cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 50 Documents clear
HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN AGRESIVITAS YANG DIMEDIASI STRES OPERASIONAL PADA ANGGOTA PENGENDALIAN MASSA Fitria, Ade Ratri; Pertiwi, Yuarini Wahyu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6361

Abstract

This study examines the relationship between workload, operational stress, and aggressiveness in members of Mass Control (Dalmas). Adopting a quantitative approach, this study involved 125 male respondents from the Dalmas unit of Polda X, with the majority aged 17-25 years and less than five years of service. Data were collected using psychological scale questionnaires, namely the Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) for aggressiveness, Police Stress Questionnaire Operational (PSQ-OP) for operational stress, and NASA TLX for workload. Data analysis was conducted using JASP software, with Spearman's rho correlation test and bootstrapping mediation test because the data were not normally distributed. The research findings show a significant positive relationship between workload and aggressiveness, both directly and indirectly through operational stress as a partial mediator. An increase in workload directly correlates with an increase in the level of aggressiveness of Dalmas members. Although operational stress mediated this relationship, the direct effect of workload on aggressiveness was found to be more dominant. These findings indicate that the intense physical and emotional stress of Dalmas duties can trigger fatigue and lower emotion regulation abilities, which in turn contribute to aggressive behavior. However, the research also suggests that stress is not always negative and can promote self-control if managed well. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji hubungan antara beban kerja, stres operasional, dan agresivitas pada anggota Pengendalian Massa (Dalmas). Mengadopsi pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan 125 responden laki-laki dari unit Dalmas Polda X, dengan mayoritas berusia 17-25 tahun dan masa kerja kurang dari lima tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala psikologi, yaitu Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) untuk agresivitas, Police Stress Questionnaire Operational (PSQ-OP) untuk stres operasional, dan NASA TLX untuk beban kerja. Analisis data dilakukan menggunakan software JASP, dengan uji korelasi Spearman's rho dan uji mediasi bootstrapping karena data tidak berdistribusi normal. Temuan penelitian memperlihatkan adanya hubungan positif yang signifikan antara beban kerja dengan agresivitas, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui stres operasional sebagai mediator parsial. Peningkatan beban kerja secara langsung berkorelasi dengan peningkatan tingkat agresivitas anggota Dalmas. Meskipun stres operasional memediasi hubungan ini, hubungan langsung beban kerja dengan agresivitas ditemukan lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa tekanan fisik dan emosional yang intens dalam tugas Dalmas dapat memicu kelelahan dan menurunkan kemampuan regulasi emosi, yang pada akhirnya berkontribusi pada perilaku agresif. Namun, penelitian juga mengemukakan bahwa stres tidak selalu berdampak negatif dan dapat mendorong pengendalian diri jika dikelola dengan baik.
INTEGRASI COGNITIVE LOAD THEORY DAN PEMBELAJARAN MULTISENSORIK: KERANGKA NEURO-KOGNITIF UNTUK OPTIMALISASI PEMAHAMAN DAN KETERLIBATAN SISWA DI ERA DIGITAL Wasi, Ramlan Abdul; Ismail, Shalahudin; Mulyadi, Yadi; Rindiani, Ani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6532

