cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
KETANGGUHAN SEBAGAI UPAYA MENGATASI KESEPIAN PADA MAHASISWA RANTAU DI JAKARTA Yunita Olip Naibaho; Linda Wati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9591

Abstract

ABSTRACT Migrant students often face social, academic, and emotional challenges that often trigger loneliness due to differences in environment, culture, and limited social support. Loneliness can lead to decreased motivation, emotional imbalance, and even mental health problems. This condition emphasizes the importance of protective factors that can help students manage stress while living away from home, one of which is hardiness. This study aims to determine the relationship between hardiness and loneliness among students living away from home in Jakarta. The research method used is quantitative correlational with purposive sampling techniques, involving 215 participants. Resilience was measured using the Dispositional Resilience Scale developed in 2010 by Hystad, while loneliness was assessed using the UCLA Loneliness Scale Version 3 introduced in 1996 by Russell. The results of the analysis using Spearman's rho showed a value of r = –0.580 and p = 0.000, indicating a negative and significant relationship between hardiness and loneliness. These findings show that the higher the hardiness of migrant students, the lower their level of loneliness, and vice versa. ABSTRAK Mahasiswa rantau sering dihadapkan pada tantangan adaptasi sosial, akademik, dan emosional yang sering memicu kesepian akibat perbedaan lingkungan, budaya, serta keterbatasan dukungan sosial. Kesepian dapat berdampak pada penurunan motivasi, gangguan keseimbangan emosional, hingga risiko masalah kesehatan mental. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya faktor protektif yang mampu membantu mahasiswa mengelola tekanan selama merantau, salah satunya adalah ketangguhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ketangguhan dengan kesepian pada mahasiswa rantau di Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling, melibatkan 215 partisipan. Pengukuran ketangguhan dilakukan dengan menggunakan Dispositional Resilience Scale yang dikembangkan pada tahun 2010 oleh Hystad, sedangkan tingkat kesepian diukur menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3 yang diperkenalkan pada tahun 1996 oleh Russell. Hasil analisis menggunakan Spearman’s rho menunjukkan nilai r = –0.580 dan p = 0.000, yang mengindikasikan adanya hubungan negatif dan signifikan antara ketangguhan dan kesepian. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ketangguhan mahasiswa rantau, maka semakin rendah tingkat kesepian yang mereka alami, begitu juga sebaliknya.
KORELASI HUBUNGAN PARASOSIAL DAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA KOMUNITAS BTS ARMY Michele Tesalonika Nauli Napitupulu; Linda Wati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9592

Abstract

ABSTRACT The Hallyu phenomenon in Indonesia, particularly the popularity of BTS, has encouraged the formation of parasocial relationships (PSR) among its fans, or ARMY. PSR is a one-way emotional attachment that arises through digital interaction with media figures. On the other hand, marital satisfaction reflects an individual’s evaluation of the quality of long-term relationships. This study aims to determine the relationship between PSR and marital satisfaction among married ARMY members. The method used is a correlational quantitative approach with purposive sampling technique. There were 127 participants in this study with the criteria of having been an ARMY for at least 1 year and being married for at least 1 year. The instruments used were the Multiple Parasocial Relationships Scale (MPRS) and the ENRICH Marital Inventory (EMI). The data in this study had a non-normal distribution, so data analysis was performed using Spearman’s rho non-parametric correlation test. The results of the study showed that PSR and marital satisfaction were in the high category. The correlation test results showed a positive and significant relationship between PSR and marital satisfaction (r = 0.180, p < 0.05). This finding indicates that parasocial attachment does not necessarily have negative implications, but can instead coexist with a good quality marital relationship. ABSTRAK Fenomena Hallyu di Indonesia, khususnya popularitas BTS, mendorong terbentuknya hubungan parasosial (PSR) pada penggemarnya atau ARMY. PSR merupakan keterikatan emosional satu arah yang muncul melalui interaksi digital dengan figur media. Di sisi lain, kepuasan pernikahan mencerminkan evaluasi individu terhadap kualitas relasi jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara PSR dan kepuasan pernikahan pada ARMY yang telah menikah. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Partisipan pada penelitian ini sebanyak 127 orang dengan kriteria telah menjadi ARMY minimal 1 tahun dan usia pernikahan minimal 1 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Multiple Parasocial Relationships Scale (MPRS) dan ENRICH Marital Inventory (EMI). Data pada penelitian ini memiliki distribusi yang tidak normal sehingga analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSR dan kepuasan pernikahan berada pada kategori tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara PSR dan kepuasan pernikahan (r = 0.180, p < 0.05). Temuan ini menunjukkan bahwa keterikatan parasosial tidak selalu berimplikasi negatif, melainkan dapat koeksis dengan kualitas hubungan pernikahan yang baik.
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING GURU NON-PLB DI SLB Natalie Angel Lyke Batoek; Yeni Damayanti; Mernon Yerlinda C. Mage; R. Pasifikus Ch. Wijaya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9760

