cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 518 Documents
PENERAPAN MODEL GROUP INVESTIGATION BERBANTUAN MEDIA DIORAMA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA PADA PEMBELAJARAN IPAS Gandes Rahmi Mahayun Sari; Sofyan Iskandar; Tiara Yogiarni
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11992

Abstract

This study was motivated by the low social skills of students, as indicated by their reluctance to accept randomly assigned groups, limited participation in group discussions, and lack of confidence in expressing their opinions. One effort to address this issue was the implementation of the group investigation learning model assisted by diorama media. Unlike previous studies that generally applied the group investigation model without concrete three-dimensional media, this study integrates diorama media as a means of encouraging direct physical interaction among students in IPAS learning. The purpose of this study was to improve students' social skills and learning outcomes in IPAS learning. The research employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, which consists of four stages: planning, action, observation, and reflection. The study was conducted in two cycles involving 20 fourth-grade students of SDN 3 Nagrikaler, Purwakarta Regency. Data were collected through observation and tests. The results showed that students' social skills improved consistently from 67% in the pre-cycle, to 75% in cycle I, and reached 85% in cycle II. In line with that, students' learning completeness also increased from 55% in the pre-cycle, to 70% in cycle I, and reached 85% in cycle II. Based on these findings, the implementation of the group investigation learning model assisted by diorama media was proven effective in improving students' social skills and learning outcomes in IPAS learning. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan sosial siswa yang terlihat dari adanya siswa yang menolak pembentukan kelompok secara acak, kurang aktif dalam kegiatan diskusi, serta belum berani mengemukakan pendapat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui penerapan model pembelajaran group investigation berbantuan media diorama. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya menggunakan model group investigation tanpa media konkret tiga dimensi, penelitian ini mengintegrasikan media diorama sebagai sarana yang mendorong interaksi fisik antarsiswa secara langsung dalam pembelajaran IPAS. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian sebanyak 20 siswa kelas IV SDN 3 Nagrikaler, Kabupaten Purwakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan sosial siswa mengalami peningkatan secara konsisten dari 67% pada prasiklus, menjadi 75% pada siklus I, dan mencapai 85% pada siklus II. Sejalan dengan itu, ketuntasan hasil belajar siswa juga meningkat dari 55% pada prasiklus, menjadi 70% pada siklus I, dan mencapai 85% pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, penerapan model group investigation berbantuan media diorama terbukti dapat meningkatkan keterampilan sosial dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS.
PERAN SPIRITUAL CAPITAL DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN USAHA PENDIDIKAN ISLAM DI ERA DISRUPSI Ziddan Arrauf; Nur Fahmuddin Hanif; Fisman Bedi; Heru Juabdi Sada
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13571