Abstract

This study explores the integration of Cognitive Load Theory (CLT) and multisensory learning to enhance cognitive understanding and student engagement in the digital age. Through a systematic analysis of 45 literature sources (2018–2024), a Neuro-Cognitive Load framework was developed that combines principles from cognitive psychology and neuroscience. Findings indicate that this integrated approach reduces external load by 32% through optimal visual-auditory presentation (<7 minutes), while activating brain regions associated with multisensory processing. At the practical level, the combination of worked examples and haptic simulations enhances STEM knowledge transfer by 41%. Cognitive impacts include improved retention (55%), reduced conceptual errors (38%), and enhanced knowledge transfer (29%). Student engagement analysis shows increased attention focus (73%), positive affect (M=4.2 vs 3.1), and active participation (2.3× higher). Implementation challenges include resource limitations (85% of teachers experienced technical difficulties) and student diversity, addressed through low-tech solutions (audio-enhanced diagrams) and teacher training (ES=0.89). The study’s conclusions emphasize the synergy of CLT-multisensory when it meets: (1) precise design aligned with cognitive capacity, (2) varied stimulation, and (3) contextual adaptation. The main implication is the need for educators to act as skilled cognitive designers who integrate neuroscience with pedagogical practices. Recommendations include developing a phased implementation protocol and further research on adaptive systems based on cognitive profiles. ABSTRAKPenelitian ini mengeksplorasi integrasi Cognitive Load Theory (CLT) dan pembelajaran multisensorik untuk meningkatkan pemahaman kognitif dan keterlibatan siswa di era digital. Melalui analisis sistematis terhadap 45 literatur (2018-2024), dikembangkan kerangka Neuro-Cognitive Load yang menggabungkan prinsip psikologi kognitif dan neurosains. Temuan menunjukkan pendekatan terintegrasi ini mengurangi beban eksternal 32% melalui penyajian visual-auditori optimal (<7 menit), sekaligus mengaktifkan area otak terkait pemrosesan multisensorik. Pada tingkat praktis, kombinasi worked examples dan simulasi haptik meningkatkan transfer pengetahuan STEM 41%. Dampak kognitif mencakup peningkatan retensi (55%), penurunan kesalahan konseptual (38%), dan peningkatan transfer pengetahuan (29%). Analisis keterlibatan siswa menunjukkan peningkatan fokus perhatian (73%), positive affect (M=4.2 vs 3.1), dan partisipasi aktif (2.3× lebih tinggi). Tantangan implementasi termasuk keterbatasan sumber daya (85% guru mengalami kesulitan teknis) dan keragaman siswa, yang diatasi melalui solusi low-tech (audio-enhanced diagram) dan pelatihan guru (ES=0.89). Kesimpulan penelitian menggarisbawahi sinergi CLT-multisensorik ketika memenuhi: (1) desain presisi sesuai kapasitas kognitif, (2) variasi stimulasi, dan (3) adaptasi kontekstual. Implikasi utama adalah perlunya pendidik berperan sebagai desainer kognitif yang terampil mengintegrasikan neurosains dengan praktik pedagogis. Rekomendasi mencakup pengembangan protokol implementasi bertahap dan penelitian lanjutan tentang sistem adaptif berbasis profil kognitif.
KEMATANGAN EMOSIONAL DAN AGRESI RELASIONAL PADA REMAJA AWAL DI SMP KOTA BEKASI Maura Zahra, Nazelin; Merdiaty, Netty
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6584

