cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PENERAPAN KONSELING KELOMPOK BERBASIS PENDEKATAN REALITA UNTUK MENINGKATKAN SELF CONFIDENCE SISWA Sopiana Nisa Aini; Farida Herna Astuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.9813

Abstract

ABSTRACT Self-confidence is an important aspect of student development as it influences their ability to interact, make decisions, and face various challenges in the learning process. Low self-confidence can be influenced by both internal and external factors, such as lack of family support, low learning motivation, and an unsupportive social environment. These conditions highlight the importance of effective guidance and counseling services to help students develop optimal self-confidence. This study aimed to analyze the effect of group counseling using the reality approach on students’ self-confidence at SMPN 3 Keruak in the 2023/2024 academic year. The research employed a one-group pre-test post-test design. The population consisted of all eighth-grade students totaling 61 students, with a sample of 13 students who had low levels of self-confidence based on the pre-test results selected through purposive sampling. Data were analyzed using the t-test to determine differences in self-confidence levels before and after the intervention. The results showed that the calculated t value (28.738) was greater than the t table value (2.179) at the 5% significance level, indicating that Ho was rejected and Ha was accepted. These findings indicate that group counseling with a reality approach is effective in improving students’ self-confidence and can be used as an intervention strategy in school guidance and counseling services. ABSTRAK Sikap percaya diri merupakan aspek penting dalam perkembangan siswa karena memengaruhi kemampuan mereka dalam berinteraksi, mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai tantangan pembelajaran. Rendahnya kepercayaan diri dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal, seperti kurangnya perhatian keluarga, rendahnya motivasi belajar, serta lingkungan pergaulan yang kurang mendukung. Kondisi ini menunjukkan pentingnya layanan bimbingan dan konseling yang efektif untuk membantu siswa mengembangkan kepercayaan diri secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konseling kelompok dengan pendekatan realitas terhadap kepercayaan diri siswa di SMPN 3 Keruak Tahun Pelajaran 2023/2024. Metode penelitian menggunakan desain one group pre-test post-test. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 61 siswa, dengan sampel sebanyak 13 siswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah berdasarkan hasil pre-test dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji t untuk mengetahui perbedaan tingkat kepercayaan diri sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan nilai t hitung sebesar 28,738 lebih besar daripada t tabel sebesar 2,179 pada taraf signifikansi 5%, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa konseling kelompok dengan pendekatan realitas efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa dan dapat digunakan sebagai strategi intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
PENGARUH TEKNIK ART THERAPY TERHADAP PENGENDALIAN EMOSI MARAH PADA SISWA Titi Eka Wahyuni; Farida Herna Astuti; M. Samsul Hadi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.9814

Abstract

ABSTRACT Art therapy is a therapeutic approach that integrates artistic activities with psychological processes to help individuals express and manage emotions. Anger in students often arises as an emotional response to situations perceived as disturbing or uncomfortable, thus requiring appropriate interventions through guidance and counseling services. This study aims to determine the effect of art therapy techniques on anger among eighth-grade students at SMPN 5 Praya in the 2022/2023 academic year. The study employed a one-group pre-test–post-test design. The population consisted of 64 eighth-grade students at SMPN 5 Praya, while the sample included 7 students who demonstrated high levels of anger based on the pre-test results, selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires as the primary method, supported by observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using a t-test to compare students’ anger scores before and after the implementation of art therapy. The results showed that the calculated t-value of 6.687 was higher than the t-table value at the 5% significance level of 2.447, indicating that the alternative hypothesis was accepted. These findings indicate that the application of art therapy techniques effectively helps students express emotions more positively and reduces their levels of anger. The implication of this study suggests that art therapy can be utilized as an alternative strategy within school guidance and counseling services to support students in developing more adaptive emotional regulation. ABSTRAK Art therapy merupakan pendekatan terapi yang menggabungkan aktivitas seni dengan proses psikologis untuk membantu individu mengekspresikan dan mengelola emosi. Emosi marah pada siswa sering muncul sebagai respons terhadap situasi yang dianggap mengganggu atau menimbulkan ketidaknyamanan sehingga perlu penanganan yang tepat melalui layanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik art therapy terhadap emosi marah pada siswa kelas VIII di SMPN 5 Praya Tahun Pelajaran 2022/2023. Penelitian menggunakan desain one group pre-test–post-test. Populasi penelitian berjumlah 64 siswa kelas VIII SMPN 5 Praya, sedangkan sampel penelitian berjumlah 7 siswa yang memiliki tingkat emosi marah tinggi berdasarkan hasil pre-test dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan angket sebagai metode utama serta observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai metode pendukung. Analisis data dilakukan menggunakan uji t untuk membandingkan skor emosi marah sebelum dan sesudah perlakuan art therapy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 6,687 lebih besar dibandingkan nilai t tabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 2,447 sehingga hipotesis alternatif diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan teknik art therapy efektif dalam membantu siswa mengekspresikan emosi secara lebih positif dan menurunkan tingkat emosi marah yang dialami. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa art therapy dapat dimanfaatkan sebagai strategi layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk membantu siswa mengembangkan pengelolaan emosi yang lebih adaptif.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ART THERAPY DAN COGNITIVE DEFUSION UNTUK MENURUNKAN TINGKAT OVERTHINKING PADA DEWASA MUDA Nashwa Nadira; Ghaisa Adani Putra; Asysyifa Zahra Salsabila; Anisa Mayangsari; Khairunnisa Alifah Raharja; Muhamad Arif Saefudin; Farhan Zakariyya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9849

