cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS
ISSN : 27979431     EISSN : 27978842     DOI : https://doi.org/10.51878/social.v1i2.447
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 574 Documents
IMPLEMENTASI CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING DALAM PEMBELAJARAN PPKN UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI PANCASILA PADA SISWA SDN 11 WOJA Harnaningsih Harnaningsih; Ady Irawan; A. Gafar Hidayat
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.12314

Abstract

ABSTRACT Instilling Pancasila values through Civic and Pancasila Education (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan/PPKn) in elementary schools is expected to develop students into individuals with strong character and a firm commitment to national values. However, current instructional practices remain predominantly content-oriented and have not fully accommodated students' cultural backgrounds as meaningful learning resources. As a result, the internalization of national values has not been achieved optimally. This study aimed to describe the implementation of Culturally Responsive Teaching (CRT) in PPKn learning to foster national values among students at SDN 11 Woja and to identify the supporting and inhibiting factors influencing its implementation. This study employed a descriptive qualitative approach involving the principal, classroom teachers, and students as research participants. Data were collected through observations, interviews, and documentation, and analyzed using an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that implementing Culturally Responsive Teaching by integrating local culture, students' social experiences, and contextual learning activities creates a more inclusive, participatory, and meaningful learning environment. This approach contributes to strengthening national values, including mutual cooperation, tolerance, responsibility, patriotism, and respect for diversity. Successful implementation was supported by teachers' commitment, a conducive school environment, and the use of local culture as a learning resource, while limited instructional media and teachers' understanding of CRT remained significant challenges. These findings demonstrate that Culturally Responsive Teaching is an effective instructional approach for strengthening the internalization of national values through culturally based PPKn learning in elementary schools. ABSTRAK Penanaman nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah dasar diharapkan mampu membentuk peserta didik yang berkarakter dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Namun, praktik pembelajaran masih cenderung berorientasi pada penguasaan materi sehingga belum sepenuhnya mengakomodasi latar belakang budaya peserta didik sebagai sumber belajar yang bermakna. Kondisi tersebut menyebabkan proses internalisasi nilai-nilai kebangsaan belum berlangsung secara optimal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Culturally Responsive Teaching dalam pembelajaran PPKn untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan pada siswa SDN 11 Woja serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan kepala sekolah, guru kelas, dan siswa sebagai subjek penelitian. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Culturally Responsive Teaching melalui integrasi budaya lokal, pengalaman sosial peserta didik, serta aktivitas pembelajaran kontekstual mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif, partisipatif, dan bermakna. Pendekatan ini berkontribusi terhadap penguatan nilai gotong royong, toleransi, tanggung jawab, cinta tanah air, dan penghargaan terhadap keberagaman. Keberhasilan implementasi didukung oleh komitmen guru, lingkungan sekolah yang kondusif, serta pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber belajar, sedangkan keterbatasan media pembelajaran dan pemahaman guru mengenai konsep Culturally Responsive Teaching masih menjadi kendala. Temuan ini menunjukkan bahwa Culturally Responsive Teaching merupakan pendekatan yang relevan untuk memperkuat internalisasi nilai-nilai kebangsaan melalui pembelajaran PPKn berbasis budaya lokal di sekolah dasar.
PEMBENTUKAN NILAI KARAKTER GOTONG ROYONG PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA KELAS V Juliana Putri Irmawanti; Rury Rizhardi; Hermansyah Hermansyah
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.12472

