cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 844 Documents
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 16 BONE Ulfa Syahra; Muhammad Ali; Romi Adiansyah
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14243

Abstract

ABSTRACT Biology learning outcomes within the same group of students may reveal interesting patterns when viewed from a psychological perspective. In class X.E1 at SMA Negeri 16 Bone, most students demonstrated moderate levels of self-efficacy and emotional intelligence, while their biology learning outcomes tended to fall within the good category. This condition prompted an empirical examination of the relationship between these two psychological aspects and learning outcomes during the 2025/2026 academic year. This quantitative study employed a correlational design involving 33 students selected through purposive sampling from a population of 129 Grade X students. Self-efficacy and emotional intelligence were measured using Likert-scale questionnaires, while learning outcomes were obtained from documented Biology Mid-Semester Examination (UTS) scores. The Shapiro-Wilk test yielded a significance value of 0.004 for the learning outcome data; therefore, the relationships were analyzed using Spearman Rank correlation. Self-efficacy showed a correlation coefficient of 0.021 with p = 0.910, whereas emotional intelligence had a coefficient of 0.265 with p = 0.136. Neither relationship was statistically significant at the 0.05 level. These findings indicate that biology learning outcomes in the study group cannot be statistically explained by self-efficacy or emotional intelligence alone. Other learning-related factors and student characteristics should also be considered when understanding academic achievement. ABSTRAK Capaian belajar biologi pada kelompok siswa yang sama dapat memperlihatkan kondisi yang menarik ketika ditinjau dari aspek psikologis. Pada kelas X.E1 SMA Negeri 16 Bone, sebagian besar siswa memiliki efikasi diri dan kecerdasan emosional pada tingkat sedang, sementara capaian biologi cenderung berada pada kategori baik. Kondisi tersebut mendorong pengujian empiris terhadap keterkaitan kedua aspek psikologis tersebut dengan hasil belajar selama Tahun Ajaran 2025/2026. Penelitian kuantitatif berdesain korelasional ini melibatkan 33 siswa yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 129 siswa kelas X. Efikasi diri dan kecerdasan emosional diukur menggunakan angket Likert, sedangkan hasil belajar diperoleh dari dokumentasi nilai Ujian Tengah Semester (UTS) Biologi. Pemeriksaan distribusi menggunakan Shapiro-Wilk menghasilkan signifikansi 0,004 pada data hasil belajar, sehingga analisis hubungan dilakukan dengan korelasi Spearman Rank. Efikasi diri menunjukkan koefisien korelasi 0,021 dengan p = 0,910, sedangkan kecerdasan emosional memiliki koefisien 0,265 dengan p = 0,136. Kedua hubungan tersebut tidak signifikan pada taraf 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa capaian biologi pada kelompok penelitian belum dapat diterangkan secara statistik melalui efikasi diri maupun kecerdasan emosional. Faktor pembelajaran dan karakteristik peserta didik lainnya perlu turut dipertimbangkan dalam memahami capaian akademik.
ANALISIS PENERAPAN DISCOVERY LEARNING BERBASIS DEEP LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VII Iktamala Varah Aisy Aninda; Nurul Ratnawati
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14249