Abstract

Overthinking is a recurring thought pattern characterized by excessive worry and difficulty letting go of negative thoughts, which can potentially trigger anxiety or other issues that interfere with an individual's psychological well-being. This condition is increasingly found in Gen Z today due to social demands, academic pressure, and uncertainty about the future. This study aims to compare the effectiveness of art therapy and cognitive defusion in reducing overthinking levels in young adults. The method used in this study is a pure quantitative experimental approach with a between-subjects pretest-posttest using a double posttest design. There were 26 young adults aged 18–24 years who were divided into the Art Therapy group (n = 13) and the Cognitive Defusion group (n = 13). Overthinking levels were measured using the Perseverative Thinking Questionnaire (PTQ) at the pretest, posttest 1, and posttest 2 stages. Data analysis was performed using paired sample t-tests and independent sample t-tests. The results showed no statistically significant differences between the two intervention groups. However, there was a decrease in the average score in the Art Therapy group, indicating a decrease in overthinking levels compared to the Cognitive Defusion group. ABSTRAKOverthinking merupakan pola pikir berulang yang ditandai dengan kekhawatiran berlebihan dan memiliki kesulitan untuk melepaskan pikiran negatif, yang berpotensi memicu kecemasan atau hal-hal yang dapat mengganggu kesejahteraan psikologis individu. Kondisi ini semakin banyak ditemukan pada kelompok Gen Z saat ini akibat tuntutan sosial, tekanan akademik, dan ketidakpastian masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas art therapy dan cognitive defusion dalam menurunkan tingkat overthinking pada dewasa muda. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen murni dengan between subject pretest-posttest using double posttest design. Partisipan berjumlah 26 dewasa muda berusia 18–24 tahun yang dibagi ke dalam kelompok Art Therapy (n = 13) dan Cognitive Defusion (n = 13). Tingkat overthinking diukur menggunakan Perseverative Thinking Questionnaire (PTQ) pada tahap pretest, posttest 1, dan posttest 2. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired sample t-test dan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok intervensi. Namun, terjadi penurunan skor rata-rata pada kelompok Art Therapy yang menunjukkan bahwa terjadi penurunan tingkat overthinking dibandingkan kelompok Cognitive Defusion.
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI ESCAPISM DAN CELEBRITY WORSHIP PADA GENERASI Z Ruth Stevani Natalia M; Sri Tiatri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9850