Abstract

ABSTRACT Islamic educational institutions in Indonesia are encountering increasingly complex challenges due to technological disruption, demographic shifts, and changing societal expectations, all of which require institutions to strengthen not only their managerial capacity but also their value-based resilience. This study aims to analyze the role of spiritual capital as a strategic resource in enhancing the institutional resilience of Islamic educational organizations in the era of disruption. The research employed a qualitative approach using a Systematic Literature Review (SLR) combined with thematic content analysis. Literature was collected from Google Scholar, Scopus, JSTOR, DOAJ, and SINTA, covering publications from 2020–2026. The selection process applied inclusion and exclusion criteria based on thematic relevance, methodological quality, and research contribution, resulting in 22 primary references for analysis. The findings indicate that spiritual capital contributes to institutional resilience through four interconnected dimensions: value-based institutional identity, spiritual leadership, trust-based community networks, and a transcendent work ethic. These dimensions reinforce organizational adaptability, strengthen stakeholder commitment, preserve institutional identity amid digital transformation, and support long-term sustainability. The study concludes that spiritual capital should be positioned as a strategic foundation rather than merely a complementary organizational value, as its integration into governance and organizational culture enables Islamic educational institutions to respond more effectively to disruptive changes while maintaining their educational mission and competitive sustainability. ABSTRAK Lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks sebagai konsekuensi dari disrupsi digital, perubahan kebutuhan kompetensi, meningkatnya persaingan antar lembaga, serta pergeseran ekspektasi masyarakat terhadap mutu layanan pendidikan. Kondisi tersebut menuntut adanya sumber daya strategis yang tidak hanya berorientasi pada aspek material, tetapi juga mampu memperkuat daya adaptasi dan keberlanjutan institusi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran spiritual capital sebagai fondasi penguatan ketahanan lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi era disrupsi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis konten terhadap literatur ilmiah terbitan tahun 2020–2026. Proses penelitian meliputi identifikasi, seleksi, evaluasi, dan sintesis literatur berdasarkan kriteria relevansi, kualitas publikasi, serta kesesuaian dengan fokus penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa spiritual capital berkontribusi terhadap penguatan identitas institusional, kepemimpinan spiritual, jejaring sosial berbasis kepercayaan, motivasi intrinsik, serta kemampuan organisasi dalam merespons perubahan secara adaptif. Temuan juga memperlihatkan bahwa integrasi nilai-nilai spiritual ke dalam tata kelola lembaga mampu meningkatkan organizational resilience tanpa menghilangkan karakteristik khas pendidikan Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa spiritual capital merupakan aset strategis yang mendukung keberlanjutan lembaga pendidikan Islam melalui penguatan budaya organisasi, kepemimpinan berbasis nilai, dan kapasitas adaptasi terhadap dinamika lingkungan yang terus berubah.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL DALAM MENDUKUNG BUDAYA PEMBELAJARAN MENDALAM DI SEKOLAH DASAR Anisa Surya; Dian Hidayati; Vera Yuli Erviana
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12908

Abstract

ABSTRACT Educational transformation in the digital era requires schools not only to utilize technology as a medium for instruction but also to cultivate a culture of deep learning that encourages students to think critically, collaborate, reflect, and learn independently. This study aims to describe the implementation of digital-based learning in support of a deep learning culture at SD Negeri 009 Balikpapan Barat. A qualitative approach with a case study design was employed. Research informants included one principal, four classroom teachers, and four students, all selected purposively. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the interactive model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, involving data condensation, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the implementation of digital-based learning proceeded through three stages: planning, implementation, and evaluation. During the planning stage, the school prepared instructional materials, digital infrastructure, teacher competency development, and learning monitoring systems. In the implementation stage, the four teachers utilized various digital platforms—such as Digital Interactive Panels, Google Workspace, Canva, YouTube, Google Classroom, Quizizz, Kahoot, Gimkit, and Google Sites—to facilitate student-centered learning. Instructional practices incorporated inquiry, collaboration, discussion, presentations, problem-solving, and reflection, all of which fostered meaningful learning. During the evaluation stage, teachers engaged in instructional reflection and identified learning difficulties to inform future improvements. However, in some activities, technology was predominantly used for content delivery and quiz-based assessments, meaning that practices regarding reflection and metacognition were not yet consistently implemented. The study concludes that while digital-based learning has supported the development of a deep learning culture, there is still a need to strengthen teachers' digital pedagogical competencies so that technology can be optimally utilized to foster reflective, collaborative, and student-centered learning. ABSTRAK Transformasi pendidikan di era digital menuntut sekolah tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran, tetapi juga membangun budaya pembelajaran mendalam yang mendorong peserta didik berpikir kritis, berkolaborasi, melakukan refleksi, dan belajar secara mandiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran berbasis digital dalam mendukung budaya pembelajaran mendalam di SD Negeri 009 Balikpapan Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri atas satu kepala sekolah, empat guru kelas, dan empat peserta didik yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berbasis digital dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, sekolah menyiapkan perangkat guru, sarana digital, peningkatan kompetensi guru, dan monitoring pembelajaran. Pada tahap penerapan, keempat guru memanfaatkan berbagai platform digital, seperti Panel Interaktif Digital, Google Workspace, Canva, YouTube, Google Classroom, Quizizz, Kahoot, Gimkit, dan Google Sites untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Praktik pembelajaran menunjukkan adanya aktivitas inquiry, kolaborasi, diskusi, presentasi, pemecahan masalah, dan refleksi yang mendukung pembelajaran bermakna. Pada tahap evaluasi, guru melakukan refleksi pembelajaran dan mengidentifikasi kesulitan belajar sebagai dasar perbaikan pembelajaran. Meskipun demikian, pada beberapa kegiatan teknologi masih lebih dominan digunakan sebagai media penyampaian materi dan evaluasi berbentuk kuis sehingga praktik refleksi dan metakognisi belum terlaksana secara konsisten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis digital telah mendukung terbentuknya budaya pembelajaran mendalam, namun masih diperlukan penguatan kompetensi pedagogik digital guru agar teknologi dimanfaatkan secara optimal untuk membangun pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik.
HUBUNGAN SELF-CONTROL TERHADAP ADIKSI MEDIA SOSIAL PADA DEWASA AWAL Margaret Laurencia; Jessica Ellen Masjudi; Laurensia Maria Stefanie Sulaiman; Michell Laurencia; Sandi Kartasasmita
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.14738