Abstract

ABSTRACT Social Studies learning that combines discovery processes with deep learning experiences provides considerable opportunities for students to engage in critical thinking skills. This study examines this process among seventh-grade students in class VII-D using a descriptive qualitative approach, involving one Social Studies teacher and ten students selected through purposive sampling. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and their trustworthiness was examined through source and technique triangulation. The learning process was carried out through six stages of Discovery Learning, namely stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, and generalization, supported by the “Social Detective” student worksheet, videos, online news, question cards, and Google Forms. All of Facione’s critical thinking indicators emerged during the learning activities. Interpretation was the most prominent indicator, whereas self-regulation was relatively limited because some students still required guiding questions. Teacher readiness, contextual worksheets, and diverse learning resources supported the implementation, while unfocused use of mobile phones, difficulties in understanding worksheet instructions, and the dominance of certain group members became obstacles affecting students’ independence and equitable participation during learning. These findings indicate that integrating Discovery Learning and Deep Learning can strengthen investigation, discussion, presentation, and reflection, with self-regulation remaining an aspect that needs further development. ABSTRAK Pembelajaran IPS yang menggabungkan proses penemuan dengan pengalaman belajar mendalam memperlihatkan ruang yang cukup luas bagi siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini menelaah proses tersebut pada siswa kelas VII-D melalui pendekatan kualitatif deskriptif, dengan melibatkan seorang guru IPS dan sepuluh siswa yang dipilih secara purposive sampling. Informasi penelitian dihimpun melalui observasi, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi, kemudian diuji keterpercayaannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Pelaksanaan pembelajaran berlangsung dalam enam tahap Discovery Learning, yakni stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization, dengan dukungan LKPD “Detektif Sosial”, video, berita daring, kartu pertanyaan, dan Google Form. Seluruh indikator berpikir kritis Facione muncul dalam aktivitas belajar. Interpretasi tampak paling menonjol, sedangkan regulasi diri relatif terbatas karena sebagian siswa masih membutuhkan pertanyaan pemandu. Kesiapan guru, LKPD kontekstual, serta keragaman sumber belajar mendukung pelaksanaan, sementara penggunaan handphone yang kurang terarah, kesulitan memahami instruksi LKPD, dan dominasi anggota tertentu dalam diskusi menjadi hambatan yang memengaruhi kemandirian dan pemerataan keterlibatan siswa selama pembelajaran. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa integrasi Discovery Learning dan Deep Learning dapat menguatkan proses penyelidikan, diskusi, presentasi, dan refleksi, dengan regulasi diri sebagai aspek yang perlu diperkuat.
PENGARUH PENGUATAN KARAKTER SISWA SEKOLA DASAR MELALUI PEMBELAJARAN DEEP LEARNING BERBASIS ISU BULLYING Desi Noviyanti; Zuyyina Fihayati
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14270

Abstract

ABSTRACT Character strengthening in elementary schools can be fostered through learning experiences that engage students with social issues closely connected to their everyday lives. This study examines the use of Deep Learning with bullying issues as a context for strengthening the character of fourth-grade students at SD Negeri Suko II. A quantitative approach was employed using a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The population consisted of 102 students distributed across three classes, while the data analyzed were obtained from 68 students, comprising 33 students in the experimental group and 35 students in the control group. Participants were selected through probability sampling using the simple random sampling technique. Data were collected using a character-strengthening test administered before and after the learning intervention. The experimental group engaged in learning activities involving bullying case analysis, discussion, collaboration, and reflection, whereas the control group received conventional instruction. Score improvement was analyzed using N-Gain, while differences in posttest achievement were examined using the Mann–Whitney U test. The experimental group achieved an N-Gain of 0.76 (76.68%), categorized as high, while the control group obtained 0.43 (43.36%), categorized as moderate. The Mann–Whitney test produced an Asymp. Sig. (2-tailed) value of < 0.001, indicating a statistically significant difference in posttest achievement between the two groups. These findings position Deep Learning based on bullying issues as a contextual approach with potential to support character strengthening among elementary school students. ABSTRAK Penguatan karakter di sekolah dasar dapat ditempatkan dalam pengalaman belajar yang mempertemukan siswa dengan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan mereka. Penelitian ini menelaah penggunaan pembelajaran Deep Learning dengan isu bullying sebagai konteks untuk memperkuat karakter siswa kelas IV di SD Negeri Suko II. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan quasi experimental nonequivalent control group. Populasi terdiri atas 102 siswa dalam tiga kelas, sedangkan data penelitian dianalisis dari 68 siswa yang terdiri atas 33 siswa kelompok eksperimen dan 35 siswa kelompok kontrol. Pemilihan peserta dilakukan melalui probability sampling dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui tes penguatan karakter yang diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran. Kelompok eksperimen mengikuti pembelajaran melalui analisis kasus bullying, diskusi, kolaborasi, dan refleksi, sedangkan kelompok kontrol mengikuti pembelajaran konvensional. Peningkatan skor dianalisis menggunakan N-Gain, sementara perbedaan capaian posttest diuji dengan Mann–Whitney U. Kelompok eksperimen memperoleh N-Gain sebesar 0,76 (76,68%) dalam kategori tinggi, sedangkan kelompok kontrol sebesar 0,43 (43,36%) dalam kategori sedang. Uji Mann–Whitney menghasilkan Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,001, yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada capaian posttest kedua kelompok. Temuan ini menempatkan pembelajaran Deep Learning berbasis isu bullying sebagai pendekatan kontekstual yang berpotensi mendukung penguatan karakter siswa sekolah dasar.
MODAL PSIKOLOGIS DAN KETERIKATAN KERJA PADA GURU: TREN, TANTANGAN, DAN ARAH PENELITIAN SELANJUTNYA Gusmilizar Gusmilizar; Sarah Wulan
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14281