Abstract

Relational aggression among Indonesian adolescents manifests in social exclusion, rumor?spreading, and the manipulation of friendships, undermining psychological well?being, academic achievement, and the overall school climate. The urgency to address it is heightened because these covert forms often go undetected compared with physical aggression. This study examined the association between emotional maturity and relational aggression among early adolescents. A correlational design was employed with 150 seventh? and eighth?grade students from a public junior high school in Bekasi City, selected through class?based cluster sampling. Two instruments were used: the Emotional Maturity Scale (20 items; ? = .868) and the Relational Aggression Scale (30 items; ? = .937). Analyses included assumption checks (normality and linearity), Pearson’s correlation, and mean comparisons by gender. Results indicated a moderate negative correlation between emotional maturity and relational aggression (r = ?.36; 95% CI [?.49, ?.21]; p < .001), with no significant gender differences. These findings suggest that strengthening emotional maturity may reduce relational aggression and support the implementation of school?based social?emotional learning programs. The original contribution of this study lies in providing up?to?date empirical evidence from Indonesian public junior high schools and in offering culturally attuned, concise adaptations of measures to assess emotional maturity and relational aggression. ABSTRAK Agresi relasional pada remaja Indonesia terus muncul dalam berbagai bentuk seperti pengucilan sosial, penyebaran rumor, dan manipulasi pertemanan yang berdampak pada kesejahteraan psikologis, prestasi akademik, dan iklim sekolah. Urgensi penanganan meningkat karena bentuk agresi ini sering luput dari deteksi dibanding agresi fisik. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara kematangan emosional dan agresi relasional pada remaja awal. Desain yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan partisipan 150 siswa kelas VII-VIII di salah satu SMP negeri di Kota Bekasi yang dipilih melalui cluster (berbasis kelas). Dua instrumen digunakan: Skala Kematangan Emosional (20 aitem; ? = 0,868) dan Skala Agresi Relasional (30 aitem; ? = 0,937). Analisis meliputi uji asumsi (normalitas dan linearitas), korelasi Pearson, serta uji beda berdasarkan jenis kelamin. Hasil menunjukkan korelasi negatif sedang antara kematangan emosional dan agresi relasional (r = -0,36; 95% CI [-0,49, -0,21]; p < 0,001), serta tidak ada perbedaan signifikan antara laki?laki dan perempuan. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kematangan emosi berpotensi menurunkan perilaku agresi relasional dan mendukung perlunya program pengembangan kompetensi sosial?emosional berbasis sekolah. Kontribusi orisinal studi ini adalah penyediaan bukti empiris terkini pada konteks SMP negeri Indonesia sekaligus adaptasi singkat alat ukur yang relevan secara kultural untuk menilai kematangan emosional dan agresi relasional.
HUBUNGAN ANTARA LEARNING EXPERIENCE DAN TEACHING STYLE DENGAN MOTIVASI AKADEMIK SANTRIWATI BARU PONDOK PESANTREN AMANATUL UMMAH SURABAYA Aliyah, Nuur Iffah; Puspitasari, Devi; Ariyanto, Eko April
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6635

Abstract

The low academic motivation among new female students at the Amanatul Ummah Islamic Boarding School in Surabaya is the background to this study, where adapting to a busy routine often diminishes enthusiasm for learning. This study focuses on quantitatively analyzing the relationship between learning experience and teaching style on the academic motivation of new female students. As a crucial step, this correlational study used a sample of 155 new female students at the MTS and MA levels selected through purposive sampling. Data were collected using three valid and reliable questionnaire scales and then analyzed using multiple regression techniques. The main findings indicate that simultaneously, learning experience and teaching style have a positive and significant relationship on academic motivation, with a contribution of 28.7%. Partially, both variables also proved to be significant predictors, with teaching style demonstrating a stronger influence. In conclusion, the quality of positive learning experiences and supportive teacher teaching styles are crucial pedagogical factors that can significantly increase the academic motivation of new female students, thus becoming an important strategy for Islamic boarding schools. ABSTRAKRendahnya motivasi akademik di kalangan santriwati baru Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya menjadi latar belakang penelitian ini, di mana adaptasi terhadap rutinitas padat seringkali menurunkan semangat belajar. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis secara kuantitatif hubungan antara learning experience (pengalaman belajar) dan teaching style (gaya mengajar) dengan motivasi akademik santriwati baru. Sebagai langkah penting, penelitian korelasional ini menggunakan sampel sebanyak 155 santriwati baru jenjang MTS dan MA yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan tiga skala kuesioner yang valid dan reliabel, kemudian dianalisis dengan teknik regresi berganda. Temuan utama menunjukkan bahwa secara simultan, learning experience dan teaching style memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap motivasi akademik, dengan kontribusi pengaruh sebesar 28,7%. Secara parsial, kedua variabel juga terbukti menjadi prediktor yang signifikan, di mana teaching style menunjukkan pengaruh yang lebih kuat. Kesimpulannya, kualitas pengalaman belajar yang positif dan gaya mengajar guru yang suportif merupakan faktor pedagogis krusial yang secara signifikan dapat meningkatkan motivasi akademik santriwati baru, sehingga menjadi strategi penting bagi lembaga pesantren.
COGNITIVE FLEXIBILITY DAN PROBLEM-FOCUSED COPING: KUNCI MENGATASI PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA SMP Nilam Puspasari, Dinda; Suhadianto, Suhadianto; Matulessy, Andik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6745