Abstract

ABSTRACT The intensity of social media engagement among young adults does not always correspond with their ability to regulate digital behavior. When access, interaction, and stimulation occur continuously, self-control becomes a relevant factor in understanding the emergence of addictive tendencies. This study examines the relationship between these two constructs among social media users aged 18–24 years. A total of 107 active social media users were selected through systematic sampling in a quantitative study employing a correlational design. Measurement was conducted using standardized instruments, while the data were analyzed using descriptive statistics and Pearson correlation. The analysis revealed a significant negative relationship between self-control and social media addiction (r = –0.505; p < 0.001), with a moderate strength of association. This pattern indicates that stronger self-regulation is associated with lower tendencies toward social media addiction. However, the magnitude of the correlation also suggests that addictive behavior cannot be fully explained by a single psychological factor. These findings reinforce the position of self-control as a protective factor and provide an empirical basis for developing self-regulation training, digital well-being programs, and preventive strategies to promote healthier and more responsible social media use. ABSTRAK ntensitas keterlibatan dewasa awal dalam media sosial tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan mengendalikan perilaku digital. Dalam kondisi ketika akses, interaksi, dan stimulasi berlangsung terus-menerus, kapasitas self-control menjadi salah satu aspek yang relevan untuk memahami munculnya kecenderungan adiktif. Penelitian ini mengkaji keterkaitan kedua konstruk tersebut pada pengguna media sosial berusia 18–24 tahun. Sebanyak 107 responden yang aktif menggunakan media sosial dipilih melalui teknik systematic sampling dalam penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen terstandar, sedangkan data dianalisis melalui statistik deskriptif dan korelasi Pearson. Hasil analisis memperlihatkan hubungan negatif yang signifikan antara self-control dan adiksi media sosial (r = –0,505; p < 0,001), dengan kekuatan hubungan berada pada kategori sedang. Pola tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pengendalian diri yang lebih baik berkaitan dengan kecenderungan adiksi media sosial yang lebih rendah. Namun, besarnya korelasi juga mengisyaratkan bahwa perilaku adiktif tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh satu faktor psikologis. Temuan ini memperkuat posisi self-control sebagai faktor protektif sekaligus memberikan pijakan empiris bagi pengembangan pelatihan regulasi diri, program digital well-being, dan strategi preventif untuk membentuk penggunaan media sosial yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
IMPLEMENTASI PENILAIAN DIAGNOSTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA: ANALISIS KESENJANGAN ANTARA KEBIJAKAN DAN PRAKTIK Linda Lusiana Cahya Wibawa; Ajeng Novita Damayanti; Erwin Salpa Riansi; Aceng Hasani
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12042

