth-grade students at SDN Percobaan 1 Kota Malang, including 26 students in the experimental group and 27 students in the control group. Data were collected through a learning motivation questionnaire, observation, and documentation. The data were analyzed using descriptive statistics, a paired-samples t-test, and an independent-samples t-test after meeting the normality and homogeneity assumptions. The results showed that the mean motivation score in the experimental group increased from 68.46 in the pretest to 86.96 in the posttest, whereas the control group increased from 67.74 to 74.00. The independent-samples t-test yielded t = 17.260 with p < 0.001. Therefore, the implementation of PBL assisted by PADUDI media had a significant effect on students’ mathematics learning motivation. These findings indicate that combining a problem-based learning model with concrete instructional media can serve as an alternative approach for creating more active and contextual mathematics learning while strengthening students’ learning motivation. ABSTRAK Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keterlibatan murid dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V, antusiasme murid dalam pembelajaran matematika belum konsisten, khususnya pada materi penyajian data dalam bentuk diagram batang. Kondisi tersebut berkaitan dengan pembelajaran yang masih didominasi penjelasan guru, penggunaan buku paket, dan latihan soal sehingga pengalaman belajar murid kurang variatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh model Problem-Based Learning (PBL) berbantuan media PADUDI terhadap motivasi belajar matematika murid kelas V sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas 53 murid kelas V SDN Percobaan 1 Kota Malang, yaitu 26 murid pada kelas eksperimen dan 27 murid pada kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui angket motivasi belajar, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji paired samples t-test dan independent samples t-test setelah memenuhi uji normalitas dan homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata motivasi belajar kelas eksperimen meningkat dari 68,46 pada pretest menjadi 86,96 pada posttest, sedangkan kelas kontrol meningkat dari 67,74 menjadi 74,00. Hasil independent samples t-test menunjukkan nilai t = 17,260 dengan p < 0,001. Dengan demikian, penerapan model PBL berbantuan media PADUDI berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar matematika murid kelas V. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi model pembelajaran berbasis masalah dan media konkret dapat menjadi alternatif untuk menciptakan pembelajaran matematika yang lebih aktif, kontekstual, dan mendorong motivasi belajar murid.
INOVASI PENGEMBANGAN MEDIA DIGITAL INTERAKTIF SEBAGAI SOLUSI PERCEPATAN KEMAMAPUAN NUMERASI SISWA SEKOLAH DASAR Chika Zahroh Khitaka Auliya; Mohammad Faizal Amir
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13767

Abstract

ABSTRACT Numeracy learning needs at the elementary school level cannot be adequately addressed through the delivery of mathematical concepts and counting exercises alone, as students also need to engage with situations that encourage them to understand information, determine solutions, and interpret results. In response to this need, an interactive digital learning medium based on numeracy storytelling was developed to support whole-number arithmetic instruction for third-grade elementary school students. The development process was conducted in March 2026 using a Research and Development (R&D) approach and the ADDIE model, encompassing the stages of analyze, design, development, implementation, and evaluation. Thirty third-grade students at SDN Trosobo 1 participated in the trial through purposive sampling. Data were collected through observations, assessments by two validators consisting of a subject-matter expert and a media expert, student response questionnaires, and pretest and posttest assessments. Validation and student response data were analyzed using percentage calculations, while changes in numeracy ability were examined using normalized gain (N-Gain). The developed media achieved a validity score of 97% and a practicality score of 93.87%. Students’ numeracy performance increased from 58% on the pretest to 91% on the posttest, with an N-Gain of 0.77, categorized as high. These findings indicate that integrating digital storytelling, problem-solving activities, immediate feedback, and interactive features can create a more structured numeracy learning experience while supporting improvements in students’ abilities. ABSTRAK Kebutuhan pembelajaran numerasi di sekolah dasar tidak cukup dijawab melalui penyampaian materi dan latihan berhitung, karena siswa juga perlu berhadapan dengan situasi yang mendorong mereka memahami informasi, menentukan penyelesaian, dan menafsirkan hasil. Atas pertimbangan tersebut, dikembangkan media digital interaktif berbasis cerita numerasi untuk pembelajaran operasi hitung bilangan cacah pada siswa kelas III sekolah dasar. Proses pengembangan berlangsung pada Maret 2026 dengan pendekatan Research and Development (R&D) dan model ADDIE yang mencakup analyze, design, development, implementation, serta evaluation. Sebanyak 30 siswa kelas III SDN Trosobo 1 mengikuti uji coba melalui teknik purposive sampling. Informasi penelitian dihimpun dari observasi, penilaian dua validator yang terdiri atas ahli materi dan ahli media, angket respons siswa, serta tes pretest dan posttest. Data validasi dan respons dianalisis dalam bentuk persentase, sedangkan perubahan kemampuan numerasi ditelaah menggunakan normalized gain (N-Gain). Hasil pengembangan menunjukkan validitas media mencapai 97% dan kepraktisan 93,87%. Pada pengukuran kemampuan numerasi, capaian siswa bergerak dari 58% pada pretest menjadi 91% pada posttest, dengan N-Gain 0,77 pada kategori tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa perpaduan digital storytelling, aktivitas solving problem, feedback langsung, dan fitur interaktif dapat membentuk pengalaman belajar numerasi yang lebih terarah sekaligus mendukung peningkatan kemampuan siswa.
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: PENDIDIKAN INKLUSI TERHADAP PERKEMBANGAN LITERASI MEMBACA SISWA DI SEKOLAH DASAR Muhammad Ikhlasul Amal; Mujib Mujib; Muhammad Muchsin Afriyady; Mardiyah Mardiyah
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13832