Abstract

Psychological well-being is a fundamental pillar that ensures the sustainability of teachers' careers and the quality of instruction. However, educators with non-special education (non-PLB) backgrounds who work in Special Needs Schools (SLB) face significant challenges. These teachers often experience mental stress and technical obstacles due to limited specific knowledge in guiding children with special needs. This study aims to explore the picture of psychological well-being and identify the determinants that influence it in the SLB Negeri Pembina Kupang environment. Using descriptive qualitative methods, this study collected data through semi-structured interviews with four non-PLB teachers with less than five years of service, which were analyzed in depth using thematic analysis procedures. The research findings indicate that psychological well-being is significantly influenced by internal factors, including perseverance, resilience, emotional regulation skills, motivation for personal growth, and the meaning of the profession as a life calling that provides emotional satisfaction from student progress. In addition, external factors such as strong social support from colleagues, the principal, and parents are also crucial elements. The main conclusion is that the psychological well-being of these educators is the result of a dynamic interaction between personal capacity and socio-environmental support. These findings recommend the need for mental health strengthening programs for non-special education teachers to ensure the creation of a higher-quality inclusive education ecosystem. ABSTRAK Kesejahteraan psikologis merupakan pilar fundamental yang menjamin keberlanjutan karier serta kualitas instruksional guru, namun tantangan besar dihadapi oleh tenaga pendidik berlatar belakang non-pendidikan luar biasa (non-PLB) yang bertugas di Sekolah Luar Biasa (SLB). Para guru ini sering kali mengalami tekanan mental dan hambatan teknis karena keterbatasan pengetahuan spesifik dalam membimbing anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran kesejahteraan psikologis serta mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang memengaruhinya di lingkungan SLB Negeri Pembina Kupang. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui teknik wawancara semi-terstruktur terhadap empat guru non-PLB dengan masa pengabdian kurang dari lima tahun, yang dianalisis secara mendalam menggunakan prosedur analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis dipengaruhi secara signifikan oleh faktor internal, yang meliputi aspek ketekunan, resiliensi, kemampuan regulasi emosi, motivasi pertumbuhan pribadi, serta pemaknaan profesi sebagai panggilan hidup yang memberikan kepuasan emosional atas kemajuan siswa. Selain itu, faktor eksternal berupa dukungan sosial yang kuat dari rekan sejawat, kepala sekolah, dan orang tua siswa turut menjadi elemen krusial. Sebagai simpulan utama, kesejahteraan psikologis para pendidik ini merupakan hasil interaksi dinamis antara kapasitas personal dan dukungan lingkungan sosial-lingkungan. Temuan ini merekomendasikan perlunya program penguatan mental bagi guru non-PLB guna memastikan terciptanya ekosistem pendidikan inklusif yang lebih berkualitas.    
HUBUNGAN TOXIC PARENTING DENGAN SELF ESTEEM SISWA DI SMA KRISTEN Anaci Omega Saiputa; R. Pasifikus Christa Wijaya; Mardiana Artati; Marni Marni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9761