Abstract

ABSTRACT Pancasila Education in elementary schools is expected not only to foster students' conceptual understanding but also to provide meaningful learning experiences that cultivate the value of mutual cooperation in authentic situations. In practice, however, students' habits of collaborating, demonstrating social concern, and sharing responsibilities have not consistently developed, indicating the need for learning activities that connect collaborative experiences with contexts familiar to their daily lives. This study examined the process of fostering mutual cooperation character values through a project involving the creation of an Ampera Bridge wall decoration in a fifth-grade classroom at SD Negeri 60 Palembang. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observations, interviews, questionnaires, and documentation. The data were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing, supported by source and technique triangulation to enhance the trustworthiness of the findings. The learning process demonstrated the development of collaboration, empathy, and responsibility as students worked together to complete the project. Questionnaire findings revealed that one student was classified in the very good category, nineteen students in the good category, and four students in the fair category, with an overall achievement score of 87.77%, categorized as very good. Character development was strengthened by students' positive habits, teachers' guidance, parental support, and peer interaction, whereas family circumstances, the school environment, excessive technology use, and individualistic tendencies emerged as inhibiting factors. These findings indicate that collaborative project-based learning integrating local cultural contexts effectively strengthens the internalization of mutual cooperation character values while making Pancasila Education more contextual and meaningful for elementary school students. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar diharapkan tidak hanya membangun pemahaman konseptual, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang mampu menumbuhkan karakter gotong royong dalam situasi nyata. Kenyataannya, pembiasaan bekerja sama, menunjukkan kepedulian, dan berbagi tanggung jawab belum selalu berkembang secara optimal sehingga diperlukan pembelajaran yang mengaitkan aktivitas kolaboratif dengan konteks yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Penelitian ini memusatkan perhatian pada proses pembentukan nilai karakter gotong royong melalui projek pembuatan hiasan dinding Jembatan Ampera di kelas V SD Negeri 60 Palembang. Kajian dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi sebagai sumber data yang dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik. Dinamika pembelajaran memperlihatkan berkembangnya kerja sama, empati, dan tanggung jawab selama peserta didik terlibat dalam penyelesaian projek secara berkelompok. Hasil angket menunjukkan 1 siswa berada pada kategori sangat baik, 19 siswa kategori baik, dan 4 siswa kategori cukup, dengan capaian keseluruhan sebesar 87,77% pada kategori sangat baik. Pembentukan karakter dipengaruhi oleh pembiasaan positif peserta didik, peran guru, pola asuh orang tua, dan interaksi antarteman, sedangkan lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, penggunaan teknologi yang berlebihan, serta kecenderungan perilaku individualistis menjadi faktor penghambat. Temuan ini menegaskan bahwa aktivitas kolaboratif berbasis projek yang memanfaatkan budaya lokal mampu memperkuat internalisasi nilai karakter gotong royong sekaligus menjadikan pembelajaran Pendidikan Pancasila lebih kontekstual dan bermakna bagi peserta didik sekolah dasar.
SOCIAL DISTRUST DAN PUBLIC LIE SEBAGAI ANCAMAN TERSEMBUNYI BAGI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI: ANALISIS DAMPAK TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK DI ERA DIGITAL Rita Jahiti Tanjung; Rusli Yusuf; Ishak Ishak; Masrizal Masrizal
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13042

