cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 404 Documents
PENERAPAN MODEL GROUP INVESTIGATION BERBANTUAN MEDIA DIORAMA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA PADA PEMBELAJARAN IPAS Gandes Rahmi Mahayun Sari; Sofyan Iskandar; Tiara Yogiarni
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11992

Abstract

This study was motivated by the low social skills of students, as indicated by their reluctance to accept randomly assigned groups, limited participation in group discussions, and lack of confidence in expressing their opinions. One effort to address this issue was the implementation of the group investigation learning model assisted by diorama media. Unlike previous studies that generally applied the group investigation model without concrete three-dimensional media, this study integrates diorama media as a means of encouraging direct physical interaction among students in IPAS learning. The purpose of this study was to improve students' social skills and learning outcomes in IPAS learning. The research employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, which consists of four stages: planning, action, observation, and reflection. The study was conducted in two cycles involving 20 fourth-grade students of SDN 3 Nagrikaler, Purwakarta Regency. Data were collected through observation and tests. The results showed that students' social skills improved consistently from 67% in the pre-cycle, to 75% in cycle I, and reached 85% in cycle II. In line with that, students' learning completeness also increased from 55% in the pre-cycle, to 70% in cycle I, and reached 85% in cycle II. Based on these findings, the implementation of the group investigation learning model assisted by diorama media was proven effective in improving students' social skills and learning outcomes in IPAS learning. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan sosial siswa yang terlihat dari adanya siswa yang menolak pembentukan kelompok secara acak, kurang aktif dalam kegiatan diskusi, serta belum berani mengemukakan pendapat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui penerapan model pembelajaran group investigation berbantuan media diorama. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya menggunakan model group investigation tanpa media konkret tiga dimensi, penelitian ini mengintegrasikan media diorama sebagai sarana yang mendorong interaksi fisik antarsiswa secara langsung dalam pembelajaran IPAS. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian sebanyak 20 siswa kelas IV SDN 3 Nagrikaler, Kabupaten Purwakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan sosial siswa mengalami peningkatan secara konsisten dari 67% pada prasiklus, menjadi 75% pada siklus I, dan mencapai 85% pada siklus II. Sejalan dengan itu, ketuntasan hasil belajar siswa juga meningkat dari 55% pada prasiklus, menjadi 70% pada siklus I, dan mencapai 85% pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, penerapan model group investigation berbantuan media diorama terbukti dapat meningkatkan keterampilan sosial dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS.
PERAN SPIRITUAL CAPITAL DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN USAHA PENDIDIKAN ISLAM DI ERA DISRUPSI Ziddan Arrauf; Nur Fahmuddin Hanif; Fisman Bedi; Heru Juabdi Sada
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13571

Abstract

ABSTRACT Islamic educational institutions in Indonesia are encountering increasingly complex challenges due to technological disruption, demographic shifts, and changing societal expectations, all of which require institutions to strengthen not only their managerial capacity but also their value-based resilience. This study aims to analyze the role of spiritual capital as a strategic resource in enhancing the institutional resilience of Islamic educational organizations in the era of disruption. The research employed a qualitative approach using a Systematic Literature Review (SLR) combined with thematic content analysis. Literature was collected from Google Scholar, Scopus, JSTOR, DOAJ, and SINTA, covering publications from 2020–2026. The selection process applied inclusion and exclusion criteria based on thematic relevance, methodological quality, and research contribution, resulting in 22 primary references for analysis. The findings indicate that spiritual capital contributes to institutional resilience through four interconnected dimensions: value-based institutional identity, spiritual leadership, trust-based community networks, and a transcendent work ethic. These dimensions reinforce organizational adaptability, strengthen stakeholder commitment, preserve institutional identity amid digital transformation, and support long-term sustainability. The study concludes that spiritual capital should be positioned as a strategic foundation rather than merely a complementary organizational value, as its integration into governance and organizational culture enables Islamic educational institutions to respond more effectively to disruptive changes while maintaining their educational mission and competitive sustainability. ABSTRAK Lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks sebagai konsekuensi dari disrupsi digital, perubahan kebutuhan kompetensi, meningkatnya persaingan antar lembaga, serta pergeseran ekspektasi masyarakat terhadap mutu layanan pendidikan. Kondisi tersebut menuntut adanya sumber daya strategis yang tidak hanya berorientasi pada aspek material, tetapi juga mampu memperkuat daya adaptasi dan keberlanjutan institusi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran spiritual capital sebagai fondasi penguatan ketahanan lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi era disrupsi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis konten terhadap literatur ilmiah terbitan tahun 2020–2026. Proses penelitian meliputi identifikasi, seleksi, evaluasi, dan sintesis literatur berdasarkan kriteria relevansi, kualitas publikasi, serta kesesuaian dengan fokus penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa spiritual capital berkontribusi terhadap penguatan identitas institusional, kepemimpinan spiritual, jejaring sosial berbasis kepercayaan, motivasi intrinsik, serta kemampuan organisasi dalam merespons perubahan secara adaptif. Temuan juga memperlihatkan bahwa integrasi nilai-nilai spiritual ke dalam tata kelola lembaga mampu meningkatkan organizational resilience tanpa menghilangkan karakteristik khas pendidikan Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa spiritual capital merupakan aset strategis yang mendukung keberlanjutan lembaga pendidikan Islam melalui penguatan budaya organisasi, kepemimpinan berbasis nilai, dan kapasitas adaptasi terhadap dinamika lingkungan yang terus berubah.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL DALAM MENDUKUNG BUDAYA PEMBELAJARAN MENDALAM DI SEKOLAH DASAR Anisa Surya; Dian Hidayati; Vera Yuli Erviana
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12908