Abstract

Toxic parenting is a detrimental parenting pattern that can hinder adolescents’ psychological development, particularly in shaping their self-esteem. This parenting style includes excessive demands, emotional neglect, and demeaning criticism directed toward the child. This study aims to examine the relationship between toxic parenting and self esteem among students at SMA Kristen 1 Kalabahi. Employing a quantitative approach with a correlational design, the study involved 215 students aged 14-19 years selected using a quota sampling technique. The instruments used were the Toxic Parenting Scale based on the aspects proposed by Dunham, Dermer, and Carlson and the Self-Esteem Inventory developed by Coopersmith. The results indicated a significant negative relationship between toxic parenting and self-esteem (r = -0.306; p = 0.000), meaning that higher levels of toxic parenting are associated with lower levels of self-esteem. Most students were categorized as having moderate self-esteem (82.8%) and moderate levels of toxic parenting (76.3%). Regression analysis showed that toxic parenting contributed 9.36% to the variance in self-esteem, with the dismissive parents aspect being the most dominant factor in lowering students’ self-esteem. These findings highlight the crucial role of emotional bonding between parents and children in fostering healthy self-esteem, and suggest the need for parenting education interventions to promote healthier parenting practices that support adolescents’ psychological development.. ABSTRAK Toxic parenting merupakan pola asuh yang merugikan dan dapat menghambat perkembangan psikologis remaja, terutama dalam pembentukan self esteem. Pola asuh ini mencakup perilaku orang tua yang menuntut secara berlebihan, kurang memberi dukungan emosional, serta cenderung meremehkan atau mengkritik anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara toxic parenting dengan self esteem pada siswa di SMA Kristen 1 Kalabahi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 215 siswa berusia 14–19 tahun yang dipilih melalui teknik quota sampling. Instrumen penelitian terdiri dari Skala Toxic Parenting berdasarkan aspek Dunham, Dermer, & Carlson serta Self Esteem Inventory dari Coopersmith. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara toxic parenting dan self esteem (r = -0,306; p = 0,000), yang berarti semakin tinggi tingkat toxic parenting yang dialami siswa maka semakin rendah self esteem mereka. Mayoritas siswa berada pada kategori self esteem sedang (82,8%) dan toxic parenting kategori sedang (76,3%). Analisis regresi menunjukkan bahwa toxic parenting memberikan kontribusi sebesar 9,36% terhadap variasi self esteem, dengan aspek dismissive parents menjadi faktor yang paling dominan dalam menurunkan self esteem siswa. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak sangat penting dalam membangun self esteem yang sehat, serta perlunya intervensi berbasis edukasi parenting untuk meningkatkan pola asuh positif dalam mendukung perkembangan psikologis remaja..    
GAMBARAN STRES PADA DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI DI PRODI PSIKOLOGI, FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT, UNIVERSITAS NUSA CENDANA Josephine Mersiana M Seran; M.K.P Abdi Keraf; Rizky Pradita Manafe
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9762

Abstract

This study aims to provide an overview of the stress experienced by thesis supervisors in the Psychology Study Program, Faculty of Public Health, Universitas Nusa Cendana. The research background stems from the increasing academic workload, the dynamics of interactions with students, and institutional demands that may affect supervisors’ psychological well-being and the quality of academic guidance. The study focuses on identifying the sources of stress, the stress responses that emerge, and the factors that either strengthen or weaken the presence of stress. This research employed a qualitative method with a descriptive qualitative approach, using in-depth interviews with three thesis supervisors selected through purposive sampling. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model of qualitative data analysis. The findings indicate that the supervision process generates both positive and negative stress responses. The main sources of stress include students who show limited progress, poorly completed revisions, and uncooperative co-supervisors. Additional stress-enhancing factors include pressure from students’ families, the use of AI in thesis writing, and the impacts of the Merdeka Student Exchange Program. These findings highlight the importance of institutional support, effective workload management, and the use of adaptive coping strategies to maintain supervisors’ psychological well-being and ensure the quality of academic supervision. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai stres yang dialami oleh dosen pembimbing skripsi di Program Studi Psikologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Nusa Cendana. Latar belakang penelitian berangkat dari meningkatnya beban kerja akademik, dinamika interaksi antara dosen dan mahasiswa, serta tuntutan institusional yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis dan kualitas pembimbingan akademik. Fokus penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi sumber stres, respons stres yang muncul, serta faktor-faktor yang dapat memperkuat atau memperlemah munculnya stres tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui wawancara mendalam terhadap tiga dosen pembimbing yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembimbingan memunculkan respons stres positif maupun negatif. Sumber stres utama meliputi mahasiswa yang tidak menunjukkan progres, revisi yang dikerjakan secara kurang maksimal, serta rekan pembimbing yang kurang kooperatif. Faktor-faktor eksternal yang memperkuat stres antara lain tekanan dari keluarga mahasiswa, penggunaan AI dalam penulisan skripsi, serta dampak dari Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan institusional, pengelolaan beban kerja yang efektif, serta penggunaan strategi coping yang adaptif untuk menjaga kesehatan psikologis dosen dan memastikan kualitas pembimbingan akademik tetap optimal.  
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA Yunita Anjeli Busu; M.K.P Abdi Keraf; Theodora Takalapeta
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9763