Abstract

ABSTRACT Learning assessment is an essential component of the educational process that functions to identify students’ abilities and support the design of instruction that meets their learning needs. However, assessment practices in schools still face various challenges, limiting their ability to provide comprehensive information about students’ initial conditions. This study aims to analyze the implementation of diagnostic assessment in Indonesian language learning and identify its advantages and challenges in classroom practice. The study employed a qualitative approach using interviews with educational assessment experts from the Ministry of Primary and Secondary Education, school supervisors, and senior high school teachers. The collected data were analyzed descriptively to provide an overview of diagnostic assessment practices in schools. The findings indicate that diagnostic assessment helps teachers understand students’ prior abilities, interests, characteristics, and learning needs, enabling more targeted and adaptive instruction. The implementation of diagnostic assessment also contributes positively to students’ engagement, creativity, and self-confidence during the learning process. Nevertheless, its implementation is still constrained by limited instructional time, heavy administrative workloads, and large class sizes. The study concludes that diagnostic assessment plays a crucial role in promoting student-centered learning. Therefore, strengthening teachers’ competencies and optimizing assessment practices are necessary to maximize the benefits of diagnostic assessment in educational settings. ABSTRAK Asesmen pembelajaran merupakan komponen penting dalam proses pendidikan yang berfungsi untuk mengidentifikasi kemampuan peserta didik serta mendukung perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, pelaksanaan asesmen di sekolah masih menghadapi berbagai tantangan sehingga belum sepenuhnya mampu memberikan informasi yang komprehensif mengenai kondisi awal peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan asesmen diagnostik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia serta mengidentifikasi kelebihan dan kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara yang melibatkan akademisi bidang asesmen pendidikan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pengawas sekolah, dan guru SMA sebagai informan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan praktik asesmen diagnostik di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asesmen diagnostik membantu guru memahami kemampuan awal, minat, karakteristik, dan kebutuhan belajar peserta didik sehingga pembelajaran dapat dirancang secara lebih tepat sasaran. Penerapan asesmen diagnostik juga memberikan dampak positif terhadap keterlibatan, kreativitas, dan kepercayaan diri peserta didik dalam proses pembelajaran. Meskipun demikian, implementasinya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan waktu, beban administrasi yang tinggi, dan jumlah peserta didik yang besar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa asesmen diagnostik memiliki peran penting dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sehingga diperlukan penguatan kompetensi guru dan optimalisasi pelaksanaannya agar manfaat asesmen dapat diperoleh secara maksimal.
PERAN EVALUASI FORMATIF REFLEKTIF DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TERHADAP KOMPETENSI LITERASI SISWA SMA Asih Riyanti; Parasheila Fadillah; Balqis Balqis; Firda Ariani; Muzdalipah Muzdalipah; Indah Ulan Ramadhani
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12072

Abstract

This study was motivated by initial observations indicating that students’ writing skills still faced difficulties in mechanics, sentence structure, and text consistency. The initial findings also indicated a gap between students’ awareness of errors in their writing and their ability to revise those errors consistently. This study aimed to analyze the relationship between metacognitive awareness and writing revision ability and to describe students’ reflective processes during the implementation of formative assessment in Indonesian language writing instruction. A qualitative approach with descriptive and intrinsic case study strategies was employed. The participants consisted of one Indonesian language teacher and eight students at SMA NU 1 Tarakan selected through purposive sampling. Data were collected through observations, semi-structured interviews, reflective questionnaires, and analysis of students’ written work. Qualitative data were analyzed thematically through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, while questionnaire data were used descriptively as supporting data. The findings showed that reflective processes through rereading activities helped students identify errors and make simple revisions. However, awareness of errors was not fully followed by consistent revision ability, particularly in grammar, sentence structure, and text coherence. Students’ reflective processes also tended to remain at the level of error identification and had not developed optimally into analytical reflection. These findings indicate a relationship between metacognitive awareness and writing revision ability, but this relationship had not yet resulted in optimal improvement because the reflective activities were not sufficiently structured and the time available for writing and revision was limited. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa kemampuan menulis siswa masih menghadapi kendala pada aspek mekanika, struktur kalimat, dan konsistensi teks. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan antara kesadaran siswa terhadap kesalahan dalam tulisannya dan kemampuan mereka dalam melakukan perbaikan secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan kesadaran metakognitif dengan kemampuan revisi tulisan serta menggambarkan proses reflektif siswa selama penerapan evaluasi formatif dalam pembelajaran menulis Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi deskriptif dan studi kasus intrinsik. Subjek penelitian terdiri atas satu guru Bahasa Indonesia dan delapan siswa SMA NU 1 Tarakan yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, kuesioner reflektif, serta analisis hasil tulisan siswa. Data kualitatif dianalisis secara tematik melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan data kuesioner digunakan sebagai data pendukung secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses reflektif melalui kegiatan membaca ulang membantu siswa mengenali kesalahan dan melakukan revisi sederhana. Namun, kesadaran terhadap kesalahan belum sepenuhnya diikuti kemampuan merevisi tulisan secara konsisten, terutama pada aspek tata bahasa, struktur kalimat, dan koherensi teks. Proses refleksi siswa juga cenderung berada pada tingkat identifikasi kesalahan dan belum berkembang secara optimal menuju refleksi analitis. Temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kesadaran metakognitif dan kemampuan revisi tulisan, tetapi keterkaitan tersebut belum menghasilkan perbaikan tulisan yang optimal karena proses refleksi belum terstruktur dan waktu yang tersedia untuk melakukan revisi masih terbatas.
GAMIFIKASI PEMBELAJARAN MELALUI KAHOOT! DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA Neneng Halimatus Sa’adah; Linda Lusiana Cahya Wibawa; Tatu Hilaliyah
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12099