Abstract

This study aims to analyse the role of Cognitive Flexibility and Problem-Focused Coping in relation to academic procrastination among junior high school students. Academic procrastination has often been associated with self-regulation, yet most studies have examined psychological factors separately. The simultaneous relationship between Cognitive Flexibility and Problem-Focused Coping remains underexplored, particularly among junior high school students in Indonesia. A quantitative correlational design was employed, involving 151 students from SMP Negeri 22 Surabaya selected through purposive sampling. Likert-scale questionnaires were used to measure the three main variables. Multiple linear regression analysis revealed that Cognitive Flexibility and Problem-Focused Coping jointly predicted academic procrastination significantly (F = 86.650; p < 0.001; R² = 0.539). Partially, Cognitive Flexibility showed a significant negative effect (B = -0.250; t = -2.313; p = 0.022), while Problem-Focused Coping demonstrated a stronger predictive contribution (B = -0.696; t = -6.763; p < 0.001).The theoretical contribution of this study lies in strengthening self-regulation models and highlighting the role of executive functions in adolescents’ academic behaviour, emphasizing that Cognitive Flexibility and adaptive coping strategies complement each other in reducing procrastination. The practical implication is that school-based interventions should prioritize active coping training, time management, and problem-solving skills. These findings can serve as the basis for psychological assistance and academic counselling programs to reduce procrastination tendencies among junior high school students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Cognitive Flexibility dan Problem-Focused Coping terhadap prokrastinasi akademik pada siswa SMP. Prokrastinasi akademik telah banyak dikaitkan dengan regulasi diri, tetapi sebagian besar penelitian hanya menyoroti salah satu faktor psikologis secara terpisah. Hubungan simultan antara Fleksibilitas Kognitif dan strategi coping berorientasi masalah masih jarang diteliti, khususnya pada populasi siswa SMP di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 151 siswa SMP Negeri 22 Surabaya yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen berupa skala Likert digunakan untuk mengukur ketiga variabel utama. Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa Cognitive Flexibility dan Problem-Focused Coping secara simultan signifikan memprediksi prokrastinasi akademik (F = 86,650; p < 0,001; R² = 0,539). Secara parsial, Cognitive Flexibility berpengaruh negatif signifikan (B = -0,250; t = -2,313; p = 0,022), sementara Problem-Focused Coping memiliki kontribusi prediktif lebih besar (B = -0,696; t = -6,763; p < 0,001). Kontribusi teoretis penelitian ini adalah penguatan model regulasi diri dan fungsi eksekutif dalam perilaku akademik remaja, dengan menegaskan bahwa Fleksibilitas Kognitif dan strategi koping adaptif saling melengkapi dalam menekan prokrastinasi. Implikasi praktis penelitian ini menekankan perlunya intervensi berbasis sekolah yang berfokus pada pelatihan coping aktif, manajemen waktu, dan keterampilan pemecahan masalah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar program pendampingan psikologis dan konseling akademik untuk mengurangi kecenderungan prokrastinasi siswa SMP.
PENGARUH KOMPENSASI TERHADAP LOYALITAS KERJA PADA KARYAWAN GENERASI Z DI KOTA SAMARINDA Permata Healthy, Dinda; Dwi Nur Rahmah, Dian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6746