Abstract

Reading literacy is a fundamental competence that plays a crucial role in elementary school students’ learning success. In the context of inclusive education, the diversity of students’ characteristics and learning needs requires adaptive and equitable learning practices to ensure that all learners have optimal learning opportunities. This study aims to synthesize empirical evidence on the contribution of inclusive education to the development of reading literacy among elementary school students and to identify instructional strategies and supporting factors that contribute to literacy development through a Systematic Literature Review (SLR) approach. Articles were retrieved from Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, and Semantic Scholar using Publish or Perish. The selection process followed predetermined inclusion and exclusion criteria and adhered to the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines, covering publications from 2020 to 2025. Of the 517 identified articles, 17 met the eligibility criteria and were analyzed in depth. The synthesis revealed that inclusive education contributes to reading literacy development through adaptive and differentiated instruction, Individualized Education Programs (IEPs), multisensory approaches, and support from teachers, schools, and parents. Supporting factors include teacher competence, educational facilities, school policies, parental involvement, as well as curriculum and instructional media innovation. Therefore, inclusive education supports reading literacy development through adaptive, collaborative, and student-centered learning practices. ABSTRAK Literasi membaca merupakan kompetensi dasar yang berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran siswa sekolah dasar. Dalam konteks pendidikan inklusi, keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik menuntut penyelenggaraan pembelajaran yang adaptif dan setara agar seluruh siswa memperoleh kesempatan belajar yang optimal. Penelitian ini bertujuan mensintesis bukti empiris mengenai kontribusi pendidikan inklusi terhadap perkembangan literasi membaca siswa sekolah dasar serta mengidentifikasi strategi pembelajaran dan faktor-faktor pendukung yang berperan dalam pengembangan literasi membaca melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Penelusuran artikel dilakukan melalui Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, dan Semantic Scholar menggunakan aplikasi Publish or Perish. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) pada rentang publikasi tahun 2020–2025. Dari 517 artikel yang teridentifikasi, sebanyak 17 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis secara mendalam. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pendidikan inklusi berkontribusi terhadap perkembangan literasi membaca melalui penerapan pembelajaran adaptif dan berdiferensiasi, Program Pembelajaran Individual (PPI), pendekatan multisensori, serta dukungan guru, sekolah, dan orang tua. Faktor-faktor yang mendukung pengembangan literasi membaca meliputi kompetensi guru, sarana dan prasarana, kebijakan sekolah, keterlibatan orang tua, serta inovasi kurikulum dan media pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan inklusi mendukung perkembangan literasi membaca melalui penyelenggaraan pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.
ANALISIS GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SD NEGERI Syafani Mayang Septi; Yeni Nuraeni; Rahmawati Eka Saputri
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.13850

