cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran
ISSN : 27985725     EISSN : 27985466     DOI : https://doi.org/10.51878/strategi.v1i2.580
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Learning Strategies and Models.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 375 Documents
PENGUATAN KETERAMPILAN ABAD 21 GURU MIPA DALAM PEMBELAJARAN MIPA: TINJAUAN 4C, HOTS, DAN TPACK Ria Indria P; Sri Mulyati; Lusy Rahayu; Risa Purnamasari; Nuzulia Karim
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8537

Abstract

Contemporary educational transformation requires educators, particularly in Mathematics and Natural Sciences (MIPA), to master competencies that are adaptive to global changes, technological innovation, and the learning needs of the digital generation. Twenty-first-century competencies encompass critical thinking, creativity, collaboration, and communication (4C), Higher Order Thinking Skills (HOTS), and Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), which are considered fundamental in creating meaningful MIPA learning. The purpose of this article is to analyze the strategic importance of developing twenty-first-century competencies for MIPA educators within the Indonesian education system. A literature review approach was employed to examine research publications and educational regulations published between 2020 and 2025. The findings indicate a disparity between the expectations of twenty-first-century learning and the actual capacity of MIPA educators, particularly in facilitating HOTS and implementing pedagogy-based technology. The implementation of the Merdeka Curriculum, character building through the Pancasila Student Profile, and the performance of Indonesian students in science and mathematics literacy in global assessments such as PISA strengthen the argument for the importance of enhancing MIPA educators' capacity in twenty-first-century skills. This article proposes continuous professional development, educator communities of practice, and technology optimization through the TPACK framework as primary approaches to competency enhancement. ABSTRAK Transformasi pendidikan kontemporer mengharuskan pendidik, terutama dalam bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), menguasai kompetensi yang adaptif terhadap perubahan global, inovasi teknologi, dan kebutuhan pembelajaran generasi digital. Kompetensi abad ke-21 mencakup berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creativity), kolaborasi (collaboration), komunikasi (communication) atau disingkat 4C, keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), dan pengetahuan teknologi pedagogi konten (Technological Pedagogical Content Knowledge/TPACK) yang dianggap fundamental dalam menciptakan pembelajaran MIPA bermakna. Tujuan penulisan artikel ini ialah menganalisis kepentingan strategis pengembangan kompetensi abad ke-21 bagi pendidik MIPA dalam sistem pendidikan Indonesia. Pendekatan kajian literatur digunakan untuk menelaah publikasi riset dan regulasi pendidikan yang terbit antara tahun 2020 hingga 2025. Temuan mengindikasikan adanya disparitas antara ekspektasi pembelajaran abad ke-21 dengan kapasitas riil pendidik MIPA, terutama pada aspek fasilitasi HOTS dan penerapan teknologi berbasis pedagogi. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka, pembentukan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila, dan performa literasi sains serta matematika siswa Indonesia dalam evaluasi global seperti PISA memperkuat argumentasi pentingnya peningkatan kapasitas pendidik MIPA dalam keterampilan abad ke-21. Artikel ini mengusulkan pengembangan keprofesian berkelanjutan, komunitas praktik pendidik, dan optimalisasi teknologi melalui kerangka TPACK sebagai pendekatan utama dalam peningkatan kompetensi.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP HUKUM NEWTON Nurul Hidayah
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8608

