cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
BENTENG KARAKTER: SINERGI IMAN DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Yermianti Bine
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7774

Abstract

This study aims to formulate a holistic character development model through the integration of Christian faith and educational psychology in Christian Religious Education. The study is based on the need for a more systematic approach to character formation in response to moral challenges and the weakening of Christian values among students. This research employed a qualitative literature review by examining books, journal articles, and relevant academic sources on character education, Christian Religious Education, and educational psychology. The data were analyzed thematically to identify key concepts, relationships among ideas, and their implications for character formation. The findings show that the integration of Christian faith and educational psychology strengthens character development through five main dimensions: spiritual, moral, cognitive, affective, and social development. This integration also reinforces the role of Christian Religious Education teachers as facilitators who not only teach faith-based values but also accompany students’ psychological and personal growth. In conclusion, the synergy between Christian faith and educational psychology provides a conceptual foundation for holistic character development in Christian Religious Education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan merumuskan model pembinaan karakter holistik melalui integrasi iman Kristen dan psikologi pendidikan dalam Pendidikan Agama Kristen. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan pendekatan pembentukan karakter yang lebih sistematis di tengah tantangan moral dan melemahnya nilai-nilai Kristen pada peserta didik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka terhadap buku, artikel jurnal, dan sumber akademik relevan yang membahas pendidikan karakter, Pendidikan Agama Kristen, dan psikologi pendidikan. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi konsep-konsep utama, hubungan antargagasan, serta implikasinya bagi pembinaan karakter. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi iman Kristen dan psikologi pendidikan memperkuat pembinaan karakter melalui lima dimensi utama, yaitu perkembangan spiritual, moral, kognitif, afektif, dan sosial. Integrasi ini juga menegaskan peran guru Pendidikan Agama Kristen sebagai fasilitator yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai iman, tetapi juga mendampingi pertumbuhan psikologis dan personal peserta didik. Dengan demikian, sinergi antara iman Kristen dan psikologi pendidikan memberikan landasan konseptual bagi pembinaan karakter yang holistik dalam Pendidikan Agama Kristen.
ARAH DAN TUJUAN: STUDI TENTANG PERBEDAAN PERENCANAAN KARIER MAHASISWA DAN MAHASISWI DI PULAU JAWA Yohana Faora Aprilia; William Gunawan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7883

Abstract

Career planning is crucial for students facing job market volatility, but this process is often influenced by social constructs related to gender roles, particularly in the demographic context of Java. This study aims to analyze the comparative level of career planning between male and female students to validate the assumption of gender inequality. Using a quantitative approach utilizing secondary data from the Building an Independent Young Generation (MGMM) study, this study involved the participation of 1,516 students spread across all provinces in Java. Measurements were conducted using the Career Planning Scale instrument and then analyzed using an independent sample t-test. The research findings showed a statistically significant difference with a p value of 0.004, where the male student group had an average score (M = 29.1) that was slightly superior to the female student group (M = 28.4). However, the effect size analysis yielded a value of 0.155, indicating that the difference has a weak practical impact, considering that both groups are in the very high career planning category. This study concludes that gender is not a dominant factor determining career readiness, so career development strategies in higher education should be inclusive and focus on strengthening students' self-efficacy and practical experience. ABSTRAK Perencanaan karier yang matang menjadi kebutuhan krusial bagi mahasiswa dalam menghadapi volatilitas pasar kerja, namun sering kali proses ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial terkait peran gender, terutama dalam konteks demografi Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komparasi tingkat perencanaan karier antara mahasiswa laki-laki dan perempuan guna memvalidasi asumsi ketimpangan gender tersebut. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari studi Membangun Generasi Muda Mandiri (MGMM), penelitian ini melibatkan partisipasi sebanyak 1.516 mahasiswa yang tersebar di seluruh provinsi di Pulau Jawa. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen Career Planning Scale yang kemudian dianalisis menggunakan uji independent sample t-test. Temuan riset menunjukkan adanya perbedaan statistik yang signifikan dengan nilai p = 0.004, di mana kelompok mahasiswa laki-laki memiliki rata-rata skor (M = 29,1) yang sedikit lebih unggul dibandingkan mahasiswa perempuan (M = 28,4). Walaupun demikian, analisis effect size menghasilkan nilai 0,155, yang mengindikasikan bahwa perbedaan tersebut memiliki dampak praktis yang lemah, mengingat kedua kelompok sama-sama berada pada kategori perencanaan karier yang sangat tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gender bukanlah faktor dominan yang menentukan kesiapan karier, sehingga strategi pengembangan karier di perguruan tinggi sebaiknya bersifat inklusif dan berfokus pada penguatan efikasi diri serta pengalaman praktis mahasiswa.
HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN RESILIENSI PADA DEWASA AWAL KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN Latifah Liwanti Putri; Naomi Soetikno
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7919