Abstract

Employee work loyalty plays a critical role in organizational sustainability, as employees are central to achieving company goals. One factor presumed to influence work loyalty is compensation. However, empirical evidence on the effect of compensation on the work loyalty of Generation Z in non-metropolitan areas such as Samarinda remains limited. This study aims to quantitatively examine the effect of compensation on work loyalty among Generation Z employees in Samarinda City, who exhibit distinctive work characteristics and expectations. The sample consisted of 105 Generation Z employees selected through random sampling, with data collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed through simple linear regression (SPSS 26.0). The results showed that compensation had no significant effect on work loyalty (p = 0.595; R² = 0.003). Theoretically, this finding contributes to the field of organizational behavior by challenging the traditional assumption that financial compensation is the primary determinant of loyalty, particularly among younger generations in developing regions. The practical implication of this result is that companies should shift their retention strategies from financial incentives to a more holistic approach, including meaningful work, personal development, and work-life balance values that align more closely with Generation Z’s expectations. This research also provides a foundation for future studies to explore non-financial factors that contribute to employee loyalty in the emerging workforce landscape. ABSTRAK Loyalitas kerja karyawan memegang peranan penting dalam keberlanjutan perusahaan, karena karyawan merupakan kunci dalam pencapaian tujuan organisasi. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi loyalitas kerja adalah kompensasi. Namun, bukti empiris mengenai pengaruh kompensasi terhadap loyalitas kerja pada Generasi Z di wilayah non-metropolitan seperti Samarinda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara kuantitatif pengaruh kompensasi terhadap loyalitas kerja pada karyawan Generasi Z di Kota Samarinda yang memiliki karakteristik dan ekspektasi kerja yang khas. Sampel terdiri atas 105 karyawan Generasi Z yang dipilih melalui teknik random sampling, dengan pengumpulan data menggunakan skala Likert dan analisis regresi linear sederhana (SPSS 26.0). Hasil analisis menunjukkan bahwa kompensasi tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas kerja (p = 0,595; R² = 0,003). Secara teoretis, hasil ini memperluas pemahaman dalam kajian perilaku organisasi dengan menantang asumsi tradisional bahwa kompensasi finansial merupakan determinan utama loyalitas, khususnya dalam konteks generasi muda di wilayah berkembang. Implikasi praktis dari temuan ini adalah bahwa perusahaan perlu mengalihkan fokus strategi retensi dari aspek finansial ke pendekatan yang lebih holistik, seperti peningkatan makna kerja, pengembangan diri, dan keseimbangan hidup, yang lebih selaras dengan nilai-nilai kerja Generasi Z. Penelitian ini juga memberikan dasar bagi studi lanjutan mengenai faktor-faktor non-finansial yang berkontribusi terhadap loyalitas kerja di era tenaga kerja baru.
GAMBARAN PARENTAL INVOLVEMENT PADA ORANG TUA DENGAN ANAK AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD) Nisa, Wardatun; Fikrie, Fikrie; Amalia Aprianty, Rizqi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6747

Abstract

The increasing number of children with Autism Spectrum Disorder (ASD) poses significant challenges for parents, particularly regarding their caregiving involvement. This study explores the parental involvement of those who do not implement a Home Program, using a phenomenological approach and Epstein’s six-dimensional framework. Data were collected through semi-structured interviews and observations with two mothers whose children had undergone therapy for at least six months. Findings reveal that only the parenting and communicating dimensions were adequately fulfilled, while volunteering, learning at home, decision-making, and collaborating with the community remained low. The study highlights the urgent need for community-based interventions, practical Home Program training, and emotional capacity-building for parents. By focusing specifically on parents who do not implement Home Programs and applying Epstein’s full framework, this study offers a new perspective on understanding caregiving involvement among families of children with special needs. ABSTRAK Jumlah anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) terus meningkat, menimbulkan tantangan signifikan bagi orang tua, khususnya dalam keterlibatan pengasuhan. Studi ini mengeksplorasi keterlibatan orang tua anak ASD yang tidak menjalankan Home Program, menggunakan pendekatan fenomenologis dan enam dimensi Epstein sebagai kerangka analisis. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi terhadap dua ibu dengan anak ASD yang telah menjalani terapi minimal enam bulan. Temuan menunjukkan bahwa hanya dimensi parenting dan Communicating yang tergolong baik, sedangkan volunteering, Learning At Home, Decision-Making, dan collaborating with the community masih rendah. Studi ini menyoroti kebutuhan intervensi berbasis komunitas, pelatihan Home Program, dan penguatan kapasitas emosional orang tua. Fokus khusus pada orang tua yang tidak menjalankan Home Program serta penggunaan menyeluruh kerangka Epstein memberikan sudut pandang baru dalam memahami dinamika keterlibatan pengasuhan pada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.
SELF ACCEPTANCE DAN WORK LIFE BALANCE MAHASISWA YANG BEKERJA DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN Istiqomah, Istiqomah; Quarta, Dicky Listin; Fitriah, Aziza
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6750

Abstract

Employee class programs are increasingly in demand, especially among individuals who are already employed. However, juggling dual roles as both worker and student presents various challenges, such as managing work and academic tasks, dividing attention and energy, and adapting to different environments. If not managed properly, these challenges may lead to several issues, particularly in maintaining work-life balance, academic performance, and personal well-being, which could negatively affect self-acceptance. This study aims to examine the effect of self-acceptance on work-life balance among students who work while pursuing their studies. This research employs a quantitative method. The sampling technique used was random sampling, with a total of 100 participants. A simple linear regression analysis was conducted. The results show a significant positive effect of self-acceptance on work-life balance, with an R value of 0.825 and R² of 0.681 (p < 0.001). This indicates that the higher an individual’s self-acceptance, the better their ability to balance work and personal life. Based on these findings, it is recommended that the results be used as a foundation in designing programs or policies that support the psychological well-being of students who work while attending college. ABSTRAK Program kelas karyawan semakin digandrungi, terlebih oleh individu yang sudah mempunyai pekerjaan. Namun, menjalani peran selaku pekerja dan mahasiswa membawa berbagai tantangan, seperti mengelola tugas kerja dan kuliah, membagi perhatian serta energi, dan menyesuaikan diri di lingkungan yang berbeda. Jika tidak ditangani dengan baik, tantangan ini dapat memicu berbagai masalah, terutama dalam menjaga work life balance, studi, dan kehidupan pribadi, yang berisiko memberikan dampak negatif pada self acceptance. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self acceptance terhadap work life balance pada mahasiswa yang bekerja sambil kuliah. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Pengambilan teknik yang diterapkan ialah teknik random sampling dengan total keseluruhan partisipan dalam penelitian ini sebanyak 100 individu. Peneliti menjalankan uji analisis regresi linear sederhana. Hasil dari penelitian ini ialah adanya pengaruh positif yang signifikan antara self acceptance serta work life balance, dengan nilai R sebesar 0,825 dan R² sebesar 0,681 (p < 0,001). Artinya makin tinggi self acceptance seseorang maka makin tinggi keseimbangan kehidupan kerjanya maupun kehidupan personalnya. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan menjadi dasar dalam merancang program atau kebijakan yang mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa yang bekerja sambil kuliah.
NORMA MORAL DAN INTENSI KORUPSI AKADEMIK MAHASISWA: PERAN MEDIASI MORAL DISENGAGEMENT DALAM KONTEKS PENDIDIKAN TINGGI Failasuva, Harviana Sifa; Muslikah, Etik Darul; Nainggolan, Eben Ezer
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6758

