Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pendekatan Behavioral untuk Mengurangi Perilaku Mengganggu pada Siswa di Sekolah Mamang Efendy; Eben Ezer Nainggolan
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling: Special Issue (General)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.10440

Abstract

Perilaku menggangu siswa disekolah perlu mendapatkan perhatian serius karena akan berdampak pada efektivitas pembelajaran, suasana belajar mengajar yang tidak kondusif serta akan menimbulkan perilaku-perilaku siswa yang lebih parah dikemudian hari. Selama ini penanganan perilaku mengganggu siswa hanya ditangani dengan pemberian punishment oleh guru kepada siswanya, penanganan tersebut terbukti kurang efektif dan tidak membuat perilaku berkurang atau berhenti. Selain itu pemberian hukuman hanya akan menghentikan perilaku sesaat saja, dan lebih mengkhawatikan lagi apabila pemberian hukuman terkadang dilakukan dengan tindakan yang aversif, hal tersebut dapat menyebabkan hubungan antara guru dan siswa yang kurang baik, membentuk harga diri siswa yang rendah, menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan fisik, hingga rasa benci yang menyebabkan ketidaknyamanan emosional pada siswa dan menimbulkan permusuhan antara guru dan siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitati deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa buku dan jurnal terkait untuk menemukan penjelasan dan jawaban terperinci mengenai bagaimana seharusnya pendekatan behaviorisme menurunkan perilaku mengganggu siswa di sekolah, serta bagaimana efek pemberian hukuman pada perilaku siswa di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu cara untuk memastikan lingkungan belajar yang terbaik adalah dengan mendorong peserta didik melalui pemberian penguatan positif. Dengan pemberian penguatan positif siswa akan belajar untuk memonitor diri mereka sendiri, mengatur waktu mereka, menetapkan tujuan, dan mengevaluasi diri melalui penguatan yang diberikan oleh guru. Pemberian penguatan positif yang konsisten dan disiplin akan efektif membuat perubahan perilaku pada siswa sebagaimana diharapkan yaitu perilaku yang adaptif. Misbehavior at school needs serious attention because it will have an impact on the effectiveness of learning, an atmosphere of teaching and learning that is not conducive and will lead to more severe student behaviors in the future. So far, the handling of student’s misbehavior has only been handled by giving punishment by the teacher to the students, this treatment has proven to be less effective and has not reduced or stopped the behavior. In addition, giving punishment will only stop behavior for a moment, and it is even more worrying if punishment is sometimes carried out in an aversive manner, this can lead to poor relations between teachers and students, form low student self-esteem, cause pain and discomfort. physical, to hatred that causes emotional discomfort in students and creates hostility between teachers and students. This research is a descriptive qualitative research conducted using secondary data in the form of related books and journals to find detailed explanations and answers about how the behaviorist approach should reduce misbehavaior in students at school, and how the effects of punishment on student behavior at school. The results of the research show that one way to ensure the best learning environment is to encourage students through providing positive reinforcement. By giving positive reinforcement students will learn to monitor themselves, manage their time, set goals, and evaluate themselves through the reinforcement provided by the teacher. Providing consistent and disciplined positive reinforcement will be effective in making changes in student behavior as expected, namely adaptive behavior.
WORK LIFE BALANCE PADA PEKERJA : BAGAIMANA PERANAN PSYCHOLOGICAL EMPOWERMENT DAN FAMILY SUPPORTIVE SUPERVISOR BEHAVIOR? Fadilla Faiza; Eben Ezer Nainggolan; Etik Darul Muslikah
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 6 No. 1 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v6i1.5559

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah psychological empowerment dan family supportive supervisor behavior memiliki hubungan dengan work life balance pada pekerja. Populasi dari penelitian ini adalah para karyawan yang berlokasi di Kota Surabaya. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 271 orang dan ditentukan oleh tabel Issac dan Michael dengan tingkat kesalahan 10%. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Scale of Psychological Empowerment 12 item, Scale of Family Supportive Supervisor Behavior 14 item, dan Scale of Work Life Balance 17 item. Analisis yang dilakukan adalah regresi linier berganda, uji-t, rerata variabel, dan sumbangan efektif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa family supportive supervisor behavior berpengaruh positif signifikan terhadap work life balance (F = 33,892; r = 0,481; R Square = 0,322; P < 0,000). Family supportive supervisor behaviordan work life balance dapat menjadi strategi bagi perusahaan untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan agar terciptanya work life balance.
Mencapai work engagement pada karyawan : Bagaimana peranan psychological well-being dan work life balance? Ferrysandi, Bryan Nifenty; Nainggolan, Eben Ezer; Ul Haque, Sayidah Aulia
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol 5 No 1 (2024): Volume 5 No 1 Juni 2024
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/sukma.v5i1.11615

