ABSTRACT Educational transformation in the digital era requires schools not only to utilize technology as a medium for instruction but also to cultivate a culture of deep learning that encourages students to think critically, collaborate, reflect, and learn independently. This study aims to describe the implementation of digital-based learning in support of a deep learning culture at SD Negeri 009 Balikpapan Barat. A qualitative approach with a case study design was employed. Research informants included one principal, four classroom teachers, and four students, all selected purposively. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the interactive model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, involving data condensation, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the implementation of digital-based learning proceeded through three stages: planning, implementation, and evaluation. During the planning stage, the school prepared instructional materials, digital infrastructure, teacher competency development, and learning monitoring systems. In the implementation stage, the four teachers utilized various digital platforms—such as Digital Interactive Panels, Google Workspace, Canva, YouTube, Google Classroom, Quizizz, Kahoot, Gimkit, and Google Sites—to facilitate student-centered learning. Instructional practices incorporated inquiry, collaboration, discussion, presentations, problem-solving, and reflection, all of which fostered meaningful learning. During the evaluation stage, teachers engaged in instructional reflection and identified learning difficulties to inform future improvements. However, in some activities, technology was predominantly used for content delivery and quiz-based assessments, meaning that practices regarding reflection and metacognition were not yet consistently implemented. The study concludes that while digital-based learning has supported the development of a deep learning culture, there is still a need to strengthen teachers' digital pedagogical competencies so that technology can be optimally utilized to foster reflective, collaborative, and student-centered learning. ABSTRAK Transformasi pendidikan di era digital menuntut sekolah tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran, tetapi juga membangun budaya pembelajaran mendalam yang mendorong peserta didik berpikir kritis, berkolaborasi, melakukan refleksi, dan belajar secara mandiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran berbasis digital dalam mendukung budaya pembelajaran mendalam di SD Negeri 009 Balikpapan Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri atas satu kepala sekolah, empat guru kelas, dan empat peserta didik yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berbasis digital dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, sekolah menyiapkan perangkat guru, sarana digital, peningkatan kompetensi guru, dan monitoring pembelajaran. Pada tahap penerapan, keempat guru memanfaatkan berbagai platform digital, seperti Panel Interaktif Digital, Google Workspace, Canva, YouTube, Google Classroom, Quizizz, Kahoot, Gimkit, dan Google Sites untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Praktik pembelajaran menunjukkan adanya aktivitas inquiry, kolaborasi, diskusi, presentasi, pemecahan masalah, dan refleksi yang mendukung pembelajaran bermakna. Pada tahap evaluasi, guru melakukan refleksi pembelajaran dan mengidentifikasi kesulitan belajar sebagai dasar perbaikan pembelajaran. Meskipun demikian, pada beberapa kegiatan teknologi masih lebih dominan digunakan sebagai media penyampaian materi dan evaluasi berbentuk kuis sehingga praktik refleksi dan metakognisi belum terlaksana secara konsisten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis digital telah mendukung terbentuknya budaya pembelajaran mendalam, namun masih diperlukan penguatan kompetensi pedagogik digital guru agar teknologi dimanfaatkan secara optimal untuk membangun pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik.