cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PENGARUH FINANCIAL ANXIETY DAN FEAR OF COMMITMENT TERHADAP MARITAL ANXIETY PADA DEWASA AWAL GENERASI Z DI KOTA BANDUNG Dhea Pitriany Santoso; Rifqi Farisan Akbar; Prinska Damara Sastri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13766

Abstract

ABSTRACT The increasing trend of marriage postponement among Generation Z is influenced by changes in social values, economic pressures, and the complexity of interpersonal relationships, which may contribute to marital anxiety. This study aims to examine the effects of financial anxiety and fear of commitment on marital anxiety among early adults of Generation Z in Bandung City. A quantitative correlational approach was employed in this study. Data were collected through a Likert-scale questionnaire distributed to 150 Generation Z respondents aged 18–29 years residing in Bandung City. The data were analyzed using multiple linear regression after passing validity, reliability, and classical assumption tests. The findings indicate that both financial anxiety and fear of commitment have positive and significant effects on marital anxiety, both individually and simultaneously. Among the two predictors, fear of commitment emerged as the more dominant factor contributing to marital anxiety. The results also demonstrate that both variables explain a substantial proportion of the variation in marital anxiety among Generation Z early adults. These findings highlight the importance of addressing psychological readiness for commitment and financial concerns through educational initiatives, counseling, and psychological interventions to better prepare young adults for marriage. ABSTRAK Fenomena penundaan pernikahan pada Generasi Z semakin meningkat sebagai akibat perubahan nilai sosial, tuntutan ekonomi, dan kompleksitas hubungan interpersonal yang berpotensi menimbulkan kecemasan dalam menghadapi pernikahan (marital anxiety). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh financial anxiety dan fear of commitment terhadap marital anxiety pada dewasa awal Generasi Z di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner berbasis skala Likert kepada 150 responden Generasi Z berusia 18–29 tahun yang berdomisili di Kota Bandung. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda setelah melalui uji validitas, reliabilitas, dan uji asumsi klasik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa financial anxiety dan fear of commitment berpengaruh positif dan signifikan terhadap marital anxiety, baik secara parsial maupun simultan. Di antara kedua variabel tersebut, fear of commitment merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling dominan terhadap munculnya kecemasan menghadapi pernikahan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kedua variabel mampu menjelaskan sebagian besar variasi marital anxiety pada dewasa awal Generasi Z. Temuan ini menegaskan bahwa aspek psikologis yang berkaitan dengan komitmen dan kecemasan finansial perlu menjadi perhatian dalam upaya mempersiapkan Generasi Z menuju kehidupan pernikahan yang lebih matang melalui edukasi, pendampingan, maupun intervensi psikologis.
STUDI FENOMENOLOGI DAMPAK JANGKA PANJANG BULLYING TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI DAN STRATEGI PEMULIHAN MAHASISWA Muhamad Fajar Riva’i; Hendro Yulius S. P.; Noor Ainah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13853