Abstract

The purpose of this study is to examine whether psychological well-being and work life balance are related to work engagement in employees. The population in this study were employees in Surabaya City. The sample size for this study was 287 people, as determined by the Isaac and Michael table, with an error rate of 10%. The approach used is quantitative correlational, with simple random sampling technique. The measurement tools used were the Scale of Psychological Well-being (SPWB) (18 items), the Work/Nonwork Interference and Enhancement Scale (17 items), and the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) (17 items) to measure work engagement. The results of this study include multiple linear regression, t-test, variable means, and effective contribution. The results showed that psychological well-being and work life balance significantly increased work engagement (F = 52.664; r = 0.520; R Square = 0.271; P < 0.000). Psychological well-being and work life balance can be used as techniques for employees to build and improve employees' work engagement with the company and their work
Big Five Personality Traits dan Work Engagement Karyawan di Surabaya Alexander, Benyamin; Nainggolan, Eben Ezer; Muslikah, Etik Darul
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 4 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i4.8050

Abstract

Perusahaan yang ingin mendapatkan hasil yang maksimal harus didampingi dengan karyawan yang sama juganya bekerja secara maksimal. Skala yang digunakan dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari skala yang sudah tercipta sebelumnya. Skala keterlibatan kerja diadaptasikan melalui skala Utrecht Work Engagement Scale (UWES) berdasarkan Schaufeli dan Bakker (2004) dan skala kepribadian diadaptasikan melalui skala Big Five Inventory (BFI) berdasarkan John dan Srivastava (1999). Metode yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Hipotesis pertama penelitian ini ditemukan bahwa kepribadian dapat menjadi sebuah prediktor untuk mengetahui tingkatan keterlibatan kerja yang dimiliki oleh seorang karyawan, dengan nilai R=0,646, F=36,877, dan p<0,05. Hipotesis berikutnya dalam penelitian ini ditemukan bahwa dimensi kepribadian ekstraversi (β=0,859 dan p<0,05) dan kesadaran (β =765 dan p<0,05) memiliki hubungan yang signifikan terhadap keterlibatan pekerjaan seorang karyawan. Sedangkan dimensi kepribadian keramahan, neurotisme dan keterbukaan terhadap pengalaman tidak memiliki hubungan yang signifikan.
Kecenderungan narsisme sebagai mediator pada korelasi fear of missing out dan psychological well-being pada mahasiswa pengguna media sosial Mardaratmi, Aissurro Isslamiah; Nainggolan, Eben Ezer; Al Haque, Sayyidah Aulia
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol 5 No 2 (2024): Volume 5 No 2 Desember 2024
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/sukma.v2i5.12438

Abstract

Memiliki tingkat psychological well-being yang tinggi dapat membantu mahasiswa mengurangi risiko stress, cemas, dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran kecenderungan narsisme dalam memediasi hubungan fear of missing out dengan psychological well-being. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan variabel mediator. Sampel penelitian ini 348 mahasiswa aktif di Kota Surabaya, Pengumpulan sampel menggunakan teknik random sampling . Alat ukur yang digunakan menggunakan Psychological Well-Being Scale yang telah diadaptasi dan dimodifikasi oleh Merlyna Revelia (2018) sebanyak 42 item, skala fear of missing out yang dikembangkan oleh peneliti dengan mengacu pada teori Przybylski et al., (2013) sebanyak 20 item, dan skala kecenderungan narsisme yang dikembangkan oleh peneliti dengan mengacu pada teori Raskin & Terry (1988) sebanyak 33 item. Teknik analisis data menggunakan mediation analysis dengan bantuan JASP. Hasil penelitian menunjukkan efek langsung dan efek tidak langsung fear of missing out dengan psychological well-being menghasilkan efek total negative yang signifikan. Hasil tersebut menunjukkan kecenderungan narsisme memediasi secara parsial pada fear of missing out dengan psychological well-being.
Kepuasan kerja dan organizational commitmen pada karyawan: bagaimana peran moderasi sense of belongingness? Sentosa, Renaldo Daniel Muda; Nainggolan, Eben Ezer; Muslikah, Etik Darul
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol 5 No 2 (2024): Volume 5 No 2 Desember 2024
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/sukma.v2i5.12447

Abstract

The high employee turnover rate in Surabaya is a serious concern. This study examines the relationship between job satisfaction and organizational commitment among 395 employees in Surabaya. The results showed a significant positive relationship between the two variables. Furthermore, this study found that sense of belongingness plays an important role in strengthening this relationship. The higher the sense of belonging to the organization, the stronger the relationship between job satisfaction and organizational commitment. These findings highlight the importance for organizations to create an inclusive work environment and empower employees to feel part of the organization. By doing so, organizations can improve employee performance and achieve long-term strategic goals. Tingkat turnover karyawan yang tinggi di Surabaya menjadi perhatian serius. Penelitian ini mengkaji hubungan antara kepuasan kerja dan komitmen organisasi pada 395 karyawan di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa sense of belongingness berperan penting dalam memperkuat hubungan ini. Semakin tinggi rasa memiliki terhadap organisasi, semakin kuat pula hubungan kepuasan kerja dan komitmen organisasi. Temuan ini menyoroti pentingnya bagi organisasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan memberdayakan karyawan agar mereka merasa menjadi bagian dari organisasi. Dengan demikian, organisasi dapat meningkatkan kinerja karyawan dan mencapai tujuan strategis jangka panjang.
Analisis Hubungan Keberanian Mengambil Risiko dan Norma Subjektif terhadap Intensi Berwirausaha Mahasiswa: Temuan yang Tidak Signifikan Sryna, Maria Grace; Nainggolan, Eben Ezer; Muslikah, Etik Darul
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 2 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i2.17624