Abstract

ABSTRACT The digital era has transformed the patterns of social interaction among early childhood children through increased exposure to technology and digital information. Amid these developments, the phenomena of social distrust and public lie have emerged as hidden threats that may influence children's psychosocial development. This study aims to analyze how social distrust and public lie are discussed in the literature as factors affecting early childhood psychosocial development, identify the mechanisms through which they influence the development of trust, autonomy, and initiative, and examine the mitigation strategies recommended for educators and parents. This study employed a literature review method by analyzing Scopus-indexed scholarly articles published between 2019 and 2026. The analysis was conducted using the content analysis technique on studies discussing children's psychosocial development, lying behavior, parenting by lying, moral education, and the digital environment. The findings indicate that social distrust and public lie can reduce children's trust in authority figures, hinder the development of autonomy, and weaken social initiative. The digital environment further amplifies these risks by exposing children to information that is not always credible or appropriate for their developmental stage. Nevertheless, these negative impacts can be minimized through honesty-based moral education, strengthened digital literacy, positive role modeling by teachers and parents, and effective collaboration between families and early childhood education institutions. This review emphasizes that social trust constitutes a fundamental foundation for children's psychosocial development and should receive greater attention in the implementation of early childhood education in the digital era. ABSTRAK Era digital telah mengubah pola interaksi sosial anak usia dini melalui meningkatnya paparan teknologi dan informasi digital. Di tengah perkembangan tersebut, fenomena social distrust (ketidakpercayaan sosial) dan public lie (kebohongan publik) muncul sebagai ancaman tersembunyi yang berpotensi memengaruhi perkembangan psikososial anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana social distrust dan public lie dijelaskan dalam literatur sebagai faktor yang memengaruhi perkembangan psikososial anak usia dini, mengidentifikasi mekanisme dampaknya terhadap pembentukan kepercayaan, otonomi, dan inisiatif anak, serta mengkaji strategi mitigasi yang direkomendasikan bagi pendidik dan orang tua. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis artikel-artikel ilmiah terindeks Scopus yang dipublikasikan pada periode 2019–2026. Analisis dilakukan melalui teknik content analysis terhadap literatur yang membahas perkembangan psikososial anak, perilaku berbohong, parenting by lying, pendidikan moral, serta lingkungan digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa social distrust dan public lie dapat menurunkan kepercayaan anak terhadap figur otoritas, menghambat pembentukan otonomi, serta melemahkan inisiatif sosial. Lingkungan digital berperan sebagai faktor yang memperkuat risiko tersebut melalui paparan informasi yang tidak selalu kredibel dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Namun demikian, dampak negatif tersebut dapat diminimalkan melalui pendidikan moral berbasis kejujuran, penguatan literasi digital, keteladanan guru dan orang tua, serta kolaborasi antara keluarga dan lembaga pendidikan anak usia dini. Kajian ini menegaskan bahwa kepercayaan sosial merupakan fondasi penting bagi perkembangan psikososial anak dan perlu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini di era digital.
PENGEMBANGAN E-LKPD BERBASIS KEARIFAN LOKAL NATONI MATERI KEUNIKAN KEBIASAAN MASYARAKAT DISEKITARKU MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA Lesty Sae; Yulsy Marselina Nitte; Chitia M. P. Ati
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13226

Abstract

Science learning in elementary schools is still dominated by general teaching materials that inadequately integrate local cultural contexts. This study aimed to develop an electronic student worksheet (E-LKPD) based on the local wisdom of the Haunobenak community and examine its validity, practicality, and effectiveness in improving students' learning outcomes on the topic The Uniqueness of Community Habits Around Me. This research employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, consisting of the analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. Data were collected through expert validation sheets, teacher and student response questionnaires, and learning achievement tests. The data were analyzed using descriptive statistics, a paired-samples t-test, and the N-Gain score. The findings revealed that the developed E-LKPD achieved an average expert validation score of 87.19%, indicating that it was highly valid. The product was also highly practical, as reflected by positive responses from teachers (95%) and students (90.8%). Furthermore, it significantly improved students' learning outcomes, with the mean score increasing from 52.6 to 87, a significant paired-samples t-test result (p < .001), and a high N-Gain score of 0.73. Therefore, the developed E-LKPD is valid, practical, and effective for supporting science learning in elementary schools through the integration of local wisdom. ABSTRAK Pembelajaran IPAS di sekolah dasar masih didominasi oleh penggunaan bahan ajar yang bersifat umum sehingga belum mengakomodasi konteks budaya lokal secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan E-LKPD berbasis kearifan lokal masyarakat Desa Haunobenak pada materi Keunikan Kebiasaan Masyarakat di Sekitarku serta menguji kelayakan, kepraktisan, dan keefektifannya dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Penelitian menggunakan metode Research and Development dengan model ADDIE yang meliputi tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Data dikumpulkan melalui lembar validasi ahli, angket respons guru dan peserta didik, serta tes hasil belajar, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, paired sample t-test, dan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E-LKPD memperoleh rata-rata validasi ahli sebesar 87,19% dengan kategori sangat layak. Kepraktisan produk ditunjukkan oleh respons guru sebesar 95% dan respons peserta didik sebesar 90,8%. Produk juga terbukti efektif meningkatkan hasil belajar, ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata dari 52,6 menjadi 87, hasil paired sample t-test yang signifikan (p < 0,001), serta nilai N-Gain sebesar 0,73 dengan kategori tinggi. Dengan demikian, E-LKPD berbasis kearifan lokal masyarakat Desa Haunobenak dinyatakan valid, praktis, dan efektif sebagai bahan ajar IPAS di sekolah dasar.
PENGEMBANGAN MEDIA FLASHCARD INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENUNJANG MOTIVASI BELAJAR PADA MATERI IPS Alfif Via Triani; Dewa Agung Gede Agung
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13476