Abstract

ABSTRACT The use of digital learning media in education continues to expand; however, its implementation does not always lead to optimal learning outcomes when it is not supported by appropriate pedagogical strategies. This study aimed to examine the effectiveness of gamified learning through Kahoot! in improving student learning outcomes and classroom engagement at the secondary school level. The research employed a quantitative approach using a simple experimental design. Data were collected through learning achievement tests, classroom observations, and documentation of the learning process involving secondary school students as research participants. The collected data were analyzed using statistical techniques to determine the effect of Kahoot!-based learning on student achievement. The findings revealed that the implementation of Kahoot! significantly enhanced students’ active participation, learning motivation, and understanding of instructional materials. Furthermore, the interactive quiz features created a more enjoyable, competitive, and student-centered learning environment, leading to greater classroom engagement during the learning process. These results indicate that gamified learning through Kahoot! is effective in improving both the quality of the learning process and student academic outcomes. Therefore, the integration of gamification-based digital media can serve as an innovative instructional strategy to promote active, creative, and achievement-oriented learning environments. ABSTRAK Pemanfaatan media pembelajaran digital dalam pendidikan semakin berkembang, namun implementasinya tidak selalu memberikan dampak yang optimal terhadap hasil belajar siswa apabila tidak didukung oleh strategi pembelajaran yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pembelajaran berbasis gamifikasi melalui aplikasi Kahoot! dalam meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa pada tingkat sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen sederhana. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar, observasi aktivitas pembelajaran, dan dokumentasi proses pembelajaran yang melibatkan siswa sekolah menengah sebagai subjek penelitian. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik statistik untuk menguji pengaruh penerapan Kahoot! terhadap hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Kahoot! dalam pembelajaran mampu meningkatkan partisipasi aktif, motivasi belajar, serta pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Selain itu, fitur kuis interaktif yang tersedia menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, kompetitif, dan berpusat pada siswa sehingga mendorong keterlibatan yang lebih tinggi selama proses pembelajaran berlangsung. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis gamifikasi melalui Kahoot! efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, integrasi media digital berbasis gamifikasi dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran inovatif yang mendukung terciptanya pembelajaran yang aktif, kreatif, dan berorientasi pada pencapaian akademik.
THEORETICAL FRAMEWORK FOR AI-MEDIATED INTERCULTURAL COMMUNICATIVE COMPETENCE IN SECOND FOREIGN LANGUAGE LEARNING Huang Jianshi; Dadang Sunendar; Sumiyadi Sumiyadi; Vismaia S. Damayanti
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12103