Abstract

Principal leadership plays a strategic role in creating a work environment that supports improvements in teaching quality and teacher instructional performance. In the context of changing demands in education, principals are expected not only to manage schools but also to implement participative and adaptive leadership while providing policies and facilities that address teachers' needs. This study aims to analyze the principal's leadership style, teachers' mastery of basic teaching skills, and the relationship between school leadership policies and teachers' instructional performance at SD Negeri Cibodas 6, Tangerang City. This study employed a descriptive qualitative approach. Primary data were obtained from the principal and three Grade V teachers, while secondary data were obtained from school profile documents and the 2024 Education Report Card. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and document analysis, and were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing using source and technique triangulation. The findings indicate that: (1) the principal applies a democratic-participative leadership style combined with Hersey-Blanchard's situational leadership through directing, coaching, supporting, and delegating approaches according to teachers' conditions and readiness; (2) the three teachers demonstrate good mastery of basic teaching skills, including opening and closing lessons, explaining materials using technological support, asking HOTS-based questions, facilitating discussions, managing classrooms, providing reinforcement, and implementing differentiated instruction for small groups and individual learners; and (3) the principal's policies, particularly transparent RKAS management and the provision of digital learning facilities, support teacher creativity, motivation, and workplace comfort. These findings indicate that participative and adaptive leadership, supported by transparent policies and adequate learning facilities, creates a work environment that supports the development of teachers' instructional performance. ABSTRAK Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan kinerja mengajar guru. Dalam konteks perubahan tuntutan pembelajaran, kepala sekolah tidak hanya berperan sebagai pengelola sekolah, tetapi juga perlu menerapkan kepemimpinan yang partisipatif dan adaptif serta menyediakan dukungan kebijakan dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya kepemimpinan kepala sekolah, penguasaan keterampilan dasar mengajar guru, serta keterkaitan kebijakan kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru di SD Negeri Cibodas 6 Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data primer terdiri atas kepala sekolah dan tiga guru kelas V, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen profil sekolah dan Rapor Pendidikan 2024. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan demokratis-partisipatif yang dipadukan dengan kepemimpinan situasional Hersey-Blanchard melalui pendekatan directing, coaching, supporting, dan delegating sesuai kondisi dan kesiapan guru; (2) ketiga guru menunjukkan penguasaan keterampilan dasar mengajar yang baik, meliputi keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, menjelaskan materi berbantuan teknologi, mengajukan pertanyaan berbasis HOTS, membimbing diskusi, mengelola kelas, memberikan penguatan, serta melaksanakan pembelajaran kelompok kecil dan perseorangan berbasis diferensiasi; dan (3) kebijakan kepala sekolah berupa transparansi pengelolaan RKAS dan penyediaan fasilitas digital mendukung kreativitas, motivasi, dan kenyamanan kerja guru. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan yang partisipatif dan adaptif, didukung kebijakan transparan serta fasilitas pembelajaran yang memadai, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pengembangan kinerja mengajar guru.
PENGGUNAAN SMART TV SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MEREDUKSI DAMPAK NEGATIF KETERGANTUNGAN SMARTPHONE (BRAIN ROT) PADA SISWA SEKOLAH DASAR: STUDI KASUS DI SDN 1 JELANTIK Shahibul Ardhi; Herlina Najwa Amber; Husaen Sudrajat
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13941

Abstract

ABSTRACT As smartphones become increasingly embedded in the daily lives of elementary school students, the issue of digital learning extends beyond access to technology to include the quality of experiences shaped by its use. This study examines the use of Smart TV at SDN 1 Jelantik as an alternative for directing students’ interactions with digital content toward more structured and meaningful learning experiences. The study employed a qualitative approach with a case study design, drawing information from participant observation, in-depth interviews with the school principal, teachers, students, and parents, as well as documentation studies. The data were analyzed through data condensation, data presentation, and conclusion drawing, while the credibility of the findings was examined through source and technique triangulation. The observed learning experiences revealed changes in how students interacted with media: attention during learning activities became more focused, discussions and peer interactions increased, and participation in learning activities became more collaborative. At the same time, the shared use of the media under teacher guidance reduced students’ tendency to consume digital content passively and without direction, which is associated with concerns about brain rot. These findings position Smart TV as an adaptive substitute medium with the potential to foster healthier digital media consumption habits while supporting the pedagogical use of technology in elementary education. ABSTRAK Ketika smartphone semakin dekat dengan keseharian siswa sekolah dasar, persoalan pembelajaran digital tidak lagi hanya berkaitan dengan akses teknologi, tetapi juga dengan kualitas pengalaman yang terbentuk dari penggunaannya. Penelitian ini menelaah pemanfaatan Smart TV di SDN 1 Jelantik sebagai alternatif untuk mengarahkan interaksi siswa dengan konten digital ke pengalaman belajar yang lebih terstruktur dan bermakna. Kajian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan desain case study, dengan informasi dihimpun melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam bersama kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua, serta studi dokumentasi. Data dianalisis melalui kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan temuan diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik. Pengalaman pembelajaran yang diamati memperlihatkan perubahan pada cara siswa berinteraksi dengan media: perhatian selama kegiatan belajar menjadi lebih terarah, diskusi dan interaksi antarsiswa meningkat, serta keterlibatan dalam aktivitas pembelajaran berlangsung lebih kolaboratif. Pada saat yang sama, penggunaan media secara bersama dan didampingi guru mengurangi kecenderungan siswa mengonsumsi konten digital secara pasif dan tidak terarah yang berkaitan dengan kekhawatiran mengenai brain rot. Temuan tersebut menempatkan Smart TV sebagai media substitusi adaptif yang berpotensi membangun kebiasaan konsumsi media digital yang lebih sehat sekaligus mendukung pemanfaatan teknologi secara pedagogis di sekolah dasar.
PENGARUH TEKNIK ROLE-PLAY TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN SPEAKING SKILLS MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BONE Syarifuddin Syarifuddin; Andi Suwarni
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13950