Abstract

ABSTRACT Teacher work engagement develops within a professional setting where job demands intersect with psychological capacities and support from the school environment. This review examines how psychological capital is associated with teacher work engagement while mapping the factors surrounding this relationship and identifying areas for further research. The literature search was conducted through Google Scholar, Scopus, SINTA, and GARUDA using keywords related to psychological capital, psychological capital, work engagement, work engagement, teachers, and teacher. From approximately 70 initial sources, 30 references were selected based on topic alignment, relevance, completeness of information, and source eligibility. All selected references were analyzed using a descriptive qualitative approach involving the identification of key information, coding, thematic grouping, data presentation, and cross-study synthesis. The findings reveal a positive tendency in the relationship between psychological capital and work engagement, although the pattern is not uniform. Emotion regulation, work meaningfulness, organizational support, leadership, and psychological well-being also shape this relationship, while stress and burnout emerge as conditions that may hinder teacher engagement. These findings suggest that strengthening work engagement requires more than developing individual capacities; it also calls for a supportive school environment. Future studies should examine these mechanisms through longitudinal and intervention-based designs, particularly within the Indonesian educational context. ABSTRAK Keterikatan kerja guru terbentuk dalam ruang profesional yang mempertemukan tuntutan pekerjaan dengan kapasitas psikologis dan dukungan lingkungan sekolah. Kajian ini menelaah bagaimana modal psikologis berhubungan dengan keterikatan kerja guru, sekaligus memetakan faktor yang menyertai hubungan tersebut dan ruang pengembangan penelitian. Penelusuran dilakukan melalui Google Scholar, Scopus, SINTA, dan GARUDA dengan kata kunci terkait modal psikologis, psychological capital, keterikatan kerja, work engagement, guru, dan teacher. Dari sekitar 70 sumber awal, 30 rujukan dipilih setelah mempertimbangkan kesesuaian topik, relevansi, kelengkapan informasi, dan kelayakan sumber. Seluruh rujukan dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui identifikasi informasi utama, pengodean, pengelompokan tema, penyajian data, dan sintesis antartemuan. Hasil kajian memperlihatkan kecenderungan hubungan positif antara modal psikologis dan keterikatan kerja, tetapi pola tersebut tidak bersifat seragam. Regulasi emosi, kebermaknaan kerja, dukungan organisasi, kepemimpinan, serta kondisi kesejahteraan psikologis turut membentuk jalur hubungan tersebut, sementara stres dan burnout menjadi kondisi yang dapat menghambat keterlibatan guru. Temuan ini mengarah pada pemahaman bahwa penguatan keterikatan kerja tidak cukup melalui pengembangan kapasitas individual, tetapi perlu disertai lingkungan sekolah yang mendukung. Kajian berikutnya perlu menguji mekanisme tersebut melalui desain longitudinal dan intervensi, khususnya dalam konteks pendidikan Indonesia.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE TERHADAP KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGANALISIS CERITA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA Dinar Mufidatus Sholiha; Ruri Fadhilah Kurniati; Mohammad Setyo Wardono
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14341