Abstract

Many victims of dating violence feel worthless, fear abandonment, and blame themselves for situations beyond their control, all of which lead to low self-esteem. Resilience, on the other hand, is a measure of an individual’s ability to cope with stress or difficulties. Individuals with high resilience are better able to reinterpret their experiences of violence as valuable life lessons and avoid lingering trauma. This study aims to analyze the relationship between self- esteem and resilience in young adults who have experienced dating violence. The research method used was a quantitative correlational method with a purposive sampling technique for 305 respondents aged 20–40 years who had a history of dating violence. The instruments used included the Rosenberg Self-Esteem (RSES) and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). The study was conducted online, and data collection was carried out by distributing an online questionnaire using Google Forms distributed through social media such as Instagram, WhatsApp, and Line. The reliability test showed a Cronbach’s Alpha value of 0.839 for self-esteem and 0.968 for resilience. The Kolmogorov-Smirnov normality test yielded a p value > 0.000, so the analysis was continued using the Spearman correlation test. The results of the analysis showed a significant positive relationship between self-esteem and resilience (p = 0.417; p < 0.000), which indicates that individuals with high levels of self-esteem tend to have high levels of resilience as well. This finding confirms that the experience of being a victim of dating violence has an impact on self-improvement and the ability to trust others. ABSTRAK Banyak korban kekerasan dalam pacaran merasa tidak berharga, takut ditinggalkan, dan menyalahkan diri sendiri atas situasi yang sebenarnya berada di luar kendali mereka, yang semuanya mengarah pada rendahnya self-esteem. Di sisi lain, resiliensi merupakan tolak ukur kemampuan individu dalam mengatasi tekanan atau kesulitan yang dihadapi. Individu yang memiliki resiliensi tinggi lebih mampu memaknai ulang pengalaman kekerasan yang dialaminya sebagai pembelajaran hidup yang berharga dan tidak larut dalam trauma berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dengan resiliensi pada dewasa awal yang mengalami korban kekerasan dalam pacaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling terhadap 305 responden berusia 20–40 tahun yang memiliki riwayat korban kekerasan dalam pacaran. Instrumen yang digunakan meliputi Rosenberg Self-Esteem (RSES) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD- RISC). Penelitian dilakukan secara online, dan pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner online menggunakan Google Form yang disebarkan melalui media sosial berupa Instagram, Whatsapp, dan Line. Uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,839 pada self-esteem dan 0,968 pada resiliensi. Uji normalitas Kolmogrov-Smirnov menghasilkan nilai p > 0,000, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji kolerasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-esteem dengan resiliensi (p = 0,417; p < 0,000), yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat self-esteem tinggi cenderung memiliki tingkat resiliensi yang tinggi pula. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman korban kekerasan dalam pacaran berdampak pada peningkatan diri dan kemampuan mempercayai orang lain.
HUBUNGAN CYBERBULLYING DENGAN SELF-REGULATION PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Syalaisya Novi Syafitri; Naomi Soetikno
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7922