Abstract

ABSTRACT The ability to speak English is determined not only by mastery of linguistic elements but also by students’ willingness to engage in interaction. This study examines whether the role-play technique can strengthen both aspects among first-semester students of the Undergraduate English Education Study Program at Universitas Muhammadiyah Bone. A total of 56 students who participated in learning activities over six months during the First Semester of the 2025/2026 Academic Year were involved in a quantitative study employing a quasi-experimental non-equivalent control group design. The experimental and control groups each consisted of 28 students. Data were collected through a learning motivation questionnaire, a speaking test, and observation sheets, and were subsequently analyzed using descriptive statistics, normality and homogeneity tests, as well as Analysis of Covariance (ANCOVA) at α = 0.05. After controlling for initial scores, the role-play group demonstrated higher outcomes on both variables. The mean speaking skills score reached 87.07, compared with 63.96 in the control group, while the respective mean learning motivation scores were 90.07 and 76.75. These differences suggest that the learning experience created through role enactment extends beyond speech practice by providing students with opportunities to participate, experiment with language use, and sustain engagement throughout the learning process. Thus, role-play has the potential to serve as an approach that connects direct communication practice with the development of learning motivation and speaking ability in higher education. ABSTRAK Kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris tidak hanya ditentukan oleh penguasaan unsur kebahasaan, tetapi juga oleh kesediaan mahasiswa untuk terlibat dalam interaksi. Penelitian ini menelaah apakah teknik role-play mampu menguatkan kedua sisi tersebut pada mahasiswa semester pertama Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Bone. Sebanyak 56 mahasiswa yang mengikuti pembelajaran selama enam bulan pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 terlibat dalam penelitian kuantitatif dengan quasi-experimental non-equivalent control group design. Kelompok eksperimen dan kontrol masing-masing terdiri atas 28 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui angket motivasi belajar, tes speaking, dan lembar observasi, lalu diolah menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, serta Analysis of Covariance (ANCOVA) pada α = 0,05. Setelah skor awal dikendalikan, kelompok role-play memperlihatkan capaian yang lebih tinggi pada kedua variabel. Rerata speaking skills mencapai 87,07, sedangkan kelompok kontrol 63,96; pada motivasi belajar, rerata masing-masing sebesar 90,07 dan 76,75. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman belajar yang dibangun melalui pemeranan tidak berhenti pada latihan ujaran, tetapi turut menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi, mencoba menggunakan bahasa, dan mempertahankan keterlibatan selama pembelajaran. Dengan demikian, role-play berpotensi menjadi pendekatan yang mempertautkan praktik komunikasi langsung dengan perkembangan motivasi belajar dan kemampuan berbicara di perguruan tinggi.
ANALISIS PERAN GURU TERHADAP KEAKTIFAN KOGNITIF SISWA KELAS V SD BERBASIS WORDWALL PADA MODEL PROBLEM BASED LEARNING Rahmada Salsabillah Nurul Izzaty; Machfudzil Asror
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13962