Abstract

ABSTRACT Low learning motivation in Social Studies remains a challenge when instructional media fail to accommodate students' diverse learning characteristics. This study aimed to develop interactive flashcard media based on differentiated instruction for the topic of prehistory and to examine its feasibility and effectiveness in enhancing the learning motivation of seventh-grade students. The study employed the Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, which consists of the Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation stages. The implementation phase involved a small-group trial with five students to obtain feedback on the initial product, followed by a large-group trial involving 25 students to evaluate the practicality and effectiveness of the developed media. Data were collected using media expert validation questionnaires, subject matter expert validation questionnaires, learning motivation questionnaires, student response questionnaires, and observation sheets. The findings indicated that the developed media achieved feasibility scores of 91.5% from the media expert and 89.3% from the subject matter expert, both classified as highly feasible. The implementation of the media also increased the average learning motivation score from 62.4 to 84.7, with an N-Gain score of 0.59, indicating a moderate-to-high level of improvement. These findings demonstrate that integrating interactive flashcards, QR codes, and differentiated instruction produces instructional media that are feasible, practical, and effective in enhancing students' learning motivation in Social Studies. ABSTRAK Rendahnya motivasi belajar pada mata pelajaran IPS masih menjadi permasalahan ketika media pembelajaran belum mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik belajar siswa. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media flashcard interaktif berbasis pembelajaran berdiferensiasi pada materi prasejarah serta menguji kelayakan dan efektivitas penggunaannya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahapan Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Tahap implementasi dilaksanakan melalui uji coba kelompok kecil yang melibatkan lima siswa untuk memperoleh masukan terhadap produk awal, kemudian dilanjutkan dengan uji coba kelompok besar pada 25 siswa guna menilai kepraktisan dan efektivitas media. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket validasi ahli media, angket validasi ahli materi, angket motivasi belajar, angket respons siswa, dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media memperoleh tingkat kelayakan sebesar 91,5% berdasarkan penilaian ahli media dan 89,3% berdasarkan penilaian ahli materi dengan kategori sangat layak. Implementasi media juga meningkatkan rata-rata skor motivasi belajar siswa dari 62,4 menjadi 84,7, dengan nilai N-Gain sebesar 0,59 yang termasuk kategori sedang-tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi flashcard interaktif, QR Code, dan pembelajaran berdiferensiasi menghasilkan media yang layak, praktis, serta efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS.
PENGARUH PENERAPAN PROJECT-BASED LEARNING DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA KULIAH AKUNTANSI PENDIDIKAN Fatmawaty Damiti; Rierind Koniyo
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13577

Abstract

ABSTRACT Improving the quality of higher education requires learning strategies that actively engage students while fostering independent learning as a key determinant of academic success. Although Project-Based Learning (PjBL) has been widely implemented in higher education, empirical evidence regarding its combined effect with learning independence on student learning outcomes in Educational Accounting courses remains limited. Therefore, this study aimed to analyze the influence of Project-Based Learning and learning independence on students’ learning outcomes in the Educational Accounting course at the Department of Economic Education, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Gorontalo. This study employed a quantitative approach using a correlational research design. The sample consisted of 62 fifth-semester students selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires, interviews, observations, and documentation, and were analyzed using multiple linear regression after satisfying the classical assumption tests, including normality, multicollinearity, and heteroscedasticity tests. The findings revealed that Project-Based Learning had a positive and significant effect on students’ learning outcomes. Learning independence also exerted a positive and significant effect, with a greater contribution than Project-Based Learning. Simultaneously, both variables significantly influenced learning outcomes, explaining 56.70% of the variance. These findings suggest that integrating Project-Based Learning with the enhancement of learning independence provides an effective instructional strategy for improving students’ academic achievement in Educational Accounting courses and offers practical implications for strengthening student-centered learning practices in higher education. ABSTRAK Peningkatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi memerlukan penerapan strategi yang mampu mendorong keterlibatan aktif mahasiswa sekaligus memperkuat kemandirian belajar sebagai faktor pendukung keberhasilan akademik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Project-Based Learning dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Akuntansi Pendidikan di Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 62 mahasiswa semester V yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, dokumentasi, observasi, dan wawancara, kemudian dianalisis dengan regresi linier berganda setelah memenuhi uji asumsi klasik yang meliputi normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Project-Based Learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa. Kemandirian belajar juga berpengaruh positif dan signifikan, dengan kontribusi yang lebih besar dibandingkan variabel Project-Based Learning. Secara simultan, kedua variabel memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar dengan kemampuan menjelaskan variasi hasil belajar sebesar 56,70%. Temuan ini menunjukkan bahwa pengintegrasian pembelajaran berbasis proyek dengan penguatan kemandirian belajar dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian akademik mahasiswa pada mata kuliah Akuntansi Pendidikan di perguruan tinggi.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DALAM MENGEMBANGKAN KOMPETENSI KEWARGANEGARAAN DIGITAL: STUDI KASUS SDN KEMANTREN 1 Lailatun Nazilah; Nurul Aini; Akhwani Akhwani
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13597