Abstract

This study aims to examine the relationship between the experience of being a victim of cyberbullying and self-regulation skills in late adolescent social media users. A quantitative correlational approach was used, involving 310 adolescents aged 18–21 who actively use social media for more than 4 hours per day. Data in this study were collected online using the Cyberbullying Victimization Scale (9 items) to measure victimization experiences and the Short Self-Regulation Questionnaire (40 items) to measure self-regulation. The results of the Pearson Product Moment correlation analysis showed a strong and significant positive relationship (r = 0.690; p < 0.001), meaning that the more frequently adolescents experience cyberbullying as victims, the higher their level of self-regulation. The distribution of categorizations supports this finding, with 67.7% of respondents at high victimization levels and 68.4% at high self-regulation levels. No significant differences were found based on gender. These findings indicate that repeated exposure to cyberbullying can trigger increased self-regulation as an adaptive and protective mechanism in late adolescents. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pengalaman menjadi korban cyberbullying dengan kemampuan self-regulation pada remaja akhir pengguna media sosial. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 310 remaja berusia 18–21 tahun yang aktif menggunakan media sosial lebih dari 4 jam per hari. Data pada penelitian ini dikumpulkan secara daring menggunakan Cyberbullying Victimization Scale (9 item) untuk mengukur pengalaman sebagai korban dan Short Self-Regulation Questionnaire (40 item) untuk mengukur self-regulation. Hasil analisis korelasi Pearson Product Moment menunjukkan hubungan positif yang kuat dan signifikan (r = 0,690; p < 0,001), artinya semakin sering remaja mengalami cyberbullying sebagai korban, semakin tinggi tingkat self-regulation yang dimilikinya. Distribusi kategorisasi memperkuat temuan ini, dengan 67,7% responden berada pada tingkat victimization tinggi dan 68,4% pada self-regulation tinggi. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan berdasarkan jenis kelamin. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan berulang terhadap cyberbullying dapat memicu peningkatan self-regulation sebagai mekanisme adaptasi dan perlindungan diri pada remaja akhir.
JENIS KELAMIN DAN ADAPTABILITAS KARIER: BUKTI EMPIRIS PADA MAHASISWA JABODETABEK DI ERA DINAMIKA DUNIA KERJA Yohana Sri Rahayu; William Gunawan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7988

Abstract

Career adaptability refers to an individual's capacity to proactively cope with and adjust to challenges in career development. This study aims to examine gender differences in career adaptability among undergraduate students in the Greater Jakarta area (Jabodetabek). Despite the region's high labor market dynamics, research on students' adaptive readiness remains limited. Moreover, the use of the Career Adapt-Abilities Scale–Short Form (CAAS-SF) within the Indonesian context is still rare, highlighting a methodological gap addressed in this study. A total of 507 undergraduate students from various public and private universities participated in this study, which is part of the "Membangun Generasi Muda Mandiri" (MGMM) research program. A quantitative comparative approach was employed using the CAAS-SF with a 6-point Likert scale. The results of the independent samples t-test showed no significant difference in career adaptability between male and female students (p = 0.165). Overall, the students demonstrated a high level of career adaptability, reflected across all four dimensions: concern, control, curiosity, and confidence. These findings suggest that gender is not a primary determinant of students' career adaptability. Practically, this study provides an empirical foundation for developing inclusive and gender-equitable career services in higher education institutions, particularly in metropolitan areas like Jabodetabek, by focusing on strengthening adaptability dimensions rather than differentiating interventions by gender. ABSTRAK Adaptabilitas karier adalah kemampuan individu untuk menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap tantangan dalam perkembangan karier secara proaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan adaptabilitas karier berdasarkan jenis kelamin pada mahasiswa S1 di wilayah Jabodetabek. Kawasan ini memiliki dinamika pasar kerja yang tinggi, namun penelitian mengenai kesiapan adaptif mahasiswa masih terbatas. Penggunaan Career Adapt-Abilities Scale–Short Form (CAAS-SF) dalam konteks Indonesia juga belum banyak dilakukan, sehingga studi ini mengisi celah metodologis yang ada. Sebanyak 507 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta terlibat dalam penelitian ini, yang merupakan bagian dari program Membangun Generasi Muda Mandiri (MGMM). Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif komparatif dengan instrumen CAAS-SF skala Likert 6 poin. Hasil uji independent samples t-test menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan adaptabilitas karier antara mahasiswa laki-laki dan perempuan (p = 0,165). Tingkat adaptabilitas karier mahasiswa secara keseluruhan tinggi, termasuk pada keempat dimensinya: concern, control, curiosity, dan confidence. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis kelamin bukan penentu utama dalam perbedaan adaptabilitas karier mahasiswa. Secara praktis, temuan ini menjadi dasar pengembangan layanan karier yang setara dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa di wilayah metropolitan, tanpa membedakan berdasarkan jenis kelamin.
PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK CINTA TANAH AIR GEN Z MELALUI KONTEN KEBERAGAMAN BUDAYA INDONESIA Kyara Nathashia; Nazwa Rahma Aulia; Shafira Anggun Aulia; Latifah Liwanti Putri; Putri Alifia Rahmadani; Sri Tiatri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8018