Abstract

The ability to analyze stories is an important skill in Indonesian language learning because it requires students to identify and interpret intrinsic elements of a narrative. However, students at the elementary school level may experience difficulties in analyzing story content when learning activities are less engaging and provide limited opportunities for active participation. This study aimed to examine the effect of the Picture and Picture learning model on third-grade students’ story analysis skills in Indonesian language learning. The study employed a quantitative approach with a pre-experimental design using a one-group pretest-posttest design. Data were collected through tests, observations, and documentation and analyzed using the Shapiro-Wilk normality test and paired-sample t-test. The findings indicate that the implementation of the Picture and Picture learning model was associated with an improvement in students’ ability to analyze stories. The statistical analysis also demonstrated a significant difference between students’ performance before and after the implementation of the learning model. These findings suggest that the Picture and Picture model can support students in understanding and analyzing intrinsic elements of stories through visual, structured, and interactive learning activities. The model may therefore serve as an alternative instructional approach for strengthening elementary students’ story analysis skills in Indonesian language learning. ABSTRAK Kemampuan menganalisis cerita merupakan salah satu keterampilan penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena berkaitan dengan kemampuan siswa memahami dan menghubungkan berbagai unsur dalam teks. Namun, kemampuan siswa dalam menganalisis unsur intrinsik cerita masih menjadi tantangan dalam pembelajaran di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran picture and picture terhadap kemampuan menganalisis cerita pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas 3 SDN Pucang IV Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Sampel penelitian terdiri atas 25 siswa kelas 3-A yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menganalisis cerita siswa mengalami peningkatan setelah penerapan model picture and picture. Pengujian statistik juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan siswa sebelum dan setelah penerapan model. Pencapaian indikator menunjukkan bahwa siswa mampu mengidentifikasi berbagai unsur intrinsik cerita, meskipun tingkat penguasaan pada setiap indikator masih beragam. Temuan ini menunjukkan bahwa model picture and picture dapat menjadi alternatif pembelajaran yang membantu siswa memahami dan menganalisis cerita melalui aktivitas visual yang terstruktur.
IMPLEMENTATION OF PLAY-BASED LEARNING NEUROSCIENCE TO IMPROVE LEARNING FOCUS OF 5-6 YEAR OLD CHILDREN AT MUSLIMAT NU 57 WULUHAN Millati Khimayatuna; Wijaya Adi Putra; Rizki Sevi Triana
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14380

Abstract

Learning focus is an important aspect of children's readiness to participate in learning activities, yet the active and easily distracted characteristics of children aged 5–6 years can make sustained attention challenging in early childhood classrooms. Therefore, learning approaches that correspond to children's developmental characteristics while providing active and enjoyable experiences are needed. This study aimed to describe the implementation of Play-Based Neuroscience Learning in supporting children's learning focus at TK Muslimat NU 57. The study employed a qualitative descriptive approach with a case study design. The participants consisted of 12 children aged 5–6 years in Group B, with seven supporting informants consisting of one school principal, two classroom teachers, and four parents. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation and analyzed using an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicated positive changes in children's learning focus following the implementation of activities integrating movement, music, colors, sensory stimulation, and collaborative play. Specifically, 92% of the children were able to follow teacher instructions appropriately, 83% were able to maintain attention during learning activities, 83% actively participated, 75% were able to complete activities independently, and 83% were able to maintain concentration without being easily distracted. Overall, Play-Based Neuroscience Learning provided interactive, enjoyable, and developmentally appropriate learning experiences that supported children's learning focus and engagement in classroom activities. ABSTRAK Fokus belajar merupakan aspek penting dalam kesiapan anak usia 5–6 tahun untuk mengikuti proses pembelajaran, tetapi karakteristik perkembangan anak yang aktif dan mudah terdistraksi dapat menjadi tantangan dalam mempertahankan perhatian selama kegiatan kelas. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak sekaligus memberikan pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Play-Based Neuroscience Learning dalam mendukung fokus belajar anak usia 5–6 tahun di TK Muslimat NU 57. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas 12 anak Kelompok B berusia 5–6 tahun, dengan tujuh informan pendukung yang terdiri atas satu kepala sekolah, dua guru, dan empat orang tua. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan positif pada fokus belajar anak setelah penerapan pembelajaran yang mengintegrasikan gerakan, musik, warna, stimulasi sensorik, dan permainan kolaboratif. Sebanyak 92% anak mampu mengikuti instruksi guru dengan baik, 83% mampu mempertahankan perhatian selama kegiatan pembelajaran, 83% aktif berpartisipasi, 75% mampu menyelesaikan kegiatan secara mandiri, dan 83% mampu mempertahankan konsentrasi tanpa mudah terdistraksi. Secara keseluruhan, Play-Based Neuroscience Learning memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini serta mendukung fokus dan keterlibatan anak dalam pembelajaran.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MENDALAM PASCAPELATIHAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA: STUDI KASUS DI SMP NEGERI 2 PARITTIGA KABUPATEN BANGKA BARAT Sulastri Sulastri
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14389