Abstract

This study was motivated by the low level of digital citizenship competence among fifth-grade students at SDN Kemantren 1, particularly amid negative digital phenomena such as cyberbullying, hoax dissemination, and social media misuse. This study aims to describe the implementation of Pancasila Education learning in developing three elements of students' digital citizenship competence: digital communication, digital literacy, and digital rights and responsibilities. A qualitative approach with a case study design was employed. Data were collected through teacher interviews, classroom observations of teachers and students, and documentation studies, then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, with source triangulation to ensure data credibility. The results show that implementation was carried out through the use of a smart TV and smartphones to access digital learning media (earth3dmap, padlet, wayground), the integration of Pancasila values into the "Negaraku Indonesia" unit across three sessions, and the teacher's role as a role model for digital ethics. Students' digital citizenship competence scores increased from 60% ("Fairly Good") in the first session to a stable 80% ("Good") in the second and third sessions, despite obstacles such as limited personal smartphone ownership, digital skill gaps, technology misuse, and the absence of an official evaluation instrument. This study concludes that Pancasila Education learning effectively and progressively develops students' digital citizenship competence. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih minimnya kompetensi kewarganegaraan digital peserta didik kelas V di SDN Kemantren 1, khususnya dalam menghadapi fenomena negatif ruang digital seperti cyberbullying, penyebaran hoaks, dan penyalahgunaan media sosial. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses implementasi pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam mengembangkan tiga elemen kompetensi kewarganegaraan digital peserta didik, yaitu komunikasi digital, literasi digital, serta hak dan tanggung jawab digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus (case study). Data dikumpulkan melalui wawancara dengan guru, observasi terhadap guru dan peserta didik, serta studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan triangulasi sumber untuk menjaga kredibilitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi dilakukan melalui pemanfaatan smart TV dan smartphone untuk mengakses media pembelajaran digital (earth3dmap, padlet, wayground), pengintegrasian nilai-nilai Pancasila pada materi "Negaraku Indonesia" selama tiga pertemuan, serta peran guru sebagai role model dalam etika digital. Skor kompetensi kewarganegaraan digital peserta didik meningkat dari 60% (kategori Cukup Baik) pada pertemuan pertama menjadi 80% (kategori Baik) yang stabil pada pertemuan kedua dan ketiga, meskipun masih ditemukan hambatan berupa keterbatasan kepemilikan smartphone, kesenjangan kecakapan digital, penyalahgunaan teknologi, dan belum tersedianya evaluasi resmi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila efektif mengembangkan kompetensi kewarganegaraan digital peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan.
EFEKTIVITAS SISTEM SELEKSI PAMONG KALURAHAN DALAM MEWUJUDKAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG PROFESIONAL (STUDI DI KALURAHAN CATURTUNGGAL KABUPATEN SLEMAN) Andi Suwarno; Sri Widayanti
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13646