Abstract

This study aims to examine the relationship between escapism motivation and celebrity worship among Generation Z social media users. A quantitative correlational design was employed involving 162 participants aged 18–28 years residing in the Jabodetabek area, selected through purposive sampling. Data were collected using the Celebrity Attitude Scale (CAS) and the Escapism Motivation Scale. Due to non-normal data distribution, Spearman’s Rho correlation analysis was applied. The findings revealed a significant negative correlation between escapism motivation and celebrity worship (r = -0.55; p < 0.05), indicating that higher levels of psychological escape tendencies are associated with lower levels of attachment to celebrities, and vice versa. Additional analysis showed that age significantly differentiated all research variables, while domicile influenced the intense/personal dimension of celebrity worship. These findings suggest that celebrity worship does not primarily function as a mechanism of psychological escape but rather as a limited form of emotional compensation. This study contributes to the development of digital psychology literature and provides insights for promoting adaptive social media use and digital literacy among Generation Z. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara motivasi escapism dan celebrity worship pada Generasi Z pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 162 individu berusia 18–28 tahun yang berdomisili di wilayah Jabodetabek dan dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Celebrity Attitude Scale (CAS) dan Escapism Motivation Scale. Analisis data menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman’s Rho karena distribusi data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara motivasi escapism dan celebrity worship (r = -0,55; p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi kecenderungan individu untuk melakukan pelarian psikologis, semakin rendah tingkat keterikatan terhadap figur publik, dan sebaliknya. Analisis tambahan menunjukkan bahwa usia berperan sebagai faktor pembeda pada seluruh variabel, sementara domisili memengaruhi dimensi intense/personal dari celebrity worship. Temuan ini mengindikasikan bahwa celebrity worship tidak selalu berfungsi sebagai sarana utama pelarian psikologis, melainkan lebih sebagai bentuk kompensasi emosional yang bersifat terbatas. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian psikologi digital serta menjadi dasar dalam penguatan literasi digital dan kesadaran penggunaan media sosial secara adaptif pada Generasi Z.
PERAN RELIGIOUS COPING DAN SENSE OF COMMUNITY TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING JEMAAT DI GEREJA X Gavriella Ceacilia Christie Ratu Edo
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9851

Abstract

Psychological well-being is an important aspect for church congregations in living their lives. However, research examining the simultaneous role of religious and social factors on the psychological well-being of congregations is still limited. This study aims to analyze the role of religious coping and sense of community on the psychological well-being of congregations at Church X. This study uses a quantitative approach involving 112 congregants of Church X as research subjects. Data were collected using scales of religious coping, sense of community, and psychological well-being, then analyzed using multiple linear regression. The results show that negative religious coping plays a significant role in reducing the psychological well-being of congregants, while positive religious coping does not play a significant role. Sense of community also did not show a significant role in the regression model. These findings indicate that the quality of religious experience, particularly in the form of negative religious coping, has a more meaningful influence on psychological well-being than the intensity or socio-religious aspects measured in this study. In addition, the results of this study indicate that the psychological well-being of congregations is likely influenced by other psychological factors beyond the variables studied. ABSTRAKPsychological well-being merupakan aspek penting bagi jemaat gereja dalam menjalani kehidupan. Namun, penelitian yang mengkaji peran faktor religius dan sosial secara simultan terhadap psychological well-being jemaat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran religious coping dan sense of community terhadap psychological well-being jemaat di Gereja X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 112 jemaat Gereja X sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan menggunakan skala religious coping, sense of community, dan psychological well-being, kemudian dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negative religious coping berperan signifikan dalam menurunkan psychological well-being jemaat, sedangkan positive religious coping tidak menunjukkan peran yang signifikan. Sense of community juga tidak menunjukkan peran yang signifikan dalam model regresi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas pengalaman religius, khususnya dalam bentuk coping religius yang negatif, memiliki pengaruh yang lebih bermakna terhadap psychological well-being dibandingkan intensitas atau aspek sosial-keagamaan yang diukur dalam penelitian ini. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa psychological well-being jemaat kemungkinan dipengaruhi oleh faktor psikologis lain di luar variabel yang diteliti.
INTERVENSI BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN RELAKSASI SEBAGAI STRATEGI PENGELOLAAN STRES SISWA FULL DAY SCHOOL Muqarramah Fitri; Teuku Fadhli; M. Zainuddin; Intan Maulida; Lalu Ricky Untala Samudra
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.9853