Abstract

This research is motivated by the urgency of mastering critical thinking skills in Elementary School Teacher Education (PGSD) students as an essential competency in transforming abstract science concepts, especially Newton's Laws, into meaningful learning for elementary school students. The weakness in understanding basic physics concepts at the teacher candidate level is feared to have a systemic impact on the quality of science education at the elementary level. This quantitative descriptive research aims to analyze the profile of critical thinking skills of 16 3rd semester PGSD students in solving Newton's Law problems using an open-ended test instrument referring to the indicators of Erceg. The research findings indicate that the level of critical thinking of students is still relatively low, with quantitative data revealing that in question number 1.1, only 87.5% of students answered correctly; in question 1.2, the percentage of correct answers decreased drastically to 6.25% with 87.5% answering incorrectly; and in question number 2 which requires in-depth analysis, all students (100%) gave incorrect answers. The main conclusion of this study indicates that students tend to solve problems based only on logical intuition without a strong foundation in physics concepts, so that more effective learning methodology interventions are needed to improve critical thinking capacity and reduce misconceptions in basic mechanics material. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi penguasaan keterampilan berpikir kritis pada mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai kompetensi esensial dalam mentransformasikan konsep sains abstrak, khususnya Hukum Newton, menjadi pembelajaran yang bermakna bagi siswa sekolah dasar. Kelemahan pemahaman konsep fisika dasar di tingkat calon guru dikhawatirkan berdampak sistemik pada kualitas pendidikan sains di jenjang dasar. Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis profil kemampuan berpikir kritis 16 mahasiswa PGSD semester 3 dalam menyelesaikan persoalan Hukum Newton menggunakan instrumen tes open-ended yang mengacu pada indikator Erceg. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat berpikir kritis mahasiswa masih tergolong rendah, dengan data kuantitatif mengungkapkan bahwa pada soal nomor 1.1, hanya 87,5% mahasiswa menjawab benar; pada soal 1.2, persentase jawaban benar menurun drastis menjadi 6,25% dengan 87,5% menjawab salah; dan pada soal nomor 2 yang menuntut analisis mendalam, seluruh mahasiswa (100%) memberikan jawaban salah. Simpulan utama studi ini mengindikasikan bahwa mahasiswa cenderung menyelesaikan masalah hanya berdasarkan intuisi logika tanpa landasan konsep fisika yang kuat, sehingga diperlukan intervensi metodologi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan kapasitas berpikir kritis dan mereduksi miskonsepsi pada materi mekanika dasar.  
USING THE COOPERATIVE LEARNING STRATEGY ON COMPARATIVE DEGREE OF THE FIFTH GRADERS AT FATHONA ISLAMIC SCHOOL PALEMBANG Yohana Cahya Kusumah; Masagus Firdaus
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8661

Abstract

ABSTRACT The low level of elementary school students’ mastery of English grammatical structures, particularly comparative degrees, indicates the need for the implementation of more interactive and student-centered learning strategies. This study aims to examine the effectiveness of cooperative learning strategies in improving students’ understanding of comparative degrees among fifth-grade students at Fathona Islamic School Palembang. The study employed a quasi-experimental design using a pre-test and post-test non-equivalent control group model, involving 30 students who were divided into an experimental group and a control group. The experimental group received instruction through cooperative learning strategies, while the control group was taught using conventional teaching methods. The results of the analysis showed that the average post-test score of the experimental group (85.4) was higher than that of the control group (72.8). An independent samples t-test confirmed a statistically significant difference between the two groups (p < 0.05). In addition to improving learning outcomes, cooperative learning was also found to enhance students’ active engagement in discussions and group work. These findings conclude that cooperative learning strategies are effective in improving students’ understanding of comparative degrees while also strengthening motivation and active participation in English language learning at the elementary school level. ABSTRAK Rendahnya penguasaan siswa sekolah dasar terhadap struktur tata bahasa Inggris, khususnya comparative degree, menunjukkan perlunya penerapan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan berorientasi pada keterlibatan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas strategi pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan pemahaman comparative degree pada siswa kelas V di Sekolah Islam Fathona Palembang. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan model pre-test dan post-test non-equivalent control group, melibatkan 30 siswa yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memperoleh pembelajaran dengan strategi kooperatif, sementara kelompok kontrol diajar menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata post-test kelompok eksperimen (85,4) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (72,8). Uji independent samples t-test mengonfirmasi adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok (p < 0,05). Selain meningkatkan hasil belajar, pembelajaran kooperatif juga terbukti mendorong keterlibatan aktif siswa dalam diskusi dan kerja kelompok. Temuan ini menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran kooperatif efektif dalam meningkatkan pemahaman comparative degree sekaligus memperkuat motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS SOCIO-SCIENTIFIC ISSUES (SSI) DAN NATURE OF SCIENCE (NOS) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA Lia Laelatul Sholihath; Agus Yadi Ismail
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8696