Abstract

The implementation of deep learning has become a strategic effort to improve the quality of teaching and learning by fostering critical thinking, problem-solving, reflection, and meaningful learning experiences. The successful implementation of this approach is influenced by teachers' understanding, classroom practices, and the supporting and inhibiting factors encountered in schools. This study aimed to analyze teachers' understanding of the deep learning concept, the implementation of deep learning after professional training, and the factors influencing its implementation at SMP Negeri 2 Parittiga, West Bangka Regency. This study employed a qualitative approach with a case study design. Informants were selected purposively and consisted of the principal, teachers, and other relevant stakeholders. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, including data condensation, data display, and conclusion drawing. Data trustworthiness was ensured through source, technique, and time triangulation. The findings revealed that teachers had a good understanding of the deep learning concept and were able to implement the principles of mindful learning, meaningful learning, and joyful learning in classroom practices. The implementation was reflected through student-centered learning, discussion, inquiry, problem-solving, collaborative activities, and reflective learning. Supporting factors included teachers' adaptive competencies, principal leadership, continuous professional development, and professional learning communities. Meanwhile, limited internet access, inadequate infrastructure, and insufficient time for lesson planning were identified as the main barriers. This study concludes that successful implementation of deep learning requires the integration of teacher professional competence, school leadership support, adequate infrastructure, and a collaborative school culture to ensure sustainable and effective learning practices. ABSTRAK Implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, refleksi, serta pengalaman belajar yang bermakna. Keberhasilan implementasi pendekatan ini sangat dipengaruhi oleh pemahaman guru, keterlaksanaan proses pembelajaran, serta faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat pelaksanaannya di sekolah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran mendalam, keterlaksanaan pembelajaran mendalam pasca pelatihan, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasinya di SMP Negeri 2 Parittiga, Kabupaten Bangka Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan pihak terkait. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep pembelajaran mendalam dan mampu mengimplementasikan prinsip mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning dalam proses pembelajaran. Implementasi dilakukan melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diskusi, inkuiri, pemecahan masalah, kolaborasi, serta refleksi pembelajaran. Faktor pendukung implementasi meliputi kompetensi guru yang adaptif, dukungan kepala sekolah, pelatihan berkelanjutan, dan keberadaan komunitas belajar. Sementara itu, keterbatasan akses internet, sarana pendukung, serta waktu perencanaan pembelajaran menjadi faktor penghambat utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi pembelajaran mendalam memerlukan sinergi antara peningkatan kompetensi guru, dukungan manajemen sekolah, penyediaan infrastruktur, dan penguatan budaya kolaboratif agar pelaksanaannya berlangsung secara optimal dan berkelanjutan.
ANALISIS KOSAKATA DAN TATA BAHASA BERITA POLITIK SUMATERA EKSPRES: KAJIAN ROGER FOWLER Dewi Anggraini; Melly Destryani Utami; Sonia Sonia; Mustika Mira Rosa; Tessa Janetha; Doni Samaya
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14493