Abstract

Cultural diversity in Indonesia is one of the nation's most distinctive characteristics and serves as a source of national pride, reflected through the expression of nationalism among its people. In this technological era, social media plays a significant role in shaping individuals' sense of national pride by exposing them to viral content that highlights Indonesia's cultural diversity, thereby forming a national identity for each individual. For Generation Z, the process of forming a national identity is not only shaped by direct interaction, but also influenced by digital communication that takes place on social media. This study aims to explore the role of social media in shaping nationalism among Generation Z individuals through various types of viral content related to Indonesia's cultural diversity. This study used a scoping review method as the main approach. The results of the scoping review show that research on nationalism and love for the homeland in the digital age remains an important focus in the fields of education, culture, and communication. Through active participation in social media, Generation Z can help preserve Indonesia's diverse culture and strengthen the spirit of nationalism that reflects the value of Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity) within the realm of social media. ABSTRAK Keberagaman budaya di Indonesia merupakan salah satu ciri khas bangsa yang perlu dibanggakan oleh masyarakat Indonesia, yaitu dengan menunjukkan rasa cinta tanah air. Di era yang serba teknologi, peran media sosial akan memberikan banyak dampak terhadap individu dalam membentuk rasa cinta tanah air melalui perasaan bangga ketika melihat banyak konten viral yang berisikan keberagaman budaya Indonesia, hingga terbentuk identitas nasional bagi setiap individu. Bagi Gen Z, proses pembentukan identitas nasional tidak hanya terbentuk dari interaksi langsung, tetapi juga dipengaruhi oleh komunikasi digital yang berlangsung di media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran media sosial dalam membentuk rasa cinta tanah air pada individu Gen Z melalui berbagai macam konten viral terkait keberagaman budaya Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode scoping review sebagai pendekatan utama. Hasil scoping review menunjukkan bahwa penelitian mengenai nasionalisme dan cinta tanah air di era digital, masih menjadi fokus penting dalam bidang pendidikan, budaya, dan komunikasi. Melalui partisipasi aktif di media sosial, generasi Z dapat ikut melestarikan kebudayaan Indonesia yang beragam, serta memperkuat semangat kebangsaan yang mencerminkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam lingkup media sosial.
GAMBARAN KULINER BETAWI DALAM MEMPERKUAT JATI DIRI BANGSA Hasna Jauharah; Sutiawan Sutiawan; Syarifah Najmah Khairiyyah; Fausta Ansika Cecilia; Urip Rahmad Endarto; Sri Tiatri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8066

Abstract

This study analyzes the role of traditional Betawi food in strengthening the national identity of Indonesia through a social and cultural approach. Traditional Betawi food not only fulfills physical needs but also serves as a symbol of identity, solidarity, and the inheritance of national values. This research uses a descriptive qualitative method with a narrative approach based on a literature review. The findings reveal that traditional Betawi food reflects cultural acculturation that embodies the values of togetherness, openness, and mutual cooperation. These dishes carry historical, social, and spiritual meanings that contribute to the formation of collective identity. In addition to being local culturales symbols, traditional Betawi food also functions as an educational tool and instrument of cultural diplomacy. Therefore, its preservation is not only about maintaining regional flavors but also reinforcing awareness of the national values that shape the character of the Indonesian nation. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis peran makanan tradisional Betawi dalam memperkuat jati diri bangsa Indonesia melalui pendekatan sosial dan budaya. Makanan tradisional Betawi tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga berfungsi sebagai simbol identitas, solidaritas, dan warisan nilai kebangsaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional Betawi mencerminkan akulturasi budaya yang menggambarkan nilai kebersamaan, keterbukaan, dan gotong royong. Hidangan-hidangan tersebut mengandung makna historis, sosial, dan spiritual yang berkontribusi pada pembentukan identitas kolektif masyarakat. Selain sebagai simbol budaya lokal, makanan tradisional Betawi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan diplomasi budaya. Oleh karena itu, pelestariannya tidak hanya menjaga cita rasa khas daerah, tetapi juga memperkuat kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan yang membentuk karakter bangsa Indonesia.
PERAYAAN HARI BESAR NASIONAL SEBAGAI SARANA MEMPERKUAT TOLERANSI DAN SOLIDARITAS: PERSPEKTIF LITERATUR Karissa Veren; Madeline Gaby Sie; Aginta Aprillia; Maryam Zahra; Belva Afsyari; Sri Tiatri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8075