Abstract

ABSTRACT Academic stress is a psychological condition that arises when students face high academic demands and limited time to complete various learning tasks. This phenomenon is often experienced by students who participate in the full-day school system due to the more intensive learning activities compared to the regular school system. This study aims to determine the effectiveness of group guidance with relaxation techniques in reducing academic stress among students implementing the full-day school system. This research employed a quantitative approach using a one group pre-test and post-test design involving 8 eleventh-grade students of SMAN 3 Unggul Sigli selected through purposive sampling. Data were collected using an academic stress questionnaire that had been tested for validity and reliability and were analyzed using the paired sample t-test with the assistance of SPSS version 22. The results showed an increase in the average score from 55.375 in the pre-test to 75.375 in the post-test with a significance value (sig. < 0.05), indicating a decrease in students’ academic stress levels after the implementation of group guidance with relaxation techniques. These findings indicate that the application of group guidance with relaxation techniques helps students manage emotional tension, improve self-control, and reduce the level of academic stress experienced during the full-day school learning system. Therefore, group guidance services with relaxation techniques can be used as an alternative intervention strategy in school counseling services to help students cope with academic stress more effectively. ABSTRAK Stres akademik merupakan kondisi psikologis yang muncul ketika peserta didik menghadapi tuntutan akademik yang tinggi serta keterbatasan waktu dalam menyelesaikan berbagai tugas pembelajaran. Fenomena ini sering dialami oleh siswa yang mengikuti sistem pembelajaran full day karena intensitas kegiatan belajar yang lebih padat dibandingkan dengan sistem sekolah reguler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi dalam mengurangi stres akademik pada siswa yang menerapkan sistem full day. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pre-test and post-test yang melibatkan 8 siswa kelas XI SMAN 3 Unggul Sigli yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui angket stres akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dengan bantuan SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 55,375 pada pre-test menjadi 75,375 pada post-test dengan nilai signifikansi (sig. < 0,05), yang menandakan adanya penurunan tingkat stres akademik setelah pemberian layanan bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi mampu membantu siswa mengelola ketegangan emosional, meningkatkan kemampuan mengontrol diri, serta menurunkan tingkat stres akademik yang dialami selama mengikuti sistem pembelajaran full day. Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok dengan teknik relaksasi dapat digunakan sebagai alternatif strategi intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk membantu siswa mengatasi stres akademik secara lebih efektif.
EFEKTIVITAS TEKNIK EKSPLORASI DALAM MEMBANTU PENGEMBANGAN DIRI SISWA INTROVERT Nur Cahayani; Ni Ketut Alit Suarti; Ahmad Muzanni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.9854

Abstract

ABSTRACT Exploration technique is one of the approaches in guidance and counseling services that can be used to help students understand and express themselves, especially students with introverted tendencies who often experience difficulties in social interaction. Introversion in students can create discomfort in social situations and affect their participation in learning activities at school. This study aims to determine the effect of exploration techniques on introverted students at SMPN 11 Mataram. This study employed a quantitative approach with a sample of 10 students selected through purposive sampling based on a high level of introversion. Data were collected using a questionnaire as the main instrument and analyzed using a t-test to examine the effect of exploration techniques on the condition of introverted students. The results of the analysis showed that the calculated t-value was 1.809, which was lower than the t-table value at the 5% significance level with degrees of freedom (df) = 9 of 2.262 (1.809 < 2.262), indicating that the alternative hypothesis was rejected and the null hypothesis was accepted. Therefore, the exploration technique did not have a significant effect on introverted students in this study. These findings indicate that guidance and counseling services need to consider other intervention approaches that are more appropriate to help introverted students improve their social interaction and adjustment in the school environment. ABSTRAK Teknik eksplorasi merupakan salah satu pendekatan dalam layanan bimbingan dan konseling yang dapat digunakan untuk membantu siswa memahami dan mengekspresikan diri, terutama pada siswa dengan kecenderungan introvert yang sering mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial. Kondisi introversi pada siswa dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dalam situasi sosial serta memengaruhi keterlibatan mereka dalam aktivitas pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik eksplorasi terhadap siswa introvert di SMPN 11 Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel sebanyak 10 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan tingkat introversi yang tinggi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket sebagai instrumen utama yang dianalisis menggunakan uji statistik t untuk mengetahui pengaruh teknik eksplorasi terhadap kondisi siswa introvert. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 1,809 lebih kecil dibandingkan nilai t tabel pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan (db) = 9 sebesar 2,262 (1,809 < 2,262), sehingga hipotesis alternatif ditolak dan hipotesis nol diterima. Dengan demikian, teknik eksplorasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap siswa introvert dalam penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling memerlukan pendekatan intervensi lain yang lebih sesuai untuk membantu siswa introvert meningkatkan kemampuan interaksi sosial dan penyesuaian diri di lingkungan sekolah.
STRES PENGASUHAN PADA IBU SEBAGAI PREDIKTOR MASALAH KESEHATAN MENTAL ANAK USIA DINI Fitriani Dzulfadhilah; Muqimah Surganingsih; Nur Chafidah; Nur Halisa
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9980