Abstract

ABSTRACT Village officials (pamong kalurahan) play a strategic role in supporting local governance, public service delivery, and community development. Therefore, the recruitment and selection process must be conducted professionally in accordance with the principles of good governance to ensure the appointment of competent and high-integrity officials. This study aims to analyze the implementation of the pamong kalurahan selection system based on Sleman Regency Regional Regulation Number 10 of 2019 and its contribution to strengthening professional local governance in Caturtunggal Village, Depok Subdistrict, Sleman Regency. A qualitative approach employing a case study strategy was adopted. Data were collected through observation, semi-structured interviews with village government officials, the Village Consultative Body, the selection committee, and community representatives, as well as document analysis. The data were analyzed using data reduction, data display, conclusion drawing, and thematic analysis, while the credibility of the findings was ensured through source, method, and document triangulation. The findings indicate that the implementation of the selection system has been carried out in accordance with the established regulatory procedures and has been supported by effective stakeholder coordination, transparent information dissemination, and adequate supervisory mechanisms. A competency-based selection system has contributed to enhancing transparency, accountability, public participation, and the professionalism of village officials, although several challenges remain, including differences in public understanding of the selection mechanism and the social dynamics within the village. These findings demonstrate that a selection system consistently implemented in line with the principles of good governance serves as a strategic instrument for strengthening the quality of village governance. ABSTRAK Pamong kalurahan memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik, dan pembangunan di tingkat lokal sehingga proses seleksinya perlu dilaksanakan secara profesional berdasarkan prinsip good governance. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi sistem seleksi pamong kalurahan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 10 Tahun 2019 serta implikasinya terhadap penguatan tata kelola pemerintahan yang profesional di Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-structured dengan pemerintah kalurahan, Badan Permusyawaratan Kalurahan, panitia seleksi, dan unsur masyarakat, serta telaah dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan seleksi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan analisis tematik dengan pengujian keabsahan menggunakan triangulasi sumber, metode, dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi sistem seleksi telah dilaksanakan sesuai tahapan yang diatur dalam regulasi dan didukung oleh koordinasi antarpemangku kepentingan, keterbukaan informasi, serta mekanisme pengawasan yang memadai. Penerapan sistem seleksi berbasis kompetensi berkontribusi terhadap peningkatan transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, dan profesionalisme aparatur, meskipun masih dijumpai tantangan berupa perbedaan pemahaman masyarakat terhadap mekanisme seleksi dan dinamika sosial di lingkungan kalurahan. Temuan ini menegaskan bahwa implementasi sistem seleksi yang konsisten dengan prinsip good governance menjadi faktor penting dalam memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan kalurahan.
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL BERMUATAN INTOLERAN TERHADAP SIKAP TOLERANSI MAHASISWA PPKn UNIVERSITAS TANJUNGPURA Herma Suriyani Sianturi; Sulistyarini Sulistyarini; Thomy Sastra Atmaja; Amrazi Zakso; Syamsuri Syamsuri
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13647