Abstract

Indonesia is a country rich in cultural, linguistic, and religious diversity. This diversity can be both a strength and a source of conflict if not managed properly. National holiday celebrations go beyond mere ceremonial functions; they serve as collective spaces that facilitate social interactions across different identities. This study aims to explore how national holiday celebrations contribute to strengthening tolerance and solidarity among citizens in a multicultural society. A systematic literature review was conducted on scholarly articles published between 2020 and 2025 that met the inclusion criteria. The findings indicate that participation in national holiday celebrations fosters shared spaces that enhance the values of mutual cooperation, appreciation of differences, and social cohesion. Based on the distress intolerance theory, the study shows that active involvement in social activities helps reduce emotional tension arising from differences and strengthens individuals' capacity to tolerate diversity. This theory is relevant to the Indonesian context, as the social interactions created in national celebrations can reduce tensions between groups and strengthen tolerance towards differences, which is essential for maintaining social cohesion in a pluralistic society. This study makes a significant contribution to the existing literature by filling a gap in research on national holiday celebrations as a means of strengthening social solidarity, using a systematic literature review approach to examine its social contributions in Indonesia. ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan agama. Keberagaman ini dapat menjadi kekuatan maupun sumber konflik jika tidak dikelola dengan tepat. Perayaan hari besar nasional lebih dari sekadar seremonial; ia berfungsi sebagai ruang kolektif yang memfasilitasi interaksi sosial antaridentitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana perayaan hari besar nasional dapat berkontribusi dalam memperkuat toleransi dan solidaritas antarwarga di masyarakat multikultural. Sistematic literature review dilakukan terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi dalam perayaan hari besar nasional memperkuat ruang bersama yang meningkatkan nilai gotong royong, penghargaan terhadap perbedaan, dan kohesi sosial. Berdasarkan teori distress intolerance, penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam aktivitas sosial membantu mengurangi ketegangan emosional yang timbul akibat perbedaan, serta meningkatkan kapasitas individu untuk mentoleransi keberagaman. Teori ini relevan dengan konteks Indonesia, karena interaksi sosial yang tercipta dalam perayaan nasional dapat mengurangi ketegangan antar kelompok dan memperkuat toleransi terhadap perbedaan, yang esensial dalam menjaga kohesi sosial di masyarakat yang majemuk. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur yang ada, dengan mengisi celah penelitian mengenai perayaan hari besar nasional sebagai sarana penguatan solidaritas sosial, menggunakan pendekatan systematic literature review untuk mengkaji kontribusi sosialnya di Indonesia.
IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA B. Siti Mardliyah; Sinta Bella; Sabrina Izzatul Jannah; Nafisatussa'adah Nafisatussa'adah; Tarsono Tarsono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8080