Abstract

Cognitive engagement is a crucial element in the learning process because it impacts how well students understand concepts, think critically, and solve problems. However, observations in fifth-grade students at SDN Karangtanjung showed that students' cognition was still less active. This was evident in students' minimal attention during lessons, low courage to ask questions and express opinions, and lack of participation in discussions and problem-solving. This study aimed to explore the role of teachers in enhancing fifth-grade students' cognitive engagement at SDN Karangtanjung by implementing a Problem-Based Learning (PBL) model based on the Wordwall application. This study used a qualitative approach with a case study method. Data were obtained through interviews, observations, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings showed that teachers functioned as facilitators, motivators, guides, and assessors in each stage of PBL learning. Teachers were able to guide students to identify problems, direct group discussions, facilitate the use of the Wordwall application, and provide feedback on learning outcomes. The application of the PBL model with Wordwall has a positive effect on students' cognition, as demonstrated by an increase in their ability to generate ideas (fluency), apply various problem-solving strategies (flexibility), convey ideas (originality), explain their thinking (elaboration), and connect the material to everyday life (metaphorical thinking). In other words, the role of teachers through the application of the PBL model based on the Wordwall application can improve students' cognition and create more active, interactive, and meaningful learning. ABSTRAK Keaktifan kognitif adalah elemen penting dalam proses belajar karena berdam-pak pada seberapa baik siswa dapat memahami konsep, berpikir kritis, dan me-nyelesaikan masalah. Namun, observasi di kelas V SDN Karangtanjung menun-jukkan bahwa kognisi siswa masih kurang aktif. Hal ini terlihat dari perhatian siswa yang minim selama pelajaran, keberanian yang rendah untuk bertanya dan menyampaikan pendapat, serta kurangnya partisipasi dalam diskusi dan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran guru dalam meningkatkan keterlibatan kognitif siswa kelas V di SDN Karangtanjung dengan menerapkan model PBL berbasis aplikasi Wordwall. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman yang mencakup pengumpulan data, reduksi data, presentasi data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa guru telah berfungsi sebagai fasilitator, motivator, pembimbing, dan penilai dalam se-tiap tahap pembelajaran dengan PBL. Guru mampu membimbing siswa untuk mengenali masalah, mengarahkan diskusi kelompok, memfasilitasi penggunaan aplikasi Wordwall, dan memberikan umpan balik terhadap hasil belajar. Penera-pan model PBL dengan Wordwall memberikan efek positif pada kognisi siswa, yang ditunjukkan melalui peningkatan kemampuan dalam menghasilkan ide (fluency), menerapkan berbagai strategi penyelesaian masalah (flexibility), menyampaikan gagasan (originality), menjelaskan hasil pemikiran (elaboration), dan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari (pemikiran metaforis). Dengan kata lain, peranan guru melalui penerapan model PBL berbasis aplikasi Wordwall dapat meningkatkan kognisi siswa dan menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan memiliki makna
PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR PJOK MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF BERBASIS PERMAINAN BOLA KECIL Dea Arfina; Herita Warni; Akhmad Amirudin; Arie Rakhman
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14110