Abstract

Indonesia has a population of 284 million in 2024, with 69.3% being of productive age. However, the entrepreneurship ratio is only 3.47%, much lower than developed countries, while the unemployment rate reaches 4.82%. This study aims to analyze the relationship of risk-taking courage and subjective norms to entrepreneurial intention in college students. The research method used a correlational quantitative design with a Likert scale-based questionnaire instrument, involving a sample of 17 August Surabaya University students selected by accidental sampling. The results of the analysis showed that risk-taking courage (p = 0.533) and subjective norms (p = 0.129) did not have a significant relationship to entrepreneurial intention, either individually or simultaneously (Chi-Square = 2.177; p = 0.337). Other factors, such as self-efficacy and intrinsic motivation, may be more dominant in influencing entrepreneurial intention. In conclusion, although risk-taking courage and subjective norms are important, they are not enough to explain students' entrepreneurial intention thoroughly.
Gender dan Masa Kerja sebagai Variabel Moderator dalam Hubungan Work Life Balance dan Kinerja Karyawan Kusuma, Safira Nadya; Ezer Nainggolan , Eben Ezer; Muslikah , Etik Darul
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 2 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i2.17721

Abstract

The purpose of this study was to identify the relationship between employee performance and work-life balance with gender and tenure as moderator variables. This study involved 384 employees working in Surabaya City. This study used a quantitative correlational approach. To find out how each variable contributes to the variability of employee performance, data analysis was carried out using a hierarchical regression analysis test. The results showed that there was a positive and significant relationship between work-life balance and employee performance (R² <0.092, and F Change <38.902). The addition of gender and tenure as moderator variables did not have a significant effect on the relationship. The second to fourth models showed significance values ​​above 0.05, indicating that the interaction between work-life balance and gender and tenure was not strong enough to significantly improve the model.
Self-Leadership dan Proactive Behavior pada Mahasiswa MBKM Maharani, Liza Dwi; Nainggolan, Eben Ezer; Haque, Sayidah Aulia'ul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 2 (2024): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i2.10528

Abstract

This research aims to determine the relationship between self-leadership and proactive behavior in students participating in the MBKM program. This research uses quantitative correlational methods. The sampling technique used saturated sampling or total sampling with a sample of 135 students. The subjects in this research were students participating the MBKM program. The instruments in this research are the independent self- leadership scale and the proactive behavior scale. The data analysis technique uses simple linear regression analysis and shows a positive and significant relationship. This means that the higher the level of self-leadership a student has, the higher the student's proactive behavior will be. Keywords: MBKM, Proactive Behavior, Self-Leadership
Citra tubuh Dan Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder: Seberapa pentingkah penampilan fisik bagi remaja ? Putri, Dwi Amalia; Nainggolan, Eben Ezer; Ul Haque, Sayidah Aulia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 2 (2024): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i2.10844

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between body image and body dysmorphic disorder tendencies in teenagers in Surabaya. This study used a correlational quantitative research method. The participants in this study were all teenagers in Surabaya with the age range of 18-21 years. The number of participants in this study was 272 participants taken with reference to the Krejcie table with a confidence of 90%. The sample technique used was Accidental Sampling. The data analysis used is Spearman Rho. The results of this study showed a rho correlation coefficient value of -0.616 with a significance level of 0.000 (p≤0.05). Thus, there is a negative relationship between the two variables which shows that the higher the body image owned, the lower the tendency of body dysmorphic disorder, conversely the lower the body image owned, the higher the tendency of body dysmorphic disorder. Keywords: Body Dysmorphic Disorder; Body Image; Teenagers Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dan kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Partisipan dalam penelitian ini adalah seluhruh remaja di Surabaya dengan rentan usia 18-21 tahun. Jumlah partisipan pada penelitian ini adalah sebanyak 272 partisipan yang diambil dengan mengacu pada tabel krejcie dengan confidence sebesar 90%. Teknik sampel yang digunakan adalah Accidental Sampling. Analisis data yang digunakan adalah Spearman Rho. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai koefisien korelasi rho sebesar -0,616 dengan taraf signifikansi 0,000 (p≤0,05). Dengan demikian, terdapat hubungan negatif antara dua variabel yang menunjukkan bahwa semakin tinggi body image yang dimiliki maka semakin rendah kecenderungan body dysmorphic disordernya, sebaliknya semakin rendah body image yang dimiliki maka semakin tinggi kecenderungan body dysmorphic disorder nya. Kata kunci: Body Dysmorphic Disorder; Body Image; Remaja