Abstract

Early childhood mental health is a crucial foundation for emotional and behavioral development, which is significantly influenced by parental psychological dynamics. One factor believed to contribute to children’s mental health issues is parenting stress in mothers as the primary caregivers. This study aims to analyze the relationship and predictive role of maternal parenting stress on early childhood mental health issues. The study employs a quantitative approach with a correlational design. The study sample consisted of 72 mothers with children aged 4–6 years in one subdistrict of Makassar City, selected using purposive sampling. Data collection was conducted using the Parenting Stress Scale (PSS) and the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), both completed by the mothers. Data analysis included descriptive statistics, the Kolmogorov-Smirnov normality test, the linearity test, Pearson’s Product-Moment correlation, and simple linear regression using SPSS version 25. The results indicated that the data were normally distributed and that the relationship between variables was linear. The correlation test revealed a positive and significant relationship between maternal parenting stress and mental health problems in young children (r = 0.301; Sig. = 0.010). The results of simple linear regression indicated that maternal parenting stress is a significant predictor of mental health problems in young children, contributing 9.0% (R-squared = 0.090). These findings indicate that the higher the maternal parenting stress, the higher the mental health problems in early childhood. Thus, the mother’s psychological condition needs to be considered in efforts toward early detection and intervention for children’s mental health. ABSTRAK Kesehatan mental anak usia dini merupakan fondasi krusial bagi perkembangan emosi dan perilaku yang dipengaruhi secara signifikan oleh dinamika psikologis orang tua. Salah satu faktor yang diduga berperan pada masalah kesehatan mental anak adalah stres pengasuhan pada ibu sebagai pengasuh utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan serta peran prediktif stres pengasuhan ibu terhadap masalah kesehatan mental anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 72 ibu yang memiliki anak usia 4-6 tahun di salah satu kecamatan di Kota Makassar dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Stres Pengasuhan (SSP) dan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) yang diisi oleh ibu. Analisis data meliputi statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji linearitas, korelasi Product Moment Pearson, dan regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan hubungan antarvariabel bersifat linier. Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara stres pengasuhan ibu dan masalah kesehatan mental anak usia dini (r = 0,301; Sig. = 0,010). Hasil regresi linier sederhana menunjukkan bahwa stres pengasuhan ibu merupakan prediktor yang signifikan terhadap masalah kesehatan mental anak usia dini dengan kontribusi sebesar 9,0% (R Square = 0,090). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi stres pengasuhan ibu, semakin tinggi pula masalah kesehatan mental anak usia dini. Dengan demikian, kondisi psikologis ibu perlu menjadi perhatian dalam upaya deteksi dini dan intervensi kesehatan mental anak.
PERSEPSI ANAK PEREMPUAN TERHADAP POLA ASUH AYAH TUNGGAL Latifah Hidayati; Andhita Dyorita Khoiryasdien
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12873