Abstract

Bullying is a global issue that significantly impacts individual psychological development, particularly in the Indonesian educational context which still records thousands of cases annually. This study aims to explore the experience of bullying, its long-term impact on self-confidence, and the coping strategies used by students. Using a qualitative approach with a phenomenological method, data were collected through in-depth interviews with eight students who had a history of bullying in school. Data analysis was conducted using thematic analysis assisted by NVivo 15.0. The results showed three main findings. First, bullying is experienced as a multidimensional trauma involving verbal attacks, social isolation, and physical intimidation simultaneously, exacerbated by ethical violations of confidentiality by authority figures (BK teachers). Second, long-term impacts include decreased self-efficacy, social anxiety, and academic sabotage as a defense mechanism against toxic culture (crab mentality) in school environments. Third, recovery of self-confidence is achieved through a synergy of adaptive coping (internal regulation and behavioral preparation) and a supportive campus ecosystem, which ultimately leads to Post-Traumatic Growth (PTG), where trauma transforms into prosocial motivation to become counselors. This study underlines the importance of school-based environmental interventions and ethical integrity of counselors in preventing the long-term impacts of bullying. ABSTRAK Bullying merupakan isu global yang berdampak signifikan terhadap perkembangan psikologis individu, khususnya dalam konteks pendidikan di Indonesia yang masih mencatat ribuan kasus per tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman bullying, dampak jangka panjangnya terhadap kepercayaan diri, serta strategi koping yang digunakan oleh mahasiswa. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap delapan mahasiswa yang memiliki riwayat perundungan di masa sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis berbantuan NVivo 15.0. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, bullying dialami sebagai trauma multidimensi yang melibatkan serangan verbal, isolasi sosial, dan intimidasi fisik secara simultan, yang diperparah oleh pelanggaran etika kerahasiaan oleh figur otoritas (guru BK). Kedua, dampak jangka panjang berupa penurunan efikasi diri, kecemasan sosial, dan sabotase akademik sebagai mekanisme pertahanan diri dari budaya toksik (crab mentality) di lingkungan sekolah. Ketiga, pemulihan kepercayaan diri dicapai melalui sinergi koping adaptif (regulasi internal dan persiapan behavioral) serta dukungan ekosistem kampus yang suportif, yang pada akhirnya bermuara pada Post-Traumatic Growth (PTG), di mana trauma bertransformasi menjadi motivasi prososial untuk menjadi konselor. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya intervensi berbasis lingkungan sekolah dan integritas etika konselor dalam mencegah dampak jangka panjang perundungan.
KEMATANGAN EMOSI SEBAGAI PREDIKTOR DOMINAN DAN JOMO SEBAGAI SUPLEMENTER PADA PENYESUAIAN PERNIKAHAN GENERASI Z Fadhila Choirunnisa; Tirta Firdaus Nuryananda
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13994

Abstract

ABSTRACT Divorce during the early years of marriage remains a challenge for Generation Z couples who have grown up as digital natives. This condition highlights the importance of marital adjustment, which is influenced by psychological factors, including Joy of Missing Out (JOMO) and emotional maturity. This study aimed to examine the effects of JOMO and emotional maturity on marital adjustment among Generation Z couples in the first one to five years of marriage. A quantitative approach with a multiple linear regression design was employed. The participants consisted of 122 married Generation Z individuals selected through purposive sampling. Data were collected using the JOMO Scale, the Emotional Maturity Scale, and the Dyadic Adjustment Scale, all of which met validity and reliability requirements, and were analyzed using multiple linear regression. The findings indicate that JOMO and emotional maturity jointly have a significant effect on marital adjustment. Partially, emotional maturity is the strongest predictor of marital adjustment, whereas JOMO has a positive supporting role in fostering marital adjustment among Generation Z couples. The study concludes that strengthening emotional maturity is essential for improving marital adjustment, while JOMO represents a relevant psychological factor within the digital lives of Generation Z couples. ABSTRAK Perceraian pada fase awal pernikahan masih menjadi tantangan bagi pasangan Generasi Z yang tumbuh sebagai digital native. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan penyesuaian pernikahan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, di antaranya Joy of Missing Out (JOMO) dan kematangan emosi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh JOMO dan kematangan emosi terhadap penyesuaian pernikahan pada Generasi Z dalam fase awal pernikahan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear berganda. Partisipan penelitian berjumlah 122 individu Generasi Z yang telah menikah selama 1–5 tahun dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala JOMO, Skala Kematangan Emosi, dan Dyadic Adjustment Scale yang telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa JOMO dan kematangan emosi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penyesuaian pernikahan. Secara parsial, kematangan emosi memberikan pengaruh yang paling dominan, sedangkan JOMO berpengaruh positif sebagai faktor pendukung dalam membentuk penyesuaian pernikahan pada pasangan Generasi Z. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan kematangan emosi merupakan faktor utama dalam meningkatkan kualitas penyesuaian pernikahan, sementara JOMO menjadi aspek psikologis yang relevan dalam konteks kehidupan digital Generasi Z.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN RESILIENSI AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI DI MEDAN Tri Novianti Ulindah Simatupang; Hotpascaman Simbolon
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13995