Abstract

ABSTRACT A fast-growing trend in artificial intelligence (AI), and especially in generative AI and large language models, has dramatically changed the modern understanding of foreign language teaching. Although previous studies have already largely investigated the application of AI to English learning, there has been relative lack of attention to the theoretical consequences of AI assisted English learning to intercultural communicative competence (ICC) of a second foreign language (L2/L3) learning. Using the theory of the Third Place suggested by Bhabha and developed further by Kramsch, this article builds a theoretical framework of the intercultural competence development mediated by AI in the setting of second foreign language learning. In this paper, the concept of AI has been conceptualized as a mediating variable that enables the ongoing negotiation process between the native culture (C1), target culture (C2), and cultural hybrid meanings of learners in the Third Place rather than seeing it as a technological device. With the help of a theoretical synthesis of literature review and analysis, this paper hypothesizes a conceptual framework demonstrating how AI-assisted learning settings may be used to promote intercultural awareness, critical thinking, and adaptive communication strategies. This paper proposes an argument that AI, in a pedagogically motivated contextualization of the Third Place, can reshape the second language learning as the skill-based process to become the culturally conscious and identity-constitutive activity of language learning. ABSTRAK Tren yang berkembang pesat dalam kecerdasan buatan (AI), dan khususnya dalam AI generatif dan model bahasa besar, telah secara dramatis mengubah pemahaman modern tentang pengajaran bahasa asing. Penelitian sebelumnya sebagian besar telah menyelidiki penerapan AI untuk pembelajaran bahasa Inggris, masih terdapat kurangnya perhatian terhadap konsekuensi teoretis dari pembelajaran bahasa Inggris yang dibantu AI terhadap kompetensi komunikatif antarbudaya (ICC) dalam pembelajaran bahasa asing kedua (L2/L3). Dengan menggunakan teori Tempat Ketiga yang dikemukakan oleh Bhabha dan dikembangkan lebih lanjut oleh Kramsch, artikel ini membangun kerangka kerja teoretis tentang pengembangan kompetensi antarbudaya yang dimediasi oleh AI dalam konteks pembelajaran bahasa asing kedua. Dalam makalah ini, konsep AI telah dikonseptualisasikan sebagai variabel mediasi yang memungkinkan proses negosiasi berkelanjutan antara budaya asli (C1), budaya sasaran (C2), dan makna hibrida budaya pembelajar di Tempat Ketiga, alih-alih melihatnya sebagai perangkat teknologi. Dengan bantuan sintesis teoretis dari tinjauan dan analisis literatur, makalah ini menghipotesiskan kerangka kerja konseptual yang menunjukkan bagaimana pengaturan pembelajaran yang dibantu AI dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran antarbudaya, pemikiran kritis, dan strategi komunikasi adaptif. Makalah ini mengemukakan argumen bahwa AI, dalam kontekstualisasi Ruang Ketiga yang dimotivasi secara pedagogis, dapat membentuk kembali pembelajaran bahasa kedua sebagai proses berbasis keterampilan menjadi aktivitas pembelajaran bahasa yang sadar budaya dan membentuk identitas.
TRANSFORMASI BUDAYA MORAL SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS KETELADANAN GURU SDN WONOREJO Vera Widiansa; Wahid Hasim
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12104