Abstract

Corruption is no longer confined to government institutions but has also penetrated the educational sector, including higher education. University students, who are expected to act as agents of change, may become involved in corrupt practices, particularly academic corruption. This study focuses on examining the relationship between moral norms and students' intention to engage in corruption, as well as the mediating role of moral disengagement in that relationship. This research employed a quantitative correlational approach with a convenience sampling technique. A total of 348 students from various universities in Surabaya participated in this study. Three psychological instruments were used to measure moral norms, moral disengagement, and intention to engage in corruption. Data were analyzed using mediation analysis with Hayes' PROCESS Macro Model 4. The results indicate that moral norms have a significant positive relationship with the intention to commit corruption, and moral disengagement partially mediates this relationship. These findings suggest that students with strong moral norms may still develop corrupt intentions when they justify their actions through moral disengagement mechanisms. The study concludes that moral education in higher education institutions should not only focus on cognitive understanding but also emphasize affective and behavioral internalization to prevent rationalization of unethical conduct. ABSTRAK Fenomena korupsi tidak hanya terjadi di sektor pemerintahan, tetapi juga telah menjalar ke dunia pendidikan, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa sebagai agen perubahan justru berpotensi terlibat dalam tindakan koruptif, khususnya dalam bentuk korupsi akademik. Penelitian ini berfokus pada hubungan antara norma moral dan intensi melakukan korupsi pada mahasiswa, serta peran moral disengagement sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik convenience sampling. Sampel terdiri atas 348 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Instrumen yang digunakan terdiri dari tiga skala psikologis, yaitu skala norma moral, moral disengagement, dan intensi korupsi. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis mediasi dengan PROCESS Macro Model 4 dari Hayes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa norma moral memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap intensi melakukan korupsi, serta terdapat mediasi parsial oleh moral disengagement dalam hubungan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat norma moral tinggi tetap berpotensi memiliki intensi untuk melakukan korupsi apabila mereka merasionalisasi perilaku tersebut melalui mekanisme moral disengagement. Simpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya pendidikan nilai moral di perguruan tinggi yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan perilaku, guna menekan rasionalisasi terhadap tindakan tidak etis.
MORAL DISENGAGEMENT SEBAGAI MEDIATOR ANTARA PERSEPSI KONTROL PERILAKU DAN NIAT KORUPSI PADA MAHASISWA SURABAYA Sari, Lidia Aprilia; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia UI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6759

Abstract

Corruption remains a serious issue in Indonesia, as reflected in the 2024 Corruption Perceptions Index (CPI) released by Transparency International, where Indonesia scored 37 out of 100 and ranked 99th out of 180 countries. This study aims to examine the relationship between perceived behavioral control (PBC) and the intention to engage in corruption, as well as to explore the mediating role of moral disengagement. A quantitative approach was employed using convenience sampling, involving 348 active students from public and private universities in Surabaya. The instruments used were standardized scales that had been tested for validity and reliability to measure PBC, corruption intention, and moral disengagement. Data analysis was conducted using Hayes' PROCESS Macro in SPSS, including outlier testing, residual normality, linearity, one-sample t-tests, and mediation analysis through bootstrapping. The results revealed a significant positive relationship between PBC and corruption intention (? = 0.279; p < 0.001), as well as a significant indirect effect through moral disengagement (? = 0.223; p < 0.000; 95% CI [0.135–0.320]). These findings indicate that moral disengagement plays a crucial role in mediating the effect of PBC on the intention to engage in corruption, highlighting the importance of moral awareness enhancement in anti-corruption education efforts. ABSTRAKKorupsi tetap menjadi permasalahan serius di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2024 yang dirilis oleh Transparency International, di mana Indonesia memperoleh skor 37 dari 100 dan menempati peringkat ke-99 dari 180 negara. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara perceived behavioral control (PBC) dan niat untuk melakukan korupsi, serta mengeksplorasi peran moral disengagement sebagai mediator. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan teknik convenience sampling, melibatkan 348 mahasiswa aktif dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Surabaya. Instrumen penelitian berupa skala terstandar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya untuk mengukur PBC, niat korupsi, dan moral disengagement. Analisis data dilakukan menggunakan PROCESS Macro dari Hayes pada SPSS, meliputi uji outlier, normalitas residual, linearitas, one-sample t-test, dan analisis mediasi dengan teknik bootstrapping. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara PBC dan niat korupsi (? = 0,279; p < 0,001), serta efek mediasi tidak langsung yang signifikan melalui moral disengagement (? = 0,223; p < 0,000; 95% CI [0,135–0,320]). Temuan ini mengindikasikan bahwa moral disengagement memainkan peran penting dalam menjembatani pengaruh PBC terhadap niat untuk melakukan korupsi, sehingga intervensi yang berfokus pada penguatan kesadaran moral menjadi krusial dalam upaya pendidikan antikorupsi.