Abstract

ABSTRACT The completion of an undergraduate thesis often becomes a challenging academic transition, as students are required to cope with research demands, time constraints, and uncertainties throughout the final stage of their studies. In this situation, social support is considered a psychological resource that may help students maintain their academic adaptability. This study examines the relationship between social support and academic resilience among final-year students who are preparing their undergraduate theses in Medan City. A quantitative approach with a correlational design was employed involving 169 active university students from various higher education institutions selected through purposive sampling. Data were collected online using the Social Support Scale based on Sarafino and Smith’s theory and the Academic Resilience Scale adapted from Cassidy’s instrument. The relationship between variables was analyzed using Spearman’s rho correlation test. The findings revealed a positive and significant relationship between social support and academic resilience (r = 0.616; p = 0.000). This finding indicates that students who perceive higher levels of social support tend to demonstrate stronger academic resilience in dealing with various challenges during the thesis completion process. Social support serves as an important element in strengthening academic resilience; therefore, universities need to develop supportive academic and social environments that enhance students’ psychological readiness to successfully complete their studies. ABSTRAK Penyelesaian skripsi sering menjadi periode transisi akademik yang penuh tuntutan karena mahasiswa perlu menghadapi tekanan penyelesaian penelitian, keterbatasan waktu, serta ketidakpastian selama proses akhir studi. Dalam kondisi tersebut, keberadaan dukungan sosial dipandang sebagai salah satu sumber daya psikologis yang dapat membantu mahasiswa mempertahankan kemampuan adaptasi akademiknya. Penelitian ini mengkaji hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi akademik pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi di Kota Medan. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional diterapkan pada 169 mahasiswa aktif dari berbagai perguruan tinggi yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan secara daring menggunakan Skala Dukungan Sosial berdasarkan teori Sarafino dan Smith serta Skala Resiliensi Akademik yang mengacu pada instrumen Cassidy. Pengujian hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan korelasi Spearman rho. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan resiliensi akademik (r = 0,616; p = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik dukungan sosial yang dirasakan mahasiswa, semakin kuat pula kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan akademik selama penyusunan skripsi. Dukungan sosial menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan akademik, sehingga perguruan tinggi perlu mengembangkan lingkungan pendampingan yang mampu memperkuat kesiapan psikologis mahasiswa dalam menyelesaikan studi.
HUBUNGAN SELF ESTEEM DENGAN INTENSI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM PADA MAHASISWA DI KOTA MEDAN Lusiana Theresia br. Tohang; Ervina Marimbun R. Siahaan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14127