Abstract

Public speaking anxiety often becomes a barrier for students due to feelings of fear and threat when facing an audience. This study focuses on analyzing the correlation between self-confidence levels and public speaking anxiety among new students in the 2024/2025 academic year at Nusa Cendana University. This study was implemented using quantitative methods with a sampling stage utilizing proportionate stratified random sampling techniques. The data collection stage was carried out by distributing two main instruments: a self-confidence scale and a speaking anxiety scale. Based on the results of statistical data analysis, the research findings successfully demonstrated a highly significant negative relationship between the two research variables, as evidenced by the correlation coefficient value of -0.521 with a significance below 0.05. These quantitative results clearly mean that the higher a student's self-confidence, the lower their level of public speaking anxiety. Conversely, low self-confidence will trigger high levels of anxiety. As a main conclusion, this research confirms that the presence of a development program to increase self-confidence in the campus environment is a very important strategic step to be implemented to help overcome the problem of public speaking anxiety more effectively among students in a comprehensive and sustainable manner. ABSTRAK Kecemasan berbicara di depan umum sering menjadi kendala bagi mahasiswa karena adanya perasaan takut serta terancam saat menghadapi audiens. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis korelasi antara tingkat kepercayaan diri dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa baru tahun akademik 2024/2025 di Universitas Nusa Cendana. Studi ini diimplementasikan melalui metode kuantitatif bersama tahapan penarikan sampel yang memanfaatkan teknik proportionate stratified random sampling. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan dua instrumen utama yakni skala kepercayaan diri serta skala kecemasan berbicara. Berdasarkan hasil analisis data statistik, temuan penelitian sukses menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara kedua variabel penelitian tersebut, yang dibuktikan oleh perolehan nilai koefisien korelasi sebesar -0,521 dengan signifikansi di bawah 0,05. Hasil kuantitatif tersebut secara gamblang mengartikan bahwa semakin tinggi kepercayaan diri yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, maka akan semakin rendah pula tingkat kecemasan berbicara di depan umum yang mereka alami. Sebaliknya, kepercayaan diri yang rendah akan memicu tingginya kecemasan tersebut. Sebagai simpulan utama, riset ini menegaskan bahwa kehadiran sebuah program pengembangan untuk peningkatan kepercayaan diri di lingkungan kampus menjadi suatu langkah strategis yang sangat penting untuk diterapkan guna membantu mengatasi masalah kecemasan berbicara di depan publik secara lebih efektif pada kalangan mahasiswa secara menyeluruh dan berkesinambungan.  
EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA BROKEN HOME DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Ali Jauhari; Dewi Rayani; Ichwanul Mustakim
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9808