Abstract

Language in mass media functions not only as a means of conveying information but also as a tool for constructing social reality and shaping public perceptions of events. In reporting government policies, the media may employ specific vocabulary and grammatical structures to construct representations of the government and the social realities being reported. This study aims to describe the use of vocabulary and grammar in government policy news published in Koran Sumatera Ekspres on May 21, 2026, based on Roger Fowler’s Critical Discourse Analysis theory. This research employed a descriptive qualitative approach using the Critical Discourse Analysis method. The data source consisted of five government policy news articles published in Koran Sumatera Ekspres on May 21, 2026. Data were collected through documentation, reading, and note-taking techniques and analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings revealed 29 data items consisting of 16 vocabulary data and 13 grammatical data. In terms of vocabulary, 11 viewpoint-limiting vocabulary items and 5 classification vocabulary items were identified. Viewpoint-limiting vocabulary was used to construct a positive image of government policies, while classification vocabulary categorized social realities into specific groups. In terms of grammar, 9 active sentences and 4 passive sentences were found. Active sentences highlighted the government as the main actor in various actions and policies, whereas passive sentences emphasized the implementation of programs and policies. The findings indicate that Koran Sumatera Ekspres represents the government as an active, responsive, and community-oriented actor. This study demonstrates that media language plays an important role in constructing social reality and influencing readers’ perceptions of government policies. ABSTRAK Bahasa dalam media massa tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai alat untuk membentuk realitas sosial dan cara pandang masyarakat terhadap suatu peristiwa. Dalam pemberitaan kebijakan pemerintahan, media dapat menggunakan pilihan kosakata dan struktur tata bahasa tertentu untuk membangun representasi terhadap pemerintah maupun realitas sosial yang diberitakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan kosakata dan tata bahasa dalam berita kebijakan pemerintahan pada Koran Sumatera Ekspres edisi 21 Mei 2026 berdasarkan teori Analisis Wacana Kritis Roger Fowler. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis. Sumber data penelitian berupa lima berita kebijakan pemerintahan yang dimuat dalam Koran Sumatera Ekspres edisi 21 Mei 2026. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, baca, dan catat, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 28 data temuan yang terdiri atas 15 data kosakata dan 13 data tata bahasa. Pada aspek kosakata ditemukan 4 data kosakata pembatas pandangan dan 11 data kosakata klasifikasi. Kosakata pembatas pandangan digunakan untuk membangun citra positif terhadap kebijakan pemerintah, sedangkan kosakata klasifikasi digunakan untuk mengategorikan realitas sosial ke dalam kategori tertentu. Pada aspek tata bahasa ditemukan 9 data kalimat aktif dan 4 data kalimat pasif. Kalimat aktif digunakan untuk menampilkan pemerintah sebagai aktor utama dalam berbagai tindakan dan kebijakan, sedangkan kalimat pasif digunakan untuk menonjolkan program atau kebijakan yang sedang dilaksanakan. Berdasarkan hasil penelitian, Koran Sumatera Ekspres merepresentasikan pemerintah sebagai aktor yang aktif, responsif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa media berperan penting dalam membangun realitas sosial serta memengaruhi cara pandang pembaca terhadap kebijakan pemerintahan.    
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL INTERAKTIF BERBASIS KOLABORASI TERSTRUKTUR UNTUK MENINGKATKAN SOCIAL EMOTIONAL LEARNING (SEL) PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR Apit Dulyapit; Otib Satibi Hidayat; Kamaludin Kamaludin; Mira Amelia Amri
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14501