Abstract

ABSTRACT This study demonstrates that self-esteem is one of the psychological factors associated with the intention to use Instagram among university students in Medan City. The negative relationship identified indicates that students with higher levels of self-esteem tend to exhibit lower intentions to use Instagram. These findings suggest that positive self-evaluation serves as a psychological resource that enables students to engage with social media more adaptively and reduces their reliance on social validation as the primary basis for shaping their behavior. Therefore, this study contributes to the fields of social psychology and digital psychology by providing empirical evidence that individual psychological characteristics play an important role in the formation of social media use intentions before actual usage behavior occurs. From a practical perspective, these findings highlight the importance of strengthening students' self-esteem through counseling services, personal development programs, and digital literacy initiatives within higher education institutions to promote healthier and more responsible social media use. Given that the observed correlation was relatively weak, self-esteem should not be considered the sole determinant of Instagram use intention. Future research is therefore encouraged to investigate additional psychological and social factors that may influence the intention to use social media, such as Fear of Missing Out (FoMO), social comparison, and self-control. Furthermore, future studies should involve more diverse participants from different regions or employ longitudinal research designs to provide a more comprehensive understanding of the dynamics underlying the relationships among these variables over time. ABSTRAK Interaksi mahasiswa dengan Instagram pada fase emerging adulthood tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh cara individu memandang dan menghargai dirinya sendiri. Evaluasi diri yang terbentuk selama proses perkembangan diduga berkontribusi terhadap munculnya intensi menggunakan media sosial sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara self-esteem dan intensi penggunaan Instagram pada mahasiswa di Kota Medan melalui pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 352 mahasiswa aktif berusia 18–24 tahun dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Self-Esteem yang diadaptasi dari Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) serta Skala Intensi Penggunaan Media Sosial yang dikembangkan berdasarkan Theory of Planned Behavior. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji asumsi, dan uji korelasi dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki self-esteem pada kategori tinggi, sedangkan intensi penggunaan Instagram berada pada kategori sedang. Uji korelasi menghasilkan hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan intensi penggunaan Instagram (r = −0,128; p = 0,017), yang mengindikasikan bahwa peningkatan self-esteem diikuti oleh kecenderungan menurunnya intensi menggunakan Instagram. Temuan ini memperluas pemahaman mengenai peran self-esteem sebagai salah satu faktor psikologis yang berkaitan dengan pembentukan intensi penggunaan media sosial pada mahasiswa sebelum perilaku penggunaan benar-benar terjadi.
HUBUNGAN GROWTH MINDSET DENGAN KESIAPAN KARIER PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI KOTA MEDAN Rapika Claudia Naibaho; Hotpascaman Simbolon
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14147

Abstract

ABSTRACT The transition from higher education to the workforce represents a critical stage that requires adequate career readiness; however, not all final-year university students possess the psychological resources necessary to navigate this transition successfully. One factor that is assumed to play an important role is growth mindset, defined as the belief that abilities can be developed through sustained effort, effective strategies, and continuous learning. This study aimed to examine the relationship between growth mindset and career readiness among final-year university students in Medan, Indonesia. A quantitative correlational design was employed involving 365 final-year students selected through purposive sampling. Data were collected using the Growth Mindset Scale and the Career Readiness Scale, developed based on the employability framework, and analyzed using Spearman’s rho correlation because the data did not meet the assumption of normality. The findings revealed a positive and significant relationship between growth mindset and career readiness (r<sub>s</sub> = 0.781, p < 0.001), indicating that students with higher levels of growth mindset tended to demonstrate better career readiness. These findings provide empirical evidence supporting the role of growth mindset in strengthening career readiness and offer a practical foundation for integrating psychological development into university career preparation programs to better equip graduates for the dynamic labor market. ABSTRAK Transisi dari pendidikan tinggi menuju dunia kerja merupakan fase yang menuntut kesiapan karier yang memadai, namun tidak semua mahasiswa tingkat akhir memiliki sumber daya psikologis yang mendukung proses tersebut. Salah satu faktor yang diperkirakan berperan adalah growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi, dan pengalaman belajar. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara growth mindset dan kesiapan karier pada mahasiswa tingkat akhir di Kota Medan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 365 mahasiswa tingkat akhir yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Growth Mindset Scale dan Career Readiness Scale, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman's rho karena data tidak memenuhi asumsi normalitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara growth mindset dan kesiapan karier (r<sub>s</sub> = 0,781; p < 0,001), yang mengindikasikan bahwa mahasiswa dengan growth mindset yang lebih tinggi cenderung memiliki kesiapan karier yang lebih baik. Temuan ini memperkuat pentingnya pengembangan growth mindset sebagai salah satu sumber daya psikologis yang mendukung kesiapan mahasiswa dalam menghadapi transisi menuju dunia kerja. Hasil penelitian juga memberikan dasar empiris bagi perguruan tinggi untuk mengintegrasikan penguatan growth mindset ke dalam program pengembangan karier guna meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi dinamika pasar kerja.
EKSPLORASI “BEBAN BATIN” IBU: STUDI FENOMENOLOGI KONDISI PSIKOLOGIS DALAM PERAWATAN ANAK STUNTING DI KELURAHAN KEMEJING Ilma Putri Andriasih; Fx. Wahyu Widiantoro
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12780