Abstract

The low participation of fifth-grade students at SDN 1 Landasan Ulin Utara in learning activities may affect the achievement of learning objectives. Although numerous studies have examined the implementation of collaborative learning models and game-based activities in Physical Education, Sports, and Health (PJOK), studies integrating collaborative learning with small-ball games to encourage active learning among elementary school students remain relatively limited. This study focuses on evaluating the effect of a collaborative learning model utilizing small-ball games on students’ learning activity levels. The study employed a quantitative approach with a One Group Pretest–Posttest Design. The research was conducted from May 18 to 25, 2026, during the second semester of the 2025/2026 academic year. All 30 fifth-grade students were included as research subjects. Data were collected using a learning activity observation sheet that had been assessed by validators prior to its use in the study. Data analysis was conducted using descriptive and inferential statistics, including the Shapiro–Wilk normality test, Levene’s homogeneity test, and Paired Samples t-test, with the assistance of IBM SPSS Statistics 26. The results showed an increase in the mean learning activity score from 23.17 to 34.07 following the implementation of the learning model. Hypothesis testing yielded a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a statistically significant difference between the scores before and after the treatment. These findings suggest that cooperative learning based on small-ball games can serve as an alternative approach to improving student learning activity in Physical Education at the elementary school level. ABSTRAK Rendahnya partisipasi peserta didik kelas V di SDN 1 Landasan Ulin Utara dalam mengikuti aktivitas pembelajaran dapat memengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran. Walaupun telah banyak riset yang mengulas penerapan model pembelajaran kolaboratif maupun aktivitas berbasis permainan dalam PJOK, studi yang mengintegrasikan pembelajaran kolaboratif dengan permainan bola kecil guna mendorong keaktifan belajar siswa sekolah dasar masih tergolong jarang. Studi ini berfokus pada evaluasi dampak model pembelajaran kolaboratif yang memanfaatkan permainan bola kecil terhadap tingkat keaktifan belajar para siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan One Group Pretest–Posttest Design. Penelitian dilaksanakan pada 18–25 Mei 2026, semester 2 tahun ajaran 2025/2026. Seluruh peserta didik kelas V yang berjumlah 30 orang dijadikan subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui lembar observasi keaktifan belajar yang telah memperoleh penilaian dari validator sebelum digunakan dalam penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial melalui uji normalitas Shapiro–Wilk, uji homogenitas Levene, serta Paired Sample t-test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 26. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor keaktifan belajar dari 23,17 menjadi 34,07 setelah pembelajaran diterapkan. Pengujian hipotesis menghasilkan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara hasil sebelum dan sesudah perlakuan. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif berbasis permainan bola kecil dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada pembelajaran PJOK di sekolah dasar.
PENGEMBANGAN E-LKPD BERBASIS DISCOVERY LEARNING PADA MATERI EKOSISTEM KELAS V SD Feti Aulia Fatimah; Rohana Rohana; Hendri Gunawan
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.14117

Abstract

ABSTRACT The limited use of digital learning materials in IPAS instruction at SD Negeri 1 Betung indicates the need for learning resources that encourage students not merely to receive information but to engage in the process of concept discovery. In response to this need, this study developed an Electronic Student Worksheet (E-LKPD) based on Discovery Learning through the Liveworksheets platform for the topic of Harmonious Ecosystems. The product was developed using a Research and Development (R&D) approach guided by the ADDIE model, comprising Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation. A total of 21 fifth-grade students participated in the product implementation. The quality of the E-LKPD was examined through expert validation, student responses, and learning achievement tests, with the data analyzed descriptively using percentages. The developed product achieved a validity score of 91.49% (highly valid) and a practicality score of 94.06% (highly practical). In the field implementation, 19 of 21 students achieved mastery, resulting in a classical mastery rate of 90.48%. Integrating the six Discovery Learning stages into Liveworksheets activities provided a structured learning experience that enabled students to observe, investigate, process information, and construct understanding more independently. The resulting E-LKPD can therefore serve as an alternative digital learning resource for more active and student-centered IPAS instruction in elementary schools. ABSTRAK Keterbatasan penggunaan bahan ajar digital dalam pembelajaran IPAS di SD Negeri 1 Betung memperlihatkan perlunya perangkat belajar yang dapat mengarahkan peserta didik tidak sekadar menerima materi, tetapi terlibat dalam proses menemukan konsep. Atas kebutuhan tersebut, penelitian ini mengembangkan E-Lembar Kerja Peserta Didik (E-LKPD) berbasis Discovery Learning melalui platform Liveworksheets pada materi Ekosistem yang Harmonis. Produk dirancang dengan pendekatan Research and Development (R&D) menggunakan model ADDIE, yang mencakup Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Sebanyak 21 peserta didik kelas V terlibat dalam penerapan produk. Kualitas E-LKPD ditelaah melalui validasi ahli, respons peserta didik, dan tes hasil belajar, dengan data dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase. Hasil pengembangan memperlihatkan tingkat validitas 91,49% (sangat valid) dan kepraktisan 94,06% (sangat praktis). Pada penerapan lapangan, 19 dari 21 peserta didik mencapai ketuntasan, menghasilkan ketuntasan klasikal 90,48%. Integrasi enam sintaks Discovery Learning ke dalam aktivitas Liveworksheets memberikan struktur belajar yang memungkinkan peserta didik mengamati, menyelidiki, mengolah informasi, dan membangun pemahaman secara lebih mandiri. E-LKPD yang dihasilkan dengan demikian dapat menjadi alternatif bahan ajar digital untuk pembelajaran IPAS sekolah dasar yang lebih aktif dan berpusat pada peserta didik.