Abstract

ABSTRACT The rapid development of social media among university students has increased the potential exposure to intolerant content, while studies examining its impact on the tolerance attitudes of PPKn students still need to be strengthened, particularly within the context of socio-cultural diversity in higher education environments. This study aims to analyze the impact of exposure to intolerant content on social media on the tolerance attitudes of students in the Pancasila and Civic Education (PPKn) Study Program at Tanjungpura University. The research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, in-depth interviews, documentation, and questionnaires distributed to 100 students from diverse religious, ethnic, and cultural backgrounds. The findings reveal that the social media platforms most frequently accessed by students are Instagram, TikTok, WhatsApp, and YouTube. While using these platforms, students often encounter various forms of intolerant content, including hate speech, ethnicity, religion, race, and intergroup-based stereotypes, provocative messages, discriminatory memes, and misinformation circulating in digital spaces. Nevertheless, most students continue to demonstrate positive attitudes of tolerance despite being exposed to such content. These attitudes are reflected in their ability to respect differences, refrain from imposing their views on others, and maintain harmonious relationships with individuals from diverse backgrounds. The study concludes that social media plays a dual role: it serves as a platform for promoting values of tolerance while also functioning as a channel for the dissemination of intolerant and harmful content. Therefore, strengthening digital literacy, social media ethics education, and multicultural dialogue within the university environment is essential to enhance students’ ability to critically evaluate information and reinforce tolerant character in the digital era. ABSTRAK Perkembangan media sosial yang semakin masif di kalangan mahasiswa telah membuka peluang meningkatnya paparan konten intoleran, sementara kajian mengenai dampaknya terhadap sikap toleransi mahasiswa PPKn masih perlu diperkuat dalam konteks keberagaman sosial budaya di lingkungan perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media sosial bermuatan intoleran terhadap sikap toleransi mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Tanjungpura. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan penyebaran angket kepada 100 mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial yang paling sering diakses mahasiswa meliputi Instagram, TikTok, WhatsApp, dan YouTube. Dalam penggunaannya, mahasiswa masih menemukan berbagai konten bermuatan intoleran, seperti ujaran kebencian, stereotip berbasis SARA, provokasi, meme diskriminatif, dan hoaks yang beredar di ruang digital. Meskipun demikian, mayoritas mahasiswa tetap menunjukkan sikap toleransi yang baik setelah terpapar konten tersebut. Sikap tersebut tercermin dalam kemampuan menghargai perbedaan, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, serta menjaga hubungan yang harmonis dengan individu dari latar belakang yang berbeda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial memiliki peran ganda, yaitu sebagai sarana penyebaran nilai-nilai toleransi sekaligus media yang berpotensi menyebarkan konten negatif bermuatan intoleran. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi digital, pendidikan etika bermedia sosial, dan pengembangan dialog multikultural di lingkungan kampus guna meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyaring informasi serta memperkuat karakter toleran di era digital.
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR DAN AKSES INTERNET DI WILAYAH BLANK SPOT (STUDI KASUS DI KALURAHAN HARGOMULYO GUNUNGKIDUL) Gunawan Wibisono; Sri Widayanti
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13650

Abstract

ABSTRACT Limited internet access remains one of the primary challenges to achieving equitable digital development in blank spot areas, particularly in regions characterized by difficult geographical conditions. Hargomulyo Village, Gedangsari District, Gunungkidul Regency, is one such area that continues to face these challenges due to its hilly topography, inadequate telecommunications infrastructure, and uneven network coverage. This study aims to analyze the implementation of infrastructure development and internet access policies in Hargomulyo Village using Merilee S. Grindle’s policy implementation framework, thereby providing empirical insights into the implementation of digital infrastructure policies in rural blank spot areas. This research employed a qualitative method with an interpretive paradigm. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and documentation, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which consists of data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that the policy implementation has generally been successful, as reflected in the increased utilization of the internet for public services, education, communication, and community economic activities. However, the equitable distribution of network quality remains constrained by geographical conditions, limited infrastructure, and the inadequate coverage of internet services in several areas. The successful implementation of the policy is supported by collaboration among the local government, village government, Village-Owned Enterprises (BUMDes), internet service providers, and the community. This study concludes that strengthening stakeholder collaboration, expanding digital infrastructure, and improving the quality of internet services are essential prerequisites for reducing the digital divide and promoting sustainable rural development. ABSTRAK Keterbatasan akses internet masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pemerataan pembangunan digital di wilayah blank spot, terutama pada daerah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau. Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu wilayah yang masih menghadapi kendala tersebut akibat karakteristik topografi perbukitan, keterbatasan infrastruktur telekomunikasi, serta belum meratanya kualitas jaringan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan pengembangan infrastruktur dan akses internet di Kalurahan Hargomulyo menggunakan perspektif implementasi kebijakan Merilee S. Grindle. Penelitian menerapkan metode kualitatif dengan paradigma interpretif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan telah berjalan cukup baik, ditandai dengan meningkatnya pemanfaatan internet untuk pelayanan publik, pendidikan, komunikasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Meskipun demikian, pemerataan kualitas jaringan masih menghadapi kendala akibat kondisi geografis, keterbatasan infrastruktur, dan belum optimalnya jangkauan layanan di beberapa wilayah. Keberhasilan implementasi kebijakan didukung oleh kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah kalurahan, BUMDes, penyedia layanan internet, dan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan sinergi antarpemangku kepentingan, pemerataan infrastruktur digital, serta peningkatan kualitas layanan internet menjadi faktor penting dalam mengurangi kesenjangan digital dan mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.