Abstract

     ABSTRACT Stunting remains a major public health concern that affects not only children's physical growth and development but also the psychological well-being of mothers as primary caregivers. Previous studies have predominantly focused on biological and nutritional determinants, while mothers' subjective psychological experiences in caring for children with stunting have received limited attention. This study aimed to explore and understand the psychological experiences of mothers caring for children with stunting in Kemejing Village, Gunungkidul Regency. A qualitative study employing the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) approach was conducted. Three mothers of stunted children aged 18–34 months were recruited through purposive sampling. Data were collected using semi-structured in-depth interviews and analyzed following the established IPA analytical procedures. The findings revealed three major themes: feelings of maternal failure reinforced by social stigma, emotional conflict during child feeding, particularly when children refused to eat, and passive coping mechanisms leading to self-isolation and reduced utilization of social support. These findings indicate that mothers' psychological burden represents a complex experience that influences the consistency of caregiving practices and child-feeding behaviors. The study concludes that maternal psychological well-being is a crucial factor affecting caregiving quality and should be integrated into comprehensive, family-centered, and sustainable stunting prevention and management programs.      ABSTRAK Stunting merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang tidak hanya berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis ibu sebagai pengasuh utama. Berbagai penelitian lebih banyak menyoroti faktor biologis dan gizi, sedangkan pengalaman subjektif ibu dalam merawat anak stunting masih belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman psikologis ibu dalam merawat anak stunting di Kelurahan Kemejing, Kabupaten Gunungkidul. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Partisipan berjumlah tiga orang ibu yang memiliki anak stunting berusia 18–34 bulan dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-structured dan dianalisis mengikuti tahapan analisis IPA. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu perasaan gagal sebagai ibu yang diperkuat oleh stigma sosial, konflik emosional selama proses pemberian makan terutama ketika anak mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM), serta mekanisme koping pasif yang mendorong isolasi diri dan berkurangnya pemanfaatan dukungan sosial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa beban psikologis ibu merupakan pengalaman yang kompleks dan berpengaruh terhadap konsistensi pengasuhan serta praktik pemberian makan anak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa aspek psikologis ibu perlu diintegrasikan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting agar intervensi yang diberikan lebih komprehensif, berpusat pada keluarga, dan berkelanjutan.
WORK LIFE BALANCE PADA GENERASI Z YANG BEKERJA PART TIME Erlina Vina Firnanda; Laila Listiana Ulya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14060