Abstract

Digital learning practices in elementary schools remain predominantly oriented toward cognitive content delivery, while students' social-emotional dimensions have not been systematically integrated. This quantitative study utilized a quasi-experimental pretest-posttest control group design to analyze the effect of an interactive digital learning model based on structured collaboration on improving students' Social Emotional Learning (SEL) competencies. The subjects comprised 60 fifth-grade students at SDN Cipinang Besar Utara 08, East Jakarta, divided equally into an experimental group (taught with the collaborative interactive digital model) and a control group (taught with conventional instruction). Data were gathered using a five-dimension SEL questionnaire, social interaction observation sheets, and interviews, then analyzed using t-tests and gain scores. The results revealed a mean SEL score gain of 20.4 points in the experimental group (from 58.2 to 78.6), compared to a 13.8-point gain in the control group (from 56.5 to 70.3). The highest improvements were observed in relationship skills and social awareness indicators. The main conclusion indicates that the interactive digital learning model based on structured collaboration effectively enhances elementary students' SEL competencies. This study underscores the importance of transforming digital technology into a meaningful space for social interaction and humanistic character building in primary education. ABSTRAK Praktik pembelajaran digital di sekolah dasar masih dominan berorientasi pada penyampaian materi kognitif, sementara dimensi sosial-emosional peserta didik belum terintegrasi secara sistematis. Penelitian kuantitatif eksperimen semu (quasi-experiment) dengan desain pretest-posttest control group ini bertujuan menganalisis pengaruh model pembelajaran digital interaktif berbasis kolaborasi terstruktur terhadap peningkatan kompetensi Social Emotional Learning (SEL) peserta didik. Subjek penelitian terdiri atas 60 peserta didik kelas V SDN Cipinang Besar Utara 08 Jakarta Timur yang dibagi secara seimbang menjadi kelompok eksperimen (pembelajaran digital interaktif kolaboratif) dan kelompok kontrol (pembelajaran konvensional). Data dikumpulkan melalui angket SEL lima dimensi, lembar observasi interaksi sosial, serta wawancara, kemudian dianalisis menggunakan uji-t dan gain score. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan mean skor SEL kelompok eksperimen sebesar 20,4 poin (dari 58,2 menjadi 78,6), sedangkan kelompok kontrol meningkat 13,8 poin (dari 56,5 menjadi 70,3). Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator relationship skills dan social awareness. Simpulan utama memperlihatkan bahwa model pembelajaran digital interaktif berbasis kolaborasi terstruktur efektif meningkatkan kompetensi SEL peserta didik. Penelitian ini menegaskan pentingnya mentransformasi teknologi digital menjadi ruang interaksi sosial yang bermakna dan berorientasi pada penguatan karakter humanis di sekolah dasar.  
PENGARUH AUDIOVISUAL TERHADAP KETERAMPILAN MENYIMPULKAN TEKS BERITA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 10 SUNGAI KAKAP Putri Claudia Ananta; Muhammad Thamimi; Saptiana Sulastri
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14506

Abstract

This study aimed to analyze the effect of audiovisual media on the news text summarizing skills of eighth-grade students at SMP Negeri 10 Sungai Kakap. The study was motivated by students’ difficulties in identifying the 5W+1H elements and producing coherent summaries based on news texts. A quantitative approach was employed using a pre-experimental method with a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 30 students from Class VIII A selected through purposive sampling. Data were collected through tests, observation, and documentation. The research instruments were first validated using the Item Content Validity Index (I-CVI) and the Scale Content Validity Index (S-CVI). Data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test and the Wilcoxon Signed Rank Test with SPSS version 27. The results showed that the students’ mean score increased from 49 on the pretest to 83 on the posttest. The Wilcoxon test yielded an Asymp. Sig. (2-tailed) value of < 0.001, indicating a statistically significant difference between the pretest and posttest scores. Furthermore, the N-Gain score was 0.67, which falls into the moderate category, indicating that audiovisual media were moderately effective in improving students’ news text summarizing skills. Therefore, audiovisual media can be considered an effective alternative for teaching Indonesian language, particularly in news text learning. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan media audiovisual terhadap keterampilan menyimpulkan teks berita pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sungai Kakap. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi unsur-unsur 5W+1H serta menyusun simpulan secara runtut sesuai isi berita. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-eksperimental melalui rancangan one-group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 peserta didik kelas VIII A yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui tes, observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas isi menggunakan Item Content Validity Index (I-CVI) dan Scale Content Validity Index (S-CVI). Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk dan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata peserta didik meningkat dari 49 pada pretest menjadi 83 pada posttest. Hasil uji Wilcoxon memperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,001 yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Selain itu, nilai N-Gain sebesar 0,67 termasuk kategori sedang, yang menunjukkan bahwa penggunaan media audiovisual cukup efektif dalam meningkatkan keterampilan menyimpulkan teks berita. Dengan demikian, media audiovisual dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi teks berita.