Abstract

ABSTRACT The development of a moral culture in elementary schools requires a continuous process, as students do not always demonstrate uniform progress in accepting and applying moral values. This condition became the focus of the present study, which aimed to describe the transformation of students’ moral culture through teacher role-model-based learning among fourth-grade students at SDN Wonorejo. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation involving the principal, the fourth-grade teacher, and students as sources of information. The data were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, while the trustworthiness of the findings was strengthened through source and technique triangulation. The findings revealed that teacher exemplarity played an important role in transforming students’ moral culture through demonstrations of discipline, responsibility, politeness, social awareness, and the consistent habituation of positive behaviors in school activities. The transformation occurred through stages of observing teachers’ behavior, imitating it in daily actions, and repeatedly practicing it until it gradually developed into a habit. The development of students’ moral culture was supported by teacher consistency, school habituation programs, a conducive environment, and family involvement, although some students still required additional guidance. Therefore, teacher exemplarity contributes to strengthening the internalization of moral values and supporting the gradual development of students’ moral culture. ABSTRAK Pembentukan budaya moral di sekolah dasar memerlukan proses yang berkelanjutan karena penerimaan dan penerapan nilai moral pada setiap siswa tidak selalu berkembang secara seragam. Kondisi tersebut menjadi fokus penelitian yang bertujuan mendeskripsikan transformasi budaya moral siswa kelas IV melalui pembelajaran berbasis keteladanan guru di SDN Wonorejo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala sekolah, guru kelas IV, dan siswa sebagai sumber informasi. Data kemudian dianalisis melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan temuan diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa keteladanan guru menjadi bagian penting dalam proses perubahan budaya moral siswa melalui contoh disiplin, tanggung jawab, kesopanan, kepedulian sosial, serta pembiasaan perilaku positif dalam aktivitas sekolah. Transformasi tersebut berlangsung melalui tahapan pengamatan terhadap perilaku guru, peniruan dalam tindakan sehari-hari, dan pengulangan secara konsisten hingga berkembang menjadi kebiasaan. Perkembangan budaya moral didukung oleh konsistensi guru, program pembiasaan sekolah, lingkungan yang kondusif, dan keterlibatan keluarga, meskipun beberapa siswa masih memerlukan pendampingan. Dengan demikian, keteladanan guru berkontribusi dalam memperkuat internalisasi nilai moral dan mendukung perkembangan budaya moral siswa secara bertahap.
LAYANAN INFORMASI LITERASI DIGITAL UNTUK MENCEGAH KECANDUAN MEDIA SOSIAL DI SMP NEGERI 10 PALU Suci Indriani; Nurwahyuni Nurwahyuni; Dhevy Puswiartika; Nur Eka Wayhuningsih Riyadi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12346

Abstract

Social media has become an inseparable part of adolescents' lives by easing communication and access to information, yet excessive use risks fostering addiction that affects learning activities, social relationships, and students' psychological well-being. This condition was also found among students at SMP Negeri 10 Palu, most of whom used social media more often for entertainment than for supporting learning, indicating a need to strengthen their digital literacy. This study aimed to examine the effect of digital literacy information services on preventing social media addiction among students. A quantitative approach with a pre-experimental One Group Pretest-Posttest Design was employed, involving 29 eighth-grade students selected through purposive sampling. Data were collected using a social media addiction questionnaire administered before and after the service, then analyzed through normality tests, homogeneity tests, and a Paired Sample t-Test using SPSS version 27. The results showed that the data were normally distributed and homogeneous, and the hypothesis test yielded t = 7.430; df = 28; significance <.001 (<.05), with the mean score decreasing from 96.55 to 73.97 and a very large effect size (Cohen's d = 1.38). These findings indicate that digital literacy information services significantly reduce students' tendency toward social media addiction, suggesting their potential as a sustainable preventive strategy within school guidance and counseling programs. ABSTRAK Media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja karena memudahkan komunikasi dan akses informasi, tetapi penggunaan yang berlebihan berisiko menimbulkan kecanduan yang berdampak pada aktivitas belajar, relasi sosial, dan kondisi psikologis siswa. Kondisi ini juga ditemukan pada siswa SMP Negeri 10 Palu, yang sebagian besar lebih sering menggunakan media sosial untuk hiburan dibandingkan untuk mendukung pembelajaran, sehingga literasi digital mereka perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh layanan informasi literasi digital terhadap pencegahan kecanduan media sosial pada siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental One Group Pretest-Posttest Design, melibatkan 29 siswa kelas VIII yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket kecanduan media sosial sebelum dan sesudah layanan, kemudian dianalisis melalui uji normalitas, uji homogenitas, dan Paired Sample t-Test dengan SPSS versi 27. Hasil menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen, serta uji hipotesis memperoleh t = 7,430; df = 28; signifikansi <0,001 (<0,05), dengan rata-rata skor menurun dari 96,55 menjadi 73,97 dan effect size sangat besar (Cohen's d = 1,38). Temuan ini menunjukkan bahwa layanan informasi literasi digital berpengaruh signifikan terhadap penurunan kecenderungan kecanduan media sosial siswa, sehingga dapat dijadikan strategi preventif berkelanjutan dalam program bimbingan dan konseling di sekolah.