Abstract

ABSTRACT The growing participation of Generation Z in part-time employment suggests that workplace flexibility does not necessarily lead to the attainment of work-life balance. While simultaneously managing academic responsibilities, financial needs, and social commitments, this generation faces complex challenges that require a clearer empirical understanding of how balance between work and personal life is maintained. This study examined the phenomenon using a quantitative descriptive approach involving 160 respondents aged 18–25 years who were selected through purposive sampling. Data were collected online using the Work-Life Balance Scale and analyzed through descriptive statistics. The findings revealed that 68.8% of the respondents demonstrated a moderate level of work-life balance, whereas 16.3% and 15.0% were classified as having high and low levels, respectively. Across the dimensions, Work Interference with Personal Life (WIPL) and Personal Life Interference with Work (PLIW) were found at a moderate level, while Work Enhancement of Personal Life (WEPL) and Personal Life Enhancement of Work (PLEW) were categorized as high. These findings indicate that work-life balance among young part-time workers is shaped more by their capacity to adapt to multiple roles than merely by minimizing conflicts between work and personal life. The study contributes to a broader understanding of work-life balance among Generation Z workers and provides a foundation for developing workplace environments that are more responsive to their characteristics and needs. ABSTRAK Fenomena meningkatnya keterlibatan Generasi Z dalam pekerjaan part-time menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja tidak selalu berbanding lurus dengan tercapainya work-life balance. Di tengah upaya memenuhi kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial secara bersamaan, kelompok ini menghadapi dinamika yang perlu dipahami melalui gambaran empiris mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kajian ini memotret kondisi tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif terhadap 160 responden berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Data diperoleh secara daring menggunakan Work-Life Balance Scale dan diolah dengan statistik deskriptif. Hasil analisis memperlihatkan bahwa 68,8% responden berada pada kategori sedang, sedangkan kategori tinggi dan rendah masing-masing mencapai 16,3% dan 15,0%. Pada tingkat dimensi, Work Interference with Personal Life (WIPL) dan Personal Life Interference with Work (PLIW) berada pada kategori sedang, sementara Work Enhancement of Personal Life (WEPL) serta Personal Life Enhancement of Work (PLEW) termasuk kategori tinggi. Pola tersebut mengindikasikan bahwa keseimbangan kehidupan kerja pada pekerja muda lebih banyak dibentuk oleh kapasitas beradaptasi dalam menghadapi berbagai peran daripada sekadar rendahnya konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Temuan ini memperluas pemahaman mengenai karakteristik work-life balance pada pekerja Generasi Z sekaligus menjadi landasan bagi pengembangan lingkungan kerja yang lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.
PERAN COGNITIVE EMOTION REGULATION STRATEGIES TERHADAP INTOLERANCE OF UNCERTAINTY PADA EMERGING ADULTHOOD DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Evelyn Jolyn Angmulya; Agustina Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8646

Abstract

ABSTRACT Uncertainty is an essential part of an individual's life, especially during the emerging adulthood phase, which is characterized by various developmental transitions. An individual's inability to tolerate uncertainty or intolerance of uncertainty is known to contribute to the occurrence of emotional responses and maladaptive behaviors. One of the psychological factors that influences how individuals cope with uncertainty is cognitive emotion regulation strategies, which are cognitive strategies used by individuals to manage emotional responses to stressful situations. This study aimed to examine the role of cognitive emotion regulation strategies in intolerance of uncertainty among emerging adulthood based on gender differences. The study used a non-experimental quantitative approach with purposive sampling of 303 participants aged 18 to 25 years. The instruments used were the Cognitive Emotion Regulation Questionnaire (CERQ) and the Intolerance of Uncertainty Scale-12 (IUS-12). The results showed that cognitive emotion regulation strategies played a significant role in intolerance of uncertainty, contributing 41.4%. Adaptive cognitive emotion regulation strategies had a negative effect on intolerance of uncertainty, while maladaptive cognitive emotion regulation strategies had a positive effect. Furthermore, findings revealed differences in the use of cognitive emotion regulation strategies based on gender, with women exhibiting higher scores for adaptive and maladaptive strategies compared to men. Nevertheless, no differences were discovered in the level of intolerance of uncertainty between men and women. ABSTRAK Ketidakpastian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan individu, terutama pada fase emerging adulthood yang ditandai oleh berbagai transisi perkembangan. Ketidakmampuan individu dalam mentoleransi ketidakpastian atau intolerance of uncertainty diketahui berkontribusi terhadap munculnya respons emosional dan perilaku maladaptif. Salah satu faktor psikologis yang berperan dalam menghadapi ketidakpastian adalah cognitive emotion regulation strategies, yaitu strategi kognitif yang digunakan individu untuk mengelola respons emosional terhadap situasi yang menimbulkan stres. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran cognitive emotion regulation strategies terhadap intolerance of uncertainty pada emerging adulthood ditinjau berdasarkan perbedaan gender. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan teknik purposive sampling terhadap 303 individu berusia 18 hingga 25 tahun. Instrumen penelitian meliputi Cognitive Emotion Regulation Questionnaire (CERQ) dan Intolerance of Uncertainty Scale-12 (IUS-12). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cognitive emotion regulation strategies berperan signifikan terhadap intolerance of uncertainty dengan kontribusi sebesar 41,4%. Strategi regulasi emosi kognitif adaptif berpengaruh negatif terhadap intolerance of uncertainty, sedangkan strategi regulasi emosi kognitif maladaptif berpengaruh positif. Selain itu, ditemukan perbedaan penggunaan cognitive emotion regulation strategies berdasarkan gender, di mana perempuan menunjukkan skor strategi adaptif dan maladaptif yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Namun, tidak ditemukan perbedaan tingkat intolerance of uncertainty antara laki-laki dan perempuan.
THE ROLE OF CONCENTRATION IN PREDICTING PROCRASTINATION IN QUR’ANIC MEMORIZATION AMONG UNIVERSITY STUDENTS: A CORRELATIONAL STUDY Indri Puspitasari; Shalahudin Habibullah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.9602