Abstract

Scientific literacy is an essential 21st-century competence that reflects students’ ability to understand, apply, and evaluate scientific knowledge in real-life contexts. However, the scientific literacy achievement of Indonesian students remains relatively low, as reflected in the results of the Programme for International Student Assessment (PISA). One of the main contributing factors to this condition is science learning practices that are still predominantly focused on rote memorization of concepts, place limited emphasis on understanding the Nature of Science, and lack relevant social contexts. This article aims to comprehensively examine the effectiveness of the Nature of Science (NOS) and Socio-Scientific Issues (SSI) approaches in enhancing students’ scientific literacy through a Systematic Literature Review (SLR) method. The literature analyzed includes national and international journal articles addressing scientific literacy, the implementation of NOS, and SSI-based science learning. The synthesis of the reviewed studies indicates that explicitly and reflectively implemented NOS instruction significantly contributes to strengthening students’ epistemological understanding of science and critical thinking skills. Meanwhile, the SSI approach has been shown to be effective in improving contextual scientific literacy, with moderate gains based on N-Gain analysis and highly positive student learning responses, particularly in environmental-related issues. Furthermore, the findings suggest that the effectiveness of NOS and SSI is optimized when supported by innovative instructional models and authentic assessments that comprehensively measure the content, process, and contextual dimensions of science learning. Therefore, the integration of NOS and SSI is recommended as a comprehensive pedagogical strategy to strengthen scientific literacy among Indonesian students. ABSTRAKLiterasi sains merupakan kompetensi esensial abad ke-21 yang mencerminkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, dan mengevaluasi pengetahuan sains dalam konteks kehidupan nyata. Namun, capaian literasi sains peserta didik di Indonesia masih relatif rendah, sebagaimana tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Salah satu faktor utama penyebab kondisi tersebut adalah praktik pembelajaran IPA yang masih berorientasi pada hafalan konsep, kurang menekankan pemahaman hakikat sains, serta minim konteks sosial yang relevan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif efektivitas pendekatan Nature of Science (NOS) dan Socio-Scientific Issues (SSI) dalam meningkatkan literasi sains peserta didik melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Literatur yang dianalisis meliputi artikel nasional dan internasional yang membahas literasi sains, implementasi NOS, dan pembelajaran berbasis SSI. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pembelajaran NOS yang diterapkan secara eksplisit dan reflektif berkontribusi signifikan dalam memperkuat pemahaman epistemologis sains dan kemampuan berpikir kritis siswa. Sementara itu, pendekatan SSI terbukti efektif dalam meningkatkan literasi sains secara kontekstual, dengan peningkatan kategori sedang berdasarkan analisis N-Gain serta respons belajar siswa yang sangat positif, khususnya pada isu lingkungan. Temuan lain menunjukkan bahwa efektivitas NOS dan SSI akan optimal apabila didukung oleh model pembelajaran inovatif dan asesmen autentik yang mampu mengukur dimensi konten, proses, dan konteks sains secara terpadu. Dengan demikian, integrasi NOS dan SSI direkomendasikan sebagai strategi pedagogis komprehensif untuk memperkuat literasi sains peserta didik di Indonesia.
TRANSFORMASI PEDAGOGIS MELALUI DEEP LEARNING DALAM KURIKULUM MERDEKA: STUDI LITERATUR SISTEMATIS Rizal Bagus Syaifulloh
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8793

Abstract

Global developments in education have prompted a paradigm shift from knowledge transmission–oriented learning toward deep, reflective, and contextual conceptual understanding. In Indonesia, the Deep Learning (DL) approach has been introduced as a pedagogical strategy to strengthen the implementation of the Merdeka Curriculum by fostering 21st-century competencies articulated in the 6Cs framework. However, numerous studies indicate a gap between the ideal conception of DL and its classroom implementation, where it is often narrowly interpreted as the use of digital technology or specific instructional models. This study aims to examine teachers’ understanding, implementation patterns, and systemic challenges related to Deep Learning in Indonesia through a Systematic Literature Review (SLR) guided by the PRISMA protocol. The findings reveal that while teachers generally demonstrate positive perceptions of DL, comprehensive instructional understanding remains limited. Learning practices that integrate meaningful, mindful, and joyful principles have been shown to enhance student engagement and reasoning skills, particularly when supported by strong pedagogical beliefs and a collaborative school culture. Major barriers include limited professional development, infrastructure disparities, and administrative workloads that constrain pedagogical innovation. This study concludes that Deep Learning holds substantial potential as a vehicle for pedagogical transformation and educational equity; however, its sustainability requires systemic change through the strengthening of teacher capacity and the cultivation of a holistic learning culture. ABSTRAKPerkembangan pendidikan global mendorong terjadinya pergeseran paradigma pembelajaran dari sekadar transfer pengetahuan menuju pemahaman konseptual yang mendalam, reflektif, dan kontekstual. Di Indonesia, pendekatan Deep Learning (DL) diperkenalkan sebagai strategi pedagogis untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka melalui pengembangan kompetensi abad ke-21 yang dirumuskan dalam kerangka 6Cs. Namun, berbagai studi menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep ideal dan praktik di lapangan, di mana DL kerap dipersepsikan sebatas penggunaan teknologi atau model pembelajaran tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman guru, bentuk implementasi, serta hambatan sistemik dalam penerapan Deep Learning di Indonesia melalui metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada protokol PRISMA. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun guru umumnya memiliki persepsi positif terhadap DL, tingkat pemahaman instruksional yang komprehensif masih terbatas. Implementasi yang mengintegrasikan prinsip meaningful, mindful, dan joyful learning terbukti meningkatkan keterlibatan serta kemampuan bernalar peserta didik, terutama ketika didukung oleh keyakinan pedagogis guru dan budaya sekolah yang kolaboratif. Hambatan utama meliputi keterbatasan pelatihan, ketimpangan infrastruktur, serta beban administratif yang menghambat inovasi pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa Deep Learning berpotensi menjadi instrumen transformasi pedagogis dan keadilan pendidikan, namun keberlanjutannya menuntut perubahan sistemik melalui penguatan kapasitas guru dan pengembangan budaya belajar secara menyeluruh.
STUDENTS’ ATTITUDES TOWARD LEARNING ENGLISH PRONUNCIATION IN PHONETICS AND PHONOLOGY COURSE AT POHUWATO UNIVERSITY Gusfin Maulidyawanti Moonti; Monalysa Laonga
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8812