Abstract

ABSTRACT Family is the primary environment that plays an important role in an individual's psychological development. Family conflicts that end in divorce can lead to a broken home condition which affects children's emotional well-being, such as feelings of sadness, lack of attention, and loss of parental support. These conditions may reduce students’ self-confidence, causing difficulties in social interaction and participation in learning activities. This issue highlights the importance of guidance and counseling services as an effort to help students improve their self-confidence. This study aims to examine the effectiveness of group counseling in improving the self-confidence of tenth-grade students at SMKN 1 Mataram who come from broken home families. The study employed a quantitative approach with a One Group Pre-test and Post-test experimental design. Data were collected through questionnaires as the main instrument, supported by observation, interviews, and documentation. The sample consisted of 8 students selected through purposive sampling from a population of 85 students based on the lowest self-confidence scores. Data were analyzed using the t-test. The results showed that the t-count value of 15.439 was greater than the t-table value of 2.365 at a significance level of 5% (df = 7), indicating that the null hypothesis (Ho) was rejected and the alternative hypothesis (Ha) was accepted. These findings indicate that group counseling is effective in improving the self-confidence of students from broken home families. ABSTRAK Keluarga merupakan lingkungan utama dalam perkembangan psikologis individu. Konflik keluarga yang berujung pada perceraian dapat menimbulkan kondisi broken home yang berdampak pada kondisi emosional anak, seperti perasaan sedih, kurang perhatian, serta hilangnya dukungan dari orang tua. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan diri sehingga siswa mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Permasalahan ini menunjukkan pentingnya layanan bimbingan dan konseling sebagai upaya membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas konseling kelompok dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas X SMKN 1 Mataram yang berasal dari keluarga broken home. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen One Group Pre-test and Post-test. Data dikumpulkan melalui angket sebagai instrumen utama, serta observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai data pendukung. Sampel penelitian berjumlah 8 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi 85 siswa berdasarkan skor kepercayaan diri terendah. Analisis data menggunakan uji-t (t-test). Hasil penelitian menunjukkan nilai t-hitung sebesar 15,439 lebih besar daripada t-tabel sebesar 2,365 pada taraf signifikansi 5% (db = 7), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa konseling kelompok efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri (self-confidence) siswa dari keluarga broken home.
PERAN KONSELING BEHAVIOR DENGAN TEKNIK ASSERTIVE TRAINING DALAM MENGENDALIKAN PERILAKU KECANDUAN GAME ONLINE SISWA Dominikus Walla; Dewi Rayani; Ichwanul Mustakim
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9810

Abstract

ABSTRACT Online games can provide cognitive benefits such as enhancing strategic thinking and problem-solving skills; however, excessive use may lead to addictive behaviors that negatively affect students’ psychological and social conditions. The phenomenon of online game addiction in schools reveals a gap between the need for effective counseling services and the limited availability of empirically tested behavior-based interventions, thereby requiring structured intervention efforts. This study aims to determine the effect of behavioral counseling on online game addiction among eighth-grade students at SMP Negeri 1 Gunungsari in the 2023/2024 academic year. The research employed a quantitative approach using a one-group pretest–posttest experimental design. The sample consisted of eight students identified as having online game addiction tendencies based on pretest results and selected through purposive sampling. The intervention was conducted through group counseling sessions using the Assertive Training technique to help students improve self-control over excessive gaming behavior. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. The results showed that the calculated t-value (27.149) was greater than the t-table value (2.365) at α = 0.05 (df = 7), indicating that the alternative hypothesis was accepted. These findings confirm that behavioral counseling with the Assertive Training technique is effective in reducing online game addiction and provides practical contributions to strengthening school guidance and counseling services. ABSTRAK Game online dapat memberikan manfaat kognitif seperti melatih strategi dan pemecahan masalah, namun penggunaan berlebihan berpotensi menimbulkan perilaku adiktif yang berdampak pada aspek psikologis dan sosial siswa. Fenomena kecanduan game online di sekolah menunjukkan kesenjangan antara kebutuhan layanan konseling yang efektif dan masih terbatasnya intervensi berbasis pendekatan behavior yang teruji secara empiris, sehingga diperlukan upaya intervensi yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling behavior terhadap kecanduan game online pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsari Tahun Pelajaran 2023/2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 8 siswa yang terindikasi kecanduan berdasarkan hasil pretest dan dipilih melalui purposive sampling. Intervensi diberikan dalam bentuk konseling kelompok menggunakan teknik Assertive Training untuk membantu siswa meningkatkan kontrol diri terhadap perilaku bermain game. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan nilai t-hitung 27,149 > t-tabel 2,365 (α = 0,05; db = 7), sehingga hipotesis alternatif diterima. Temuan ini menegaskan bahwa konseling behavior dengan teknik Assertive Training efektif menurunkan tingkat kecanduan game online serta memberikan kontribusi praktis bagi penguatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
KETERKAITAN SELF REGULATION DENGAN FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH Yanti Armilyana; Farida Herna Astuti; Dewi Rayani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9811