Abstract

ABSTRACT Educational transformation in the digital era requires schools not only to utilize technology as a medium for instruction but also to cultivate a culture of deep learning that encourages students to think critically, collaborate, reflect, and learn independently. This study aims to describe the implementation of digital-based learning in support of a deep learning culture at SD Negeri 009 Balikpapan Barat. A qualitative approach with a case study design was employed. Research informants included one principal, four classroom teachers, and four students, all selected purposively. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the interactive model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, involving data condensation, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the implementation of digital-based learning proceeded through three stages: planning, implementation, and evaluation. During the planning stage, the school prepared instructional materials, digital infrastructure, teacher competency development, and learning monitoring systems. In the implementation stage, the four teachers utilized various digital platforms—such as Digital Interactive Panels, Google Workspace, Canva, YouTube, Google Classroom, Quizizz, Kahoot, Gimkit, and Google Sites—to facilitate student-centered learning. Instructional practices incorporated inquiry, collaboration, discussion, presentations, problem-solving, and reflection, all of which fostered meaningful learning. During the evaluation stage, teachers engaged in instructional reflection and identified learning difficulties to inform future improvements. However, in some activities, technology was predominantly used for content delivery and quiz-based assessments, meaning that practices regarding reflection and metacognition were not yet consistently implemented. The study concludes that while digital-based learning has supported the development of a deep learning culture, there is still a need to strengthen teachers' digital pedagogical competencies so that technology can be optimally utilized to foster reflective, collaborative, and student-centered learning. ABSTRAK Transformasi pendidikan di era digital menuntut sekolah tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran, tetapi juga membangun budaya pembelajaran mendalam yang mendorong peserta didik berpikir kritis, berkolaborasi, melakukan refleksi, dan belajar secara mandiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran berbasis digital dalam mendukung budaya pembelajaran mendalam di SD Negeri 009 Balikpapan Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri atas satu kepala sekolah, empat guru kelas, dan empat peserta didik yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berbasis digital dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, sekolah menyiapkan perangkat guru, sarana digital, peningkatan kompetensi guru, dan monitoring pembelajaran. Pada tahap penerapan, keempat guru memanfaatkan berbagai platform digital, seperti Panel Interaktif Digital, Google Workspace, Canva, YouTube, Google Classroom, Quizizz, Kahoot, Gimkit, dan Google Sites untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Praktik pembelajaran menunjukkan adanya aktivitas inquiry, kolaborasi, diskusi, presentasi, pemecahan masalah, dan refleksi yang mendukung pembelajaran bermakna. Pada tahap evaluasi, guru melakukan refleksi pembelajaran dan mengidentifikasi kesulitan belajar sebagai dasar perbaikan pembelajaran. Meskipun demikian, pada beberapa kegiatan teknologi masih lebih dominan digunakan sebagai media penyampaian materi dan evaluasi berbentuk kuis sehingga praktik refleksi dan metakognisi belum terlaksana secara konsisten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis digital telah mendukung terbentuknya budaya pembelajaran mendalam, namun masih diperlukan penguatan kompetensi pedagogik digital guru agar teknologi dimanfaatkan secara optimal untuk membangun pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik.
HUBUNGAN SELF-CONTROL TERHADAP ADIKSI MEDIA SOSIAL PADA DEWASA AWAL Margaret Laurencia; Jessica Ellen Masjudi; Laurensia Maria Stefanie Sulaiman; Michell Laurencia; Sandi Kartasasmita
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.14738

Abstract

ABSTRACT The intensity of social media engagement among young adults does not always correspond with their ability to regulate digital behavior. When access, interaction, and stimulation occur continuously, self-control becomes a relevant factor in understanding the emergence of addictive tendencies. This study examines the relationship between these two constructs among social media users aged 18–24 years. A total of 107 active social media users were selected through systematic sampling in a quantitative study employing a correlational design. Measurement was conducted using standardized instruments, while the data were analyzed using descriptive statistics and Pearson correlation. The analysis revealed a significant negative relationship between self-control and social media addiction (r = –0.505; p < 0.001), with a moderate strength of association. This pattern indicates that stronger self-regulation is associated with lower tendencies toward social media addiction. However, the magnitude of the correlation also suggests that addictive behavior cannot be fully explained by a single psychological factor. These findings reinforce the position of self-control as a protective factor and provide an empirical basis for developing self-regulation training, digital well-being programs, and preventive strategies to promote healthier and more responsible social media use. ABSTRAK ntensitas keterlibatan dewasa awal dalam media sosial tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan mengendalikan perilaku digital. Dalam kondisi ketika akses, interaksi, dan stimulasi berlangsung terus-menerus, kapasitas self-control menjadi salah satu aspek yang relevan untuk memahami munculnya kecenderungan adiktif. Penelitian ini mengkaji keterkaitan kedua konstruk tersebut pada pengguna media sosial berusia 18–24 tahun. Sebanyak 107 responden yang aktif menggunakan media sosial dipilih melalui teknik systematic sampling dalam penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen terstandar, sedangkan data dianalisis melalui statistik deskriptif dan korelasi Pearson. Hasil analisis memperlihatkan hubungan negatif yang signifikan antara self-control dan adiksi media sosial (r = –0,505; p < 0,001), dengan kekuatan hubungan berada pada kategori sedang. Pola tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pengendalian diri yang lebih baik berkaitan dengan kecenderungan adiksi media sosial yang lebih rendah. Namun, besarnya korelasi juga mengisyaratkan bahwa perilaku adiktif tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh satu faktor psikologis. Temuan ini memperkuat posisi self-control sebagai faktor protektif sekaligus memberikan pijakan empiris bagi pengembangan pelatihan regulasi diri, program digital well-being, dan strategi preventif untuk membentuk penggunaan media sosial yang lebih sehat dan bertanggung jawab.