Abstract

ABSTRACT Pronunciation plays a crucial role in effective English communication, particularly for students learning English as a foreign language. This study aims to investigate students’ attitudes toward learning English pronunciation in the Phonetics and Phonology course at Pohuwato University. The focus of the study is on students’ attitudes, which include cognitive, affective, and behavioral aspects in learning English pronunciation. This research employed a descriptive quantitative research design. The sample consisted of 30 students from the English Education Study Program who had completed the Phonetics and Phonology course. Data were collected through a questionnaire using a five-point Likert scale and analyzed using descriptive statistics in the form of mean scores. The results indicate that students generally have a positive attitude toward learning English pronunciation. The cognitive attitude aspect obtained the highest mean score, indicating that students have strong awareness and beliefs about the importance of correct pronunciation in English communication. The behavioral attitude aspect was also categorized as positive, showing that students are willing to practice and accept feedback in pronunciation learning. However, the affective attitude aspect revealed that some students still experience anxiety and lack confidence when practicing pronunciation. Although students demonstrate good understanding and learning behaviors toward English pronunciation, emotional factors remain a challenge. Therefore, it is recommended that lecturers create a supportive learning environment, increase pronunciation practice activities, and utilize learning technology to help reduce anxiety and improve students’ pronunciation skills. ABSTRAK Pengucapan merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Inggris karena berpengaruh langsung terhadap kejelasan dan keberhasilan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap mahasiswa terhadap pembelajaran pengucapan Bahasa Inggris pada Mata Kuliah Phonetics and Phonology di Universitas Pohuwato. Fokus penelitian ini adalah sikap mahasiswa yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan perilaku dalam pembelajaran pengucapan bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 30 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang telah mengikuti mata kuliah Phonetics and Phonology. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert lima tingkat dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa nilai mean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa secara umum memiliki sikap positif terhadap pembelajaran pengucapan bahasa Inggris. Aspek sikap kognitif memperoleh nilai mean tertinggi, yang menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kesadaran dan keyakinan yang kuat akan pentingnya pengucapan yang benar dalam komunikasi Bahasa Inggris. Aspek sikap perilaku juga berada pada kategori positif, yang menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemauan untuk berlatih dan menerima umpan balik dalam pembelajaran pengucapan. Namun, aspek sikap afektif menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa masih mengalami kecemasan dan kurang percaya diri ketika mempraktikkan pengucapan. Meskipun mahasiswa memiliki pemahaman dan perilaku belajar yang baik terhadap pengucapan bahasa Inggris, faktor emosional masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, dosen disarankan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang mendukung, meningkatkan aktivitas praktik pengucapan, serta memanfaatkan teknologi pembelajaran untuk membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan pengucapan mahasiswa.
STRATEGI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA PASCA MENGHADAPI BULLYING DI YOGYAKARTA Icha Septiani; Ratna Yunita Setiyani S
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8832