Abstract

ABSTRACT The use of social media in daily life has psychological impacts on students, one of which is Fear of Missing Out (FOMO), defined as the feeling of anxiety about missing information or activities experienced by others on social media. This condition has the potential to increase anxiety, making strong self-regulation skills necessary for students to control their social media usage behavior. This study aims to analyze the relationship between self-regulation and Fear of Missing Out among eleventh-grade students of SMA Nurul Falah Perina in the 2023/2024 academic year. The study employed a quantitative approach with a correlational research design. The sample consisted of 20 students selected using a total sampling technique. Data were collected through a questionnaire as the primary instrument and analyzed using the Product Moment correlation formula. The results of the analysis showed a negative relationship between self-regulation and FOMO, with a correlation coefficient (r) of -0.746 at a 5% significance level (p < 0.05). These findings indicate that the higher the students' self-regulation ability, the lower the level of FOMO experienced. Therefore, self-regulation plays an important role in minimizing students' tendency toward FOMO. ABSTRAK Penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak psikologis bagi siswa, salah satunya adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan khawatir tertinggal informasi atau aktivitas orang lain di media sosial. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kecemasan sehingga diperlukan kemampuan self regulation yang baik agar siswa mampu mengendalikan perilaku penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self regulation dengan Fear of Missing Out pada siswa kelas XI SMA Nurul Falah Perina Tahun Pelajaran 2023/2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 20 siswa yang ditentukan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui angket sebagai instrumen utama dan dianalisis menggunakan korelasi Product Moment. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif antara self regulation dan FOMO dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,746 pada taraf signifikansi 5% (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi diri siswa, semakin rendah tingkat FOMO yang dialami. Dengan demikian, self regulation berperan penting dalam meminimalkan kecenderungan FOMO pada siswa.
PENGARUH KONSELING BEHAVIORAL DENGAN TEKNIK BEHAVIOR CONTRACT TERHADAP PERILAKU PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA Isfiani Isfiani; Ni Ketut Alit Suarti; Ahmad Muzanni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.9812

Abstract

ABSTRACT Academic procrastination is a common problem among students and can affect discipline as well as delays in completing academic tasks. This study aimed to examine the effect of behavioral counseling using the behavior contract technique on academic procrastination among eleventh-grade students at SMKN 1 Keruak. The research employed an experimental method with a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 16 students selected through purposive sampling based on a high level of academic procrastination. Data were collected using a questionnaire as the main instrument, supported by observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using a paired sample t-test to determine the difference between pretest and posttest scores after the intervention. The results of the analysis indicated that the implementation of behavioral counseling with the behavior contract technique had a significant effect on reducing students’ academic procrastination behavior. These findings indicate that the behavior contract technique can help students increase their commitment to completing academic tasks and reduce the tendency to delay their academic responsibilities. Therefore, the behavior contract technique in behavioral counseling can be used as an alternative strategy in school guidance and counseling services to support the development of students’ discipline, responsibility, and effective time management in learning. ABSTRAK Prokrastinasi akademik merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi di kalangan siswa dan dapat berdampak pada rendahnya kedisiplinan serta keterlambatan dalam menyelesaikan tugas belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling behavioral dengan teknik behavior contract terhadap perilaku prokrastinasi akademik pada siswa kelas XI di SMKN 1 Keruak. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 16 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan tingkat prokrastinasi akademik yang tinggi. Data penelitian dikumpulkan melalui angket sebagai instrumen utama yang didukung oleh observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan uji paired sample t-test untuk mengetahui perbedaan skor sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan konseling behavioral dengan teknik behavior contract memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan perilaku prokrastinasi akademik siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik behavior contract dapat membantu siswa meningkatkan komitmen dalam menyelesaikan tugas serta mengurangi kecenderungan menunda pekerjaan akademik. Dengan demikian, teknik behavior contract dalam konseling behavioral dapat dimanfaatkan sebagai salah satu strategi layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk membantu siswa mengembangkan kedisiplinan dan tanggung jawab dalam kegiatan belajar.