Abstract

ABSTRACT Procrastination remains a persistent challenge in higher education, particularly among students managing demanding learning commitments. Within religious memorization contexts such as Qur’anic study, sustained concentration is essential for effective encoding, retention, and timely completion of memorization targets. However, limited empirical research has examined how attentional capacity relates to procrastination behavior in faith-based academic environments. This study investigates whether concentration ability predicts procrastination in Qur’anic memorization among university students engaged in structured religious learning programs. It specifically examines the direction and strength of the relationship between these two variables. A quantitative correlational design was employed. Participants consisted of 18 university students enrolled in Qur’anic memorization programs. Data were collected using two Likert-type scales: a concentration scale adapted from Castle and Buckler’s theoretical framework and a procrastination scale based on Ferrari’s model. After item validation and reliability testing (Cronbach’s alpha = 0.859 for concentration; 0.877 for procrastination), data were analyzed using Spearman’s rho due to non-linearity assumptions. Descriptive, normality, and linearity tests preceded hypothesis testing. The findings revealed a significant negative correlation between concentration and procrastination (r = –0.636, p = 0.005). Higher concentration was associated with lower levels of procrastination in Qur’anic memorization tasks. These results underscore concentration as a critical cognitive factor in reducing avoidance behaviors within structured religious learning contexts. The study highlights the importance of strengthening attentional regulation strategies to support students managing dual academic and memorization demands. Although limited by sample size, the findings contribute to educational psychology by extending procrastination research into faith-based learning environments and suggest practical implications for instructional design and mentoring practices aimed at enhancing student self-discipline and academic persistence.   ABSTRAK Prokrastinasi merupakan tantangan yang sering ditemui pada mahasiswa dalam konteks pembelajaran. Dalam lingkungan hafalan Al-Qur’an, konsentrasi menjadi faktor kognitif penting karena penghafalan memerlukan fokus yang berkelanjutan dan ketahanan mental. Meskipun penelitian mengenai prokrastinasi akademik telah banyak dilakukan, kajian yang meneliti peran konsentrasi dalam hafalan Al-Qur’an masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah konsentrasi dapat memprediksi prokrastinasi pada mahasiswa yang mengikuti program hafalan Al-Qur’an. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, penelitian ini melibatkan 18 mahasiswa aktif dalam program hafalan Al-Qur’an. Instrumen yang digunakan adalah skala konsentrasi dan prokrastinasi yang dikembangkan berdasarkan teori Castle dan Buckler serta model Ferrari. Hasil analisis dengan uji Spearman rho menunjukkan korelasi negatif signifikan antara konsentrasi dan prokrastinasi (r = -0,636; p = 0,005), yang berarti semakin tinggi konsentrasi mahasiswa, semakin rendah kecenderungan prokrastinasi. Temuan ini menegaskan pentingnya konsentrasi dalam mengurangi prokrastinasi dalam pembelajaran berbasis hafalan. Penelitian ini memperluas kajian prokrastinasi ke dalam konteks pendidikan berbasis religius, memberikan kontribusi pada pengembangan strategi pembinaan yang berfokus pada penguatan kapasitas atensi mahasiswa..