Abstract

ABSTRACT Bullying is a serious problem that impacts adolescents' self-confidence. This study aims to analyze strategies for building self-confidence in adolescents after experiencing bullying in Yogyakarta. This qualitative research with a case study approach involved one main subject (female, 20 years old) and two significant others (subject's mother, 53 years old; close friend, 21 years old) selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed using thematic analysis based on Lauster's four aspects of self-confidence: believing in one's abilities, acting independently in decision-making, having a positive self-concept, and being brave in expressing opinions. The results show that the subject successfully rebuilt self-confidence through internal strategies such as positive affirmations, self-reflection, and self-concept reinforcement, as well as external strategies such as social support from family and friends, and the independent decision to change schools. These findings indicate the effectiveness of combining positive affirmations and social support in recovering self-confidence among adolescent bullying victims, with recommendations for implementing group counseling programs and positive affirmation interventions in schools to support psychological recovery. ABSTRAK Bullying adalah masalah serius yang berdampak pada kepercayaan diri remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi membangun kepercayaan diri pada remaja setelah mengalami bullying di Yogyakarta. Penelitian kualitatif ini dengan pendekatan studi kasus melibatkan satu subjek utama (perempuan, 20 tahun) dan dua orang signifikan lainnya (ibu subjek, 53 tahun; teman dekat, 21 tahun) yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan empat aspek kepercayaan diri Lauster: percaya pada kemampuan sendiri, bertindak mandiri dalam pengambilan keputusan, memiliki konsep diri positif, dan berani mengungkapkan pendapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek berhasil membangun kembali kepercayaan diri melalui strategi internal seperti afirmasi positif, refleksi diri, dan penguatan konsep diri serta strategi eksternal seperti dukungan sosial dari keluarga dan teman, serta keputusan mandiri untuk pindah sekolah. Temuan ini menunjukkan efektifitas kombinasi afirmasi positif dan dukungan sosial dalam pemulihan kepercayaan korban bullying remaja, dengan rekomendasi penerapan program konseling kelompok dan intervensi afirmasi positif di sekolah untuk mendukung pemulihan psikologis.
UTILIZATION OF YOUTUBE AS A LEARNING MEDIA TO ENHANCE STUDENTS’ UNDERSTANDING OF ENGLISH COURSES IN THE MANAGEMENT STUDY PROGRAM STUDENTS Eka Resty Novieta Sari; Rizky Cahya Febriani
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8876

Abstract

English is one of the important subjects that aims to improve students' ability to communicate globally, both verbally and in writing. However, in practice, English language learning faces various challenges. The results of the observation showed problems such as a lack of interest in learning by students, a lack of learning media, and a variety of learning methods. This condition could impact students' ability to achieve optimal learning outcomes, especially for students in the 4th semester of the management study program in class H. The purpose of this study is to find out about the use of YouTube as a media resource for English language learning. This research is a qualitative study using library research. The findings of this study show that using YouTube as a learning tool in the digital age has the potential to increase student motivation and understanding, particularly in English language learning. YouTube's features, as well as the availability of clear and informative video learning content, make it an effective and flexible medium that can be used whenever and whenever. In addition, YouTube encourages students to explore material and gives lecture the opportunity to create content that meets their needs. YouTube, with its simple user interface and easy access, has the potential to become one of the most relevant and innovative learning mediums for English. ABSTRAKBahasa Inggris merupakan salah satu mata pelajaran penting yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi secara global, baik secara lisan maupun tulisan. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran bahasa Inggris sering kali menghadapi berbagai kendala. Hasil observasi ditemukan permasalahan seperti rendahnya minat belajar siswa, keterbatasan media pembelajaran, serta metode pembelajaran yang kurang variatif. Kondisi ini dapat berdampak pada kurang optimalnya pencapaian hasil belajar peserta didik khususnya pada mahasiswa program studi manajemen semester 4 kelas H. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan Youtube sebagai media dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang menggunakan penelitian perpustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah pemanfaatan YouTube sebagai media pembelajaran di era digital terbukti mampu meningkatkan minat dan pemahaman siswa, khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris. Beragam fitur serta ketersediaan video pembelajaran yang jelas dan informatif menjadikan YouTube sebagai media yang efektif dan fleksibel untuk digunakan kapan saja dan di mana saja. Selain itu, YouTube mendorong kemandirian belajar siswa dalam mengeksplorasi materi, serta memberi kesempatan bagi dosen untuk berkreasi dengan mengunggah konten pembelajaran sesuai kebutuhan. Dengan langkah penggunaan yang mudah dan akses yang luas, YouTube dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran yang relevan dan inovatif dalam mendukung proses pembelajaran bahasa Inggris.
PENGARUH IMPLEMENTASI CASE METHOD DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA KULIAH AKUNTANSI PERPAJAKAN PADA MAHASISWA S1 PENDIDIKAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO Fatmawaty Damiti; Rierind Koniyo
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8959