Abstract

This research is motivated by the persistent challenge of shaping students' authentic religious character, where religious education often results only in ritualistic obedience without a deep internalization of values. This study focuses on analyzing the implications of Lawrence Kohlberg's moral development theory as a strategic foundation for revitalizing the practice of religious character education. Using qualitative methods with a descriptive-analytical literature study approach, this study synthesizes Kohlberg's key works and the psychology of religion literature to build a relevant pedagogical framework. Key findings indicate a significant structural relationship between the level of moral reasoning and the expression of religiosity: the Preconventional stage gives rise to instrumental spirituality based on rewards and punishments, the Conventional stage gives rise to normative obedience to social rules, while the Postconventional stage reflects the autonomous internalization of universal ethical principles. These findings imply the need for an adaptive educational approach, where teaching methods such as moral dilemma discussions are tailored to students' cognitive maturity to foster moral development. It is concluded that Kohlberg's framework serves as a crucial pedagogical roadmap for educators to transform external obedience into a strong and internalized moral-religious commitment, so that the success of character education is highly dependent on the alignment of educational interventions with the stages of students' moral development. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan persisten dalam membentuk karakter religius siswa yang autentik, di mana pendidikan agama sering kali hanya menghasilkan kepatuhan ritualistik tanpa internalisasi nilai yang mendalam. Studi ini berfokus pada analisis implikasi teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg sebagai landasan strategis untuk merevitalisasi praktik pendidikan karakter religius. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur deskriptif-analitis, penelitian ini menyintesis karya-karya utama Kohlberg dan literatur psikologi agama untuk membangun kerangka pedagogis yang relevan. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan struktural yang signifikan antara tingkat penalaran moral dengan ekspresi religiusitas: tahap Prakonvensional memunculkan spiritualitas instrumental berbasis imbalan dan hukuman, tahap Konvensional melahirkan kepatuhan normatif terhadap aturan sosial, sedangkan tahap Pascakonvensional mencerminkan internalisasi prinsip etika universal secara otonom. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pendekatan pendidikan yang adaptif, di mana metode pengajaran seperti diskusi dilema moral disesuaikan dengan kematangan kognitif siswa untuk mendorong perkembangan moral. Disimpulkan bahwa kerangka kerja Kohlberg berfungsi sebagai peta jalan pedagogis krusial bagi pendidik untuk mentransformasi ketaatan yang bersifat eksternal menjadi komitmen moral-religius yang kokoh dan terinternalisasi, sehingga keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada keselarasan intervensi edukatif dengan tahapan perkembangan moral peserta didik.  
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA KESEPIAN DI ERA DIGITAL Naila Hullatun Nichlah; Agustina Agustina; Hanna Christina Uranus
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8102

Abstract

The high use of social media in the digital era has the potential to increase loneliness. This condition is often experienced by university students who are in the stage of emerging adulthood, a transitional phase marked by various developmental demands. Loneliness in this phase is often associated with decreased self-esteem, which can lead to dissatisfaction with oneself and affect several aspects of students' lives. One external factor known to influence self-esteem is social support. Social support provides a sense of being valued, accepted, and acknowledged by the surrounding environment, which can strengthen positive self-evaluation. This study aims to examine whether there is a relationship between social support and self-esteem among university students who are vulnerable to low self-esteem due to developmental demands and loneliness. This study uses a quantitative approach with correlation analysis to test the relationship between the two variables. A total of 262 participants were recruited using non-probability sampling techniques. The results show that social support has a small positive relationship with self-esteem among lonely students in the digital era. These findings indicate that the higher the social support received by students, the higher their self-esteem tends to be. Therefore, social support is proven to be a contributing factor to self-esteem among students experiencing loneliness in the digital era. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang tinggi di era digital berpotensi meningkatkan kesepian. Kondisi ini sering dialami oleh mahasiswa yang berada pada tahap emerging adulthood, yaitu fase peralihan yang ditandai dengan berbagai tuntutan perkembangan. Kesepian pada fase ini sering dikaitkan dengan penurunan self-esteem, yang dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan mahasiswa. Salah satu faktor eksternal yang diketahui dapat memengaruhi self-esteem adalah dukungan sosial. Dukungan sosial memberikan rasa dihargai, diterima, dan diperhatikan oleh lingkungan sekitar, yang dapat memperkuat evaluasi diri yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dan self-esteem pada mahasiswa yang rentan mengalami penurunan self-esteem akibat tuntutan perkembangan dan kesepian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan uji korelasi untuk menguji hubungan antar kedua variabel. Sebanyak 262 partisipan diikutsertakan melalui teknik non-probability sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan positif yang kecil dengan self-esteem pada mahasiswa yang mengalami kesepian di era digital. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat self-esteem yang mereka miliki. Dengan demikian, dukungan sosial terbukti menjadi faktor yang dapat berkontribusi terhadap self-esteem mahasiswa yang mengalami kesepian di era digital.