Abstract

Single-father parenting presents challenges in meeting a daughter’s developmental and emotional needs, particularly within a patriarchal cultural context. This study aimed to describe a daughter’s perception of single-father parenting and the psychological experiences associated with it. The study employed a qualitative approach with a case study design. The participant was a 19-year-old woman living in Bantul, Yogyakarta, who had been raised by her single father since the age of 10 following her mother’s death. Data were collected through in-depth interviews, transcribed verbatim, coded, and analyzed thematically. Four main themes emerged. First, paternal control gradually shifted toward trust as the participant grew older, although the father tended to remain silent when disappointed. Second, discipline and logical consequences were perceived as contributing to the participant’s independence and sense of responsibility, while expectations to contribute financially created pressure. Third, communication primarily focused on practical matters, whereas emotional concerns were rarely discussed because the participant felt that her experiences were not always validated. Fourth, paternal affection was expressed more frequently through concrete actions, companionship, and shared time than through verbal expressions or physical affection. These findings indicate that, in the participant’s experience, single-father parenting supported independence and responsibility but remained limited in terms of emotional openness and closeness. ABSTRAK Pengasuhan oleh ayah tunggal menghadirkan tantangan dalam memenuhi kebutuhan perkembangan dan emosional anak perempuan, terutama dalam konteks budaya patriarki. Penelitian ini bertujuan menggambarkan persepsi seorang anak perempuan terhadap pengasuhan ayah tunggal serta pengalaman psikologis yang menyertainya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan adalah seorang perempuan berusia 19 tahun di Bantul, Yogyakarta, yang diasuh oleh ayah tunggal sejak usia 10 tahun setelah ibunya meninggal dunia. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, ditranskripsikan secara verbatim, dikodekan, dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama. Pertama, kontrol ayah berkurang dan berkembang menjadi kepercayaan seiring bertambahnya usia partisipan, meskipun ayah cenderung memilih diam ketika kecewa. Kedua, kedisiplinan dan konsekuensi logis dipersepsikan berkontribusi terhadap perkembangan kemandirian dan tanggung jawab, tetapi harapan untuk berkontribusi secara finansial menimbulkan tekanan bagi partisipan. Ketiga, komunikasi lebih banyak berfokus pada persoalan praktis, sedangkan masalah emosional jarang dibicarakan karena partisipan merasa tidak selalu memperoleh validasi. Keempat, kasih sayang ayah lebih sering diwujudkan melalui tindakan nyata, pendampingan, dan waktu bersama daripada melalui ungkapan verbal atau afeksi fisik. Temuan ini menunjukkan bahwa pengasuhan ayah tunggal dalam pengalaman partisipan mendukung kemandirian, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam keterbukaan dan kedekatan emosional.
SYSTEMATIC LITERATURE RIVIEW: PENGARUH SELF-COMPASSION TERHADAP KESEHATAN PSIKOLOGIS REMAJA Rizky Amaliah Putri Almajid; Iriani Indri Hapsari; Zarina Akbar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12895

Abstract

ABSTRACT Adolescence is a developmental stage characterized by rapid biological, emotional, and social changes, making individuals particularly vulnerable to psychological health problems. One protective factor that has received considerable attention in positive psychology is self-compassion; however, findings regarding its influence on various dimensions of adolescents' psychological health remain scattered across individual studies, highlighting the need for a comprehensive synthesis. This study aimed to examine the influence of self-compassion on emotion regulation, resilience, self-esteem, and subjective well-being among adolescents using a Systematic Literature Review (SLR) approach. The review followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines, including the stages of identification, screening, eligibility assessment, and inclusion of relevant studies. Literature was retrieved from Google Scholar using Publish or Perish with the keywords "self-compassion" and "the influence of self-compassion" for publications between 2022 and 2024. Of the 205 articles initially identified, six met the inclusion criteria and were systematically analyzed. The findings consistently demonstrated that self-compassion positively influences emotion regulation, resilience, self-esteem, and subjective well-being among adolescents. This synthesis provides a comprehensive understanding of the consistent contribution of self-compassion to adolescents' psychological health and offers an empirical foundation for developing evidence-based educational programs, guidance and counseling services, and psychological interventions aimed at promoting adolescent mental well-being. ABSTRAK Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap berbagai perubahan biologis, emosional, dan sosial sehingga berpotensi meningkatkan risiko munculnya permasalahan kesehatan psikologis. Salah satu faktor protektif yang banyak dikaji dalam psikologi positif adalah self-compassion, namun hasil penelitian mengenai pengaruhnya terhadap berbagai aspek kesehatan psikologis remaja masih tersebar pada berbagai studi sehingga memerlukan sintesis yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self-compassion terhadap regulasi emosi, resiliensi, self-esteem, dan subjective well-being pada remaja melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Penelitian dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) yang meliputi tahapan identifikasi, penyaringan, uji kelayakan, dan inklusi artikel. Penelusuran literatur dilakukan melalui Google Scholar dengan bantuan Publish or Perish menggunakan kata kunci “self-compassion” dan “pengaruh self-compassion” pada rentang publikasi 2022–2024. Dari 205 artikel yang teridentifikasi, enam artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara sistematis. Hasil kajian menunjukkan bahwa self-compassion secara konsisten berpengaruh positif terhadap regulasi emosi, resiliensi, self-esteem, dan subjective well-being pada remaja. Sintesis temuan ini menegaskan bahwa self-compassion merupakan faktor protektif yang berkontribusi dalam memperkuat kesehatan psikologis remaja sekaligus memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan program pendidikan, layanan bimbingan dan konseling, serta intervensi psikologis berbasis bukti untuk meningkatkan kesejahteraan mental remaja.