Abstract

This study aims to determine the effect of Case Method implementation and learning motivation on learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education at Gorontalo State University. The research approach is quantitative and correlational research method. The sample in the study was 58 people. Data collection using interviews, questionnaires, documentation and observation. The data analysis technique used is SEM-PLS. The results showed that (1) The implementation of the Case Method learning method has a positive and significant effect on learning motivation in tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education at Gorontalo State University. (2) The implementation of the Case Method learning method has a positive and insignificant effect on the learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education at Gorontalo State University. (3) Learning motivation has a positive and significant effect on the learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economic Education, Gorontalo State University. (4) The implementation of the Case Method learning method through learning motivation has a positive and significant effect on the learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education Gorontalo State University. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi Case Method dan motivasi belajar terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. Pendekatan penelitian adalah kuantitatif dan metode penelitian korelasional. Sampel dalam penelitian sebanyak 58 orang. Pengumpulan data menggunakan wawancara, kuisioner, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Implementasi metode pembelajaran Case Method berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (2) Implementasi metode pembelajaran Case Method berpengaruh positif tidak signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (3) Motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (4) Implementasi metode pembelajaran Case Method melalui motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo.    
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TAHFIDZ JUZ 30 MELALUI PENDEKATAN TALQIN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHAFAL AL-QUR’AN ANAK USIA DINI Dewi Rosfita; Asmaji Muchtar; Toha Makhshun
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8983

Abstract

ABSTRAK Pembelajaran tahfidz Al-Qur’an pada anak usia dini memerlukan model pembelajaran yang dirancang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak, terutama pada aspek kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Anak usia dini memiliki kemampuan menghafal yang baik apabila proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, berulang, dan menyenangkan. Pendekatan talqin merupakan salah satu pendekatan yang relevan dalam pembelajaran tahfidz karena menekankan pada proses mendengarkan, menirukan, dan mengulang bacaan secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran tahfidz Juz 30 berbasis pendekatan talqin bagi anak usia dini di TK Izzatul Ummah Grobogan serta menganalisis tingkat kelayakan, kepraktisan, dan efektivitas model yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development). Tahapan penelitian meliputi analisis kebutuhan pembelajaran, perancangan model pembelajaran, validasi ahli materi dan ahli pembelajaran, uji coba terbatas, serta revisi produk berdasarkan hasil uji coba. Subjek penelitian adalah anak usia dini kelompok B di TK Izzatul Ummah Grobogan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran tahfidz Juz 30 berbasis pendekatan talqin dinyatakan layak oleh para ahli, praktis digunakan oleh guru, dan efektif dalam meningkatkan kemampuan hafalan surat-surat Juz 30 pada anak usia dini. Dengan demikian, model pembelajaran yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alternatif inovatif dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di lembaga pendidikan anak usia dini. ABSTRACT Tahfidz learning for early childhood requires an instructional model that is designed in accordance with children’s developmental characteristics, particularly in cognitive, language, and socio-emotional aspects. Early childhood learners tend to have strong memorization abilities when learning activities are conducted gradually, repeatedly, and in an enjoyable manner. The talqin approach is considered relevant in tahfidz learning as it emphasizes listening, imitation, and consistent repetition of Qur’anic recitation. This study aims to develop a talqin-based tahfidz learning model for Juz 30 for early childhood students at TK Izzatul Ummah Grobogan and to analyze the feasibility, practicality, and effectiveness of the developed model. This research employed a Research and Development method. The research stages included learning needs analysis, instructional model design, validation by material and instructional experts, limited trials, and product revision based on trial results. The research subjects were group B early childhood students at TK Izzatul Ummah Grobogan. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The results indicate that the talqin-based tahfidz learning model for Juz 30 is feasible according to expert judgment, practical for teachers to implement, and effective in improving early childhood students’ memorization of Juz 30 surahs. Therefore, the developed learning model can be used as an innovative alternative for tahfidz learning in early childhood education institutions.